Anda di halaman 1dari 3

Moral Loyalitas bagi Anak-anak dalam Putri Si Pembuat Kembang Api Karya Philip Pullman

Setelah membaca salah satu genre sastra anak berjudul Putri Si Pembvuat Korek Api karya Philip Pullman, saya mendapatkan nilai personal. Menurut Huck (1987), nilai personal terdiri dari empat, yakni perkembangan imajinasi, intelektual, emosional, social, dan etis dan religi. Keempat haltersebut terangkum dalam kisah Lila dan tokoh-tokoh lainnya pada Putri Si Pembvuat Korek Api. Melalui para tokoh, dapat diambil pesan moral mengenai sikap loyalitas anak terhadap kehidupan. Lantas anak-anak diharapkan dapat menerapkannya ke dalam lingkungannya. Dari sudut pandang anak-anak dapat diambil pesan moral secara tersirat maupun tersurat. Melalui tokoh utama, Lila, sebagai anak perempuan dari seorang pembuat kembang api, Lalchand, dapat pembaca ambil pesan moral berupa rasa ingin tahu. Sikap Lila yang gemar bereksperimen dari hal yang telah dilihat dari praktik yang dilakukan ayahnya untuk membuat kembang api. Dalam praktik demikian, Lila juga membantu pekerjaan ayahnya di bengkel tempat membuat kembang api. Lila ambisius menjadi seperti ayahnya sebagai pembuat kembang api handal dapat dijadikan panutan bagi anak-anak untuk memiliki-cita-cita. Apabila dilihat dari objek yang disuluti oleh Pillman, kembang api, termasuk benda-benda yang disukai anak-anak. Secara tidak langsung Pullman memasukkan simbolik bahwa cita-cita sebaiknya didasari atas bakat yang ada pada diri anak-anak dikembangkan melalui hal-hal yang digemari anak-anak. Lila hidupnya dekat dan akrab dengan kembang api lantas bercita-cita ingin menjadi pembuat kembang api handal sering bereksperimen, maka akan terasah bakatnya tersebut. Mengenai pernyataan di atas, maka selalu ada jalan untuk mewujudkannya. Lila sebagai anak kecil pasti memiliki akal. Bersama Chulak, temannya, pelayan pribadi gajah putih sacral bernama Hamlet, menemukan cara untuk menciptakan kembang api indah dan menjadi pembuat kembang api handal. Setelah mendapat jawaban dari Chulak yang secara diam-diam menanyakan kepada Lalchand bahwa untuk menjadi pembuat kembang api harus mendapatkan sulfur bangsawan di Gunung Merapi. Lila langsung melaksanakan misi tersebut.

Lila pergi berpetualang ke Gunung Merapi, ke Gua Razvani, tempat sang Angkara
Api bersemayam untuk mendapatkan Sulfur Bangsawan. Lila

hanya pamit

meninggalkan surat untuk ayahnya. Hal tersebut menggambarkan sikap anak-anak yang cekatan, cerdik, inisiatif dan gesit. Namun, kepergiannya tidak diketahui Lalchand secara langsung.
Celakanya, Lalchand lupa memberitahu Chulak bahwa untuk bisa mengambil Sulfur Bangsawan, seseorang membutuhkan seguci air ajaib dari Dewi Danau Zamrud agar

terhindar dari angkara api. Hal ini menjadi koreksi bagi orang tua melalui tokoh Lalchand. Apapun yang dilakukan anak untuk meraih cita-cita hendaknya dalam pengawasan dan pembimbingan orang tua. Anak pun harus memahami restu yang diberikan orang tua. Maelalui tokoh Chulak, dari sudut pandang anak-anak akan diterima bahwa sesama teman harus tolong-menolong. Teman hendaknya saling mendukung hal-hal yang hendak dicapai. Chulak menolong Lila menemukan rahasia menjadi pembuat kembang api, hingga menyusul Lila menggunakan Hamlet untuk membantu memberikan air ajaib. Seorang teman yang rela berkorban seperti Chulak patut diteladani. Tokoh gajah putih sacral milik kerajaan setempat yang dapat berbicara memberi pembaca pesan bahwa sesama makhluk ciptaan-Nya bisa diandalkan, saling melindungi, bisa diajak kerja sama, selalu ada timbal balik, dan kontak batin sesama penghuni alam. Dari sudut pandang anak, pemeliharaan hewan demikian juga merupakan tanda kesetiaan rakyat terhadap penguasa atau orang yang lebih tinggi. Secara tersurat, melalui kutipan berikut. Lila, sayangku, Katanya, Aku harus minta maaf padamu. Karena apa? Yah, kau tahu, aku seharusnya memercayaimu. Aku membesarkanmu sebagai putri pembuat kemban api; seharusnya aku sudah siap jika kau sendiri ingin menjadi pembuat kempang api. Lagipula kau memiliki tiga bekal! (Pullman: 136). Tiga Bekal adalah hal yang harus dimiliki setiap Pembuat Kembang Api. Ketiganya sama penting dan dua dia antaranya tidak berguna tanpa yang ketiga. (Pullman: 138). Tiba-tiba ia menyadari apa yang telah dipelajarinya. Dia tibatiba mengerti bahwa Dr. Puffenflasch mencintai api pink-nya,

Signor Scorcini mencintai guritanya, dan Kolonel Sparkington mencintai makhluk-makhluk bulannya yang lucu. Untuk membuat kembang api yang baik kau harus mencintainya, setiap percikan kecil atau Naga Meletup. Itu saja! Kau harus menambahkan cinta ke dalam kembang apimu, selain bakatmu. (Pullman: 138).

Tiga bekal pertama, bakat. Kedua, dengan banyak nama keberanian: kegigihan; dan kemauan keras. Ketiga, nasib baik. Tersampaikan oleh Pullman bahwa bakat akan berfungsi apabila ada keberanian digali dengan usaha yang gigih dan disertai kemauan yang keras untuk melakukan semua itu agar selalu berhubungan baik. Maka, nasib baik pun akan muncul setelah usaha kita lakukan. Melalui kutipan pertama, menguatkan pemahaman pembaca terutama karena ini sastra anak terjemahan, mengenai peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pekerjaan orang tua biasanya dekat dengan anak, maka keahlian orang tua dan kegemaran akan menurun pada anaknya. Lalchand menurunkan minat dan bakatnya kepada Lila, maka Lila memiliki obsesi demikian sebagai pembuat kembang api. Melalui kutipan kedua, jelas bahwa mencintai pekerjaan hendaknya diterpakan. Kesetian terhadap pekerjaan yang DItekuni harus dimiliki. Komitmen dalam bekerja diperlukan sehingga dapat menjaga pekerjaan itu sendiri dan memberikan hasil yang baik. Hal itu semua juga dilaksanakan perlu didukung oleh bimbingan orang tua. Maka, anak hendaknya memercayai, mamatuhi, menghargai, dan menghormati orang tua. Begitu loyalitas dapat melekat pada personal dari sudut pandang anak dalam kehidupan sehari-hari.