Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Perkembangan derajat kesehatan masyarakat suatu negara ataupun dalam suatu daerah dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakatnya dari waktu ke waktu. Kejadian kematian ini juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan serta program pembangunan di sektor kesehatan
(1)

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009, kematian maternal merupakan jumlah wanita yang meninggal karena kematian yang berhubungan dengan gangguan kehamilan maupun penanganannya, tetapi bukan karena kecelakaan atau kebetulan selama masa kehamilan, melahirkan serta masa nifas tanpa memperhitungkan masa kehamilannya per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan World Health Organization (2008) angka kematian ibu di dunia pada tahun 2005 sebanyak 536.000. Kematian ini dapat disebabkan oleh 25 % perdarahan, 20% penyebab tidak langsung, 15 % infeksi, 13 % aborsi yang tidak aman, 12 % eklampsi, 8 % penyulit persalinan, dan 7 % penyebab lainnya. Perdarahan yang terjadi pada kehamilan muda disebut abortus sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Yang termasuk perdarahan antepartum antara lain plasenta previa, solusio plasenta, ruptur uteri(2). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 228 per 100.000 kelahiran hidup pada priode tahun 2003 sampai 2007. Pada tahun 2009 Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup. Dari hasil survei tersebut terlihat adanya peningkatan angka kematian ibu di Indonesia (Depkes RI, 2009). Angka kematian ibu selama tahun 2006 sebanyak 237 per 100.000 kelahiran hidup. Dari total 4.726 kasus plasenta previa pada tahun 2005 didapati 40 orang ibu meninggal akibat plasenta previa(2). Plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal, sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum (2); kasus ini masih menarik dipelajari 1

terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari, prevalensinya masih tinggi serta punya andil besar dalam angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan kesehatan. Di rumah sakit pemerintah di Indonesia, angka insidensi plasenta previa tercatat sebanyak 1,7 % hingga 2,9 % dari semua ibu hamil(3). I.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan plasenta previa? 2. Apa penyebab terjadinya plasenta previa? 3. Bagaimana mekanisme terjadinya plasenta previa? 4. Bagaimana cara mendiagnosa plasenta previa? 5. Bagaimana penanganan pasien dengan plasenta previa? 6. Komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada plasenta previa? 7. Bagaimana prognosis plasenta previa? I.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan plasenta previa. 2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya plasenta previa. 3. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme terjadinya plasenta previa. 4. Untuk mengetahui bagaimana cara mendiagnosa plasenta previa. 5. Untuk mengetahui bagaimana penanganan pasien dengan plasenta previa. 6. Komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada plasenta previa. 7. Untuk mengetahui bagaimana prognosis plasenta previa. I.4 Manfaat Teoritis Makalah ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan dan landasan teori mengenai plasenta previa. Praktis Makalah ini diharapkan mampu memberikan landasan ilmiah dalam penanganan pada kondisi plasenta previa.

BAB II DATA KASUS


2.1. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Status Perkawinan Suku Pukul : Ny. S : 17 Tahun : Perempuan : Ibu Rumah Tangga : Lulusan SMP : Islam : Gaprang II 3/3 Kanigoro - Blitar : Menikah : Jawa : 21.30 WIB

Tanggal Periksa/MRS : 2 April 2012

2.2. Anamnesis (Auto-Anamnesis) 1. Keluhan Utama 2. Riwayat Penyakit Sekarang : : Pasien mengeluh keluar darah banyak dari jalan lahir sejak sore. Ny. S, 17 tahun, datang ke kamar bersalin RSD Mardi Waluyo tanggal 2 April 2012 pukul 21.30 WIB, datang sendiri dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 17.00. Darah yang keluar berwarna merah segar, tidak diketahui penyebab perdarahannya, serta tidak ada keluhan nyeri. Perdarahan awalnya hanya sedikit, setibanya di rumah sakit menjadi banyak serta merembes. Pasien mengatakan perut terasa kenceng-kenceng sejak pukul 19.00 WIB. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Diabetes Melitus Riwayat Penyakit Jantung : : Tidak ada : Tidak ada

Riwayat Hipertensi Riwayat Sakit Kejang Riwayat Alergi Obat Riwayat Alergi Makanan :

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

4. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Hipertensi Riwayat Diabetes Melitus Riwayat Jantung Riwayat Sakit Kejang

: Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : : Tidak merokok : Tidak pernah : Jarang olah raga :

5. Riwayat Kebiasaan Riwayat Merokok Riwayat Minum Alkohol Riwayat Olahraga

6. Riwayat Pernikahan

Pasien menikah sejak tahun 2011 saat pasien berusia 16 tahun. Melakukan hubungan intim setiap 2 - 3x seminggu, gangguan seksual tidak ada. 7. Riwayat Menstruasi Menarche : 12 tahun Siklus Lama : 30 hari, teratur : 7 hari, banyak :

Keluhan penyerta saat menstruasi : Nyeri perut sebelum haid Tanda menopause: tidak ada HPHT HPL : 20-6-2011 : 27-3-2012 :

8. Riwayat Kontrasepsi

Pasien belum pernah menggunakan KB apapun sejak menikah.

8. Riwayat Obstetri Graviditas :

Hamil kedua, kehamilan pertama mengalami keguguran dan tidak dikuret. Persalinan : Belum pernah bersalin sebelumnya. Permasalahan kehamilan : Saat usia kehamilan usia 38-39 minggu, pasien mengalami perdarahan sehingga dirawat di rumah sakit. Menurut pasien darah yang dikeluarkan ialah darah segar, dan cukup banyak, kemudian pasien dilakukan pemeriksaan USG. Dari pemeriksaan USG didapatkan hasil : Usia kehamilan 37-38 minggu, TBB : 2240 gr, dengan plasenta previa, meluas dari kanan depan. Setelah dirawat di rumah sakit selama 3 hari, diizinkan pulang karena sudah tidak ada keluhan. ANC : Pasien ANC di bidan sebanyak 7 kali dan di dokter spesialis kandungan 1 kali dan dilakukan USG. Anamnesa Sistem 1. Kulit 2. Kepala benjolan. 3. Mata 4. Hidung : : Pandangan mata normal, penglihatan normal. Tidak ada kelainan bentuk, tidak ada sekret : : Tidak ada gatal, tidak kering, tidak ada keluhan. Tidak sakit kepala, rambut kepala tidak rontok, tidak ada luka maupun

5. Telinga 6. Mulut 7. Tenggorokan 8. Pernafasan 9. Kardiovaskuler 10. Gastrointestinal 11. Genitourinaria 12. Neurologik 13. Psikiatri

: : : : : : : : :

Pendengaran baik, tidak berdengung dan tidak ada cairan yang keluar. Tidak ada sariawan dan tidak kering Tidak ada nyeri menelan maupun suara serak Tidak ada sesak, tidak ada batuk Tidak ada nyeri, tidak berdebar-debar Tidak ada mual, muntah, maupun diare, tidak ada nyeri perut. Tidak ada keluhan, dalam batas normal. Tidak lumpuh, tidak ada rasa tebal pada kaki maupun kesemutan. Emosi stabil, tidak mudah marah 14. Muskuloskeletal : Tidak ada kaku sendi maupun nyeri otot. 15. Ekstremitas Atas kanan Atas kiri Bawah kanan Bawah kiri : : Tidak ada keluhan : Tidak ada keluhan : Tidak ada keluhan : Tidak ada keluhan : Tampak lemah : Compos mentis, GCS: 4,5,6 : : 120/80 mmHg

2.3. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum 2. Kesadaran 3. Tanda Vital Tensi

5. Kulit 6. Kepala

Nadi RR

: 88 x/menit : 18 x/menit : 37 C : :

Suhu axilar

4. BB : 51 kg, TB : 156 cm Berwarna sawo matang, pucat, tidak ada gatal, kulit tidak kering, turgor baik. Bentuk kepala normal, rambut kepala tidak rontok, tidak ada luka maupun benjolan, rambut tidak beruban. 7. Mata 8. Hidung : : Anemi +/+, Ikterik -/-, pupil isokor, refleks cahaya +/+, mata tidak cowong. Tidak ada deformitas, tidak ada atrofi konka, mukosa intake, tidak ada sekret dan krusta, tidak ada obstruksi. 9. Mulut : Tidak bau mulut, tidak ada stomatitis, gigi normal, kelainan lidah tidak ada, mukosa faring tidak hiperemi, tidak ada pembesaran tonsil. 10. Telinga : Tidak ada sekret, tidak ada serumen, tidak ada benda asing, membran timpani intake, pendengaran normal. 11. Tenggorokan 12. Leher 13. Thoraks Pulmo : Statis (depan dan belakang) Inspeksi dada kiri. Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan : bentuk normal, pengembangan dada kanan sama dengan : : : Simetris, tidak ada pembesaran kel.tiroid Tidak ada kaku, JVP tidak dievaluasi, tidak ada pembesaran KGB

