Anda di halaman 1dari 78

CV.

TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

E.1.

UMUM 1. Latar Belakang a. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, mengarahkan bahwa dalam rangka penataan ruang perlu disusun Rencana Umum Tata Ruang untuk seluruh wilayah provinsi dan kabupaten/kota beserta Rencana Rincinya. Provinsi Bali telah berhasil merampungkan penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) sesuai ketentuan, yang telah dituangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Provinsi Bali Tahun 2009 - 2029. b. Segera setelah ditetapkannya Perda RTRWP Provinsi Bali, maka selanjutnya Perda yang masih merupakan rencana umum tersebut perlu ditindaklanjuti penjabarannya agar lebih operasional menjadi rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kota dalam bentuk RTRW Kabupaten/Kota dan rencana rinci tata ruang dalam bentuk Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Provinsi. Penyusunan RTRW Kabupaten/Kota merupakan tugas dan kewenangan tiap Kabupaten/Kota yang harus sinkron dengan RTRWP Bali. Sedangkan penyusunan RTR Kawasan Strategis Provinsi adalah tugas dan kewenangan dari Pemerintah Provinsi Bali. c. Kawasan Strategis Provinsi Bali adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

dalam lingkup provinsi berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya Bali, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi dan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. d. Pada Pasal 82 ayat (1) Perda No. 16 Tahun 2008 diuraikan bahwa penetapan kawasan strategis Provinsi Bali dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi adalah berupa kawasan pusat pelayahan transportasi wilayah (pelabuhan, bandar udara, terminal penumpang), kawasan pariwisata dan daya tarik wisata khusus (DTWK), Kawasan Industri, kawasan perkotaan fungsi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan wilayah (PKW) dan kawasan sepanjang jalan arteri primer. Kawasan pelabuhan sebagai kawasan strategis berdasarkan arahan Perda adalah Pelabuhan : Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Padangbai, Pelabuhan Benoa, Pelabuhan Celukan Bawang, Pelabuhan Gunaksa, Pelabuhan Amed, Pelabuhan Sangsit, Pelabuhan Pegametan, Pelabuhan Pariwisata Tanah Ampo, Pelabuhan Perikanan Pantai Pengambengan, Pelabuhan Depo Minyak Labuhan Amuk. e. Salah satu kawasan pelabuhan yang menjadi Kawasan Strategis Provinsi adalah Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. Berdasarkan Pasal 28 ayat (3) Perda 16 Tahun 2009 Pelabuhan Gilimanuk diarahkan sebagai Pelabuhan Penyeberangan yang berfungsi melanjutkan jalur transportasi darat antara pulau Jawa dan Pulau Bali. f. Kawasan Pelabuhan Gilimanuk selain terdiri dari pelabuhan Gilimanuk itu sendiri juga terkait dengan kawasan di sekitarnya seperti Terminal Gilimanuk dan fungsi kegiatan budidaya lainnya di Kawasan Gilimanuk termasuk kawasan permukiman, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan lainnya. Kawasan Gilimanuk dengan adanya aktivitas Pelabuhan Gilimanuk telah berkembang menjadi Kawasan Perkotaan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

sekaligus dalam Raperda RTRWK Jembrana diusulkan menjadi Pusat Kegiatan Lokal (PKL). g. Tindak lanjut operasional dari pendayagunaan Perda RTRWP Bali 2009-2029 adalah penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang dalam bentuk RTR Kawasan Strategis di seluruh kawasan strategis. Dengan demikian segera setelah ditetapkannya Perda RTRWP Bali, Kawasan Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi Bali, juga dikembangkan RTR-nya yang selanjutnya ditetapkan dalam Peraturan Daerah. h. Terkait dengan hal tersebut, maka Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2012 melalui SKPD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali akan melakukan kegiatan Penyusunan Materi Teknis RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, dengan kedalaman Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan. i. Penyusunan Raperda RTRW Kabupaten Jembrana dan penyusunan RDTR Kawasan Strategis Kabupaten yang berkaitan di Kabupaten Jembrana yang sedang berjalan diharapkan dapat saling menunjang dan saling melengkapi dengan penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk. j. Pelaksanaan pekerjaan Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan

Gilimanuk tersebut akan ditugaskan kepada Badan Usaha Penyedia Jasa Konsultansi yang bergerak dalam bidang Tata Lingkungan Sub Bidang Jasa Perencanaan Urban yang dipilih melalui seleksi berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini. Melalui KAK ini, konsultan yang ditunjuk diharapkan dapat melakukan pekerjaan perencanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dikerjakannya.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

2.

Maksud dan Tujuan Maksud kegiatan adalah untuk menyusun dokumen Rencana Rinci Tata Ruang (RTR) Kawasan Pelabuhan Gilimanuk sebagai penjabaran dari RTRWP Provinsi Bali dan RTRWK Jembrana yang selanjutnya menjadi rujukan dalam pengembangan Rancangan Peraturan Daerah tentang RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. Tujuan penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang (RTR) Kawasan Pelabuhan Gilimanuk adalah : a. Mendayagunakan dan menjabarkan RTRWP Bali dan RTRWK Jembrana di Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. b. Sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi operasional penataan ruang di Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. c. Sebagai arah perwujudan struktur ruang dan pola ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk sebagai kawasan strategis pelabuhan. d. Menegaskan blok-blok zonasi peruntukan ruang dari berbagai fungsi kegiatan bagi perwujudan kawasan pelabuhan penyeberangan. e. Memberikan arah lokasi investasi yang tegas kepada pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. f. Memberikan arahan bagi penyusunan program-program pembangunan fisik di Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. g. Memberikan arah pengendalian pemanfaatan ruang yang lebih tegas dan operasional.

3.

Sasaran Sasaran penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk adalah : a. Umum Teroperasionalkannya RTRWP Bali dan RTRWK Jembrana. Terciptanya harmonisasi wujud ruang antara kepentingan

pelestarian lingkungan, kegiatan pelabuhan, kegiatan sosial ekonomi dan kegiatan sosial budaya.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Tersedianya pedoman pengembangan program pembangunan kawasan.

Tersedianya pedoman pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Terakomodasinya harmonis. berbagai kepentingan stakeholder secara

b. Khusus Terwujudnya RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk dalam bentuk Materi Teknis, Album Peta Rencana Tata Ruang, Indikasi Program Pembangunan serta naskah Rancangan Peraturan Daerah tentang RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. 4. Lokasi Kegiatan Lokasi kegiatan adalah di Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana. 5. Data Dasar a. Data-data kebijakan dan peraturan seperti : Perda No. 16/2009 tentang RTRWP Bali, Raperda RTRWK Jembrana, kebijakan dan peraturan lain terkait. b. Data-data kondisi fisik sosial budaya dan ekonomi kawasan terkait. c. Konsultan wajib menyediakan peta dasar kawasan berbasis Citra Satelit dan penggunaan lahan terkini. d. Selain data di atas, konsultan wajib mencari data yang diperlukan dengan usahanya sendiri. Konsultan juga wajib menguji kebenaran data yang diperoleh, kesalahan perencanaan kabiat kesalahan data menjadi tanggungjawab konsultan. E.2. APRESIASI DAN INOVASI 1. Apresiasi a. Referensi Hukum dan Standar Teknis Semua produk pengaturan Tata Ruang harus bersifat hirarkis dan komplementer sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Sesuai dengan konstelasi peraturan perundang-undangan penataan ruang, Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk

sebagai salah satu Kawasan Strategis Provinsi merupakan penjabaran sampai tingkat ketentuan operasional dari Peraturan Daerah Provinsi Nomor 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali serta tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan semua turunannya. Ketentuan peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam penyusunan rencana tata ruang kawasan ini antara lain adalah : (1) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; (2) (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; (4) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; (5) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang; (6) Peraturan Pemerintah Nomor 15/2010 tentang

Penyelenggaraan Penataan Ruang; (7) Peraturan Pemerintah Nomor 68/2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang; (8) Peraturan Menteri PU Nomor 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(9)

Peraturan Menteri PU Nomor 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota;

(10) Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali. b. Pengertian dan Definisi Beberapa pengertian dasar perencanaan dalam pekerjaan Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk seperti yang tercantum dalam UU RI Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU RI Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Peraturan Mentri PU No. 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten Kota, adalah sebagai berikut : Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.

Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.

Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengendalian

Pemanfaatan

Ruang

adalah

upaya

untuk

mewujudkan tertib tata ruang. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan ketentuan khusus yang ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan, dan/atau persil. Rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten/kota, rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota, penetapan kawasan strategis kabupaten/kota, arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

kabupaten/kota kabupaten/kota.

yang

dilengkapi

dengan

peraturan

zonasi

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang selanjutnya disingkat RTBL adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.

Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.

Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP adalah bagian dari kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis kabupaten/kota yang akan atau perlu

Pelayaran adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim.

Kepelabuhan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dan keamanan berlayar, tempat perpindahan intra-dan/atau antarmoda serta mendorong perekonomian nasional dan daerah dengan tetap memperhatikan tata ruang wilayah.

Tatanan

Kepelabuhanan

Nasional

adalah

suatu

sistem

kepelabuhanan yang memuat peran, fungsi, jenis, hierarki pelabuhan, Rencana Induk Pelabuhan Nasional, dan lokasi

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

pelabuhan

serta

keterpaduan

intra-dan

antarmoda

serta

keterpaduan dengan sektor lainnya. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi. Pelabuhan Utama adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antar provinsi. Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi. Pelabuhan Pengumpan adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi. Terminal adalah fasilitas pelabuhan yang terdiri atas kolam sandar dan tempat kapal bersandar atau tambat, tempat

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

penumpukan, tempat menunggu dan naik turun penumpang, dan/atau tempat bongkar muat barang. Terminal Khusus adalah terminal yang terletak di luar Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian dari pelabuhan terdekat untuk melayani kepentingan sendiri sesuai dengan usaha pokoknya. Terminal untuk Kepentingan Sendiri adalah terminal yang terletak di dalam Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian dari pelabuhan untuk melayani kepentingan sendiri sesuai dengan usaha pokoknya. Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) adalah wilayah perairan dan daratan pada pelabuhan atau terminal khusus yang digunakan secara langsung untuk kegiatan pelabuhan. Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) adalah perairan di sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran. 2. Inovasi a. Umum Perencanaan merupakan bagian awal dari proses keseluruhan pembangunan. Pelaksanaan pembangunan tanpa sebuah rencana tidak akan mencapai tujuan dan sasaran, oleh karena itu keberadaan sebuah rencana sangat mutlak diperlukan, mulai dari Rencana Makro seperti rencana pembangunan kota dan wilayah, hingga Rencana Mikro seperti struktur dan infrastruktur yang merupakan sarana dan prasarana pengembangan kota dan wilayah itu sendiri. Maka dari itu sangatlah bijak apabila semua kawasan yang ada di wilayah Bali mempunyai rencana pengembangan kawasan terutama kawasan khusus (konservasi, cepat tumbuh) dan kawasan strategis. Rencana Tata Ruang

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(RTR) merupakan bagian dari rencana tata ruang (spatial planning) untuk pedoman mengarahkan pembangunan kawasan menuju tujuan dan sasaran yang ditetapkan, dalam RTR Kawasan, Rencana Penggunaan Lahan, Rencana Peruntukan Pemanfaatan/Fungsi Ruang dan Rencana Struktur Ruang serta Pedoman/Persyaratan Teknis yang diijinkan dalam pembangunan sarana dan prasarana kawasan. b. Pemahaman tentang Pelabuhan Menurut R. Bintarto, pelabuhan mempunyai empat arti, meliputi : (1) Arti ekonomis karena pelabuhan mempunyai fungsi sebagai tempat ekspor impor dan kegiatan ekonomi lainnya yang saling berhubungan sebab akibat. (2) Arti budaya karena pelabuhan menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa, sehingga kontak-kontak sosial budaya dapat terjadi dan berpengaruh terhadap masyarakat setempat. (3) Arti politis karena pelabuhan mempunyai nilai ekonomis dan merupakan urat nadi negara, maka harus dipertahankan. (4) Arti geografis karena keterkaitannya dengan lokasi dan syaratsyarat dapat berlangsungnya suatu pelabuhan. c. Arahan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN Dalam Pasal 24 ayat (1) RTRWN disebutkan bahwa jaringan transportasi penyeberangan terdiri atas pelabuhan penyeberangan dan lintas penyeberangan. Selanjutnya disebutkan jaringan transportasi penyeberangan terdiri atas pelabuhan penyeberangan dan lintas penyeberangan. Pelabuhan penyeberangan terdiri atas : Pelabuhan penyeberangan lintas antar provinsi dan antar negara; Pelabuhan penyeberangan lintas antar kabupaten/kota; dan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Pelabuhan penyeberangan lintas dalam kabupaten.

