1.

Overview Case Pria, 30 tahun;  Panas badan sejak 14 hari yang lalu, timbul mendadak, remitten, meningkat perlahan (seperti anak tangga), terutama sore hingga malam, selama 7 hari  Panas berlangsung kontinua  Disertai cephalgia, anorexia, vomitus, nausea, dan obstipasi  Pengobatan : 3 hari panas  minum paramex lebih baik  2 hari yang lalu lemas, sakit di perut saat berjalan  Riwayat : 7 hari yang lalu anak pasien (5 Tahun) panas, diare  antibiotic Pemeriksaan Fisik : KU : Sakit berat, delirium, febris (39,20C), Mulut : lidah hiperemis,tremor Wajah tampak dungu Abdomen : datar, tegamg, auskukultasi : jarang, pekek pindah, pekak hati (-),nyeri tekan (+), nyeri lepas(+). Pemeriksaaan lab : Netrofilia batang,limfositopenia,trombositopenia ringan,

2. Basic Science ANATOMI DAN FISIOLOGI Duodenum    Letak: sekunder retroperitoneal Bentuk seperti “C”, panjang 25 cm Pembagian:  Pars superior (intraperitoneal)  Pars descendens  Pars transversa  Pars ascenden

panjang 7 meter  fiksasi : mesenterium . dan ascendens (suplai darah banyak) . hanya untuk distal. pancreoticoduodenale superior posterior 2.A.mesenterica superior. Pars descendens. Pars superior (suplai darah sedikit)  A.transversa. 1. A.A. Vascularisasi Arteri.gastroduodenale a. pancreoticoduodenale superior anterior .supraduodenale b. pancreoticoduodenale inferior anterior et posterior Jejenum dan Ileum  letak : intraperitoneal. A.mesenterica superior. Truncus coeliacus – a. suplai dari truncus coeliacus & a.

lipatan tinggi: plica circularis b. arteri : aa. . cabang a. jejenalis dan ilealis bermuara ke v. muscularis a. plexus submucosa “meissner” 3.mesenterica superior  aliran limfe : nodus limphaticus mesenterica superior  cysterna chylii  ductus thoracicus nodus lymphaticus ileum terminal mengikuti cabai a. as. struktur dalam. serosa : peritoneum visceral  fungsi : absorbsi : karbohidrat.jejenalis dan ilealis. mineral  vascularisasi 1. lamina propria: nodus limphaticus (ilium: plaque peyeri) 2. kelenjar eksokrin b. submukosa a.amino. dinding terdiri atas 1.vagus simpatis : n splancnicus minus (t 10-11) afferent : via serabut simpatis referred pain : dermatome t 10-11 (regio umbilicus).mesenterica superior) 2. vitamin. otot sirkular dan longitidunal b. vena : vv. ileocolica  nl.lemak. as. trigliserida. ileocolica  inervasi parasimpatis : n. plexus myenteric “auerbach” 4. mukosa a.

class Gamma Proteobacteria.8 m • bagian-bagian: – duodenum: retroperitoneal. Salmonella sp. merupakan kingdom Bacteria. panjang: 25 cm – jejunum: intraperitoneal – ileum: intraperitoneal • fungsi umum: – melanjutkan pencernaan MORFOLOGI Salmonella sp. ordo Enterobacteriales. genus Salmonella.HISTOLOGI Intestinum tenue • panjang: 4 . . phylum Proteobacteria. family dari Enterobacteriaceae. Salmonella sp.

adalah bakteri bentuk batang. Suhu optimum pertumbuhan Salmonella sp. pada pewarnaan gram berwarna merah muda (gram negatif). pullorum). sumsum . limpa. Kemudian kuman masuk dalam saluran darah (bacterimia) timbul gejala dan sampai ke hati. Demam tifoid yang disebabkan oleh S. Habitat Salmonella sp. gallinarum dan S. • Salmonella sp. • Salmonellosis adalah istilah yang menunjukkan adanya infeksi Salmonella sp. Salmonella sp. lalu ke kelenjar getah bening. Kuman yang masuk melalui mulut masuk kedalam lambung untuk mencapai usus halus. mempunyai flagel (kecuali S. Manifestasi klinik Salmonellosis salah satunya adalah Demam Tifoid. dan demam paratifoid disebabkan S paratyphi A. Salmonella sp. ialah 37oC dan pada pH 6-8. Kemudian memasuki ductus thoracicus.Morfologi Sallmonella sp.6 μ. berukuran 2 μ sampai 4 μ × 0. dan tidak berspora. dan C. typhi. B. bersifat aerob dan anaerob falkultatif. adalah di saluran pencernaan (usus halus) manusia dan hewan.

