Anda di halaman 1dari 1

Pemeriksaan Penunjang Terdapat beberapa jenis pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnos is infeksi HIV.

Secara garis besar dapat dibagi menjadi pemeriksaan serologik un tuk mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV dan pemeriksaan untuk mendeteksi keb eradaan virus HIV. Deteksi adanya virus HIV dalam tubuh dapat dilakukan dengan i solasi dan biakan virus, deteksi antigen, dan deteksi materi genetik dalam darah pasien. Pemeriksaan yang lebih mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan terhadap ant ibodi HIV. Sebagai penyaring biasanya digunakan teknik ELISA (enzyme-linked immu noabsorbent assay), aglutinasi atau dot-blot immunobinding assay. Metode yang bi asanya digunakan di Indonesia adalah dengan ELISA. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibodi HIV ini yaitu adanya masa jendela. Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibo di mulai terbentuk 4-8 minggu setelah infeksi. Jadi jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil negatif. Untuk itu, jika kecurigaan akan adanya resiko terinfeksi yang cukup tin ggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan bulan kemudian. Seseorang yang ingin menjalani tes HIV untuk keperluan diagnosis harus me ndapatkan konseling pra tes. Hali ini harus dilakukan agar ia mendapt informasi yang sejelas-jelasnya mengenai infeksi HIV/AIDS sehingga dapat mengambil keputu san yang terbaik untuk dirinya serta lebih siap menerima apapun hasilnya nanti. Untuk membritahu hasil tes juga diperlukan konseling pasca tes. Jika hasil posit if akan diberi informasi mengenai pengobatan untuk memperpanjang masa tanpa geja la dan mencegah penularan. Jika hasil negatif, akan diberikan informasi bagaiman a mempertahankan perilaku yang tidak berisiko.