P. 1
Analisis Bentuk Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai Kecamatan Pantai Labu

Analisis Bentuk Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai Kecamatan Pantai Labu

|Views: 2,498|Likes:
Dipublikasikan oleh Oswald Sitanggang

More info:

Published by: Oswald Sitanggang on May 24, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

06/24/2014

1

ANALISIS BENTUK AKTIVITAS EKONOMI DAERAH PANTAI DI KECAMATAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG

Makalah Geografi Ekonomi

Disusun Oleh Oswald Sitanggang NIM: 3113331025

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2013

2 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Aktivitas Ekonomi merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Salah satu cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah dengan melakukan aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitarnya. Kebutuhan manusia harus dipenuhi dan dipelihara agar dapat terjamin secara layak dan berkelanjutan dan hanya bisa terwujud melalui usaha/kerja manusia yang biasa disebut dengan “Aktivitas Ekonomi” Dengan adanya aktivitas ekonomi, maka manusia akan menghasilkan (berproduksi). Segala macam aktivitas ekonomi yang ada hanya dapat berlangsung jika berhubungan dengan lingkungan hidup manusia, yaitu alam disekitarnya Bentuk Alam beserta sumber daya alam yang terdapat didalamnya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi Aktivitas Ekonomi di suatu daerah. Aktivitas ekonomi penduduk di suatu daerah tentu berbeda dengan daerah lain. Misalnya di daerah pantai masyarakatnya memiliki aktivitas ekonomi sebagai nelayan, pengolahan garam, pelabuhan laut, pegawai negeri, pegawai swasta, buruh, pedagang. Aktivitas penduduk di daerah dataran rendah biasanya lebih beranekaragam, hal ini dikarenakan kondisi alam daerah datar cocok digunakan untuk berbagai keperluan. Sebagai contoh untuk permukiman, perdagangan, dan industri. sedangkan dataran tinggi biasanya aktivitas atau kegiatan ekonominy misalnya sebagai petani, buruh tani, pedagang hasil bumi, pengrajin alat – alat rumah tangga dan alat pertanian, peternak, buruh musiman dan lain – lain. Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai biasanya adalah memanfaatkan sumber daya alam yaitu sebagai nelayan. Dimana penduduk yang bekerja sebagai nelayan mengambil ikan di alam yaitu di lautan. Aktivitas ekonomi tersebut disebut dengan Primary Occupation (Bidang Usaha Primer), yaitu aktivitas ekonomi penduduk yang berhubungan dengan hasil produksi dari apa yang disediakan oleh alam.

3 B. Rumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang 2. Bagaimana Penggunaan Lahan Daerah Pantai Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui Bagaimana Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai di Kecamatan Pantai Labu. 2. Untuk Mengetahui Bagaimana Penggunaan Lahan Daerah Pantai di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.

D. Manfaat Penelitian 1. Memberi informasi mengenai Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai di Kecamatan Pantai Labu. 2. Memberi informasi mengenai Penggunaan Lahan Daerah Pantai di Kecamatan Pantai Labu.

4 BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori 1. Pengertian Geografi, Ekonomi, dan Geografi Ekonomi Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dari sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan. Ekonomi adalah Pengaturan kebutuhan di dalam rumah tangga baik pendidikan, pekerjaan, pendapatan. Geografi Ekonomi adalah Ilmu yang mempelajari tentang aktivitas ekonomi penduduk yang dipengaruhi oleh aspek – aspek lingkungan alam baik fisik maupun sosial/manusia. Pengertian Geografi Ekonomi menurut para ahli bahwa Geografi Ekonomi sebagai cabang Geografi Manusia yang bidang studinya struktur Aktivitas Keruangan Ekonomi sehingga titik berat studinya adalah aspek keruangan struktur ekonomi manusia yang didalamnya bidang pertanian, industri – perdagangan – komunikasi – transportasi dan lain sebagainya (Nursid, 1988:54). Geografi Ekonomi sebagai ilmu yang membahas mengenai cara – cara manusia dalam kelangsungan hidupnya berkaitan dengan aspek keruangan, dalam hal ini berhubungan dengan eksplorasi sumber daya alam dari bumi oleh manusia, produksi dari komoditi (bahan mentah, bahan pangan, barang pabrik) kemudian usaha transportasi, distribusi, konsumsi (Suharyono, 1994:34) Geografi disuatu bagian menggambarkan data mengenai ekonomi dan bidang – bidang lain yang berkembang dengannya seperti: agronomi, transportasi, perdagangan luar negeri, pemasaran, dan sosiologi, serta bidang – bidang lainnya. Sedangkan dibagian lain digambarkan tentang fisiografis dan pengetahuan lapangan lainnya seperti: tanah, geologi, klimatologi, botani, zoologi dan sebaginya. Oleh karena itu, geografi ekonomi mencakup data dari bidang ekonomi dan pengetahuan tentang bumi yang mewujudkan saling hubungan antar keduanya menjadi satu bahan bagian baru.

5 Geografi ekonomi adalah “Geography of mans economic activities”. Oleh karena aktivitas ekonomi manusia itu bertahan dengan bermacam – macam aspek dan bentuknya juga macam – macam, maka sebenarnya tercakup pula bagian – bagian lain yang dapat dikembangkan lagi menjadi bidang studi yang masing – masingnya membahas “Special aspec of economic mans activities” sebagai berikut: a. Geografi Pertanian (Agricultural Geography) b. Geografi Industri (Industrial Geography or Geography of Manufacturing) c. Geografi perdagangan dan transportasi (Geography of Trade and Transportation) d. Geografi Sumber daya alam (Geography of Resources) e. Geografi Energi (Geography of Energy) f. Geografi Pariwisata (Geography of Tourism), dll Unsur ekonomi itu dipelajari dalam geografi ekonomi melalui 3 aspek, yaitu: 1. Letak/Lokasi dari aktivitas ekonomi Dalam geografi masalah letak/lokasi merupakan hal yang fundamental, sehingga bila orang yang akan mempelajari/menyelidiki misalnya industri pertanian. Dimana sebaiknya industri ini berlokasi dan penyebarannya. Tiap – tiap daerah (areal) mempunyai perbedaan atau variasi dalam hal: iklim, tanah, relief, bentuk daerah dan lain – lainnya. Juga tiap daerah itu terdapat kesamaan – kesamaan dalam fenomena tertentu. 2. Bentuk dan ciri – ciri Aktivitas Ekonomi Gambaran tentang keadaan fenomena yang dibicarakan perlu kelengkapannya, seperti: sifat dan karakteristik aktivitas ekonomi tersebut, apa bahan dasar, proses pengolahan, modal produksi dan bagaimana pemasarannya yang berhubungan juga dengan penggunaan/fungsinya.