Lintas penyeberangan terdiri atas : lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antar jaringan jalan nasional dan antarjaringan jalur kereta api antar provinsi; lintas penyeberangan antar negara yang menghubungkan antar jaringan jalan pada kawasan perbatasan; lintas penyeberangan lintas kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan provinsi dan jaringan jalur kereta api dalam provinsi; dan lintas pelabuhan penyeberangan dalam kabupaten/kota yang menghubungkan antarjaringan jalan kabupaten/kota dan jaringan jalur kereta api dalam kabupaten/kota. Pelabuhan Gilimanuk merupakan pelabuhan penyeberangan dengan lintas penyeberangan antarprovinsi yang menghubungkan antar jaringan jalan nasional dan antarjaringan jalur kereta api antar provinsi. d. Arahan Perda No. 16 Tahun 2009 tentang RTRWP Bali Pengembangan sistem jaringan transportasi darat di Provinsi Bali diarahkan pada pemeliharaan, peningkatan dan pembangunan jalan, pelabuhan penyeberangan, peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan angkutan umum, manajemen dan rekayasa lalu lintas serta pengembangan sistem jaringan transportasi darat lainnya. Pelabuhan Gilimanuk yang merupakan salah satu Kawasan Strategis Provinsi Bali berdasarkan kepentingan pertumbuhan ekonomi adalah salah satu pelabuhan penyeberangan di Provinsi Bali yang berfungsi untuk pelayanan penyeberangan antar provinsi. Lintas penyeberangan Pelabuhan Gilimanuk adalah lintas penyeberangan antar provinsi pada

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

perairan Selat Bali antara Pelabuhan Ketapang (Provinsi Jawa Timur) dengan Pelabuhan Gilimanuk. Arahan peraturan zonasi kawasan di sekitar penyeberangan, mencakup: pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan; pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku; dan pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar badan air di sepanjang lintas penyeberangan dilakukan dengan tidak mengganggu aktivitas penyeberangan. e. Arahan RTRWK Jembrana Berdasarkan RTRWK Jembrana, pelabuhan penyeberangan di

Kabupaten Jembrana terdapat di Gilimanuk, Kecamatan Melaya. Pelabuhan penyeberangan ini merupakan pelabuhan penyeberangan satu-satunya yang menghubungkan pulau Bali dengan pulau-pulau lainnya terutama Jawa. Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk ke depan diarahkan untuk optimalisasi dalam melayani jamjam puncak, mengantisipasi kebutuhan di masa yang akan datang serta mengembangkan rute-rute penyeberangan baru.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

f.

Gambaran Umum Kawasan Perencanaan Batas Administrasi

Kabupaten Jembrana merupakan pintu masuk Pulau Bali, dimana melalui Pelabuhan Gilimanuk yang terletak di ujung barat wilayah Kabupaten Jembrana, manusia, barang dan jasa akan masuk menuju ke Kabupaten Buleleng, di sebelah utara dan Kabupaten Tabanan, Badung, Kota Denpasar di bagian timur dan selanjutnya kabupaten lainnya di bagian timur Pulau Bali. Pelabuhan Gilimanuk yang berfungsi untuk pelayanan kapal penyeberangan antar provinsi dan wilayah sekitarnya terletak di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya. Kelurahan Gilimanuk memiliki luas wilayah sebesar 5.601 Ha, dengan batas-batas administrasi sebagai berikut : Utara Selatan Barat Selatan : : : : Teluk Gilimanuk Desa Sumberklampok, Kab. Buleleng Selat Bali Desa Melaya

Untuk lebih jelasnya mengenai orientasi Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, dapat dilihat pada Gambar E.1. Kondisi Fisik Dasar (1) Topografi

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Keadaan topografi di Kelurahan Gilimanuk bervariasi dengan bentuk permukaan wilayah datar, landai, berbukit dan curam.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Kelurahan Gilimanuk Gambar E.1. Orientasi Wilayah Studi

Provinsi Bali

Kecamatan Melaya

Kabupaten Jembrana

E - 16

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Gambar E.2. Pelabuhan Gilimanuk

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Titik tertinggi di Kelurahan Gilimanuk adalah 616 m sedangkan titik terendah adalah 3 m dengan jarak antara titik tertinggi dan terendah adalah 7 m sedangkan rata-rata kemiringan tanah adalah 8,76 m. (2) Fisiografi dan Morfologi Kondisi fisografi dan morfologi di Kelurahan Gilimanuk digambarkan melalui kondisi fisiografi dan morfologi Kabupaten Jembrana secara umum. Pada bagian utara wilayah Kabupaten Jembrana mempunyai fisiografi dan morfologi pegunungan yang dibentuk oleh deretan Gunung Pengineman, Gunung Klatakan, Gunung Bakungan, Gunung Nyangkrut, Gunung Sanggang dan Gunung Batas. Wilayah bagian utara ini memiliki kemiringan lereng yang bervariasi dengan vegetasi utama adalah hutan lindung. Di bagian selatan wilayah Kabupaten Jembrana mengalir beberapa sungai antara lain Sungai Klatakan, Belatung, Sangiang Gede, Nyangkrut dan Tukad Daya. Keberadaan sungai tersebut sekaligus membagi wilayah Kabupaten Jembrana bagian Selatan menjadi dua kelompok morfologi yaitu wilayah datar sampai bergelombang dan wilayah berbukit bukit. (3) Geologi Kondisi geologi digambarkan melalui kondisi geologi Kabupaten Jembrana secara umum. Berdasarkan data peta geologi Kabupaten Jembrana (Purbo Hadiwidjojo) dapat diketahui bahwa wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis batuan, yaitu : Formasi Gamping Agung Batuan Gunung Api Jembrana Formasi Palasari Formasi

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Alluvium Formasi Sorga

Berdasarkan peta jenis tanah Provinsi Bali wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis tanah yaitu : Tanah Latosol Coklat dan Litosol (Inceptisol) Jenis tanah ini tersebar di empat wilayah Kabupaten Jembrana, yang paling luas terdapat di Kecamatan Mendoyo (25.985 Ha), di Kecamatan Melaya (16.319 Ha), Kecamatan Negara (14.130 Ha) dan Kecamatan Pekutatan (12.169 Ha). Jenis tanah ini dibentuk oleh bahan induk abu vulkanik intermediet dengan kandungan bahan organik yang rendah sampai sedang dan pH berkisar antara 4,5 5,5. Tanah Alluvial Coklat Kelabu Tanah ini merupakan tanah endapan sungai dengan luas kurang lebih 10.750 Ha sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara (5.725 Ha). Tanah Mediteran Coklat Jenis tanah ini dibentuk oleh bahan induk batuan gamping dengan bentuk morfologi bergelombang sampai berbukit bukit. Jenis tanah ini mendominasi wilayah Kecamatan Melaya (1.878 Ha). Tanah Regosol Coklat Kelabu Jenis tanah ini sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara seluas 772 Ha dan di wilayah Kecamatan Mendoyo seluas 648 ha. Tanah ini terbentuk oleh induk vulkanik intermedier dengan bentuk wilayah landai sampai berombak.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Tanah Alluvial Hidromorf Jenis tanah ini terdapat di wilayah Kecamatan Nagara khususnya di sepanjang wilayah pantai selatan. Luas jenis tanah ini kurang lebih 1.420 Ha. Tanah ini merupakan sedimen darat dan laut yang dibentuk oleh lempeng pasir dan pecahan karang.

Masing-masing jenis tanah tersebut di atas mempunyai tekstur yang berbeda beda umumnya tekstur wilayah di Kabupaten Jembrana tergolong tekstur halus (kandungan liat sangat tinggi). Sedangkan tekstur kasar (pasir dan lempung berpasir) merupakan tekstur tanah yang terdapat di sepanjang pantai dari wilayah Kabupaten Jembrana. (4) Hidrogeologi Kondisi hidrogeologi digambarkan melalui kondisi hidrogeologi Kabupaten Jembrana secara umum. Kabupaten Jembrana mempunyai karakteristik hidrologi yang beragam sehingga secara relatif memiliki sumber daya air yang kaya dibandingkan wilayah lainnya di Bali. Karakteristik hidrologi tersebut meliputi sungai, mata air, sumur galian dan bendungan. Sungai Di wilayah Kabupaten Jembrana terdapat beberapa sungai yang mengalir dan bermuara di Kecamatan Negara, Melaya, Mendoyo dan Pekutatan. Sungai terpanjang adalah Tukad Biluk Poh yaitu sepanjang 28.000 km yang terletak di Kecamatan Mendoyo. Hanya terdapat 3 (tiga) sungai yang telah dimanfaatkan sebagai sumber air untuk pemenuhan kebutuhan air, yaitu Pangkung Gayung, Yeh Embang dan Pangkung Apit.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Mata Air dan Sumur Galian Berdasarkan Jembrana data (2011), dari laporan mata PDAM air Kabupaten yang telah sumber

dimanfaatkan airnya oleh masyarakat berjumlah 3 titik mata air, dengan debit 47 l/detik. Sedangkan jumlah sumur gali yang telah dimanfaatkan sebanyak 332 l/dt. Bendungan Untuk mengatasi kekurangan pasokan kebutuhan air maka dilakukan pembuatan bendungan dengan tujuan agar debit sungai bisa lebih stabil sehingga ketersediaan air baku bagi PDAM lebih terjaga. Terdapat 17 bendungan di Kabupaten Jembrana dengan kapasitas bendungan berkisar antara 0,173 m3/detik 1,920 m3/detik. Potensi Air Tanah Potensi air tanah sangat tergantung dari formasi bantuan dan struktur geologi yang ada di bawah permukaan tanah. Formasi batuan dan struktur geologi akan mempengaruhi aquifer yang ada di bawah permukaan tanah. Sebagian besar wilayah Kabupaten Jemburana struktur hidrologinya tergolong memiliki akuifer produktif sehingga memungkinkan dikembangkan sebagai sumber air bersih. Daerah yang hidrologinya sebagai akuifer produktif tinggi dengan debit lebih dari 10 lt/detik, penyebarannya di Kecamatan Negara, Melaya (Nusasari dan Moding) dan Pekutatan (Pekutatan Persil).

