Anda di halaman 1dari 58

Asuhan Keperawatan pada Nn.

A dengan Gastritis Disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Digestive System

Disusun oleh: Apri Rahma D. Aristya Widya S. Devi Siska A. Dini Noviana Upik Desma 220110090121 220110090046 220110090058 220110090131 220110090095

Sanny Annisa A R 220110090053 Nurhadijah Fiola Darmawan Resty Ainul I Evelin Aprilianty Cici Feby Methalia Sandi 220110090136 220110090117 220110090051 220110090040 220110090054 220110090092

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

KASUS 2 Nn. Alice, 27 tahun, karyawan pada perusahaan garmen yang mengharuskan bekerja dengan target tertentu sehingga setiap hari diburu-buru tugas. Ia adalah karyawan baru yang bertugas sebagai Quality Control (QC) dengan 60 pegawai yang pekerjaannya harus diperiksa, semua pegawainya perempuan dan rata-rata bekerja lebih dari 4 tahun. Nn. Alice sudah sejak lama mengeluh nyeri seperti terbakar pada daerah epigastrium yang dirasa lebih nyeri setelah makan disertai perasaan mual dan kadang muntah. Ia juga sering mengeluh perut kembung dan disertai diare. Selama ini ia juga sering menggunakan aspirin saat ia tidak enak badan. Tadi pagi sekitar jam 09.05 saat di kantor, tiba-tiba merasa sakit hebat pada perut dan pingsan. Nn. Alice segera dibawa ke UGD RS. Mutiara untuk mendapat pertolongan. Di UGD dilakukan pemeriksaan dan untuk meyakinkan ada sesuatu di lambungnya ia harus menjalani endoscopy. Perawat menyiapkan pasien dan mencari keluarganya untuk meminta persetujuan tetapi keluarganya tidak bisa dihubungi padahal terapi bisa diberikan setelah hasil pemeriksaan selesai dan memberikan kontribusi penting dalam penentuan diagnosa.

STEP 1 1. Epigastrium Jawab : epigastrium berada pada bagian 9 kuadran (bagian kiri atas), di dalam epigastrium terdapat lambung, pankreas, hepar.

Hipokondria kanan

epigastrium

hipokondria kiri

lumbalis kanan

umbilikal

lumbalis kiri

iliakal kanan

hipokondrium

iliakal kiri

STEP 2 1. Apakah diagnosa medis dari kasus tersebut? 2. Mengapa nyeri terasa seperti terbakar pada daerah epigastrium dan bertambah nyeri setelah makan? 3. Apakah aspirin merupakan faktor penyebab? 4. Mengapa klien mengeluh kembung dan diare? 5. Apakah pola hidup mempengaruhi penyakit klien? 6. Berdasarkan stadium, maka gejala yang dialami klien termasuk ke dalam stadium berapa? (LO) 7. Apakah perawat boleh melakukan endoskopi tanpa persetujuan klien ataupun keluarga klien? 8. Apakah nyeri yang dirasakan klien dapat menyebar? (LO) 9. Bagaimana pertolongan pertama ketika penyakit klien kambuh? 10. Makanan apa saja yang harus dianjurkan dan apa saja yang harus dihindarkan? 11. Persiapan apa saja yang harus disiapkan untuk klien sebelum dilakukan endoskopi? (LO) 12. Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi terkait dari penyakit klien? 13. Apa saja faktor resiko dari kasus ini? 14. Apakah sendawa termasuk gejala tambahan dari kasus ini? 15. Apakah nyeri yang dirasakan klien ada hubungannya pada saat klien makan? 16. Bagaimana peran perawat seharusnya dalam menangani psikologi klien terkait dengan pekerjaan klien? 17. Penatalaksanaan apa saja yang dapat diberikan untuk klien? 18. Diagnosa keperawatan apa saja yang mungkin muncul? 19. Pemeriksaan diagnostik lain yang dapat dilakukan? (LO) 20. Apakah etiologi dari penyakit ini? 21. Bagaimana prognosis dari penyakit ini? 22. Apa saja yang harus diinformasikan kepada pihak keluarga klien terkait penyakit klien? 23. Hal-hal apa saja yang dapat memperberat keadaan klien? 24. Bagaimana epidemiologi dari kasus ini? 25. Apakah diagnosa banding untuk kasus ini? (LO) 26. Apakah klien boleh mengonsumsi oralit untuk mengatasi diare?

STEP 3 1. Apakah diagnosa medis dari kasus tersebut? Jawaban SGD : Diagnosa medis dari kasus tersebut adalah Gastriris 2. Mengapa nyeri terasa seperti terbakar pada daerah epigastrium dan bertambah nyeri setelah makan? Jawaban SGD : Pola makan yang tidak teratur (telat makan) sehingga terasa nyeri seperti terbakar dan ketika makanan masuk ke dalam lambung, asam lambung meningkat sehingga terasa nyeri pada daerah epigastrium. Nyeri yang dirasakan klien disebabkan karena terjadinya inflamasi pada lambung. Makanan masuk karena terjadi peradangan pada lambung, sehingga lambung tidak dapat bekerja optimal dalam melumat makanan yang menyebabkan nyeri setelah makan. Adanya respon pengeluaran asam lambung yang mengenai luka sehingga menyebabkan nyeri. Jawaban Sumber : Karena dinding mukosa lambung yang terinflamasi meningkatkan aktifasi saraf simpatis sehingga serabut-serabut aferen menghantarkan impuls nyeri sehingga mengakibatkan nyeri di epigastrium. Klien mengalami nyeri setelah makan karena makanan yang turun ke lambung memaksa kerja lambung lebih keras sedangkan lapisan mukosa lambung dalam keadaan terinflamasi. (Lecture Digestive System tanggal 17 Februari 2011) 3. Apakah aspirin merupakan faktor penyebab? Jawaban SGD : Iya, karena aspirin bekerja dalam menghambat prostaglandin (menghasilkan mukus) sehingga mukus yang dihasilkan pun berkurang meyebabkan radang pada lambung. Jawaban Sumber : Aspirin merupakan salah satu faktor penyebab karena aspirin menghambat sintesis prostaglandin sehingga mukus yang dihasilkan berkurang. Sementara itu, mukus berfungsi untuk melindungi dinding lambung.

(Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011) 4. Mengapa klien mengeluh kembung dan diare? Jawaban SGD : Kembung : lambung tidak dapat melumat makanan secara optimal, sehingga makanan tidak dapat dicerna secara sempurna. Oleh karena itu, sisa makanan yang ada di lambung dicerna oleh bakteri colon sehingga menghasilkan gas, gas tersebutlah yang menyebabkan perut menjadi kembung dan menghasilkan bau yang tidak sedap. Diare : terjadi peradangan sehingga makanan tidak dapat dicerna secara sempurna, absorbsi usus menurun, gerakan peristaltik usus menurun menyebabkan lambung tidak dapat mencerna makanan secara sempurna. Jawaban Sumber : Klien mengeluh kembung karena sisa makanan yang tidak dicerna akan didigesti oleh bakteri colon sehingga banyak terbentuk gas dan menyebabkan perut terasa penuh atau kembung. (Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011) Diare diakibatkan dari sekresi asam lambung yang meningkat kemudian mengiritasi saluran cerna sehingga motilitas usus meningkat. (Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011) 5. Apakah pola hidup mempengaruhi penyakit klien? Jawaban SGD : Berpengaruh, pekerjaan dan aktivitas yang berlebihan menyebabkan pola makan seseorang tidak teratur sehingga lambung menjadi kosong dan terjadi peradangan pada mukosa lambung. Jawaban Sumber : Pola hidup seseorang mempengaruhi kesehatan tubuhnya, seperti aktivitas sehari-hari yang terlalu berat bisa menimbulkan stres dan juga pola makan yang tidak teratur. Karena stres dapat merangsang peningkatan asam lambung. (Suratun & Lusianah, 2010)

6. Berdasarkan stadium, maka gejala yang dialami klien termasuk ke dalam stadium berapa? (LO) Jawaban SGD : LO Jawaban Sumber : Termasuk kedalam stadium gastritis akut erosif, dimana faktor penyebab dari gastritis akut erosif adalah penggunaan aspirin yang terus menerus sehingga menjadi zat yang mengiritasi dinding lambung. (Suratun & Lusianah, 2010) 7. Apakah perawat boleh melakukan endoskopi tanpa persetujuan klien ataupun keluarga klien? Jawaban SGD : Perawat tidak berhak melakukan endoskopi karena tindakan endoskopi memerlukan kolaborasi dengan tim medis lainnya. Jawaban sumber : Prosedur melakukan endoskopi akan dilakukan pada klien dalam kondisi sadar. Jadi persetuajuan akan diminta setelah klien sadar. (Dosen tutor 9) Prosedur Prosedur endoskopi biasanya berlangsung antara 5 sampai 10 menit. Selama prosedur ini, pasien diminta untuk berbaring di sisi kiri. Selama prosedur endoskopi, pasien berada di bawah anestesi pendek. Prosedur endoskopi dilakukan dengan bantuan endoskop. endoskop adalah tabung fleksibel dengan sistem pengiriman cahaya yang menerangi saluran tersebut. Lebih lanjut memiliki sistem lensa yang menyampaikan gambar dari fiberscope dan menampilkan gambar di TV warna. endoskop ini diturunkan kerongkongan, ke perut dan ke dalam usus. endoskopi yang gagal dapat mengganggu pernapasan. Selama prosedur, pengambilan napas lambat dan dalam dapat membantu pasien rileks. Sebuah endoskopi kapsul adalah bentuk lain dari endoskopi dimana pasien memakan kamera berbentuk kapsul yang merekam gambar ketika kapsul bergerak melalui saluran pencernaan. Kapsul keluar dari tubuh pasien melalui gerakan usus. (Brunner & Suddarth, 2002)