3. Hubungan dengan fenomena lain Seperti hubungan antara fenomena fisis dan kebudayaan, hubungan sebab akibat dimana antara fenomena tersebut berkorelasi dengan variable lain. Mengapa industri pertanian ditempatkan didaerah tersebut? Mengapa

perkembangan industri tersebut berbeda antara region yang satu dengan region lain? Hal inilah yang perlu dibahas sehubungan dengan aktivitas ekonomi yang tujuannya adalah produktivitas

6 2. Pengertian Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Aktivitas adalah sebuah kegiatan atau keaktifan. Ekonomi adalah pemanfaatan uang, tenaga, waktu dan sebagainya yang berharga. Istilah Ekonomi berasal dari bahasa yunani, yaitu secara etimologi, oikos yang artinya rumah tangga, nomos: yang artinya aturan, Ekonomi berarti aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup didalam rumah tangga. Penduduk adalah semua orang yang tinggal di wilayah geografis indonesia. Dan daerah pantai adalah jalur yang merupakan batas antara darat dan laut, diukur pada saat pasang tertinggi dan surut terendah. Jadi Aktivitas Ekonomi Penduduk Daerah Pantai adalah seluruh Kegiatan Ekonomi Penduduk yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berlangsung di Daerah Pantai. Secara garis besarnya, aktivitas ekonomi manusia dapat digolongkan atas 3 kelompok besar (three mayor group of occupation), yaitu: a. Primary Occupation (bidang usaha Primer) Yaitu, bidang usaha yang langsung berhubungan dengan hasil produksi yang disediakan oleh alam. Misalnya pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan pertambangan. b. Secondary Occupation (bidang usaha Sekunder) Yaitu, usaha yang berhubungan dengan proses pengolahan dan pengubahan bahan mentah atau bahan dasar menjadi barang jadi atau setengah jadi. c. Tertiary Occupation (bidang usaha Tersier) Yaitu, usaha – usaha dibidang pelayanan dan jasa, seperti komunikasi dan transportasi, perbengkelan dan service, perbankan, perhotelan, pariwisata, pelayanan kesehatan dan lain – lain.

3. Teori Daerah Pantai Daerah Pantai adalah jalur yang merupakan batas antara darat dan laut, diukur pada saat pasang tertinggi dan surut terendah, dipengaruhi oleh fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan kearah darat dibatasi oleh proses alami dan kegiatan manusia di lingkungan darat (Triatmodjo, 1999, Hal 1).

7 Penjelasan mengenai defenisi daerah pantai dapat dilihat pada Gambar berikut ini:

Sumber: Bambang Triatmodjo, “Teknik Pantai” 1999, Hal 1 a. Pesisir adalah daerah darat di tepi laut yang masih mendapat pengaruh laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air laut. b. Pantai adalah daerah di tepi perairan sebatas antara surut terendah dan pasang tertinggi. c. Garis pantai adalah garis batas pertemuan antara daratan dan air laut, dimana posisinya tidak tetap dan dapat bergerak sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi. d. Sempadan pantai adalah daerah sepanjang pantai yang diperuntukkan bagi pengamanan dan pelestarian pantai. e. Perairan pantai adalah daerah yang masih dipengaruhi aktivitas daratan.

Daerah pantai tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Di kawasan ini sering digunakan sebagai tempat rekreasi, budidaya berbagai macam sumberdaya laut. Masalah yang sering muncul di daerah pantai adalah masalah erosi. Erosi pantai, yang merusak kawasan pemukiman dan prasarana kota yang berupa mundurnya garis pantai. Erosi pantai bisa terjadi secara alami oleh serangan gelombang atau karena adanya kegiatan manusia (Bambang Triatmojo, 1990). Morfologi pantai dan dasar laut dekat pantai akibat pengaruh gelombang dibagi menjadi empat kelompok yang berurutan dari darat ke laut sebagai berikut: a. Backshore merupakan bagian dari pantai yang tidak terendam air laut kecuali bila terjadi gelombang badai b. Foreshore merupakan bagian pantai yang dibatasi oleh beach face atau muka pantai pada saat surut terendah hingga uprush pada saat air pasang tinggi.

8 c. Inshore merupakan daerah dimana terjadinya gelombang pecah, memanjang dari surut terendah sampai ke garis gelombang pecah. d. Offshore yaitu bagian laut yang terjauh dari pantai (lepas pantai), yaitu daerah dari garis gelombang pecah ke arah laut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari Gambar berikut:

Sumber: Bambang Triatmodjo, “Teknik Pantai” 1999, Hal 1

Pantai merupakan gambaran nyata interaksi dinamis antara air, gelombang dan material (tanah). Angin dan air bergerak membawa material tanah dari satu tempat ke tempat lain, mengikis tanah dan kemudian mengendapkannya lagi di daerah lain secara terus-menerus. Dengan kejadian ini menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai. Dalam kondisi normal, pantai selalu bisa menahan gelombang dan mempunyai pertahanan alami (sand dune, hutan bakau, terumbu karang) untuk melindungi diri dari serangan arus dan gelombang. Jenis-jenis atau tipe pantai berpengaruh pada kemudahan terjadinya erosi pantai. Berikut adalah penggolongan pantai di Indonesia berdasarkan tipe-tipe paparan (shelf) dan perairan (Pratikto, dkk., hal. 7): 1. Pantai Paparan
Pantai paparan merupakan pantai dengan proses pengendapan yang lebih dominan dibanding proses erosi/abrasi. Pantai paparan umumnya terdapat di Pantai Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera, Pantai Timur dan Selatan Kalimantan dan Pantai Selatan Papua, dan mempunyai karakteristik sebagai berikut:

9
a. Muara Sungai Memiliki Delta, airnya keruh mengandung lumpur dan terdapat proses sedimentasi b. Pantainya landai dengan perubahan kemiringan ke arah laut bersifat gradual dan teratur. c. Daratan pantainya dapat lebih dari 20 km.

2. Pantai Samudra
Pantai samudra merupakan pantai dimana proses erosi lebih dominan dibanding proses sedimentasi. Terdapat di Pantai Selatan Jawa, Pantai Barat Sumatera, Pantai Utara dan Timur Sulawesi serta Pantai Utara Papua, dan mempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Muara sungai berada dalam teluk, delta tidak berkembang baik dan airnya

jernih.
b. Batas antara daratan pantai dan garis pantai (yang umumnya lurus) sempit. c. Kedalaman pantai ke arah laut berubah tiba-tiba (curam).

3. Pantai Pulau
Pantai pulau merupakan pantai yang mengelilingi pulau kecil. Pantai ini dibentuk oleh endapan sungai, batu gamping, endapan gunung berapi atau endapan lainnya. Pantai pulau umumnya terdapat di Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, dan Kepulauan Nias.

