Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KERJA KELOMPOK ( NSP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA ) TUTORIAL III CEDERA KEPELA BERAT Nama ketua kelompok

: azlina NIM Pertemuan Hari/ tgl Jumat 1 27 Desember 2007 Selasa 1 2 januari 2008 : 04.06 1472 Nama mahasiswa 1. Arti Ati 2. Azlina 3. Dewi Mabrurah 1. Arti Ati 2. Azlina 3. Dewi Mabrurah NIM 04.06 1471 04.06 1472 04.06 1473 04.06 1471 04.06 1472 04.06 1473 TTD 1. 2. 3. 1. 2. 3.

KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr. Wb. Tiada kata yang pantas kami ucapkan selain kalimat syukur kepada tuhan yang masa esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga bisa menyelesaikan makalah ini. Tak lupa, sholawat serta salam selalu kami curahkan terhadap pemimpin besar revolusioner dunia, nabi muhammad saw, yang telah menuntun umatnya menuju masyarakat yang harmonis dan dinamis dalam setiap eksemplar perkembangan zaman.

Selain itu terima kasih kepada teman-teman atas partisi pasinya dalam pembuatan makalah ini. Makalah dengan judul dispepsia ini aku buat untuk menyelesaikan tugas praktikum nsp. Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna apalagi perfect.karena itu, aku sangat senang jika ada pihak-pihak atau teman-teman yang memberikan saran dan kritik untuk memperbaiki makalah ini, dan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini tidak hanya sekedar hiasan, tetapi mampu memberikan inspirasi dan manfaat bagi semua orang. Amin. Wassalamualaikum wr. Wb. Yogyakarta , 1 januari 2008

Instruktur

Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN HALAMAN JUDUL LEMBAR ABSENSI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Perumusan Masalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi/ pengertian 2.2 Patofisiologi 2.3 Tanda Dan Gejala 2.4 Faktor Resiko. 2.5 Pencegahan BAB III ASUHAN KEPERAWATAN BAB IV PENUTUP kesimpulan daftar pustaka

BAB I PENDAHULUAN 1.1 latar belakang

Banyak sumber, banyak juga angka yang diberikan. Ada yang menyebut 1 dari 10 orang, namun ada juga yang menyatakan sekitar 25 persen dari populasi. Tentu itu angka dari luar negeri yang dikutip dari http://familydoctor.org. Mengenai jenis kelamin, ternyata baik lelaki maupun perempuan bisa terkena penyakit itu. Penyakit itu tidak mengenal batas usia, muda maupun tua, sama saja. Di Indonesia sendiri, survei yang dilakukan dr Ari F Syam dari FKUI pada tahun 2001 menghasilkan angka mendekati 50 persen dari 93 pasien yang diteliti. Sayang, tidak hanya di Indonesia (seperti Pak Otto), di luar negeri pun, menurut sumber di Internet, banyak orang yang tidak peduli dengan dispepsia itu. Mereka tahu bahwa ada perasaan tidak nyaman pada lambung mereka, tetapi hal itu tidak membuat mereka merasa perlu untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Padahal, menurut penelitian- masih dari luar negeriditemukan bahwa dari mereka yang memeriksakan diri ke dokter, hanya 1/3 yang tidak memiliki ulkus (borok) pada lambungnya atau dispepsia non-ulkus. Angka di Indonesia sendiri, penyebab dispepsi adalah 86 persen dispepsia fungsional, 13 persen ulkus dan 1 persen disebabkan oleh kanker lambung. Mekanisme Seperti yang bisa dilihat pada tabel Klasifikasi Dispepsia berdasarkan Penyebab, sangat beragam penyebab dispepsia. Sayangnya, sampai saat ini belum ada satu teori pun yang bisa memuaskan semua pihak dalam hal menjelaskan terjadinya dispepsia itu. Multifaktorial, kata para peneliti. Bahkan, pasien-pasien yang sama-sama mempunyai ulkus (peptic ulcer), mekanisme terjadinya pun bisa berbeda. Artinya dengan keadaan yang sama tidak selalu gejala yang dirasakan sama.

