Anda di halaman 1dari 3

BERITA ACARA SOSIALISASI PROGRAM SANIMAS

KEGIATAN SOSIALISASI PROGRAM SANIMAS REGULER TAHUN 2013 LOKASI: I. LATAR BELAKANG SANIMAS merupakan suatu pendekatan dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh, dan rawan sanitasi di perkotaan. Dalam pelaksanaan-nya, SANIMAS mengedepankan proses pemberdayaan masyarakat, yaitu melibatkan masyarakat secara penuh dalam setiap tahapannya dengan pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach). SANIMAS diperkenalkan oleh BORDA (Bremen Overseas Research and Development Association)sejak tahun 2003 dengan pilot project di Provinsi Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur (sebanyak 25 lokasi) yang dilaksanakan sejak tahun 2003 hingga 2005. Melihat keberhasilan contoh-contoh tersebut (fasilitas yang dibangun sampai saat ini masih berfungsi dan terpe-lihara dengan baik), maka sejak tahun 2006 Departemen Pekerjaan Umum melalui Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Ditjen Cipta Karya telah melaksanakan replikasi kegiatan SANIMAS, yang hingga saat ini SANIMAS sudah dilaksanakan di lebih dari 400 lokasi yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang begitu cepat terutama di wilayah perkotaan memberikan dampak yang sangat serius terhadap penurunan daya dukung lingkungan. Dampak tersebut harus disikapi dengan tepat khususnya dalam pengelolaan air limbah, oleh karena kenaikan jumlah penduduk akan meningkatkan konsumsi pemakaian air minum/bersih yang berdampak pada peningkatan jumlah air limbah. Pembuangan air limbah tanpa melalui proses pengolahan akan mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan, khususnya terjadinya pencemaran pada sumber-sumber air baku untuk air minum, baik air permukaan maupun air tanah. Pengelolaan air limbah memerlukan prasarana dan sarana penyaluran dan pen-golahan. Pengolahan air limbah permukiman dapat ditangani melalui sistem setempat (on-site)ataupun melalui sistem terpusat (off-site). 1.1. Gambaran Umum Program SANIMAS menggunakan prinsip Demand Responsive Approach(DRA) atau Pendekatan yang Tanggap Terhadap Kebutuhan. Apabila kota/kabupaten tidak menyampaikan minat maka tidak akan difasilitasi. Minat tersebut salah satunya dicerminkan dengan kemauan untuk mengalokasikan dana dari APBD. Oleh karena itu, SANIMAS juga menekankan prinsip pendanaan multi sumber (multisource of fund). SANIMAS juga menggunakan prinsip seleksi sendiri (self selection), opsi teknologi sanitasi, partisipatif dan pemberdayaan. Tahap-tahap pelaksanaan program adalah sebagai berikut: Pertama,kota/kabupaten diundang untuk mengikuti acara multicity seminar atau seminar multi kota/ kabupaten. Dalam seminar tersebut dijelaskan tentang pentingnya penanganan masalah sanitasi, terutama di lingkungan masyarakat berpenduduk padat dan miskin di kawasan perkotaan, sanitasi menjadi tanggung jawab semua pihak, garis besar program SANIMAS termasuk prinsip dan tahap-tahap pelaksanaan SANIMAS dan pendanaannya, peran berbagai pihak dalam pelaksanaan SANIMAS, serta jangka waktu implementasi. Sekembali dari seminar, pemerintah kota/kabupaten yang berminat harus

