Anda di halaman 1dari 3

Pemanfaatan Rumah Sakit di Sulawesi Selatan Pemanfaatan pelayanan rumah sakit dapat dinilai dengan menggunakan indikator Bed

Occupancy Rate (BOR), Bed Turn Over (BTO), dan Turn Over Interval (TOI). Tabel 2 memperlihatkan tingkat pencapaian masing-masing indikator pemanfaatan rumah sakit dari tahun 2005 hingga tahun 2009 pada rumah sakit umum milik Pemerintah. BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Biasanya diukur setiap triwulan atau setiap tahun pada setiap unit pelayanan atau penilaian untuk satu rumah sakit. Indikator ini memberikan gambaran tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Standar ideal untuk tingkat pemakaian tempat tidur (BOR) adalah 60 - 85%. Artinya, sebuah rumah sakit dikatakan telah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat bila jumlah tempat tidur yang ada penggunaannya mencapai 60 85%. BTO adalah nilai frekuensi pemakaian tempat tidur, berapa kali tempat tidur rumah sakit dipakai dalam satu satuan waktu tertentu, misalnya satu tahun. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi dari pemakaian tempat tidur. BTO memiliki angka standar 40 kali sampai 50 kali. Artinya, dalam setahun satu tempat tidur idealnya digunakan 40 kali sampai 50 kali. Dengan demikian, umur pakai sarana tempat tidur menjadi lebih panjang sehingga hanya akan diperlukan biaya perawatan dan akan mengurangi biaya pengadaan. TOI adalah rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat terisi ke saat terisi berikutnya. Idealnya tempat tidur kosong tidak lebih dari 3 hari. Semakin rendah angka TOI ini berarti semakin tinggi tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit bersangkutan oleh masyarakat.
Tabel 2. Indikator Pemanfaatan Rumah Sakit Umum Pemerintah Tahun 2005-2008 di Provinsi Sulawesi Selatan Indikator Pemanfaatan Rumah Sakit Bed Occupancy Rate (BOR) Bed Turn Over (BTO) Turn Over Interval (TOI) 2005 61.1% 45.3 kali 3.4 hari 2006 78.5% 57.0 kali 3.2 hari 2007 79.2% 57.8 kali 2.2 hari 2008 85.9% 67.2 kali 2.1 hari

Sumber : Laporan Tahunan 2005 - 2008

Dengan melihat pada grafik Barber Johnson, ketiga indikator di atas dapat menunjukkan apakah suatu rumah sakit berada dalam daerah efisien atau tidak. Bila berada di luar area tersebut, pihak rumah sakit dapat menyusun perencanaan yang tepat dengan mempertimbangkan indikator lainnya yaitu AvLOS. Berdasarkan laporan pemanfaatan tempat tidur rumah sakit umum pemerintah dalam lima tahun terakhir (2005-2009), menggambarkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pemanfaatan tempat tidur dari tahun ke tahun, namun pada tahun 2009 terjadi penurunan. Data BOR rumah sakit di Sulawesi Selatan tahun 2009 menurun hingga 66,93%. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan hingga 28,15% jumlah tempat tidur dibeberapa rumah sakit. Namun bila melihat trend pemanfaatan tempat tidur pada kelas III rumah sakit, ada peningkatan signifikan. Bila pada tahun 2008 hanya 70,97%, maka pada tahun 2009 BOR kelas III telah mencapai 82,80%. Peningkatan ini disebabkan karena adanya Program Pelayanan Kesehatan Gratis Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang menggratiskan pelayanan rujukan kelas III, disamping program Jamkesmas untuk keluarga miskin.

Gambar 1 . Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit Umum Pemerintah di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2005-2009
90.0% 85.94

80.0%

78.57

79.29

70.0%

66.93 61.10 60.0% 2005 2006 2007 2008 2009

Adanya peningkatan jumlah tempat tidur berpengaruh positif pada menurunnya frekuensi pemakaian tempat tidur secara umum. Data frekuensi pemakaian tempat tidur pada rumah sakit pemerintah dalam lima tahun terakhir (2005-2009) dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 . Bed Turn Over (BTO) Rumah Sakit Umum Pemerintah Sulawesi Selatan Tahun 2005-2009
80 kali

di Provinsi

70 kali

67.2

60 kali

57.8 57.0 57.2

50 kali

45.3 2007 2008 angka ini 2009 Meskipun demikian, 2005 penurunan2006 ini justru positif karena mendekati standar frekuensi yang ideal yakni 40 50 kali. Ini berkorelasi dengan persentase BOR yang juga menurun secara regional (Sulsel), sehingga pemecahan masalah BOR yang terus meningkat setiap tahun melebihi nilai standar dilakukan dengan menambah tempat tidur akibat angka kunjungan dan rujukan pasien yang meningkat. 40 kali

Gambar 3 memperlihatkan rata-rata interval hari tidak terpakainya tempat tidur pada rumah sakit pemerintah dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2005-2009). Grafik menunjukkan bahwa sejak tahun 2007, pemanfaatan tempat tidur semakin meningkat dan terus meningkat sampai saat ini

dan cenderung pemanfaatan ini semakin efisien. Peningkatan jumlah kunjungan dan rujukan pasien adalah salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini.
Gambar 3 . Turn Over Interval (TOI) Rumah Sakit Umum Pemerintah Sulawesi Selatan Tahun 2005-2009
5 hari

di Provinsi

4 hari 3.4 3.2 3 hari 2005 2006 2007 2.2 2 hari 1.3 2008 2.1 2009

Melihat ketiga 1 hariindikator ini, pelayanan rumah sakit di Provinsi Sulawesi Selatan sebagian besar telah dimanfaatkan dengan baik dan efisien oleh masyarakat. Angka ini tentunya bervariasi bila dilihat antara satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa semua rumah sakit telah mengalami peningkatan pemanfaat-an pelayanannya oleh masyarakat. Data indikator pemanfaatan pelayanan masing-masing rumah sakit.