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(5) Curah Hujan Curah hujan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim, letak geografis dan perputaran arus udara. Oleh karena itu julah curah hujan sangat beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamatan. Dari 10 stasiun pencatatan, untuktahun 2009 curah hujan yang terbanyak terjadi di Kabupaten Jembrana yaitu pada bulan September dengan rata-rata curah hujan mencapai 228,14 mm dengan rata-rata 10 hari hujan. Tabel E.1 Curah Hujan pada Stasiun Pengamatan di Kabupaten Jembrana Tahun 2009
No . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Septembe r Oktober Nopember Desember Jumlah Palasar i 154 78 232 Nomor dan Tempat Stasiun Pencatat Poh Tgl Tetelan Cekik Negara Sante Rambutsiwi Cangkring n 299 152 244 252 161 281 101 208 202 156 90 62 56 56 253 184 2 2 15 22 113 89 113 6 3 3 0 0 415 239 10 240 1354 399 294 18 275 1925 206 243 25 211 1547 255 520 46 408 2103

Melaya 0

Gumbrih 0

Sumber : Kabupaten Jembrana Dalam Angka, 2010

Pemanfaatan Ruang (1) Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Kelurahan Gilimanuk terdiri dari jenis penggunaan untuk hutan, pekarangan dan penggunaan lainnya. Kelurahan Gilimanuk dengan luas lahan sebesar

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

5.601 Ha didominasi oleh penggunaan lahan untuk hutan seluas 5.200 Ha (92,84%). Tabel berikut merupakan rincian penggunaan lahan di Kelurahan Gilimanuk. Tabel E.2 Penggunaan Lahan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jenis Penggunaan Lahan Sawah Tegal/Huma Perkebunan Hutan Pekarangan Tambak Lainnya Luas (Ha) 5.200 325 71,10

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

(2) Fasilitas Lingkungan Pada umumnya bangunan di Kelurahan Gilimanuk memiliki fungsi sebagai bangunan tempat tinggal, penggunaan lainnya adalah untuk toko/perdagangan dan industri kerajinan. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah bangunan menurut penggunaannya di Kelurahan Gilimanuk dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel E.3 Jumlah Bangunan menurut Penggunaannya di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

No. 1. 2. 3. 4.

Jenis Penggunaan Tempat Tinggal Bukan Tempat Tinggal Toko/Perdagangan Industri Kerajinan Jumlah

Jumlah (Unit) 1.645 79 126 44 1.894

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Fasilitas Sosial dan Umum

Fasilitas Pendidikan Secara umum fasilitas pendidikan di Kelurahan Gilimanuk cukup lengkap mulai dari jenjang pendidikan TK sampai dengan SMA. Fasilitas pendidikan tingkat SD merupakan jenis fasilitas pendidikan yang paling banyak terdapat di Kelurahan Gilimanuk. Tabel E.4 Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Fasilitas Pendidikan TK SD SLTP SMA Akademi/Universitas Jumlah Jumlah (Unit) 3 5 2 1 11

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Fasilitas Kesehatan Guna memberikan pelayanan kesehatan kepada

penduduknya, maka di Kelurahan Gilimanuk tersedia berbagai jenis fasilitas kesehatan. Jumlah dan persebaran fasilitas kesehatan di Kelurahan Gilimanuk dapat dilihat pada tabel berikut.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Tabel E.5 Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. Jenis Fasilitas Kesehatan 1. Poliklinik/Polindes Puskesmas dan Puskesmas 2. Pembantu 3. RS Bersalin/BKIA 4. Posyandu Jumlah
Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Jumlah (Unit) 1 8 9

Fasilitas Peribadatan Fasilitas peribadatan di Kelurahan Gilimanuk cukup lengkap tersedia untuk semua pemeluk agama, yaitu masjid, gereja, pura dan klenteng/vihara. Untuk Pura, terdapat tiga jenis Pura yaitu Pura Dang Kahyangan, Kahyangan Tiga, dan Pura lainnya. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah dan persebaran fasilitas peribadatan serta tingkatan Pura di Kelurahan Gilimanuk dapat dilihat pada tabel berikut.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Tabel E.6 Jumlah Tempat Peribadatan menurut Agama di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. Jenis Sarana Masjid/Langgar/Mushola Gereja Pura Klenteng/Vihara Jumlah Jumlah (Unit) 14 2 7 1 24

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Tabel E.7 Jumlah Pura menurut Tingkatannya di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. 5. Tingkatan Pura Sad Kahyangan Dang Kahyangan Kahyangan Tiga Pura Subak Pura lainnya Jumlah Jumlah (Unit) 1 2 3 6

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Fasilitas Olahraga Fasilitas olahraga yang terdapat di Kelurahan Gilimanuk meliputi lapangan olahraga berupa lapangan sepakbola, bola voli, tenis meja, dan bulu tangkis. Untuk lebih jelasnya mengenai fasilitas olahraga di Kelurahan Gilimanuk dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel E.8 Jumlah Fasilitas Olahraga di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. Jenis Fasilitas Olahraga 1. Sepakbola Jumlah (Unit) 1

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

2. 3. 4. 5.

Volley Ball Tenis Meja Bulutangkis Lainnya Jumlah

3 3 1 8

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Fasilitas Ekonomi Fasilitas ekonomi yang terdapat di Kelurahan Gilimanuk meliputi pusat-pusat niaga seperti pasar, kelompok pertokoan, rumah makan, warung, art shop serta perkantoran seperti sarana bank dan lembaga keuangan lainnya. Tabel-tabel di bawah ini menyajikan data-data pusat-pusat Provinsi Bali niaga dan perkantoran di Kelurahan Gilimanuk.

Tabel E.9 Jumlah Pusat Perniagaan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. Jenis Sarana 1. Pasar Umum 2. Pasar Hewan 3. TPI Jumlah (Unit) 1 -

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

4. 5. 6. 7.

Kelompok Toko Rumah Makan/Restoran Warung Art Shop Jumlah

1 16 225 13 256

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Tabel E.10 Jumlah Sarana Bank dan Lembaga Keuangan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. Jenis Sarana Bank LPD BUUD/KUD Lainnya Jumlah Jumlah (Unit) 3 1 2 6

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Kependudukan (1) Jumlah, Sebaran dan Kepadatan Penduduk Jumlah penduduk di Kelurahan Gilimanuk berdasarkan data BPS Tahun 2010 berjumlah total 8.352 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk adalah sebesar 149 jiwa/km2.

(2) Struktur Penduduk Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Dari data struktur penduduk di kawasan perencanaan berdasarkan kelompok umur, diketahui bahwa kelompok umur 30 34 tahun yang tergolong dalam usia produktif menunjukkan angka yang paling tinggi yaitu sebesar 833 jiwa atau 9,8%. Sedangkan penduduk pada kelompok umur 65 69

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

tahun yang tergolong dalam usia tidak produktif menunjukkan angka yang paling rendah yaitu sebesar 165 jiwa atau 1,9%. Sedangkan berdasarkan data penduduk menurut jenis kelamin Tahun 2010 di Kelurahan Gilimanuk yang dikeluarkan oleh BPS, jumlah penduduk laki-laki hampir sebanding jumlahnya dengan penduduk perempuan. Jumlah penduduk laki-laki sebesar 4.155 jiwa dan penduduk perempuan sebesar 4.197 jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 98,99%. Untuk lebih jelasnya mengenai struktur penduduk di Kelurahan Gilimanuk berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Tabel E.11 Struktur Penduduk menurut Kelompok Umur di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 Jumlah Penduduk (jiwa) Kelompok Umur L P 04 371 392 59 409 391 10 14 419 340 15 19 388 315 20 24 402 314 25 29 351 365 30 34 381 452 35 39 290 326

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 65 69 >70 Total

261 310 303 149 109 89 101 4.333

316 357 203 107 128 76 103 4.185

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Kelompok Umur (Tahun)


Perempuan Perempuan Laki-laki Laki-laki

(Jiwa )

Gambar E.3 Struktur Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 Struktur Penduduk Menurut Agama Penduduk di Kelurahan Gilimanuk cenderung heterogen dalam memeluk agama, mengingat di kawasan ini banyak terdapat penduduk pendatang. Penduduk di Kelurahan Gilimanuk pada umumnya memeluk agama Islam dan Kristen Protestan.

(Jiwa )

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Untuk lebih jelasnya mengenai struktur penduduk di Kelurahan Gilimanuk berdasarkan agama dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel E.12 Jumlah Penduduk menurut Agama di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Agama Islam Kristen Protestan Katolik Hindu Buddha Jumlah Jumlah (Jiwa) Laki-laki 1.982 2.262 2 52 20 4.318 Perempuan 2.027 1.917 3 61 26 4.034

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Prasarana dan Utilitas Umum (1) Jaringan Transportasi


A. Jaringan Jalan dan Terminal

Tabel berikut menyajikan panjang jalan menurut jenisnya di Kelurahan Gilimanuk.

Tabel E.13 Panjang Jalan menurut Jenisnya dan Jumlah Jembatan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. Jenis Jalan 1. Aspal 2. Diperkeras 3. Tanah Panjang (Km) 21,75 9,00 28,00

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

4.

Jembatan Jumlah

2,00 60,75

Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Tabel E.14 Panjang Jalan Aspal menurut Jenisnya di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. Jenis Jalan 1. Negara 2. Provinsi 3. Kabupaten Jumlah
Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Panjang (Km) 3,37 1,91 16,47 21,75

Terdapat satu buah terminal penumpang di Kelurahan Gilimanuk yaitu Terminal Gilimanuk yang terletak dekat pelabuhan Gilimanuk.

B. Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk

Sarana penyebrangan Pelabuhan yaitu :

Angkutan di Gilimanuk

Dermaga Movable : 2 Buah

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Dermaga Ponton : 1 Buah Dermaga LCM : 2 Buah Kapal : 22 Buah Jembatan Timbang : 1 Buah

Kapasitas muat kapal penyeberangan sebanyak 31.272 orang dan 3.382 kendaraan dengan 8 trip per hari, fasilitas penyeberangan juga dilengkapi sarana parkir seluas 900 m2 termasuk bangunan penunjang. Sarana administrasi dan pengamanan Pelabuhan

Penyeberangan Gilimanuk, meliputi : Syahbandar KP3 Polsek Angkatan Laut Satuan Polisi Air PT. ASDP PJR (Polisi Jalan Raya) PM (Polisi Militer) Karantina Hewan Karantina Tumbuhan

(2) Utilitas Umum


A. Listrik

Sumberdaya energi adalah sebagian dari sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan atau energi baik secara langsung maupun dengan proses konservasi atau transportasi. Pengembangan sumberdaya

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

energi

dimaksudkan

untuk

menunjang

penyediaan

jaringan listrik dan pemenuhan energi. Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan dalam menunjang kesejahteraan hidup masyarakat. Pemakaian energi listrik akan semakin terasa pentingnya dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan teknologi yang umumnya menggunakan energi listrik sebagai sumber tenaga. Oleh karena itu, pemakaian energi listrik di Kabupaten Jembrana termasuk juga di Kelurahan Gilimanuk tidak semata-mata sebagai sumber penerangan di malam hari, tetapi juga menunjang kegiatan sehari-hari pada berbagai aspek kehidupan. Tabel E.15 Jumlah Rumah Tangga menurut Jenis Penerangan di Kelurahan Gilimanuk Tahun 2010 No. Sumber Penerangan 1. Listrik 2. Minyak Tanah 3. Lainnya Jumlah
Sumber : Kecamatan Melaya dalam Angka Tahun 2011

Jumlah RT 2.401 4 2.801

B. Sistem Penyediaan Air Minum Kabupaten Jembrana

1. Umum Daerah pelayanan pada sistem penyediaan air minum Kabupaten Jembrana meliputi : Kecamatan Melaya, Kecamatan Negara, Kecamatan Mendoyo, dan Kecamatan Pekutatan. Sumber air baku penyediaan air baku PDAM unit Melaya dan Pekutatan berasal dari sumber air tanah melalui sumur bor. Sedangkan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

penyediaan air baku PDAM unit Negara dan Mendoyo sebagian dari sumur bor dan beberapa memanfaatkan sumber mata air dan air permukaan. 2. Pemenuhan Penyediaan Air Minum Pemenuhan air baku untuk penyediaan air minum PDAM Jembrana kapasitas sumber air 126,00 lt/dt untuk unit Negara, kapasitas sumber air 50,00 lt/dt unit Mendoyo, 18.00 lt/dt unit Pekutatan, dan 42.00 lt/dt untuk unit Melaya. Total kapasitas sumber air baku PDAM Badung saat ini sebesar 236 lt/dt. Berdasarkan laporan (PDAM, 2010) bahwa kapasitas sumber yang didistribusikan pada Bulan April 2010 ke pelanggan sebesar 389,250.00 m3. 3. Cakupan Pelayanan Tingkat pelayanan air minum PDAM Jembrana ratarata sebesar 44.50%. Sedangkan tingkat pelayanan di bawah 55% terdapat di unit pelayanan Pekutatan dan pelayanan dibawah 45% terdapat di unit pelayanan Negara, Melaya dan Mendoyo. Pelayanan dan konsumsi air pada masing-masing unit dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel E.15 Pelayanan dan Konsumsi Air di Kabupaten Jembrana No. Uraian Daerah Pelayanan PDAM Jembrana Unit Unit Unit Unit Melaya Negara Mendoyo Pekutatan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

1. 2. 3. 4. 5.

