Anda di halaman 1dari 14

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

Tinjauan Pustaka Fetal distress adalah suatu istilah yang menggambarkan hypoksia janin( kadar oksigen rendah ) yang dapat mengakibatkan kerusakan atau kematian janin jika tidak segera di tangani. Hal ini dapat terjadi ketika sebelum masa persalinan( antepartum ) atau ketika masa persalinan ( inpartu ). Fetal distress dapat di tandai melalui perlambatan dalam proses persalinan, perubahan denyut jantung janin, dan terdapat meconium pada air ketuban janin. Selain itu dapat pula dideteksi dari perubahan pH kulit kepala janin< 7,2. Penyebab fetal distress ada berbagai macam. Pertama adalah factor maternal atau karena ganguan uteroplacenta. Hal ini dapat terjadi karena gangguan vascular seperti pada pasien pre eklamsi, eklamsi, hipertensi, diabetes melistus, serta penyakit ginjal. Selain itu perdarahan massif dan decomp kordis menyebabkan aliran darah ke uterus menurun sehingga menyebabkan transport oksigen ke fetus juga menurun. Anemia pada ibu juga merupakan factor resiko terjadinya fetal distress, hal ini di sebabkan karena fungsi hemoglobin sebagai pengangkut oksigen. Faktor yang selanjutnya adalah placenta. Plasenta adalah tempat pertukaran oksigen serta zat zat yang dibutuhkan janin yang di suplai melalui darah ibu. Terlepas nya plasenta baik karena solution placenta maupun placenta previa dapat mengganggu fungsi tersebut. Hipertensi, pre eklasi, eklamsi, serta diabetes melistus menyebabkan kerusakan vascular yang menyebabkan agregasi platelet yang pada dinding vascular, pada akhirnya akan membentuk thrombus yang dapat menyebabkan infark sehingga aliran darah akan terganggu, hal tersebut dapat terjadi pada plasenta. Factor yang terakhir adalah fetal. Prolaps dan kompresi tali pusat merupakan penyebab gangguan aliran darah feto maternal. Selain itu kelainan jantung pada janin serta prematuritas adalah penyebab fetal distress karena kurang berfungsinya organ vital fetus. RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Gejala fetal distress dapat berupa penurunan gerak janin, terdapatnya meconium pada air ketuban, peningkatan fetal heart rate ( < 160 ) yang disebabkan kompensasi syaraf simpatis fetus karena kadar oksigen menurun, fetal heart rate turun ( <110 ) biasanya isufisiensi pada fetus sudah berlangsung lama sehingga mekanisme kompensasi tidak optimal, dan yang terakhir adalah terjadinya acidosis karena penururnan kadar oksigen dalam aliran darah fetus, sehingga pemenuhan energy lebih kearah anaerob yang menyebabkan kadar CO2 darah meningkat sehingga menyebakan acidosis. CTG ( cardiotopography ) adalah pemantauan janin kontinu secara elektronik atau biofisik. DJJ adalah hasil dari macam-2 faktor fisiologis yang mengatur, yang paling berperan adalah sistem syaraf autonom. Indikasi pemakaian CTG adalah hamil posterm Pre eklamsia Ketuban pecah dini ( 6-8 jam ) IUGR / janin tumbuh lambat Cara mendiagnosis adanya fetal distress : 1. menggunakan CTG, kriterianya adalah Bradicardia ( <110 bpm ) dengan lost of variability Recurrent Late deceleration Recurrent variable deceleration Sinusoidal patern Severe variable deceleration

2. Yang kedua adalah dengan fetal scalp blood sampling untuk memeriksa pH darah janin. Kriteria untuk asidosis adalah ketika pH darah kurang dari 7,2.

RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
IDENTITAS Nama Lengkap :Ny. Ifah Alwidiah (RM:) Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat :19 tahun : Islam : SMU : Ibu rumah tangga : wates

Tanggal Periksa : 22 september 2012 pukul : 23:30 di VK

Dokter Pembimbing :dr. Tri Budianto, Sp.OGKo-asisten : Rendra Surya Dananjaya

I.

ANAMNESIS a. Keluhan Utama Kiriman PKM Mergangsan dengan fetal distress, KPD 24 jam yang lalu, partus kala 1 tak maju, primigravida. b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merasa nyeri kontraksi dan lemas

c. Riwayat Menstruasi HPM Menarche Siklus menstruasi : 10-12-2011 : 15 tahun : 28-30 hariteratur RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Lama Menstruasi Kuantitas : 7 hari : Normal (ganti pembalut 2-3 x/hari).