Sonor Sonor Sonor

Sonor Sonor Sonor

Perkusi :

Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara tambahan : wheezing


-

ronkhi Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis kuat angkat : : ICS II Linea para sternalis sinistra

o Batas kiri atas

o Batas kanan atas : ICS II Linea para sternalis dekstra o Batas kiri bawah : ICS V medial lineo medio clavicularis sinistra o Batas kanan bawah: ICS IV linea para sternalis dekstra Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, Suara : : Tampak pembesaran abdomen.

tambahan jantung : Gallop (-) 14. Abdomen Inspeksi

Auskultasi : Bising usus normal

Perkusi Palpasi

: Timpani : Shuffle, tidak ada asites, tidak ada defen muskuler, tidak

ada pembesaran hepar maupun lien, tidak ada pulsasi abnormal, terjadi pembesaran abdomen sesuai usia kehamilan. 15. Sistem Collumna Vertebralis benjolan : Tidak ada skoliosis, lordosis maupun kifosis, tidak ada luka maupun

15. Ekstremitas : palmar eritem (-) + + + + Akral hangat

Oedem

16. Pemeriksaan Neurologik Kesadaran Fungsi Luhur : composmentis : dalam batas normal Fungsi Sensorik

Fungsi Vegetatif : dalam batas normal N N N N

Fungsi Motorik 5 5 5 5 N N N N N N N N -

Kekuatan

Tonus

Ref.Fisiologis

Ref.Patologis

17. Status Obstetrik Palpasi : : 26 cm : Punggung Kiri, Letak Kepala, U : 10 . 1 . 20 : 143 x/menit :

o Tinggi Fundus Uteri o Letak Janin o His o DJJ Pemeriksaan Dalam (VT) o Tidak dilakukan o Inpeksi Vulva / Vagina o Fluxus (+) banyak 2.4 Planning Terapi

o Pemeriksaan laboratorium : Cito Hb, DL, PTT, APTT o Observasi CHPB o Evaluasi fluxus o Pro Sectio Cesarea 2.4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah Lengkap

10

o Hb o Leukosit

: 10,4 g/dL : 11.400 cmm

(n: L 13,5-18 g/dl; P 11,5-16,0 g/dl) (n: 4000-11000 cmm) (n: 150.000-450.000 cmm) (n: L 40-54 %; P 35-47 %) (n: L 4,5-6,5 jt/mm3; P 3-6 jt/cmm)

o Trombosit : 365.000 cmm o Ht o Eritrosit : 34,6 % : 3.650.000 jt/cmm

o Hitung Jenis: eos/bas/stab/seg/lim/mon - / - / 1 / 64 / 35 / o PTT o INR o APTT (n: 1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7) o MCV/MCH/MCHC : 94,8 / 38,4 / 30,0 (n:80-97 fL/27-31 pg/32-36%) : 9,7 detik (kontrol: 13.1 detik) (n: <3 detik dengan kontrol) : 0,86 : 26,7 detik (kontrol: 26.3 detik) (n: <7 detik dengan kontrol)

o HbsAg (Tes Strip) Non Reaktif o HIV (Pack Tes) Non Reaktif Pemeriksaan Urine Lengkap o Warna urine o Albumin urine o Reduksi urine o Bilirubin urine o Urobilinogen o Keton o Nitrit : kuning muda keruh (n : kuning muda jernih) : +1/positif : negatif : negatif : negatif : negatif : negatif (n : negatif) (n : negatif) (n : negatif) (n : negatif) (n : negatif) (n : negatif) (n : 1.010-1.020) (n : 4,6-8,5) (n : 0-1) (n : 0-1) (n : 0-1)

o Berat jenis urine : 1.005 o pH o Eritrosit o Leukosit o Epitel o Kristal o Silinder o Bakteri : 8,0 : 15-30 : 8-10 : 3-5 :::-