8. Apakah nyeri yang dirasakan klien dapat menyebar? (LO) Jawaban SGD : LO Jawaban Sumber : Nyeri tidak akan menyebar, nyeri hanya akan bertambah ketika klien makan (www.noetikakeperawatan.com. Diakses tanggal 5 Maret 2011) 9. Bagaimana pertolongan pertama ketika penyakit klien kambuh? Jawaban SGD : Jika gastristis stadium ringan kambuh, tindakan pertama yang dilakukan adalah makan makanan yang mengandung lemak (lemak yang baik adalah susu), hindari minuman yang mengandung kafein (teh manis). Makanan lemak berfungsi untuk mengurangi sekresi asam lambung. Jawaban Sumber : Diamkan sejenak, lalu minum makan makanan yang mengandung lemak (seperti susu) agar dapat mengurangi sekresi asam lambung. 10. Makanan apa saja yang harus dianjurkan dan apa saja yang harus dihindarkan? Jawaban SGD : Dihindari : makanan yang terlalu asam, pedas, berbumbu, dan mengandung protein Jawaban Sumber : Makanan yang dihindari a. Hindari makanan dan minuman yang banyak mengandung gas dan terlalu banyak serat, antara lain beras ketan, tales, ubi, singkong, sayuran (kol, sawi hijau, sayur mentah), buah-buahan (nangka, pisang ambon, durian, nanas), makanan berserat tertentu (kedondong, buah yang dikeringkan), minuman yang mengandung gas (minuman bersoda). b. Hindari makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung seperti kopi,teh kental, minuman beralkohol 5-20%, anggur putih, dan sari buah sitrus. c. Hindari makanan yang sulit dicerna dan dapat memperlambat pengosongan lambung. Hal ini akan menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung seperti makanan berlemak, kue tart, cokelat, keju. d. Hindari makanan yang mudah mengiritasi/merangsang lambung dan secara langsung merusak dinding lambung seperti makanan yang mengandung cuka,

pedas, merica, asam, bumbu yang merangsang, makanan yang berlemak/gorengan, dan vitamin C dosis tinggi. e. Hindari makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan antara lain alkohol, coklat, makanan tinggi lemak, gorengan. f. Jangan konsumsi makanan yang bertekstur keras seperti dendeng, nasi kerak, dll., pilihlah makanan lembut yang dimasak dengan direbus, disemur, ditim, atau diungkep. Sebab, makanan digoreng akan sulit dicerna dan hangat seperti : nasi hangat, bubur hangat, dll. g. Hindari makanan yang mengandung banyak garam. Makanan yang dianjurkan a. Dianjurkan, minum susu untuk menetralkan asam lambung yang berlebih, sebab, susu mengandung protein dan kalsium tinggi untuk regenerasi sel. b. Tetap konsumsi gizi seimbang (makanan pokok, lauk, sayur, dan buah) c. Makan secara teratur dengan interval tiga jam sekali antara makanan pokok dan selingan (tiga kali makan pokok, tiga kali selingan). d. Makan dalam porsi secukupnya, jangan sampai perut kosong atau kekenyangan. e. Makan dengan tenang, kunyah makanan hingga hancur, dan lumat menjadi butiran lembut.
(http://ahlipencernaan.com/Prosedur/endoskopi.html. Diakses tanggal 8 Mare 2011)

11. Persiapan apa saja yang harus disiapkan untuk klien sebelum dilakukan endoskopi? (LO) Jawaban SGD : LO Jawaban Sumber : Pasien menjalani prosedur pencernaan tidak boleh makan atau minum apa pun dalam delapan sampai sepuluh jam dari prosedur ini. Dalam hal ini jika ada makanan di perut, makanan akan menghalangi pandangan melalui endoskopi, dan bisa menyebabkan muntah. (http://ahlipencernaan.com/Prosedur/endoskopi.html. Diakses tanggal 8 Mare 2011) 12. Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi terkait dari penyakit klien? Jawaban SGD : Hepatomegali dan kanker lambung Jawaban Sumber :

Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syok hemorogik

Komplikasi yang timbul pada Gastritis Kronik, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi, dan anemia karena gangguan absorpsi vitamin B12

(http://puskesmas-oke.blogspot.com/2009/01/gastritis-maag.html. Diakses tanggal 7 Maret 2011) 13. Apa saja faktor resiko dari kasus ini? Jawaban SGD : Berpengaruh dengan pekerjaan, kebiasaan atau gaya hidup, wanita karena wanita lebih sering mengkonsumsi makanan pedas dibandingkan dengan laki-laki Jawaban Sumber : Alkoholisme Kronik Alkoholisme kronik tidak bisa menyebabkan timbulnya gastritis. TRUELOVE sering menemukan penderita yang mengalami kerusakan pada permukaan mukosa lambung yang disebabkan oleh alkoholisme, tetapi kerusakan tersebut akan cepat sembuh tanpa meninggalkan bekas. Perokok berat : berhubungan dengan kadar caffeine yang dapat meningkatkan asam lambung. Stres berat Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan pencernaan. Gastritis dapat ditemukan baik pada penyakit saluran empedu maupun pada pankreatitis. Virus hepatitis Gastritis jarang diketemukan pada virus hepatitis. (Sujono Hadi, 2002) 14. Apakah sendawa termasuk gejala tambahan dari kasus ini? Jawaban SGD :

Iya Jawaban Sumber : Iya, sendawa merupakan salah satu tanda gejala dari gastritis (Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011) 15. Apakah nyeri yang dirasakan klien ada hubungannya pada saat klien makan? Jawaban SGD : Iya ada hubungannya Jawaban Sumber : Iya sangat berpengaruh karena makanan yang turun ke lambung memaksa kerja lambung lebih keras sedangkan lapisan mukosa lambung dalam keadaan terinflamasi. (Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011) 16. Bagaimana peran perawat seharusnya dalam menangani psikologi klien terkait dengan pekerjaan klien? Jawaban SGD : Memberikan motivasi kepada klien dan memberikan edukasi terhadap penyakit yang diderita. Jawaban Sumber : Inform consent (Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011) 17. Penatalaksanaan apa saja yang dapat diberikan untuk klien? Jawaban SGD : Penatalaksanaan Farmakologi : minum obat antasida sebelum makan. Nonfarmakologi : makan teratur.

Jawaban Sumber : Penatalaksanaan Terapi gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya dan mungkin memerlukan perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau, dalam kasus yang jarang, pembedahan untuk mengobatinya. 1. Terapi terhadap asam lambung

Asam lambung mengiritasi jaringan yang meradang dalam lambung dan menyebabkan sakit dan peradangan yang lebih parah. Itulah sebabnya, bagi sebagian besar tipe gastritis, terapinya melibatkan obat-obat yang mengurangi atau menetralkan asam lambung seperti : a. Antasida. Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung dengan cepat. b. Penghambat asam. Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut, dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi. c. Penghambat pompa proton. Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung adalah dengan cara menutup pompa asam dalam sel-sel lambung penghasil asam. Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari pompa-pompa ini. Yang termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja H. pylori. d. Cytoprotective agents. Obat-obat golongan ini membantu untuk melindungi jaringan-jaringan yang melapisi lambung dan usus kecil. Yang termasuk ke dalamnya adalah sucraflate dan misoprostol. Jika meminum obat-obat AINS secara teratur (karena suatu sebab), dokter biasanya menganjurkan untuk meminum obat-obat golongan ini. Cytoprotective agents yang lainnya adalah bismuth subsalicylate yang juga menghambat aktivitas H. pylori. 2. Terapi terhadap H. Pylori Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi H. pylori. Yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri, penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik. Terapi terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil, kecepatan untuk membunuh H. pylori sangat beragam, bergantung pada regimen yang digunakan. Akan tetapi kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada kombinasi

dua obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2 minggu dibandingkan dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan efektifitas. Untuk memastikan H. pylori sudah hilang, dapat dilakukan pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan pernapasan dan pemeriksaan feces adalah dua jenis pemeriksaan yang sering dipakai untuk memastikan sudah tidak adanya H. pylori. Pemeriksaan darah akan menunjukkan hasil yang positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih walaupun pada kenyataanya bakteri tersebut sudah hilang. (Sylvia A. Price, 2005) (Meltzer, Suzanne C, 2001) 18. Diagnosa keperawatan apa saja yang mungkin muncul? Jawaban SGD : Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Gangguan rasa nyaman nyeri Intoleran aktivitas Resti kekurangan cairan dan elektrolit

19. Pemeriksaan diagnostik lain yang dapat dilakukan? (LO) Jawaban SGD : LO Jawaban Sumber : 1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan /derajat ulkus jaringan / cedera. 2. Gastrointestinal Endoskopi Gastrointestinal endoskopi adalah prosedur yang memungkinkan spesialis pencernaan untuk melihat lapisan dalam saluran pencernaan. The endoskopi gastrointestinal menawarkan akses ke saluran pencernaan yang meliputi seluruh usus kecil, saluran empedu, usus, duodenum, perut, dan kerongkongan. Berdasarkan organ-organ yang spesialis pencernaan ingin lihat, prosedur GI dapat disebut sebagai endoskopi perut atas atau bawah endoskopi. Endoskopi saluran pencernaan atas (juga dikenal sebagai EGD) membantu dalam melihat kerongkongan, lambung dan duodenum sedangkan endoskopi saluran

pencernaan bawah membantu dalam memvisualisasikan usus besar. Biasanya

endoskopi pasien masuk melalui anus, tenggorokan, dan uretra atau melalui insisi kecil dibuat di kulit. Prosedur endoskopi ini dapat dilakukan baik di dasar rawat jalan atau dasar rawat inap. Endoskopi saluran pencernaan membantu dalam mendiagnosis beberapa gangguan GI. Prosedur endoskopi gastrointestinal tidak hanya digunakan untuk diagnosis penyakit saluran pencernaan tetapi juga digunakan untuk masalah perawatan GI. Prosedur endoskopik kurang menyakitkan dan umumnya dikaitkan hanya dengan sedikit ketidaknyamanan. Hanya sedikit masalah endoskopi GI yang bisa membantu untuk mendiagnosis atau menyelidiki adalah : Infeksi saluran kemih Perdarahan Internal gastrointestinal Ulkus gastrointestinal Sindrom iritasi usus (IBS) Masalah Usus Besar Diare kronis

Jenis prosedur endoskopi Ada berbagai jenis prosedur endoskopik yang terlibat dalam pemeriksaan organ yang berbeda atau sistem. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut : Kolposkopi Bronkoskopi Kapsul Endoskopi Laparoskopi Double Balloon Enteroskopi Fetoskopi Kolonoskopi Fleksibel Sigmoidoskopi Endoskopik mundur cholangio-pankreatografi Arthroskopi Amnioskopi Endoskopi gastrointestinal Atas (OCD) Proctoskopi

