Anda di halaman 1dari 21

1.

Billy Lesmana (205100046)


2. Ayu Dewandary (205100075) 3. Rudy Kristianto (205100093)

4. Melyana (205110042)

2.Pembuktian dalam Acara Pidana Indonesia

4.Faktor pembuktian terbalik tidak dapat di lakukan di Indonesia 5. Mencari Celah Hukum A. Korupsi B. Pencucian uang C. Penggelapan
6. Dilema beban pembuktian terbalik 7.Hal yang perlu diperhatikan SEBELUM Pengunaan PEMBUKTIAN TERBALIK

Pembuktian Terbalik atau istilahnya pembuktian secara a contrario adalah seseorang tersangka ataupun terdakwa dianggap telah bersalah sebelum dibuktikan terlebih dahulu di depan persidangan dengan kata lain, beban pembuktian ada ditangan tersangka atau terdakwa.

Pembuktian dalam tatanan hukum kita adalah menggunakan pembuktian negatif (negatief wettelijk bewijstheori) Hal ini bisa dilihat dari ketentuan Pasal 183 KUHAP : Hakim tidak boleh menjatuhkan putusan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Asas pembuktian terbalik sempat mencuat dan menjadi

perdebatan panjang dimasa Pemerintahan Gus Dur. Ketika itu, Gus Dur mengajukan draft Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) mengenai pembuktian terbalik, dalam penanganan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK mengusulkan penggunaan asas pembuktian terbalik pada tahun 2004 silam.
Kedua usulan tersebut ditolak. Adapun 2 alasan yang mendorong agar dilakukannya

Pembuktian Terbalik YAITU :

Pertama, banyaknya kasus korupsi yang belum dapat diberantas dan bahkan relatif meningkat intensitasnya Kedua, belum ada justifikasi teori yang dapat dipergunakan sebagai tolok ukur untuk memberantas korupsi

Faktor yang menyebabkan asas pembuktian terbalik tidak dapat di lakukan di Indonesia
1. Tidak dikenal dalam system hukum kita

2. Penggunaanya dianggap melanggar hak-hak dasar

seseorang dan melanggar asas praduga tak bersalah. 3. Adanya problematika hukum, yakni meski celah untuk memberlakukan asas pembuktian terbalik terdapat pada sejumlah klausul Undang-undang kita, namun secara universal berlaku asas hukum lex superior derogat legi inferiori

Mencari Celah Hukum


asas pembuktian terbalik,

dianggap kontradiktif dengan kitab undangundang kita, namun terdapat beberapa aspek hukum yang dapat dijadikan pertimbangan dalam Pelaksanaanya,yaitu dapat digunakan pemberantasan tindak pidana penggelapan, korupsi dan pencucian uang

Pembuktian Terbalik dalam Kasus Korupsi


Meski tidak secara utuh, namun ruang pemberlakuan asas tersebut cukup jelas disebutkan dalam UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Yaitu terlihat dalam pasal

37, 37 A ayat 1 dan 2 dan 37 ayat 3 Undang-undang Perdata Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) Nomor 20 Tahun 2001

pasal 37 ayat (1), ddikatakan bahwa, terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi

Pada pasal 37A ayat (1) dan (2), lebih menguatkan posisi beban pembuktian terbalik tersebut, dengan menegaskan bahwa, Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan

Dalam sistem pembuktian yang dilakukan dalam kasus korupsi,Meski memiliki ruang dalam memberlakukan beban pembuktian terbalik, namun ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 bisa dikatakan setengah hati, dengan tetap membebankan pembuktian kepada jaksa pentuntut, meski si terdakwa gagal membuktikan asal usul kekayaannya, yaitu dapat terlihat pada Pasal 37A ayat (3).

Pasal 37A ayat (3), yang menyebutkan bahwa, Pasal 37A ayat (3), yang menyebutkan bahwa, Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak pidana atau perkara pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16 Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undangundang ini, sehingga penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikann dakwaannya.

Pembuktian Terbalik Bagi Pejabat Penyelenggara Negara


1. Bahwa pejabat penyelenggara Negara memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam membuktikan kekayaan yang dimilikinya baik sebelum, sementara dan sesudah menjabat
diatur dalam ketentuan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme, pasal 5 ayat (3), yang menyebutkan bahwa, setiap penyelenggara Negara berkewajiban untuk melaporkan dan mengumumkan kekayaan sebelum dan sesudah menjabat.

2. Jika kita memaknai tindakan penyalahgunaan uang Negara, sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), maka sepatutnya pulalah asas pembuktian terbalik diberlakukan sebagai cara yang luar biasa pula. Misalnya UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, maka KPK diberikan kewenangan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, sebagai upaya hukum luar biasa

3. Filosofi dan sifat dasar hukum adalah bahwa ia ada bukan untuk dirinya sendiri, namun hukum ada untuk memberikan rasa nyaman dan keadilan bagi manusia

Pembuktian terbalik dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang


Caranya dengan melalui penetapan hakim atau

permintaan dari pihak jaksa kepada hakim untuk melaksanakan metode tersebut.
Penerapan pembuktian terbalik dalam persidangan

bisa dilakukan dengan didasarkan pada pasal 77 dan pasal 78 ayat 1 dan 2 Undang-Undang No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU

Dilema beban pembuktian terbalik


Ada dilema bersifat krusial dalam perundang-undangan Indonesia tentang beban pembuktian terbalik. Yaitu ada kesalahan dan ketidakjelasan perumusan norma tentang beban pembuktian terbalik Terlihat pada ketentuan Pasal 12B dan Pasal 37, Pasal 38B UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 diatur tentang beban pembuktian terbalik

Sebenarnya beban pembuktian terbalik dalam perundang undangan Indonesia ada ditatarankebijakan legislasi Akan tetapi tiada dan tidak bisa dilaksanakan dalam kebijakan aplikasinya. karena seluruh bagian inti delik disebut sehingga yang tersisa untuk dibuktikan sebaliknya malah tidak ada

Teori Beban Pembuktian Terbalik Keseimbangan Kemungkinan (Balanced Probability of Principles) dari Oliver Stolpe
Yaitu menempatkan pelaku korupsi terhadap perbuatan Atau kesalahannya tidak boleh dipergunakan asas beban pembuktian terbalik melainkan tetap berdasarkan asas beyond reasonable doubt asas pembuktian negative,sedangkan.. Beban pembuktian terbalik dapat dilakukan terhadap Harta kekayaan pelaku korupsi

Dalam praktiknya, penerapan teori ini dalam tindak pidana korupsi telah dilakukan oleh Pengadilan Tinggi Hong Kong dalam Kasus antara Attorney General Of Hong Kong v Lee Kwang Kut

Hal yang perlu diperhatikan SEBELUM Pengunaan PEMBUKTIAN TERBALIK


Pertama adalah sistem pembuktian terbalik tidak dapat diberlakukan secara absolut Kedua prosedur pelaksanaan sistem pembuktian terbalik harus jelas Ketiga perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas moral para penegak hukum.

Terima kasih .. Terima kasih Terima kasihh.....

1. 2. 3. 4.

Billy Lesmana (205100046) Ayu Dewandary (205100075) Rudy Kristianto (205100093) Melyana (205110042)