Anda di halaman 1dari 14

ASKEP PADA KEJANG

Posted on Januari 21, 2009 by Ramadhan TEORI KONSEP PENYAKIT > klik PENGKAJIAN Hal-hal yang perlu dikaji pada anak yang mengalami kejang : 1. Riwayat kesehatan bayi atau anak. Riwayat kelahiran atau dimasa neonatus, penyakit kronis, neoplasma, immunosupresi, infeksi telinga dalam ataum infeksi ekstra kranial (OMA), meningitis atau enchepalitis, tumor otak yang merupakan penyebab terjadinya kejang sehingga sangat perlu dilakukan anamnese. 2. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelainan neurologik, peningkatan TTV, yang biasanya terjadi pada anak yang mengalami kejang. Kejang terutama terjadi pada anak golongan umur 6 bulan 4 tahun. Pemeriksaan fisik dipengaruhi oleh usia anak dan organime penyebab, perubahan tingkat kesadaran, irritable, kejang tonik-klonik, tonik, klonik, takikardi, perubahan pola nafas, muntah dan hasil pungsi lumbal yang abnormal. 3. Psikososial atau faktor perkembangan. Umur, tingkat perkembangan, kebiasaan (apakah anak merasa nyaman, waktu tidur teratur, benda yang difavoritkan), mekanisme koping, pengalaman dengan penyakit sebelumnya. 4. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga. 5. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam 6. Lama berlangsungnya kejang. 7. Frekuensi terjadinya kejang dalam 1 tahun. 8. Adanya anggota keluarga yang pernah menderita kejang sebelumnya. Pengkajian Neurologik 1. Tanda Tanda Vital Suhu, tekanan darah, denyut jantung, TD, Denyut nadi.

2. Hasil pemeriksaan kepala a. Fontal : menonjol, rata, dan cekung. b. Lingkar kepala ( di bawah umur 2 tahun ) c. Bentuk umum. 3. Reksi pupil a. Ukuran b. Reaksi terhadap cahaya c. Kesamaan respons 4. Tingkat kesadaran a. Kewaspadaan (respon terhadap panggilan dan perintah ) b. Iritabilitas c. Letargi dan rasa mengantuk d. Orientasi terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan. 5. Afek Alam perasaan, labilitas. 6. Aktivitas kejang Jenis dan lamanya. 7. Fungsi sensoris a. Reaksi terhadap nyeri b. Reaksi terhadap suhu 8. Refleks a. Refleks tendo superfisial dan dalam b. Adanya refleks patologik ( misalnya : Babinski ) 9. Kemampuan intelektual a. Kemampuan menulis dan menggambar

b. Kemampuan membaca A. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terjadi injury berhubungan dengan aktivitas kejang, serangan mendadak dari perubahan aliran darah ke otak. 2. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan spasme otot pernapasan, aspirasi. 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kurangnya informasi perawatan rumah. 4. Gangguan konsep diri ( gambaran diri / harga diri ) berhubungan dengan kehilangan kontrol dari tubuh, reaksi lingkungan terhadap anak. B. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terjadi njury berhubungan dengan aktivitas kejang, serangan mendadak dari perubahan aliran darah ke otak. Intervensi : a. Pre Konvulsif Mengidentifikasi faktor resiko pre konvulsif untuk penyakit kejang Singkirkan benda benda yang ada di sekitar anak yang dapat melukainya. Monitor cardiopulmonal secara terus menerus Kaji kadar gula darah Sediakan dan dekatkan peralatan suction Sediakan O2 sesuai dengan indikasi b.Konvulsif Baringkan anak ditempat yang rata. Catat waktu, durasi, bagian tubuh yang terlibat dan frekuensi kejang. Atur pemberian pengobatan ( contoh Diazepam ) Pertahankan jalan nafas ( Airway ) Pastikan klien dalam keadaan aman. c. Post Konvulsi

Monitor TTV dan kesadaran klien Pertahankan jalan nafas efektif. Setelah anak bangun dan sadar berikan minum hangat, cairan untuk rehidrasi. Sediakan oral hygiene. Apabila kejang terlalu lama atau terjadi kejang berulang, segera bawa anak ke RS untuk menghindari gejala sisa. 2. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan spasme otot pernapasan, aspirasi. Intervensi : a. Baringkan pasien dengan sikap extensi / miringkan kepala klien untuk mencegah aspirasi. b.Berikan O2 ( 1- 2 liter / menit ) bila berat, berikan hingga 4 liter. c. Pada saat kejang berikan sudip lidah untuk mencegah supaya lidah tidak tergigit. d. Lepaskan pakaian yang menggangu pernafasan ( misalnya ikat pinggang, gurita dan lain sebagainya ). e. Observasi TTV secara kontinue setiap jam. 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kurangnya informasi perawatan rumah. Intervensi : a. Anjurkan orang tua mengenal kelainan alami kejang. b.Diskusikan pengobatan, dosis, frekuensi, tujuan, efek samping, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi kesalahan dosis. c. Diskusikan rencana perawatan di rumah, serta perawatan selama kejang d. Ajarkan kepada orang tua bagaimana cara mengobservasi dan menentukan pertolongan pertama yang aman dan legal. 4. Gangguan konsep diri ( gambaran diri / harga diri ) berhubungan dengan kehilangan kontrol dari tubuh, reaksi lingkungan terhadap anak. Intervensi : a. Jelaskan perilaku anak selama / setelah kejang kepada anak dan orang tua. Jangan sampai anak mengalami rasa malu akan perilakunya.

b.Informasikan kepada keluarga akan pentingnya memperlakukan anakanak mereka seperti anak anak yang lain. c. Bantu orang tua untuk menentukan kegiatan perkembangan anak yang tepat. d. Siapkan anak untuk menentukan atau melakukan kegiatan perkembangan anak yang tepat. e. Dampingi anak / orang tua untuk mempergunakan sumber sumber koping yang tepat. EVALUASI 1. Anak terbebas dari cedera fisik. 2. Aktivitas kejang dapat dicegah atau dikendalikan. 3. Kerusakan sistem saraf otak tidak terjadi 4. Penurunan kesadaran tidak terjadi. 5. Anak memiliki harga diri dan citra diri yang meningkatkan kesejahteraan.
About these ads

Suka Be the first to like this. Entri ini ditulis dalam Uncategorized. Buat penanda ke permalink.

Oleh : Ina Karlina, Skep, Ns


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EPILEPSI

PENDAHULUAN
Epilepsi atau penyakit ayan dikenal sebagai satu penyakit tertua di dunia (2000 tahun SM). Penyakit ini cukup sering dijumpai dan bersifat menahun. Penderita akan menderita selama bertahun-tahun. Sekitar 0,5 1 % dari penduduk adalah penderita epilepsy (Lumbantobing, 1998).

DEFINISI
Bangkitan epilepsy adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik dari neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala tetapi reversible dengan bernagai etiologi (Tjahjadi, dkk, 1996).

Epilepsy adalah kompleks gejala dari beberapa kelainan fungsi otak yang ditandai dengan terjadinya kejang secara berulang. Dapat berkaitan dengan kehilangan kesadaran, gerakan yang berlebihan, atau kehilangan tonus atau gerakan otot, dan gangguan prilaku suasana hati, sensasi dan persepsi (Brunner dan suddarth, 2000).

Kejang adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang besifat sementara. Istilah epilepsy biasanya merupakan suatu kelaianan yang bersifat kronik yang timbul sebagai suatu bentuk kejang berulang (Hudak dan Gallo, 1996).

ETIOLOGI
Tumor otak Trauma otak (5-50%) Bekuan darah pada otak Meningitis Gangguan elektrolit Ensefalitis Gejala putus alcohol/obat Gangguan metabolic Toksik substans Anoksia cerebral Sebagian kejang merupakan idiopatik

PRINSIP-PRINSIP PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang pasti dari aktivitas kejang pada otak tidak semuanya dapat dipahami. Beberapa pemicu menyebabkan letupan abnormal mendadak stimulasi listrik, menganggu konduksi syaraf normal otak. Pada otak yang tidak rentan terhadap kejang, terdapat keseimbangan antar sinaptik eksitatori dan inhibitori yang mempengaruhi neuron postsinaptik. Pada otak yang rentan terhadap kejang, keseimbangan ini mengalami gangguan, menyebabkan pola ketidakseimbangan

konduksi listrik yang disebut perpindahan depolarisasi paroksismal. Perpindahan ini dapat terlihat baik ketika terdapat pengaruh eksitatori yang berlebihan atau pengaruh inhibitori yang tidak mencukupi (Hudak dan Gallo, 1996).

Ketidakseimbangan asetilkolin dan GABA. Asetilkolin dalam jumlah yang berlebihan menimbulkan bangkitan kejang, sedangkan GABA menurunkan eksitabilitas dan menekan timbulnya kejang.

KLASIFIKASI INTERNASIONAL TENTANG KEJANG EPILEPSI


(dikutip dari Hudak dan Gallo, 1996)

I.

II.

III.

Kejang Parsial 1. Parsial sederhana (kesadaran klien baik) 1. Motorik 2. Sensorik 3. Otonimi 4. Fisik 2. Parsial kompleks (kerusakan kesadaran) 1. Parsial sederhana diikuti penurunan kesadaran 2. Kerusakan kesadaran saat awitan 3. Kejang parsial generalisasi sekunder Kejang Umum 1. Non kejang 2. Tonik-klonik umum 3. Tonik 4. Klonik 5. Mioklonik 6. Atonik Kejang Tidak terklasifikasi

MANIFESTASI KLINIK

Kejang Parsial Sederhana


Hanya jari atau tangan yang bergetar; atau mulut yang bergerenyut tak terkontrol; bicara tidak dapat dimengerti; mungkin pening; dapat mengalami perubahan penglihatan, suara, bau atau pengecapan yang tak lazim atau tak menyenangkan.

Kejang Parsial Kompleks


Masih dalam keadaan sedikit bergerak atau gerakan secara otomatis tetapi tidak bertujuan; dapat mengalami perubahan emosi, ketakutan, marah, kegirangan, atau peka rangsang yang berlebihan; tidak mengingat periode tersebut ketika sudah berlalu.

Kejang Umum (kejang grand Mal) Mengenai kedua hemisfer otak, kekuatan yang kuat dari seluruh tubuh diikuti dengan perubahan kedutan dari relaksasi otot dan kontraksi (kontraksi tonik klonik umum)

FASE SERANGAN KEJANG 1. Fase Prodromal Beberapa jam/hari sebelum seranga kejang. Berupa perubahan alam rasa (mood), tingkah laku

2. Fase Aura Merupakan fase awal munculnya serangan. Berupa gangguan perasaan, pendengaran, penglihatan, halusinasi, reaksi emosi afektif yang tidak menentu.

3. Fase Iktal Merupakan fase serangan kejang, disertai gangguan muskuloskletal.

Tanda lain : hipertensi, nadi meningkat, cyanosis, tekanan vu meningkat, tonus spinkter ani meningkat, tubuh rigid-tegang-kaku, dilatasi pupil, stridor, hipersalivasi, lidah resiko tergigit, kesadaran menurun.

4. Fase Post Iktal Merupakan fase setelah serangan. Ditandai dengan : confuse lama, lemah, sakit kepala, nyeri otot, tidur lama, amnesia retrograd, mual, isolasi diri.

STATUS EPILEPTIKUS Serangan kejang yang terjadi berulang, merupakan keadaan darurat. Berakibat kerusakan otak permanen, dapat disebabkan karena : peningkatan suhu yang tinggi, penghentian obat epileptik, kurang tidur, intoksikasi obat, trauma otak, infeksi otak.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Elektroensefalografi (EEG) membentu dalam mengklasifikasikan tipe kejang. 2. CT Scan untuk mendeteksi lesi, abnormalitas fokal, abnormalitas vaskuler cerebral, dan perubahan degeneratif serebral.

PENATALAKSANAAN Penatalaksaan epilepsy direncanakan sesuai dengan program jangka panjang dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan khusus masing-masing klien.

Tujuan dari pengobatan adalah untuk menghentikan kejang sesegera mungkin, untuk menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, dan untuk mempertahankan klien dalam status bebas kejang.

Pengobatan Farmakologis 1. Pengobatan biasanya dimulai dengan dosis tunggal. 2. Pengobatan anti konvulsan utama termasuk karbamazepin, primidon, fenitoin, fenobarbital, etosuksimidin, dan valproate. 3. Lakukan pemeriksaan fisik secara periodic dan pemeriksaan laboratorium untuk klien yang mendapatkan obat yang diketahui mempunyai efek samping toksik.

4. Cegah terjadinya hiperplasi gingival dengan hygiene oral yang menyeluruh, perawatan gigi teratur, dan masase gusi teratur untuk klien yang mendapatkan fenitoin (Dilantin).

Pembedahan 1. Diindikasikan bila epilepsy diakibatkan oleh tumuor intrakranial, abses, kista, atau anomaly vaskuler. 2. Pengangkatan secara pembedahan pada focus epileptogenik dilakukan untuk kejang yang berasal dari area otak yang terkelilingi dengan baik yang dapat dieksisi tanpa menghasilkan kelainan neurologis yang signifikan.

PROSES KEPERAWATAN Pengkajian 1. Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan factor resiko bio-psiko-sosial-spiritual. Data subyektif : usia mulai mengalami sreanga, frekuensi serangan, factor presipitasi (suhu tinggi, kurang tidur, keadaan emosional labil), pernah mengalami skit berta yang disertai kejang. Pernah sakit cedera otak, operasi otak. Pernah minum obat tertentu/alcohol. Ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

2. Aktifitas/Istirahat Data subyektif : keadaan umum yang lemah, lelah, menyatakan keterbatasan aktifitas, tidak dapat merawat diri sendiri.

Data obyektif : menurunnya kekuatan otot/otot lemah.

3. Peredaran darah Data obyektif : didapat data pada saat serangan : hipertensi, denyut nadi meningkat, cyanosis. Setelah serangan tanda vital mungkin normal atau mungkin disertai nadi dan pernafasan menurun.

4. Eliminasi Data subyektif : tidak dapat menahan BAB dan BAK

Data obyektif : saat serangan tekanan VU dan otot spinkter meningkat. Setelah serangan dalam keadaan inikontinensia otot-otot VU dan spinkter rileks.

5. Makanan/cairan Data subyektif : selama serangan makanan sangat sensitive

Data obyektif : gigi/gusi mengalami kerusakan selama serangan, gusi hiperplasi/bengkak akibat samping obat dilantin.

6. Persyarafan Data subyektif : selama serangan ada riwayat nyeri kepala, kehilngankesadaran/pingsan, kehilangan kesadaran sesaat/lena, klien menangis, jatuh ke lantai, disertai komponen motorik seperti kejang tonik-klonik, mioklonik, tonik, klonik, atonik. Klien menggigit lidat, mulut berbuih, ada inkontinensia urin dan feces, bibir-muka berubah warna/cyanosis Sesudah serangan : klien mengalami letargi, bingung, nyeri otot, gangguan bicara, nyeri kepala. Ada perubahan gerakan seperti hemiplegi sementara, klien ingat/tidak ingat kejadian yang menimpanya. Terjadi/tidak terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernafasan, dan denyut nadi. 7. Konsep diri Data subyektif : merasa rendah diri, ketidak berdayaan, tidak mempunyai harapan.

Data obyektif : selalu waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan orang lain.

8. Interaksi social Data subyektif : mengalami gangguan interaksi dengan orang lain/keluarga karena malu.

Diagnosa dan Rencana Keperawatan 1. Resiko cedera s.d perubahan kesadaran, kerusakan kognitif selama kejang atau kerusakan mekanisme perlindungan diri.

Tujuan keperawatan : Klien terbebas dari resiko cedera fisik. Intervensi : 1. Bersama klien mengidentifikasi factor yang dapat menyebabkan serangan tibatiba. 2. Bila serangan tidak terjadi di tempat tidur letakkan bantal di bawah kepala klien atau letakkan kepala klien di pangkuan perawat untuk mencegah supaya kepala tidak terbentur ke lantai. 3. Bila klien mengalami aura, ajarkan klien untuk berbaring sebelum kejang terjadi untuk mencegah jatuh. 4. Observasi tanda vital, gunakan terkmometer aksila. 5. Dampingi klien saat serangan berlangsung untuk mencegah bahaya luka fisik, aspirasi, lidah tergigit. 6. Miringkan kepala untuk mencegah aspirasi. 7. Pertahankan patensi jalan nafas atau pasang spatel lidah selama kejang jika dapat dipasang dengan aman sebelum rahang mengatup. 8. Hindarkan alat-alat yang mebahayakan. 9. Longgarkan pakaian yang sempit dan taha ekstrimitas. 10. Berikan O2 tambahan selama dan setelah kejang. 11. Pertahankan aliran dan selang-selang selama aktifitas kejang karena akses IV adalah kritis. 12. Catat aktifitas motorik dan status keadaan umum klien selama kejang.

Tindakan kolaboratif : 1. Berikan obat-obatan sesuai program, missal anti epileptik, luminal, diazepam, glucose, thiamine, dll 2. Monitor dan catat efek samping obat. 3. Monitor tingkat keseimbangan elektrolit, glucose.

2. Resiko jalan nafas tidak efektif/resiko pola nafas tidak efektif s.d sumbatan trachebroncheal, menurunnya kesadaran.

Tujuan Keperawatan : Jalan nafas/pola nafas efektif, tidak terjadi aspirasi.

Intervensi ; 1. Bila klien tak sadar, jaga agar jalan nafas tetap lancar dan terbuka. Observasi tanda vital, agar nutrisi/cairan dan elektrolit tetap seimbang, bila perlu beri infus. 2. Bila terdapat lendir pada jalan nafas, lakukan suction. 3. Miringkan kepala untuk mencegah aspirasi. 4. Berikan O2 tambahan sesuai program.

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah s.d menderita epilepsy, tidak bisa mengontrol diri saat serangan kejang terjadi.

Tujuan Keperawatan : Klien dapat mengidentifikasi perasaan, pola koping yang posistif/negatif. Secara verbal mempunyai harga diri meningkat. Menerima keadaan dirinya dan perubahan fungsi-peran-gaya hidup yang dihadapi.

Intervensi ; 1. Diskusikan tentang perasaan klien. 2. Dorong klien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. 3. Kaji kemampuan klien yang positif sesuai dengan keadaan sehingga dapat memanfaatkan kemampuan tersebut untuk meningkatkan harga diri klien dan dapat hidup di masyarakat.

Tindakan kolaboratif : 1. bila perlu anjurkan klien untuk mengikuti kelompok penderita epilepsy. 2. Diskusikan dengan psychoterapist bila perlu tentang keadaan klien.

4. Kurang pengetahuan s.d kebutuhan penatalaksanaan penyakit secara mandiri.

Tujuan Keperawatan : 1. Klien mengungkapkan pemahaman tentang diagnosa, pengobatan, rencana pengobatan, dan tindakan pengamanan. 2. Klien/keluarga akan mengungkapkan apa yang dilakukan jika klien mengalami kejang. 3. Klien akan menyadari dari mana sumber-sumber informasi dan dukungan selanjutnya dapat diperoleh.

Intervensi ; 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kaji keadaan patologis/kondisi klien dan pengobatan yang pernah didapat klien. Berikan informasi (verbal/tulisan) tentang keadaan klien dan regimen terapi. Diskusikan tentang pentingnya kontrol dan minum obat secara teratur. Jelaskan pada klien tentang keadaan yang sedang dihadapi klien dan factor-faktor yang da[pat menimbulkan serangan. Jelaskan keadaan yang aharus dihadapi terhadap keadaannya, seperti pekerjaan, mengendarai mobil, olah raga dan rekreasi. Anjurkan klien untuk selalu membawatanda pengenal bila bepergian. Perbaiki kesalahan persepsi tentang penyakit. Validasi pemahaman klien/keluarga tentang hal-hal yang ada.

Anda mungkin juga menyukai