Rhinoskopi Thorakoskopi

Persiapan Pasien menjalani prosedur pencernaan ini tidak boleh makan atau minum apa pun dalam delapan sampai sepuluh jam dari prosedur ini. Dalam hal ini jika ada makanan di perut, makanan akan menghalangi pandangan melalui endoskopi, dan bisa menyebabkan muntah. Prosedur Prosedur endoskopi biasanya berlangsung antara 5 sampai 10 menit. Selama prosedur ini, pasien diminta untuk berbaring di sisi kiri. Selama prosedur endoskopi, pasien berada di bawah anestesi pendek. Prosedur endoskopi dilakukan dengan bantuan endoskop. endoskop adalah tabung fleksibel dengan sistem pengiriman cahaya yang menerangi saluran tersebut. Lebih lanjut memiliki sistem lensa yang menyampaikan gambar dari fiberscope dan menampilkan gambar di TV warna. endoskop ini diturunkan kerongkongan, ke perut dan ke dalam usus. endoskopi yang gagal dapat mengganggu pernapasan. Selama prosedur, pengambilan napas lambat dan dalam dapat membantu pasien rileks. Sebuah endoskopi kapsul adalah bentuk lain dari endoskopi dimana pasien memakan kamera berbentuk kapsul yang merekam gambar ketika kapsul bergerak melalui saluran pencernaan. Kapsul keluar dari tubuh pasien melalui gerakan usus. Komplikasi mungkin terdiri dari 1) Perforasi gastrointestinal, 2) Pendarahan dan 3) Infeksi. 3. Minum barium dengan foto rontgen = dilakukan untuk membedakan diganosa penyebab / sisi lesi. 4. Analisa gaster = dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah, mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus duodenal. Penurunan atau jumlah

normal diduga ulkus gaster, dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom Zollinger-Ellison. 5. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi perdarahan. Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis. 6. Tes serologi darah = dilakukan untuk memeriksa adanya anemia persiosa, selain itu untuk menentukan apakah terdapat antibodi akibat infeksi bakteri H.Pylori. 7. X-Ray Saluran Cerna Bagian Atas Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan rontgen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen. 8. Pemeriksaan Feses, meliputi : warna, konsistensi, bau, lendir, sisa makanan, parasit. Untuk memeriksa kemungkinan adanya H. pylori (penyebab ulkus peptikum). 9. Kultur darah/Feses Untuk memeriksa kemungkinan adanya H. pylori (penyebab ulkus peptikum). 10. Pemeriksaan Isi Lambung Untuk memeriksa kemungkinan aklorhidrida (tidak adanya HCl dalam getah lambung). (Smeltzer, 2002) 20. Apakah etiologi dari penyakit ini? Jawaban SGD : Pola hidup, alkohol, aspirin, obat-obatan NSAID, dan Helicobacterpylori. Jawaban Sumber : 1) Endotoksin bakteri masuk setelah menelan makanan yang terkontaminasi (staphylococcus, salmonella). 2) Mengkonsumsi kafein, alcohol, merokok 3) Penggunaan aspirin, dimana aspirin dapat menyebabkan penurunan sekresi prostaglandin.

4) Obat-obatan lain dari golongan NSAID (Indometasin, Ibuprofen, naproksen), sulfonamide, steroid dan digitalis 5) Makanan berbumbu termasuk lada, cuka atau mustard, dapat menyebabkan gejala yang mengarah pada gastritis. 6) Apabila alcohol diminum bersama dengan aspirin, efeknya akan lebih merusak dibandingkan dengan efek masing-masing agen tersebut jika diminum secara terpisah. Gastritis erosive hemoragik difus biasanya terjadi pada peminum berat dan pemakai aspirin, dan dapat menyebabkan perlunya dilakukan sekresi lambung. 7) Stress fisik (luka bakar, sepsis, trauma). Penyebab dari gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai berikut: 1. Gastritis Akut Penyebabnya adalah obat analgetik seperti NSAID (indometasin, ibuprofen, laproksen), sulfonamida,steroid dan digitalis. Anti inflamasi terututama aspirin (aspirin yang rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung. Endotoksin bakteri (masuk setelah menelan makanan yang terkontaminasi), kafein, alkohol, merupakan agen penyebab yang sering menimbulkan mukosa lambung. Beberapa makanan berbumbu termasuk lada, cuka, atau mustard dapat menyebabkan gejala terutama gastritis. (Silvia A. Price, 2005). 2. Gastritis Kronik Penyebabnya inflamasi lambung oleh ulkus lambung jinak maupun ganas, atau oleh helicobacter pylori. H.pylori adalah bakteri garam negatif, berbentuk S, tidak invasif, tidak membentuk spora dan berukuran sekitar 3,5x0,5 um. (Buku Ajar Patofisiologi Edisi 7. Kumar dkk, 2004) 21. Bagaimana prognosis dari penyakit ini? Jawaban SGD : Jika telah menginjak tahap kronis, dapat menyebabkan kematian. Akan tetapi, jika masih dalam stadium akut kemungkinan dapat sembuh dalam jangka waktu tertentu. Jawaban Sumber : Biasanya sulit sembuh, walaupun demikian perlu observasi. (Sujono Hadi, 2002)

22. Apa saja yang harus diinformasikan kepada pihak keluarga klien terkait penyakit klien? Jawaban SGD : Jelaskan kepada keluarga kalien tentang keadaan klien seperti apa, tindakan apa yang akan dilakukan, tujuan dari tindakan tersebut. Jika pihak keluarga telah menyetujui, dapat melakukan tindakan tersebut. Jawaban Sumber : Jelaskan penkes kepada klien dan keluarga klien. Sebelum perawat memberikan pendidikan kesehatan, ada baiknya jika pengetahuan pasien tentang gastritis

dievaluasi sehingga rencana penyuluhan dapat bersifat individual. Diet diresepkan dan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan kalori harian pasien, makanan yang disukai, dan pola makan. Pasien diberi daftar tentang makanan dan zat-zat yang harus dihindari (mis: kafein, nikotin, bumbu pedas, alkohol, dll). Antibiotik, garam bismut, obat-obatan untuk menurunkan sekresi lambung dan melindungi sel-sel mukosa dari sekresi lambung diberikan sesuai resep. (Anonim, 2011) 23. Hal-hal apa saja yang dapat memperberat keadaan klien? Jawaban SGD : Pola hidup, alkohol, aspirin, obat-obatan NSAID, dan Helicobacterpylori Jawaban Sumber : Makanan yang dapat memperparah keadaan klien yaitu makanan yang sulit dan susah dicerna pada saat-saat pertama serangan maag. Oleh karena itu, apabila kambuh berikan istirahat pada lambung dan pilihan utama minumlah liguid saja. Seperti air dan susu kemudian tambahkan dengan makanan lunak perlahan-lahan seperti sereal, pisang, nasi, kentang dan roti serta hindari makanan yang pedas dan asam.
(http://cupu.web.id/anda-sering-mual-dan-muntah-bagaimana-mekanismenya/#more-

391. Diakses tanggal 8 Maret 2011) 24. Bagaimana epidemiologi dari kasus ini? Jawaban SGD : Tergantung dari kebiasaan Jawaban Sumber : Gastritis merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kurang lebih 80-90 % yang di rawat di ICU menderita gastritis akut.

Prevalensi infeksi gastritis kronis pada orang dewasa di Puerto Rico melebihi 80%, orang amerika berusia berusia lebih dari 50 tahun memperlihatkan angka prevalensi mendekati 50%. (Sylvia A Price, 2005) (Buku Ajar Patofisiologi edisi 7, Kumar dkk, 2004) 25. Apakah diagnosa banding untuk kasus ini? (LO) Jawaban SGD : LO Jawaban Sumber : 1. Gastroenteritis, biasa disebut dengan Flu Perut (stomach Flu), yang biasanya terjadi akibat infeksi virus pada usus. Gejalanya meliputi diare, kram perut dan mual atau muntah, juga ketidakseimbangan untuk mencerna. Gejala dari gastroenteritis sering hilang dalam satu atau dua hari sedangkan untuk gastritis dapat terjadi terus-menerus. 2. Heartburn, rasa sakit seperti terbakar yang terasa dibelakang tulang dada ini biasanya terjadi setelah makan. Hal ini terjadi karena asam lambung dan masuk ke dalam esophagus (saluran yang menghubungkan antara tenggorokan dan perut). Heartburn dapat juga menyebabkan rasa asam pada mulut dan terasa sensasi makanan yang sebagian seudah dicerna kembali ke mulut. 3. Stomach Ulcers. Jika rasa perih dan panas dalam perut terjadi terus menerus dan parah, maka hal itu kemungkinan disebabkan karena adanya borok dalam lambung. Stomach peptic ulcer atau borok lambung adalah luka terbuka yang terjadi dalam lambung. Gejala yang paling umum adalah rasa sakit yang menjadi semakin parah ketika malam hari atau lambung sedang kosong. Gastritis dan stomach ulcers mempunyai beberapa penyebab yang sama, terutama infeksi H.pilory. penyakit ini dapat mengakibatkan terjadinya gastritis dan begitu juga sebaliknya. 4. Nonulcer dyspepsia. Merupakan kelainan fungsional yang tidak terkait pada penyaki tertentu. Penyebab pasti keadaan ini tidakdiketahui, tetapi stress dan terlalu banyak mengonsumsi gorengan, makanan pedas atau makanan berlemak diduga dapat mengakibatkan keadaan ini. Gejalanya adalah sakit pada perut atas, kembung dan mual.

(Kenneth, 2003) 26. Apakah klien boleh mengonsumsi oralit untuk mengatasi diare? Jawaban SGD : Lebih baik jangan meminum oralit tetapi ganti cairan yang keluar dan cari faktor penyebabnya. Jawaban Sumber : Untuk anak bayi seharusnya tidak dianjurkan (Lecture Digestive System tanggal 23 februari 2011)

STEP 4 MIND MAP

Faktor Resiko Klasifikasi Komplikasi Pemdig Etiologi Definisi Penkes Manklin Askep Penatalaksanaan Patofisiologi Prognosis Legal Etik Peran Perawat Anfis Diagnosa Banding

GASTRITIS
Epidemiologi

STEP 5 LO 1. Berdasarkan stadium, maka gejala yang dialami klien termasuk kedalam stadium berapa? 2. Apakah nyeri yang dirasakan klien dapat menyebar? 3. Persiapan apa saja yang harus disiapkan untuk klien sebelum dilakukan endoskopi? 4. Pemeriksaan diagnostik lain yang dapat dilakukan? 5. Apakah diagnosa banding untuk kasus ini? 6. Anatomi fisiologi? 7. Pengertian dari diagnosa medis pada kasus ini? 8. Tanda gejala lain dari penyakit ini? 9. Epidemiologi dari penyakit ini? 10. Prognosis? 11. Peran perawat? 12. Penkes? 13. Aspek legal etik yang terkait? 14. Patofisiologi? 15. Asuhan keperawatan?