4. Pengertian Lahan Lahan adalah bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO 1976 dalam Niin 2010). Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas fauna dan manusia baik di masa lalu maupun saat sekarang, seperti tindakan konservasi tanah dan reklamasi pada suatu lahan tertentu. Setiap aktivitas manusia baik langsung maupun tidak langsung selalu terkait dengan lahan, seperti untuk pertanian, pemukiman, transportasi, industri atau untuk rekreasi, dan lain – lain sehingga dapat dikatakan bahwa lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

10 Sitorus (2001) mendefinisikan sumberdaya lahan (landresources) sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan.Vink dalam Gandasasmita (2001) mengemukakan bahwa lahan adalah suatu konsep yang dinamis. Lahan bukan hanya merupakan tempat dari berbagai ekosistem tetapi juga merupakan bagian dari ekosistem-ekosistem tersebut. Lahan juga merupakan konsep geografis karena dalam pemanfaatannya selalu terkait dengan ruang atau lokasi tertentu, sehingga karakteristiknya juga akan sangat berbeda tergantung dari lokasinya. Dengan demikian kemampuan atau daya dukung lahan untuk suatu penggunaan tertentu juga akan berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya. Sumberdaya lahan mungkin dinilai dalam aspek atau atribut yang berbeda dalam pemanfaatannya. Perbedaan dalam cara penilaian lahan ini akan menyebabkan perbedaan dalam penggunaannya. Seorang petani yang akan memanfaatkan lahan akan lebih memperhatikan aspek ekosistem seperti ketersediaan air atau kemudahan untuk diolah, sebaliknya seorang pengembang perumahan akan lebih memperhatikan aspek ruang atau lokasi dari lahan yang bersangkutan. Selanjutnya, penggunaan yang lebih menekankan lahan sebagai aspek ekosistem ataupun yang lebih menekankan lahan sebagai ruang, keduanya 6 akan memberikan dampak tertentu terhadap lahan sebagai suatu bentang alam. (Gandasasmita 2001). Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk campur tangan manusia terhadap sumber daya lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materil maupun spiritual (Vink 1975 dalam Gandasasmita 2001). Campur tangan manusia ini sangat jelas terutama dalam memanipulasi kondisi ataupun proses ekologi yang berlangsung pada suatu areal. Dalam penggunaan lahan ini manusia berperan sebagai pengatur ekosistem, yaitu dengan menyingkirkan komponen-komponen yang dianggap tidak berguna ataupun dengan mengembangkan komponen yang diperkirakan akan menunjang penggunaan lahannya (Mather 1986 dalam Rosnila 2004). Misalnya diubahnya areal hutan yang heterogen menjadi lahan perkebunan yang homogen karena budidaya perkebunan lebih menguntungkan daripada hutan. Demikian juga dengan pengalihfungsian lahan rawa menjadi lahan tambang, lahan terbuka menjadi perkebunan dan sebagainya. Menurut Lillesand dan Kiefer

(1990), penutupan lahan merupakan perwujudan fisik objek-objek yang menutupi

11 lahan tanpa mempersoalkan kegiatan manusia terhadap objek-objek tersebut. Sedangkan penggunaan lahan secara umum didefinisikan sebagai penggolongan penggunaan lahan yang dilakukan secara umum seperti pertanian tadah hujan, pertanian beririgasi, padang rumput, kehutanan, atau daerah rekreasi.

Arsyad (2010) mengelompokkan penggunaan lahan ke dalam dua bentuk yaitu: 1. Penggunaan Lahan Pertanian yang dibedakan berdasarkan atas penyediaan air dan komoditas yang diusahakan, dimanfaatkan atau atas jenis tumbuhan atau tanaman yang terdapat di atas lahan tersebut, seperti tegalan, sawah, kebun, padang rumput, hutan dan sebagainya; 2. Penggunaan Lahan non pertanian seperti penggunaan lahan pemukiman kota atau desa, industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya. Sebagai wujud kegiatan manusia, maka di lapangan sering dijumpai penggunaan lahan baik bersifat tunggal (satu penggunaan) maupun kombinasi dari dua atau lebih penggunaan lahan.

Menurut FAO (1995) dalam Luthfi Rayes (2007), Lahan memiliki banyak fungsi, yaitu: a. Fungsi Produksi Sebagai basis bagi berbagai sistem penunjang kehidupan, melalui produksi biomasa yang menyediakan makanan, pakan ternak, serat, bahan bakar kayu dan bahan – bahan biotik lainnya bagi manusia, baik secara langsung maupun melalui binatang ternak termasuk budidaya kolam dan tambak ikan. b. Fungsi Lingkungan Biotik Lahan merupakan basis bagi keragaman daratan (terrertrial) yang

menyediakan habitat biologi dan plasma nutah bagi tumbuhan, hewan dan jasad – mikro dan dibawah permukaan tanah c. Fungsi Pengatur Iklim Lahan dan penggunaannya merupakan sumber (source) dan rosot (sink) gas rumah kaca dan menentukan neraca energi global berupa pantulan, serapan dan transformasi dari energi radiasi matahari dan daur hidrologi global. d. Fungsi Hidrologi Lahan mengatur simpanan dan aliran sumberdaya air tanah dan air permukaan serta mempengaruhi kualitasnya

12 e. Fungsi Penyimpanan Lahan merupakan gudang (sumber) berbagai bahan mentah dan mineral untuk dimanfaatkan oleh manusia f. Fungsi Pengendali Sampah Dan Polusi Lahan berfungsi sebagai penerima, penyaring, penyangga dan pengubah senyawa – senyawa berbahaya. g. Fungsi Ruang Kehidupan Lahan menyediakan sarana fisik untuk tempat tinggal manusia, industri, dan aktivitas sosial seperti olahraga dan rekreasi h. Fungsi Peninggalan dan Penyimpanan Lahan merupakan media untuk menyimpan dan melindungi benda – benda bersejarah dan sebagai suatu sumber informasi tentang kondisi iklim dan penggunaan lahan masa lalu i. Fungsi penghubung spasial Lahan menyediakan ruang untuk transportasi manusia, masukan dan produksi serta untuk pemindahan tumbuhan dan binatang antara daerah terpencil dari suatu ekosistem alami. Berdasarkan yang diungkapkan oleh Arsyad (1989), lahan memiliki Sifat – sifat lahan, yaitu atribut atau keadaan unsur – unsur lahan yang dapat diukur atau diperkirakan, seperti tekstur tanah, struktur tanag, jumlah curah hujan, distribusi hujan, tempratur, drainase tanah, jenis vegetasi dan sebagainya. Sifat lahan merupakan suatu penciri dari segala sesuatu yang terdapat di lahan tersebut yang merupakan pembeda dari suatu lahan yang lainnya. Sifat lahan menunjukkan bagaimana kemungkinan penampilan lahan jika digunakan untuk suatu penggunaan lahan. Sifat lahan menentukan atau mempengaruhi keadaan, yaitu bagaimana ketersediaan air, peredaran udara, perkembangan akan kepekaan erosi, ketersediaan unsur hara dan sebagainya. Perilaku lahan yang menentukan pertumbuhan tersebut disebut kualitas lahan.

13 Sifat – sifat lahan terdiri dari beberapa bagian, yaitu karakteristik lahan, kualitas lahan, pembatas lahan, persyaratan penggunaan lahan, perbaikan lahan (Jamulya, 1991:2) a. Karakteristik Lahan Karakteristik lahan adalah suatu parameter lahan yang dapat diukur atau diestimasi, misalnya kemiringan lereng, curah hujan, teksur tanah dan struktur tanah. Satuan parameter lahan dalam survey sumberdaya lahan pada umumnya disertai deskripsi karakteristik lahan.

b. Kualitas Lahan Kualitas lahan mempengaruhi tingkat kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu. Kualitas lahan dinilai atas dasar karakteristik lahan yang berpengaruh. Suatu karakteristik lahan yang dapat berpengaruh pada suatu kualitas lahan tertentu, tetapi tidak dapat berpengaruh pada kualitas lahan lainnya.

c. Pembatas Lahan Pembatas lahan merupakan faktor pembatas jika tidak atau hampir tidak dapat memenuhi persyaratan untuk memperoleh produksi yang optimal dan pengelolaan dari suatu penggunaan lahan tertentu. Pembatas lahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Pembatas lahan permanen (pembatas lahan yang tidak dapat diperbaiki dengan usaha – usaha perbaikan lahan (land improvement). 2. Pembatas lahan sementara (pembatas lahan yang dapat diperbaiki dengan cara pengelolaan lahan)

d. Persyaratan Penggunaan Lahan 1. Persyaratan penggunaan lahan dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu: Persyaratan ekologikal, contohnya ketersediaan air, ketersediaan unsur hara, ketersediaan oksigen, resiko banjir, lingkup tempratur, kelembaban udara dan periode kering 2. Persyaratan pengelolaan, contohnya persiapan pembibitan dan mekanisasi selama panen 3. Persyaratan konservasi, contohnya control erosi, resiko komplen tanah, resiko pembentukan kulit tanah.

14 5. Pengertian Mangrove Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob. Secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Santono, et al., 2005). Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan dan hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove. Mangrove merupakan ekosistem hutan yang unik karena merupakan perpaduan antara ekosistem darat dan ekosistem perairan. Hutan mangrove mempunyai peranan yang sangat penting terutama bagi kehidupan masyarakat sekitarnya dengan memanfaatkan produksi yang ada di dalamnya, baik sumberdaya kayunya maupun sumberdaya biota air (udang, kepiting, ikan) yang biasanya hidup dan berkembang biak di hutan mangrove (Santono, et al., 2005). Hutan mangrove di Indonesia, yang terbagi kedalam 2 (dua) zone wilayah geografi mangrove yakni Asia dan Oseania, kedua zona tersebut memiliki keanekaragaman tumbuhan, satwa dan jasad renik yang lebih besar dibanding negara-negara lainnya. Hal ini terjadi karena keadaan alamnya yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ketempat lainnya dalam pulau yang sama. Sistem perpaduan antara sumberdaya hutan mangrove dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem yang masing-masing menampilkan kekhususan dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat di dalamnya (Santono, et al., 2005). Menurut Santono et al., (2005) terdapat variasi yang nyata dari luas total ekosistem mangrove Indonesia, yakni berkisar antara 2,5 juta – 4,25 juta ha. Perbedaan jumlah luasan ini lebih banyak disebabkan oleh perbedaan metodologi pengukuran luas hutan mangrove yang dilakukan oleh berbagai pihak.

15 Walaupun demikian diakui oleh dunia bahwa Indonesia mempunyai luas ekosistem mangrove terluas di dunia (21% luas mangrove dunia). Hutan-hutan mangrove menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan mangrove Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar, yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Di bagian timur Indonesia, ditepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan mangrove Indonesia (Santono, et al., 2005). Menurut Davis, Claridge & Natarina (1995) dalam FPPB (2009), hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat sebagai berikut: 1. Hutan mangrove sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus) 2. Pelindung terhadap bencana alam Vegetasi hutan mangrove dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi. 3. Pengendapan Lumpur Sifat fisik tanaman pada hutan mangrove membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur.

16 Dengan hutan mangrove, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi. Sifat fisik hutan mangrove cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian. 4. Penambat racun Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan mangrove bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif. 5. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar kawasan (Ex-situ) Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur. 6. Sumber Plasma Nutfah Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untuk memelihara populasi kehidupan liar itu sendiri. 7. Rekreasi dan Pariwisata Hutan mangrove memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada didalamnya. Hutan mangrove yang telah dikembangkan menjadi obyek wisata alam antara lain di Sinjai (Sulawesi Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan dan Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Hutan mangrove memberikan obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya. Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam beberapa hal. Para wisatawan juga memperoleh pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. Pantai Padang, Sumatera Barat yang memiliki areal mangrove seluas 43,80 ha dalam kawasan hutan, memiliki peluang untuk dijadikan areal wisata mangrove.

17

Kegiatan wisata ini di samping memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket masuk dan parkir, juga mampu

menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata. 8. Sarana Pendidikan dan Penelitian Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. 9. Memelihara proses – proses dan sistem alami Hutan mangrove sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya. 10. Penyerapan Karbon Proses fotosintesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai C02. Akan tetapi hutan mangrove justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan mangrove lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon. 11. Memelihara Iklim Mikro Evapotranspirasi hutan mangrove mampu menjaga kelembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga. 12. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam Keberadaan hutan mangrove dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.

18 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian Sesuai dengan judul penelitian, dimana peneliti meneliti mengenai Aktivitas Ekonomi Penduduk di Daerah Pantai, maka daerah yang menjadi lokasi penelitian adalah Wilayah Kecamatan Pantai Labu. Daerah ini sangat cocok dijadikan sebagai daerah penelitian dikarenakan Kecamatan Pantai Labu merupakan Daerah Pantai dengan ketinggian 0 – 8 meter diatas permukaan laut.

B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh daerah di Desa/Kelurahan yang ada di Kecamatan Pantai Labu. Dalam penelitian ini, peneliti tidak menggunakan sampel mengingat data yang dikumpulkan adalah data sekunder maka populasi sekaligus menjadi sampel.

C. Teknik Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data sekunder yang meliputi: 1. Letak, Luas dan Batas Administrasi 2. Kondisi Fisik daerah 3. Kondisi Sosial Ekonomi 4. Bentuk dan Fungsi Penggunaan Lahan

19 Data tersebut diperoleh dengan cara mencatat dan memfoto copy dari instansi terkait dalam penelitian ini, yaitu: Kecamatan Pantai Labu. Untuk lebih jelasnya tentang teknik pengumpulan data yang dipergunakan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1: Teknik Pengumpulan Data No. 1 Teknik Pengumpulan Data Telaah Dokumen Hasil Berupa Pengumpulan Data Sekunder dari Kantor Kecamatan Pantai Labu Untuk melengkapi data yang telah ada 2 Observasi Lapangan dari instansi terkait dan menambah informasi yang dibutuhkan.

20 BAB IV DESKRIPSI WILAYAH

A. Sejarah Singkat Kecamatan Pantai Labu Perkembangan pembangunan khususnya sistem pemeritahan di daerah tidak akan berhenti, karena tuntutan perkembangan jaman. Perkembangan dimaksud menimbulkan tugas – tugas baru bagi perangkat pemerintah yang ada, diantaranya pemerintahan wilayah kecamatan. Demikian halnya dengan pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, berdasarkan PP No. 7 Tahun 1984 dalam pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa dalam rangka pemindahan ibu kota Kabupaten Deli Serdang dari Medan ke Lubuk Pakam, guna terciptanya daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan serta pembinaan wilayah, maka wilayah kecamatan lubuk pakam ditata kembali menjadi 4 wilayah kecamatan, yaitu Pagar Merbau, Lubuk Pakam, beringin dan pantai labu yang peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 27 desember 1984 oleh gubernur sumatera utara dan sekaligus melantik Bapak Syahmardan Harahap, BA sebagai Camat Pantai Labu yang pertama. Adapun camat yang pernah bertugas di kecamatan pantai labu adalah 1. Syahmardan Harahap, BA 2. Suryati Tanhung, BA 3. Drs. Risno Johanes 4. Zainuddin 5. M. Thahir Siagian, SE 6. Ahmad Efendy Siregar, S.Sos MAP Asal mula nama Pantai Labu adalah dahulunya karena daerah ini terletak di pinggir pantai yang daratannya banyak ditumbuhi pohon labu yang buahnya besar – besar. Sehingga orang tua dahulu menyebutnya daerah ini dengan nama pantai labu. Semula Ibu Kota Kecamatan Pantai Labu adalah di Desa Pantai Labu Pekan tetapi karena adanya proyek pembebasan tanah lokasi pengganti Bandara Polonia Medan dan Kantor camat pantai labu terkena proyek tersebut, maka sejak tahun 2000 kantor camat pantai labu dipindahkan ke Desa Kelambir.