Jumlah (jiwa)

Penduduk

44.705 25.226 4.120 5 42

121.627 54.582 8.797 18 126

49.532 27.672 3.612 60 50

21.761 7.798 1.233 4 18

Penduduk Terlayani (jiwa) Domestik/SR (unit) KU (unit) Kapasitas Produksi (Lt/dt)

Sumber : PDAM, Tahun 2010

E.3.

PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI PEKERJAAN Untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan harapan dan untuk kelancaran serta terkoordinasinya pelaksanaan pekerjaan, maka kegiatan yang paling pokok adalah penyusunan uraian teknis pelaksanaan pekerjaan. Uraian teknis pelaksanaan pekerjaan ini menyangkut urutan dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan ini pada nantinya akan

memperhatikan lingkup pekerjaan yang telah tertuang dalam Kerangka Acuan Kerja yang telah ada. Metode pelaksanaan diuraikan sebagai dasar dan tata cara pelaksanaan pekerjaan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesalahan dan seluruh kegiatan dapat dikoordinir dan dipantau dengan mudah.

Pendekatan Studi Dalam Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk akan digunakan

E PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN Pendekatan Pada Human Oriented

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

beberapa metode pendekatan. Perlunya keterpaduan dalam Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk merupakan hal yang krusial, sebab potensi dan permasalahan di kawasan ini pun bersifat kompleks. Dalam Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk ini titik tumpunya adalah pada pendekatan kesejahteraan yang manusiawi dan berkeadilan sosial serta berwawasan lingkungan. Penekanannya pada human oriented dimana manusia yang kehidupan dan penghidupannya berhubungan dengan lahan dan perekonomian dimana mereka tinggal, serta pengaruh dan akibatnya dengan daerah sekitarnya. Untuk mencapai kesejahteraan tersebut, dikaji 3 model yaitu : a. b. c. Pemenuhan kebutuhan dasar. Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Konservasi lingkungan.

Pendekatan dasar pemanfaatan ruang dalam mencapai kesejahteraan tersebut kemudian diterjemahkan kedalam 4 (empat) buah azas perencanaan yaitu azas demokratisasi ruang, azas kesesuaian pemanfaatan ruang, azas kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta azas sinergi wilayah. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah sedemikian rupa sehingga kapasitas fungsionalnya dapat memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia. Secara garis besar konsep pembangunan berkelanjutan memiliki empat dimensi yaitu : (1). Ekologis, (2). Sosial Ekonomi Budaya, (3). Sosial Politik, dan (4). Hukum. a. Dimensi Ekologis Persyaratan pembangunan berdasarkan dimensi ekologis adalah keharmonisan berkelanjutan. sosial, kapasitas asimilasi dan pemanfaatan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Keharmonisan sosial, bahwa dalam suatu wilayah pembangunan hendaknya tidak seluruhnya diperuntukan bagi zona pemanfaatan tetapi harus pula dialokasikan untuk zona preservasi dan konservasi.

Kapasitas asimilasi dimana setiap limbah yang masuk dalam wilayah ini harus sesuai dengan daya asimilasinya yaitu kemampuan kawasan untuk menerima suatu jumlah limbah tertentu sebelum ada indikasi terjadinya kerusakan lingkungan dan atau kesehatan yang tidak dapat ditoleransi.

Pemanfaatan berkelanjutan dengan kriteria pemanfaatan yang disesuaikan dengan jenis sumberdaya. Untuk sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) adalah bahwa laju pemanfaatannya (ekstraksi) tidak boleh melebihi kemampuannya untuk memulihkan pada suatu periode tertentu. Sedangkan untuk sumberdaya tidak dapat pulih (non renewable resources) harus dilakukan dengan cermat, sehingga efeknya tidak merusak lingkungan sekitarnya.

b.

Dimensi Sosial Ekonomi Budaya Persyaratan secara sosial ekonomi adalah bahwa manfaat/keuntungan yang diperoleh dari penggunaan ruang suatu kawasan serta sumberdaya alamnya harus diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar kegiatan (proyek) tersebut, terutama mereka yang termasuk ekonomi lemah, guna menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi kawasan itu sendiri. Dimensi Sosial Politik Pembangunan berkelanjutan hanya dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik yang demokratis dan transparan. Dimensi Hukum

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Peryaratan yang diajukan secara hukum lebih bersifat personal yaitu mensyaratkan pengendalian diri dari setiap masyarakat untuk tidak merusak lingkungan. Selain itu Pendekatan Inovatif : Peran-Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang dinilai sangat penting, karena hasil-hasil Penataan Ruang pada akhirnya ditujukan untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat, serta demi tercapainya tujuan-tujuan Penataan Ruang seperti diatur dalam UU No. 26 Tahun 2007, yaitu : a. b. c. Terselenggaranya Penataan Ruang yang berwawasan lingkungan; Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya; Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan melibatkan masyarakat secara aktif dan menyeluruh dalam Penataan Ruang adalah : a. b. c. Adanya perbaikan mutu hasil-hasil perencanaan (Aspek Perencanaan). Mempermudah terwujudnya pemanfaatan ruang yang sesuai dengan Rencana yang telah ditetapkan (Aspek Pemanfataan). Ditaatinya keputusan-keputusan dalam rangka menertibkan pemanfaatan ruang (Aspek Pengendalian). Sedangkan pendekatan yang dilakukan dalam mencapai tujuan perencanaan Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk adalah : pendekatan politis, pendekatan strategis, pendekatan teknis serta pendekatan pengelolaan yang menyangkut aspek administrasi, keuangan, hukum, dan perundang-undangan secara koordinatif agar rencana tata ruang yang disusun dapat dimanfaatkan secara konsisten, serta mempunyai kekuatan hukum. a. Pendekatan Politis yang menyangkut berbagai aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

b.

Pendekatan Strategis yang menyangkut penentuan fungsi kawasan, pengembangan kegiatan kawasan dan pengembangan tata ruang kawasan yang merupakan penjabaran dan pengisian rencana jangka menengah dan rencana jangka panjang daerah.

c.

Pendekatan Teknis menyangkut upaya optimasi pemanfatan ruang kawasan diantaranya pola meliputi penataan lingkungan kawasan, dan manajemen pertanahan, pengadaan fasilitas dan utilitas secara tepat. Mengefisiensikan angkutan, menjaga kelestarian meningkatkan kualitas lingkungan sesuai dengan kaedah teknis perencanaan baik ditinjau dari kriteria lokasi maupun standar teknik kawasan.

d.

Pendekatan Pengelolaan yang menyangkut aspek administrasi, keuangan, hukum dan perundang-undangan agar rencana tata ruang kawasan yang disusun dapat dimanfaatkan dan dikendalikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Secara keseluruhan Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk dilakukan berdasarkan kerangka pendekatan yang merupakan tahapan pekerjaan yang terdiri dari : a. Identifikasi kondisi aktual, potensi dan keterbatasan sumber daya alam dan buatan serta kebijaksanaan daerah yang berlaku. Tahap ini termasuk dalam tahap pengumpulan data. b. Menganalisis potensi dan perkembangan kawasan serta menganalisis pola dan struktur tata ruang yang ada dalam hubungannya dengan kebijakan-kebijakan daerah yang terkait. Tahap ini merupakan tahap analisis. c. d. Mengidentifikasi pokok permasalahan dan daya dukung ruang yang ada sebagai dasar penyusunan konsepsi rencana. Merumuskan rencana detail tata ruang berdasarkan konsepsi rencana dan strategi pengembangannya. Tahap c dan d merupakan tahap penyusunan rencana.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Metodologi Metodologi dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Jika kita membicarakan metodologi maka hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatar belakangi berbagai metode yang dipergunakan dalam aktivitas ilmiah. Dalam pekerjaan Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, perlu disusun langkah-langkah yang tersistematis agar mendapatkan hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Metodologi yang digunakan dalam proses pekerjaan Penyusunan RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, tentunya disesuaikan dengan ruang lingkup dan output yang telah ditetapkan di dalam Kerangka Acuan Kerja. Metodologi studi yang akan dilakukan dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu meliputi :

Metodologi Pelaksanaan Metodologi pelaksanaan yang diajukan oleh Konsultan adalah berdasarkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, sebagaimana yang tercantum dalam KAK dengan beberapa modifikasi guna pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan yang diharapkan.

a) Metode Pengumpulan Data (Survey) Metode pengumpulan data dilakukan dengan 2 cara yaitu melaui survey primer dan survey sekunder. Survey Primer Survey ini dilakukan untuk memperoleh data primer dan gambaran umum visual dan langsung mengenal kondisi lingkungan secara fisik, penggunaan lahan, tata air, pola pertanian dan sosial ekonomi wilayah studi. Selain itu tahapan ini dimaksudkan untuk melakukan ground check hasil dari

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

interpretasi citra sehingga diperoleh informasi peta yang sebenarnya sesuai kondisi lapangan. Teknik yang dilakukan pada tahapan ini, diantaranya adalah : (1) observasi : teknik data ini digunakan untuk mengumpulkan primer dan melengkapi teknik

telaah dokumen, terutama untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang daerah penelitian secara langsung di lapangan. (2) wawancara terstruktur dan dengan informan kunci : teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data primer secara langsung yang berguna untuk mempertajam analisis. Dari data primer ini kita dapat mengidentifikasi kondisi faktual lapangan yang menyangkut bangunan dan lingkungannya dengan pendokumentasian berupa foto-foto. Selain itu dari data primer dapat menghasilkan issue-issue baru yang tengah berkembang dan berpengaruh signifikan terhadap kawasan perencanaan maupun kebijaksanaan tata ruang yang telah ada.