STEP 6 (SELF STUDY)

STEP 7 REPORTING 1. ANATOMI DAN FISIOLOGI LAMBUNG 1.1. ANATOMI LAMBUNG (GASTER)

Lambung berbentuk seperti huruf J dan merupakan pembesaran dari saluran pencernaan. Lambung terletak tepat dibawah diafragma pada daerah epigastrik, umbilikal, dan hipokardiak kiri di perut. Bagian superior lambung merupakan kelanjutan dari esofagus. Bagian inferior berdekatan dengan duodenum yang merupakan bagian awal dari usus halus. Pada setiap individu, posisi dan ukuran lambung bervariasi. Sebagai contoh, diafragma mendorong lambung ke bawah pada setiap inspirasi dan menariknya kembali pada setiap ekspirasi. Jika lambung berada dalam keadaan kosong bentuknya menyerupai sosis yang besar, tetapi lambung dapat meregang untuk menampung makanan dalam jumlah yang sangat besar. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter. Lambung dibagi oleh ahli anatomi menjadi empat bagian, yaitu bagian fundus, kardiak, body atau badan, dan pilorus. Bagian kardiak mengelilingi lower esophageal sphincter. Sfingter kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan yang masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Disaat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk kedalam duodenum, dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isis usus halus kedalam lambung. Bagian bulat yang terletak diatas dan disebelah

kiri bagian kardiak adalah fundus. Di bawah fundus adalah bagian pusat yang terbesar dari lambung, yang disebut dengan badan lambung. Bagian yang menyempit, pada daerah inferior adalah pilorus. Tepi bagian tengah yang berbentuk cekung dari lambung disebut dengan lesser curvature atau lekukan kecil. Tepi bagian lateral ( samping ) yang berbentuk cembung disebut dengan greater curvature atau lekukan besar. Pilorus berkomunikasi dengan bagian duodenum dari usus halus melalui sphincter yang disebut dengan pyloric sphincter. 1.2. HISTOLOGI LAMBUNG [

Dinding lambung terdiri atas 4 lapisan, yaitu : 1. Mukosa Mukosa merupakan lapisan tebal dengan permukaan halus dan licin yang kebanyakan berwarna coklat kemerahan namun berwarna pink di daerah pylorik. Pada lambung yang berkontraksi, mukosa terlipat menjadi beberapa lipatan rugae, kebanyakan berorientasi longitudinal. Rugae ini kebanyakan ditemukan mulai dari pinggir daerah pyloric hingga kurvatur mayor. Rugae ini merupakan lipatan-lipatan besar pada jaringan konektif submukosa dan bukan variasi ketabalan mukosa yang menutupinya, dan rugae ini akan menghilang jika lambung mengalami distensi. Seperti pada semua saluran cerna lainnya, mukosa ini tersusun oleh epitel permukaan, lamina propria, dan mukosa muskuler. Pemeriksaan mikroskopis dari mukosa menampakkan lapisan epitel kolumna yang sederhana (sel permukaan mukosa) mengandung banyak lubang sempit yang memanjang sampai lamina propria yang disebut gastric pits. Pada bagian bawah lubang adalah mulut atau lubang dari kelenjar lambung (gastric glands). Lamina propria

Lamina propria membentuk kerangka jaringan konektif antara kelenjar dan mengandung jaringan lymphoid yang terkumpul dalam massa kecil folikel lymphatic gastrik yang membentuk folikel intestinal soliter (terutama pada masa awal kehidupan). Lamina propria juga memiliki suatu pleksus vaskuler periglanduler yang kompleks, yang diperkirakan berperan penting dalam menjaga lingkungan mukosa, termasuk membuang bikarbonat yang diproduksi pada jaringan sebagai pengimbang sekresi asam. Pleksus neural juga ditemukan dan mengandung ujung saraf motorik dan sensorik. Mucosa Muskularis Mukosa muskularis merupakan lapisan tipis dari serat otot halus yang terdapat pada bagian eksternal dari kelenjar. Serat muskular ini teratur dalam bentuk sirkuler di dalam, lapisan longitudinal di bagian luar, terdapat pula lapisan sirkuler diskontinu bagian luar. Lapisan dalam mengandung jelujur sel otot polos terletak di antara kelenjar dan kontraksinya kemungkinan membantu dalam mengosongkan foveola gastrik.

Setiap kelenjar terdiri dari empat tipe sel sekretori, yaitu : Zymogenic Zymogenic (peptic) atau sel kepala (chief cells) merupakan sumber enzim pencernaan yaitu enzim pepsin dan lipase. Sel chief ini biasanya terletak pada bagian basal, bentuknya berupa silindris (kolumner) dan nukleusnya berbentuk bundar dan euchromatik. Sel ini mengandung granul zimogen sekretoris dan karena banyaknya sitoplasmik RNA maka sel ini sangat basophilic. Sel parietal (Oxyntic) merupakan sumber asam lambung dan faktor intrinsik, yaitu glycoprotein yang penting untuk absorbsi vitamin B12. Sel ini berukuran besar, oval, dan sangat eosinophilic dengan nukleus terletak pada pertengahan sel. Sel ini terletak terutama pada apical kelenjar hingga bagian isthmus. Sel ini didapati hanya pada interval sel-sel lainnya disepanjang dinding foveola dan menggembung di lateral dalam jaringan konektif. Parietal Sel parietal memiliki ultraktruktur yang unik terkait dengan kemampuan mereka untuk mengsekresikan asam hydrochloric. Bagian luminal dari sel ini, berinvaginasi membentuk beberapa kanal buntu yang menyokong sangat banyak microvili ireguler. Di dalam sitopaslma yang berhadapan dengan kanal ini adalah membran tubulus yang sangat banyak (sistem tubulovesicular). Terdapat sangat banyak mitokondria yang tersebar di seluruh organella ini. Membran plasma yang menyelimuti mikrovili memiliki kosentrasi H+/K+ ATPase yang sangat tinggi yang secara aktif mengsekresikan ion hidrogen kedalam lumen, ion chloride pun keluar mengikuti gradien eletrokimia ini. Struktur yang akurat dari sel ini beragam tergantung dari fase sekretoriknya : ketika terstimulasi, jumlah dan area permukaan dari mikrovili membesar hingga lima kali lipat, diduga akibat fusi segera dari sistem tubulovesikuler dengan membran plasma. Pada akhir sekresi terstimulasi, proses ini terbalik, membran yang berlebihan kembali pada sistem tubuloalveolar dan mikrovili menghilang. Mukus Sel leher mukosa sangat banyak pada leher kelenjar dan tersebar sepanjang dinding regio bagian basal. Sel ini mengsekresikan mukus, dengan vesikel sekretorik apikalnya mengandung musin dan nukelusnya terletak pada bagian basal. Namun, produksinya secara histokimia berbeda dengan produksi dari sel mukosa permukaan Neuroendocrine Sel neuroendokrin ditemukan disemua jenis kelenjar gastrik namun lebih banyak ditemukan pada corpus dan fundus. Sel ini terletak pada bagian terdalam dari kelenjar, diantara kumpulan sel chief . Sel ini berbentuk pleomorfik dengan nukleus ireguler yang

diliputi oleh granular sitoplasma yang mengandung kluster granul sekretorik yang besar (o,3 microm). Sel ini mensintesis beberapa amino biogenic dan polipeptide yang penting dalam mengendalikan motilitas dan sekresi glanduler. Pada lambung sel ini termasuk sel G(yang mensekresi gastrin), sel D (somatostatin), dan sel enterochromaffin-like/ECL (histamine). Sel-sel ini membentuk sistem sel neuroendokrin yang berbeda-beda.

Didalam mukosa terdapat kalenjar yang berbeda yang dibagi menjadi tiga zona, yaitu : kelenjar kardia, berfungsi menghasikan lisozom kelenjar lambung, berfungsi mensekresikan asam, enzim-enzim, mukus, dan hormon-hormon. kelenjar pilorus, berfungsi menghasilkan hormon dan mukus. 2. Submukosa Submukosa merupakan lapisan bervariabel dari jaringan konektif yang terdiri dari bundel kolagen tebal, beberapa serat elastin, pembuluh darah, dan pleksus saraf, termasuk pleksus submukosa berganglion (Meissner's) pada lambung. 3. Muscularis eksterna Muscularis eksterna merupakan selaput otot tebal berada tepat dibawah serosa, dimana keduanya terhubung melalui jaringan konektif subserosa longgar. Dari lapisan terdalam keluar, jaringan ini memiliki lapisan serat otot oblique, sirkuler, dan longitudinal, walaupun celah antara tiap lapisan tidak berbeda satu sama lain. Lapisan sirkuler kurang begiru berkembang pada bagian oesofagus namun semakin menebal pada distal antrum pyloric untuk kemudian membentuk sphincter pyloric annular. Lapisan longitudinal luar kebanyakan terdapat pada 2/3 bagian kranial lambung dan lapisan oblique dalam pada setengah bagian bawah lambung. Kerja dari muskularis eksterna ini adalah menghasilkan pergerakan adukan yang mencampur makanan dengan produk sekresi lambung. Ketika otot berkontraksi, volume lambung akan berkurang dan menggerakkan mukosa menjadi lipatan longitudinal atau rugae (lihat atas). Rugae ini akan datar kembali dan menghilang ketika lambung penuh akan makanan dan muskulatur berelaksasi dan menipis. Aktivitas otot diatur oleh jaringan saraf autonom yang tidak bermyelin, yang terdapat pada lapisan otot dalam plexus myenterik (Auerbach's) 4. Serosa atau Peritoneum Serosa merupakan perpanjangan dari peritoneum visceral yang menutupi keseluruhan permukaan pada lambung kecuali sepanjang kurvatura mayor dan minor pada pertautan

omentum mayor dan minor, dimana lapisan peritoneum meninggal suatu ruang untuk saraf dan vaskler. Serosa juga tidak ditemukan pada bagian kecil di posteroinferior dekat dengan orificium kardiak dimana lambung berkontak dengan diafragma pada refleksi gastrophrenik dan lipatan gastropancreatik. Serosa mengandung banyak lemak apabila umur bertambah. Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mempercabangkan ramus gastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Persarafan simpatis adalah melalui saraf splenikus major dan ganlia seliakum. Serabutserabut aferen menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan, dan dirasakan di daerah epigastrium. Serabut-serabut aferen simpatis menghambat gerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentrikus (auerbach) dan submukosa (meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengkordinasi aktivitas motoring dan sekresi mukosa lambung. Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati, empedu, dan limpa) terutama berasal dari daerah arteri seliaka atau trunkus seliaka, yang mempecabangkan cabang-cabang yang mensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis adalah arteri gastroduodenalis dan arteri pankreas tikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding postrior duodenum dapat mengerosi arteria ini dan menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum, serta berasal dari pankreas, limpa, dan bagian lain saluran cerna, berjalan kehati melalui vena porta.

1.3. FISIOLOGI LAMBUNG Mencerna makanan secara mekanikal. Sekresi, yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 3000 mL gastric juice (cairan lambung) per hari. Komponene utamanya yaitu mukus, HCL (hydrochloric acid), pensinogen, dan air. Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam aliran darah. Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi polipeptida Absorpsi, secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air, alkohol, glukosa, dan beberapa obat. Pencegahan, banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalam lambung oleh HCL.

Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam duodenum. Pada saat chyme siap masuk kedalam duodenum, akan terjadi peristaltik yang lambat yang berjalan dari fundus ke pylorus. Getah asam lambung yang dihasilkan: Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) HCl, fungsinya mengasamkan makanan, sebagai antiseptik dan desinfektan, dan membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk kasein dari kaseinogen (kaseinogen dan protein susu) Lipase lambung, jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam lemak yang merangsang sekresi getah lambung

2.

DEFINISI

Jawaban SGD : Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung, dapat bersifak kronis, akut, difus dan lokal. Jawaban Sumber : Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999) Gastritis adalah peradangan mukosa lambung (Kumar, dkk, 2004) Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal (Soeparman, 1998) Gastritis adalah keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, difus atay lokal (Sylvia A. Price, 1995)

3.

KLASIFIKASI

Jawaban SGD : A. Gastritis Akut

Gastritis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan, biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri. B. Gastritis Kronis Gastritis Kronis merupakan gastritis yang terkait dengan atrofi mukosa gastrik sehingga HCL dan menimbulkan kondisi achlorhidria dan ulserasi peptik. Dibagi menjadi dua, yaitu: a. Tipe A Merupakan gastritis autoimun, menimbulkan peradangan b. Tipe B Merupkan gastritis yang terjadi infeksi oleh Helycobacter Pylori, sering menyebabkan perdarahan dan erosi Jawaban Sumber : Berdasarkan penyebabnya gastritis dapat dibagi menjadi 8, yaitu : 1. Gastritis bakterialis biasanya merupakan akibat dari infeksi oleh Helicobacter pylori (bakteri yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan lambung). Tidak ada bakteri lainnya yang dalam keadaan normal tumbuh di dalam lambung yang bersifat asam, tetapi jika lambung tidak menghasilkan asam, berbagai bakteri bisa tumbuh di lambung. Bakteri ini bisa menyebabkan gastritis menetap atau gastritis sementara. 2. Gastritis karena stres akut, merupakan jenis gastritis yang paling berat, yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera) yang terjadi secara tiba-tiba. Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung, seperti yang terjadi pada luka bakar yang luas atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat. 3. Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari:

a. bahan iritan seperti obat-obatan, terutama aspirin dan obat anti peradangan nonsteroid b. c. infeksi penyakit virus dan lainnya Crohn bakteri.

Gastritis ini terjadi secara perlahan pada orang-orang yang sehat, bisa disertai dengan

perdarahan

atau

pembentukan

ulkus

(borok,

luka

terbuka).

Paling sering terjadi pada alkoholik. 4. Gastritis karena virus atau jamur bisa terjadi pada penderita penyakit menahun atau penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan. 5. Gastritis eosinofilik bisa terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil (sel darah putih) terkumpul di dinding lambung. 6. Gastritis atrofik terjadi jika antibodi menyerang lapisan lambung, sehingga lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya yang menghasilkan Keadaan ini biasanya asam terjadi pada usia danenzim. lanjut.

Gastritis ini juga cenderung terjadi pada orang-orang yang sebagian lambungnya telah diangkat (menjalani pembedahan gastrektomi parsial).

Gastritis atrofik bisa menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vitamin B12 dari makanan. 7. Penyakit Menetrier merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak diketahui. Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar dan memiliki kista yang terisi cairan.

Sekitar 10% penderita penyakit ini menderita kanker lambung. 8. Gastritis sel plasma merupakan gastritis yang penyebabnya tidak diketahui. Sel plasma (salah satu jenis sel darah putih) terkumpul di dalam dinding lambung dan organ lainnya. Menurut buku Patofisiologi (Sylvia A. Price, 2005) gastritis terbagi menjadi dua, yaitu : 1. Gastritis Superfisialis Akut Merupakan jenis gastritis yang paling sering ditemukan, biasanya bersifat jinak dan swasirna, merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal.Endetoksin bakteri (setelah makanan terkontaminasi) kafein, alkohol, dan aspirin merupakan agen pencetus yang lazim.H.pylori lebih sering dianggap sebagai penyebab gastritis akut. Organisme tersebut melekat pada epitel lambung dan menghancurkan lapisan mukosa pelindung , meninggalkan daerah epitel yang gundul. Adapun pada peminum berat dan pengguna aspirin akan mengakibatkan perlunya reseksi lambung, keadaan ini disebut Gastritis erosif hemoragik difus. 2. Gastristis Atrofik Kronis Gastritis Atrofik Kronis dibagi menjadi:

a.

Gastritis Kronis Tipe A Disebut juga gastritis atrofik atau fundal (karena mengenai fundus lambung). Gastritis kronis tipe A merupakan suatu penyakit autoimun yang disebabkan oleh adanya autoantibody terhadap sel parietal kelenjar lambung dan faktor intrinsik dan berkaitan dengan tidak adanya sel parietal dan chief cell yang menurunkan sekresi asam dan menyebabkan tingginya kadar gastrin.

b.

Gastritis Kronis Tipe B Disebut juga gastritis antral karena mumnya mengenai daerah antrum lambung dan lebih sering terjadi dibandingkan dengan gastritis kronis tipe A.

(Sylvia A. Price, 2005)

4.

ETIOLOGI

Jawaban SGD : Berdasarkan klasifikasinya etiologi dari gastritis dapat dikelompokkkan menjadi 2 yaitu : 1. Gastritis akut disebabkan oleh obat golongan NSAID seperti aspirin, zat kimia, ibuprofen,kokain, alkohol, obat kemoterapi. 2. Gastritis Kronis dibedakan menjadi 2 tipe yaitu : Tipe A disebabkan oleh autoimun Tipe B disebabkan oleh Helicobacter pylori

Jawaban Sumber : Endotoksin bakteri masuk setelah menelan makanan yang terkontaminasi

(staphylococcus, salmonella). Mengkonsumsi kafein, alcohol, merokok Penggunaan aspirin, dimana aspirin dapat menyebabkan penurunan sekresi prostaglandin. Obat-obatan lain dari golongan NSAID (Indometasin, Ibuprofen, naproksen), sulfonamide, steroid dan digitalis Makanan berbumbu termasuk lada, cuka atau mustard, dapat menyebabkan gejala yang mengarah pada gastritis. Apabila alcohol diminum bersama dengan aspirin, efeknya akan lebih merusak dibandingkan dengan efek masing-masing agen tersebut jika diminum secara terpisah.

Gastritis erosive hemoragik difus biasanya terjadi pada peminum berat dan pemakai aspirin, dan dapat menyebabkan perlunya dilakukan sekresi lambung. Stress fisik (luka bakar, sepsis, trauma).

Penyebab dari gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai berikut: 1. Gastritis Akut

Penyebabnya adalah obat analgetik seperti NSAID (indometasin, ibuprofen, laproksen), sulfonamida,steroid dan digitalis. Anti inflamasi terututama aspirin (aspirin yang rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung. Endotoksin bakteri ( masuk setelah menelan makanan yang terkontaminasi), kafein, alkohol, merupakan agen penyebab yang sering menimbulkan mukosa lambung. Beberapa makanan berbumbu termasuk lada, cuka, atau mustard dapat menyebabkan gejala terutama gastritis. (Silvia A Price, 2005). 2. Gastritis Kronik

Penyebabnya inflamasi lambung oleh ulkus lambung jinak maupun ganas, atau oleh helicobacter pylori. H.pylori adalah bakteri garam negatif, berbentuk S, tidak invasif, tidak membentuk spora dan berukuran sekitar 3,5x0,5 um. (Buku Ajar Patofisiologi Edisi 7. Kumar dkk, 2004)

5.

MANIFESTASI KLINIS

Tanda gejala berdasarkan etiologi dari gastritis adalah : Jawaban SGD : 1. Akut : gejala yang muncul seperti mual muntah, sendawa, melena ( BAB berdarah), hematemesis ( Muntah berdarah), nyeri epigastrium, terjadi perdarahan, kehilangan kesadaran, keringat dingin, pucat, pusing, anemia karena ada perdarahan, tidak nafsu makan. 2. Kronik : nyeri yang dirasakan lebih nyeri dibandingkan dengan gastritis akut, mual muntah, anemia yang ditimbulkan disebabkan karena autoimun yaitu anemia pernisiosa Tipe A (Fundus) : terjadi di fundus, vit B12 diusus menurun, terjadi pada lansia, dan ditemukan anemia. Tipe B : Tidak ditemukannya anemia

Jawaban Sumber : 1. Gastritis Akut Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematemesis melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu. 2. Gastritis Kronis Kebanyakan pasien tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri uluhati, anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan. (Sylvia A Price, 2005)

6.

FAKTOR RESIKO

Jawaban SGD : Pasien dengan pengobatan kemoterapi, radiasi, gaya hidup (pekerja sibuk) yang dapat menyebabkan stres pekerjaan, pecandu alkohol dan kafein Perokok Laki-laki dan perempuan perbandingannya sama yaitu 1:1 Sosioekonomi rendah yang menyebabkan sanitasi buruk sehingga mudah terkena Helycobacter Pylori yang terkontaminasi melalui makanan Diet berlebihan pada orang gemuk Faktor usia yaitu dewasa muda dan tua >25 tahun, anak-anak dan lingkungan yang kurang bersih Penderita HIV karena bermasalah pada sistem kekebalan tubuhnya sehingga menyebabkan masalah pada lambungnya Jawaban Sumber : Alkoholisme Kronik. Alkoholisme kronik tidak bisa menyebabkan timbulnya gastritis. TRUELOVE sering menemukan penderita yang mengalami kerusakan pada permukaan mukosa lambung

yang disebabkan oleh alkoholisme, tetapi kerusakan tersebut akan cepat sembuh tanpa meninggalkan bekas. Perokok berat : berhubungan dengan kadar caffeine yang dapat meningkatkan asam lambung. Stres berat. Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan pencernaan. Gastritis dapat ditemukan baik pada penyakit saluran empedu maupun pada pankreatitis. Virus hepatitis Gastritis jarang diketemukan pada virus hepatitis. (Sujono Hadi, 2002)

7.

EPIDEMIOLOGI

Jawaban SGD : Pada gastritis kronik dibagian amerika 50% pada penduduk disebabkan oleh autoimun,gaya hidup, tinggal ditempat yang tropis. Jawaban Sumber : Gastritis merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kurang lebih 80-90 % yang di rawat di ICU menderita gastritis akut. Prevalensi infeksi gastritis kronis pada orang dewasa di Puerto Rico melebihi 80%, orang amerika berusia berusia lebih dari 50 tahun memperlihatkan angka prevalensi mendekati 50%. (Sylvia A Price, 2005) (Buku Ajar Patofisiologi edisi 7, Kumar dkk, 2004)

8.