21 B. Keadaan Fisik Wilayah Kecamatan Pantai Labu 1. Letak a. Letak Astronomis Letak astronomis merupakan letak yang ditinjau berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Berdasarkan letak astronomisnya Kecamatan Pantai Labu terletak antara 2°57’ - 3°16’ Lintang Utara dan 98°37’ - 99°27’ Bujur Timur.

b. Letak Geografis Letak Geografis merupakan letak suatu daerah dilihat dari kenyataan dipermukaan bumi atau posisi daerah pada bola bumi dibandingkan dengan posisi lain, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang berada pada ketinggian 0 – 8 meter diatas permukaan laut, terletak di tepi Selat Malaka. Jarak Kantor Camat Kecamatan Pantai Labu dengan kantor Bupati Deli Serdang adalah 17,5 Km. Kecamatan Pantai Labu memiliki batas – batas wilayah sebagai berikut: 1. Sebelah Utara 2. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Selat Malaka : Berbatasan dengan Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai 3. Sebelah Selatan 4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Beringin : Berbatasan dengan Kecamatan Batang Kuis/Kecamatan Percut Sei Tuan

2. Iklim dan Tanah Menurut Mock (1973), iklim merupakan keadaan rata – rata cuaca pada suatu tempat dihitung dalam jangka yang panjang. Letak geografis dan letak astronomis sangat mempengaruhi keadaan iklim Kecamatan Pantai Labu, berdasarkan letak geografis Kecamatan Pantai Labu berada pada sisi selatan Selat Malaka berupa dataran tepi pantai dengan ketinggian 0 – 8 meter di atas permukaan laut sehingga rata – rata tempratur udara tahunan berkisar 23° C s/d 34° C. Daerah Kecamatan Pantai Labu beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau antara 23° C s/d 34° C. kedua musim ini sangat dipengaruhi oleh angin laut yang membawa hujan dan angin gunung yang membawa panas dan lembab. Curah hujan yang menonjol di wilayah Kecamatan Pantai Labu adalah pada bulan – bulan maret, april, september s/d Desember. Sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan – bulan Januari, februari, mei s/d agustus.

22 3. Luas Kecamatan Pantai Labu Luasnya 81,85 Km2 (8.185 Ha) yang terdiri dari 19 Desa dan 76 Dusun dengan Ibu Kota di Desa Kelambir. Untuk Lebih Jelasnya dapat dilihat pada peta dibawah ini: Tabel 1. Jumlah Dusun, Luas Desa dan Persentasenya Terhadap Luas Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Denai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah Desa Dusun 3 2 4 10 2 6 3 3 4 4 3 4 4 2 4 4 7 4 3 76 Luas (Ha) 1410 120 392 1158 128 843 133 305 313 267 311 450 206 110 702 300 404 470 163 8185 Persentase 17,23 1,47 4,79 14,15 1,56 10,30 1,62 3,73 3,82 3,26 3,80 5,50 2,52 1,34 8,58 3,67 4,94 5,74 1,99 100,00

Sumber: Data Sekunder Kecamatan Pantai Labu

23 4. Topografi Topografi adalah keadaan tinggi rendahnya suatu tempat diukur dari permukaan air laut dan keadaan kemiringan tempat tersebut. Hal ini disebut relief. Keadaan topografi di wilayah lokasi penelitian adalah daerah pantai di Kecamatan Pantai Labu dengan ketinggian 0 – 8 meter di atas permukaan laut yang berbatasan langsung dengan selat malak. Secara geografis topografi Kecamatan Pantai Labu kontur tanahnya beraneka ragam, namun daerah terluas berbentuk datar, topografi yang datar akan memungkinkan pembangunan sarana dengan beban yang tidak terlalu berat.

5. Penggunaan Lahan Hubungan kegiatan pemanfaatan lahan oleh manusia menimbulkan

penggunaan lahan suatu daerah dapat mencerminkan suatu aktivitas penduduk dalam hubungannya dengan alam, jenis usaha, teknologi, dan jumlah penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut penduduk banyak melakukan pembangunan baik untuk pertanian, pemukiman dan penggunaan lahan lainnya. Oleh karena itu lahan merupakan wadah ekosistem maka penggunaan lahan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk menguasai dan mengolah unsur – unsur ekosistem, sehingga diperoleh manfaat dari lahan tersebut, untuk lebih jelasnya penggunaan lahan di Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini:

24 Tabel 2. Penggunaan Lahan di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 Lahan Sawah 360 80 332 800 60 160 108 270 176 145 220 270 65 42 65 180 300 200 25 3858 Lahan Bukan sawah 820 20 40 200 50 120 10 0 90 70 55 75 53 50 597 57 60 60 61 2468 Lahan Non Pertanian 161 20 20 185 18 563 15 35 47 55 35 75 88 18 40 63 44 210 75 1767

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Binjai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah

Sumber: Kantor Kecamatan Pantai Labu Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa bentuk penggunaan lahan di Kecamatan Pantai Labu untuk Lahan Sawah total seluruhnya pada tiap desa seluas 3.858 Ha, Lahan Bukan Sawah seluas 2.468 Ha, dan Lahan non – pertanian seluas 3.858 Ha.

25 C. Keadaan Non – Fisik Wilayah Kecamatan Pantai Labu 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2011 Kecamatan Pantai Labu mempunyai penduduk 43.510 Jiwa yang terdiri dari Laki – Laki sebanyak 22.459 Jiwa dan Perempuan 21.051 Jiwa yang mendiami 10.073 rumah tangga dengan sebagian besar suku melayu dan jawa, sedangkan suku – suku lain adalah Tapanuli/Toba, Cina, Banjar, Simalungun, Mandailing, Karo, Minang, Aceh, Lainnya. Untuk Lebih Jelasnya dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini: Tabel 3 Komposisi Penduduk Menurut Jumlah Penduduk dan Kepadatannya Tiap Desa Di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 Luas (Km2) 14,10 1,20 3,92 11,58 1,28 8,43 1,33 3,05 3,13 2,67 3,11 4,50 2,06 1,10 7,02 3,00 4,04 4,70 1,63 81,85 Jumlah Penduduk 1104 1044 2229 4684 1204 2258 2264 975 2752 2405 1556 2327 3724 814 4180 2445 3739 2583 1223 43510 Kepadatan per Km2 78 870 569 404 941 268 1702 320 879 901 500 517 1808 740 595 815 925 549 750 532

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Denai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah

Sumber: Kecamatan Pantai Labu

26 2. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin biasanya

menunjukkan kemungkinan pertumbuhan, struktur umur penduduk dan untuk mengetahui besarnya potensial serta besarnya angka beban ketergantungan di suatu daerah. Komposisi penduduk menurut umur merupakan variabel umur. Tinggi rendahnya persentase jumlah penduduk usia non – produktif dibandingkan dengan usia produktif dapat menentukan angka beban tanggungan total, secara kasar angka ini dapat digunakan sebagai indikator beban ekonomi penduduk di suatu daerah. Penggolongan penududuk berdasarkan umur dapat menggambarkan keadaan penduduk yang produktif dan non – produktif, menurut penggolongan penduduk yang berusia 15 – 64 Tahun dapat dikelompokkan kedalam usia yang produktif sedangkan penduduk yang dibawah 15 Tahun dan diatas 64 Tahun merupakan penduduk yang non – produktif, rasio kelamin dapat digunakan mengetahui jumlah penduduk kini dan memprediksi untuk masa yang akan datang dapat menggambarkan melalui komposisi penduduk menurut Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 yang ditunjukkan melalui Tabel 4 Berikut ini:

27 Tabel 4. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kelompok Umur 0–4 5–9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 – 69 70 – 74 75+ Jumlah Laki - Laki 2676 2603 2349 2301 2137 1858 1720 1502 1381 1156 922 692 415 332 229 186 22459 Perempuan 2466 2440 2226 1976 1863 1803 1617 1375 1326 1078 865 662 467 346 281 260 21051 Jumlah 5142 5043 4575 4277 4000 3661 3337 2877 2707 2234 1787 1354 882 678 510 446 43510

Sumber: Kantor Kecamatan Pantai Labu Berdasarkan Tabel 3, dapat dianalisis bahwa Jumlah Penduduk Kecamatan Pantai Labu yang berada pada kelompok usia kerja produktif yaitu 15 – 60 Tahun sebanyak 27.116 Jiwa sedangkan penduduk yang belum produktif 0 – 14 Tahun sebanyak 14.760 Jiwa, dan Usia 64 Tahun keatas berjumlah 1.634 Jiwa.

28 Untuk data penduduk menurut angka sex ratio di Kecamatan Pantai Labu dilihat dari jumlah penduduk laki – laki dan perempuan dapat dilihat sebagai berikut: Rumus Rumus:

Sex Ratio = Sex Ratio = 1,06 × 100 Sex Ratio = 106 Berdasarkan hasil perhitungan diatas, dapat diketahui angka Sex Ratio di Kecamatan Pantai Labu adalah 106, artinya dari 100 orang perempuan terdapat jumlah penduduk 106 penduduk laki – laki.

29 3. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian menggambarkan aktivitas penduduk setempat dalam memenuhi kebutuhan baik sebagai nelayan, petani, pegawai negeri/swasta dan lain – lain. Mata pencaharian penduduk menunjukkan perekonomian ditempat itu sendiri. Semakin beragam mata pencaharian penduduk akan menghasilkan variasi kegiatan yang akan dilakukan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini: Tabel 5 Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 Mata Pencaharian Pertanian Pangan Nelayan Peternakan Perdagangan Karyawan/PNS/TNI/Polri Industri Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pekerjaan penduduk di Kecamatan Pantai Labu yang berprofesi sebagai petnai 11595 Jiwa (40,46%), Nelayan 5950 (20,77%), Peternak 3974 (13,87), Pedagang 4570 (15,94%), Karyawan/PNS/TNI/Polri 1504 Jiwa (5,24%) dan Industri 1064 (3,71%) Jumlah Penduduk (Jiwa) 11595 5950 3974 4570 1504 1064 28657 Persentase (%) 40,46 20,77 13,87 15,94 5,24 3,71 100,00

4. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Pendidikan merupakan kekuatan dalam pembangunan suatu daerah, oleh sebab itu untuk meningkatkan suatu keberhasilan pembangunan daerah maka perlu ditingkatkan kualitas penduduk. Maka dari itu untuk meningkatkan keberhasilan suatu daerah sangat perlu ditingkatkan kualitas pendidikanya. Tingkat Pendidikan merupakan salah satu indikator yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini:

30 Tabel 6 Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 Tingkat Pendidikan Tidak / Belum Tamat SD Sekolah Dasar SLTP SLTA Diploma I / II Akademi / DIII Perguruan Tinggi / D IV Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Dalam Berdasarkan Tabel 5, dapat diketahui bahwa penduduk di Kecamatan Pantai Labu yang belum bersekolah sebanyak 18.753, Tamat Sekolah Dasar 13.300, Tamat SLTP 5.967, Tamat SLTA 4.843, Tamat Diploma I/II 147, Tamat Akademi/DIII 87, dan Tamat Perguruan Tinggi 413. Jumlah 18753 13300 5967 4843 147 87 413 43510

5. Komposisi Penduduk Menurut Suku Suku bangsa merupakan kelompok tertentu yang memiliki kesamaan latar belakang budaya, bahasa, kebiasaan, gaya hidup dan ciri – ciri fisik yang sama. Bangsa indonesia terdiri dari bermacam – macam suku bangsa. Tentu banyak sekali perbedaan yang ada. Perbedaan jangan dipermasalahkan, justru dengan adanya perbedaan tersebut akan tercipta sebuah keindahan. Di Kecamatan Pantai Labu memiliki berbagai macam suku bangsa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini:

31 Tabel 7 Komposisi Penduduk Menurut Suku di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Suku Bangsa Melayu Jawa Tapanuli/Toba Cina Banjar Simalungun Mandailing Karo Minang Aceh Lainnya Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa di Kecamatan Pantai Labu mayoritas penduduknya bersuku Melayu dengan jumlah 18.011 jiwa, Suku Jawa 14.603, Suku Tapanuli/Toba 3.577, Suku Cina 3.233, Suku Banjar 1.633, Suku Simalungun 763, Suku Mandailing 567, Suku Karo 341, Suku Minang 185, Suku Aceh 171, dan suku lainnya 426 Jiwa. Jumlah Jiwa 18,011 14,603 3577 3233 1633 763 567 341 185 171 426 43510

6. Komposisi Penduduk Menurut Agama/Kepercayaan Tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Indonesia merupakan negara yang menjamin kebebasan umat beragama bagi seluruh rakyatnya. Hidup sebagai negara yang terdiri dari berbagai agama harus saling menghormati. Demikian juga halnya dengan Penduduk di Kecamatan Pantai Labu, yaitu hidup saling menghormati walaupun terdiri dari berbagai agama. Agama yang dianut oleh penduduk Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini:

32 Tabel 8 Komposisi Penduduk Menurut Agama/Kepercayaan Tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Denai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah Islam 265 1016 1820 3078 1204 2079 2160 797 2354 2320 1515 1797 3671 678 2528 2168 3501 2473 1223 36647 Protestan Katholik 707 28 340 1050 0 141 65 178 0 0 0 249 0 6 18 29 11 0 0 2822 132 0 69 556 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 795 Budha 0 0 0 0 0 0 39 0 398 85 41 281 53 130 1634 248 227 110 0 3246 Jumlah 1104 1044 2229 4684 1204 2258 2264 975 2752 2405 1556 2327 3724 814 4180 2445 3739 2583 1223 43510

Sumber: Kecamatan Pantai Labu Berdasarkan Tabel 8, dapat dilihat bahwa mayoritas agama yang dianut di Kecamatan Pantai Labu adalah Agama Islam sebanyak 36.647 Jiwa, kemudian agama Budha sebanyak 3.246 Jiwa, agama Protestan sebanyak 2.822 jiwa dan agama Khatolik sebanyak 795

33 7. Sarana dan Prasarana Pada bagian ini dibahas lebih lanjut tentang sarana fisik dengan maksud untuk mengetahui distribusi dan Karakteristik, jenis sarana yang dibahas adalah Sarana Tempat Beribadah, Kesehatan, Pendidikan, dan Prasarana berupa jalan raya. a. Sarana Tempat Beribadah Dengan adanya fasilitas peribadatan maka masyarakat yang ada di Kecamatan Pantai Labu dapat melakukan Ibadahnya dengan baik dan mudah, tanpa harus meninggalkan rumahnya dengan jarak yang cukup jauh dan dengan prasarana yang nyaman, Jumlah Fasilitas Peribadatan di Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini: Tabel 9 Jumlah Fasilitas Tempat Peribadatan di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Binjai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Mesjid 1 1 1 3 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 2 29 Mushola 1 2 5 2 1 1 1 3 3 2 3 3 3 4 3 1 38 Gereja 3 5 6 1 3 18 Vihara 1 1 2 1 1 6 Jumlah 5 2 8 14 2 5 3 2 4 4 4 8 4 1 7 5 6 5 3 91

34 b. Sarana Kesehatan Tingkat kesehatan di suatu daerah dijadikan sebagi indikator untuk menentukan apakah suatu daerah tersebut memiliki sumber daya manusia yang maju atau tidak. Kesehatan penduduk sangat berpengaruh terhadap kelancaran penduduk dalam membangun daerah tempat tinggalnya. Kebutuhan akan sarana dan prasarana kesehatan sangat mutlak disuatu daerah. Jumlah sara fisik kesehatan di Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini

Tabel 10. Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Pantai Labuu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Denai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu PUSKESMAS 1 1 PUSTU 1 1 1 1 1 5 PUSKESDES 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10

35 c. Sarana Pendidikan sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Pantai Labu sudah dapat dikategorikan lengkap karena sudah terdapat fasilitas pendidikan di tingkat dasar sampai ke SLTA , dengan letak yang sudah tersebar merata di seluruh wilayah kecamatan pantai labu khususnya untuk tingkat SD. Jenis sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini:

Tabel 11. Sarana Pendidikan di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 Sarana Pendidikan TK SD SLTP SLTA Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Dari Tabel 11 dapat dijelaskan bahwa sarana pendidikan di Kecamatan Pantai Labu sudah terdapat 57 Unit. Sarana pendidikan yang paling banyak adalah SD sebanyak 29 unit yang terdiri dari 21 Unit Negeri dan 8 Unit Swasta. Kemudian sarana pendidikan SLTP sebanyak 13 Unit, Sarana pendidikan TK sebanyak 10 unit dan sarana pendidikan SLTA sebanyak 5 unit. Jumlah Unit 10 29 13 5 57 Jumlah Unit Sekolah Negeri 1 21 4 5 31 Swasta 9 8 9 26

36 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Hasil Penelitian ini mencakup Aktivitas Ekonomi Penduduk dan Penggunaan Lahan di Kecamatan Pantai Labu pada tahun 2011, adapun data yang diperoleh dari hasil penelitian adalah sebagai berikut: 1. Aktivitas Ekonomi Penduduk Aktivitas Ekonomi Penduduk di Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada Tabel 5 yang menunjukkan bahwa Aktivitas Penduduk Ekonomi adalah Petani Pangan dengan jumlah 11.595 Jiwa (40,46%) yang banyak ditemukan di Desa Durian dengan Jumlah 800 Lahan Sawah, Kemudian aktivitas Ekonomi Penduduk yang kedua adalah sebagai Nelayan dengan jumlah 5.950 Jiwa (20,77%), Peternak 3.974 (13,87%), Pedagang 4.570 (15,94%), Karyawan/PNS/TNI/Polri 1504 Jiwa (5,24%) dan Industri 1064 (3,71%).

Gambar 1: Tempat Pendaratan Ikan Pantai Labu.

37

Gambar 2: Tempat Pendaratan Ikan Kecamatan Pantai Labu Berdasarkan penggolongan kelompok besar aktivitas ekonomi, yaitu d. Primary Occupation (Bidang Usaha Primer) Yaitu, bidang usaha yang langsung berhubungan dengan hasil produksi yang disediakan oleh alam. Misalnya pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan pertambangan. e. Secondary Occupation (Bidang Usaha Sekunder) Yaitu, usaha yang berhubungan dengan proses pengolahan dan pengubahan bahan mentah atau bahan dasar menjadi barang jadi atau setengah jadi. f. Tertiary Occupation (Bidang Usaha Tersier) Yaitu, usaha – usaha dibidang pelayanan dan jasa, seperti komunikasi dan transportasi, perbengkelan dan service, perbankan, perhotelan, pariwisata, pelayanan kesehatan dan lain – lain. Aktivitas Ekonomi Penduduk di Kecamatan Pantai Labu digolongkan ke dalam Primary Occupation (Bidang Usaha Primer), hal ini dikarenakan mayoritas aktivitas ekonomi penduduknya langsung berhubungan dengan alam, misalnya pertanian pangan, nelayan atau perikanan.

38 2. Penggunaan Lahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 dapat diketahui pada tabel 2, menunjukkan bahwa Lahan Pertanian Sawah seluas 3.858 Ha, Lahan Bukan Sawah seluas 2.468 Ha, Lahan non pertanian 1767 Ha. a. Jumlah Luas Lahan Sawah Menurut Sistem Irigasi Tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Tabel 12 Jumlah Luas Lahan Sawah Menurut Sistem Irigasi Tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Binjai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Lahan Sawah 220 0 0 0 0 70 108 270 90 140 62 50 0 0 0 0 0 0 0 1010 Lahan Bukan Sawah 140 80 332 800 60 90 0 0 86 5 158 220 65 45 65 180 300 200 25 2848 Lahan Non Pertanian 360 80 332 800 60 160 108 270 176 145 220 270 65 42 65 180 300 200 25 3858

39 b. Luas Panen dan Tingkat Produktifitas Tanaman di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 Tabel 13 Luas Panen dan Tingkat Produktifitas Tanaman di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Tanaman Padi Sawah Jagung Kacang Kedelai Kacang Hijau Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar Cabai Kacang Panjang Timun Terong Sawi/Patsai Luas Panen (Ha) 3612 71 304 371 23 39 20 26 50 46 20 10 4.592 Produktifitas (Kw/Ha) 45 38 14 7 24 120 70 125 95 403 85 65 1091

Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu

40 c. Jumlah Peternak dan Populasi Ternak Besar tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 Tabel 14 Jumlah Peternak dan Populasi Ternak Besar tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 Popolasi Ternak No Desa Pengusaha Sapi Potong 5 80 1 122 9 25 4 29 11 67 43 49 1 7 31 236 24 744 Sapi Perah 1 1 2 Kerbau 13 13 2 4 43 5 80 Jumlah 5 94 1 135 9 27 4 30 11 71 86 49 1 7 36 236 24 826

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Binjai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah

2 9 1 42 2 11 2 7 4 18 17 9 1 2 8 36 2 173

Sumber: Kecamatan Pantai Labu

41 d. Jumlah Populasi Ternak Besar, Ternak Kecil dan Unggas Tiap Desa di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 Tabel 15 Jumlah Populasi Ternak Besar, Ternak Kecil dan Unggas Tiap Desa di Kecmatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Desa Sei Tuan Tengah Kelambir Durian Kubah Sentang Perkebunan Ramunia Ramunia II Ramunia I Denai Sarang Burung Denai Lama Binjai Bakung Binjai Kuala Paluh Sibaji Pantai Labu Baru Pantai Labu Pekan Rugemuk Pematang Biara Rantau Panjang Bagan Serdang Jumlah Sumber: Kecamatan Pantai Labu Kerbau 81 13 2 4 43 5 148 Sapi 5 13 1 122 9 9 4 30 11 67 43 49 1 7 31 236 24 662 Kambing 39 47 31 226 32 59 68 47 88 117 82 98 112 11 37 37 126 25 26 1308 Unggas 800 500 850 7850 850 2850 600 360 115000 47000 16000 155000 47000 16000 155000 95000 55000 700 650 771010

42 3. Keadaan Sumber Daya Alam di Kecamatan Pantai Labu a. Perikanan Kecamatan Pantai Labu Merupakan penghasil ikan paling banyak di Kabupaten Deli Serdang tahun 2009 yaitu 6.211,60 ton dengan jenis ikan yang paling banyak ditangkap oleh nelayan di Kecamatan Pantai Labu adalah ikan kembung, tenggiri, pari, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat kerang dan udang. Bentuk pengelolaan perikanan yang telah dilakukan di Kecamatan Pantai Labu ini masih sangat sederhana dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Alat tangkap dan kapal penangkap ikan yang dipergunakan nelayan kebanyakan masih sangat sederhana dan bukan milik mereka sendiri. Perikanan budidaya yang ada di Kecamatan Pantai Labu masih sangat sedikit dikembangkan demikian pula pengolahan hasil perikanannya masih sangat tradisional dan tidak dioptimalkan dengan baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 16 berikut ini: Tabel 16 Jumlah Perahu dan Alat Tangkap Ikan Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 No 1 Perahu Alat Tangkap Perahu Tanpa Motor Jumlah 280 328 42 10 12 186 350 496 101

2 Perahu Motor s/d 5 GT 3 Perahu Motor diatas 5 GT 4 Pukat Pantai 5 Pukat Cincin 6 Jarring Insang Hanyut 7 Jarring Klitik 8 Pancing 9 Alat Pengumpul Kerang Sumber: Kecamatan Pantai Labu

43 b. Hutan Mangrove Luas kawasan mangrovenya adalah 580,03 Ha dengan klasifikasi rusak berat seluas 380,69 Ha, rusak sedang seluas 38,74 Ha, dan yang masih baik seluas 160,6 Ha (Hasil Inventarisasi dan Identifikasi Mangrove BPDAS AsahanBarumun dan SWP DAS Wampu Sei Ular Tahun 2006) . Beberapa jenis mangrove yang dominan di antaranya adalah Aegicerascomiculatum (prepat), Akora cuculata, Avicennia sp (api-api), Bruguiera sp (tumu dan lindur), Rhizophora sp (bakau), Sonneratia sp (pedada), dan Xylocerpus sp (nyirih). Hutan mangrove yang ada di Kecamatan Pantai Labu ini belum terkelola dengan baik. Banyak mangrove yang digunakan untuk bahan kayu bakar namun masyarakat tidak menggunakan pemilihan terhadap mangrove yang mereka pergunakan. Salah satu usaha binaan pemerintah dalam mengelola mangrove berada di Desa Regemuk dengan membuat penanaman mangrove sistem empang parit.

Hutan Mangrove di Kecamatan Pantai Labu

44 c. Terumbu Karang Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat setempat dan pemerintah desa, pantai Kecamatan Pantai Labu sudah tidak memiliki ekosistem terumbu karang. Sebelum adanya pukat harimau yang masuk ke pantai Kecamatan Pantai Labu terumbu karang ini masih ada karena pantainya sendiri termasuk ke dalam perairan dangkal. Sampai saat ini belum ada usaha untuk penanaman kembali terumbu karang di perairan mereka.

d. Sumber Daya Mineral Sumber daya mineral yang ada di Kecamatan Pantai Labu adalah batu kerikil, pasir, dan lempung yang termasuk ke dalam bahan galian C. Bahan galian lainnya berupa pasir kuarsa terdapat sepanjang pantai. Pengelolaan sumber daya mineral yang ada di wilayah studi ini belum dioptimalkan dengan baik.

e. Pantai

Pantai Putra Deli

45

Jalan Menuju Pantai Putra Deli yang disepanjang jalan terdapat Hutan Mangrove Di Desa Denai Kuala, Kecamatan Pantai Labu terdapat Objek Wisata Pantai yang diberi nama Pantai Putra Deli. Di pantai ini sering dikunjungi oleh masyarakat setempat dan dari luar penduduk kecamatan pantai labu. Sepengamatan yang kami liat Pantai ini masih belum dikelola dengan baik.

B. Pembahasan Masyarakat di desa – desa yang ada di Kecamatan Pantai Labu mayoritas bermata pencaharian sebagai petani pangan dan nelayan. Pekerjaan sebagai nelayan sekarang ini dianggap sebagai pekerjaan sambilan karena pekerjaan sebagai nelayan penuh tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan hidup nelayan dan keluarganya. Jika pada malam hari para nelayan mencari ikan di laut maka pada siang hari mereka ada yang berdagang dan bertani. Selain menangkap ikan di laut, masyarakat nelayan Kecamatan Pantai Labu juga melakukan budidaya ikan di kolam. Penggunaan Lahan di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2011 dapat diketahui pada tabel 2, menunjukkan bahwa Lahan Pertanian Sawah seluas 3.858 Ha, Lahan Bukan Sawah seluas 2.468 Ha, Lahan non pertanian 1767 Ha. Mayoritas penggunaan lahan di kecamatan pantai labu adalah lahan pertanian.

46

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Aktivitas Ekonomi Penduduk di Kecamatan Pantai Labu adalah sebagai Petani Pangan dan Sebagai Nelayan 2. Penggunaan Lahan di Kecamatan Pantai Labu Mayoritas adalah untuk Lahan Pertanian Sawah

47 DAFTAR PUSTAKA

Sandi P. Togatorop. Perubahan Bentuk Penggunaan Lahan di Kecamatan Pantai Labu Tahun 2004 – 2009. Skripsi. 2011. FIS UNIMED Analisis Aktivitas Ekonomi Penduduk Nelayan di Kecamatan Medan Belawan. Skripsi. 2011. FIS UNIMED Data Kantor Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang Tumiar. Geografi Ekonomi. 2013. FIS UNIMED Teori Lahan (http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196006151988031JUPRI/SUMBER_DAYA_ALAM_Drs._Jupri,_MT.pdf) Pengertian Lahan http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46967/BAB%20II%20Tinjauan%20P ustaka_%202011yul.pdf?sequence=5 (Diakses pada 10 Mei 2013, 7:54PM WIB) Penduduk http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19103/3/Chapter%20II.pdf (diakses pada 11 Mei 2013, 3:11PM WIB)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->