11

o Yeast/jamur 2.5. Diagnosis Kehamilan

:-

GII P0000 Ab100 Grav 40 - 41 Minggu Tunggal/Hidup dengan APB Fluxus Aktif

12

2.7. Resume Ny. S, 17 tahun, MRS 2 April 2012 pukul 21.30 WIB, datang sendiri dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 17.00. Darah yang keluar berwarna merah segar, tidak diketahui penyebab perdarahannya, serta tidak ada keluhan nyeri. Perdarahan awalnya hanya sedikit, setibanya di rumah sakit menjadi banyak serta merembes. Pasien mengatakan perut terasa kencengkenceng sejak pukul 19.00 WIB.

13

Saat usia kehamilan usia 38-39 minggu, pasien mengalami perdarahan sehingga dirawat di rumah sakit. Menurut pasien darah yang dikeluarkan ialah darah segar, dan cukup banyak, kemudian pasien dilakukan pemeriksaan USG. Dari pemeriksaan USG didapatkan hasil : Usia kehamilan 37-38 minggu, TBB : 2240 gr, dengan plasenta previa, meluas dari kanan depan. Setelah dirawat di rumah sakit selama 3 hari, diizinkan pulang karena sudah tidak ada keluhan. Dari anamnesis HPHT : 20 06 2011, HPL : 27 03 2012. Kehamilan ini adalah kehamilan kedua, kehamilan pertama sebelumnya mengalami keguguran dan tidak dikuret. Dari pemeriksaan fisik didapatkan : tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 88 x/menit, RR 24 x/menit, suhu aksilar 37 C. Pada palpasi didapatkan TFU : 26 cm, letak janin : punggung kiri, letak kepala, merapat PAP, His : 10 1 20, DJJ : 143 x/menit,. Inspeksi v/v fluxus (+). Dari pemeriksaan laboratorium darah lengkap didapatkan hasil Hb : 10,4 gr%, jumlah leukosit : 11.400 cmm. Pada pemeriksaan urin lengkap didapatkan hasil jumlah eritrosit : 15-30, leukosit : 8-10. Perkembangan persalinan P2001 Ab100 Post Partus LSCS atas indikasi plasenta previa totalis, plasenta lahir lengkap, perdarahan 600cc, kontraksi uterus baik. 2.8. Diagnosis Persalinan P1001 Ab100 Post Partus LSCS atas indikasi Plasenta Previa Totalis

14

Table 2.2. Follow Up Pasien


S O 3-4-2012 Nyeri luka jahitan, Tidak pusing, belum BAK spt, Kentut (+). K/U : Cukup VS : TD : 130/80 mmHg N : 90x/menit RR : 20x/menit Suhu Ax : 36.5 C Mamae : ASI -/Abdomen : TFU : 2 jari di atas pusat UC : Baik BU : (+) Meteorismus : (-) LBO : Baik Lochea Rubra (+) banyak Produksi Urin : 200 cc P1001 Ab100 Post Partus atas indikasi Plasenta previa totalis Hari ke - 1. Infus RL : D5 (2:3) + Drip Induksin 10 IU (Sisa) Inj. Ceftriaxone 3x1 gr Inj. Alinamin 3x1 Inj. Vit. C 3x1 Kaltrofen supp 3 x 1 Observasi 4-4-2012 Tidak ada keluhan, BAK spt, Kentut (+), Mob (+) K/U : Cukup VS : TD : 120/80 mmHg N : 88x/menit RR : 20x/menit Suhu Ax : 36.5 C Mamae : ASI -/Abdomen : TFU : Setinggi pusat UC : Baik BU : (+) Meteorismus : (-) LBO : Baik Lochea Rubra (+) sedikit P1001 Ab100 Post Partus atas indikasi Plasenta previa totalis Hari ke 2 Terapi Oral : -Amoxycillin 3x 500mg -Mefenamic Acid 3x500mg -Methylergometrin Maleat 3x1 5-4-2012 Tidak ada keluhan, BAK spt, Kentut (+), Mob (+) K/U : Cukup VS : TD : 120/90 mmHg N : 86x/menit RR : 16x/menit Suhu Ax : 37 C Mamae : ASI +/+ Abdomen : TFU : 2 jari di bawah pusat UC : Baik BU : (+) Meteorismus : (-) LBO : Baik Lochea Rubra (+) sedikit P1001 Ab100 Post Partus atas indikasi Plasenta previa totalis Hari ke 3 Terapi Oral : -Amoxycillin 3x 500mg -Mefenamic Acid 3x500mg -Methylergometrin Maleat 3x1 - BLPL

A P

15

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir (ostium uteri interna)(2). 3.2 Klasifikasi Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. Sehingga klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Umpamanya, plasenta previa total pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previa pada pembukaan 8 cm(2). Secara umum plasenta previa diklasifikasikan menjadi : a. Plasenta previa totalis atau komplit, yaitu bila plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum. b. Plasenta previa parsialis, bila plasenta menutupi sebagian ostium uteri internum. c. Plasenta previa marginalis, bila tepi plasenta berada pada pinggir ostium uteri internum. d. Plasenta letak rendah, bila tepi bawah plasenta berada pada jarak lebih kurang 2cm dari ostium uteri internum.

Gambar 3.1 Tipe Plasenta Previa 16

Menurut de Snoo, klasifikasi plasenta previa berdasarkan pembukaan 4 -5 cm adalah : a. Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium. b. Plasenta previa lateralis, bila mana pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dibagi 3 : 1. Plasenta previa lateralis posterior; bila sebagian menutupi ostium bagian belakang. 2. Plasenta previa lateralis anterior, bila sebagian menutupi ostium bagian depan. 3. Plasenta previa marginalis, bila sebagian kecil atau hanya pinggir ostium yang ditutupi plasenta. Klasifikasi menurut Browne: 11. Tingkat 1, Lateral plasenta previa : Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim, namun tidak sampai ke pinggir pembukaan. 3. Tingkat 2, Marginal plasenta previa : Plasenta mencapai pinggir pembukaan (ostium). 4. Tingkat 3, Complete plasenta previa : Plasenta menutupi ostium waktu tertutup dan tidak menutupi bila pembukaan hampir lengkap. 5. Tingkat 4, Central plasenta previa : Plasenta previa menutupi seluruh ostium pada pembukaan hampir lengkap. 3.3 Frekuensi Plasenta previa terjadi pada kira-kira 1 di antara 200 persalinan (2). Menurut Abdat (2010) di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2009 terdapat 78 kasus plasenta previa dari total 1457 persalinan. Menurut Tambunan (2008) penyebab kasus perdarahan terbanyak di RSUD dr. Pirngadi tahun 2007 yaitu plasenta previa sebanyak 30 orang (51,7 %). Menurut Gultom (2009) kasus perdarahan antepartum tertinggi di RS St. Elisabeth Medan pada priode 2004-2008 yaitu kasus plaenta previa sebanyak 79 orang.

17

3.4 Etiologi Etiologi plasenta previa sampai saat ini belum diketahui secara pasti (2), namun ada beberapa teori dan faktor risiko yang berhubungan dengan plasenta previa, diantaranya: 1. Ovum yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks. 2. Lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi). 3. Hipoplasia endometrium : bila kawin dan hamil pada umur muda. 4. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. 5. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium. 6. Plasenta terbentuk secara tidak normal. 7. Kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau. Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas
(4)

permukaannnya sehingga menutupi pembukaan jalan lahir 8. Ibu merokok atau menggunakan kokain.

9. Ibu dengan usia lebih tua. Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20 tahun. Hasil penelitian Wardana (2007) menyatakan usia wanita produktif yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun tahun
(1)

. Plasenta previa dapat terjadi pada umur di atas 35 endometrium yang kurang subur dapat

karena

meningkatkan kejadian plasenta previa. Peningkatan umur ibu merupakan faktor risiko plasenta previa, karena sklerosis 18

pembuluh

darah

arteli

kecil

dan

arteriole

miometrium

menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak merata sehingga plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih besar, untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat
(1)

3.5 Patofisiologi Letak plasenta biasanya umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller di atas. Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonj ot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari vili tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropoblast sel-sel berkurang dan hanya ditemukan sebagai kelompok-kelompok sel-sel; stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya lebih besar dan lebih mendekati lapisan tropoblast (5). Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga karena saat itu segmen bawah uterus lebih mengalami perubahan berkaitan dengan semakin tuanya kehamilan. Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan (6) : a. Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi b. Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi janin c. Villi korealis pada korion leave yang persisten