Begitu luasnya cakupan istilah dispesia, akhirnya ada yang menggolongkannya dengan dispepsia fungsional dan dispesia organik. Dispepsia fungsional adalah dispepsia yang terjadi tanpa diketahui adanya kelainan struktur organ lambung (seperti ulkus, tumor maupun kanker), mulai dari melalui pemeriksaan klinis, biokimiawi hingga pemeriksaan penunjang lainnya, seperti USG, Endoskopi, Rontgen hingga CT Scan 1.2 Tujuan 1 Meningkatkan pengetahuan tentang dyspepsia dan cara pencegahannya. 2 Mengkaji, Membuat Perencanaan, Melaksanakan, Serta Mengevaluasi Kasus dyspepsia Dalam bentuk Asuhan Keperawatan. 1.3 Perumusan Masalah 1. Pengetahuan tentang dyspepsia, secara mendasar. 2. Penyebab, patofisiologiu, tanda dan gejala klinis, penatalaksanaan penyakit dyspepsia. 3. Asuhan keperawatan pada dyspepsia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi. Dispepsia berasal dari bahasa Yunani "-" ( Dys-), berarti sulit , dan "" (Pepse), berarti pencernaan (N.Talley, et al., 2005). Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada ( heartburn) dan regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi termasuk dispepsia. Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu : 1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya

tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain. 2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan). Definisi lain, dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut. Setiap orang dari berbagai usia dapat terkena dispepsia, baik pria maupun wanita. Sekitar satu dari empat orang dapat terkena dispepsia dalam beberapa waktu (Bazaldua,
et al, 1999)

Tabel 1.1 abdomen atas

Diagnosis

banding

nyeri/ketidaknyamanan

Dispepsia Organik Ulkus peptik kronik (ulkus ventrikul, ulkus duodeni) Gastro-oesophageal reflux disease (GORD), dengan atau tanpa esofagitis -Obat : OAINS, aspirin Kolelitiasis simtomatik Gangguan metabolik (uremia, hiperkalsemia gastroparesis DM) -Keganasan (gaster, pankreas, kolon) -Insufisiensi vaskula mesentrikus -Nyeri dinding perut

Dispepsia Fungsional -Disfungsi sensorik-motorik gastroduodenum -Gastroparesis idiopatik/hipomotilitas antrum -Disritmia gaster -Hipersensitivitas gaster/duodenum -Gastritis H.pylori -Idiopatik

2.2

Patofisiologi .Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran penceranaan, khususnya lambung. Dispepsia dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian tengah keatas. Rasa nyeri tidak menentu, kadang menetap atau kambuh. Dispepsia umumnya diderita oleh kaum produktif dan kebanyakan penyebabnya adalah pola atau gaya hiudup tidak sehat. Gejalanya pun bervariasi mulai dari nyeri ulu hati, mual-muntah, rasa penuh di ulu hati, sebah, sendawa yang berlebihan bahkan bisa menyebabkan diare dengan segala komplikasinya. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab timbulnya dispepsia, yaitu pengleuaran asam lambung berlebih, pertahanan

dindins lambung yang lemah, infeksi Helicobacter pylori (sejenis bakteri yang hidup di dalam lambung dalam jumlah kecil, gangguan gerakan saluran pencernaan, dan stress psikologis (Ariyanto, 2007). Terkadang dispepsia dapat menjadi tanda dari masalah serius, contohnya penyakit ulkus lambung yang parah. Tak jarang, dispepsia disebabkan karena kanker lambung, sehingga harus diatasi dengan serius. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan bila terdapat salah satu dari tanda ini, yaitu: 1 Usia 50 tahun keatas 2 Kehilangan berat badan tanpa disengaja 3 Kesulitan menelan 4 Terkadang mual-muntah 5 Buang air besar tidak lancar 6 Merasa penuh di daerah perut (Bazaldua, et al, 1999) Secara umum dispepsia terbagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan dispepsia nonorganik atau dispesia fungsional. Dispepsia organik jarang ditemukan pada usia muda, tetapi banyak ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun (Richter cit
Hadi, 2002).

Dispepsia dapat disebut dispepsia organik apabila penyebabnya telah diketahui secara jelas. Dispepsia fungsional atau dispepsia non-organik, merupakan dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi merupakan kelainan fungsi dari saluran makanan (Heading, Nyren, Malagelada cit Hadi, 2002). Salah satu gangguan pencernaan yang paling banyak diderita orang. Dispepsia merupakan istilah untuk menunjukkan rasa nyeri atau tidak menyenangkan pada bagian atas perut. Rasa nyeri ini dapat ringan hingga berat. Sebenarnya dispepsia bukanlah nama penyakit, tapi lebih menunjukkan sebagai gejala, seperti rasa panas pada ulu hati, perih dan nyeri, mual dan kembung.. 2.3 Tanda dan gejala a. daerah dada terasa nyeri dan agak kembung , b. Rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, c. nyeri ulu hati, d. bloating (lambung merasa penuh), kembung, e. bersendawa, f. cepat kenyang, g. perut keroncongan (borborgygmi) h. hingga kentut-kentut i. nafsu makan yang menurun, , j. sembelit, k. diare dan. l. flatulensi (perut kembung). m. rasa panas pada ulu hati,. n. perih dan nyeri.

o. mual dan kembung . 2.4 Faktor resiko Penyebab dari dispepsia ini bermacam-macam. Dapat disebabkan: tukak lambung. peradangan pada lapisan dalam lambung yang dapat disebabkan oleh obat, infeksi atau alkohol, kanker lambung. penyakit pada kandung empedu. dan penyakit pancreas. Menelan udara (aerofagi) Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung Iritasi lambung (gastritis) Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis Kanker lambung Peradangan kandung empedu (kolesistitis) Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya) Kelainan gerakan usus Kecemasan atau depresi Penyebab dispepsia secara rinci adalah: 1. Menelan udara (aerofagi) 2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung 3. Iritasi lambung (gastritis) 4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis 5. Kanker lambung 6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis) 7. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya) 8. Kelainan gerakan usus 9. Stress psikologis, kecemasan, atau depresi 10. Infeksi Helicobacter pylory Seringnya, dispepsia disebabkan oleh ulkus lambung atau penyakit acid reflux. Jika anda memiliki penyakit acid reflux, asam lambung terdorong ke atas menuju esofagus (saluran muskulo membranosa yang membentang dari faring ke dalam lambung). Hal ini menyebabkan nyeri di dada. Beberapa obatobatan, seperti obat anti-inflammatory, dapat menyebabkan dispepsia. Terkadang penyebab dispepsia belum dapat ditemukan. 2.5 Pencegahan Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, merokok, terlalu banyak mengkonsumsi kafein, stres dan berat badan berlebih. Karena semua itu dapat meningkatkan risiko untuk mengalami gangguan pencernaan ini. Cobalah makan dengan porsi yang lebih

kecil dengan waktu yang teratur dan jangan makan tergesa-gesa. Kurangi juga makanan yang berlemak dan pedas Modifikasi gaya hidup sangat berperan dalam mencegah terjadinya dispepsia bahkan memperbaiki kondisi lambung secara tidak langsung (Ariyanto, 2007) Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia : 1. Atur pola makan seteratur mungkin. 2. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung (coklat, keju, dan lain-lain). 3. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon, semangka, dan lain-lain). 4. Hindari makanan yang terlalu pedas. 5. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol. 6. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan ketoprofen. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung. 7. Kelola stress psikologi se-efisien mungkin. 8. Jika anda perokok, berhentilah merokok. 9. Jika anda memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu tidur. 10. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan terlalu banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu cepat, atau makan sesaat sebelum olahraga. 11. Pertahankan berat badan sehat 12. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk mengurangi stress dan mengontrol berat badan, yang akan mengurangi dispepsia. 13. Ikuti rekomendasi dokter Anda mengenai pengobatan dispepsia. Baik itu antasid, PPI, penghambat histamin-2 reseptor, dan obat motilitas

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DISPEPSIA

A. PENGKAJIAN Tanggal : 30-12-2007 Jam : 18.00 WIb Ruang : shb stikes surya global. 1. BIODATA a. Identitas klien Nama : Ny. E Ttl : Jogja/ 27-08-1985 Umur : 23 th Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Jl. Veteran, Gg. Belik 2 No. 1007, UH4 YK Agama : Islam Suku : Jawa Pendidikan : mahasiswa. No. CM : 05007031 Tgl masuk : 30-Desember-2007 Tgl pengkajian : 01-januari-2008 Sumber informasi : Klien,teman dekat klien. Diagnosa medis : dispepsia b. Identitas penanggung jawab Nama : Tn.H Jenis kelamin : laki-laki Umur : 24 Pendidikan : mahasiswa Pekerjaan : mahasiswa Agama : Islam Status perkawinan : belum menikah Alamat : Jl. Veteran, Gg. Belik 2 No. 1009 Kewarganegaraan : Indonesia Hub.dg klien : teman klien 2. RIWAYAT KESEHATAN A. Keluhan utama Mual. B. Riwayat penyakit sekarang Psien datang ke shb stikes surya global dengan keluhan mual dan muntah, terdapat nyeri pada bagian perut dan dada bagian atas, klien tampak lemah dan lemas. C. Riwayat penyakit dahulu Maag, Migrain, Mengalami hipotensi,tekanan darah rendah menyebabkan jantung gagal mengirimkan darah yang mengandung cukup oksigen ke seluruh tubuh, shg tubuh kekurangan tenaga. D. Riwayat kesehatan keluarga

Adanya riwayat hipertensi pada keluarga pasien. E. Riwayat kesehatan lingkungan klien berada di lingkungan yang bersih, bebas dari berbagai macam penyakit menular. F. genogram

Keterangan: : laki-laki : perempuan : tinggal satu rumah : meninggal : klien :memiliki riwayat penyakit yang sama dengan klien 3. POLA FUNGSI KESEHATAN A. Presepsi terhadap kesehatan : sehari-hari pasien pekuliah aktif, selalu kontrol darah tinggi ke dokter dengan pola makan yang sehat sesuai dengan yang di anjurkan oleh dokter. B. Pola aktifitas dan latihan sebelum terkena dispepsia Klien melakukan aktivitas seharihari secara mandiri. Dan kemampuan perawatan diri klien selama berada di rumah sakit adalah sbb: Aktivitas 0 1 2 3 4 Makan atau minum Mandi -

Toeliting

C.

D.

E.

F.

G.

Berpakaian Mobilitas di tempat tidur Berpindah Keterangan : 0 : mandiri 1 : di Bantu sebagian 2 : perlu bantuan orang lain 3 : di Bantu orang lain dan alat 4 : tergantung total/ tidak mampu. Pola istirahat dan tidur kehilangan sensasi atau paralisis (himepligia Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena nyeri pada dada dan perut bagian atas. Merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat. Pola nutrisi dan metabolisme Napsu makan pada klien hilang, mual dan muntah karena tekanan darah yang rendah menyebabkan jantung mengalami kegagalan memompa darah yang membawa oksigen dan bahan nutrisi ke seluruh tubuh sehingga nadi lemah napas cepat dan dangkal banyak mengeluarkan keringat dan mudah haus mual dan muntah lemah dan pusing. Pola eliminasi Klien mengalami perubahan pola berkemih, seperti inkontensia urine, anuria.distensi pada abdomen (distensi pada kandung kemih) bising usus negatif (ileus paralitik).akibat penurunan peristaltik usus.feses kering dan keras akibat kekurangan intake cairan. pola kognitif dan perseptual 1. status mental klien terlihat cemas,klien merasa takut dengan penyakit yang di alaminya. 2. bicara klien sering terlihat diam dan tidak banyak bicara 4. pendengaran. pola pendengaran pasien normal,pasien tidak menggunakan alat Bantu pendengaran apapun. 3. penglihatan penglihatan pasien normal, pasien tidak menggunakan kacamata atau kontak lensa 4. manajemen nyeri nyeri pada dada dan perut bagian atas. Pola konsep diri atau persepsi diri

1) Harga diri

H.

I.

J.

K.

: tidak terganggu (klien tdk merasa malu dg penyakitnya). 2) Ideal diri : terganggu (klien ingin segera sembuh, dan ingin segera pulang untuk melakukan aktivitas seperti biasanya) 3) Gambaran diri : terganggu (klien menyadari bahwa ia sakit karena pola hidupnya yang tidak baik) 4) Peran diri : tidak teganggu, klien bisa melakukan peran diri. 5) Identitas diri : terganggu (klien terlihat cemas ). pola koping 1. Klien tidak mempunyai masalah selama berada di rumah sakit. 2. Klien tidak mengalami perubahan sebelumnya 3. Klien tidak takut terhadap kekerasan 4. Pandangan terhadap masa depan klien ingin lebih maju, klien ingin sembuh dari penyakitnya. 5. klien tidak pesimis terhadap penyakitnya, tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak ada obatnya asalkan berusaha dan ada keinginan. pola seksual reproduksi terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri. Seperti anti nyeri seperti Antasid. pola peran hubungan 1. status perkawinan : belum kawin. 2. pekerjaan : wirauasaha 3. kualitas bekerja : pekuliah aktif. 4. system dukungan : sepenuhnya dari keluarga. 5. hub dg lingk : sangat baik pola nilai dan kepercayaan klien beragama islam, klien termasuk taat beragama, klien selalu berdoa meminta kesembuhan selam sakit.

4. PEMERIKSAAN FISIK a. TTV Suhu Nadi Td R Tb Bb b. Keadaan umum Kesan umum Wajah

: : : : : :

> 32,5 c bradikardi <100x/ menit 90/ 60 mmHg bradipnue <24 152 cm 47 kg : mual. : menyeringi

c.

d.

e.

f.

Kesadaran : comfosmentis. Penafsiran umur : 2o an Bentuk badan : sedang Cara berbaring : sepenuhnya,di lakukan sendiri. Bicara : bicara jelas dan lancar. Pakaian,kerapian :bersih dan rapi. Kulit,rambut,kuku o Inspeksi Warna kulit : sawo matang, tapi kelihatan pucat. Jml rambut :jarang-jarang, dan rambut rapuh. Warna kuku : normal (merah muda) Bentuk kuku : perlu di lihat adanya clubbing finger, cyanosis. o Palpasi Suhu : sedang <32 Kelembapan : kering Tekstur : kasar. Turgor : jelek, bersisik. Kepala o Inspeksi Tengkorak : lonjong, tidak mengalami patah tulang tengkorak belakang. Rambut : rontok dan patah-patah. Ukuran :normocephalik Mata Bentuk bola mata: bulat Kelopak mata : bersih Konjungtiva : anemis Sclera : jernih Kornea : kuning keruh. Iris : putih Pupil : berkontraksi jika di beri cahaya. Lensa : tdk menggunakan alat bantu apapun. Gerakan : reflek Lapang pandang :normal, tidak kabur. Visus :normal.tidak kabur. Tek.bola mata : lunak Telinga o Inspeksi Daun telinga : panjang/ lebar Liang telinga : tidak ada cairan yg keluar.

Membran timpany

: terdapat nyeri tekan pd pangkal telinga.

o Palpasi Cartilage : elastis Nyeri tragus : nyeri tekan Uji pedengaran : mengalami penurunan, berdenging. g. Hidung o nspeksi Bag. Luar : simetris Bag. Dalam : bersih Ingus : tdk ada Pendarahan : tdk ada Penyumbatan : tdk ada o palpasi septum : tidak ada nyeri tekan sinus-sinus : tidak ada infeksi h. mulut Inspeksi Bibir : kering dan mengelupas. Gigi :caries, tampak kotor Gusi :ada pembekakan lokal Lidah : ada lendir putih Sel. Lendir : menggumpal Faring : tdk ada infeksi Ovula : merah muda Tonsil : tidak ada pembengkakan o palpasi pipi : elastis. palatum :keras, tdk ada benjolan dasar mulut :bau,ada pembengkakan lokal lidah : tidak ada nyeri tekan. i. Leher o Inspeksi Bentuk : silinder Warna : kecoklatan Bengkak : tdk ada Hyperplasia: tdk ada Jvp : tidak ada peningkatan scr besar-besaran. Gerakan : normal. o Palpasi Kel. Limfe : tdk ada pembengkakan Kel. Tiroid : tdk ada pembengkakan

j.

Trakea : tdk ada benjolan Pemb. Drah :tdk ada peningkatan tekanan. Dada bentuk : simetris Retraksi : cepat Kulit : elastis Payudara : simetris o o o o Inspeksi kanan kiri : simetris Palpasi kanan kiri : tidak terdapat edema perkusi kanan kiri : wheezing Auskultasi kanan kiri : suara vesikuler meningkat.

k. Paru-paru

paru

l. Jantung o Inspeksi : normal o Palpasi : denyut jantung teraba o Perkusi : tidak normal (terdengar suara tambahan) o Auskultasi : tidak normal terdengar mur.....mur.... m. Abdomen o Inspeksi Bentuk :normal/ tdk ada benjolan. Retraksi : cepat Simetris : simetris Kon. Per : elastis. Penonjolan : tidak ada o Auskultasi Peristaltic : tidak normal adanya penurunan peristaltik usus akibat adanya bedrest yang lama dan kadang terdapat kembung. Bising arteri : tidak normal Bising vena : tidak normal o Perkusi : sonor o Palpasi : tidak ada nyeri tekan. n. Anus dan rectum : normal tidak ada hemoroid o. Alat kelamin : bersih dan terawat. p. Musculoskeletal o Otot Ukuran : sedang Kontraktur : tidak elastis