mengirimkan surat minat ke Departemen PU, untuk kemudian dilakukan penandatanganan kesepakatan MoU. Kedua, pemerintah kota/kabupaten yang sudah menandatangani MoU kemudian mengirimkan tenaga fasilitator dari Dinas Penanggung jawab dan wakil masyarakat untuk mengikuti Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) selama satu minggu bersama dengan TFL dari kota/kabupaten lain. Selama pelatihan, mereka diberi pembekalan berupa pengetahuan dan keterampilan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penerapan SANIMAS. Ketiga, seleksi kampung atau seleksi masyarakat dengan pendekatan self selection yang dimulai dari longlist dan shortlist kampung serta penjelasan program SANIMAS kepada masyarakat yang masuk dalam shortlist. Masyarakat yang tertarik kemudian harus mengirimkan surat undangan kepada Dinas Penanggung jawab untuk difasilitasi SANIMAS. Jika dalam kota/kabupaten terdapat lebih dari satu peminat, sementara dana yang dialokasikan hanya untuk 1 lokasi, maka dilakukan proses seleksi dengan menggunakan metode RPA (Rapid Participatory Appraisal)dengan sistem scoringdimana masyarakat bisa menilai sendiri kemampuannya kemudian ber-dasarkan nilai yang ada sudah bisa ditentukan sendiri pemenangnya dengan sistem ranking. Model seleksi ini dilakukan dengan cara transparan dan adil dalam sebuah pertemuan dengan para wakil masyarakat. Hasil dari seleksi kemudian disepakati dengan penandatanganan Berita Acara oleh semua stakeholder yang hadir dalam pertemuan tersebut. Keempat, tahap berikutnya adalah penyusunan dokumen rencana kerja masyarakat atau disingkat RKM, yang dilakukan secara partisipatif. Masyarakat diberikan ruang seluas mungkin untuk mengambil keputusan untuk menangani sanitasinya sendiri. Kegiatan ini dimulai dari penentuan calon penerima manfaat program, pemetaan wilayah pelayanan, pemilihan sarana teknologi sanitasi, penyusunan detailed engineering design (DED), penyusunan rencana anggaran dan belanja (RAB), penentuan kelompok swadaya masyarakat (KSM) pengguna, penentuan dan kesepakatan iuran baik untuk pembangunan maupun operasional dan perawatan, serta legalisasi dokumen RKM. Kelima, adalah tahap konstruksi dan capacity building dimana pada tahap ini mulai dilakukan pelatihan-pelatihan kepada KSM sebagai penanggung jawab pekerjaan pembangunan, pelatihan tukang dan mandor, persiapan pekerjaan konstruksi, pengadaan barang, pengawasan kualitas barang dan kualitas pekerjaan, pengerahan tenaga kerja, keamanan selama pekerjaan konstruksi, sampai komisioning bangunan serta keuangan dan kelembagaan. Setelah semua pekerjaan pembangunan selesai, juga diberikan pelatihan operasional dan pemeliharaan kepada KSM, operator dan masyarakat pengguna agar masyarakat tahu cara-cara penggunaan fasilitas sanitasi dengan benar dan operator bisa merawat dengan baik agar bangunan aman dan tahan lama, serta KSM tahu tanggung jawab yang harus diemban selama masa operasional dan pemeliharaan sarana sanitasi ini, terutama mengelola iuran masyarakat pengguna. Keenam, adalah dukungan untuk operasional dan pemeliharaan sarana SANIMAS. Agar sarana sanitasi yang telah dibangun tersebut benar-benar berkelanjutan (sustainable) maka perlu dukungan terhadap KSM maupun masyarakat dan operator. Selama masa ini, di-lakukan kegiatan monitoring kualitas effluent agar diketahui secara terus menerus kualitas limbah cair rumah tangga yang dibuang ke sungai sudah benar-benar memenuhi persyaratan baku mutu lingkungan. Monitoring juga dilakukan terhadap aspek keuangan (iuran pengguna) serta keberadaan dan fungsi KSM sebagai pengelola. Dukungan juga bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten dan institusi terkait dengan bentuk pemberian insentif kepada masyarakat yang mengelola limbahnya sendiri. A. B. C. D. LANDASAN HUKUM PROGRAM SANIMAS MAKSUD DAN TUJUAN PELAKSANAAN PROGRAM SOSIALISASI HASIL SOSIALISASI

E. LAMPIRAN