d. Riwayat Obstetri G1P0A0 e. Riwayat Kontrasepsi Belum pernah menggunakan KB. f. Riwayat Pernikahan 1 x menikah, selama 2 tahun g. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat darah tinggi Riwayat asma Riwayat sakit gula Riwayat sakit jantung Riwayat alergi : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

h. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit serupa Riwayat darah tinggi Riwayat asma Riwayat sakit gula Riwayat sakit jantung Riwayat keganasan : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
II. PEMERIKSAAN FISIK Status present Keadaan umum : baik Kesadaran Tanda Vital : composmentis : TD = 130/90 mmHg N R S Tinggi Badan Berat badan Status obstetri Pemeriksaan Luar Inspeksi Palpasi : tampak air ketuban coklat kehijauan : janin tunggal, letak memanjang, presentasi kepala, punggung kiri ,DJJ (+) 172, TFU 37 cm, HIS kuat 5x/ 10 menit Pemeriksaan Dalam Pembukaan 8 cm, selaput ketuban (-), kepala H2, STLD, air ketuban (+) warna coklat kehijauan. Pemeriksaan CTG Frekuensi dasar 171 dpm, tekanan darah awal 133/36, menit 15 tekanan darah 122/68, akselerasi tidak ada, deselerasi ada, kontraksi ada frekuensi 5x / 10 menit, gerak janin 4x/10 menit. Diagnosis CTG : CST (+) RM.05. = 95 x/menit = 36 x/menit = 37,2 C

: 152 cm : 74 kg

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

III. KESIMPULAN G1P0AO, 19 tahun, hamil post date, KPD 24 jam yang lalu, partus kala 1 tak maju, KU baik, kesadaran compos mentis. Pada palpasi kesan janin tunggal, letak memanjang, presentasi kepala, punggung kiri, TFU 37 cm, HIS kuat 5x/ 10 menit. Pada inspeksi dan pemeriksaan dalam tampak air ketuban berwarna coklat kehijauan. DJJ 172 dengan kesimpulan CTG : CST (+). IV. DIAGNOSIS Primigravida post date dengan fetal distress, KPD 24 jam. V. PROGNOSIS Dubia ad malam. VI. TERAPI Rencana dilakukan sectio caesar. 1. Meminta surat persetujuan tertulis dari pasien (Informed Consent) untuk melakukan tindakan medis operasi citto section caesar, setelah sebelumnya memberikan penjelasan tentang tindakan. 2. Persiapan Pra-bedah Pemeriksaan Laboratorium (Darah rutin, HbsAg, CT, BT, GDS, Ureum, Kreatinin, SGOT, SGPT) Sedia darah WB (whole blood) 2 kantong

3. Persiapan Pasien Stabilkan keadaan pasien (resusitasi cairan) Rambut pubis dicukur RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Pasang catheter Lavement Baju pasien diganti dengan baju operasi.

Evaluasi I (tanggal 23-09-2012 jam : 07.00) KU Kesadaran : baik : composmentis

S/ nyeri luka bekas operasi (+), ASI (-), kembung (+), kentut (+) O/ Vital Sign : TD = 120/80 mmHg N = 88 x/menit R = 20 x/menit S = 36,9 o C Inspeksi Palpasi : tampak luka post op tertutup kasa, rembes (-), perdarahan pervaginam DBN : kontraksi keras, 3 jari di atas pusat

Pemeriksaan darah rutin : Hb pre op Hb post op : 10,2 mg/dL : 9,1 mg/dL

A/Diagnosis Post sectio caesar H-1

Prognosis RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Dubia ad bonam

P/ Terapi 1. RL 30 tetes/menit 2. 02 3l/mnit 3. Inj. Cefotaxim IV 4. Inj. Ketofen 30 mg/8 jam (IV) 5. Asam trameksamat 3 x 1 (500mg)

Evaluasi II (tanggal 24-09-2012 jam : 07.00) KU Kesadaran : cukup : composmentis

S/ nyeri luka bekas operasi (+), mobilisasi miring kanan kiri (+), kembung (-), ASI (-) O/ Vital Sign : TD = 130/90 mmHg N = 88 x/menit R = 24 x/menit S = 38,0o C Inspeksi Palpasi : tampak luka post op tertutup kasa, rembes (-) : kontraksi keras 2 jari di bawah pusat

A/Diagnosis Post sectio caesar H-2, resiko infeksi

RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Prognosis Dubia ad bonam

P/ Terapi 1. IVFD NaCl : D5% : RD = 2 : 2 : 1 2. Amoxicilin 3x1 3. Asam mefenamat 3x1 4. Sulfas ferros 1x2 5. Awasi KU, VS Evaluasi III (tanggal 25-09-2012 jam : 07.00) KU Kesadaran : baik : composmentis

S/ ASI (+), mobilisasi duduk (+) O/ Vital Sign : TD = 130/80 mmHg N = 96 x/menit R = 20 x/menit S = 37,2 o C Inspeksi A/Diagnosis Post sectio caesar H-3, resiko infeksi : tampak luka post op tertutup kasa, rembes (-)

Prognosis Dubia ad bonam RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

P/ Terapi 1. 2. 3. 4. 5. IVFD NaCl : D5% : RD = 2 : 2 : 1 Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam (IV) SF Amoxicilin Awasi KU, VS