5 °C Remmitent : Demam berfluktuasi > 0. Inflamasi. yaitu bakteri gram negatif yang termasuk dalam family enterobactericeae.5 °C. Definisi Demam Tifoid Demam yang diakibatkan infeksi salmonella thyfoid yg menginfeksi terutama di limfoid ileum 4. 5. Kriteria diagnsotik demam tifoid Anamnesis : demam mendadak. tapi tidak turun sampai dengan normal Intermittent : Demam berfluktuasi sampai dengan suhu normal Biphasic : Demam 1 penyakit dengan 2 puncak Periodic : Demam muncul secara periodik diselingi periode asimtomatik beberapa Demam minggu-bulan Relaps : Demam muncul secara periodik diselingi periode asimtomatik beberapa jam/hari Peningkatan Sintesis PGE2 3. Etiologi Demam tifoid disebabkan oleh salmonella thypi. remitten. MEKANISME DEMAM Infeksi toksin. berkembang biak. seperti anak tangga bersifat kontinua. . Gangguan Imun Pirogen eksogen Pelepasan Pirogen dalam leukosit Di Hipotalamus Pelepasan Asam Arakhidonat POLA DEMAM • • • • • • Continum / Sustained : Demam berfluktuasi < 0. Injuri. ginjal dan lain-lain. Selanjutnya di organ tubuh tersebut Samonella sp.tulang.

hepatomegali. 6. Pem. nyeri pada perut. kadang terdapat lidah kotor. Hitung jenis sel dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. nausea. dll. Tes widal : mengukur titer antibody aglutinasi terhadap antigen O dan antigen H. Dapat juga ditemukan anemia ringa atau trombositopenia. gejala yang muncul dapat bervariasi dari ringan sampai dengan berat. Menggunakan antigen O9 yang hanya ditemukan pada salmonella serogroup D dan tidak pada mikroorgansime lain. stupor. Kultur darah : merupakn gold standar.dapat juga terdapat gangguan mental seperti somnolen. Fisik : suhu febris. Dapat ditemukan juga obstipasi. Uji typhidot : untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG terhadap S. Uji tunggal: dikatakan infeksi akut jika ditemukan titir 1/160 Uji ganda : ditemukan kenaikan titer 4x dari sebelumnya dengan jarak 1 minggu Uji tubex : mudah dilakukan dan singkat. myalgia. atau psikosis Pem. gejala prodromal seperti .typhi. typhi pada specimen serum atau whole blood. diare. anoreksia. Patogenesis dan patofisiologi demam tifoid .Dapat berlangsung selama 10-14 hari. batuk dan epistaksis.dapat juga ` ditemukan SGOT dan SGPT meningkat. Uji IgM Dipstick : mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap S. vomitus. Abdomen : splenomegali. delirium. Lab : darah perifer lengkap leucopenia dapat juga terjadi leukosit normal atau leukositosis. chepalgia. Minggu pertama .

Faktor resiko .7.

