Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN (EKOTUM) PERSAINGAN ANTAR TANAMAN SEJENIS (INTRA SPESIFIK)

O L E H

Yulia (F05109031)

Kelompok : 2

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persaingan adalah kontes antara individu, kelompok, hewan, dll untuk wilayah, niche, atau lokasi sumber daya . Hal ini muncul ketika dua atau lebih pihak berjuang untuk tujuan yang tidak dapat dibagi. Persaingan terjadisecara alami antara organisme hidup yang hidup berdampingan di sama lingkungan . Misalnya, hewan bersaing atas persediaan air, makanan, teman, dan lainnya sumber daya hayati . Manusia bersaing untuk air, makanan, dan pasangan, meskipun ketika kebutuhan ini terpenuhi persaingan deep sering timbul akibat mengejar kekayaan , prestise, dan ketenaran . Bisnis sering dikaitkan dengan persaingan sebagai perusahaan yang paling berada dalam persaingan dengan setidaknya satu perusahaan lain atas kelompok pelanggan yang sama (Anonim, 2008). Persaingan merupakan faktor penting yang mempengaruhi masa kini distribusi tanaman dan hewan, dan persaingan yang memainkan peran penting dalam evolusi oleh seleksi alam. Hari ini kita akan memeriksa bahwa bukti-bukti dan pengembangan pemahaman kita tentang subjek. Persaingan tidak terjadi jika sumber daya terlalu banyak untuk membatasi pertumbuhan, distribusi atau kelimpahan dari setidaknya salah satu populasi. Kami berharap hanya satu atau beberapa sumber daya untuk membatasi dan karena itu harus bersaing untuk. Persaingan dapat terjadi antara individu-individu yang menjadi anggota dari spesies yang sama.Ini disebut intraspecific persaingan. Secara intuitif, kompetisi intraspesifik nampaknya menjadi kuat karena dua anggota dari spesies yang sama cenderung memiliki kebutuhan sumber daya yang sangat mirip. Ini berbagi sumber daya antara individu-individu dari populasi tunggal pada akhirnya membatasi seberapa besar suatu populasi dapat di daerah tertentu (yang benar-benar berarti, untuk jumlah

yang diberikan sumber daya). Hari ini kita fokus pada kompetisi intraspesifik, yang terjadi antara anggota spesies yang berbeda. Intensitas kompetisi intraspesifik harus terkait dengan kesamaan antara kedua spesies. Kami berharap ini mempengaruhi jumlah tumpang tindih dalam pemanfaatan sumber daya (= tumpang tindih niche) . Persaingan langsung terjadi ketika anggota satu spesies

mengganggu atau membahayakan secara langsung anggota suatu spesies kedua. Contohnya termasuk perkelahian atas ruang di antara hewan, pelepasan bahan kimia oleh tanaman (misalnya, sage, kreosot semak) yang menghambat pertumbuhan spesies lain tanaman, dan tentakel karang menyengat. Persaingan mungkin mempengaruhi keanekaragaman

spesies. Dalam jangka pendek, kompetisi harus menyebabkan penurunan jumlah spesies yang hidup dalam suatu daerah, mencegah spesies sangat mirip dari rekan-terjadi. Dalam jangka panjang, bagaimanapun, kompetisi tampaknya akan meningkatkan keragaman spesies, dengan bertindak sebagai kekuatan untuk spesialisasi dan divergensi (Anonim, 2008). Pada prinsipnya pengaturan jarak tanaman untuk memberikan tanaman tumbuh lebih baik tanpa mengalami banyak persaingan. Jarak
tanam yang terlalu rapat atau tingkat kepadatan populasi yang tinggi dapat mengakibatkan persaingan antar tanaman. Persaingan antar tanaman menyebabkan masing-masing tanaman harus tumbuh lebih tinggi agar memperoleh cahaya lebih banyak dan pemanjangan batang pada tanaman sering menguntungkan dalam persaingan memperebutkan cahaya matahari (Anonim, Tanpa tahun).

Persaingannya a. Persaingan dalam

berupa memperoleh

: air

Air di serap dari dalam tanah kemudian sebagian besar diuapkan (transpirasi), hanya sekitar 1% saja yang dipakai untuk proses fotosintesis. Untuk setiap kilogram bahan organik, gulma membutuhkan 330-1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali kebutuhan tanaman. b. Persaingan dalam memperoleh unsur hara

Gulma menyerap lebih banyak unsur hara dari pada tanaman. Pada bobot 2

kering yang sama gulma mengandung kadar nitrogen dua kali lebih banyak c. Persaingan dari dalam memperoleh jagung. cahaya

Dalam keaadaan air dan hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman, maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya matahari. Bila musim hujan, maka berbagai tanaman akan berebut untuk memperoleh cahaya matahari. d. Pengeluaran senyawa beracun. Tumbuhan juga dapat bersaing antara sesamanya dengan cara interaksi biokimia, yaitu salah satunya dengan mengeluarkan senyawa beracun, yang akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman lain. Interaksi biokimia antara gulma dan tanaman ini dapat menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal. Persaingan yang timbul akibat hal ini adalah dikeluarkannya zat racun dari suatu tumbuhan yang disebut allelopathy (Anonim, Tanpa tahun). Macam-macam Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu: Kompetisi intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama. Kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama. Intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman. Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition). Kompetisi

Persaingan intraspesifik. Pada latihan dalam laboratorium dalam persaingan intraspesifik diambil contoh hasil telur pada Drosophyla dalam kaitannya dengan rapatan populasi. Dalam percobaan ini pengaruh rapatan populasi pada kecepatan produksi telur pada lalat buah Drosophyla akan dipelajari sebagai suatu

contoh persaingan intraspesifik. Tempat penimbunan telur akan dibuat tetap dan jumlah lalat betina bertambah secara logaritmik.

Persaingan Interspesifik Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hokum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni ceruk yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari ceruk tersebut dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu ceruk mikro yang terpisah. Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, system-sistem akan bersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah (Zigen, 2010). Persaingan intraspesifik di gunakan untuk menggambarkan adanya persaingan antar individu-individu tanaman yang sejenis. Persaingan intraspesifik terdiri atas : 1 2 Persaingan aktivitas Persaingan sumber daya alam (Wayoujai, 2011).

Kompetisi

intraspesifik, dalam ekologi ,

merupakan

bentuk persaingan di mana individu yang berbeda spesies bersaing untuk sumber daya yang sama dalam suatu ekosistem (misalnya makanan atau ruang hidup). Bentuk lain dari kompetisi intraspesifik kompetisi , yang melibatkan organisme dari spesies yang sama.

Jika jenis pohon di sebuah padat hutan tumbuh lebih tinggi dari jenis pohon di sekitarnya, ia mampu menyerap lebih banyak sinar matahari yang masuk. Namun, kurang sinar matahari kemudian tersedia untuk pohon-pohon interspesifik. Kompetisi hanyalah satu yang tidak dari mempengaruhi selalu, mudah banyak struktur langsung, yang dinaungi pohon tinggi, sehingga kompetisi

berinteraksi biotik dan abiotik faktor komunitas. Selain itu, persaingan

interaksi. Kompetisi intraspesifik dapat terjadi ketika individu dari dua spesies terpisah berbagi sumber daya yang membatasi di daerah yang sama. Jika sumber daya tidak dapat mendukung kedua populasi, kemudian menurunkan kesuburan , pertumbuhan, atau kelangsungan hidup dapat menyebabkan setidaknya satu spesies. Kompetisi intraspesifik memiliki potensi untuk mengubah populasi , komunitas dan evolusi spesies

berinteraksi. Pada organisme tingkat individu, persaingan dapat terjadi sebagai gangguan atau persaingan eksploitatif. Kompetisi langsung telah diamati antara individu, populasi dan spesies, tetapi ada sedikit bukti bahwa persaingan telah menjadi kekuatan pendorong dalam evolusi kelompok besar (Anonim, Tanpa tahun). Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu : 1. Jenis tanaman

Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki sistem perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Bentuk daun yang lebar pada daun talas menyebabkan laju transpirasi yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan dalam memperebutkan air. 2. Kepadatan tumbuhan

Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.

3.

Penyebaran tanaman

Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang. Namun persaingan yang terjadi karena faktor penyebaran tanaman sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air. 4. Waktu

Dalam hal ini waktu adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 25-30% pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh persaingan (Wayoujai, 2011). Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat

menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, jagung dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering. Tanaman jagung merupakan tanaman semusim yang termasuk dalam ordo Tripsaceae, famili Poaceae, subfamili Panicoidae dan genus Zea. Tanaman jagung memiliki akar serabut dengan tiga tipe akar, yaitu akar seminal yang rumbuh dari radikula dan embrio, akar adventif yang tumbuh dari buku terbawah, dan akar udara (brace root) (Sudjana et. al., 1991). Batang jagung berbentuk silindris dan terdir dari sejumlah ruas dan buk, dengan panjang yang berbeda-beda tergantung varietas dan lingkungan tempat tumbuh (Goldsworthy dan Fischer, 1992). Suhu optimum untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 20-26 C dengan curah hujan 500-1500 mm per tahun. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30C. Jagung dapat tumbuh di semua jenis tanah, tanah berpasir maupun tanah liat berat. Namun tanaman ini akan tumbuh lebih baik pada tanah yang gembur dan kaya akan humus dengan pH tanah 5,5-7,0 (Suprapto dan Marzuki, 2002). Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/

merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah. Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik (Wayoujai, 2011).

B. Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh jarak tanam (kerapatan tanaman) terhadap laju pertumbuhan tinggi tanaman.

C. Permasalahan
Permasalahan: 1. Apakah ada perbedaan tinggi dan jumlah daun pada tiap perlakuan? 2. Apakah terjadi persaingan pada tanaman jagung tersebut? 3. Apa penyebab terjadinya persaingan?

BAB II METODELOGI

A. Waktu dan Tempat


Hari/ tanggal Waktu Pelaksanaan Tempat : Selasa 4 Oktober 2011 Senin 10 Oktober 2011 : 10.00 WIB : Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Untan

B. Alat dan Bahan


Alat : Pot Penggaris ATK Benang Sekop

Bahan : Tanah Pasir Biji jagung Air

C. Cara Kerja
1. Beberapa pot/polibag diisi dengan tanah 2. Biji jagung dipilih yang masih baik dan sirendam selama satu jam 3. Biji-biji tersebut lalu ditanam dalam pot/polibag yang telah diisi tanah. Perlakuan sebagai berikut : Sebagai cadangan, sediakan beberapa pot yang yang ditanami dengan tanaman sejenis untuk penyulaman apabila ada tanaman yang mati. Penyiraman dilakukan setiap hari

Pengamatan dilakukan setiap hari dan diukur tinggi tanaman sampai tanaman berumur 4 minggu

Tinggi tanaman yang berbeda jarak tanamnya, dibandingkan pada setiap jenis tersebut.

Dibuat grafik pertumbuhan untuk masing-masing pot. Besaran pada sumbu X dinyatakan dalam waktu/minggu dan pada sumbu Y dinyatakan dengan LPT (Laju Pertumbuhan Tanaman)

Untuk mengetahui pengaruh yang nyata dari setiap perlakuan, dilakuakn uji statistic.

BAB III ANALISIS DATA

A. Hasil Pengamatan

Tabel 1. Persaingan Tinggi Tanaman Zea mays L. Perlakuan ( Pot ) Minggu Ke1 2 3 4 Total Rata Rata Kontrol 3,429 26,829 42,8 45,643 118,701 1 1,543 20,629 42 51,357 115,529 2 1,229 18,143 45,3 54,057 118,729 3 1,543 17,857 37 42,071 98,471 Total 7,744 83,458 167,1 193,128 451,43 Rata Rata 1,936 20,8645 41,775 48,282 112,8575 28,21438

29,67525 28,88225 29,68225 24,61775 112,8575

Tabel anova tinggi tanaman Zea mays L. Source Treatment Experimental Error Total df 3 12 15 SS 70,68232 5433,808 5504,49 MS 23,56077 452,8173 Ftest 0,052032

F tabel = 3,490295 Ftabel > Fhitung, maka ada cukup bukti untuk menolak H0, berarti terdapat perbedaan tinggi tanaman Zea mays L pada perlakuan pot persaingan tetapi tidak signifikan.

10

Grafik Perbandingan Tinggi Tanaman Zea Mays L.


60 Tinggi tanaman 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Minggu keSum of KONTROL Kontrol Sum Potof 1 1
Potof 2 2 Sum Potof 3 3 Sum

Tabel 2. Persaingan Jumlah Daun Jagung Perlakuan ( Pot ) Minggu Ke1 2 3 4 Total RataRata Kontrol 0,857 4 5,285 5,285 15,427 1 0,786 3,929 6 6,5 17,215 2 0,257 3,529 5,428 5,629 14,843 3,71075 3 0,5 3,643 5,071 5,314 14,528 3,632 Total 2,4 15,101 21,784 22,728 62,013 15,50325 Rata-Rata 0,6 3,77525 5,446 5,682 15,50325 3,875813

3,85675 4,30375

Tabel anova jumlah daun Zea mays L. Source Treatment Experimental Error Total df 3 12 15 SS 1,080736 66,61404 67,69478 MS 0,360245396 5,551170021 Ftest 0,0649

11

F tabel = 3,49029 Ftabel > Fhitung, maka ada cukup bukti untuk menolak H0, berarti terdapat perbedaan jumlah daun tanaman Zea mays L. pada perlakuan pot persaingan tetapi tidak signifikan.

Grafik Perbandingan Jumlah daun tanaman Zea mays L.


7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 Minggu ke3 4 Jumlah Daun

Sum of KONTROL Kontrol Sum Potof 11 Sum Potof 22 Sum Potof 33

12

B. Pembahasan
Praktikum persaingan antar tanaman sejenis (intraspesifik) ini digunakan tanaman jagung (Zea mays). Untuk diketahui apakah adanya persaingan di antara tanaman jagung tersebut digunakan perhitungan dengan menggunakan RAL. Pada pot 1 ditanam 2 jagung, pot 2 ditanam 4 jagung, pot 3 ditanam 6 jagung dan control di tanam 1 jagung. Yang diukur adalah tinggi tanaman dan jumlah daun jagung. Dari data yang didapat, terlihat tidak adanya persaingan di antara tanaman jagung pada tiap pot. Tetapi terlihat adanya perbedaan bila menggunakan grafik. Hasil yang didapat dari perhitungan dengan menggunakan rumus RAL adalah tidak adanya perbedaan, atau tidak ada persaingan. Tetapi, hal itu tidak signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari grafik yang dibuat yang menunjukkan adanya perbedaan tinggi tanaman jagung dan jumlah daun pada jagung tiap pot. Dari grafik tersebut dapat dilihat adanya persaingan, walaupun kecil. Adanya perbedaan tersebut menandakan adanya persaingan di antara jagung tersebut. Jagung yang hidup sendiri, akan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan jagung yang hidupnya banyak dalam satu pot. Hal ini disebabkan jagung akan bersaing untuk mendapatkan unsure hara bila jagung tersebut hidup banyak dalam 1 pot. Tanaman yang hidup jauh dari tanaman lain akan tumbuh lebih baik karena tidak perlu bersaing untuk mendapatkan unsure hara untuk kehidupannya. Factor lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan jagung tersebut. Lingkungan yang baik dengan perawatan yang baik akan membuat pertumbuhan jagung semakin baik.

13

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah : 1. Adanya perbedaan tinggi dan jumlah daun pada tanaman jagung tersebut. 2. Terjadi persaingan pada tanaman jagung. 3. Persaingan terjadi untuk mendapatkan unsure hara untuk kelangsungan hidup

B. Saran
Adapun saran yang dapat diajukan, yaitu : 1. Ketelitian dalam penghitungan dan pengukuran.

14

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tanpa tahun. Persaingan Interspesifik.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en. wikipedia.org/wiki/Interspecific_competition. Nopember 2011. Anonim. Tanpa tahun. Gulma pada Tanaman Jagung. Diakses; Selasa, 15

http://himagrotek.blogspot.com/2011/09/gulma-pada-tanamanjagung.html. Diakses; Selasa, 15 Nopember 2010. Anonim. 2008. Persaingan. http://www.scribd.com/doc/16632255/PersainganAntar-Tanaman-Sejenis. Diakses, Selasa, 15 Nopember 2011. Anonim. 2008. Persaingan dan Kelangkaan Sumber Daya.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://ww w.globalchange.umich.edu/globalchange1/current/lectures/competition/co mpetition.html. Diakses; Selasa, 15 Nopember 2011. Wayoujai. 2011. Kompetisi Intraspesifik pada Tumbuhan.

http://wayoujiai.wordpress.com/2011/06/18/kompetisi-intraspesifik-padatumbuhan/. Diakses; Selasa, 15 Nopember 2011. Zigen, Afief. 2010. Laporan Praktikum Ekologi Persaingan Intra dan Interspesifik. http://gado-gado-rujak.blogspot.com/2010/04/laporan-

praktikum-ekologi-persaingan.html. Diakses; Selasa, 15 Nopember 2011.

15

LAMPIRAN

Data Pengamatan Persaingan Tanaman Zea mays

NO. 1 2 3 4 5 6 7

Tanggal 11/10/2011 12/10/2011 13/10/2011 14/10/2011 15/10/2011 16/10/2011 17/10/2011 18/10/2011 19/10/2011 20/10/2011 21/10/2011 22/10/2011 23/10/2011 24/10/2011 25/10/2011 26/10/2011 27/10/2011 28/10/2011 29/10/2011 30/10/2011 31/10/2011 1/11/2011 2/11/2011 3/11/2011 4/11/2011 5/11/2011 6/11/2011 7/11/2011 8/11/2011 9/11/2011

Rata-rata Tinggi Tanaman Pot Kontr 1 2 3 ol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,5 1,1 4,5 2 1,9 2,7 5,5 8,8 6,2 7 14

Ratarata 0 0 0 0 1,5 3 9

Rata-rata Jumlah Daun Pot 1 0 0 0 0 1 1,5 3 2 0 0 0 0 0 0 1,8 3 0 0 0 0 0 1,5 2 Kontrol 0 0 0 0 0 3 3

Ratarata 0 0 0 0 0,6 1,5 2,5

10.8 1.543
12,3 15,3 17,8 20,3 23,4 26,5 28,8

8.6 1.229
9,6 12,5 15,5 16,5 20,9 24,8 27,2

10.8 1.543
9,8 12,7 15,4 17,7 20,6 23,3 25,5

24 3.429
16,5 20,5 26,5 27,5 30,3 31,5 35

13.5 1.929
12 15,3 18,8 20,5 23,8 26,5 29

5.5 0.786
3,5 3,5 3,5 3,5 4,5 4,5 4,5

1.8 0.257
2,5 3 3,3 3,3 4 4,3 4,3

3.5 0.5
2,7 3,3 3,5 3,5 3,8 4,2 4,5

6 0.857
3 4 4 4 4 4 5

4.6 0.657
2,9 3,5 3,6 3,6 4,1 4,3 4,6

8 9 10 11 12 13 14

144.4 20.629
30,5 33,3 34,8 35,8 38,3 40,5 42

127 18.143
29,4 31,3 36,3 39,4 41 42,8 45,3

125 17.857
28,6 29,8 32,3 34,4 35,5 36,8 37

187.8 26.829
39 40,5 41 41,5 42 42,2 42,8

145.9 20.843
31,9 33,7 36,1 37,8 39,2 40,6 41,8

27.5 3.929
5 5,5 5,5 6 6 6 6

24.7 3.529
4,3 5,3 5,3 5,3 5,8 6 6

25.5 3.643
4,5 4,5 5 5 5,5 5,5 5,5

28 4
5 5 5 5 5 6 6

26.6 3.8
4,7 5,1 5,2 5,3 5,6 5,9 5,9

15 16 17 18 19 20 21

255.2 42
46,5 48 50,5 51 53 55 55,5

265.5 45.3
48 50,5 53,9 55 56 57 58

234.4 37
38 39 40,5 41 43 45 48

289 42.8
43 43,5 44 45 47 48 49

261.1 41.8
43,9 45,3 47 48 49,8 51,3 52,6

40 6
6 6,5 6,5 6,5 6,5 6,5 7

38 6
6 6 6 5,5 5,3 5,3 5,3

35.5 5.5
5,3 5 6 5 5,3 5,3 5,3

37 6
6 5 5 5 5 6 5

37.7 5.9
5,8 5,6 5,9 5,5 5,5 5,8 5,7

22 23 24 25 26 27 28

359.5 51.357
56 57

378.4 54.057
59 60

294.5 42.071
49 50

319.5 45.643
50 53

337.9 48.271
53,5 55

45.5 6.5
7 7

39.4 5.629
5,6 6

37.2 5.314
5,2 5

37 5.286
5 6

39.8 5.686
5,7 6

29 30

16

31 32

10/11/2011 11/11/2011

59 60

61 63

52 55

56 58

57 59

6,5 6

6,3 6,3

4,9 5

6 6

6 5,8

232 58

243 60.75

206 51.5

217 54.25

224.5 56.125

26.5 6.625

24.2 6.05

20.1 5.025

23 5.75

23.5 5.875

17