Evaluasi IV (tanggal 26-09-2012 jam : 07.00) KU Kesadaran : baik : composmentis

S/ nyeri luka habis oprasi (+), mobilisasi jalan (+), flatus (+), ASI (+) O/ Vital Sign : TD = 120/80 mmHg N = 120 x/menit R = 24 x/menit S = 38,0 o C Inspeksi A/Diagnosis Post sectio caesar H-4, resiko infeksi : tampak luka post op tertutup kasa, rembes (-)

Prognosis Dubia ad bonam

P/ Terapi RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
1. Amoxicilin 3 x 1 2. Asam mefenamat 3x1 3. SF 2 x 1 4. Awasi KU, VS Evaluasi V ( tanggal 27-09-2012 jam 07.00) KU Kesadaran : baik : composmentis

S/ nyeri luka habis oprasi (+), mobilisasi jalan (+), flatus (+), ASI (+) O/ Vital sign : TD = 110/70 N = 104 x/ mnit R = 24 x/ mnit S = 37,8 Inspeksi Palpasi Prognosis P/Terapi 1. Amoxicilin 3 x 1 2. Asam mefenamat 3x1 3. SF 2 x 1 : luka post op tertutup kasa, rembes (-) : TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi keras, ASI (+) : Dubia ad bonam:

RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

ANALISA KASUS Pada pasien ini, gejala yang ditemukan pertama kali adalah ketuban pecah dini 24 jam yang lalu, tanggal 21 september 2012 pukul 23.30 WIB, pada saat itu pasien merasa kenceng kenceng tidak teratur atau jarang, serta tidak terdapat bloody show. 4 jam sebelum dibawa ke rumah sakit, tanggal 22 september 2012 pukul 20.00 pada pemeriksaan dalam pembukaan servic 7, dilakukan induksi oksitosin di puskesmas mergangsan. Pasien dirujuk ke RS Jogja pada pukul 23.30 tanggal 22 september 2012, dengan pembukaan 8, dengan STDL (+) AK (+), HIS kuat 5x/ 10 menit. DJJ 172 bpm, dilakukan pemeriksaan CTG hasil nya terdapat deselarasi lambat, CST (+). Oligohydramnion berat yang terjadi pada ketuban pecah dini dapat meningkatkan insiden kompresi tali pusat dan kejadian fetal distress pada proses persalinan. Pada saat dilakukan pemeriksaan kesejahteraan janin pada pasien ini menggunakan CTG, didapatkan hasil djj > 160, deselerasi lambat yang berarti bahwa terjadi isuficiency pada janin atau akut fetal distress. Akut fetal distress dalam persalinan adalah suatu kondisi fetal asfiksia dengan hypoxia dan acidosis. Hal ini ditandai dengan pola fetal heart rate yang khas pada pemeriksaan CTG, serta pengukuran pH pada kulit kepala janin. Resusitasi intrauterine harus dilakukan untuk meningkatkan suplay oksigen ke dalam placenta untuk mencegah atau memperburuk keadaan hypoksia dan acidosis pada janin. Pada kasus ini yang dapat di lakukan adalah, memposisikan pasien ke arah lateral kiri,kemudian kearah lateral kanan atau dengan posisi knee elbow. Hal ini dilakukan karena pada pasien dengan posisi perlentang dapat mengakibatkan penekanan pada aorta atau vena, apabila hal itu terjadi pada pembuluh vena maka akan mengurangi venous return dan akan menyebabkan cardiac out put menurun shingga akan menyebabkan hypotensi yang akan berpengaruh pada aliran darah transplacenta. Apabila hal ini terjadi pada aorta maka akan menyebabakan berkurangnya iliac blood RM.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
flow kemudian akan mengurangi uterine arterial blood flow. Selain itu dapat dilakukan pemasangan infuse cristaloid dan oksigen. Serta dapat mengurangi kontraksi uterus dengan terbutaline intravena atau subkutan 250 g. Pada pasin ini, faktor resiko yang berpengaruh untuk terjadinya fetal distress adalah penggunaan induksi oksitosin,hal tersebut dikarenakan otot myometrium menjadi lebih sering berkontraksi sehingga mengurangi aliran darah ke janin. Faktor yang ke dua adalah karena terjadinya ketuban pecah dini yang dapat mengakibatkan terjadinya kompresi tali pusat. Penanganan pada kasus ini berdasarkan the american college of obstetricians and gynecologist termasuk dalam categori 3 yang ditandai dengan recurent late deseleration, yaitu dilakukan resusitasi, dan menyiapkan tindakan operasi. Pada kasus ini, pembukaan servic 8 cm, pilihan persalinan operatif nya adalah dengan dilakukan operasi sectio caesar.

RM.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS

Daftar pustaka Amir Sweha, M.D. Interpretation of the Electronic Fetal Heart Rate During Labor. 1;59(9):24872500 Cunningham, FG. et al. Obstetri Williams, edisi 21. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1: 512-529 michcelle L.murray . 2007. Antepartal and intrapartal fetal monitoring. 3rd ed. springer publishing company : new york Prawirohardjo, S. Saifuddin, AB. Rachimhadhi, T. Winkjosastro, GH. 2008 Ilmu Kebidanan, edisi keempat. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

RM.014.

Anda mungkin juga menyukai