trombositopenia . nasi.  Komplikasi ekstraintestinal . perforasi usus. Kortikosteroid : untuk yang mengalami syok septik 3 x 5 mg 5. Istirahat & perawatan : Tirah Baring 2. hindari sayuran 3. bubur kasar. .- Higienitas kurang baik Makanan yang tidak sehat atau tercemar Sanitasi lingkungan buruk Padat penduduk 8. hepatitis kolesititis. pielonefritis.  Komplikasi intestinal : pendarahan usus. dan berbagai komplikasi serius dapat terjadi. . 9.Komplikasi tulang : osteomielitis.Komplikasi neuropsikiatrik atau tifoid toksis Dalam kasus pasien telah terjadi perforasi usus. Penatalaksanaan : Trilogi 1.Komplikasi paru : pneumonia. spondilitis. tromboplebitis . miokarditis. pankreatitik. ileis paralitik . anemia hemolitik. Anti Mikroba :       Kloramfenikol : pilihan utama. hepatobilier. Komplikasi Karena merupakan penyakit sistemik maka hamper semua organ tubuh dapat diserang.Komplikasi kardiovaskuler : gagal sirkulasi perifer.Komplikasi darah : DIC. empiema. arthtritis .Komplikasi ginjal : glomerulonefritis. selama 3-5 hari Golongan Florokuinolon 4. perinefritis. pleuritis. periostitis. 4 x 500 mg/hari selama 7 hari Tiamfenikol : 4 x 500 mg/hari Kotrimoksazol : 2 x 2 tablet Ampisilin & Amoksisilin : 50 – 150 mg/kgbb selama 2 minggu Cephalosporin generasi ke-3 : 3-4 gram dalam dekstrose 100 cc  ½ jam per infus 1 x 1 hari. Diet & Terapi penunjang : Simptomatik & suportif  Bubur saring. Tindakan bedah  perforasi usus .

Endemik : Pencarian dan eliminasi sumber penularan Pemeriksaan air minum & sanitasi pada populasi umum daerah tersebut 6. Tergantung penatalaksanaan. Epidemiologi      Di Indonesia setiap tahunnya rata-rata terdapat 900. Afrika. Bioetika Humaniora . Pencegahan 1.000 kasus dan 216. Identifikasi dan eradikasi Salmonella Typhi Tereradikasi pada usaha rumah tangga 2. meningkat setelah usia 5 tahun Tahun 2007. memakan makanan segar Vaksinasi menyeluruh pada masyarakat setempat maupun pengunjung 12.6 – 5 % Secara global tahun 2002 WHO setiap tahunnya terdapat 22.000 penduduk dengan kematian mencapai 0. Pencegahan konsumsi langsung dari pasien terinfeksi Salmonella Typhi maupun karier 3. Proteksi pada orang yang berisiko terinfeksi  Vaksinasi typhoid 4. Amerika Latin 13.000 kasus (>100 kasus/100. Daerah endemik : Minum air yang telah mendidih. Preventif non endemik :        Sanitasi air & kebersihan lingkungan Penyaringan pengelola pembuatan/distributor makanan dan minuman Pencarian & pengobatan kasus typhoid karier 5.000 kematian Hampir 91% kasus terjadi pada usia 3-19 tahun.000. angka morbiditas sebesar 500/100.000 kematian akibat penyakit ini Demam Typhoid & Paratyhoid endemik di Asia.000 penduduk) dengan 20. Dubia ad malam jika ada gejala gejala klinis seperti hiperpireksia dan perforasi usus. Prognosis Dubia ad bonam.10. apabila penatalaksanaan baik dan tepat prognosis baik. 11.

pemriksaan Gold Standard () b) Meminimalisasi akibat . dan penjelasan pada pasien & keluarga pasien mengenai apa yang dialaminya Berikan informed consent mengenai informasi kesehatan.. prognosis dan kesembuhan 3.. kompetensi.1. dari sumber yang selalu direvisi setiap 5 tahun sekali . pengertian. Patient Preferences a) KDM Autonomi   Memberikan pemahaman. dikarenakan penanganan yang telat & adanya komplikasi b) KDM non Beneficience : Kewajiban menolong pasien sesuai SOP (Standard Operasional Pelayanan) dan SPM (Standard Pelayanan Medik) yang diberikan terhadap pasien disesuaikan dengan kemampuan. Quality of Live a) KDM Beneficience : meminimalisasi akibat buruk mengenai prognosis .. efek samping baik dan buruk.. pilihan pengobatan. prosedur baku. tindakan medis. pada ksus tersebut terhadap komplikasi c) KDM non Maleficience : pengobatan dan penanganan yang kritis dalam meminum antibiotik secara teratur & apakah ada indikasi rawat/tidak 2. biaya pengobatan. Medical Indication a) KDM Beneficience : kriteria Golden Rule Principle.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful