Anda di halaman 1dari 23

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Soil Transmitted Helminths Soil-transmitted dikenal sebagai infeksi cacing seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichuira, cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), dan Strongyloides stercoralis. (Adi Sasongko, 2009) Soil Transmitted Helminths ini ditularkan menghasilkan berbagai gejala termasuk manifestasi usus (diare, sakit perut), malaise dan kelemahan umum, yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja dan belajar dan merusak pertumbuhan fisik. Cacing tambang usus kronis menyebabkan kehilangan darah yang mengakibatkan anemia. (WHO, 2009) Cacing yang menyukai lingkungan kotor dan lembab ini sering ditemui pada lingkungan yang kumuh dan lembab. Mahluk yang tergolong parasit ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau secara langsung menembus kulit tubuh. Bila melalui makanan berarti telur atau larva cacing berada pada makanan yang tidak higienis (sayur dan daging yang tidak dimasak matang, misalnya). Jika masuk secara langsung, cacing bisa masuk lewat telapak kaki saat anak bermain di tempat-tempat kotor seperti di tanah tanpa alas kaki. (Hindra Irawan Satari, 2009)

B. Macam-macam Penyakit Kecacingan Cacingan merupakan parasit manusia dan hewan yang sifatnya merugikan, manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar daripada nematoda ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diantara 9 nematoda usus tedapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah dan disebut Soil Transmitted Helmints yang terpenting adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, dan Trichuris trichiura (Srisasi Gandahusada, 2000:8) Tetapi dalam sehari-hari sering juga ditemukan infeksi cacing Strongyloides stercoralis. (Hindra Irawan Satari, 2009)

1. Ascariasis (Penyakit Cacing Gelang) a. Parasit penyebabnya adalah Ascaris lumbricoides b. Toxonomi Sub kingdom Phylum Kelas Sub kelas Ordo Super famili Genus Spesies : Metazoa : Nemathelminthes : Nematoda : Phasmidia : Ascaridia : Ascaridoidea : Ascaris : A.lumbricoides

(Jeffrey dan Leach, 1993)

c. Morfologi Cacing jantan mempunyai ukuran 10-31 cm, ekor melingkar, dan memiliki 2 spikula. Sedangkan cacing betina mempunyai ukuran 22-35 cm, ekor lurus, pada 1/3 bagian anterior, dan memiliki cincin kopulasi. Baik cacing jantan, maupun betina memiliki mulut terdiri atas tiga buah bibir. Telur yang dibuahi berukuran 60x45 mikron, berbentuk oval, berdinding tebal dengan tiga lapisan dan berisi embrio. Sedangkan telur yang tidak dibuahi berukuran 90x40 mikron, berbentuk bulat lonjong atau tidak teratur, dindingnya terdiri atas dua lapisan dan dalamnya bergranula. Selain itu terdapat pula telur decorticated, dimana telurnya tanpa lapisan albuminoid yang lepas karena proses mekanik. (Pinardi Hadidjaja, dan Srisasi Gandahusada, 2002)

Gambar 2.1.1 Telur Ascaris lumbricoides (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

Gambar 2.1.2 Cacing Ascaris lumbricoides (http://medicastore.com/rss.artikel.php, 2009) d. Siklus Hidup Bentuk infektif bila tertelan oleh manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru-paru, larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus kemudian naik ke trakhea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakhea melalui larva ini menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa, sejak telur matang sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih dua bulan. (Srisasi Gandahusada, 2006)

Gambar 2.1.3 Siklus Hidup Ascaris lumbricoides (Srisasi Gandahusada, 2006) e. Patologi dan Gejala Klinik Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva. Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru. Pada orang yang rentan terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan paru yang disertai dengan batuk, demam dan eosinofilia. Pada foto toraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu tiga minggu. Keadaan ini disebut Sindrom Loffler. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi.

10

Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Efek yang serius terjadi bila cacing-cacing ini menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). Pada keadaan tertentu cacing dewasa mengembara ke saluran empedu, apendiks, atau bronkus dan menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang-kadang perlu tindakan operatif. f. Diagnosa Laboratorium, dengan menemukan telur di dalam tinja. Selain itu diagnosis dapat pula dibuat apabila cacing keluar sendiri baik melalui mulut, hidung, maupun tinja. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006) 2. Trikuriasis (Penyakit Cacing Cambuk) a. Parasit penyebabnya adalah Trichuris trichiura b. Toxonomi Sub kingdom Phylum Kelas Sub kelas Ordo Super famili Genus Spesies : Metazoa : Nemathelminthes : Nematoda : Aphasmidia : Enoplida : Trichinellidea : Trichuris : T. trichuira

(Jeffrey dan Leach, 1993)

11

c. Morfologi Cacing jantan mempunyai panjang 4 cm, bagian anteriornya halus seperti cambuk, dengan bagian ekor melingkar. Sedangkan cacing betina panjangnya 5 cm, bagian anteriornya pun halus seperti cambuk, tetapi bagian ekor lurus berujung tumpul. Telurnya mempunyai ukuran 50 x 22 mikron, bentuk seperti tempayan dengan ujung menonjol, berdinding tebal dan berisi larva. (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

Gambar 2.2.1 Telur Trichuris trichuira (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

Gambar 2.2.2 Cacing Trichuris trichuira (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

12

d. Siklus Hidup Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3-6 minggu dalam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan tempat yang teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk infektif. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon, terutama sekum. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina meletakkan telur kira-kira 30-90 hari. (Srisasi Gandahusada, Ilahude,Wita Pribadi, 2006)

Gambar 2.2.3 Siklus Hidup Trichuris trichuira (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006)

13

e. Patologi dan Gejala Klinis Cacing Trichuris trichuira pada manusia terutama hidup di sekum, akan tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak, cacing ini tersebar di seluruh kolon dan rektum. Kadang-kadang terlihat di mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat perlekatannnya dapat terjadi perdarahan. Di samping itu rupanya cacing ini mengisap darah hospesnya, sehingga dapat menyebabkan anemia. Penderita terutama anak dengan infeksi Trichuris trichuira yang berat dan menahun, menunjukkan gejala-gejala nyata seperti diare yang sering diselingi dengan sindrom disentri, anemia, berat badan turun, dan kadang-kadang disertai prolapsus rektum. Infeksi berat Trichuris trichuira sering disertai infeksi cacing lainnya atau protozoa. Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Parasit ini ditemukan pada pemeriksaan tinja rutin. f. Diagnosa Laboratorium, dengan menemukan telur di dalam tinja (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006)

14

3. Penyakit Cacing tambang a. Parasit penyebabnya adalah Ancylostoma duodenale dan Necator americanus b. Toxonomi Sub kingdom Phylum Kelas Sub kelas Ordo Super famili Genus Spesies : Metazoa : Nemathelminthes : Nematoda : Phasmidia : Rhabditida : Ancylostomaidea dan Necator : Ancylostoma dan Necator : A. duodenale N. americanus (Jeffrey dan Leach, 1993) c. Morfologi a) Ancylostoma duodenale Memiliki panjang badan 1 cm, menyerupai huruf C. dibagian mulutnya terdapat dua pasang gigi. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks pada bagian ekornya. Sedangkan cacing betina ekornya runcing. b) Necator americanus Memiliki panjang badan 1 cm, menyerupai huruf S. bagian mulutnya mempunyai benda kitin. Cacing jantan

15

mempunyai bursa kopulaptriks pada bagian ekornya. Sedangkan cacing betina ekornya runcing. Telurnya berukuran 70 x 45 mikron, bulat lonjong, berdinding tipis, kedua kutub mendatar. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiformnya memiliki panjang 250 mikron, rongga mulut panjang dan sempit, esophagus dengan dua bulbus dan menempati 1/3 panjang badan bagian anterior. Sedangkan larva filariform, panjangnya 500 mikron, ruang mulut tertutup, esophagus menempati panjang badan bagian anterior. (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

Gambar 2.3.1 Telur Cacing Tambang (Pinardi, 2002)

Gambar 2.3.2 A. duodenale

16

Gambar 2.3.3 N.americanus (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002) d. Siklus Hidup Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1,5 hari keluarlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat 4-8 sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006)

17

Gambar 2.3.4 Siklus Hidup cacing tambang (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006) e. Patologi dan gejala klinis 1) Stadium Larva Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit, maka terjadi perbahan kulit yang disebut ground itch . Perubahan pada paru biasanya ringan. 2) Stadium Dewasa Gejala tergantung pada spesies dan jumlah cacing, serta keadaan gizi penderita (Fe dan Protein). Tiap cacing

Ancylostoma duodenale menyebabkan kehilangan darah 0,080,34 cc sehari, sedangkan Necator americanus 0,005-0,1 cc

18

sehari. Biasanya terjadi anemia hipokrom mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia. Bukti adanya toksin yang menyebabkan anemia belum ada. Biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006) f. Diagnosa Laboratorium ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar. Untuk membedakan spesies A. duodenale dan N. americanus dapat dilakuka biakan tinja dengan cara Harada-Mori. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006) 4. Strongiloidiasis a. Parasit penyebabnya Strongyloides stercoralis b. Toxonomi Sub kingdom : Metazoa Phylum Kelas Sub Kelas Ordo Super famili Genus Species : Nemathelminthes : Nematoda : Phasmidia : Rhabditida : Strongyloidea : Strongyloides : Strongyloides stercoralis

(Jeffrey dan Leach,1993)

19

c. Morfologi Cacing jantan memiliki panjang 1 mm, dengan ekor melingkar dengan spikulum, dan esofagus pendek dengan dua bulbus. Sedangkan cacing betina memiliki panjang yang sama dengan jantan, 10 mm, dengan uterus berisi telur, dan ekor

runcing, serta memiliki esofagus pendek dengan dua bulbus. Larva rabditiformnya memiliki panjang 225 mikron, mulut terbuka, pendek, dan lebar, esofagus dengan dua bulbus. Larva ini memiliki ekor runcing. Larva filariformnya memiliki panjang 700 mikron, langsing, tanpa sarung, ruang mulut tertutup, esofagus menempati panjang badan, bagian ekor berujung tumpul berlekuk. (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

Gambar 2.4.1 Cacing Strongyloides stercoralis (Pinardi Hadidjaja dan Srisasi Gandahusada, 2002)

20

d. Siklus Hidup 1) Siklus langsung Sesudah 2 sampai tiga hari di tanah, larva rabditiform yang berukuran kira-kira 225 x 16 mikron, berubah menjadi larva filariform dengan bentuk langsing dan merupakan benruk infektif. Panjangnya kira-kira 700 mikron. Bila menembus kulit manusia, larva tumbuh, masuk ke dalam peredaran darah vena dan kemudian melalui jantung kanan sampai ke paru. Dari paru parasit yang mulai menjadi dewasa menembus alveolus, masuk ke trakhea dan laring. Sesudah sampai di laring terjadi refleks batuk, sehingga parasit tertelan, kemudian sampai di usus halus bagian atas dan menjadi dewasa. Cacing betina yang dapat bertelur ditemukan kira-kira 28 hari sesudah infeksi. 2) Siklus tidak langsung Pada siklus tidak langsung, larva rabditiform di tanah berubah menjadi cacing jantan dan cacing betina bentuk bebas. Bentuk-bentuk yang berisi ini lebih gemuk dari bentuk parasitik. Cacing yang betina berukuran 1 mm x 0,06 mm, yang jantan berukuran 0,75 mm x 0,04 mm, mempunyai ekor melengkung dengan dua buah spikulum. Sesudah pembuahan, cacing betina menghasilkan telur yang menetas menjadi larva rabditiform. Larva rabditiform dalam waktu beberapa hari dpat menjadi larva filariform yang infektif dan masuk ke dalam hospes baru, atau

21

larva rabditiform tersenut dapat juga mengulangi fase hidup bebas. Siklus tidak langsung ini terjadi bilamana keadaan lingkungan sekitarnya optimum yaitu sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan untuk kehidupan bebas parasit ini, misalnya di negerinegeri tropic dengan iklim lemabab. Siklus langsung ini sering terjadi di negeri-negeri yang lebih dingin dengan keadaan yang kurang menguntungkan untuk parasit tersebut. 3) Autoinfeksi Larva rabditiform kadang-kadang menjadi larva filariform di usus atau daerah sekitar anus (perianal), misalnya pada pasien penderita obstipasi dan pada pasien penderita diare. Bila larva filariform menembus mukosa usus atau kulit perianal, maka terjadi suatu daur perkembangan di dalam hospes. Adanya autoinfeksi dapat menyebabkan strongiloidiasis menahun pada penderita yang hidup di daerah non endemik. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006 )

22

Gambar 2.4.2 Siklus Hidup Cacing Strongyloides stercoralis (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006 ) e. Patologi dan Gejala Klinis Bila larva filariform dalam jumlah besar menembus kulit, timbul kelainan yang dinamakan creeping eruption yang sering disertai dengan rasa gatal yang hebat. Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada mukosa usus muda. Infeksi ringan dengan Strongyloides pada umumnya terjadi tanpa diketahui hospesnya karena tidak menimbulkan gejala. Infeksi sedang dapat menyebabkan rasa sakit seperti tertusuk-tusuk di daerah epigastrium tengah dan tidak menjalar. Mungkin ada mual, dan muntah, diare dan konstipasi saling bergantian. Pada strongiloidiasis ada kemungkinan terjadi autoinfeksi dan hiperinfeksi. Pada

23

hiperinfeksi cacing dewasa yang hidup sebagai parasit dapat ditemukan di seluruh traktus digestivus dan larvanya dapat ditemukan di berbagai alat dalam (paru, hati, kandung empedu). Sering ditemukan pada orang yang mengalami gangguan imunitas dan dapat

menimbulkan kematian. Pada pemriksaan darah mungkin ditemukan eosinofilia atau hiperesinofilia meskipun pada banyak kasus jumlah sel eosinofil normal. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006) f. Diagnosa Laboratorium Diagnosis klinis tidak pasti, karena strongiloidiasis tidak memberikan gejala klinis yang nyata. Diagnosis pasti yaitu apabila menemukan larva rabditiform dalam tinja segar dalam biakan atau dalam aspirasi duodenum. Biakan tinja selama sekurang-kurangnya 2 x 24 jam menghasilkan larva rabditiform dan cacing dewasa

Strongyloides stercoralis yang hidup bebas. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006)

C. Tanah 1. Pendahuluan Tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsolidated) terletak dipermukaan bumi, yang telah dan tetap akan mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme

24

(makro dan mikro) dan topografipada suatu periode waktu tertentu. (Kumar Abadi, 2005) a. Sifat Fisik Tanah Secara keseluruhan sifat fisik tanah ditentukan oleh : 1) Ukuran dan komposisi partikel-partikel hasil pelapukan bahan penyusun tanah. 2) Jenis dan proporsi komponen-komponen penyusun partikelpartikel. 3) Keseimbangan antara suplai air, energi dan bahan dengan kehilangannya. 4) Intensitas reaksi kimiawi dan biologis yang telah atau sedang berlangsung. (Kumar Abadi, 2005) b. Tekstur Tanah Tekstur tanah menunjukan komposisi partikel penyusun tanah (separat), yaitu : 1). Pasir (sand) berdiameter 2,00 sampai 0,20 mm atau 2000-200 m 2). Debu (silt) berdiameter 0,20-0,002 mm atau 200-2 m 3). Liat (clay) berdiameter < 2 m Berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi: a) Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang mengandung minimal 70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung.

25

b) Tanah bertekstur halus atau tanah berliat berarti tanah yang mengandung minimal 37,5% liat atau bertekstur liat, liat berdebu atau liat berpasir. c) Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung, terdiri dari: (1) Tanah bertekstur sedang tetapi agak kasar meliputi tanah yang bertekstur lempung berpasir (sandy loam) atau lempung berpasir halus. (2) Tanah bertekstur sedang meliputi yang bertekstur lempung berpasir halus, lempung (loam), lempung berdebu (silty loam) atau debu (silt). (3) Tanah bertekstur sedang tetapi agak halus mencakup lempung liat (clay loam), lempung liat berpasir (sandy clay loam) atau lempung liat berdebu (sandy-silt loam) (Kumar Abadi, 2005). 2. Penyebaran penyakit kecacingan Penyebaran penyakit kecacingan dari tinja manusia dapat melalui salah satunya adalah tanah (Soemirat, 2000). Berbagai akibat kurangnya dalam pengelolaan sampah sejak sampah dihasilkan sampai pembuangan akhir sangat merugikan kesehatan masyarakat secara langsung salah satunya adalah terjadinya pencemaran tanah oleh nematoda Trichuris usus soil transmitted Ancylostoma helminths (Ascaris dan

lumbricoides,

trichuira,

duodenale,

Strongyloides stercoralis) (Cahyo Wu, 2009)

26

Penyebaran penyakit cacingan dapat melalui terkontaminasinya tanah dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura, telur tumbuh dalam tanah liat yang lembab dan tanah dengan suhu optimal 30 C .(Depkes R.I, 2004:18). Tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25C-30 C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi bentuk infektif (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006:11). Sedangkan untuk pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28C-32C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23C25 C tetapi umumnya lebih kuat (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006:15). Kondisi tanah yang lembab dengan bertumpuknya banyak sampah merupakan habitat yang tepat untuk nematoda hidup dan berkembang biak. Tesktur tanah yang sangat bervariasi yang terdiri dari tanah pasir, debu dan liat sangat memungkinkan hidup dan berkembang biak telur-telur cacing hingga menjadi cacing yang infektif menularkan penyakit kecacingan. (Cahyo Wu, 2009) Upaya kebersihan yang harus dilakukan untuk mewujudkan kondisi halaman rumah yang bersih melalui pengelolaan sampah. Pengendalian dampak pembuangan sampah untuk mengurangi resiko bagi

27

kesehatan masarakat terutama untuk mengurangi terjadinya infeksi kecacingan. (Cahyo Wu, 2009) 3. Halaman Rumah Halaman merupakan pekarangan di muka rumah. (Trisno Yuwono dan Silvita, 2006) Dalam penelitian ini, yang dimaksud halaman rumah adalah pekarangan di sekitar rumah, meliputi pekarangan depan, samping, maupun belakang rumah.