PENATALAKSANAAN

Jawaban SGD : Farmakologi Cimetidine yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung dan menghambat H2 Dosis : 3x1 tablet atau 2x1 sebelum tidur Efek samping : mual dan muntah Ranitidin, sebagian penderita gastritis cenderung mengonsumsi obat jenis ini berfungsi untuk menghilangkan nyeri Dosis : 150 mg 2x1 tablet Antasida berfungsi untuk menetralkan asam lambung Dosis : 1x2 tablet sebelum makan Pompa proton berfungsi untuk menghambat keluaran dari asam lambung Antibiotik berfungsi untuk melawan helicobakter pylori Surafat berfungsi untuk melapisi iritasi sehingga mempercepat penyembuhan pada lambung yang teriritasi Antimual berfungsi untuk menghilangkan mual muntah Nonfarmakologi Diet Obat herbal seperti mentimun dapat menurunkan asam lambung Basa kuat Air jeruk encer untuk menurunkan asam lambung Latihan nafas dalam untuk mengurangi nyeri Minum madu, susu skim sebelum makan Pisang direbus

Jawaban Sumber : Farmakologi Antasid (penetral asam) Komposisi : Tiap tablet kunyah atau tiap 5 ml suspense mengandung:

Gel aluminium hidroksida kering 258,7 mg (setara dengan aluminium hidroksida ) 200 mg.

Magnesium hidroksida 200 mg

Cara Kerja : Kombinasi aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida merupakan antasid yang bekerja menetralkan asam lambung dan menginaktifkan pepsin sehingga rasa nyeri ulu hari akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin berkurang. Di samping itu efek laksatif dari magnesium hidroksida akan mengurangi efek konstipasi dari aluminium hidroksida.

Indikasi : Untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak pada duodenum dengan gejala seperti mual muntah, nyeri lambung, nyeri ulu hati, kembung dan perasaan kembung pada lambung. Kontraindikasi : Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu komponen obat

Dosis : Tablet: Anak-anak 6-12 tahun:sehari 3-4 kali tablet Dewasa:sehari 3-4 kali 1-2 tablet. Diminum 1-2 jam setelah makan dan menjelang tidur. Syirup: Anak-anak 6-12 tahun:sehari 3-4 kali sendok teh sampai 1 sendok teh Dewasa:sehari 3-4 kali 1-2 sendok teh, diminum 1-2 jam setelah makan dan menjelang tidur.

Efek samping : Efek samping yang ditemukan secara umum adalah diare, mual, mutah dan gejala-gejala tersebut akan hilang jika pemakaian obat dihentikan.

Ranitidine (H2 antagonis/blocking untuk menghambat pengeluaran asam lambung).

Indikasi : Tukak lambung dan usus 12 jari Hipersekresi patologik sehubungan dengan sindrom Zollinger-Ellison"

Kontra Indikasi : Penderita gangguan fungsi ginjal Wanita hamil dan menyusui

Farmakologi:

Ranitidine menghambat kerja histamin pada reseptor-H2 secara kompotitif, serta menghambat sekresi asam lambung.

Dosis: Dosis yang biasa digunakan adalah 150mg, 2 kali sehari Dosis penunjang dapat diberikan 150mg pada malam hari Untuk sindrom Zollinger-Ellison : 150mg, 3 kali sehari, dosis dapat bertambah menjadi 900mg.

Dosis pada gangguan fungsi ginjal: Bila bersihan kreatinin (50ml/menit): 150mg tiap 24 jam, bila perlu tiap 12 jam. Karena Ranitidine ikut terdialisis, maka waktu pemberian harus disesuaikan sehingga bertepatan dengan akhir hemodialisis.

Efek Samping: Efek samping ranitidine adalah berupa diare, nyeri otot, pusing, dan timbul ruam kulit, malaise, nausea.

Konstipasi: Penurunan jumlah sel darah putih dan platelet ( pada beberapa penderita ) Sedikit peningkatan kadar serum kreatinin ( pada beberapa penderita) Beberapa kasus ( jarang ) reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, demam, ruam, urtikaria, eosinofilia.

Peringatan dan Perhatian : Dosis harus dikurangi untuk penderita dengan gangguan fungsi ginjal Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi hati Keamanan dan keefektifan pada anak-anak belum diketahui dengan pasti Pengobatan penunjang akan mencegah kambuhnya ulkus tetapi tidak mengubah jalannya penyakit sekalipun pengobatan dihentikan Keamanan pada gangguan jangka panjang belum sepenuhnya mapan, maka harus dihentikan untuk secara berkala mengamati penderita yang mendapat pengobatan jangka panjang

Interaksi Obat : Hasil penelitian terhadap 8 penderita yang diberikan ranitidin menunjukkan perbedaan dengan simetidine, ranitidine tidak menghambat fungsi oksidasi obat pada mikrosom hepar terhadap 5 penderita normal yang diberikan dosis warfarin harian secara subterapeutik, dengan penambahan dosis ranitidine menjadi 200mg, 2 kali sehari selama 14 hari tidak menunjukkan adanya perubahan pada waktu protrombin atau pada konsentrasi warfarin plasma.

Lansoprozole (penghambat pompa proton asam lambung untuk menurunkan sekresi asam lambung)

Komposisi : Setiap kapsul menandung 30 mg lansoprazole

Indikasi : Ulkus deodenum Benigna ulkus gaster Refluks esofagus

Kontra Indikasi : Penderita yang hipersensitif terhadap lansoprazole

Cara Kerja : Lansoprazole adalah penghambat sekresi asam lambung yang efektif dan secara spesifik menghambat (H+/K+) ATP ase (pompa proton) dari sel parietal dimukosa lambung.

Dosis : Ulkus duodenum : Betalans 30 mg sekali sehari selama 4 minggu

Benigna ulkus gaster : Betalans 30 mg sekali sehari selama 8 minggu Refluk esofagus : Betalans 30 mg sekali sehari selama 4 minggu

Cara Pemberiaan : Diberikan 1xsehari, kapsul langsung ditelan (tidak boleh dikunyah) untuk mencapai efek penghambatan asam yang optimal dan kesembuhan yang tepat serta menghilangkan gejala-gejala. Lansoprazole sebaiknya diberikan pada pagi hari sebelum makan Pada penderita gangguan fungsi ginjal tidak diperlukan penyesuaian dosis 9 maksimum 30 mg/hari Tidak dianjurkan penggunaan dalam jangka panjang karena pengalam klinis terbatas

Perhatiaan : Lansoprazole pada dasarnya dimetabolisme dihati. Pada penelitian klinis pasien-pasien penyakit hati memperlihatkan bahwa metabolisme lansoprazole

lebih panjang, tetapi tidak perlu penyesuaian dosis. Dosis sehari tidak boleh melebihi 30 mg.

Efek Samping : Selama penelitian klinis kadang-kadang dapat terjadi efek samping berupa sakit kepala, diare, nyeri abdomen, dispepsia, mual muntah, mulut kering, sembelit, pusing-pusing, ruam kulit, urtikaria dan pruritus. Kadang-kadang terjadi atragia, udema perifer dan depresi. Disamping itu dapat pula terjadi kenaikan nilai tes fungsi hati yang bersifat sementara dan akan normal kembali. Walaupun jarang tetapi pernah dilaporkan terjadinya perubahan angaka hematologi seperti : trombositopenia, eosinofilia dan leukopenio.

Interaksi Obat : Lansoprazole dimetabolisme dihati dan merupakan penginduksi yang lemah dari cytochrome P450. Oleh karena itu ada kemungkinan interaksi dengan obat-obat yang dimetabolisme dihati. Terutama harus hati-hati bila diberikan bersama-sama denagn obat kontrasepsi oral dan preparat phenytoin, theopylline atau warfarin. Tidak menimbulakan efek klinis yang bermakna dengan obat-obat anti inflamasi non steroid atau diazepam. Antasida dan sukrolfat akan mengurangi biovailabilitas lansoprazole dan jangan diberikan 1 jam setelah lansoprazole.

Sucralfate ( Analog prostaglandin EI) Sucralfate merupakan oabat yang digunakan secara oaral yang berbentuk tablet ataupun cairan. Obat ini pada umumnya digunakan untuk pengobatan ulkus (luka) pada lambung. Secara kimiawi, sucralfate tersususn atas disakarida, sukrosa, kombinasi dengan sulfat alumunium. Senyawa-senyawa yang nantinya nanti akan diabsorpsi oleh tubuh. Sucralfate digunakan untuk perawatan dan pencegahan radang lambung. Obat generik yang diberi nama sucralfate ini juga mempunyai nama dagang yaitu carafate.

Indikasi : Secara garis besar, mekanisme dari sucralfate itu sendiri yaitu seperti di bawah ini : Sucralfate melekat pada suatu protein (pada saat itu terjadi ikatan dengan permukaan luka) sehingg lukanya akan tertutupi, oabt ini juga sebagai pelindungan pada permukaan luka yang telah meluas akibat pengaruh asam dan pepsin Sucralfate akan secara langsung menghambat pepsin (enzim yang akan memecah protein) dari asam lambung Sucralfate mengikat garam empedu yang berasal dari hati sehingga lapisan perut yang terluka akibat asam lambung akan tertutupi Prostaglandin yang berfungsi untuk melindungi lapisan perut akan diproduksi lebih banyak lagi dengan adanya sucralfate.

Efek Samping : Pusing Gangguan saluran cerna Sembelit Beberapa reaksi alergi (ruam pada kulit) Gatal yang disertai dengan bintik merah Kesulitan bernafas Bengkak dibagian muka, mulut, bibir dan lidah

Instruksi : Cara penggunaan Sebaiknya Sucralfate diminum dalam keadaan perut kosong, minimal 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan Jangan minum antacid paling tidak 30 menit sebelum minum sucralfate, karena antasi dan sucralfate sama-sama obat yang mempunyai efek samping dilambung. Antasid dapat mengikat asam lambung yang berlebihan dan menetralisir asam lambung secara

kimiawi, sedangkan sucralfate merupakan obat untuk radang pada lambung. Untuk mendapatkan kesembuhan secara komplit pada

lukanya,sebaiknya dikonsumsi selama 4-8 minggu. Lanjutkan minum suralfate sebagai suatu rangkaian dari perawatan luka pasien sudah berasa lebih baik. Jangan meminum obat lain pada waktu yang bersamaan dengan sucralfate, jika ada obat lain yang harus diminum, minumlah oabat tersebut minimal 2 jam sebelum sucralfate. Jika pasien lupa akan dosis sucralfate yang telah diminumnya, maka minumlah secepat mungkin. Tetapi jika waktu meminumnya mendekati waktu pemakaian selanjutnya, kembalilah kejadwal awal dosis pasien tersebut. Jangan minum 2 dosis dalam satu waktu.

Dosis : Bentuk sediaan oabat untuk sucralfate ada dua jenis yaitu : Tablet yang berwarna pink Cairan Keduanya dikonsumsi secara oral Dosisnya diminum 4x sehari dalam keadaan lambung kosong yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan dan sebelum tidur diminum selama 4-8 minggu Berikan sucralfate 2 kali sehari untuk pencegahan luka pada dinding lambung Pemberiaan antasid untuk mengurangi nyeri dapat diberikan dengan interval 1 jam setelah sucralfate Untuk pencegahan stres ulcer diberiakan 1 gr 6 kali sebagai suspensi oral.

