Anda di halaman 1dari 20

MATERI ANATOMI DAN FISIOLOGI TERNAK BERAT JENIS URIN

OLEH : SATRIO PAMBUDI E10012111 C9

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS JAMBI 2013

Analisis Urine

Materi yang terkandung di dalam urine bisa diketahui melalui urinealisis atau pemeriksaan urine. "Lewat urinealisis kita dapat mengetahui fakta tentang ginjal dan saluran urine. Selain itu, juga dapat diketahui mengenai faal berbagai organ tubuh, seperti hati, saluran empedu, pankreas, cortex adrenal, dan lain sebagainya,". Namun, ditambahkannya, memilih contoh (sampel) urine harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan. Ketika melakukan urinealisis memakai urine kumpulan sepanjang 24 jam pada seseorang, ternyata susunan urine itu tidak banyak berbeda dari susunan urine 24 jam berikutnya. Namun, bila mengadakan pemeriksaan dengan sampelsampel urine pada saat yang tidak menentu, seperti di waktu siang atau malam, dapat dilihat perbedaan yang jauh dari sampel-sampel itu. Pemeriksaan urine lengkap di laboratorium akan melihat warna urine, kepekatannya, pH, berat jenis, sel darah putih, sel darah merah, sedimen, sel epitelial, bakteri, kristal, glukosa, protein, keton, bilirubin, darah samar, nitrit, dan urobilinogen. Ciri ciri urine normal : 1. Volume Urine rata-rata : 1-1,5 liter setiap hari; tergantung luas permukaan tubuh dan intake cairan. 2. Warna Kuning bening oleh adanya urokhrom. Secara normal warna dapat berubah, tergantung jenis bahan /obat yang dimakan. banyak carotein, warna kuning banyak melanin, warna coklat kehitam-hitaman. banyak darah, warna merah tua ( hematuria ) banyak nanah, warna keruh (piuria) adanya protein, warna keruh (proteinuri) 3. Bau Urine baru, bau khas sebab adanya asam-asam yg mudah menguap Urine lama, bau tajam sebab adanya NH3 dari pemecahan ureum dalam urine Bau busuk, adanya nanah dan kuman-kuman Bau manis, adanya asetan 4.Berat Jenis Urine Normal : 1,002-1,045, rata-rata 1,008 5. pH Urine

Kurang lebih ph = 6 atau sekitar 4,8-7,5 Px dgn kertas lakmus (reaksi) : Urine asam, warna merah. Urine basa, warna biru

1. Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) Diabetes, adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi lewat sample sample urine. Urine seorang penderita diabetes (diabetesi) mengandung gula, yang tidak dapat ditemukan pada urine orang yang sehat. Tes urine bisa juga dipakai untuk melihat apakah seseorang mengalami gangguan hati atau tidak. Bisa dilihat dari bilirubin dan urobilinogennya negatif atau tidak. Lewat pemeriksaan urine pula, dapat diketahui apakah seseorang mengalami infeksi saluran kemih. 2. Tanda Dehidrasi Urine juga menjadi penunjuk dehidrasi (tubuh kekurangan cairan). Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urine bening seperti air. Sebaliknya, orang yang mengalami dehidrasi, urinenya berwarna kuning pekat atau cokelat karena tubuh kehilangan garam dan mineral dalam jumlah yang banyak. Untuk mengembalikan urine Anda ke warna semula, cobalah minum larutan garam elektrolit, misalnya oralit. Bila oralit tak tersedia, cobalah larutan gula-garam. Cara membuatnya mudah saja, yakni larutkan satu sendok teh gula dan sejumput garam ke dalam 200 cc air matang. Bila dehidrasi tak membaik, perlu pemberian cairan infus. 3. Tes HIV Lewat Urine Tes urine menjadi cara sederhana dan efektif untuk mengidentifikasi infeksi HIV, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Seperti yang dilaporkan para peneliti dalam jurnal Acquired Immune Deficiency Syndromes. Tes urine berguna untuk mengidentifikasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak mau dites darah,". B. Cara Pengambilan Spesimen Urine. Petugas memberikan penjelasan tentang cara mengumpulkan urine dalam botol yang disediakan sesuai dengan jenis permintaan tes yang di minta : - Urine sewaktu (urine yang dikeluarkan pada suatu waktu yang tidak ditentukan secara khusus). - Urine pagi (urine yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari setelah

bangun tidur) - Urine post prandial (Urine yang pertama kali dikemihkan 1,5-3 jam setelah makan). - Urine 24 jam misalnya ; urine yang dikeluarkan jam 7 pagi dibuang. Semua urine yang dikeluarkan kemudian ditampung termasuk urine jam 7 pagi esok harinya. - Tampung urine dalam botol atau tempat bersih kurang lebih 10 cc dengan cara penderita disuruh kemih urine pertama kali dikemih dibuang dan diambil bagian tengah dan urine terakhir dibuang.
Tujuan Pemeriksaan Urine Lengkap:

Untuk mengetahui unsur-unsur yang ada dalam urine secara lengkap sehingga dapat membantu menegakkan diagnose dokter pemeriksa.
Tes Makroskopis (secara mata telanjang) :

Perhatikan warna atau kejernihan dan bau.


Tes Kimia:

1. Celupkan 1 lembar reagen strip kedalam urine sampai urine mengenai seluruh. 2. Letakkan pada alat Uriscan, jalankan sesuai prosedur. 3. Hasil keluar dalam bentuk print out, berupa : Berat Jenis (BJ), pH, Lekosit, Nitrit, Protein, Glukosa, Keton, Urobilinnogen, Bilirubin.
Tes Mikroskopis:

1. Masukkan 10-15 ml urine kedalam tabung reaksi, sentrifuge selama 5 menit pada 1500-2000 rpm. 2. Buang cairan dibagian atas tabung, sehingga volume cairan dan sediaan tinggal 0,5 ml. 3. Kocok tabung untuk meresuspensikan sediment. 4. Letakkan 1 tetes suspensi di atas objek glass. 5. Periksa sediaan di bawah mikroskop dengan lensa objektif 10 X (LPK) untuk melaporkan jumlah rata-rata sediaan, lensa objektif 40 X (LPB) untuk melaporkan jumlah rata-rata eritrosit dan leukosit. 6. Tulis hasil yang diperoleh berupa : elemen organik yaitu jumlah sel eritrosit, leukosit, sel epitel, silinder, bakteri dan elmen an organik berupa kristal, zat lemak. Catat hasil pemeriksaan dan ditandatangani oleh dokter penanggung jawab laboratorium.

A. Latar Belakang Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjalyang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin Dalam praktikum uji urin, peneliti dapat mengetahui kandungan yang ada dlam urin. Begitu pula dapat mengetahui zat-zat yang seharusnya tidak terkandung dalam urin. Apabila zat yang seharusnya tidak terkandung dalam urin itu ada maka kita dapat mengetahui secara lebih cepat. DASAR TEORI Sistem urin adalah sistem organ yang memproduksi, menyimpan, dan mengalirkanurin. Pada manusia, sistem ini terdiri dari dua ginjal, dua ureter, kandung kemih, dua otot sphincter, dan uretra. (F:\Urinalisis (analisis kemih) I q b a l A l i . c o m.htm6/04/2010 15.30 WIB) Urin bersal dari penyaringan darah oleh ginjal yang dialirkan memelaui uretra selanjutnya dikeluarkan dari tubuh urin. banyak mengandung bebrapa zat seperti glukosa, garam-garam, asam amino. Urin ditampung dalam kantung urin sampai sekitar 300 cc . Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning jernih), urin kental berwarna kuning pekat, dan urin baru / segar berwarna kuning jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. Ph urin berkisar antara 4,8 7,5 urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 1,035. Perubahan warna a. Hijau : kadar glukosa 1 % b. Merah : kadar glukosa 1,5 %

c. Orange : kadar glukosa 2 % d. Kuning : kadar glukosa 5 % Volume urin normal per hari adalah 900 1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi. Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang. a. Keruh.Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral. b. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat. c. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis. d. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi. Ginjal berfungsi untuk mengatur jumlah air di dalam tubuh agar sesuai dengan kebutuhan. Jika air dalam tubuh berlebih, maka ginjal akan mengeluarkan air lebih banyak. Jika kekurangan akan ditahan. Selain itu, ginjal juga berfungsi untuk mengeluarkan racun yang diproduksi tubuh. Air merupakan sumber kehidupan dan komponen terbesar dalam tubuh. Oleh karena itu keberadaannya harus diatur sedemikian rupa. Cara mudah mengetahui fungsi ginjal adalah dengan melihat jumlah urin yang keluar. Dalam keadaan normal, urin berjumlah 1000-1500 cc dalam 24 jam untuk pria dan wanita. Pemeriksaan yang lebih ilmiah juga dapat dilakukan dengan memeriksa kadar kreatinin dalam darah. Kreatinin adalah zat yang hanya dibuang oleh ginjal, bukan organ tubuh lainnya. Jika zat tersebut naik, maka fungsi ginjal pun harus diwaspadai. Kadar kreatinin dalam darah sebenarnya dapat dikondisikan. Jika kita kurang mengkonsumsi air putih dan kadar kreatinin naik, maka ada gangguan di dalam ginjal.

Warna urin tidak dapat dijadikan patokan karena terkadang menipu, hal tersebut terkait dengan banyaknya kita mengkonsumsi air minum. Jika kita minum banyak, maka urin berwarna jernih. Begitu pula sebaliknya. Ginjal yang terganggu dapat menyebabkan penyakit pada ginjal dan di luar ginjal, yang seringkali menjadi sebab terganggunya fungsi ginjal. Misalnya: Diabetes, batu ginjal, dan lain sebagainya. Terganggunya fungsi ginjal juga berdampak pada semua sistem dalam tubuh, darah berkurang, kulit gatal, pencernaan terganggu sehingga mengakibatkan mual, muntah, tidak dapat makan, serta paru tertimbun air karena air tidak dapat keluar. (1) Ginjal seseorang seukuran kepalan tinju. Jika dicermati secara melintang, ginjal mudah dibagi menjadi dua wilayah yaitu korteks dan medula. Darah, limfatik, dan suplai saraf yang masuk ginjal melalui hilus bersama-sama dengan Ureter, yang membawa urin dari ginjal ke kandung kemih, dimana disimpan sampai dikosongkan dengan buang air kecil. Dalam ginjal manusia, medula berakhir di beberapa struktur kerucut yang disebut papila. Pelvis ginjal pada dasarnya adalah perpanjangan ureter. Hal ini dibagi menjadi struktur berbentuk cangkir yang disebut calyxes papilla yang mengelilingi masing-masing dan membawa kotoran urin ke ureter. Sebuah lapisan jaringan ikat disebut kapsult, yang melindungi parenkim lebih lembut, meliputi ginjal. Sekitar 1 juta nefron sebagian besar terdapat pada parenkim di masing-masing ginjal manusia. Nefron merupakan unit fungsional yang menghasilkan ultrafiltrate awal plasma pada titik asalnya dalam glomerulus dan memodifikasi ultrafiltrate oleh proses reabsorpsi dan sekresi untuk mengendalikan laju ekskresi zat terlarut dan air.(2 :334) Tiga mekanisme fungsi utama ginjal yaitu : (1) Besar jumlah air dan zat terlarut disaring dari darah. (2) Urin primer memasuki tubulus, di mana sebagian besar diserap kembali, dengan kata lain, ia keluar dari tubulus dan melewati kembali ke dalam darah. (3) Zat tertentu (misalnya, racun) tidak hanya tidak diserap tetapi juga secara aktif disekresi ke dalam tubulus lumen. Non-diserap kembali filtrat residual dikeluarkan bersama-sama dengan zat yang dikeluarkan dalam urin akhir.

Fungsi ginjal adalah sebagai berikut : (3 : 148) (1) Menyesuaikan garam dan ekskresi air untuk menjaga konstan ekstraselular fluida volume dan osmolalitas; (2) Membantu untuk mempertahankan homeostasis asam-basa; (3) Menghilangkan produk akhir metabolisme dan zat asing; (4) Mempertahankan senyawa berguna (misalnya, glukosa) oleh reabsorpsi; (5) Memproduksi hormon (misalnya, erythropoietin) dan hormon aktivator (renin), dan (6) Fungsi metabolisme (katabolisme protein dan peptida, glukoneogenesis, dll). B. Prinsip Dasar Osmosis dan Tekanan Osmotik Osmosis adalah difusi netto cairan yang menyeberangi membran permeabel selektif dari tempat yang konsentrasi airnya tinggi ke tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat yang konsentrasi airnya lebih rendah. Bila suatu zat terlarut ditambahkan pada air murni, zat ini akan menurunkan konsentrasi air dalam campuran. Jadi, semakin tinggi konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan, semakin rendah konsentrasi airnya. Selanjutnya, cairan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang tinggi (konsentrasi air yang rendah). Osmolalitas dan Osmolaritas. Konsentrasi osmol suatu larutan disebut osmolalitas bila konsentrasi dinyatakan sebagai osmol per kilogram air; dan disebut osmolaritas bila dinyatakan sebagai osmol per liter larutan. Pada larutan encer seperti cairan tubuh, kedua istilah ini dapat digunakan hampir secara sinonim karena perbedaannya kecil. Tekanan osmotik. Osmosis molekul air yang melintasi membran permeabel selektif dapat dihambat dengan memberi tekanan yang berlawanan arah dengan osmosis. Besar tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah osmosis disebut tekanan osmotik. Karenanya, tekanan osmotik adalah pengukuran tak langsung air dan konsentrasi zat terlarut pada larutan. Semakin tinggi tekanan osmotik suatu larutan, semakin rendah konsentrasi air dan konsentrasi zat terlarut semakin tinggi.(4 : 296)

C. Pengaruh Gangguan Fungsi Ginjal Ada beberapa kelaianan yang umum terjadi pada beberapa penyakit ginjal. Sering kali pada beberapa jenis penyakit ginjal ditemukan adanya protein dalam urine, lekosit, sel darah merah dan silinder, yaitu potonganpotongan protein yang mengendap di tubulus dan di dorong oleh urine ke dalam vesika urinaria. Akibat penyakit ginjal lainnya yang juga penting ialah hilangnya kemampuan pemekatan atau pengenceran urine, uremia, asidosis, dan retensi Na+ abnormal. 1) Proteinuria Pada beberapa penyakit ginjal dan pada kelainan ginjal tidak berbahaya, permeabilitas kapiler glomerulus meningkat, dan protein dapat ditemukan di urine dalam jumlah yang lebih besar daripada normal (proteinuria). Sebagian besar protein ini berupa albumin, dan kelainan ini biasanya disebut albuminuria. 2) Hilangnya kemampuan pemekatan dan pengenceran. Pada penyakit ginjal, urine yang terbentuk mungkin kurang pekat dan volumenya sering bertambah, yang menimbulkan gejala-gejala poliuria dan nokturia (bangun malam untuk berkemih) kemampuan untuk membentuk urine encer sering kali tetap ada, tetapi pada penyakit ginjal yang lanjut, oslmolalitas urine menetap kira-kira sama dengan plasma, yang menunjukkan bahwa fungsi pengenceran dan pemekatan ginjal sudah tidak ada lagi. Kehilangan ini sebagian disebabkan oleh kerusakan pada mekanisme countercurrent, tetapi penyebab yang lebih penting ialah rusaknya nefron-nefron yang berfungsi. 3) Uremia Bila hasil metabolisme protein menumpuk di dalam darah akan menimbulkan gejala yang disebut uremia. Gejala uremia antara lain letargia, anoreksia, mual dan muntah, deteriorasi mental dan kebingungan, kedutan otot, kejang-kejang, dan akhirnya koma. 4) Asidosis Asidosis sering ditemukan pada penyakit ginjal menahun akibat penurunan kemampuan ginjal untuk mengeksresikan asam-asam hasil pencernaan dan metabolisme. 5) Gangguan metabolisme Na+

Sering kali pada penderita penyakit ginjal ditemukan adanya retensi Na+yang berlebihan yang disertai edema.(5 : 696) D. Berat Jenis Urine dan Tes Fungsi Ginjal Berat jenis urine tergantung dari jumlah zat yang terlarut di dalam urine atau terbawa di dalam urine. Berat jenis plasma (tanpa protein) adalah 1010. Bila ginjal mengencerkan urine (misalnya sesudah minum air) maka berat jenisnya kurang dari 1010. Bila ginjal memekatkan urine (sebagaimana fungsinya) maka berat jenis urine naik di atas 1010. Daya pemekatan ginjal diukur menurut berat jenis tertinggi yang dapat dihasilkan, yang seharusnya dapat lebih dari 1025. Tes fungsi ginjal. Terdapat banyak macam tes, tetapi beberapa yang sederhana ialah : 1) Tes untuk protein (albumin). Bila ada kerukan pada glomeruli atau tubula, maka protein dapat membocor masuk urine. 2) Mengukur konsentrasi urea darah. Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka ureum darah naik di atas kadar normal 20-24 mg per 100 ccm darah. Karena filtrasi glomerulus harus menurun sampai sebanyak 50 persen sebelum kenaikan urea darah terjadi, maka tes ini bukan tes yang sangat peka. 3) Tes konsentrasi. Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai berapa tinggi berat jenis naik.(6 : 249) E. Proses Pembentukan Urine Terdapat tiga proses penting yang berhubungan dengan proses pembentukan urine, yaitu: 1. Filtrasi (Penyaringan) Kapsula bowmen dari dalam malphigi menyaring darah dalam glomelurus yang mengandung air, garam, gula, urea, dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat glomelurus (Urine Primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat yang masih berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak berguna bagi tubuh, misalnya glukosa, asam amino, dan garam-garam. 2. Reabsorpsi (Penyerapan Kembali)

Dalam tubulus kontortus proksimal dalam urine primer yang masih berguna akan direabsorpsi yang dihasilkan oleh filtrat tubulus (Urine Sekunder) dengan kadar urea yang tinggi. 3. Eksresi (Pengeluaran) Dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak dipergunakan dan terjadi reabsorpsi aktif ion NA+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+. Ditempat ini sudah terbentuk urine yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan protein lagi, selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis. Dari kedua ginjal, urine dialirkan oleh pembuluh ureter ke kandung urine (Vesica Urinaria) kemudian melalui uretra, urine dikeluarkan dari tubuh. Hewan yang menghasilkan zat sisa dalam bentuk amonia, urea, dan asam urat, berturut-turut disebut amonotelik, ureotelik, dan urikotelik.(7) F. Mekanisme Pemekatan dan Pengenceran Urine. Bila terdapat kelebihan air dalam tubuh, ginjal dapat mengeluarkan urin encer sebanyak 20 L/hari, dengan konsentrasi sebesar 50 mOsm/L. Ginjal melakukan tugas yang hebat ini dengan mereabsorpsi zat terlarut terus menerus dan pada saat yang sama, tidak mereabsorpsi sejumlah besar air di nefron bagian distal, yang meliputi tubulus distal akhir dan duktus koligentes. Bila terdapat kekurangan air dalam tubuh, ginjal membentuk urin pekat dan pada saat yang bersamaan juga meningkatkan reabsorpsi air dan menurunkan volume urin yang terbentuk. Ginjal manusia dapat memroduksi urin pekat dengan konsentrasi maksimal sebesar 1200-1400 mOsm/L, yaitu 4-5 kali osmolaritas plasma. Hormon yang memengaruhi fungsi sistem urinarius yaitu : 1. Norepinefrin & Epinefrin Hormon ini dilepaskan dari medula adrenal. Hormon ini memberi sedikit pengaruh pada hemodinamika ginjal, kecuali pada kondisi ekstrim, seperti pada pendarahan hebat. Hormon ini memberikan efek berupa konstriksi arteriol aferen dan eferen sehingga menurunkan GFR dan RBF. 2. Endotelin

Hormon ini dihasilkan oleh sel endotel vaskuler ginjal atau jaringan lain yang rusak. Jika pembuluh darah rusak, maka endotelnya pun akan rusak dan melepaskan endotelin. Hormon ini memiliki efek untuk vasokonstriktor kuat sehingga dapat mencegah hilangnya darah. Efeknya terhadap ginjal adalag menurunkan GFR. 3. Angiotensin II & Aldosteron Angiotensin II dapat merangsang sekresi hormon aldosteron oleh korteks adrenal. Keduanya memainkan peranan penting dalam mengatur reabsorpsi natrium oleh tublus ginjal. Bila asupan natrium rendah, peningkatan kadar kedunya akan merangsang reabsorpsi natrium oleh ginjal sehingga dapat mencegah kehilangan natrium yang besar. Sebaliknya, dengan asupan natrium yang tinggi, penurunan pembentukan kedua hormon ini memungkinkan ginjal mengeluarkan natrium dalam jumlah besar. 4. Prostaglandin & Bradikinin Kedua hormon ini cenderung mengurangi efek vasokonstriktor ginja akibat aktivitas saraf simpatis, sehingga meningkatkan GFR. 5. Antidiuretik Hormon/ADH (Vasopresin) ADH berperan dalam pengaturan konsentrasi urin, sehingga juga turut mengatur osmolaritas plasma dan konsenrasi natrium. Jika osmolaritas plasma meningkat di atas normal (zat terlarut dalam cairan tubuh terlaru pekat), kelenjar hipofisis posterior akan terangsang untuk menyekresikan ADH. ADH akan meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan duktus koligentes terhada air sehingga meningkatkan reabsorpsi air dan mengurangi volume urin. Sebaliknya, jika terdapat kelebihan air di dalam tubuh (osmolaritas cairan ekstrasel menurun), sekresi ADH akan dikurangi. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya permeablitas tubulus distal & duktus koligentes terhadap air sehingga urin menjadi encer. Saraf yang memengaruhi fungsi sistem urinarius yaitu : a. Saraf utama yang memengaruhi fungsi sistem urinarius adalah saraf pelvis yang berasal dari pleksus sakralis dari segemen sakralis 2 & 3 medula spinalis. Saraf ini memiliki 2 bentuk persarafan, yaitu: 1. Serabut saraf sensorik

Serabut saraf sensorik mendeteksi derajat peregangan dalam kandung kemih, khususnya uretra posterior sehingga memicu refleks mikturisi. 2. Serabut saraf motorik Serabut ini berperan sebagai serabut saraf parasimpatis yang berakhir di ganglion dalam dinding kandung kemih. Saraf ini berperan untuk menginervasi otot detrusor. b. Serabut saraf lainnya adalah serabut motorik skeletal (melalui saraf pudendus) yang menginervasi dan mengatur otot rangka volunter sfingter eksterna uretra. c. Persarafan simpatik berjalan melalui saraf hipogastrik yang berasal dari segmen lumbal 2 dari medula spinalis. Persarafan ini merangsang pembuluh darah dan meberi sedikit efek terhadap proses kontraksi kandung kemih. d. Serabut saraf untuk sensasi rasa penuh dan nyeri.(8)

Berat Jenis Urine

Pemeriksaan berat jenis urin berhubungan dengan keadaan faal pemekatan yang dilakukan oleh ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu urometer, refraktometer, gravimetri dan falling drop. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003-1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun (Wirawan dkk., 1983). Berat jenis yang rendah ini bisa disebabkan oleh banyak minum, udara dingin, dan diabetes insipidus. Berat jenis yang tinggi disebabkan oleh dehidrasi, proteinuria, dan diabetes mellitus (Oka, 1998).

Urinomter adalah hidrometer untuk penentuan berat jenis dari urine dan ditera khusus untuk penentuan tersebut. Urinometer memiliki skala 1.0000-1.0060 (tiga desimal) dan umumnya dipergunakan pada temperatur 60oF atau 15,5 oC. Bila temperatur cairan yang akan dikur bukan 15,5oC, maka harus diadakan koreksi. Koreksi tersebut dilakukan dengan jalan menambah angka satu pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3o di atas temperatur peneraan atau mengurangi 1 angka pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3 o di bawah temperatur peneraan. Rumusnya adalah sebagai berikut :

Keterangan : FK = faktor koreksi Tk = temperatur cairan yang diukur Tp = temperatur peneraan (tertera pada alat urinometer)

b.

Berat Jenis Urometer yang akan digunakan ditera dengan menggunakan aquadest. Bila pada peneraan tidak mendapatkan hasil 1,000 (misalkan 1,005), maka hasil akhir pembacaan dikurangi 0,005. Gelas ukur diisi dengan urin hingga bagian. Buih yang terbentuk dihilangkan dengan kertas saring atau dengan penambahan satu tetes eter. Urometer dimasukkan ke dalam gelas ukur dengan cara mengukur dan memutar pada sumbu penyangganya. Jangan sampai urometer menyentuh atau menempel pada dinding bagian dalam gelas ukur. Dibaca bagian meniscusnya, dimana 1 strip = 0,001

6. Barat jenis Dari pemeriksaaan yang didapat berat jenis urin ini rendah yaitu 1000. Normalnya berat jenis urine Spesies Kuda Variasi 1,021,050 1,0151,045 1,0101,030 1,0201,040 Rata-rata 1,035 spesies Sapi variasi 1,0251,045 1,0151,045 1,0151,045 1,0151,030 Rata-rata 1,035

Domba

1,030

Kambing

1,030

Babi

1,015

Anjing

1,025

kucing

1,030

manusia

1,020

B. Pemeriksaan Metode Aution Stick Hasil yang bisa deperoleh dari pemeriksaan dipstick yaitu Preparat Glukosa Protein Bilirubin Hasil Normal Normal Normal

Urobilinogana Normal Ph Specific Gravity 6 1.000

Dichte Blood Ketones Nitrites leucocytes 250(radang)

Selain itu ditemukan Kristal-kristal yang normal dalam urin yaitu granular cats dan blood cells (+)1. INTERPRETASI Dari pemeriksaaan fisik urin v jumlah urin yang lebih banyak dari normal menunjukkan polyuria v warna urin yang kuning pucat menunjukkan normal v adanya buih berwarna putih juga menunjukkan normal v berbau amonil menunjukkan adanya perombakan ureum oleh bakteri v ph 6 merupakan ph yang normal untuk urin anjing v berat jenis urin rendah mungkin disebabkan oleh banyak minum,diabetes insipidus karena kekurangn anti deuritk hormone, uremia yang telah melanjut dan nephritis yang kronis karena tidak mampunya ginjal untuk memekatkan urine. Dari pemeriksaan Dipstik didapat glukkosa,protein,bilirubin dan urobilirubin yang normal dan tidak ditemukannya blood,ketones dan nitrites. Tetapi ditemukan leucocytes sebanyak 250, ini menunjukkan adanya peradangan DIAGNOSA Secara umum tidak menunjukkan gejala klinik anjing tersebut sakit,tetapi hanya terjadi polyuria yang disebabkan oleh banyak minum dan adanya sedikit peradangan.

Pengukuran berat jenis urine : Niedrige Preise, Riesen-Auswahl und kostenlose Lieferung ab nur 20

Jenis zum Schnppchenpreis.

Berat Jenis Urin Diposkan oleh admin di 06.44 Kamis, 05 Januari 2012 Label: Pemeriksaan Urin

Prinsip pemeriksaan : Berat jenis urin diukur dengan urinometer dengan skala 1.000 - 1.060 (Berat jenis Ag:1.060 pada suhu 20 celcius) dimana berat jenis urin harus diperhatikan kondisinya terhadap hasil yang diperoleh Prosedur pemeriksaan : 40 ml urin masukkan gelas ukur Lepas pelan-pelan urinometer ke dalam gelas ukur Pembacaan : Rumus : Berat jenis terbaca + (suhu kamar - suhu kamr)/3 x 0,001 contoh aplikasi soal : Suhu kamar : 33 C Suhu tera : 20 C Berat jenis terbaca : 1,011 Berat jenis : =Berat jenis terbaca + (suhu kamar - suhu kamar)/3 x 0,001 =1,011 + (33-20)/3 x 0,001 =1,015 Berat jenis urine sangat erat hubungannya dengan diuresis, makin besar diuresis, makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya makin kecil diuresis, makin besar berat jenisnya. Berat jenis urine 24 jam dari orang normal

biasanya berkisar antara 1,016-1,022. Batas urin sewaku-waktu dan urine pagi antara 1,003-1,030. Jika berat jenis urine lebih besar dari 1,030 memberi isyarat akan kemungkinan glikosuria. Penentuan densitas urine dapat dilakukan dengan cara urinometer, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Tuangkan urine yang harus bersuhu kamar ke dalam gelas urinometer. Busa yang mungkin terjadi dibuang dengan memakai sepotong kertas saring atau dengan setetes eter. 2) Masukkanlah urinometer ke dalam gelas itu. Agar urinometer itu bebas terapung pada waktu dibaca, harus ada cukup banyak urine dalam gelas tadi. 3) Sebelum membaca berat jenis pada tangkai urinometer, haruslah urinometer itu leps dari dinding gelas; untuk melepaskan putarlah urinometer itu dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk. 4) Oleh putaran tadi urinometer akan terapung di tengah-tengah gelas dan tidak menempel lagi pada dinding. Bacalah berat jenis tanpa paralax setinggi meniskus Pemeriksaan Berat Jenis Urine Pemeriksaan berat jenis dalam urine berdasarkan pada perubahan pKa (konstanta disosiasi) dari polielektrolit (methylvinyl ether/maleic anhydride). Polielektrolit terdapat pada carik celup akan mengalami ionisasi, menghasilkan ion hydrogen (H+). Ion H+ yang dihasilkan tergantung pada jumlah ion yang terdapat dalam urine. Pada urine dengan berat jenis yang rendah, ion H+ yang dihasilkan sedikit sehingga pH lebih ke arah alkalis. Perubahan pH ini akan terdeteksi oleh indikator bromthymol blue. Bromthymol blue akan berwarna biru tua hingga hijau pada urine dengan berat jenis rendah dan berwarna hijau kekuningan jika berat jenis urine tinggi.

Berat jenis urine tergantung dari jumlah zat yang terlarut di dalam urine atau terbawa di dalam urine. Berat jenis plasma (tanpa protein) adalah 1010. Bila ginjal mengencerkan urine (misalnya sesudah minum air) maka berat jenisnya kurang dari 1010. Bila ginjal memekatkan urine (sebagaimana fungsinya) maka berat jenis urine naik di atas 1010. Daya pemekatan ginjal diukur menurut berat jenis tertinggi yang dapat dihasilkan, yang seharusnya dapat lebih dari 1025. (Anonim, 2009) berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan berat jenis dari urin sapi jenis bali yaitu 1,059/ 1000 mL. Kadar kepadatan urin yaitu 153,4.

Berat jenis Bj urine normal ; 1.003 1.03 Bj urine dipengaruhi oleh jumlah urine, komposisi urine,fengsi pemekatan ginjal. Bj urine tingggi : Diabetes Melitus, nefrotis akut, demam. Bj urine rendah :stadium terminal nefritis. Pengukuran Bj urinedengan menggunakan Urinometer dengan skala 1.000 1. 040 dan selalu dikalibrasi pada suhu 150C atau 200C , refraktometer. Hasil pemeriksaan BJ urin harus selalu dikoreksi dengan: 1) Suhu ruang: q Tiap 3C di atas suhu tera, maka hasil pembacaan ditambah 1 q Tiap 3C di bawah suhu tera, maka hasil pembacaan dikurang1 2) Kadar glukosa urin: q Tiap 1% glukosa maka hasil pembacaan di kurang 4 3) Kadar protein urin: q Tiap 1% protein maka hasil pembacaan dikurang 3 Bila jumlah urin tidak cukup untuk pemeriksaan BJ urin, maka urin diencerkan dengan aquades 1:1. Hasil BJ sebenarnya adalah pembacaan BJ urin yang telah diencerkan dikalikan pengenceran (2) terhadap angka dibelakang titik. Arti klinis pemeriksaan BJ urin: Membantu mendiagnose glukosuri pada penderita koma (koma diabetikum urinnya jernih tapi BJ nya tinggi. Untuk mengetahui faal ginjal menurut percobaan konsentrasi menurut Fishberg