Anda di halaman 1dari 22

MANAJEMEN MARIKULTUR INDAH RUFIATI SY UGM 2006

Sunday, September 13, 2009 3:01:15 AM I. Pendahuluan A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai potensi sumber daya perairan yang besar dilihat dari panjang garis pantai yaitu 81.000 km dan luas areal yang dapat digunakan untuk budidaya ikan 24.530.000 ha berdasarkan perhitungan sekitar 5 km dari garis pantai ke arah laut (Anonim cit Haluan, 2003). Pengembangan budidaya laut berperan penting untuk pembangunan sektor perikanan dan merupakan salah satu prioritas yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan dari sektor perikanan. Potensi tersebut apabila dimanfaatkan secara optimal akan meningkatkan pendapatan petani nelayan, membuka lapangan kerja, memanfaatkan daerah potensial, meningkatkan produktivitas perikanan, meningkatkan devisa negara dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati (Anonim, 2004). Salah satu cara untuk mengembangkan potensi dari perikanan budidaya laut adalah dengan membuat pusat riset atau pusat penelitian sehingga budidaya laut dapat berkembang. Pesatnya perkembangan dari budidaya laut saat ini selain didukung oleh adanya balai riset baik payau maupun laut yaitu adanya faktor lain seperti kultivan yang dibudidayakan ekonomis, benih yang telah tersedia, permintaan produk yang terus meningkat, dan juga turunnya produksi dari alam. B. Tujuan 1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang teknik budidaya air laut. 2. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji permasalahan-permasalahan yang sering timbul pada kegiatan budidaya air laut. C. Manfaat 1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang teknik budidaya air laut secara nyata di lapangan. 2. Mahasiswa dapat dan mampu mengkaji permasalahan-permasalahan yang timbul pada kegiatan budidaya air laut sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang muncul. 3. Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Manajemen Marikultur Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

D. Waktu dan Tempat 1. Waktu : 08 Juni 2009 Tempat : Karamba Jaring Apung (KJA) Situbondo 2. Waktu : 09 Juni 2009 Tempat : BBRPBL Gondol

II. Pembahasan Karamba Jaring Apung (KJA) Situbondo A. Sejarah Singkat Instansi Karamba Jaring Apung (KJA) di Situbondo berada di propinsi Jawa Timur, berdiri pada bulan Oktober tahun 2000. Tempat ini memiliki kurang lebih 10 buah KJA, dengan komoditas antara lain kerapu bebek, kerapu macan, kerapu lumpur, kerapu napoleon, kakap merah, dll. Lokasinya cukup strategis karena di sebelah utara dilindungi lung karang sehingga terlindung dari angin, arus maupun gelombang. Dari tahun 2000 sampai sekarang telah terjadi beberapa kali pergeseran KJA dengan pergeseran kearah timur sejauh 3 m. Hal tersebut dilakukan agar kualitas air tetap terjaga akibat dari limbah yang dihasilkan oleh budidaya, maka dari itu perlu dilakukan pergeseran KJA. B. Sarana dan Prasarana Ukuran jaring di KJA ini adalah 3x3x3 m dengan ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran atau umur ikan untuk ikan yang masih kecil ukuran mata jarring inchi dan untuk ikan yang sudah berukuran besar ukuran mata jaring 3 inchi. Benih yang digunakan pada KJA ini berasal dari BBAP Situbondo dimana ditebar pada ukuran 10 cm dengan padat tebar 750 dalam satu jaring (3x3x3 m). Pakan yang diberikan pada ikan kerapu maupun kakap yaitu ikan rucah. Kepala ikan rucah dibuang dan tubuhnya dipotong-potong agar dapat dimakan sesuai ukuran mulut ikan. Pemberian pakan diberikan dengan metode ad-libitum dengan frekuensi 4 kali sehari untuk ikan yang berukuran kecil dan 2 kali sehari untuk ikan berukuran besar.

C. Komoditas Karamba Jaring Apung (KJA) di Situbondo membudidayakan 5 jenis ikan. Diantaranya yaitu kerapu bebek (tikus), kerapu lumpur, kerapu macan, kakap merah dan napoleon. D. Teknik dan Manajemen Budidaya 1. Kakap merah (Lutjanus argentimaculatus) Di Perairan Indo-Pasifik terdapat 31 spesies yang termasuk genus Lutjanus. Di antara ke-31 spesies tersebut sampai saat ini, baru Lutjanus johni, Lutjanus argentimaculatus, dan Lutjanus sebae yang telah dibudidayakan. Beberapa sifat kakap merah yang menguntungkan usaha budidaya adalah pertumbuhannya relatif cepat, toleran terhadap kekeruhan, ruang terbatas dan salinitas, serta tanggap terhadap pakan buatan. Selain itu, budi daya ikan ini relatif mudah, tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara dalam kepadatan yang tinggi, dan sifat kanibalismenya rendah. A. Sistematika Famili : Lutjanidae spesies : Lutjanus argentimaculatus, L. sebae, L. johni Nama dagang : mangrove red snapper, emperor red snapper, John's snapper Nama lokal : bambangan, ungar B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi 1. Ciri fisik Tubuh ditutupi sisik ctenoid berukuran sedang dan kecil. Bagian depan dari kepala hidung dan daerah mata tanpa sisik. Beberapa baris sisik terdapat pada tutup insang. Linea lateralis komplit dengan bentuk lurus atau kurva/melengkung. Gigi pada rahang biasanya beberapa baris. Terdapat gigi pada mulut bagian atas. Sirip ventral dengan satu duri keras dan 5 jari-jari lunak. selain itu erdapat sirip punggung dan sirip dubur. Tubuh ikan berwarna merah/cokelat. Bagian bawah tubuhnya berwarna merah muda Untuk P. argentimaculatus. Adapun L. sebae dewasa berwarna merah gelap dan juwana berwarna merah (pink) dengan loreng (band berwarna merah gelap. Bagian sirip punggung, sirip, dubur, dan bagian atas sirip ekor berwarna gelap. Untuk L. johni, warna badan hijau keperakan atau warna perunggu. Terdapat satu totol hitam besar di bawah sirip punggung, posisinya di antara batas dari keras dan jari-jari lunak. 2. Pertumbuhan dan perkembangan Laju pertumbuhan ikan kakap merah yang dipelihara dalam karamba jaring apung mencapai 0,56% per hari. Data tersebut menunjukkan baliwa ikan kakap merah tergolong ikan yang cepat pertumbuhannya. Kakap merah termasuk jenis ikan hermaphrodit protandi, yaitu berstatus jantan pada awal kehidupannya, lalu berubah menjadi betina. Ikan kakap, merah yang berukuran antara 45,0 - 55,0 cm didominasi oleh ikan jantan, sedangkan yang berukuran 56,0-62,5 cm didominasi ikan betina. Perubahan dari jantan ke betina terjadi setelah ikan berumur 6-8 tahun. Pada saat itu, induk jantan telah berukuran bobot 3,5 kg dengan panjang total 53-60 CM. Ikan betinanya akan siap memijah setelah berukuran sekitar 6 kg. Bobot induk betina L. argentimaculatus yang telah matang gonad antara 2,9-5,5 kg, sedangkan jantan antara 3,6-4,6 kg. L. sebae memijah sepanjang tahun, sedangkan L. argentimaculatus memijah selama 6 bulan, yaitu dari bulan Desember-Juni. Pemijahan dapat dilaksanakan di dalam tangki maupun KJA. Seekor ikan betina yang bobotnya antara 3-4,5 kg dapat menghasilkan telur sebanyak 1,2 juta butir. Khusus L. sebae, pemijahannya tidak tergantung pada sildus peredaran bulan. Ikan jenis ini memijah pada bulan gelap maupun bulan purnama. Namun, keragaan pemijahan yang lebih baik terjadi pada bulan gelap dibanding

bulan terang. Pemijahan berlangsung dalam tangki pada kedalaman air 70-160 m. C. Pemilihan lokasi budidaya Ikan kakap merah tergolong ikan eurihalin. Kakap merah yang masih muda dan dewasa hidup di daerah mangrove dan muara sungai yang kadar garamnya mendekati air tawar. Sifat ini menciptakan peluang untuk membudidayakannya, baik di tambak maupun dalam KJA di laut. Lokasi penempatan KJA atau karamba tancap harus terlindung dari pengaruh gelombang besar dan angin kencang, seperti perairan teluk yang terlindung, selat kecil, muara sungai ataupun sungai yang airnya bersifat payau. Kakap merah bisa hidup di perairan laut maupun perairan payau dengan kadar garam berkisar 10-35 ppt, dan suhu air 26-31 C. D. Wadah Budi Daya Ikan kakap merah dapat dibudidayakan dalam KJA maupun karamba tancap di perairan pantai, sekitar muara sungai. Ikan ini dapat dibudidayakan dalam KJA berukuran 2 m X 2 m X 2 m, maupun ukuran yang lebih besar 3 m x 3 m X 2 m, disesuaikan dengan target produksi yang ingin dicapai. E. Pengelolaan Budi Daya 1. Penyediaan benih Benih kakap merah bisa diperoleh dari hatchery yang menyediakan benih kakap ini, atau bisa diperoleh dengan cara penangkapan dari alam. Benih dari alam biasanya ketersediaannya terbatas, ukurannya tidak seragam dan hanya tersedia pada musim tertentu. Adapun pengangkutannya dengan sistem tertutup. 2. Penebaran benih Penebaran benih dilakukan sebaiknya walau pagi atau sore hari karena suhu udara atau air lebih dingin. Sebelum penebaran, harus diperhatikan kondisi kualitas air, terutama suhu dan salinitas. Jika suhu dan salinitas air pengangkutan cukup berbeda dengan air di lokasi budi daya, perlu dilakukan adaptasi. Padat penebaran benih kakap merah seberat 50 g adalah 100 ekor/m3. Adapun padat penebaran ikan yang berukuran lebih besar (200 g), yaitu 11-12 ekor/m2. 3. Pembesaran Pemeliharaan ikan jenaha (L. johni) selama 6 bulan akan mencapai bobot 356 g dengan bobot awal 125 g. budidaya KJA Situbondo memelihara ikan Kakap selama 7 bulan. 4. Pemberian pakan Pakan yang digunakan adalah ikan rucah sebesar 5-10% bobot badan/hari. Pemberian pakan dilakukan dua kali/hari. Adapun L. argentimaculatus yang diberi pakan rucah sebanyak 10% bobot badan/hari selama masa pemeliharaan 7 minggu menunjukkan laju pertumbuhan rata-rata 0,8% per hari. Frekuensi pemberian pakannya satu kali sebesar 7% bobot badan per hari. F. Pengendalian Hama dan Penyakit Bakteri yang menyerang ikan kakap merah adalah Streptococcus iniae. Gejala ikan yang terserang penyakit ini, di antaranya warna ikan berubah menjadi lebih gelap, kehilangan keseimbangan, berenang berputar dan timbul bintik - bintik merah pada kulit. Pencegahan yang dilakukan dengan cara menghindari padat tebarserta pemberian pakan berlebihan dan mencegah penanganan kasar. Selain bakteri, ikan ini dapat diserang parasit, yaitu kutu kulit. Kutu kulit adalah parasit eksternal yang umum pada ikan budi daya laut. Ada dua kutu kulit yang ditemukan pada ikan kakap merah, yaitu Neobenedenia dan Benedenia. Kutu kulit pada ikan sangat sulit diamati karena benvarna transparan. Apabila dimasukkan ke dalam air tawar untuk beberapa menit, kutu kulit baru terlihat karena berubah warna menjadi keputihan. Pemberantasan parasit ini dengan cara merendam ikan di air tawar selama 5 menit. Jika tingkat serangannya parah, perendaman dapat dilakukan sebanyak dua kali dengan selang

waktu seminggu. G. Panen Ikan kakap merah dipanen setelah berukuran 500 g. Ukuran tersebut ideal untuk dipasarkan. Adapun lama pemeliharaan untuk mencapai ukuran tersebut adalah 6 bulan benih 50g. Sementara itu, benih berbobot 200 g akan mencapai rata-rata 890 g/ekor selama 225 hari.Pada prinsipnya cara pemanenan ikan kakap merah dari KJA sama seperti cara panen ikan di KJA umumnya (Anonim, 2008) 2. Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis) Sewaktu masih berukuran benih, kerapu tikus merupakan ikan hias dengan nama panther-fish. Setelah besar, ikan ini menjadi ikan konsumsi yang bergengsi sehingga mahal. harganya. Selain Indonesia, banyak negara tetangga yang sudah mengembangkan budi daya kerapu bebek dan berpotensi menjadi pesaing, yaitu Thailand, Filipina, Vietnam, Taiwan, dan Australia. Di Thailand penggunaan benih sebagian besar dari hasil tangkapan di alam. Produksi budi daya kerapu bebek umumnya di ekspor ke Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong. A. Sistematika Famili : Serranidae Spesies : Chromileptes altivelis Nama dagang : humpback grouper, mero, jorobado, mero bassu, baramundi cod, sarasa hata, polka dot grouper, lo su pan Nama lokal : kerapu tikus B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi 1. Ciri fisik Badan kerapu bebek pipih dengan bentuk kepala bagian atas cekung. Tubuh agak pucat berwarna cokelat kehijauan dan terdapat bintik-bintik hitam bulat pada sekujur tubuhnya. Ujung semua sirip, berbentuk bundar/busur. 2. Pertumbuhan dan perkembangan Pertumbuhan kerapu bebek sangat lambat dibanding dengan jenis kerapu lainnya. laju pertumbuhan kerapu bebek yang diberi pakan ikan rucah tumbuh dari bobot awal 13 g menjadi 51 g dalam waktu 90 hari, sedangkan ikan yang diberi pelet tumbuh dari bobot awal 14 g menjadi 52 g dalam waktu yang sama. panjang total maksimum yang pernah tercatat adalah 70 cm. Kedewasaan pertama terjadi setelah mencapai ukuran 1,5 kg. Ikan ini memiliki sifat protogony hermaphrodite, yaitu berubah kelamin dari betina menjadi jantan. Perubahan tersebut terjadi setelah berukuran di atas 2,5-3,0 kg. Seekor induk betina berukuran 3-4 kg dapat menghasilkan 200-300 ribu butir telur setiap kali memijah. C. Pemilihan Lokasi Budi Daya Kerapu bebek hidup di wilayah perairan karang yang masih baik maupun yang telah rusak atau agak berlumpur. Ikan ini dapat dipelihara di KJA, di bak, maupun di tambak. Lokasi perairan laut untuk penempatan KJA harus terlindung dari gelombang besar dan tiupan angin kencang, berair jernih, bersih, serta bebas polusi sepanjang tahun. Kedalaman airnya minimal 10 m pada saat air surut. D. Wadah Budi Daya KJA terdiri atas rangka yang terbuat dari kayu. Kerangka rakit yang digunakan sebaiknya berukuran 5 m x 5 m dengan ukuran jaring 2 m x 2 m sehingga pada satu unit rakit akan dapat dipasang 4 unit jaring. Mata jaring disesuaikan dengan besar ukuran ikan yang ditebar. Semakin

besar ukuran benih, semakin besar mata jaring yang digunakan. Selain itu, harus disediakan jaring pengganti dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Pelampung dan jaring yang berbentuk kelambu terbalik diikatkan pada kerangka kayu. Pelampung tersebut dapat berupa plastic foam maupun drum bekas (drum plastik atau drum besi). E. Pengelolaan Budidaya 1. Penyediaan benih Benih berukuran panjang 4-10 cm dari hatchery tersedia hampir sepanjang tahun. Benih yang diperlukan dapat diperoleh dari alam atau dari HSRI'atau HL di Gondol, Situbondo, atau Lampung. 2. Penebaran benih Benih yang ditebar adalah benih yang sehat. Penebaran benih yang terlalu padat bisa menyebabkan pertumbuhan lambat dan kematian tinggi selama pemeliharaan. Kepadatan benih diusahakan kurang dari 2 kg/m3 sebelum berat mencapai 10g. Selanjutnya, kepadatan benih dipertahankan 7 kg/m3. 3. Pendederan Pendederan dapat dilakukan di dalam bak beton/semen/ fiberglass maupun dalam KJA. Bak beton/fiberglass yang digunakan berbentuk silinder maupun empat persegi panjang. Volumenya beragam antara 4,0-20 m3 dengan ketinggian air 80-100 cm. Bak ini dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pembuangan air serta pipa udara (aerator). Usaha pendederan yang menggunakan KJA harus memiliki dua jenis karamba yang berbeda ukuran dan mata jaringnya. jenis pertama berukuran lebih kecil, yaitu 1,0 m x 1,0 m x 1,5 m buat dari waring bermata jaring 4,o mm. Sebulan kemudian ukuran jaring karamba yang digunakan lebih besar, yaitu 2,0 m x 2,0 m x 2,0 m dengan jaring terbuat dari polietilen bermata jaring 0,5 inci. Padat tebar dalam bak dan KJA pendederan disesuaikan dengan ukuran benih yang ditebar. Benih yang ditebar sedapat mungkin harus seragam ukurannya. Apabila digunakan benih berukuran 3-4 cm, padat tebar yang digunakan sekitar 300-500 ekor/m3 air. 4. Pembesaran Usaha pembesaran adalah usaha membesarkan ikan dari benih berukuran sekitar 8 cm menjadi ikan konsumsi berukuran 250-500 g/ekor. Usaha ini umumnya dilakukan di dalam KJA di laut. 5. Pemberian pakan Kerapu bebek merupakan ikan karnivora.dan. tanggap terhadap pakan buatan asalkan dilatih terlebih dahulu. Untuk pembesaran jenis ikan kerapu bebek, diperlukan pelet terapung dengan kadar protein 47,5%. Jika berasal dari alam, benih yang ditebar dapat diberi pakan berupa ikan rucah. Sementara itu, pakan buatan (pelet) diberikan jika benihnya berasal dari hatchery. Dewasa ini pakan buatan untuk kerapu telah terdapat di pasar sehingga tidak lagi tergantung pada ketersediaan ikan rucah. Pemberian pakan berkisar 2-10% bobot badan ikan saat ditebar masih berukuran <10>10g. F. Pengendalian Hama dan Penyakit Di dalam tempat pemeliharaan, seperti KJA, tangki, atau bak jenis ikan ini sering menjadi sasaran berbagai parasit, bakteri, dan virus. Parasit yang paling sering dijumpai adalah Benedenia dan Neobenedenia yang hidup di kulit maupun insang. Serangan parasit ini dapat diatasi dengan cara ikan direndam selama beberapa menit di dalam air tawar. Sementara, itu, jenis bakteri yang sutra menyerang sirip dan kulit kerapu adalah Flexibacter dan Vibrio. Penyakit bakteri tersebut dapat diatasi dengan pemberian antibiotik seperti mytetracycline (50 mg) atau oxolinic acid (10-30 mg) per kg bobot badan ikan secara oral. Penyakit lain yang

hingga sekarang belum dapat diatasi adalah penyakit yang disebabkan oleh virus VNN dan iridovirus. Golongan penyakit ini sangat merugikan. Oleh karena itu, pemilihan benih yang sehat sebelum ditebar ke dalam karamba sangat penting untuk dilakukan. G. Panen Ikan kerapu bebek dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi, yaitu 500-600 g/ekor. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran tersebut sekitar 16-20 bulan untuk kerapu bebek dengan sintasan rata-rata 80%. 3. Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Kerapu macan termasuk kelompok ikan kerapu yang berharga tinggi. Jenis kerapu ini merupakan ikan asli Indonesia yang hidup tersebar di berbagai perairan berkarang di Nusantara. Selain di Indonesia, daerah penyebaran kerapu macan meliputi perairan di wilayah Indo-Pasifik. A. Sistematika Famili : Serranidae Spesies : Epinephelus fuscoguttatus Nama dagang : brown marble grouper, flowery cod, blotchy rock cod, carpet cod, aka madaharata, lo fu pan Nama lokal : garopa B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi 1. Ciri fisik Bentuk ujung sirip ekor, sirip dada, dan sirip dubur ikan berupa busur. Kepala dan badannya berwarna abu-abu pucat kehijauan atau kecokelatan. Badan dipenuhi dengan bintik-bintik gelap berwarna jingga kemerahan atau coklat gelap. Bintik-bintik di bagian tengah lebih gelap dibanding yang di pinggir. Ukuran bintik semakin mengecil kearah mulut. Adapun punggung dan pangkal sirip punggung ikan terdapat bercak besar kehitaman. 2. Pertumbuhan Di alam, ikan kerapu macan dapat mencapai panjang total 95 cm dan bobotnya 11 kg. C. Pemilihan lokasi budidaya Ikan ini dapat hidup dan tumbuh pada air berkadar garam 22 - 32 ppt. Oleh karena itu, lokasi budi daya dipilih sesuai dengan kriteria tersebut. Lokasi budi daya juga harus terlindung dari gelombang besar air laut dan angin kencang. Selain itu, perubahan salinitas yang besar dan aliran air kotor di lokasi budi daya harus dihindari. D. Wadah Budi Daya Pembesaran ikan kerapu macan dapat dilakukan di karamba jaring apung, seperti halnya jenis ikan kerapu lainnya. Ukuran rakit dan karamba yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan target produksi dan ukuran ikan yang akan dibudidayakan. Adapun kerangka rakit yang digunakan sebaiknya berukuran 5 m x 5 M dengan ukuran jaring 2 m X 2 M. E. Pengelolaan Budi Daya 1. Penyediaan benih Benih yang berasal dari hatchery harus diseleksi sebelum ditebar untuk budi daya pembesaran. Benih yang tidak normal (deformity) relatif lebih lemah dan mudah terserang penyakit. Selain itu, ikan cenderung menunjukan pertumbuhan yang lambat. 2. Penebaran benih Benih ikan dengan bobot 5-10 g ditebar sebanyak 75- 100 ekor/m3 untuk ukuran 10 - 50 g benih bisa ditebar sebanyak 40-50 ekor/m3. 3. Pemberian pakan

Pakan yang diberikan bisa berupa ikan rucah ataupun pelet. Jika ingin melakukan budi daya ikan kerapu dengan pakan pelet, sangat penting untuk membiasakan benih dengan pelet selama masa pendederan. Untuk memperbaiki imunitas dan mengurangi stres ikan, disarankan untuk menambahkan vitamin C ke dalam pelet. Kerapu macan termasuk jenis ikan predator. Oleh karena itu, pembudidayaan ikan ini memerlukan pakan berupa ikan rucah segar atau pelet berkadar protein tinggi. Pakan yang dimakan ikan kerapu akan tercerna 95% setelah 36 jam dalam lambung sehingga peniberian pakan dilakukan selang satu hari. Pada keadaan stres, ikan ini akan memuntahkan pakan yang dimakannya. F. Pengendalian Hama dan penyakit Kerapu macan yang dibudidayakan di KJA kerap kali cacat pada tutup insang, mulut, dan tengkuk belum diketahui jelas penyebabnya. Adapun ciri-ciri umum adanya serangan penyakit adalah ikan kehilangan nafsu makan. Pengamatan kondisi pakan sangat penting untuk mendeteksi adanya penyakit pada ikan. Saat kondisi kesehatan Ikan kerapu berubah menjadi buruk biasanya sering berenang di permukaan air karena gelembung renang membengkak. Apabila terdapat ikan semacam ini, pengamatan untuk mengetahui penyebabnya harus segera dilakukan. Pada tingkat benih sering terserang VNN. Gejalanya adalah perubahan warna menjadi lebih gelap, berenang lambat, dan berputar. serangan VNN berpengaruh besar terhadap laju pertumbuhan benih. Untukmenghindari serangan penyakit ini, telur yang digunakan harus bebas VNN. Parasit cacing kulit dengan mudah menginfeksi pada kerapu yang dibudidayakan. Untuk menekan pengaruh parasit pada ikan, sebaiknya melakukan perendaman ikan dalam air tawar (5 menit) dan mengganti jaring setiap 24 minggu. Sementara itu, parasit, seperti cacing insang dapat dibersihkan dengan perendaman ikan dalam air bersalinitas tinggi (60 ppt selama 15 menit). G. Panen Kerapu macan dapat dipanen setelah berukuran 500-600 g/ ekor. Umumnya ukuran tersebut diperoleh setelah pemeliharaan 6-8 bulan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung, kebutuhan. Adapun cara panennya sama seperti panenikan di KJA. 4. Kerapu Lumpur (Epinephelus coioides) A. Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Actinopterygii Order : Perciformes Family : Serranidae Genus : Epinephelus Species : E. coioides Ciri fisik Epinephelus coioides ada kemiripan dengan jenis kerapu lumpur lainnya, E. tauvina atau E. suillus, terutama penampakan bintik pada tubuhnya. Bentuk tubuh memanjang Bagian kepala dan punggung berwarna gelap kehitaman, sedangkan perut berwarna keputihan. seluruh tubuhnya dipenuhi bintik-bintik kasar berwarna kecokelatan atau kemerahan (Cornish, A,et.al, 2004). B. Pertumbuhan dan perkembangan Sebagaimana halnya dengan ikan kerapu lainnya, kerapu lumpur bersifat protogony

hermaphrodite. Artinya, jenis kelamin ikan berubah sejalan dengan pertumbuhannya. Pada waktu masih berumur 3 tahun atau kurang, ikan ini berkelamin betina. Namun sesudah berumur lebih dari 4 tahun ikan ini berubah kelamin menjadi jantan tanpa perubahan morfologi yang jelas. Kedewasaan pertama tercapai pada ukuran 25-30 cm saat berumur 2-3 tahun. Di KJA jenis ikan ini memijah sepanjang tahun. Seekor betina berukuran 35 cm dapat menghasilkan telur sebanyak 850.000 butir/satu kali memijah, sedangkan ikan yang lebih besar dapat menghasilkan hampir 3 juta butir. Ikan ini tumbuh cepat. Pertumbuhan ikan kerapu lumpur beragam, tergantung pada bobot awal, mutu, dan jumlah pakan yang digunakan dan kondisi lingkungan. Panjang maksimum yang dapat dicapai sampai 95 cm (Anonim, 2008). C. Pemilihan Lokasi Budi Daya Ikan kerapu lumpur hidup di perairan muara sungai dengan kisaran kadar garam 15-30 ppt, suhu air 24-31C, dan kadar oksigen terlarut antara 4,9-9,3 mg/l. Ikan ini juga dapat hidup dan tumbuh di tambak berkadar garam antara. 7,1-31 ppt. KJA yang akan digunakan harus diletakan di lokasi yang tepat, yaitu perairan laut yang terlindung dari arus kuat dan gelombang besar. D. Wadah Budi Daya Wadah budidaya yang digunakan adalah karamba jaring apung dan karamba jaring tancap. Adapun ukuran KJA sebaiknya 7 m x 7 m dengan jaring berukuran 3 m x 3 M. E. Pengelolaan Budi Daya 1. Penyediaan benih Benih ikan kerapu dapat diperoleh dari alam atau dari hatchery. Di alam, benih ikan kerapu lumpur banyak hidup di perairan sekitar muara sungai yang berdasar lumpur dan ditumbuhi lamun (seagrass). Adapun musim benihnya berbeda pada setiap tempat. Ukuran benih yang tertangkap bervariasi, mulai dari 2 - 10 cm dengan bobot 5-25 g. Penangkapannya dengan pukat pantai, sudu, pancing, dan bubu. Benih kerapu bisa juga diperoleh di hatchery. 2. Penebaran benih Waktu penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Keseragaman ukuran benih juga perlu diperhatikan ketika penebaran. Tujuannya untuk mengurangi pemangsaan akibat sifat kanibal. Selain keragaman, kepadatan penebaran benih juga harus diperhatikan. Benih berukuran 5-10 g dapat ditebar dengan kepadatan 75 ekor/m3, sedangkan kepadatan tebar benih berukuran 20-25 g sekitar 50 ekor/m3. Jika telah berukuran 150-200 g, kepadatannya harus dikurangi menjadi 40 ekor/m3. Adapun jumlah ikan yang ditebarkan saat berukuran 100 g adalah 400 ekor. 3. Pemberian pakan Kerapu lumpur termasuk jenis ikan karnivora yang memangsa ikan-ikan kecil, udang, cumicumi, rajungan, dan kepiting. Ikan ini dapat dilatih makan pellet berkadar protein tinggi. Namun pada stadia larva, ikan ini merupakan pemakan plankton. Selama pemeliharaan ikan diberi pakan berupa ikan rucah dengan dosis 8% bobot badan/hari. Selanjutnya, dosis diturunkan menjadi 5% setelah bobotnya mencapai 300 g/ekor. Jika diberikan pakan buatan, dosisnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan pakan ikan rucah, yaitu 4-2% bobot badan per hari. pakan tersebut diberikan 2 kali pada pagi dan sore. Perubahan dosis pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan penimbangan berat. Semakin besar ikan, semakin kecil dosis pakan yang diberikan. F. Pengendalian Hama dan Penyakit Gejala terjadinya serangan iridovirus pada induk ikan kerapu lumpur mirip dengan sleepy gouger diseases yang menyerang ikan kerapu. Serangan iridovirus memunculkan gejala pembengkakan

pada organ limpa dan menyebabkan kematian ikan. Selain virus, ikan ini biasa pula terserang penyakit bakteri Streptococcus iniae dengan tanda-tanda warna berubah menjadi lebili gelap, kehilangan keseimbangan, berenang berputar, dan timbul bintik-bintik merah pada kulit. Kerapu lumpur juga biasa diserang penyakit parasites, seperti cacing Neobedenia. G. Panen dan Penanganan Panen Benih ikan yang ditebar dengan ukuran awal 20 gram membutuhkan waktu selama 7 bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sedangkan untuk ikan dengan ukuran awal 50 gram memerlukan waktu hanya 5 bulan untuk mencapai berat 500 gram. Ikan kerapu dengan ukuran ini, telah dapat dipanen, dan di pasaran telah dapat diperdagangkan dengan harga yang cukup tinggi. Pelaksanaan pemanenan ikan kerapu lumpur budidaya dengan kajapung relatif lebih mudah dari pada pemanenan ikan kolam atau udang tambak yang harus dilakukan pembuangan air. Sedangkan di kajapung, cukup dengan cara mengangkat tepi pemberat sudut-sudut kajapung sehingga ikan mudah diambil. Namun demikian, mengingat ikan kerapu dipasarkan dalam keadaan hidup sehingga kesehatan ikan dan keadaan ikan setelah panen harus tetap dijaga, sehingga tidak ada ikan yang luka (harga ikan akan turun bila ada yang cacat atau luka saat pemanenan), maka perlu dilakukan persiapanpersiapan pemanenan. Langkah persiapan pemanenan meliputi penyediaan sarana dan alat panen, seperti serokan, bak air laut, aerasi, timbangan, dan kapal yang dilengkapi dengan palka penampung ikan. Alat dan sarana ini harus dalam keadaan bersih. Pada saat pelaksanaan pemanenan, pemberian pakan dihentikan. Langkah pertama pelaksananaan pemanenan dimulai dengan melepas tali pemebrat pada kajapung, kemudian jaring karamba diangkat secara perlahan agar ikan tidak berontak. Setelah terangkat, sedikit demi sedikit ikan diserok dengan serokan, dan dimasukkan ke dalam palka pada kapal pengangkut yang sebelumnya telah diisi air laut. Setelah tiba di lokasi Pabrik/Coldstorage perusahaan inti, ikan dalam palka dipindah ke pabrik dengan drum-drum atau ember yang berisi air laut. Untuk selanjutnya ditimbang dan diproses lebih lanjut (Anonim, 2000). 5. Ikan Napoleon (Cheilunus undulatus) Salah satu usaha budidaya ikan laut yaitu ikan napoleon atau lebih dikenal dengan Napoleon Wrasse. Ikan napolen berasal dari kelurga Labridae dengan nama ilmiah Cheilinus undulates. Perbedaan yang mencolok antara ikan napolen dengan ikan yang lainnya yang terlihat yaitu ukuran, warna dan bentuk ikan napoleon. Napoleon merupakan ikan karang terbesar di dunia, dapat tumbuh hingga 230 cm and weigh 190 kg. Mereka telah berair bibir dan bonggol atas kepala yang mirip dengan topi Napoleon. Punuk yang menjadi lebih menonjol dengan usia. Warna berbeda dengan usia dan jenis kelamin. Laki-laki dari jangkauan listrik biru terang ke hijau, atau yang purplish biru. Laki-laki dewasa mengembangkan belang hitam di sepanjang sisi, bintik-bintik biru pada skala tubuh mereka, dan biru scribbles di kepala. Juveniles dapat diidentifikasi oleh mereka pucat kehijau-hijauan warna hitam dan 2 baris berjalan di belakang mata. Perempuan, baik tua dan muda, yang merah-oranye pada bagian atas tubuh mereka dan merah-oranye ke putih di bawah ini. Ikan Napoleon (Cheilunus undulatus) adalah salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Panjang ikan ini bisa mencapai 1.5 meter. Dan beberapa ikan bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter. Salah satu keunikan hewan ini adalah lingkar bola matanya yang dapat melihat arah sudut pandang sampai 180 derajad. Aksi berenang mereka yang mirip

burung, dengan mengepak-ngepakkan sirip dada, mirip burung ketika terbang. Sirip dada mereka memang memanjang. Biasanya ikan berenang sendiri mencari makan didaerah dekat karang, karena makanannya yang berupa beberapa jenis sea urchin, molusca dan crustacean memang banyak berada pada daerah sekitar karang. Napoleon wrasses sangat berumur panjang, yang dikenal untuk hidup selama minimal 30 tahun, dan memakan waktu sekitar 5 sampai 7 tahun untuk mencapai kematangan seksual, yang berarti mereka sangat lambat untuk meningkatkan populasi. Individu napoleon menjadi matang seksual pada 5 sampai 7 tahun danbetina diketahui tinggal sekitar 30 tahun sedangkan jantan hidup yang sedikit lebih pendek 25 tahun. Ikan ini mempunyai pola reproduksi yang hermaphrodite. Biasanya ikan ini lahir sebagai hewan jantan dan akan berubah menjadi betina saat menjelang dewasa. Sehingga kadang ditemukan dominasi jantan pada satu populasi ikan kecil sampai ukuran sedang dan akan berubah menjadi dominasi populasi betina saat mendekati matang gonad. Ini memang fenomena unik dialam yang merupakan salah satu strategi sebagian besar hewan laut utntuk mempertahankan kehidupan populasi ikan napoleon. Teknik Pembesaran Syarat Lokasi Agar usaha budidaya ikan napoleon dengan kajapung dapat berjalan dengan baik, maka lokasi areal pembesaran ikan dimana kajapung ditempatkan harus dilakukan penelitian, sehingga lokasi tersebut benar-benar layak. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi tersebut antara lain : 1. Gangguan Alam Lokasi harus terhindar dari badai dan gelombang besar atau gelombang terus menerus. Sebab gangguan alam ini akan mengakibatkan konstruksi kajapung akan mudah rusak, dan menyebabkan ikan menjadistres yang akhirnya produksi menjadi turun.Untuk mengatasi hal ini, dapat dipilih lokasi perairan yang terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil.Pulau-pulau kecil ini berguna untuk menghambat gelombang dan badai. 2. Gangguan Pencemaran Lokasi harus bebas dari bahan pencemaran yang mengganggu kehidupan ikan. Pencemaran tersebut dapat berupa limbah industri, limbah pertanian, dan limbah rumah tangga 3. Gangguan Predator Predator yang harus dihindari adalah hewan laut buas seperti ikan buntal (ikan bola) dan ikan besar yang ganas yang dapat merusak kajapung. Burung-burung laut pemangsa ikan juga harus diwaspadai. 4. Gangguan Lalu Lintas Kapal Lokasi kajapung bukan merupakan jalur transportasi kapal umum, kapal barang, atau kapal tanker. 5. Kondisi Hidrografi Perairan di mana kajapung ditempatkan harus pula memenuhi persyaratan sifat fisika dan kimia, yaitu : a) Kadar garam antara 33 35 ppt b) Suhu berkisar pada 27 32oC c) pH air klaut antara 7,6 8,7 d) Kandungan oksigen terlarut dalam air lauitar 0,2 05 m/detik Pembuatan Rakit Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat rakit yaitu kayu balok atau bambu berbagai ukuran, pelampung dari styrofoam atau drum plastik, bisa juga jrigen ukuran besar; jangkar atau

bahan pemberat lainnya; dan tali temali. Bahn-bahan tambahan lain digunakan untuk rumah jaga, terdiri dari kayu balok, papan, dan seng/asbes. Bahan-bahan tersebut selanjutnya dibangun menjadi 1 unit rakit dengan ukuran yang sesuai dengan rencana anggaran setiap plasma. Tetapi setiap 1 unit rakit plasma sudah termasuk rumah jaga. Pembuatan Karamba Karamba yang telah siap digunakan belum tersedia di pasaran. Bahan yang tersedia biasanya masih dalam bentuk jaring polietilen dalam bentuk gulungan dengan ukuran tertentu. Untuk jaring kajapung biasanya digunakan jaring No. 380 D/9 dan 380 D/13 berukuran mata jaring (mesh size) 1 inci dan 2 inci, disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan atau ikan yang ditampung. Dalam MK PKT ini, kajapung terdiri dari 4 petak yang memiliki fungsi berbeda. Petak ke-1 dan ke-2 untuk bibit ikan yang baru didapat dengan ukuran di bawah 0,5 Kg; petak ke-3 untuk ikan hasil pembudidayaan yang telah cukup besar (di atas 0,5 Kg) atau ikan hasil tangkapan dengan ukuran 0,6 0,7 Kg); dan petak ke-4 khusus untuk menampung ikan hasil penangkapan dengan ukuran di atas 0,8 Kg yang akan dijual. Penyediaan Benih Dan Penampungan Pada awal perkembangan usaha budidaya ikan kerapu dengan kajapung, benih ikan karapu yang akan dibudidayakan berasal dari alam hal ini terjadi karena pada saat itu teknologi penyediaan benih secara modern dengan teknologi rekayasa belum berhasil dikembangkan, sehingga para nelayan yang harus memenuhi trend pasar, mencari alternatif dengan cara memperoleh benih dari alam. Sejak beberapa tahun terakhir berkat kontribusi pakar perikanan dalam negeri, rekayasa pengadaan benih ikan kerapu secara modern berhasil dikembangkan, namun dari beberapa jenis ikan kerapu komersial, yaitu ikan kerapu lumpur, ikan kerapu sunu dan ikan kerapu napoleon. Berdasarkan hasil uji coba dan penerapan secara komersial, jenis ikan kerapu lumpur (Epinephelus suillus) menunjukkan hasil yang sangat positif untuk dikembangkan. Akan tetapi dalam MK-PKT ini, jenis ikan kerapu yang akan dikembangkan dengan kajapung adalah ikanikan hasil tangkapan dari alam dengan cara campuran, yaitu 30% hasil tangkapan berupa ikan kerapu ukuran kecil (dengan beragam jenis) yang akan dibudidayakan, dan 70% adalah ikan kerapu ukuran 0,8 ke atas yang siap dijual untuk ditampung sementara, sambil menunggu dikapalkan. Penyediaan bibit untuk budidaya dan penyediaan ikan kerapu yang akan ditampung, dilakukan dengan cara penangkapan secara tradisional, yaitu dengan cara memancing di ground fish ikan kerapu, yaitu di kawasan terumbu karang. Cara penangkapan dengan pembiusan s merusak lingkungan, khususnya kawasan terumbu karang. Namun untuk armada penangkapannya yaitu kapal-kapal penangkapan dirancang semi modern, misalnya kapal kayu bermesin. Sedangkan penangkapannya dilakukan secara berombongan oleh setiap anggota plasma yang dipersiapkan dengan beberapa kapal berikut nelayan/ABK-nya. Pemeliharaan/Pembesaran Setelah benih siap dipelihara, benih-benih tersebut ditebar di kajapung yang telah disediakan. Namun dalam penebaran juga harus diperhatikan salah satu syarat yang tidak kalah pentingnya, yaitu kepadatan awal penebaran. Berdasarkan pengalaman selama ini (termasuk hasil uji coba pada pilot project perikanan), kepadatan awal merupakan faktor yang paling dominan, karena bila dalam satu karamba terdapat

jumlah ikan yang sangat padat, maka akan menjadi salah satu sebab terjadinya kanibalisme. Di samping produksinya pun akan menjadi rendah. Kepadatan awal untuk budidaya ikan kerapu ini adalah sebanyak 50 60 ekor/m3, dengan ukuran ikan sekitar 20 50 g/ekor. Sedangkan selama pemeliharaan, masalah daya dukung perairan (carrying capacity) perlu tetap dijaga, yaitu pada batas 41,7 kg/m3, sehibgga karamba tidak mengalami kelebihan beban. Pakan Dan Cara Pemberian Pakan Pakan merupakan salah satu aspek yang memerlukan perhatian cukup besar sehingga harus direncanakan dengan matang yaitu menekan anggaran pengeluaran serendah mungkin, tetapi hasilnya tetap optimal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemelihan jenis pakan yang tepat namun tetap mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan, dan harga yang murah. Dari hasil uji coba dan penerapan pada skala usaha, tujuan untuk mendapatkan hasil yang baik dengan pengeluaran yang relatif rendah adalah dengan memberikan pakan dari jenis ikan-ikan yang tak laku di pasaran (non-ekonomis), yaitu ikan-ikan yang digolongkan sebagai ikan rucah seperti ikan tembang, rebon, selar dan sejenisnya yang banyak tersebar di perairan Nusantara. Pemilihan pakan ikan kerapu yang berasal dari ikan rucah ini, selain harganya murah dan mudah diperoleh, juga karena pakan buatan khusus ikan kerapu memang belum ada di pasaran. Pakan dari jenis ikan rucah ini tetap harus dijaga kualitasnya, setidaknya kondisinya tetap dipertahankan dalam keadaan segar, misalnya disimpan dalam freezer. Pakan yang tidak segar atau terlalu lama disimpan, akan menyebabkan turunnya kualitas nutrisi (asam lemak esensial yang sangat dibutuhkan oleh ikan kerapu), yang hilang karena proses oksidasi. Pemberian pakan yang ideal tergantung pada ukuran ikan kerapu yang dipelihara. Ikan yang berukuran 20 50 g, dapat diberikan pakan sebesar 15% per hari dari bobot biomassa. Selanjutnya persentase diturunkan seiring dengan pertumbuhan ikan. Setelah mencapai ukuran 100 g pakan diberikan sebanyak 10% per hari, dan kemudian dikurangi setiap 1 (satu) bulan pemeliharaan, hingga akhirnya diberikan sebanyak 5% per hari saat ikan kerapu telah mencapai ukuran 1 kg. Pengendalian Hama Dan Penyakit Hama yang dapat mengganggu produksi ikan kerapu terutama burung-burung pemangsa ikan. Untuk mencegah jenis hama ini, dapat dilakukan dengan cara menutup permukaan kajapung dengan jaring, sehingga burung tidak dapat langsung masuk kajapung. Hama lain yang mengganggu adalah ikan buntal atau ikan besar. Pencegahannya, harus diadakan pengontrolan secara rutin, termasuk pada malam hari. Sebagaimana pada umumnya budidaya komoditas perikanan, penyakit harus menjadi perhatian khusus, sebab penyakit yang melanda budidaya perikanan akan menyebabkan kematian, kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang lebih rendah, dan hilangnya/menurunnya produksi. Penyebab-penyebab penyakit pada budidaya ikan kerapu, antara lain lkarena stres, organisme patogen, perubahan lingkungan, keracunan, dan kekurangan nutrisi. Beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang budidaya ikan kerapu antara lain : 1. Stres Ikan yang baru ditebar, biasanya dapat mengalami stres, apabila dalam transportasi dari kolam pendederan ke kajapng tidak ditangani dengan baik hati-hati. Begitu pula saat diturunkan untuk ditebar ke kajapung dilaksanaknsecara sembarangan, akan menyebabkan ikan-ikan mengalami stres. Sehingga ikan menjadi shock, tidak mau makan, kanibalisme, dan meningkatnya kepekaan terhadap penyakit.

Untuk mengurangi stres saat penebaran, selain dilakukan dengan hati-hati, ikan-ikan perlu dilakukan aklimatisasi dengan cara mengubah sedikit demi sedikit kondisinya sehingga menyerupai kondisi lingkungan yang baru. Sebagi contoh, benih-benih yang baru saja mengalami transportasi dan dikemas dalam kantong plastik tidak boleh langsung ditebar, tetapi harus dilakukan penyesuaian suhu. Cara yang paling mudah, yaitu kantong plastik yang berisi benih ikan direndam dalam kajapung, hingga akhirnya suhu dalam kantong plastik akan sama dengan suhu pada kajapung. Setelah itu baru ditebar. 2. Organisme a. Cacing Cacing yang menyerang ikan kerapu budi daya umumnya dari jenis Diplectanum yang menyerang insang. Ikan yang terserang cacing ini akan terlihat pucat dan tampak berlendir. Untuk menanggulangi penyakit ini, antara lain dengan cara meredam ikan yang terserang dalam larutan foramlin dengan dosis 200 ppm selama 0,5 1 jam, dan diulang setelah 3 hari. b. Protozoa Jenis protozoa yang sering menyerang ikan kerapu yaitu Crytocaryon sp. Penyakitnya disebut crytocaryoniosis atau bintik putih (white spot). Organisme ini menyerang ikan pada bagian kulit dan insang, dengan tanda-tanda ikan yang terserang akan menjadi lesu, selera makan hilang, sisik terkelupas, dan mata buta, dsb. Untuk mengatasi penyakit ini, yaitu merendam ikan dalam air laut yang mengandung formalin 100 ppm + acra menyerang bagian insang yang mengakibatkan pernafasan ikan terganggu. c. Nerocila Jenis parasit ini dapat ditanggulangi dengan cara mengangkat karamba, dan ikan-ikan dimasukkan dalam bak. Setelah itu karamba disemprot dengan larutan formalin 1%. Sedangkan ikan-ikan direndam dalam formalin 200 ppm beberapa menit sampai parasit ini rontok sendiri. d. Bakteri Golongan mikroorganisme yang sering menyebabkan penyakit pada ikan laut, yaitu bakteri perusak sirip (bacterial fin rot), bakteri vibrio, dan bakteri streptococus sp. Obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan bakteri ini adalah obat-obatan jenis antibiotik. Panen Dan Penanganan Panen Dengan teknik pemeliharaan seperti diuraikan di muka, benih ikan yang ditebar dengan ukuran awal 20 gram membutuhkan waktu selama 7 bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sedangkan untuk ikan dengan ukuran awal 50 gram memerlukan waktu hanya 5 bulan untuk mencapai berat 500 gram. Ikan kerapu dengan ukuran ini, telah dapat dipanen, dan di pasaran telah dapat diperdagangkan dengan harga yang cukup tinggi. Pelaksanaan pemanenan ikan kerapu budidaya dengan kajapung relatif lebih mudah dari pada pemanenan ikan kolam atau udang tambak yang harus dilakukan pembuangan air. Sedangkan di kajapung, cukup dengan cara mengangkat tepi pemberat sudut-sudut kajapung sehingga ikan mudah diambil. Namun demikian, mengingat ikan kerapu dipasarkan dalam keadaan hidup sehingga kesehatan ikan dan keadaan ikan setelah panen harus tetap dijaga, sehingga tidak ada ikan yang luka (harga ikan akan turun bila ada yang cacat atau luka saat pemanenan), maka perlu dilakukan persiapanpersiapan pemanenan. Langkah persiapan pemanenan meliputi penyediaan sarana dan alat panen, seperti serokan, bak air laut, aerasi, timbangan, dan kapal yang dilengkapi dengan palka penampung ikan. Alat dan sarana ini harus dalam keadaan bersih.

Pada saat pelaksanaan pemanenan, pemberian pakan dihentikan. Langkah pertama pelaksananaan pemanenan dimulai dengan melepas tali pemberat pada kajapung, kemudian jaring karamba diangkat secara perlahan agar ikan tidak berontak. Setelah terangkat, sedikit demi sedikit ikan diserok dengan serokan, dan dimasukkan ke dalam palka pada kapal pengangkut yang sebelumnya telah diisi air laut. Setelah tiba di lokasi Pabrik/Coldstorage perusahaan inti, ikan dalam palka dipindah ke pabrik dengan drum-drum atau ember yang berisi air laut. Untuk selanjutnya ditimbang dan diproses lebih lanjut (Anonim, 2008)

Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL) Gondol A. Sejarah Singkat Instansi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol (BBRPBL) sebagai unit pelaksana teknis Departemen Kelautan dan Perikanan dengan tujuan utama melaksanakan riset budidaya laut termasuk pembenihan, produksi benih dan pembesaran. Fasilitas yang dimiliki BBRPBL Gondol antara lain hatcheri udang, hatcheri tuna, hatcheri kepiting dan rajungan, hatcheri multispesies dan hatcheri produksi benih ikan laut serta sejumlah laboratorium dan keramba jaring apung. Spesies yang telah diteliti di BBRPBL Gondol antara lain : bandeng, kerapu, napoleon, udang windu, udang vaname, rajungan, cobia, tuna sirip kuning, clown fish. Pada tahun 1985 BBRPBL Gondol bernama Loka Penelitian Perikanan Pantai di bawah Departemen Pertanian dengan mandat utama melaksanakan penelitian di bidang pembenihan dan produksi benih, kemudian pada tahun 2001 berubah menjadi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL) yang merupakan unit pelaksana teknis Departemen Kelautan dan Perikanan dengan mandat utama melaksanakan riset budidaya laut termasuk pembenihan, produksi benih dan pembesaran. Beberapa kerja sama penelitian yang telah dilakukan oleh BBRPBL adalah sebagai berikut : 1. 1988-1994 : JICA-Jepang, pembenihan udang windu 2. 1995-2000 : JICA-Jepang, Multi-Spesies Hatcheri 3. 2001-2003 : JICA-Jepang, Penerapan hasil riset budidaya kerapu di KJA 4. 1999-2003 : ACIAR-Australia, pembenihan kepiting bakau, nutrisi, formulasi pakan dan genetik kerapu 5. 2001-2003 : DIFRES-Denmark, Hatcheri benih ikan-ikan laut 6. 2002-2006 : Philip Sea Foods-USA, penelitian pengembangan rajungan 7. 2003-2006 : OFCF-Jepang, pembenihan ikan tuna sirip kuning 8. 2005-2008 : JICA-Jepang, diseminasi teknologi budidaya berkelanjutan 9. 2006-2008 : Kyowa-Jepang, pembenihan abalon dan budidaya rumput laut 10. 2006-2009 : PT Sino Future-Cina, pemanfaatan tambak untuk usaha budidaya udang melalui aplikasi probiotik di tambak Desa Pejarakan. B. Sarana dan Prasarana Sarana dan fasilitas yang dimiliki oleh BBRPBL Gondol meliputi : 1. Laboratorium a. Patologi b. Lingkungan c. Kimia dan nutrisi d. Biologi e. Bioteknologi dan Genetika

2. Hatchery a. Udang b. Tuna c. MSP d. Multispesies hatchery e. Biosecurity f. Ikan hias 3. KJA di teluk Pegametan 4. Tambak di Pejarakan (14,6 ha) 5. Fasilitas pendukung penelitian a. Cold Storage b. Processing c. Pakan d. Bengkel sarana e. Bak-bak riset (induk, larva dan pakan alami) 6. Fasilitas umum a. Gedung administrasi b. Perpustakaan c. Auditorium d. Guest House e. Asrama f. Sarana Peribadatan 7. Sarana Olahraga a. Tenis lapangan b. Tenis meja c. Volly d. Bulu tangkis C. Komoditas Komoditas riset di BBRPBL Gondol meliputi fin fish, ikan hias, crustasea, dan kekerangan. 1. Fin Fish a. Tuna sirip kuning (Thunnus albacares) Tuna sirip kuning (Thunnus albacares) di pasaran lebih dikenal dengan nama Yellow Fin Tuna. Jenis ini memiliki ukuran 60 cm sampai 200 cm dengan berat ketika besar antara 80 kg hingga 180 kg. Secara fisik bentuk tubuhnya mirip gelondong dengan warna biru metalik pada bagian belakang, warna ekor putih keperakan, mata kecil dan bentuk tubuh yang ramping, dan dikenal dengan sirip dada yang panjang. Jenis lain tuna yang sering dikonsumsi adalah tuna sirip biru (Thunnus maccoyii) yang di pasar dikenal dengan nama Blue Fin Tuna dan tuna mata besar (Scombridae Thunnus obesus) (Anonim, 2009). b. Cobia (Rachycentron canadum) Cobia hidup di perairan tropis dan sub tropis. Ikan ini banyak ditemuai di Pasifik, Atlantik dan sebelah barat daya Meksiko. Bentuk tubuh cobia menyerupai terpedo. Sebagai ikan perenang cepat, kepala dan mulut relatif lebar dibandingkan bagian tubuh lainnya. Sisik berukuran kecil dan terenam dalam kulit yang tebal. Badan berwarna coklat gelap dan bagian bawah badan berwarna kekuning-kuningan. Ukuran ikan dialam yang ditemukan 80-100 cm dengan panjang maksimum 180 cm. Lokasi yang cocok unuk budidaya ikan cobia, diantaranya perairan selat kecil, atau teluk yang terlindung dari ombak dan badai (Sudrajat, 2008).

c. Kerapu sunu (Plectropomus leopardus) Kerapu sunu merupakan ikan konsumsi laut yang mempunyai prospek pengembangan yang cukup cerah karena teknologi pembenihan massanya sudah dikuasai. Badan ikan memanjang tegap. Kepala, badan, dan bagian tengah dari sirip berwarna abu-abu kehijauan. Bentuk ujung sirip ekor ikan kerapu sunu rata, ujung sirip terdapat garis putih. Lokasi yang cocok untuk kerapu sunu diantaranya, salinitas airnya 30-35 ppt dan bersuhu 27-32 oC. Ikan kerapu sunu juga hidup diterumbu karang pada kedalaman 5-50 m (Sudrajad, 2008). d. Kerapu bebek (Cromileptes altivelis) Kerapu bebek sekarang ini menjadi ikan konsumsi yang bergengsi sehingga mahal harganya. Badan kerapu bebek pipih dengan bentuk kepala bagian atas cekung. Tubuh berwarna pucat kehijauan dan terdapat bintik-bintik hitam bulat pada sekujur tubuhnya. Kerapu bebek hidup diwilayah perairan karang yang masih baik maupun yang sudah rusak atau agak berlumpur. Ikan ini dapat dipelihara di KJA, dibak maupun ditambak (Sudrajad, 2008). e. Kerapu lumpur (Epinephelus coioides) Kerapu Lumpur telah banyak dibudidayakan didaerah kepulauan Riau dan Sumatera Utara. Bentuk kerapu lumpur tubuh memanjang, bagian kepala dan punggung berwarna gelap kehitaman, sedangkan perut berwarna keputihan. Ikan kerapu lumpur ini hidup diperairan muara sungai dengan kisaran kadar garam 15-30 ppt, suhu air 24-31 oC (Sudrajad, 2008). f. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) Kerapu macan termsuk kelompok ikan yang berharga tinggi. Jenis ini merupakan asli Indonesia. Badan dipenuhi dengan bintik-bintik berwarna gelap. Bintik ditengah lebih gelap dari pada yang dipinggir. Hidup dan tumbuh pada salinitas 22-32 ppt, suhu air 26-31oC (Sudrajad, 2008). g. Kakap merah Kakap merah merupakan ikan yang menguntungkan untuk usaha budidaya karena mempunyai sifat pertumbuhan relative cepat, toleran terhadap kekeruhan, ruang terbatas dan salinitas serta tanggap terhadap pakan buatan. Tubuh ditutupi sisik berukuran sedang dan kecil, terdapat gigi pada mulut bagian atas, tubuh ikan berwarna merah atau coklat. Ikan tersebut tergolong euryhalin, dapat hidup di perairan laut dan payau dengan kadar garam berkisar 10-30 ppt dengan suhu air 26-31oC (Sudrajad, 2008). h. Napoleon (Cheilunus undulatus) Ikan ini bernama napoleon atau lebih dikenal dengan Napoleon Wrasse. Ikan Napoleon (Cheilunus undulatus) adalah salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Panjang ikan ini bisa mencapai 1.5 meter. Dan beberapa ikan bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter. Para penyelam biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Dan biasanya sangat jinak dengan para penyelam. Ikan ini biasanya biasanya tidak terusik dengan aktivitas para penyelam. Salah satu keunikan hewan ini adalah lingkar bola matanya yang dapat melihat arah sudut pandang sampai 180 0. Kebiasaan hidup sendiri pada kedalaman tertentu membuat hewan ini sangat dinantikan oleh para penyelam untuk melihat atau bahkan memotret hewan ini (Anonim, 2009). i. Ikan Kuwe Merupakan salah satu jenis ikan permukaan (pelagis). Ikan ini hidup diperairan pantai dangkal, karang dan batu karang. Tubuh kue berbentuk oval dan pipih dengan warna tubuh bervariasi yaitu biru bagian atas dan perak hingga keputih-putihan. Lokasi yang tepat untuk budidaya ikan kuwe adalah teluk yang terlindung dari ombak dan badai dan memiliki pola pergantian masa air yang baik (Sudrajad, 2008).

j. Bandeng (Chanos chanos) Bandeng mempunyai bentuk tubuh memanjang, padat, pipih, dan ovale. Mulut terletak di ujung dan kecil dengan rahang tanpa gigi. Lokasi ideal untuk budidaya ikan bandeng pada laguna di daerah pantai dan teluk terlindung yang aliran arusnya atau pergantian airnya lebih dari 100% per hari. Ikan bandeng termasuk ikan eurihaline (Sudrajad, 2008). 2. Ikan hias a. Clown fish (Amphiprion ocellaris) Secara umum ikan badut berukuran kecil. Maksimal mereka dapat mencapai ukuran 10 15 cm. Berwarna cerah, tubuh lebar (tinggi), dan dilengkapi dengan mulut yang kecil. Sisiknya relatif besar dengan sirip dorsal yang unik. Pola warna pada ikan ini sering dijadikan dasar dalam proses identifikasi mereka , disamping bentuk gigi, kepala dan bentuk tubuh. Variasi warna dapat terjadi pada spesies yang sama; khususnya berkenaan dengan lokasi sebarannya. Sebagai contoh A clarkii merupakan spesies yang mempunyai penyebaran paling luas, sehingga spesies ini mempunyai variasi warna yang paling banyak (tergantung pada tempat ditemukan) dibandingkan dengan spesies ikan badut lainnya. Ikan badut diketahui merupakan ikan yang mempunyai daerah penyebaran relatif luas, terutama di daerah seputar Indo Pasific. Satu jenis, yaitu A. bicinctus, diketahui merupakan endemik Laut Merah. Mereka, pada umumnya, dijumpai pada laguna-laguna berbatu di seputar terumbu karang, atau pada daerah koastal dengan kedalaman kurang dari 50 meter dan berair jernih. Di perairan Papua New Guinea, bisa ditemukan ikan badut tidak kurang dari 8 spesies. Di alam, ikan badut mengkonsumsi zooplankton, udang-udangan dan algae yang dijumpai di habitat mereka (Anonim, 2009). b. Letter six Letter Six adalah rajanya dari semua keluarga surgeon fish, dengan warna dan corak yang menawan, ikan ini tergolong sebagai ikan yang cukup mahal dan termasuk dalam golongan ikan musiman yang cukup langka. Umumnya orang kurang banyak yang mengetahui, bahwa letter six adalah ikan herbivora, namun hal ini wajar saja, karena sesekali ikan ini pun akan memakan pakan awetan, ataupun udang rebon, meskipun makanan utamanya tetap saja tumbuhan. Untuk memelihara ikan jenis ini sebenarnya tidak begitu sulit, cukup sediakan selembar daun selada yang bersih dari pestisida dalam tiga atau empat hari sehari, dijamin ikan ini akan bertahan dalam aquarium anda. Dalam akuarium pun ikan ini tidak terlalu menimbulkan kesulitan, kecuali dengan tingkat stress nya yang cukup tinggi, ikan ini membutuhkan ruang yang cukup luas, karena umumnya letter six senang berenang hilir mudik dengan lincah dan beratraksi diantara celah celah karang. Satu hal lagi, meskipun ikan ini dikenal sebagai ikan pemakan tumbuhan, jangan pernah berharap bahwa ikan ini dapat membersihkan akuarium anda dari lumut, karena ikan ini hanya memakan daun dan bukan lumut, terlebih lagi dengan lumut merah keunguan (red algae), sedikit pun ikan ini takkan menyentuhnya (Anonim, 2009). 3. Krustase a. Artemia Organisme sejenis udang udangan berukuran kecil (renik) ini dikenal dengan nama brine shrimp. Artemia termasuk keluarga Crustacea dari Familia Artemiidae, hidup secara planktonik di perairan laut dengan salinitas antara 15 300 permil dan suhu berkisar 26 310 C serta nilai pH antara 7,3 8,4. Individu artemia dewasa mencapai panjang 1-2 cmdan berat 10 mg telur artemia beratnya 3,6 mikro gram, diameter sekitar 300 mikro. b. Udang Vannamei

Penaeus vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan (Wyban et al., 1991). Penaeus vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban et al., 1991). Rasa udang dapat dipengaruhi oleh tingkat asam amino bebas yang tinggi dalam ototnya sehingga menghasilkan rasa lebih manis. Selama proses post-panen, hanya air dengan salinitas tinggi yang dipakai untuk mempertahankan rasa manis alami udang tersebut (Wyban et al., 1991). Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang. Penaeus vannamei akan mati jika tepapar pada air dengan suhu dibawah 15oC atau diatas 33oC selama 24 jam atau lebih. Stres subletal dapat terjadi pada 15-22 oC dan 30-33oC. Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan Penaeus vannamei adalah 23-30oC. Pengaruh temperatur pada pertumbuhan Penaeus vannamei adalah pada spesifitas tahap dan ukuran. Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan temperatur hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperatur optimum air akan menurun (Wyban et al., 1991). 4. Kekerangan dll. a. Tiram mutiara Tiram mutiara mempunyai sepasang cangkang yang disatukan pada bagian punggung dengan engsel kedua belah cangkang tidak sama bentuknya. Tiram mutiara adalah Protandroushermaphrodite dengan kecenderungan perbandingan jantan : betina = 1 : 1, dengan adanya peningkatan umur. b. Abalon Abalon merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi khususnya di Negara negara maju di eropa dan amerika utara. Produksi abalon saat ini lebih banyak diperoleh dari tangkapan di alam. Abalon mempunyai satu cangkang yang terletak di bagian atas. Pada cangkang tersebut terdapat lubang-lubang dengan jumlah yang sesuai dengan ukuran abalon. Abalon biasa ditemukan di daerah yang berkarang dan juga sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Lokasi untuk pembesaran abalon adalah perairan karang yang terlindungi dan tidak terdapat angina yang kuat. Selain itu abalon juga membutuhkan media air yang bersih dan jernih. Salinitas 29-33 ppt dan suhu 27-300C (Sudrajad, 2008). c. Teripang Bentuk badan memanjang mirip mentimun. Oleh karena, itu hewan ini biasa disebut mentimun laut (sea cucumber). Mulut dan anus terdapat di kedua ujung badannya. Kriteria lokasi budidaya teripang yaitu, dasar perairan terdiri dari pasir pada surut terendah masih tergenag air yang dalamnya antara 40-80 cm, salinitas antara 24-33 ppt suhu 25 300 C, serta kecerahan air diatas 75 cm (Sudrajad, 2008). d. Rumput laut Merupakan sumber utama penghasil agar-agar dan karaginan yang banyak dimanfaatkkan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi, dan industri lainnya. Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga peroduksi rumput laut cenderung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda. D. Teknik dan Manajemen Budidaya