Interaksi Obat : Sucralfate akan mengurangi penyerapan banyak obat ketika diminum bersama obat lainnnya.

Nonfarmakologi Hilangkan agen penyebabnya, diantaranya hindari minuman

beralkohol,makanan asam, pedas maupun berbumbu Berikan cairan intravena jika klien tidak mampu makan lewat oral Diet tinggi lemak dan rendah protein Turunkan kadar makanan berserat kecuali klien telah pulih Konsumsi timun dicampur madu untuk menurunkan kadar asam lambung

(Hirlan, 2001)

9.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Jawaban SGD : 1. Pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui anemia, leukosit, Hb dan B12 2. Pemeriksaan serum vit B12, nilai normalnya 200-1000 Pg/ml, nilai serum vit B12 yang rendah berarti menunjukkan anemia megalostatik 3. Analisa gaster dengan menggunakan tabung nasogastrik untuk mengukur asam lambung ,dalam keadaan normal terdapat pepsin dan mukus. 4. Pemeriksaan Faces untuk melihat helicobakter pylori. 5. Biopsi untuk mengetahui adanya ulkis peptikum, tidak untuk gastritis kronis. 6. Endoskopi dengan cara pasien dimasukkan alat melalui mulut, dan saat ini telah ditemukan penemuan baru dengan cara pasien menelan kapsul yang mana di dalam kapsul telah diisi serat optik (kaca) dan kapsul tersebut akan dikeluarkan melalui faces. 7. Histopatologi dengan cara melakukan biopsi (mengambil jaringan lambung) 8. Rontgen dengan cara pasien meminum barium Persiapan klien sebelum dilakukannya endoskopi adalah : Klien dipuasakan 6 jam sebelum dilakukan endoskopi agar lambungnya kosong Beritahu keluarga mengenai : mengapa klien harus dilakukan endoskopi, Apa tujuan dari endoskopi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dilakukannya endoskopi, Periksa kondisi klien

Beri waktu klien untuk mengambil keputusan apakah klien ingin dilakukannya endoskopi atau tidak

Jawaban Sumber : EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan/derajat ulkus jaringan/cedera. Gastrointestinal Endoskopi Gastrointestinal endoskopi adalah prosedur yang memungkinkan spesialis pencernaan untuk melihat lapisan dalam saluran pencernaan. The endoskopi gastrointestinal menawarkan akses ke saluran pencernaan yang meliputi seluruh usus kecil, saluran empedu, usus, duodenum, perut, dan kerongkongan. Berdasarkan organorgan yang spesialis pencernaan ingin lihat, prosedur GI dapat disebut sebagai endoskopi perut atas atau bawah endoskopi. Endoskopi saluran pencernaan atas (juga dikenal sebagai EGD) membantu dalam melihat kerongkongan, lambung dan duodenum sedangkan endoskopi saluran pencernaan bawah membantu dalam memvisualisasikan usus besar. Biasanya endoskopi pasien masuk melalui anus, tenggorokan, dan uretra atau melalui insisi kecil dibuat di kulit. Prosedur endoskopi ini dapat dilakukan baik di dasar rawat jalan atau dasar rawat inap. Endoskopi saluran pencernaan membantu dalam mendiagnosis beberapa gangguan GI. Prosedur endoskopi gastrointestinal tidak hanya digunakan untuk diagnosis penyakit saluran pencernaan tetapi juga digunakan untuk masalah perawatan GI. Prosedur endoskopik kurang menyakitkan dan umumnya dikaitkan hanya dengan sedikit ketidaknyamanan. Hanya sedikit masalah endoskopi GI yang bisa membantu untuk mendiagnosis atau menyelidiki adalah : Infeksi saluran kemih Perdarahan Internal gastrointestinal Ulkus gastrointestinal Sindrom iritasi usus (IBS) Masalah Usus Besar Diare kronis

Jenis prosedur endoskopi Ada berbagai jenis prosedur endoskopik yang terlibat dalam pemeriksaan organ yang berbeda atau sistem. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut : Persiapan Pasien menjalani prosedur pencernaan ini tidak boleh makan atau minum apa pun dalam delapan sampai sepuluh jam dari prosedur ini. Dalam hal ini jika ada makanan di perut, makanan akan menghalangi pandangan melalui endoskopi, dan bisa menyebabkan muntah. Prosedur Prosedur endoskopi biasanya berlangsung antara 5 sampai 10 menit. Selama prosedur ini, pasien diminta untuk berbaring di sisi kiri. Selama prosedur endoskopi, pasien berada di bawah anestesi pendek. Prosedur endoskopi dilakukan dengan bantuan endoskop. endoskop adalah tabung fleksibel dengan sistem pengiriman cahaya yang menerangi saluran tersebut. Lebih lanjut memiliki sistem lensa yang menyampaikan gambar dari fiberscope dan menampilkan gambar di TV warna. endoskop ini diturunkan kerongkongan, ke perut dan ke dalam usus. endoskopi yang gagal dapat Kolposkopi Bronkoskopi Kapsul Endoskopi Laparoskopi Double Balloon Enteroskopi Fetoskopi Kolonoskopi Fleksibel Sigmoidoskopi Endoskopik mundur cholangio-pankreatografi Arthroskopi Amnioskopi Endoskopi gastrointestinal Atas (OCD) Proctoskopi Rhinoskopi Thorakoskopi

mengganggu pernapasan. Selama prosedur, pengambilan napas lambat dan dalam dapat membantu pasien rileks. Sebuah endoskopi kapsul adalah bentuk lain dari endoskopi dimana pasien memakan kamera berbentuk kapsul yang merekam gambar ketika kapsul bergerak melalui saluran pencernaan. Kapsul keluar dari tubuh pasien melalui gerakan usus. Komplikasi mungkin terdiri dari 4) Perforasi gastrointestinal, 5) Pendarahan dan 6) Infeksi. Minum barium dengan foto rontgen = dilakukan untuk membedakan diganosa penyebab/sisi lesi. Analisa gaster = dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah, mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus duodenal. Penurunan atau jumlah normal diduga ulkus gaster, dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom Zollinger-Ellison. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi perdarahan. Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis. Tes serologi darah = dilakukan untuk memeriksa adanya anemia persiosa, selain itu untuk menentukan apakah terdapat antibodi akibat infeksi bakteri H.Pylori. X-Ray Saluran Cerna Bagian Atas Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan rontgen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen. Pemeriksaan Feses, meliputi : warna, konsistensi, bau, lendir, sisa makanan, parasit. Untuk memeriksa kemungkinan adanya H. pylori (penyebab ulkus peptikum). Kultur darah/Feses Untuk memeriksa kemungkinan adanya H. pylori (penyebab ulkus peptikum).

Pemeriksaan Isi Lambung Untuk memeriksa kemungkinan aklorhidrida (tidak adanya HCl dalam getah lambung). (Smelzer, 2002)

10. KOMPLIKASI Jawaban SGD : Ulkus peptikum : luka dimukosa lambung dan audenum yang disebabkan oleh helicobakter pylori dan obat-obatan. Perforasi lambung yaitu terdapat lubang pada lambung karena ada luka. Kanker lambung. Kerusakan diempedu sehingga menyebabkan peristaltik menurun. Perdarahan hebat seperti melena (BAB berdarah) dan hematemesis (muntah berdarah) Jawaban Sumber : Komplikasi dibagi dalam klasifikasi, yaitu: 1. Gastritis Akut

Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut adalah perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syock hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah H. pylory, sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan endoskopi. 2. Gatritis Kronis

Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan absorpsi vitamin B12. (Sylvia A. Price, 2005)

11. DIAGNOSA BANDING Jawaban SGD : Ulkus peptikum Gastroenteritis : gejalanya sama dengan gastritis. Hurt burn yaitu terasa nyeri terbakar dibelakang tulang dada dan dapat menyebar kedada, punggung dan lengan. Stomach ulser yaitu terdapat lubang pada lambung. Jawaban Sumber : Gastroenteritis, biasa disebut dengan Flu Perut (stomach Flu), yang biasanya terjadi akibat infeksi virus pada usus. Gejalanya meliputi diare, kram perut dan mual atau muntah, juga ketidakseimbangan untuk mencerna. Gejala dari gastroenteritis sering hilang dalam satu atau dua hari sedangkan untuk gastritis dapat terjadi terus-menerus. Heartburn, rasa sakit seperti terbakar yang terasa dibelakang tulang dada ini biasanya terjadi setelah makan. Hal ini terjadi karena asam lambung dan masuk ke dalam esophagus (saluran yang menghubungkan antara tenggorokan dan perut). Heartburn dapat juga menyebabkan rasa asam pada mulut dan terasa sensasi makanan yang sebagian seudah dicerna kembali ke mulut. Stomach Ulcers. Jika rasa perih dan panas dalam perut terjadi terus menerus dan parah, maka hal itu kemungkinan disebabkan karena adanya borok dalam lambung. Stomach peptic ulcer atau borok lambung adalah luka terbuka yang terjadi dalam lambung. Gejala yang paling umum adalah rasa sakit yang menjadi semakin parah ketika malam hari atau lambung sedang kosong. Gastritis dan stomach ulcers mempunyai beberapa penyebab yang sama, terutama infeksi H.pilory. penyakit ini dapat mengakibatkan terjadinya gastritis dan begitu juga sebaliknya. Nonulcer dyspepsia. Merupakan kelainan fungsional yang tidak terkait pada penyaki tertentu. Penyebab pasti keadaan ini tidakdiketahui, tetapi stress dan terlalu banyak mengonsumsi gorengan, makanan pedas atau makanan berlemak diduga dapat mengakibatkan keadaan ini. Gejalanya adalah sakit pada perut atas, kembung dan mual. (Kenneth, 2003)

12. LEGAL ETIK Jawaban SGD : Non maleficiency adalah prosedur yang dilakukan perawat melindungi keadaan pasien atas persetujuan tim medis. Autonomy adalah pasien diberi kebebasan untuk memutuskan tindakan kesehatan Benificiency adalah perawat melakukan tindakan berhubungan dengan kebaikan klien. Jawaban Sumber : Paternalisme Paternalisme adalah melakukan apa yang dipercayai oleh para profesional kesehatan untuk kebaikan klien, kadang tanpa keputusan kien. Perilaku paternalistik seringkali dilakukan karena profesional yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan teknis masalah kesehatan. Beneficience Prinsip ini adalah memberikan kemaslahatan dengan menguntungkan klien dengan melakukan yang terbaik, dengan memperhitungkan resiko dan maslahat dalam setiap kasus kemaslahatan meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan klien. (Potter, Patricia A, 2005)

13. PROGNOSIS Jawaban SGD : Bisa disembuhkan, tetapi kecendrungan untuk kembali kambuh tetap ada (tidak bisa sembuh total). Oleh karena itu, harus mencari faktor penyebab kekambuhan tersebut sehingga dapat menghindari faktor penyebabya. Jawaban Sumber : Biasanya sulit sembuh, walaupun demikian perlu observasi. (Sujono Hadi, 2002)

14. PENDIDIKAN KESEHATAN Jawaban SGD : Mengatur pola hidup, hindari tidur malam atau begadang dan usahakan bangun pagi atau subuh. Berolahraga secara teratur minimal 3x seminggu. Hal ini akan sangat membantu proses penyembuhan karena pada pasien dengan gastritis, olahraga secara teratur akan memperlancar aliran darah kelambung sehingga akan mempercepat proses penyembuhan. Mengatur pola makan dengan cara makan sedikit-sedikit tidak lapar dan tidak kenyang dan hindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung seperti makanan yang terlalu kecut, asam dan pedas. Jangan menunda waktu makan,jika memang tidak sempat makan, maka makanlah makanan ringan atau kue untuk menetralkan asam lambung, dan jika tidak ada makanan ringan maka minum air putih untuk menetralkan asam lambung. Jawaban Sumber : Sebelum perawat memberikan pendidikan kesehatan, ada baiknya jika pengetahuan pasien tentang gastritis dievaluasi sehingga rencana penyuluhan dapat bersifat individual. Diet diresepkan dan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan kalori harian pasien, makanan yang disukai, dan pola makan. Pasien diberi daftar tentang makanan dan zat-zat yang harus dihindari(mis,. kafein;nikotin;bumbu pedas;alkohol,dll). Antibiotik, garam bismut, obat-obatan untuk menurunkan sekresi lambung dan melindungi sel-sel mukosa dari sekresi lambung diberikan sesuai resep. Penanganan Gastritis yang utama adalah dengan menghilangkan penyebabnya. Misalnya, untuk beberapa tipe gastritis, mengurangi asam lambung dengan mengonsumsi obat akan sangat membantu. Antibiotik untuk infeksi. Jika disebabkan oleh alkohol, AINS dan aspirin, maka konsumsinya harus dikurangi hingga dihentikan. Selain itu, langkah-langkah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : Sebagai langkah awal konsumsi makanan lunak dalam porsi yang kecil-kecil, berhenti mengonsumsi makanan yang pedas dan asam, dan berhenti merokok serta minuman beralkohol. Jika memang diperlukan, kita dapat meminum antasida sekitar setengah jam sebelum makan atau sewaktu makan. Namun bila

keluhan pada ulu hati tetap terjadi, secepatnya harus diperiksakan lebih lanjut ke dokter. Yang dapat menyembuhkan sakit maag adalah jika dapat mengatur agar produksi asam lambung terkontrol kembali sehingga tidak berlebihan, yaitu dengan menghilangkan stres dan makan dengan teratur. Jika sudah dapat mengendalikan produksi asam lambung, Insya Allah tidak akan lagi memerlukan obat-obat maag. Tetapi selama dalam proses penyembuhan, tetaplah makan obat seperti yang disarankan dokter. Hindari makanan yang sulit dan susah dicerna pada saat-saat pertama serangan maag, berikan istirahat pada lambung dan pilihan utama minumlah liguid saja. Seperti air dan susu kemudian tambahkan dengan makanan lunak perlahan-lahan seperti sereal, pisang, nasi, kentang dan roti serta hindari makanan yang pedas dan asam. Sementara itu, untuk meredakan rasa sakit akibat penyakit ini, penderita bisa mengonsumsi obat sakit maag yang biasanya mengandung antasida. Obat ini berguna untuk menetralisir asam lambung. Minum obat secara teratur. Selain dengan klien, perawat juga harus bekerja sama dengan keluarga klien, pengawasan keluarga klien terhadap pola makan, jenis makanan yang dimakan dan aktivitas klien dapat membantu klien agar gejala yang dialami dapat berkurang. Berikut beberapa saran untuk mengurangi resiko kambuhnya gastritis : Makan secara benar. Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan atau berlemak, keras dll yang dapat mempengaruhi radang lambung seperti kopi, mie, ketan, kangkung, kol, daun singkong, seledri, durian, nanas, nangka, salak, pisang ambon, ubi, nangka, sofdrink (makanan dan minuman yang banyak mengandung gas), dll. Yang sama pentingnya dengan pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang cukup,tidak berlebihan, pada waktunya dan lakukan dengan santai.

Hindari alkohol. Penggunaan alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan mukosa dalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan pendarahan

.Jangan merokok. Merokok mengganggu kerja lapisan pelindung lambung, membuat lambung lebih rentan terhadap gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan asam lambung, sehingga menunda penyembuhan lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker lambung.

Lakukan olah raga secara teratur. Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernapasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktifitas otot usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.

Banyak minum air putih. Usahakan buang air besar secara teratur Menerapkan pola makan dan tidur yang teratur. Hindari stress dan bekerja terlalu berat. Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan pencernaan. Karena stress bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalah mengendalikannya secara effektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.

Ganti obat penghilang nyeri. Jika dimungkinkan, hindari penggunaan AINS(anti inflamasi nonsteroid seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen), obat-obat golongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan penghilang nyeri yang mengandung acetaminophen.

Ikuti rekomendasi dokter. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau meminimalisir gejala dan keluhan gastritis. Bila kesempatan untuk makan siang tidak ada, maka sebaiknya membawa bekal minimal biskuit yang bisa dikulum dalam mulut tanpa perlu menguyah dan menimbulkan suara berisik, sambil tetap bisa bekerja. Minimal untuk mengganjal, sehingga asam lambung akan berkurang karena

telah dimanfaatkan untuk mencerna biskuit. Atau ada cara lain, minumlah susu bisa dari kemasan siap minum, sedikit-sedikit. Jadi dengan demikian kita telah melatih makan atau minum dalam porsi kecil, tapi frekuensi sering. Bila pola makan frequent small feeding ini dipraktekkan, maka lambung akan terbiasa dan kembali berfungsi normal karena telah terlatih kapan dan seberapa banyak asam lambung harus diproduksi dan dikeluarkan. Mengenai waktu makan yang baik. Karena pengosongan lambung terjadi dalam waktu empat jam, maka sebaiknya orang sehat mengkonsumsi makanan setiap empat jam juga. Bagi yang telah terlanjur sakit maag, pola makan frequent small feeding dapat diterapkan, sampai kondisi lambung kembali normal. (Anonim, 2011)

Rencana Asuhan Keperawatan pada Nn. Alice dengan Gastritis

A. Pengkajian a. Biodata Klien Nama Usia Alamat Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Suku Bangsa Tanggal Masuk dirawat Diagnosis medis : Nn. Alice : 27 Tahun :: Perempuan : Pegawai sebuah pabrik Garment ::::: Gastritis

Identitas penanggung jawab Nama Tempat, tanggal lahir Pekerjaan Alamat Hubungan dengan klien Alasan masuk Rumah Sakit Riwayat Kesehatan sekarang :::::: Sakit hebat di perut dan pingsan. :

Sakit hebat di perut hingga menyebabkan pingsan. Riwayat kesehatan masa lalu: Klien mengeluh sejak lama merasa nyeri seperti terbakar pada bagian epigastrium, yang lebih nyeri setelah makan, disertai perasaan mual dan kadang muntah. Klien juga sering mengeluh perutnya kembung dan disertai diare. Riwayat kesehatan keluarga: Psikologi: Lingkungan: Riwayat pengobatan: Klien sering meminum aspirin saat tidak enak badan. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan Fisik a. Tanda-tanda vital: BB: TB : TD : Suhu : HR : RR : b. Sistem gastrointestinal: Inspeksi :Palpasi :Perkusi :Auskultasi :-

B. Analisa Data No. Data 1 DO : Sakit hebat di perut pingsan DS : Klien mengeluh sejak merasa dan Etiologi Iritasi mukosa lambung Makanan masuk lambung Masalah Gg. Rasa nyaman: nyeri

lama Sekresi HCl nyeri

seperti terbakar pada

bagian Mengenai bagian lambung yang iritasi eferen memberi

epigastrium, yang nyeri lebih setelah

makan, disertai Serabut dan muntah. Klien sering mengeluh perutnya kembung dan kadang

perasaan mual impuls ke pusat nyeri dirasakan di

juga Nyeri

epigastrium

disertai diare. 2 DO : DS : Sakit hebat di perut pingsan. Klien mengeluh sejak Anoreksia Gangguan pemenuhan nutrisi kurang kebutuhan anoreksia. dari bd

dan Intake nutrisi Pemenuhan nutrisi

lama Gg.

merasa

nyeri kurang dari kebutuhan

seperti terbakar pada bagian

epigastrium, yang nyeri lebih setelah

makan, disertai perasaan mual dan muntah. Klien sering mengeluh perutnya kembung dan juga kadang

disertai diare. 3 DO : DS : Klien Penggunaan obat terus-terusan sering saat tidak Kurang pengetahuan bd kurang informasi NSAID Kurang pengetahuan bd

kurang informasi

mengkonsumsi aspirin merasa

enak badan.

C. Diagnosa Keperawatan 1. Gg. Rasa Nyaman: Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung ditandai dengan klien mengeluh sejak lama merasa nyeri seperti terbakar pada bagian epigastrium, yang lebih nyeri setelah makan, disertai perasaan mual dan kadang muntah, klien juga sering mengeluh perutnya kembung dan disertai diare, sakit hebat di perut hingga menyebabkan pingsan. 2. Gg. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan klien mengeluh sejak lama merasa nyeri seperti terbakar pada

bagian epigastrium, yang lebih nyeri setelah makan, disertai perasaan mual dan kadang muntah, klien juga sering mengeluh perutnya kembung dan disertai diare. 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai dengan klien sering mengkonsumsi aspirin saat merasa tidak enak badan.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. From :

http://ahlipencernaan.com/Prosedur/endoskopi.html . Diakses tanggal 7

Maret 2011: 11.32 Admin. From : http://chipunden.blogspot.com/2008/12/obat-ulkus-peptik-untuk-ibu-

menyusui.htm . Diakses tanggal 6 Maret 2011: 17.15 Admin. From : http://www.farmasiku.com/index.php?target=products&product_id=30043 . Diakses tanggal 2 Maret 2011: 12.30 Brunner & Suddarth. 2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC Hadi, Sujono. 2002. Gastroenterologi. Bandung: PT Alumni Hirlan. 2000. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi 3. Jakarta: EGC Price, Sylvia A & M.Wilson Lorraine. 2000. Buku Patofisiologi, Konsep Klinis Proses Proses Penyakit Edisi 4. Jakarta: EGC Smeltzer, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran