Anda di halaman 1dari 3

JAMINAN KESEHATAN: HAK SEMUA RAKYAT!

Menilik dari sejarah Hari Kesehatan Nasional dimulai dari kota Yogyakarta, tepatnya di Kalasan pada tanggal 12 November 1964, dimana Presiden RI Ir. Soekarno secara simbolis memerangi penyakit malaria. Pada saat itu penyakit malaria telah merenggut nyawa ratusan ribu jiwa. Kini selepas 48 tahun berselang, persoalan kesehatan semakin berkembang, mulai dari sistem kebijakan, program kesehatan, maupun pelayanan itu sendiri. Selain itu telah terjadi pergeseran dalam paradigma sehat yang menekankan pada kondisi sehat secara jasmani, rohani maupun kesejahteraan sosial dan ekonomi. Namun pada sebagian besar masyarakat masih memahami sehat secara fisik dan mental yang bersifat kuratif.1 Tentu kita sepakat, kesehatan merupakan bagian dari hak asasi manusia, seperti yang dituangkan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Namun pemenuhan kesehatan tersebut mengalami permasalahan yang klasik, yaitu biaya karena anggaran kesehatan di Indonesia amat terbatas yaitu hanya 3,1% PDB pada tahun 2003. Besarnya jumlah anggaran ini jauh dibawah anjuran dari WHO yaitu minimal 5% PDB. Anggaran belanja kesehatan pada tahun 2008 sebesar 14,1 T, sementara pada tahun 2009 sebesar 15,743 T, dan pada tahun 2010 sebesar 19,8 T. Pada tahun 2011 justru turun drastis menjadi 12,84 T.2 Pada tahun 2012, anggaran kesehatan meningkat menjadi 28 T, namun secara persentasi menurun dari 2,2 % menjadi 1, 9% dari APBN.3 Untuk mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak, tentu pemerintah wajib menjamin kesehatan rakyatnya seperti diamanahkan oleh UU SJSN. Dengan adanya jaminan kesehatan, masyarakat mampu meningkatkan kebutuhan dasar hidup yang lebih layak. Dengan anggaran dana kesehatan yang terbatas, mengakibatkan tidak semua masyarakat mampu mengakses pelayanan kesehatan dan mendapatkan jaminan kesehatan. Hanya kalangan PNS dan masyarakat kalangan menengah ke atas yang mempunyai asuransi kesehatan. Saat ini cakupan program Jamkesmas dari pemerintah hanya mampu mencapai 76,4 juta jiwa. Masih sangat kecil dan belum mampu mencakup keseluruhan populasi di Indonesia.

Optimalisasi Peran Pemda Pasca tahun 2001, telah terjadi reformasi kesehatan yang merubah sistem kesehatan yang ada di negeri ini akibat diterapkannya desentralisasi, yaitu terjadi reposisi dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Pemerintah daerah kini memegang peranan dalam mengembangkan kesejahteraan di daerah terutama pembiayaan kesehatan. Pada awal desentralisasi, terlihat pemerintah daerah belum siap, karena alokasi anggaran kesehatan tidak cukup untuk pembiayaan pelayanan kesehatan, sehingga program pelayanan kesehatan sempat terhambat. Namun sejak tahun 2008, pemerintah daerah mulai melaksanakan jaminan kesehatan daerah bagi masyarakat miskin yang tidak mendapat perlindungan jaminan kesehatan dari pemerintah pusat. Tercatat hingga kini, berdasar data Kementrian Kesehatan yang diambil dari PPJK Depkes RI (2011), 33 provinsi dan 349 kabupaten/kota yang telah menyelenggarakan program jaminan kesehatan daerah. masyarakat yang mendapatkan jaminan kesehatan baik dari pemerintah pusat (76,4 juta) dan jaminan kesehatan daerah (31,6 juta) telah mencapai 108 juta masyarakat miskin.4 Jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah belum mampu memberikan pelayanan yang terbaik, bahkan menimbulkan banyak masalah. Hal ini terjadi bukan hanya di satu daerah namun berbagai daerah. Beberapa masalah yang sering terjadi pada penyelenggaraan JAMKESDA meliputi: 1. Lemahnya pengawasan verifikasi bagi peserta Jamkesda, sehingga peserta Jamkesda rentan tidak tepat sasaran. Seperti analisa yang dilakukan tim FK UNPAD dalam melakukan kajian di BAPEL Jamkesda Karawang, hanya 5% peserta Jamkesda Kabupaten Karawang yang tepat sasaran (Berita SINDO, 15-06-11).5 2. Sistem administrasi dalam pembayaran klaim kesehatan yang buruk, sehingga pembayaran klaim ke provider kesehatan tersendat. Seperti yang terjadi pada Pemkab Karawang, hutang pada RSUD Karawang dan rumah sakit swasta mencapai Rp 8 miliar dalam klaim Jamkesda (Berita SINDO, 15-06-11).5 3. Penyusunan anggaran jaminan kesehatan terkait besarnya premi, anggaran jaminan kesehatan, dan antisipasi peningkatan peserta jaminan kesehatan yang belum optimal, sehingga muncul masalah dana Jamkesda 2011 yang tidak sepenuhnya terserap. Hanya beberapa paket program Jamkesda yang dilaksanakan yang mampu terserap maksimal. Misalnya realisasi 52,9% dari dana yang disediakan Bapel Jamkesda Yogyakarta (Berita Republika, 28-09-11)6, ataupun masalah anggaran Jamkesda yang terbatas dari APBD telah habis akibat tidak mengantisipasi peningkatan pembiayaan kesehatan oleh peserta

Jamkesda seperti yang terjadi di daerah Cirebon, dana yang dikucurkan Bapel Jamkesda telah habis (Berita portal Lensa Indonesia, 15-05-12).7 Semua permasalahan itu terjadi karena ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mensinergiskan elemen-elemen yang penting serta terkait dalam pelaksanaan program Jamkesda seperti Bapel, Puskesmas maupun rumah sakit sebagai provider kesehatan, dan masyarakat sebagai peserta jaminan kesehatan daerah. Selain itu perlu dilakukannya perubahan badan hukum Bapel menjadi BUMD atau BULD menjadi prioritas ke depan8, untuk mempermudah Bapel dalam mengelola dana yang diperoleh dari masyarakat sebagai wujud kesadaran masyarakat dalam ikut serta iur biaya atau premi dalam mendapatkan jaminan kesehatan. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi beban APBD, karena yang akan mendapatkan subsidi hanyalah masyarakat yang tidak mampu membayar premi. Tentu saja pada penentuan premi perlu dilakukan kajian dalam hal keuntungan yang diperoleh, kemampuan dan keinginan masyarakat, serta premi dasar penggunaan layanan kesehatan. Dan jika penerapan sistem kendali mutu dan kendali biaya pelayanan kesehatan yang merupakan prinsip managed care dapat ditingkatkan dan dilaksanakan sesuai prosedur antara Bapel dengan provider kesehatan, seperti Puskesmas dan rumah sakit, akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengeluaran jaminan kesehatan kepada masyarakat. Namun semua itu kembali kepada komitmen para pengambil kebijakan nasional maupun daerah mulai dari presiden, anggota dewan, gubernur maupun bupati dan walikota untuk melaksanakan amanah konstitusi UUD 1945. Dalam amandemen UUD 1945 pasal 28 H ayat 1 berbunyi Setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan dan pada pasal 28 H ayat 3 menegaskan kepada jaminan kesehatan yang berbunyi Setiap penduduk berhak atas jaminan sosial.