Kontraksi : lemah Kekuatan : lemah Gerakan :lamban sekali. o Tulang Sum2 tulang : normal, putih Deformitas : tidak ada kelainan bentuk Pembengkakan : tdk ada Edema : ada edema Nyeri tekan : ada, di bagian siku. o Neurology Kesadaran : normal. Gerakan : sangat lamban. Sensasi : berespon terhadap stimulus Regulasi : normal Integrasi] : normal Pola pemecahan masalah o Persendian Kaku : normal ROM : dapat beraktifitas tidak mengalami ekstermitas bagian atas dan bawah. Bengkak : tidak ada Krepitasi : tidak ada 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG. JDL: dan deferensial : menentukan adanya anemia, leukopenia, limfositosis, trombosis.trombosis darah menunjukkan kurang dari normal diaktifasi oleh enzimmonoamin oksidase (diperkirakan sebagai tanda depresi). Elektrolit : ketidak seimbangan termasuk penurunan kalium, natrium, dan klorida. Pemeriksaan endokrin: Fungsi tiroid : kadar tiroksin (T4) biasanya normal :namun sirkulasi kadar triodo tironin (T3) mungkin rendah. Fungsi hipofisis : respons TSH terhadap TRF tidak normal pada anoreksia nervosa. Tes rangsangan propanolol-glokagon ( pemeriksaan respon GH manusia ) : penurunan kadar GH pada anoreksia nervosa. Hipofungsi gonadotropik. Metabolisme kortisol : dapat meningkat DST: (mengevaluasi fungsi hipotalmik hipofisis ) tahanan deksametazon menunjukkan penekanan kortisol, di duga malnutrisi dan/ atau depresi. Tes sekresi hormon luteinizing : pola sering mirip gadis pra_pubertas. Estrogen : penurunan.

Gula darah dan MBR : mungkin rendah. Kimia lain: AST (SGOT) meningkat. Hipekarotenemia. Hipoproteinemia.hipokolesterolemia. Kadar MHP 6: menurun, diduga mal nutrisi/ depresi. Urinalisa dan fungsi ginjal : BUN dapat meningkat ; adanya keton menunjukkan kelaparan; penurunan urine 17kolesteroid. EKG : tak normal dengan tegangan rendah, inversi gelombang T, disritmia. 2. PENATALAKSANAAN Berdasarkan Konsensus Nasional Penanggulangan Helicobacter pylori 1996, ditetapkan skema penatalaksanaan dispepsia, yang dibedakan bagi sentra kesehatan dengan tenaga ahli (gastroenterolog atau internis) yang disertai fasilitas endoskopi dengan penatalaksanaan dispepsia di masyarakat. Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu: 1. Antasid 20-150 ml/hari Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2. 2. Antikolinergik Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif. 3. Antagonis reseptor H2 Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin. 4. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI) Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol. 5. Sitoprotektif

Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE 1) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA). 1. Golongan prokinetik Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, domperidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance) (Mansjoer et al, 2007). 7. Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti- depresi dan cemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena tidak jarang keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan seperti cemas dan depresi (Sawaludin, 2005) B.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.DATA FOKUS - Hipotensi - Tampak sangat mengantuk - Gelisah - Mual muntah - Migraine. - daerah dada terasa nyeri dan agak kembung , - Rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, - nyeri ulu hati, - bloating (lambung merasa penuh), kembung, - bersendawa, - cepat kenyang, - kulit bersisik dan kering - perut keroncongan (borborgygmi) - hingga kentut-kentut - kulit kering - membrane mukosa kering - nafsu makan yang menurun, , - sembelit, - diare dan. - flatulensi (perut kembung). - rasa panas pada ulu hati,. - perih dan nyeri. - mual dan kembung .

2.ANALISIS DATA DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN Syimptom Ds: Do: - Mual muntah - perut keroncongan (borborgygmi) - nafsu makan yang menurun Ds: Do: - kulit kering - membrane mukosa kering Problem Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Etiologi .Perubahan kemampuan untuk mencerna nutrient

kekurangan volume cairan/

Ketidak adekuatan intake makanan dan minuman. Nyeri pada perut dan dada bagian atas.

Ds: Do: - perih dan nyeri. - nyeri ulu hati - rasa panas pada ulu hati Ds: Do: - Gelisah

Nyeri

Ansietas (kecemasan)

Ds:. Do:

- gangguan lapang perhatian - menyatakan ketidak realistisan - depresi

Kurang pengetahuan informasi tentang penyakit. .ketidak seimbangan elektrolit .

perubahan proses brfikir

Ds: Do: - kelemahan

Intoleransi aktivitas

ketidak seimbangan antara kebutuhan

dan suplai oksigen. Ds: Do:- sembelit - feses kering dan keras. Ds: Do: - nyeri pada ulu hati - perih dan nyeri pada dada bagian atas. - terlihat mudah mengantuk dan lemas. Konstipasi. Perubahan pada diet masukan cairan.

Gangguan pola tidur Nyeri pada daerah ulu hati.

