Anda di halaman 1dari 4

TENS Mekanisme modulasi nyeri menggunakan TENS teori modulasi gate control.

Stimulasi listrik ini dapat merangsang serabut saraf yang berdiameter besar seperti A-beta yang dapat mengurangi nyeri. Teori gerbang kontrol menyatakan bahwa tingkat keparahan nyeri ditentukan oleh keseimbangan rangsangan dan input inhibisi terhadap sel T dalam sumsum tulang belakang. Sel T menerima input rangsangan dari serabut C dan A-delta sedangkan input inhibisi melalui subtansia gelatinosa berdiameter besar A-beta. Jika serabut berdiameter besar (A-beta) teraktivasi, serabut A-beta akan menghambat sel-sel T dengan demikian gerbang menutup tulang belakang ke korteks serebral sehingga nyeri berkurang atau menghilang. Frekuensi yang digunakan yaitu 10-200 pulse per second (pps), durasi 50-80 mikrodetik dan waktu aplikasi secara terus menerus saat nyeri terjadi. Mekanisme analgetik yang dihasilkan yaitu pada tingkat segmental, sensasi yang ditimbulkan yaitu paraestesia yang kuat dengan sedikit kontraksi Persiapan alat sebelum pengobatan di mulai meliputi : alat TENS, elektrode, jeli, dan tissue. kemudian lakukan pengecekan kabel ada tidaknya kabel yang rusak. Persiapan klien di mulai dari pemeriksaan klien (apakah ada kontra indikasi pemberian TENS dan tes sensasi) dan klien diposisikan tidur terlentang, bersihkan kulit klien dengan menggunakan tissue terlebih dahulu, pastikan unit TENS dalam keadaan off, hubungkan unit dengan klien, dan elektrode tidak boleh terlalu dekat atau bersentuhan anatara satu dengan yang lainnya. Pemasangan elektrode di sisi yang sakit atau didaerah nyeri. Elektrode katode diletakkan pada sendi lutut Intensitas arus ada 2 pengontrol yaitu: basis; atur intensitas 2-3 mA. Pasien harus merasakan sedikit getar. Aturlah basis sebelum mengatur dosis dan basis harus tetap selama terapi. Dosis; intensitas harus disesuaikan dengan pasien, jangan sampai ada perasaan

nyeri atau terbakar. Lama terapi berkisar antara 10-30 menit. Setelah terapi intensitas sampai nol begitu basis lalu padamkan. Periksa kulit pasien dan dibersihkan kulit dengan tisu, cucilah elektrode dengan air sampai bersih, simpan elektrode supaya mengeringkan (Cameron, 2009: 225).

SWD Merupakan alat terapi yang menggunakan energi magnetik yang dihasilkan oleh arus bolak-balik frekuensi tinggi. Frekuensi yang dihasilkan pada pemakaian SWD adalah 13,56 MHz, 27,12 MHz dan 40,68 MHz. Panjang gelombang yang sesuai adalah 22 meter, 11 meter, dan 7,5 meter. Untuk tujuan pengobatan frekuensi SWD yang sering digunakan yaitu 27,12 MHz dengan panjang gelombang 11 meter. Pada SWD mempunyai efek panas yang bisa meningkatkan matebolisme. Peningkatan temperatur 2 sampai 3oC pada jaringan bisa

mengurangi nyeri dan spasme otot dan 3 sampai 4oC dapat meningkatkan ekstensibilitas jaringan lunak. SWD diterapkan pada suhu rata-rata yang cukup, maka terjadi efek fisiologi pada suhu jaringan yaitu terjadi vasodilatasi pembuluh darah, meningkatkan laju konduksi saraf, mengurangi rasa nyeri, perubahan kekuatan otot, perubahan aktivitas enzim atau metabolik, meningkatkan extensibilitas jaringan lunak. Modalitas SWD mempunyai pengaruh fisiologis yang diabsorbsi oleh kulit, maka panas tersebut akan timbul pada area dimana efek thermal tersebut diabsorbsi, dengan demikian terjadi adanya peningkatan temperatur jaringan, maka spasme otot yang terjadi karena penumpukan asam laktat dan sisa-sisa pembakaran lainnya dapat dihilangkan. (William, 2002:173). Efek dari SWD dapat dibagi menjadi dua, yaitu efek thermal dan efek nonthermal. Yang dimaksud dengan efek thermal, yaitu pemberian intensitas yang cukup atau secara terus menerus

(continue), sedangkan efek nonthermal, yaitu pemberian intensitas yang rendah atau terputusputus (intermiten). Tetapi yang akan dibahas sesuai kasus, yaitu efek thermal. Indikasi SWD yaitu Meningkatkan temperatur jaringan, laju konduksi saraf, vasodilatasi pembuluh darah, menurunkan nyeri, meningkatkan elastisitas jaringan otot, meningkatkan LGS, mempercepat penyembuhan dan meningkatkan ekstensibilitas jaringan ikat. Kontra indikasi dari SWD meliputi kehamilan dan menstruasi, kontak langsung dengan mata, gangguan sensibilitas, pada testis, logam dalam tubuh, alat-alat elektronik, gangguan pembuluh darah atau peredaran darah Persiapan alat terapis mengecek kabel tidak boleh bersilangan, pemanasan alat 5 menit, pengecekkan perlengkapan mesin seperti handuk, perekat dan persiapan glas elektrode serta lampu detector untuk mengetahui dissipasi atau tidak. Persiapan pasien posisi pasien duduk di kursi secara nyaman, sebelum pelaksanaan terapi dilakukan tes sensibilitas dengan cara tes panas dingin dengan mata terpejam pasien disuruh merasakan sensasi yang terjadi, pada bagian yang lesi dan sehat dibandingkan. Hal tersebut guna menghindari luka bakar kemudian terapis menjelaskan tentang prosedur, tujuan terapi dan rasa hangat yang ditimbulkan. Apabila pasien merasakan panas yang berlebihan saat terapi diharapkan memberi tahu terapis. (Cameron, 2009: 396).

Pelaksanaan Terapi alat diatur sedemikian rupa sehingga tangkai mesin dapat menjangkau area yang diterapi. Posisi elektrode tegak lurus dengan lutut. Pasang glas elektrode dengan metode co-planar Usahakan teknik pemasangan lebih jelas, utk kasus OA satu elektrode dimana-satunya dimana? Dimana jarak antar elektrode 5 cm, beri jarak dengan kulit 2-3 cm bisa menggunakan handuk kering sebagai spasing. Putar tombol power ke posisi on. Atur waktu

terapi selama 15 menit, plih arus continue, pastikan alat sudah tuning, naikkan intensitasnya sedikit demi sedikit sampai pasien merasa hangat. Intensitas sub mitis karena pasien hipoestesia. Frekuensi 2 x perminggu. Selama terapi harus di monitor rasa panas yang dirasakan pasien. Pengobatan berlangsung 15 menit sampai maktu habis. Setelah waktu terapi selesai kembalikan intensitas keposisi nol, putar tombol off, kemasi elektrode dan kabel, cek keadaan kulit pasien apakah ada tanda-tanda yang muncul pada kulit sesudah terapi. (Cameron, 2009:397)