Survey Sekunder (Instansional) Survey ini dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi yang telah terdokumentasikan dalam buku, laporan dan statistik yang umumnya terdapat di instansi terkait. Di samping pengumpulan data, pada kegiatan ini dilakukan pula wawancara atau diskusi dengan pihak instansi mengenai permasalahan-permasalahan di tiap bidang/aspek yang menjadi kewenangannya serta menyerap informasi mengenai kebijakan-kebijakan dan program yang sedang dan akan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

dilakukan. Beberapa bentuk data-data yang diperlukan dalam tahap ini, diantaranya adalah : (1) Data-data statistik kabupaten/kota dan telaah dokumen perencanaan lainnya pada wilayah yang termasuk dalam kawasan perencanaan. (2) Data biofisik adalah lebih bersifat pada keadaan sumberdaya alamnya yang antara lain : Topografi dan kemiringan lereng; Geologi, tanah dan geomorfologi; Data iklim, yang meliputi data curah hujan, kelembaban, temperatur udara dan jumlah bulan basah/kering (time series : minimal 10 tahun terakhir); Data hidrologi; Keadaan penutupan lahan (hutan, perkebunan, belukar, alang-alang dan lain-lain); Keadaan lahan kritis dan penyebarannya; Penggunaan dan kondisi liputan lahan; Identifikasi daerah rawan bencana, meliputi : lokasi, sumber bencana, besaran dampak, kondisi lingkungan fisik, kegiatan bangunan yang ada, fasilitas dan jalur kendali yang telah ada; Data lainnya yang diperlukan (banjir, kekeringan, intensifikasi pertanian, perkebunan, industri dan sebagainya). Teknik Pengumpulan Data Bio -Fisik Pengumpulan data bio-fisik dilaksanakan dengan mewawancarai/mencatat informasi yang tersedia pada instansi/dinas yang berkompeten atau langsung di

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

stasiun-stasiun yang yang tersedia.

bersangkutan

atau

dengan

menganalisa/interpretasi peta atau citra/foto udara Data iklim dapat diperoleh dari instansi/stasiun iklim yang ada di stasiun terdekat. Data iklim yang dikumpulkan sedapat mungkin selama jangka waktu sekurang-kurangnya 10 tahun terakhir. Data hidrologi dan prasarana pengairan diperoleh dari Instansi/Dinas PU setempat atau instansi lain. Data keadaan penggunaan lahan, khususnya tentang hutan negara diperoleh dari instansi/Dinas Kehutanan setempat (Kantor KPH/BLP). (3) Data sosial ekonomi yang diperlukan antara lain : Data sosial budaya, meliputi : jumlah dan kepadatan penduduk, struktur penduduk (menurut usia dan jenis kelamin, tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan agama), karakteristik budaya yang membahas falsafah budaya setempat, arah orientasi ruang, sistem kemasyarakatan, sistem pemerintahan, sistem kelembagaan, dan benda-benda peninggalan sejarah; Data perekonomian yang meliputi : sektor pertanian, perkebunan, peternakan, industri, dan sektor lainnya; Data sarana dan prasarana meliputi : fasilitas umum (fasilitas pendidikan, perdagangan dan jasa, peribadatan, dan kesehatan), data sistem jaringan prasarana yang terdiri atas sistem transportasi, jaringan air bersih, listrik, telekomunikasi, sanitasi, dan jaringan irigasi.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Teknik Pengumpulan Data Sosial Ekonomi Data dan informasi keadaan sosial-ekonomi

penduduk dapat berupa data primer maupun data sekunder (statistik). Data sosial ekonomi diperoleh dari instansi/dinas yang terkait sampai pada tingkat kabupaten/kota. Data ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi penduduk di dalam Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. Data tersebut meliputi : jumlah penduduk menurut kelas umur, jenis kelamin, mata pencaharian, tingkat pendidikan, perekonomian, sarana/prasarana perhubungan dan penyuluhan pertanian. Data tata bangunan dan lingkungan yang diperlukan antara lain : intensitas bangunan (KDB, KLB, KDH), bentuk bangunan, arsitektur bangunan, pemanfaatan bangunan, bangunan khusus, wajah lingkungan, daya tarik lingkungan (node, landmark, dan lain-lain), garis sempadan (bangunan, sungai, danau, pantai, SUTT). Teknik Pengumpulan Data Tata Bangunan dan

Lingkungan Data dan informasi tata bangunan dan lingkungan di kawasan perencanaan dapat berupa data primer maupun data sekunder (statistik dan hasil studi sebelumnya yang terkait). Data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung di kawasan perencanaan.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Data sekunder bisa diperoleh dari hasil studi yang telah ada sebelumnya maupun dari arahan RTRWP dan RTRWK. Data ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi tata bangunan dan lingkungan di Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. b) Metode Analisa Analisis dilakukan terhadap informasi yang diperoleh baik data primer (hasil survei lapangan) maupun data sekunder yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan pekerjaan seperti yang tercantum dalam KAK. Berdasarkan data (sekunder dan primer) yang akan diinventarisir pada tahap survei, maka beberapa analisis yang dapat dilakukan diantaranya : 1. Analisis Struktur Kawasan Perencanaan Pada dasarnya analisis ini dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : Ketentuan analisis struktur kawasan perencanaan mengikuti kebijakan yang telah digariskan oleh RTRW. Kedudukan dan skala dari sistem pergerakan, pemusatan kegiatan, dan peruntukan lahan; Arah perkembangan pembangunan kawasan; Memperhatikan karakteristik dan daya-dukung fisik lingkungan serta dikaitkan dengan tingkat kerawanan terhadap bencana. Komponen analisis struktur kawasan perencanaan meliputi : Analisis Kependudukan Komponen analisis kependudukan antara lain mencakup :

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

i. Analisis

pertumbuhan

dan

perkembangan

perkembangan; Laju Pertambahan dan Proyeksi Penduduk Analisis ini untuk mengidentifikasi kecenderungan pertumbuhan penduduk yang berada di wilayah Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, dan kaitannya dengan kecenderungan perubahan pemanfaatan lahan di kawasan tersebut. Laju pertambahan penduduk dan proyeksi penduduk dihitung menggunakan metoda geometrik. Adapun perumusan modelnya sebagai berikut : Pt = P0 (1+r)t dimana : Pt = jumlah penduduk tahun ke t P0 = jumlah penduduk pada tahun awal perhitungan r = laju pertumbuhan penduduk selama kurun waktu (0-t)

Penyebaran Penduduk Analisis ini digunakan untuk melihat tingkat kepadatan penduduk di wilayah Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, kaitannya dengan pemanfaatan lahan. Penyebaran sekarang penduduk (eksisting), dihitung dan untuk keadaan kecenderungan

penyebarannya secara spatial, serta arahan jumlah penduduk yang dapat ditampung di wilayah yang berada di Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. Analisis dilakukan berdasarkan tingkat kepadatannya, dengan rumus :

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Kepadatan penduduk (jiwa/km2) =

Kecenderungan Pertumbuhan Pusat-Pusat Permukiman Analisis ini untuk mengidentifikasi pertumbuhan pusat permukiman yang cepat perkembangannya, dan kaitannya dengan pemanfaatan lahan. Untuk itu akan dilakukan analisis terhadap hirarki pusat-pusat permukiman. Ada 3 (tiga) parameter yang digunakan yaitu faktor lokasi, rangking pusat permukiman dan kelengkapan sarana dan prasarana. Faktor lokasi dianalisis secara deskriptif kualitatif. Ranking pusat permukiman akan dianalisis dengan menggunakan perumusan Rank Size.

Po = Pusat permukiman dengan jumlah penduduk tertinggi Pn = Pusat permukiman dengan jumlah penduduk ke n n = rank pusat permukiman

Kelengkapan sarana dan prasarana dianalisis dengan menggunakan model skalogram, dengan cara sebagai berikut: Pusat permukiman diurutkan berdasarkan tingkat kelengkapannya, makin banyak jenis sarana dan prasarana yang dimiliki, pusat permukiman akan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

ditempatkan pada posisi teratas (baris teratas), dan sebaliknya. Jenis sarana dan prasarana pusat permukiman diurutkan dalam bentuk kolom dari kiri ke kanan, kolom paling kiri ditempati jenis sarana dan prasarana yang dipunyai oleh semua pusat permukiman yang telah diurutkan, sedangkan kolom terkanan ditempati jenis sarana dan prasarana yang jarang dipunyai oleh pusat permukiman. Selain melihat hirarki eksistingnya, kecenderungan perkembangan pusat-pusat permukiman diperkirakan berdasarkan peranannya dalam wilayah yang lebih luas (propinsi, nasional, internasional), serta fungsi yang telah ditetapkan dalam RTRWN/RTRW Provinsi/RTRW kabupaten/kota. ii. Analisis sosial budaya, meliputi : Struktur penduduk menurut agama; Struktur penduduk menurut pendidikan; Struktur penduduk menurut mata pencaharian; Adat istiadat.

Analisis Fungsi Ruang Komponen analisis fungsi ruang antara lain mencakup : i. Perkembangan pembangunan, merupakan kebijakan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun swasta; ii. Pusat-pusat terhadap kegiatan, pemusatan dengan kegiatan melakukan yang ada kajian atau

direncanakan oleh rencana diatasnya.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

iii. Analisis Kebijakan Tata Ruang bertujuan untuk mengidentifikasi keterkaitan berbagai produk tata ruang yang berkaitan dengan Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, secara lintas wilayah dan lintas sektoral, agar tercapai keterpaduan dalam rencana pemanfaatan ruang. Analisis deskriptif kualitatif akan dilakukan berdasarkan hirarki dari produk tata ruang mengacu pada UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
RENCANA UMUM TATA RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG RTRW NASIONAL
RTR PULAU / KEPULAUAN RTR KWS STRA. NASIONAL RTR KWS STRA. PROVINSI RTR KWS STRA KABUPATEN RDTR WIL KABUPATEN

WILAYAH

RTRW PROVINSI RTRW KABUPATEN

RTR KWS METROPOLITAN

PERKOTAAN

RTRW KOTA

RTR KWS PERKOTAAN DLM WIL KABUPATEN RTR BAGIAN WIL KOTA RTR KWS STRA KOTA RDTR WIL KOTA

Gambar E.4. Klasifikasi Produk Rencana iv. Kesesuaian dan daya dukung lahan, sebagai daya tampung dan daya hambat ruang kawasan dalam berkembang. Salah satu analisis yang digunakan untuk mengetahui kesesuaian dan daya dukung lahan adalah Analisis Fisik Lingkungan, yang semuanya akan dikompilasi untuk menghasilkan analisis daya dukung lingkungan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

terhadap keberadaan dan perkembangan dari Kawasan Pelabuhan Gilimanuk meliputi : Analisis Peta Topografi, yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran terhadap ketinggian dan kelerengan di Kawasan Pelabuhan Gilimanuk terkait dengan pengembangan dan penataan kawasan tersebut. Analisis Geologi, yang dilakukan untuk

mendapatkan gambaran kondisi batuan yang ada sehingga dapat diketahui potensi adanya patahanpatahan (sesar), kemungkinan potensi adanya air tanah, serta arahan mitigasi bencana; Peta Guna Lahan (Interpretasi Citra Satelit) , yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi guna lahan eksisting sebagai sumber informasi. Pembagian fungsi ruang pengembangan,

merupakan struktur kawasan yang dibagi dalam fungsi dan peran bagian-bagian kawasan.

v. Analisis Sistem Jaringan Pergerakan Analisis pelayanan jaringan jalan (sarana dan prasarana pendukung jaringan jalan) Analisis kebutuhan interkoneksi dan intrakoneksi jaringan, berdasarkan sistem pembentukan struktur ruang.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

2. Analisis Peruntukan Blok Pada prinsipnya analisis peruntukan blok kawasan merupakan kajian terhadap peruntukan dan pola ruang yang ada, dan pergeseran serta permintaan dikemudian waktu, berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk, tenaga kerja, aksesibilitas, nilai dan harga lahan, daya dukung lahan, daya dukung lingkungan, daya dukung prasarana, dan nilai properti lainnya. Komponen analisis meliputi : (1) Pembagian Blok Pada prinsipnya analisis ini bertujuan membagi kawasan dalam bentuk atau ukuran, fungsi serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blok-blok peruntukan lahan, sehingga mudah dalam alokasi investasi, pengendalian, dan pengawasan. Komponen analisis meliputi : Deliniasi blok; Alokasi lahan; Rencana sistem prasarana kawasan; Perangkat kelembagaan; Kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan terhadap bencana alam, perlindungan setempat dan kawasan tertentu/khusus. (2) Peruntukan Lahan Pada prinsipnya analisis ini bertujuan untuk mengatur distribusi dan ukuran kegiatan manusia dan atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blok dan sub blok peruntukan lahan sehingga tercipta ruang yang produktif dan berkelanjutan.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(3) Fasilitas Lingkungan Pada prinsipnya analisis ini bertujuan untuk mengatur kebutuhan distribusi, luas lahan dan ukuran fasilitas sosial ekonomi, yang diatur dalam struktur zona dan blok dan sub blok peruntukan sehingga tercipta ruang yang aman, nyaman, mudah, produktif dan berkelanjutan. (4) Kawasan Mitigasi Bencana Pada prinsipnya analisis ini bertujuan untuk meneliti dan mengkaji sumber bencana, agar tercipta lingkungan permukiman yang aman, nyaman dan produktif. Komponen analisis meliputi : Sumber dan macam bencana; Frekuensi bencana; Fasilitas dan jaringan penanggulangan bencana; Cakupan wilayah terkena dampak; Daya dukung dan daya hambat alam.

3. Analisis Utilitas Umum Analisis pengembangan jaringan utilitas sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan, termasuk sistem makronya. Meneliti kemungkinan dimensi, lokasi, pemanfaatan ruang jalan sebagai jalur distribusi, dengan mempertimbangkan topografi, lokasi/lingkungan perencanaan, tingkat pelayanan, dan sebagainya. 4. Analisis Amplop Ruang Analisis ini bertujuan untuk menciptakan ruang yang akomodatif terhadap berbagai jenis kegiatan yang direncanakan, dalam mewujudkan keserasian dan keasrian lingkungan, dengan menetapkan intensitas pemanfaatan lahan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

di dalam kawasan (image arsitektur, selubung bangunan, KDB, KLB, KDH, KDNH). Komponen analisis meliputi : (1) Intensitas Pemanfaatan Ruang Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besaran pembangunan yang diperbolehkan berdasarkan batasan KDB, KLB, KDH atau kepadatan penduduk. Komponen analisis meliputi : Koefisien Dasar Bangunan/KDB adalah prosentase berdasarkan perbandingan antara seluruh luas lantai dasar bangunan Lantai gedung luas lahan adalah luas dengan /tanah angka tanah indikator perpetakan/daerah perencanaan. Koefisien bangunan Bangunan/KLB terhadap

perbandingan antara jumlah seluruh luas lantai seluruh gedung perpetakan/daerah perencanaan,

analisis : harga lahan, ketersediaan dan tingkat pelayanan prasarana (jalan), dampak atau kebutuhan terhadap prasarana tambahan serta ekonomi dan pembiayaan. Koefisien Dasar Hijau/KDH adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dengan luas tanah daerah perencanaan, dengan indikator analisis : tingkat pengisian/peresapan air (water recharge), besar pengaliran air (kapasitas drainase), dan rencana tata ruang (RTH, tipe zonasi, dan lain-lain).

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Koefisien Tapak Bangunan/KTB adalah penetapan besar KTB maksimum didasarkan pada batas KDH minimum yang ditetapkan.

Koefisien Wilayah Terbangun/KWT Prinsip penetapan KWT sama dengan penetapan KTB, tetapi dalam unit blok peruntukan atau tapak (bukan dalam unit persil).

Kepadatan Bangunan dan Penduduk adalah angka prosentase perbandingan antara jumlah bangunan dengan luas tanah perpetakan/kawasan perencanaan. Catatan : Kepadatan penduduk = kepadatan bangunan/ha x besar keluarga rata-rata Standar atau interval KDB dan KLB dapat merujuk pada aturan yang berlaku dan dapat disesuaikan dengan kondisi di daerah.

(2) Tata Massa Bangunan Tata masa bangunan adalah bentuk, besaran, peletakan, dan tampilan bangunan pada suatu persil/tapak yang dikuasai. Pertimbangan Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Jarak Bebas Bangunan GSB minimum ditetapkan dengan mempertimbangkan keselamatan, risiko kebakaran, kesehatan, kenyamanan dan estetika.

Faktor yang dianalisis adalah : Garis sempadan bangunan; Garis sempadan pagar.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Garis sempadan samping bangunan

Rumus dasar : Untuk ruang milik jalan (rumija) < 8m, GSB minimum = V2 rumija; Untuk ruang milik jalan >= 8m, GSB minimum = Y2 rumija + 1 m; Jarak antara bangunan gedung minimal setengah tinggi bangunan gedung. Pertimbangan Garis Sempadan Sungai (GSS) dan Jarak Bebas Bangunan GSS minimum ditetapkan dengan mempertimbangkan keselamatan, kenyamanan dan estetika, serta kesehatan. Dengan mempertimbangkan : Kedalaman sungai; Lokasi di/luar kawasan perkotaan; Daerah cakupan aliran sungai; Ketersediaan fasilitas pengaman sungai (tanggul); Fasilitas jalan yang ada di sungai/pemanfaatan lahan.

Pertimbangan Garis Sempadan Bangunan/GSB dan Jarak Bebas Bangunan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Untuk

danau

dan

waduk,

garis

sempadan

ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat; Untuk mata air, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air; Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut, garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai, dan berfungsi sebagai jalur hijau; Pemanfaatan lahan sempadan Danau dan Waduk.

Pertimbangan Tinggi Bangunan Tinggi bangunan ditetapkan dengan

mempertimbangkan keselamatan, risiko kebakaran, teknologi, estetika, dan prasarana. Pertimbangan Selubung Bangunan Selubung bangunan GSB, ditetapkan tinggi dengan bangunan mempertimbangkan

maksimum, dan bukaan langit. Pertimbangan Tampilan bangunan Tampilan ekonomi bangunan masyarakat, ditetapkan seperti dengan penentuan melihat wajah karakter budaya setempat dan perkembangan sosial bangunan, gaya bangunan, keindahan, dan keserasian dengan lingkungan sekitar. Hasil analisis yang diperoleh haruslah dapat menyimpulkan pokok persoalan seperti dalam perwujudan ruang kawasan pelestarian, perencanaan pengendalian kawasan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

revitalisasi kawasan, serta pengendalian kawasan rawan bencana). 5. Analisis Kelembagaan dan Peran Masyarakat Pada prinsipnya analisis ini mengkaji struktur kelembagaan yang ada, fungsi dan peran lembaga, meknisme peran masyarakat, termasuk media serta jaringan untuk keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian serta pengawasan. Dalam pelaksanaan peran serta masyarakat dapat dilakukan secara perseorangan atau dalam bentuk kelompok (organisasi kemasyarakatan/LSM, organisasi keahlian/profesi, dan lainlain). Adapun prinsip-prinsip yang harus dipertimbangkan adalah : a. Berdasarkan kesepakatan dan hasil kerjasama antar stakesholder; Sesuai dengan aspirasi publik; Kejelasan tanggung jawab : (1). Adanya publik; (2). Terbuka kemungkinan untuk mengajukan keberatan dan gugatan; (3). Kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam proses pembangunan. sistem monitoring, evaluasi dan pelaporan yang transparan dan terbuka bagi

Komponen analisis meliputi : Identifikasi aspirasi dan analisis permasalahan;

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Analisis perilaku lingkungan : masyarakat perkotaan dan perdesaan yang memiliki kultur dan tingkat pendidikan yang berbeda;

Analisis perilaku kelembagaan : perlu dianalisis substansi tugas dan tanggungjawab; Analisis metode dan sistem : perlu dianalisis alat dan perlengkapan, termasuk pendanaan bila diperlukan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Hasil dari tahapan analisis ini kemudian dijadikan acuan untuk mengidentifikasikan potensi yang dapat dikembangkan dan permaslahaan yang dapat menjadi penghambat perkembangan Kawasan Pelabuhan Gilimanuk. c) Perumusan Rencana Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk Tahap perumusan rencana adalah tahap akhir dari proses perencanaan penataan Kawasan Pelabuhan Gilimanuk yang merupakan pengejawantahan dari tujuan pengembangan serta perkiraan kebutuhan pengembangan. Dengan demikian rencana umum ini akan merupakan pedoman bagi hasil pencapaian tujuan pengembangan yang telah berhasil diformulasikan. Perumusan Rencana Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk ini diantaranya terdiri dari beberapa substansi penting, yaitu : i. Perumusan tujuan, kebijakan dan strategi Kawasan Pelabuhan Gilimanuk ii. Rencana Struktur Ruang Kawasan Gilimanuk, yang terdiri dari struktur ruang buatan yang berupa sistem pusat-pusat beserta sarana dan prasarananya serta struktur ruang alami iii. Rencana Blok Peruntukan Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, yang antara lain meliputi sebaran peruntukan ruang, sebaran

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

bangunan dan tata lingkungan, radius minimal kesucian dan lain sebagainya. iv. Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan (Amplop Ruang) Tata Kualitas Lingkungan (1) Keseimbangan Kawasan Perencanaan dengan Wilayah Sekitar; (2) Keseimbangan Daya Dukung Lingkungan; (3) Pelestarian Ekologis Kawasan. Tata Bangunan (1) Arahan Bentuk dan Ukuran Kavling; (2) Arahan Intensitas Bangunan. Arahan Garis Sempadan

d) Indikasi program utama yang menjadi acuan pembangunan selama 20 tahun ke depan. e) Penyusunan Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk Pada tahapan ini akan disusun arahan pengendalian ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk yang berisi arahan peraturan zonasi, arahan perijinan, arahan insentif dan disinsentif serta arahan sanksi.

E.4.

PROGRAM KERJA Program/rencana kerja dibuat berdasarkan ketentuan teknik operasional yang telah diuraikan oleh CV. TRI MATRA DISAIN di dalam Pendekatan dan Metodologi pada sub bab sebelumnya. Berikut ini akan diuraikan tahap penyusunan laporan, keluaran dan kegiatan pembahasan.

Tahap Penyusunan Laporan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

1.

Tahap Persiapan Pokok pekerjaan yang dilakukan adalah : a. Persiapan dasar, berupa : pemahaman terhadap KAK, penyusunan metode pelaksanaan kegiatan, pembentukan tim pelaksana, pembuatan surat tugas, studi literatur, peta dasar dan persiapan bahan-bahan lainnya; b. Persiapan teknis berupa penyiapan daftar pertanyaan (kuisioner, blanko) peta wilayah kota dan kawasan, peralatan survey lainnya yang akan digunakan untuk pekerjaan di lapangan; c. Inventarisasi data/informasi yang telah dimiliki.

2.

Tahap Pengumpulan Data a. Survey primer berupa kegiatan observasi lapangan, wawancara dan penyebaran kuisioner untuk memperoleh dan menguji data termasuk pelibatan masyarakat agar diperoleh informasi yang senyatanya (primer). Kegiatan pemetaan lapangan dilakukan untuk pendetailan dan mempertegas kondisi fisik dan aktivitas agar lebih terukur secara tegas baik bangun-bangunan, kontur, vegetasi berdasarkan peta dasar yang telah ada baik melalui foto udara maupun citra satelit arsip yang telah dimiliki. b. Survey sekunder berupa kegiatan pengumpulan data/informasi lapangan secara lengkap melalui survey instansional dengan cara merekam/mencatat data sekunder yang ada dimasing - masing instansi. Data-data yang diperlukan, berupa : Peta (1) (2) (3) (4) Peta-peta kondisi fisik (geologi, jenis tanah, hidrologi, dll) Peta RBI Peta citra satelit Peta potensi sumber daya air

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(5)

Peta potensi kebencanaan

Data dan informasi (1) (2) (3) (4) Kebijakan penataan ruang terkait Data dan informasi daerah (fisik, kependudukan, sosial budaya, ekonomi, prasarana wilayah, kondisi lingkungan) Kelembagaan Peraturan perundang-undangan terkait

3.

Tahap Pengolahan Data dan Analisis a. Melakukan kompilasi data (tabulasi dan sistematisasi data); b. Melakukan prosesing data (deskripsi, proyeksi, koreksi, asumsi dan sebagainya dengan menggunakan model anaslisis dan refrensi yang sesuai) meliputi : Analisis Regional Analisis BWP pada wilayah yang lebih luas, dilakukan untuk memahami kedudukan dan keterkaitan BWP dalam sistem regional yang lebih luas dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, sumber daya buatan atau sistem prasarana, budaya, pertahanan, dan keamanan. Sistem regional tersebut dapat berupa sistem kota, wilayah lainnya, kabupaten atau kota yang berbatasan, dimana BWP tersebut dapat berperan dalam perkembangan regional. Dalam analisis regional ini dilakukan analisis pada aspek berikut : (1) (2) (3) Analisis kedudukan dan keterkaitan sosial-budaya dan demografi BWP pada wilayah yang lebih luas. Analisis kedudukan dan keterkaitan ekonomi BWP pada wilayah yang lebih luas. Analisis kedudukan dan keterkaitan sistem prasarana wilayah perencanaan dengan sistem prasarana kabupaten/kota dan wilayah.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(4)

Analisis luas.

kedudukan

dan

keterkaitan

aspek

lingkungan

(pengelolaan fisik dan SDA) BWP pada wilayah yang lebih (5) (6) Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek pertahanan dan keamanan BWP. Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek pendanaan BWP.

Keluaran dari analisis regional, meliputi : (1) Gambaran pola ruang dan sistem jaringan prasarana BWP yang berhubungan dengan BWP lain dan kota atau wilayah yang berbatasan; (2) Gambaran fungsi dan peran BWP pada wilayah yang lebih luas (BWP sekitarnya atau kabupaten/kota berdekatan secara sistemik); (3) Gambaran potensi dan permasalahan pembangunan akan penataan ruang pada wilayah yang lebih luas terkait dengan kedudukan dan hubungan BWP dengan wilayah yang lebih luas; dan (4) Gambaran peluang dan tantangan pembangunan wilayah perencanaan dalam wilayah yang lebih luas yang ditunjukkan oleh sektor unggulan. Analisis Sumber Daya Alam dan Fisik Lingkungan BWP Analisis dilakukan untuk memberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah serta batasan dan potensi alam BWP dengan mengenali karakteristik sumber daya alam, menelaah kemampuan dan kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dalam pengembangan wilayah dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem dan meminimalkan kerugian akibat bencana.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Analisis sumber daya alam dan fisik/lingkungan wilayah yang perlu dilakukan mencakup beberapa analisis berikut : (1) Analisis sumber daya air Dilakukan untuk memahami bentuk dan pola kewenangan, pola pemanfaatan, dan pola kerjasama pemanfaatan sumber daya air yang ada dan yang sebaiknya dikembangkan di dalam BWP. Khususnya terhadap sumber air baku serta air permukaan (sungai dan/atau danau) yang mengalir dalam BWP yang memiliki potensi untuk mendukung pengembangan dan/atau memiliki kesesuaian untuk dikembangkan bagi kegiatan tertentu yang sangat membutuhkan sumber daya air. Analisis ini menjadi dasar dalam menetapkan kebijakan yang mengatur sumber-sumber air tersebut. (2) Analisis sumber daya tanah Digunakan dalam mengidentifikasi potensi dan permasalahan pengembangan BWP berdasarkan kesesuaian tanah serta kawasan lindung. (3) Analisis topografi dan kelerengan Analisis topografi dan kelerengan dilakukan untuk potensi dan permasalahan pengembangan wilayah perencanaan berdasarkan ketinggian dan kemiringan lahan. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui daya dukung serta kesesuaian lahan bagi peruntukan kawasan budi daya dan lindung. (4) Analisis geologi lingkungan Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi dan pengembangan BWP berdasarkan potensi dan kendala dari aspek geologi lingkungan. Analisis ini menjadi rekomendasi rawan bencana. Analisis ini menghasilkan rekomendasi bagi peruntukan zona budi daya dan zona

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

bagi peruntukan kawasan rawan bencana, kawasan lindung geologi, dan kawasan pertambangan. (5) Analisis klimatologi Digunakan dalam mengidentifikasi potensi dan permasalahan pengembangan BWP berdasarkan kesesuaian iklim setempat. Analisis ini menjadi bahan rekomendasi bagi kesesuaian peruntukan pengembangan kegiatan budi daya. (6) Analisis sumber daya alam (zona lindung) Dilakukan untuk mengetahui daya dukung/kemampuan wilayah perencanaan dalam menunjang fungsi hutan/sumber daya alam hayati lainnya, baik untuk perlindungan maupun kegiatan produksi. Selain itu, analisis ini dimaksudkan untuk menilai kesesuaian lahan bagi penggunaan hutan produksi tetap dan terbatas, hutan yang dapat dikonversi, hutan lindung, dan kesesuaian fungsi hutan lainnya. (7) (8) (9) Analisis sumber daya alam dan fisik wilayah lainnya (zona budidaya) Daya dukung lingkungan fisik Daya tampung maksimum

(10) Kesesuaian lahan (11) Potensi dan hambatan pembangunan keruangan dari aspek fisik (12) Alternatif-alternatif fisik/lingkungan Secara umum analisis fisik/lingkungan dan SDA ini, memiliki keluaran sebagai berikut : (1) Gambaran daya dukung lingkungan fisik dalam menampung kegiatan yang ada maupun yang akan dikembangkan sampai akhir masa berlakunya RDTR; upaya mengatasi hambatan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

(2) Gambaran

daya

dukung

maksimum

(daya

tampung)

ruang/lingkungan hidup dalam menampung kegiatan sampai waktu yang melebihi masa berlakunya RDTR; (3) Gambaran kesesuaian lahan untuk pemanfaatan ruang di masa datang berdasarkan kondisi fisik/lingkungannya. Keluaran analisis fisik atau lingkungan BWP ini digunakan sebagai bahan dalam sintesa analisis holistik dalam melihat potensi, masalah, peluang penataan ruang BWP dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi. Analisis Sosial Budaya Analisis dilakukan untuk mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang mempengaruhi pengembangan wilayah perencanaan seperti elemen-elemen kota yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi (urban heritage, langgam arsitektur, landmark kota) serta modal sosial dan budaya yang melekat pada masyarakat (adat istiadat) yang mungkin menghambat ataupun mendukung pembangunan, tingkat partisipasi/peran serta masyarakat dalam pembangunan, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, dan pergeseran nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat setempat. Analisis ini akan digunakan sebagai bahan masukan dalam penentuan bagian dari wilayah kota yang diprioritaskan penangannya di dalam penyusunan RDTR. Analisis Kependudukan (1) Analisis pertumbuhan, komposisi jumlah penduduk dan proyeksi penduduk Analisis yang dilakukan proyeksi untuk perubahan mengidentifikasi demografi dan seperti mendapatkan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

pertumbuhan dan komposisi jumlah penduduk serta kondisi sosial kependudukan dalam memberikan gambaran struktur dan karakteristik penduduk. Hal ini berhubungan erat dengan potensi dan kualitas penduduk, mobilisasi, tingkat pelayanan dan penyediaan kebutuhan sektoral (sarana, prasarana maupun utilitas minimum). (2) Analisis penyebaran penduduk Analisis terhadap penyebaran dan perpindahan penduduk dari daerah perdesaan ke daerah perkotaan memberikan gambaran dan arahan kendala serta potensi sumber daya manusia untuk keberlanjutan pengembangan, interaksi, dan integrasi dengan daerah di luar BWP. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan proyeksi demografi terhadap batasan daya dukung dan daya tampung BWP dalam jangka waktu rencana. Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi. Ekonomi dan Sektor Unggulan Dalam mewujudkan ekonomi BWP yang berkelanjutan melalui keterkaitan ekonomi lokal dalam sistem ekonomi kota/kawasan, regional, nasional, maupun internasional, analisis ekonomi dilakukan dengan menemukenali ekonomi, struktur potensi, ekonomi, peluang pola dan persebaran permasalahan pertumbuhan

perekonomian wilayah kota/kawasan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik, terjadinya investasi dan mobilisasi dana yang optimal. Analisis diarahkan untuk menciptakan keterkaitan intra-regional (antar kawasan/kawasan perkotaan/perdesaan/kabupaten/kota) maupun inter-regional sehingga teridentifikasi sektor-sektor riil unggulan, dan solusi-solusi secara ekonomi yang mampu memicu

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

peningkatan ekonomi wilayah kota/kawasan. Analisis diharapkan dapat membaca potensi ekonomi lokal terhadap pasar regional, nasional maupun global. Dari analisis ini, diharapkan diperoleh karakteristik perekonomian wilayah perencanaan dan ciri-ciri ekonomi kawasan dengan mengidentifikasi basis ekonomi, sektor-sektor unggulan, besaran kesempatan kerja, pertumbuhan dan disparitas pertumbuhan ekonomi di BWP. Analisis ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam

penyusunan RDTR. Analisis Sumber Daya Buatan Analisis sumber daya buatan dilakukan untuk memahami kondisi, potensi, permasalahan, dan kendala yang dimiliki dalam peningkatan pelayanan sarana dan prasarana pada BWP. Melalui analisis ini diharapkan teridentifikasi kebutuhan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk memaksimalkan fungsi BWP. Analisis didasarkan pada luas wilayah dan perhitungan penduduk per unit kegiatan dari sebuah BWP atau perhitungan rasio penduduk terhadap kapasitas atau skala pelayanan prasarana dan sarana wilayah perencanaan atau intensitas pemanfaatan ruang terhadap daya dukung prasarana/utilitas serta analisis daya dukung wilayah. Dalam analisis sumber daya buatan perlu dianalisis cost benefit ratio terhadap program pembangunan sarana dan prasarana tersebut. Analisis sumber daya buatan sangat terkait erat dengan perkembangan dan pemanfaatan teknologi. Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Penataan Kawasan dan Bangunan Untuk melihat kondisi dan tingkat pelayanan kawasan serta bangunan untuk menunjang fungsi dan peran kawasan di BWP, dilakukan analisis terhadap jenis dan kapasitas fungsi/kegiatan kawasan serta kinerjanya. Demikian pula dengan kualitas bangunan dari aspek keselamatan. Dengan informasi tersebut, diharapkan dapat diformulasikan kondisi kawasan terutama menyangkut pengaturan intensitas pemanfaatan ruang, tata massa bangunan, tindakan penanganan kawasan (diremajakan/revitalisasi), dan penanganan bangunan. Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi.

Kelembagaan Analisis kelembagaan dilakukan untuk memahami kapasitas pemerintah kota/kabupaten dalam menyelenggarakan pembangunan yang mencakup struktur organisasi dan tata laksana pemerintahan, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana kerja, produk-produk pengaturan serta organisasi nonpemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat. Analisis diharapkan menghasilkan beberapa bentuk dan operasional kelembagaan di BWP sehingga semua pihak yang terlibat dapat berpartisipasi dalam perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan RDTR dan peraturan zonasi.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Pembiayaan Pembangunan Analisis pembiayaan pembangunan dilakukan untuk

mengidentifikasi besar pembelanjaan pembangunan, alokasi dana terpakai, dan sumber-sumber pembiayaan pembangunan yang terdiri dari :
(1) pendapatan asli daerah; (2) pendanaan oleh pemerintah; (3) pendanaan dari pemerintah provinsi; (4) investasi swasta dan masyarakat; (5) bantuan dan pinjaman luar negeri; dan (6) sumber-sumber pembiayaan lainnya.

Analisis

pembiayaan

juga

menghasilkan

perkiraan

besaran

kebutuhan pendanaan untuk melaksanakan rencana pembangunan wilayah kota yang diterjemahkan dalam usulan program utama jangka menengah dan jangka panjang. Analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan RDTR terkait rencana pemanfaatan ruang (program utama). Pada tahap analisis ini sekurang-kurangnya diperoleh keluaran berupa : a. Identifikasi permasalahan karakteristik wilayah perencanaan, peluang potensi dan dan pengembangan kawasan, tantangan

pengembangan serta kecenderungan perkembangan kawasan baik dari sudut pandang sektor industri maupun perekonomian lokal dan wilayah; b. Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan, perkiraan kebutuhan pengembangan prasarana /infrastruktur maupun utilitas; c. Kajian Ringkas Lingkungan Hidup Strategis Kawasan Perencanaan yang sekurang-kurangnya memuat perkiraan intensitas pemanfaatan ruang sesuai daya dukung dan daya tamping; d. Analisis penentuan fungsi bagian-bagian kawasan yang dominan dalam pemanfaatan ruang;

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

e. Proses penentuan struktur dan pola ruang yang merupakan usaha optimal penetapan kerangka pengembangan tata ruang secara keseluruhan; f. Proses penentuan zonasi pemanfaatan ruang; dan g. Alternatif Indikasi Program Jangka Panjang dan Menengah. 4. Tahap Perumusan Rencana Perumusan Rencana Rinci Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk secara garis besar meliputi : a. Perumusan tujuan, kebijakan dan strategi pengembangan wilayah perencanaan; b. Rencana Detail Struktur Ruang Kawasan; c. Rencana Detail Pola Ruang Kawasan; d. Rencana penetapan pengaturan zonasi pemanfaatan ruang; e. Rencana pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang; f. Indikasi Program Jangka Panjang dan Menengah; dan g. Rumusan Konsep Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk Tahap Keluaran Materi Teknis dan raperda RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk yang disajikan dalam bentuk pelaporan sebagai berikut : 1. Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan yang memuat mengenai : a. Latar belakang kegiatan, tujuan dan sasaran kegiatan, metodologi, dan jadual pelaksanaan pekerjaan. b. Rencana kerja rinci yang akan menjadi acuan dalam keseluruhan rangkaian pelaksanaan pekerjaan. c. Pendekatan dan metodologi yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. d. Hasil review dari dokumen dan kebijakan lainnya yang terkait.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Laporan Pendahuluan ini diserahkan 1 (satu) bulan setelah SPMK diterbitkan dengan jumlah sebanyak 10 buku dicetak berwarna. 2. Laporan Antara/Laporan Kemajuan Laporan Kemajuan, yang memuat mengenai : a. Rumusan kawasan; b. Data dan informasi potensi dan permasalahan pengembangan kawasan; c. Peluang dan tantangan pengembangan kawasan; d. Kecenderungan perkembangan kawasan; e. Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan; f. Intensitas pemanfaatan ruang sesuai daya dukung dan daya tampung; g. Perkiraan kebutuhan pengembangan prasarana/infrastruktur maupun utilitas; h. Teridentifikasinya indikasi arahan penanganan kawasan dan bangunan; i. Peta-peta kondisi dan analisis pengembangan kawasan. Laporan Kemajuan ini diserahkan 3 (tiga) bulan setelah SPMK diterbitkan dengan jumlah sebanyak 10 buku dicetak berwarna. 3. Draft Laporan Akhir Laporan Akhir Sementara yang memuat konsep pengembangan kawasan berupa Materi Rencana Tata Ruang Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, mencakup : a. Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Kawasan; b. Rencana Detail Struktur Ruang Kawasan; c. Rencana Detail Pola Ruang Kawasan; d. Rencana Penanganan Kawasan, Bangunan dan Bangun-bangunan; e. Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan; f. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan. kebijakan yang berpengaruh terhadap pengembangan

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Laporan Akhir Sementara diserahkan paling lambat 4 (empat) bulan setelah SPMK diterbitkan dengan jumlah sebanyak 10 (sepuluh) buku dicetak berwarna. 4. Laporan Akhir Laporan Akhir merupakan Materi Teknis RTR Kawasan Pelabuhan Gilimanuk yang disusun berdasarkan penyempurnaan atas Ddarf Laporan Akhir. Laporan Akhir ini diserahkan pada bulan ke -5 (lima) dengan jumlah sebanyak 30 (tiga puluh) buku dicetak berwarna. 5. Album Peta Album Peta berupa dokumen spasial terkait dengan data. Informasi, analisa dan hasil perencanaan dalam skala 1 : 5.000 dalam ukuran kertas A1 sebanya 5 (lima) album dan dalam ukuran kertas A3 sebanyak 10 (sepuluh) album dicetak berwarna. 6. Dokumen Rancangan Perda Back up CD Laporan terdiri atas Laporan dan Peta sebanyak 10 keping. 7. Back Up CD Laporan

Tahap Pembahasan Pembahasan dilakukan untuk menyamakan persepsi, menggali saran-saran dan masukan untuk penyempurnaan hasil dari pekerjaan ini. Kegiatan pembahasan yang dilakukan meliputi : 1. Pembahasan Laporan Pendahuluan sebanyak 1 (satu) kali; 2. Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) sebanyak 1 (satu) kali; 3. Pembahasan Laporan Kemajuan sebanyak 1 (satu) kali; 4. Seminar Draft Laporan Akhir sebanyak 1 (satu) kali.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

E.5.

ORGANISASI DAN PERSONIL Konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan ini akan menyediakan dan menugaskan beberapa Tenaga Ahli sesuai dengan yang dibutuhkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). Tenaga Ahli yang akan ditugaskan tersebut dikoornidir oleh seorang Team Leader yang memiliki kemampuan dalam koordinasi dan komunikasi dengan pihak pengguna jasa, instansi teknis terkait dan Tenaga Ahli lainnya. Adapun Tenaga Ahli yang diusulkan dalam pelaksanaan studi ini telah memilki kualifikasi pendidikan, pengalaman dibidang penanganan pekerjaan sejenis. Masing-masing Tenaga Ahli tersebut memilki tugas dan tanggung-jawab masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. Kualifikasi dan jumlah Tenaga Ahli yang disediakan oleh penyedia jasa untuk menangani pekerjaan ini sesuai dengan KAK dengan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :

No Posisi A. Tenaga Ahli 1. Team Leader

Kualifikasi 1 (satu) orang ahli Perencanaan Wilayah dan Kota/Planologi dengan pengalaman kerja di bidang perencanaan kota sekurangkurangnya 5 (lima) tahun atau S2 Perencanaan Wilayah dan Kota/Planologi dengan pengalaman kerja dibidangnya sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. S1 Teknik Sipil dengan pengalaman kerja di bidang prasarana dan infrastruktur kawasan sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun. S1 Urban Design/Arsitektur dengan pengalaman kerja di bidang perencanaan tata bangunan dan tata lingkungan sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun S1 Teknik Lingkungan atau Perencanaan Lingkungan dengan pengalaman kerja di bidang bidang perencanaan sanitasi lingkungan atau kawasan sekurangkurangnya 4 (empat) tahun.

Jumlah OB 5,00

2. Ahli Prasarana Transportasi 3. Ahli Perancangan Kawasan/Kota 4. Ahli Prasarana Lingkungan

2,40

2,10

2,40

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

No Posisi 5. Ahli Ekonomi Pembangunan

6.

B. 1. C. 1.

2. 3.

Kualifikasi S1 Ekonomi atau Ilmu Pariwisata dengan pengalaman kerja di bidang perencanaan tata ruang wilayah atau kawasan, ekonomi pembangunan dan pariwisata sekurangkurangnya 4 (empat) tahun. Ahli S1 Geodesi/SIG dengan pengalaman kerja Geodesi/SIG di bidang perencanaan Sistem Informasi Geografis sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun. Tenaga Penunjang Asisten Ahli S1 Perencanaan Wilayah dan Kota dengan Planologi pengalaman kerja di bidang perencanaan kota sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun. Tenaga Pendukung Drafter Minimal D3 Grafika atau lebih tinggi menguasai aplikasi grafis komputer minimal AutoCad dan MapInfo dan Sistem Operasi GIS. Administrasi Minimal SMK menguasai aplikasi MS Office menguasai tata persuratan dan pembukuan sederhana. Operator Minimal SMK menguasai aplikasi MS Komputer Office menguasai tata kearsipan.

Jumlah OB 1,90

2,10

4,80

3,10

4,80 4,60

Untuk memperjelas alur koordinasi dalam pelaksanaan pekerjaan ini, maka dibuat bagan organisasi pelaksana agar pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai KAK. Disamping itu konsultan juga menyadari adanya mekanisme kontrol terhadap proses dan hasil dari pekerjaan konsultan. Bagan ini menggambarkan hubungan koordinasi antara pengguna jasa dan penyedia jasa serta masing-masing Tim Konsultan. Dalam struktur organisasi pelaksana pekerjaan yang melibatkan beberapa tenaga profesional, tenaga sub profesional dan tenaga penunjang dengan tugas dan tanggung jawab masingmasing sesuai dengan bidang keahliannya. Bagan organisasi untuk pelaksanaan pekerjaan dimaksudkan untuk membuat jalur koordinasi untuk semua personil pelaksana.

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas

Untuk mendapatkan hasil yang baik maka diperlukan hubungan timbal balik antara Team Leader dan Direksi Pekerjaan, dan bila konsultan perlu data-data dari instansi lain, maka dengan seijin Direksi dan pemberi tugas, akan menghubungi instansi tersebut. Adapun Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar E.4 Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan
CV. TRI MATRA DISAIN
SKPD DINAS PEKERJAAN UMUM PROVINSI BALI

TEAM LEADER (Ida Ayu Tantri, ST) TIM TEKNIS

Tenaga Ahli 1. Ahli Prasarana Transportasi (Ir. I Komang Gede Ardana) 2. Ahli Perancangan Kawasan/Urban Design (I Nyoman Gede Maha Putra, ST) 3. Ahli Prasarana Lingkungan (Ir. Nyoman Surayasa, M.Si) 4. Ahli Ekonomi Pembangunan 5. (I Putu Suyasa, SE) 6. Ahli Pemetaan/GIS Keterangan : Garis Koordinasi Garis Instruksi Tenaga Pendukung 1. Administrasi 2. Operator Komputer 3. Operator CAD/GIS Tenaga Penunjang 1. Asisten Ahli Planologi (Esty Dwi Prasetyani, ST)

CV. TRI MATRA DISAIN Konsultan Perencana Dan Pengawas