PERIORITAS MASALAH DAN DIAGNOSA KEPERAWATA 1. ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Ketidak adekuatan intake makanan. 2. kekurangan volume cairan behubungan dengan Ketidak adekuatan intake minuman. 3. Nyeri behubungan dengan Nyeri pada perut dan dada bagian atas. 4. perubahan proses berfikir berhubungan dengan ketidak seimbangan elektrolit. 5. intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen. 6. konstipasi berhubungan dengan perubahan pada masukan diet/ cairan. 7. Ansietas (kecemasan) berhubungan dengan Kurang pengetahuan informasi tentang penyakit. 8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Nyeri daerah ulu hati. C.PERENCANAAN N JAM/T O TUJUAN /NOC GL DX 1. Setelah di lakukan tindakan keperawatan 2x24jam di

INTERVENSI/ NIC a. kaji kemampuan mengunyah dan menelan. b. auskultasi

RASIONAL a. krn berhubungan dg kemungkinan aspirasi sbg

hrapkan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi dg kriteria hasil sbb: mendemonstr asikan atau kemajuan peningkatan berat badan sesuai dg tujuan. - tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi dg nilai laboratorium normal.

bising usus c. timbang berat badan sesuai dg indikasi d. berikan makan dalam jumlah kecil dan sering. e. kaji muntah ayau feses, atau cairan lambung.

2.

3.

Setelah di lakukan tindakan keperawatan 2x24jam di hrapkan pasien tidak mengeluh mual dan muntah, dan tidak ada hematemesis. Setelah di lakukan tindakan keperawatan

a. berikan cairan b. dorong masukan oral c. catat input dan output yang akurat

a. kaji tingkat nyeri, catat intensitas karakteristik

pertimbangan dlmmemberi makanan b. fungsi gastro intestinal berhubungan erat dg klien dispepsia shg bsing usus dpt mendeteksi respon kearah komplikasi atau tidak. c. sbg evaluasi adekuat dlm mendeteksi adanya terapi dlm pemenuhan nutrisi. d. mencegah reflek / muntah regulasi e. reaksi akut, sub akut perdarahan mungkin dapat terjadi shgg dpt menentukan intervensi. a. mencegah terjadinya dehidrasi b. membantu masukan cairan yang di butuhkan. c. mengetahui dan memenuhi kebutuhan cairan di dalam tubuh a. merupakan pengalaman subyektif dan harus di

2x24jam di nyeri rapkan nyeri b. monitor TTV dapat c. ajarkan teknik berkurang dg distraksi dan kriteria hasil relaksasi. sbb: d. berikan - melaporkan kompres nyeri hangat pada berkurang daerah dada dan dan perut. terkontrol. e. ciptakan lingkungan menunjukkan/ yang tenang menggunakan perilaku untuk mengurangi pertumbuhan

jelaskan oleh pasien atau identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yg berhubungan dg dan merupakan suatu hal yg amat penting untuk memilih intensitas yg cocok untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yg di berikan. b. untuk mengetahui adanya komplikasi lebih lanjut sehingga dapat di tentukan tindakan selanjutnya. c. merupakan ketegangan otot yang dpt merangsang timbulnya sakit pada dada perut dan ulu hati d. meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan relaksasi dalam mengurangi ketegangan. e. menurunkan stimulus yg berlebihan

yang dapat menurunkan nyeri pada dada dan perut. 4. - Setelah di lakukan tindakan keperawata n 2x24jam di hrapkan proses berfikirnya menjadi lebih ke arah yang positif dg bkriteria hasil: - Menyatakan pemahama n faktor penyebab dan menyadari gangguan. - Menunjukka n perubahan kemampuan untuk membust keputusan, pemecahan masalah. a. sadari a. penyimpangan memungkinkan kemampuan perawat dapat berfikir pasien memberikan b. dengarkan dan harapan nyata jangan pd pasien dan melawan memberikan pikiran tak informasi dfan rasional dan dukungan yg tak tepat. logis.berikan b. tak mungkin kenyataan berespon dengan singkat secara logis dan terus bila menerus. kemampuan c. ikuti program secara nutrisi dengan fisiologis ketat. terganggu. d. kaji tes fungsi Pasien perlu ginjal/ mendengar elektrolit. kenyataan tetapi perlawanan menimbulkan ketidak percayaan atau frustasi. c. memperbaiki nutrisi penting untuk memperbaiki otak. d. ketidak seimbangan mempengaruhi fungsi otak dan memerlukan perbaikan sebelum intervensi

teraupetik dapat di mulai. 5. Setelah di lakukan tindakan keperawata n 2x24jam diharapkan pasien intoleransi dapat teratasi dengan kreteria jhasil pasien tidak lemah da lemas lagi. a. observasi TTV observasi. b. tingkatkan tirah baring atau duduk, berikan lingkungan tenang, batasi penginjung sesuai dg keperluan. c.instruksikan kepada pasien tentang teknik penghematan energi misal menggunakan kursi saat mandi, menyisir, melakukan aktivitas dengan perlahan, d. dorong klien untuk selalu menggerakkn anggota badannya. Setelah di a. anjurkan klien lakukan untuk minum tindakan paling sedikit 2x24jam 2000ml/ hari diharapkan (tentunya jika feces pada pasien dapat klien normal menelan.). dengan b. tingkatkan criteria hasil diet makanan sbb: yang berserat/ - feses perubahan lembek kecepatan dan - tidak jenis dari sembelit makanan a. . untuk mengetahui perubahan TD, R, T, N. b. meningkatkan istirahat dan ketenangan. Aktivitas dan posisi tegak di yakini menurunkan aliran darah ke kaki. c. teknik penghematan energi mengurangi penggunaan energi.juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. d.agar ototnya tidak kaku.

6.

a. dapat melembekkan dan memfasilitasi eliminasi b. membantu dalam mengatur konsistensi fekal dan dapat menurunkan konstipasi. c. mencegah konstipasi, menurunkan distensi

7.

Setelah di lakukan tindakan keperawatan 2x24jam di hrapkan cemas pada pasien dapat berkurang.

sonde jika ada kebutuhan c. beri obat pelembek feses supositoria, laksatif/ penggunaan selang rektal sesuai dengan kebutuhan. a. evaluasi tingkat kecemasan, catat respon verbal dan non-verbal pasien.dorong ekspresi bebas akan emosi. b.jadwalkan istirahat yang adekuat dan periode menghentikan tidur. c. berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan.

abdomen, dan membantu keteraturan dalam defekasi.

8.

Setelah di lakukan tindakan keperawatan 2x24jam di hrapkan kebutuhan tidur pada pasien dapat terpenuhi dg

a. berikan suasana yang tenang dan rileks b. kurangi pengunjung c. batasi masukan makan/ minuman

a.ketakutan dapat terjadi karena adanya nyeri yang hebat, meningkatkan peraan sakit, penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. b. membatasi kelemahan, menghemat energi, dan dapat meningkatkan kemampuan koping. c. mengetahui apa yang di harapkan dapat menurunkan kecemasan. a. dengansuasan a yang tenang klien dapat rileks dan dengan suasana rileks akan meningkatkan rasa nyaman

kriteria hasil - pasien tidur dengan nyenyek - klien tidak terbangun dlm tidurnya - klien dapat tidur dengan tepat waktu

mengandung kafein d. brikan analgesic, sedatif,saat tidur sesuai dg indikasi

dan mengurangi rasa nyeri. b. mengetahui berapa lama pasien tidur c. menambah jam tidur pada pasien. d. kafein dapat memperlambat pasien untuktidur dan mempengaruhi tidur tahap REM.mengakib atkan pasien tidak merasa segar saat bangun. e. Nyeri mempengaruhi kemampuan pasien untuk jatuh/ tetap tidur.obat yg tepat waktu dpt meningkatkan istirahat/ tidur.nyeri pada otak ada di dekat pusat tidur dan dapat mempengaruhi pasien mnjadi terbangun.

BAB IV

PENUTUP A. KESIMPULAN Dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut. Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja. Bila tidak ditemukan penyebabnya,dokter akan mengobati gejala-gejalanya. Antasid atau penghambat H2 seperti cimetidine, ranitidine atau famotidine dapat dicoba untuk jangka waktu singkat. Bila orang tersebut terinifeksi Helicobacter pylori di lapisan lambungnya, maka biasanya diberikan bismuth subsalisilate dan antibiotik seperti amoxicillin atau metronidazole. B.DAFTAR PUSTAKA merilynn E doenges.1997.Rencana Asuhan Keperawatan :Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Pasien.EGC.AKARTA sumber:http://72.14.235.104/search?q=cache:_lo852E3ZUJ:www.elisabeth.or.id/kardiovaskular.php+ %22cidera+kepala %22&hl=id&ct=clnk&cd=34&gl=id&client=firefox-a http:www.medicastore.com/med/detail_pyk.php? id=iddtl=497&idktg=7&idobat&UID=20071203190546222.124.2 09.215. http://nursingbrainriza.blogspot.com/2007/06/ DISPEPSIA