19

Menurut

Davood

(2008)

Sebuah

penyebab

utama

perdarahan trimester ketiga, plasenta previa memiliki tanda yang khas, yaitu pendarahan tanpa rasa sakit. Pendarahan diperkirakan terjadi dalam hubungan dengan perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga
(6)

Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi, dan serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darahnya berwarna merah segar berlainan dengan darah yang disebabkan solusio plasenta yang berwarna kehitamhitaman. Sumber perdarahannya ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahannnya tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai 3.6 Gambaran Klinik Gejala plasenta previa mencakup satu atau kedua hal berikut (6) : 1. Tiba-tiba, tanpa rasa sakit pendarahan vagina yang berkisar dari ringan sampai berat. Darah sering berwarna merah terang. Pendarahan dapat terjadi pada awal minggu ke-20 kehamilan tetapi yang paling umum selama trimester ketiga. 2. Gejala persalinan prematur. Satu dari 5 wanita dengan tanda-tanda plasenta previa juga memiliki kontraksi rahim. 20
(6)

Perdarahan plasenta previa mungkin taper off dan bahkan berhenti untuk sementara. Tapi itu hampir selalu dimulai lagi hari atau minggu kemudian. Beberapa wanita dengan plasenta previa tidak memiliki gejala apapun. Dalam kasus ini, plasenta previa hanya dapat didiagnosis oleh USG dilakukan untuk alasan lain (6). Apabila janin dalam presentasi kepala, kepalanya akan didapatkan belum masuk ke dalam pintu-atas panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke samping karena plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar ditentukan karena plasenta previa anterior. Tidak jarang terjadi kelainan letak, seperti letak lintang atau letak sungsang (7). 3.7 Diagnosis Jika plasenta previa terdeteksi pada akhir tahun pertama atau trimester kedua, sering kali lokasi plasenta akan bergeser ketika rahim membesar. Ini dapat dilakukan pemeriksaan USG. Beerapa wanita mungkin bahkan tetap tidak terdiagnosis sampai persalinan, terutama dalam kasus-kasus plasenta previa sebagian (8). 1) Anamnesis Pada anamnesis dapat dinyatakan beberapa hal yang berkaitan dengan perdarahan antepartum seperti umur kehamilan saat terjadinya perdarahan, apakah ada rasa nyeri, warna dan bentuk terjadinya perdarahan, frekuensi serta banyaknya perdarahan. Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa rasa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida (4). 2) Pemeriksaan luar a. Inspeksi Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak atau sedikit, darah beku dan sebagainya. Jika telah berdarah banyak maka ibu kelihatan anemis. b. Palpasi Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah, sering dijumpai kesalahan letak janin, bagian terbawah janin belum turun, apabila

21

letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau mengolak di atas pintu atas panggul (6). 3) Ultrasonografi Menegakkan diagnosa plasenta previa dapat pula dilakukkan dengan pemeriksaan ultrasonografi. Penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya, dan tidak rasa nyeri (4). USG abdomen selama trimester kedua menunjukkan penempatan plasenta previa. Transvaginal Ultrasonografi dengan keakuratan dapat mencapai 100% identifikasi plasenta previa. Transabdominal ultrasonografi dengan keakuratan berkisar 95% (9).

Gambar. 3.2 Transvaginal ultrasonografi plasenta previa total. Plasenta menutupi seluruh ostium uteri interna.

Dengan USG dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium. Bila jarak tepi kurang dari 5 cm disebut plasenta letak rendah. Bila tidak dijumpai plasenta previa, dilakukan pemeriksaan inspekulo untuk melihat sumber perdarahan lain (10). 4) Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uetri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina. Apabila

22

perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai (9).

3.8 Penatalaksanaan

23

Gambar 3.3 Algoritma penatalaksanaan plasenta previa

1. Terapi ekspektatif (pasif) Tujuan ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir prematur, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilakukan secara ketat dan baik. Syarat-syarat terapi ekspektatif : Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti. Belum ada tanda-tanda in partu. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal). Janin masih hidup.

2. Terapi aktif Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin. Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa: a. Seksio sesarea Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan. b. Melahirkan pervaginam Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Amniotomi dan akselerasi Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/marginalis dengan pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta

24

akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi dengan infus oksitosin Versi Braxton Hicks Tujuan melakukan versi Baxton Hicks ialah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup Traksi dengan Cunam Willet Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian beri beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan seringkali menyebabkan pendarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan tidak aktif. Plasenta previa dengan perdarahan merupakan keadaan darurat kebidanan yang memerlukan penanganan yang baik. Bentuk pertolongan pada plasenta previa adalah: 1. Segera melakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan ibu dan anak untuk mengurangi kesakitan dan kematian. 2. Memecahkan ketuban di atas meja operasi selanjutnya pengawasan untuk dapat melakukan pertolongan lebih lanjut. 3. Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas yang cukup. 3.9 Komplikasi Berikut ini adalah kemungkinan komplikasi plasenta previa tidak mencukupi b. Anemia janin
(11)

a. Pertumbuhan janin lambat karena pasokan darah yang

25

c. Janin yang tertekan akibat rendahnya pasokan oksigen d. Shock dan kematian ibu jika pendarahan berlebihan e. Infeksi dan pembentukan bekuan darah f. Kehilangan darah yang membutuhkan transfuse g. Prematur, pengiriman sebelum minggu ke-37 kehamilan, yang biasanya menimbulkan risiko terbesar pada janin
(3)

h. Cacat lahir. Cacat lahir terjadi 2,5 kali lebih sering pada kehamilan yang dipengaruhi oleh plasenta previa daripada kehamilan tidak terpengaruh. Penyebab saat ini tidak diketahui 3.10 Prognosis Mortalitas perinatal kurang dari 50 per 1000, kematian janin disebabkan karena hipoksia. Setelah lahir dapat terjadi perdarahan postpartum karena trofoblas menginvasi segmen bawah uteri. Bila perdarahan tidak dapat dihentikan maka dilakukan histerektomi. Mortalitas ibu rendah dengan pelayanan obstetri yang baik dan tidak dilakukan pemeriksan sebelum masuk rumah sakit (3).
(3)

26

BAB IV PEMBAHASAN

Diagnosis plasenta previa pada pasien ini ditegakkan dari hasil anamnesis yang menyebutkan bahwa pasien, GIIP0000 Ab100 Grav 40-41 minggu Tunggal/Hidup, mengeluh keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 17.00 WIB tanggal 2 April 2012. Darah yang keluar berwarna merah segar, perdarahan tidak jelas sebabnya, serta tidak ada keluhan nyeri. Perdarahan hanya keluar sedikitsedikit, namun sejak masuk rumah sakit, perdarahan menjadi banyak serta merembes. Sebelumnya, pasien juga memiliki riwayat MRS dengan keluhan perdarahan pada saat usia kehamilan 8 bulan, namun kemudian pulang karena perdarahan telah berhenti dan sudah tidak ada keluhan. Adanya keluhan perdarahan pada kehamilan trimester ketiga yang bersifat tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan berulang (recurrent) merupakan dasar diagnosis plasenta previa. Pasien juga memiliki riwayat abortus yang merupakan salah satu faktor etiologi terjadinya plasenta previa. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium didapatkan TFU : 26 cm, letak janin : punggung kiri, letak kepala, merapat PAP. Belum masuknya kepala janin pada PAP juga merupakan salah satu kriteria diagnosis plasenta previa, dimana kepala bayi terhalang oleh plasenta sehingga tidak dapat masuk PAP. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb : 10,4 gr%, hal tersebut dapat disebabkan karena perdarahan yang banyak yang terjadi pada plasenta previa. Hasil pemeriksaan USG menjadi penentu diagnose pasti plasenta previa pada pasien ini, dimana didapatkan hasil : Usia kehamilan 37-38 minggu, TBB : 2240 gr, dengan plasenta previa, meluas dari kanan depan. Terjadinya plasenta previa pada kasus ini kemungkinan akibat riwayat abortus pada ibu. Abortus menyebabkan lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan sering parut pada sehingga wanita menyebabkan implantasi plasenta Pada 27 menjadi tidak normal. Kejadian plasenta previa tiga kali lebih multipara daripada primipara.

multipara,

plasenta

previa

disebabkan

vaskularisasi

yang

berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau. Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi pembukaan jalan lahir. Saat pasien datang ke RS, terdapat perdarahan aktif sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa kondisi pembukaan cervix. Karena usia kehamilan pasien adalah 40-41 minggu, kemungkinan janin sudah viabel, his pasien sudah adekuat, serta hasil USG yang menyatakan bahwa pasien mengalami plasenta previa, maka persalinan dilakukan secara operasi sesar. Pemberian ceftriaxone 1 gr dilakukan sebagai profilaksis terhadap terjadinya infeksi saat tindakan partus berlangsung.