1. Pembenihan ikan tuna sirip kuning a. Pengelolaan calon induk Pengadaan induk dilakukan dengan cara menangkap dari alam dengan cara memancing. Transportasi ikan tuna yang tertangkap dilakukan dengan menggunakan bak fiberglas oval vol. 1 m3. Dengan menggunakan bak ini hanya 2-3 ekor ikan berukuran 2 kg atau satu ekor untuk ikan berukuran 3-5 kg yang dapat ditransportasikan dalam satu trip. Ikan-ikan yang berhasil ditransportasikan ditempatkan dalam bak pengobatan untuk dilakukan pengobatan dan observasi kondisi kesehatan ikan selama 24 jam. Pengobatan dilakukan dengan perendaman menggunakan Sodium Nifurstirenate (Na-NFS) yang lebih dikenal dengan nama dagang Erubazu sebesar 10-20 ppm selama 2 jam. Ikan-ikan yang sehat ditransfer ke bak aklimasi dengan menggunakan kantong plastik setelah terlebih dahulu dilakukan pengukuran panjang cagak, memasukkan tagging dan pemotongan finlet untuk keperluan analisa genetik. Calon induk yang masih berukuran antara 2-3 kg tersebut dipelihara dalam bak beton bervolume 150 m3 ( 8m kedalaman 3m) dalam beberapa bulan untuk observasi pertumbuhan dan kesehatan ikan sehingga ikan yang dipindah ke dalam bak induk sudah benar-benar sehat dan teraklimasi. Selama dalam satu kali sehari dari Senin-Rabu dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sebesar 10-20 % biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, diberikan tambahan vitamin kompleks sebesar 15 g/kg pakan atau 0,4 g/kg bobot ikan dalam bentuk kapsul. Pertumbuhan harian rata-rata ikan yang dipelihara dalam bak aklimasi adalah 50 g/hari. Hal ini masih bisa ditinggalkan jika tujuannya untuk budidaya. b. Pemeliharaan induk Ikan-ikan dari bak aklimasi yang telah terseleksi dan mencapai bobot rata-rata 3 kg dipindahkan ke bak induk bervolume 1500 ton ( 18m kedalaman 6m) untuk selanjutnya dijadikan induk. Semua ikan telah diberi tagging sehingga setiap ikan dapat didata dan akan berguna untuk pendugaan kualitas genetik setelah memijah melalui analisa genetik. Calon induk ikan tuna diberi pakan satu kali sehari dari Senin-Sabtu dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layangdan cumi-cumi sebesar 5-10 % biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, mempercepat pematangan gonad, diberikan tambahan vitamin kompleks sebesar 0,06, vitamin C 3,75 dan vitamin E 0,03 g/kg bobot induk. Vitamin kompleks dan vitamin C diberikan setiap hari sementara vitamin E setiap dua hari. Ikan tuna sebagai ikan perenang cepat denagn kulit yang sangat sensitif terhadap penanganan, sulit dilakukan sampling sehingga data pertumbuhan hanya dapat diperoleh jika ada ikan yang mati. Setelah satu tahun pemeliharaan, beberapa ikan telah mencapai matang gonad dan memijah. Diperkirakan ada 10 ekor ikan telah berumur 3 tahun. Pemijahan pertama terjadi pada bulan Oktober 2004 selama 10 hari berturut-turut, namun setelah itu belum pernah memijah kembali. Pemberian hormon LHRH dengan metode Oral Administration sudah dilakukan sebanyak 3 dengan dosis 500 mg/kg ikan dengan tujuan memacu kematangan gonad. c. Pemijahan Induk yang telah matang gonad kemudian dipijahkan dalam bak beton Setelah itu dilakukan perawatan telur untuk ditetaskan kemudian diamati perkembangannya. d. Pemeliharaan larva Larva baru menetas mempunyai morfologi yang hampir sama dengan larva ikan laut pada umumnya. Mata belum berfungsi demikian juga dengan mulut dan anus. Pemeliharaan larva hampir sama dengan larva ikan laut pada umumnya hanya berbeda pada regim pakan. Pengelolaan lingkungan pemeliharaan larva dilakukan dengan pemberian Nannochloropsis sp. dengan kepadatan 0,5106 sel/ml dengan sistem pergantian air secara terus-menerus.

e. Permasalahan Permasalahan dalam pengembangan budidaya ikan tuna ini adalah kematian induk setelah memijah karena terbentur dinding bak. Selain itu ikan ini mudah stees dan untuk menyiapkan induk sampai siap memijah membutuhkan waktu yang lama dan penanganannya cukup sulit. 2. Pembenihan ikan cobia a. Transportasi induk Transportasi darat dengan jarak tempuh sekitar 30 jam dapat menggunakan bak fiberglass kapasitas 2 m3 yang ditempatkan didalam truk serta dilengkapi dengan pasok oksigen secara kontinyu yang diatur tekanannya melalui regulator dan didistribusikan secara merata. Selama transportasi ditambahkan es padat kedalam media transportasi sehingga suhu sir berkisar antar 26-27oC. b. Perawatan dan pengendalian penyakit induk Induk cobia dapat dipelihara di KJA maupun bak beton tergantung ukuran ikan yang dipelihara, makin besar ukuran ikan sebaiknya dipelihara dalam bak yang lebih besar antara 20 hingga 100 m3. ikan cobia mudah stress dan sangat rentan terhadap kematian terutama disebabkan oleh media pemeliharaan yang kurang baik. Ikan mudah terinfeksi oleh parasit benedeni, pada umumnya menyerang mata sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Untuk menghindarinya perlu dilakukan perendaman dalam air tawar selama 5-10 menit. c. Pengamatan Perkembangan Gonad Dan Embrio Induk ikan cobia yang beratnya lebih dari 8 kg mempunyai mukuran diameter oosit antara 600800 m. Induk memijah berdasarkan perubahan fase bulan yaitu sekitar bulan gelap, dengan ukuran telur yang dibuahi antara 1,25-1,35 mm. Telur akan menetas antara 15-18 jam pada suhu 28-29oC. d. Pemeliharaan Benih Telur cobia diinkubasi dalam bak sampai stadium embrio selama 16-20 jam, suhu 28-29,5oC. telur setelah stadium embrio dipindahkan dalam fiberglass volume 1 m3, atau bak beton volume 5-6 atau lebih dan sekaligus sebagai tempat pemeliharaan benih dengan kepadatan telur antara 10-20 butir/liter. Benih yang menetas (23-25 jam) bersifat planktonis, setelah hari ke-2 / ke-3 diberi pakan rotifer kepadatan 10-15 ind/ml dan nannochloropsis 1105 sel/ml. Naupli artemia (1-2 ind/ml), dan pakan buatan bisa diberikan mulai hari ke6 atau ke-7. Penggantian air dimulai hari ke-5 antara 20-30 % dan meningkat hingga 100 %/ hari didasarkan pertambahan umur benih. 3. Pembenihan clown fish (Amphiprion ocellaris) a. Manajemen induk Induk dipelihara pada akuarium berukuran 60 x 40 x30 cm3 dengan volume 60 liter. Pipa PVC dengan panjang 4-9 cm disusun membentuk segitiga yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan telur. Ikan clownfish jantan (ukuran lebih kecil) dipasangkan dengan yang betina (lebih besar dibandingkan dengan jantan). Clownfish adalah ikan hermaprodit protandri. Indukan diberi pakan dengan pakan buatan, juvenile nyamuk,udang mesopodopsis, cacing dan ikan rucah. b. Pembenihan Pemijahan induk terjadi setelah dipelihara 1-3 bulan di akuarium. Ikan yang betina meletakkan telurnya pada bagian yang telah diberi material atau pada bagian pojok dari akuarium. Fekunditas berkisar sekitar 130-1700 telur. Telur dirawat sampai dengan 6 hari dan menetas pada umur 7 hari. Periode inkubasi dilakukan dengan suhu air laut. c. Pemeliharaan Larva Larva yang baru menetas memiliki total panjang 4 mm dengan oil globul dan yolk salk

berukuran 150-180 dan 250-320 m dan bukaan mulut memiliki ukuran 400 m satu hari setelah fase larva. Larva menetas pada pagi hari dan diberi makan dengan fitoplankton nannochloropsis dan rotifer sementara itu pakan buatan dan naupli artemia diberikan pada larva ukuran D-9. Setelah dipelihara slama 1 bulan larva akan memiliki panjang total 1,4-2,2 cm. d. Penyakit Induk rentan terhadap infeksi bacteria seperti Vibrio alginolyticus dan infeksi sekunder dari parasit seperti Uronema sp. dan Cryptocarion irritans. e. Pemeliharaan juvenile Juvenil clownfish dengan panjang 1,4-2,2 cm hanya diberi makan dengan pakan buatan atau naupli artemia, rotifer dan copepod. Perhatian ekstra diberikan kepada pakan agar kecerahan warna dari benih ikan clownfish, karena hal tersebut merupakan aspek yang terpenting dari perdagangan ikan hias. 4. Kerapu lumpur (Ephinephelus coioides) a. Pematangan gonad dan pemijahan 1) Tangki pemijahan induk untuk pematangan gonad dan pemijahan bervolume 100m3, dilengkapi dengan bak pengumpul telur dengan volume 1 m3. 2) Indukan diberi pakan potongan ikan segar, cumi-cumi, dan pelet terapung dengan kandungan prot