28

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir (ostium uteri interna). Dimana penyebab dari plasenta previa tidak atau masih belum jelas. Diagnosis berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik. Sebagai penunjang dilakukan pemeriksaan laboratorium, USG abdomen atau Transvaginal USG yang memiliki keakuratan mencapai 100%. Penatalaksanaan plasenta previa dilakukan secara ekspektatif dan aktif, tergantung dari usia kehamilan dan komplikasi yang terjadi, serta indikasi-indikasi obstetrik lainnya. Manajemen plasenta previa pada kehamilan aterm berupa manajemen aktif, dimana dilakukan upaya untuk mempercepat persalinan sehingga mengurangi resiko perdarahan lebih lanjut. Plasenta previa totalis merupakan indikasi mutlak dilakukannya SC. Prognosis tergantung dari cara pelaksanaannya dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul serta usia dari kehamilannya. 5.2. Saran Bagi Tenaga Kesehatan Tenaga kesehehatan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan USG pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu pada ibu hamil dengan faktor risiko tersebut, memberi upaya preventif terhadap faktor-faktor risiko terjadinya plasenta previa seperti penyuluhan untuk tidak memiliki anak lebih dari dua. Bagi Masyarakat dan Keluarga

29

Perlu meningkatkan pengetahuan mengenai kejadian plasenta previa pada multiparitas sehingga bisa mewaspadai kemungkinan terjadinya plasenta previa serta pentingnya Ante Natal Care secara rutin.

Bagi Ilmu Pengetahuan Bagi peneliti selanjutnya, perlu diteliti lebih lanjut faktor-faktor lain yang berhubungan dengan plasenta previa, seperti keadaan endometrium, usia ibu, dan penyakit yang menyertai kehamilan, misal hipertensi, mioma uteri, tumor, dan lain sebagainya.

30

DAFTAR PUSTAKA

1.

Wardana GA dan Karkata MK. 2007. Faktor Risiko Plasenta Previa . CDK 34: 229-32.

2.

Chalik, T. Perdarahan pada Kehamilan Lanjut & Persalinan. Dalam : Saifuddin, A., Rachimhadi, T., dan Wiknjosastro, G. (Eds). Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi Keempat. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008 : 493-521

3. 685-704 4.

Cunningham FG. 2006. Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC. pp:

Sumapraja S dan Rachimhadi T. 2005. Perdarahan Antepartum dalam: Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. pp: 365-85..

5.

Kay HH .2003. Placenta previa and abruption. In JR Scott et al. (eds). Danforth's Obstetrics and Gynecology, 9th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins, pp: 365-379.

6.

Abdat, Umar A., 2010. Hubungan Antara Paritas Ibu dengan Kejadian plasenta previa di rumah sakit dr. Moewardi Surakarta. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

7.

Davood S, Parviar K and Ebrahimi S. 2008. Selected pregnancy variables in women with placenta previa. Res. J. Obstet. Gynecol. 1: 1-5.

8.

Faiz AS and Ananth CV. 2003. Etiology and risk factors for placenta previa: An overview and meta-analysis of observational studies. Journal of Maternal-Fetal and Neonatal Medicine. 13: 175190.

31

9.

Johnson LG, Sergio F and Lorenzo G. 2003. The relationship of placenta previa and history of induced abortion. International Journal of Gynaecology and Obstetrics. 81(2): 191198.

10.

Oyelese Y and Smulian JC. 2006. Placenta previa, placenta accreta, and vasa previa. Obstetrics and Gynecology. 107(4): 927941.

11.

Usta IM, Hobeika E.M, Musa A.A, Gabriel G.E and Nassar A.H. 2005. Placenta previa-acreta: risk factors and complications. Am. J. Obstet. Gynecol. 193: 1504-1059.

32