SATUAN ACARA PENYULUHAN Topik Sasaran Tempat : Perawatan Pada Pasien Dengan Fraktur : Keluarga dan penunggu pasien

Ruang RSUD dr Saiful Anwar : Ruang Tunggu Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Saiful Anwar Hari/tanggal : Rabu, 17 April 2013 A. TUJUAN Setelah diberikan penyuluhan, diharapkan keluarga dan penunggu pasien mengetahui tentang perawatan pasien yang mengalami fraktur. 2. Tujuan Khusus Diharapkan keluarga pasien dan pengunjung dapat : 1) 2) 3) 4) 5) Memahami pengertian fraktur Menjelaskan kembali penyebab fraktur Menjelaskan kembali tanda dan gejala fraktur Menjelaskan kembali penanganan fraktur di rumah sakit Menjelaskan kembali perawatan fraktur di rumah Instalasi Gawat Darurat

1. Tujuan Umum

B. SASARAN Keluarga dan penunggu pasien Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Saiful Anwar C. KOMUNIKATOR Mahasiswa PSIK FKUB dan Mahasiswa Politektik Kesehatan Negeri Malang D. PENGORGANISASIAN 1) Pembicara Moderator Observer Fasilitator : Mirna Awalianti : : :

Menjelaskan pengertian fraktur 2. MATERI : Keluarga dan penunggu pasien Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Saiful Anwar 1. Diskusi F. PELAKSANAAN .Leaflet G. Ceramah 2.2 3) Peserta E. Menjelaskan tanda dan gejala fraktur 4. Menjelaskan penanganan fraktur di rumah sakit 5. Menjelaskan perawatan fraktur di rumah H. MEDIA . METODE 1.Banner . Menjelaskan penyebab fraktur 3.

dilaksanakan 1. Mengucapkan terima kasih atas partisipasi peserta 2.Menjawab salam menit 2. Tanya pasien jawab dengan tentang perawatan fraktur 1. Membagikan leaflet dan tujuan 3. penanganan 2.Memperhatikan 2.Menjelaskan penyuluhan 4. Mengucapkan 1. SETTING TEMPAT . Mengucapkan salam 3. fraktur. fraktur rumah 2. salam Memperkenalkan fasilitator 3. gejala peyebab di RS.3 Kegiatan Pembukaan Waktu Uraian Kegiatan Kegiatan Peserta 5 1. peserta menyimak perawatan fraktur di Evaluasi 5 menit Peserta fasilitator F. menerima leaflet Moderator dan fraktur. Menjawab salam 3. yang Menjelaskan mekanisme kegiatan akan 1. Memperhatikan 2. Memberikan umpan balik terkait demontrasi perawatan kateter 1.Mendengarkan Pelaksana Moderator dan fasilitator Pelaksanaan 20 menit Memperhatikan Pembicara pasien fasilitator penjelasan tentang dan perawatan fraktur dan memperhatikan tentang perawatan kateter yang benar 3. Menjelaskan Pengertian tanda fraktur.

b. Seluruh peserta kooperatif selama proses diskusi. 3. Evaluasi Struktur a. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai satuan acara penyuluhan 2. KRITERIA EVALUASI 1. Evaluasi Proses Peserta antusias dalam menyimak uraian materi penyuluhan dan demontrasi tentang perawatan pasien dengan fraktur dan bertanya apabila ada yang dianggap kurang dimengerti dan mengisi kuesioner awal dan akhir yang diberikan. b.4 Keterangan : Fasilitator : Keluarga dan penunggu pasien : Observer : Pembicara : Banner : Moderator G. Evaluasi Hasil a. Pengorganisasian dilaksanakan sebelum pelaksanaan kegiatan. 60-70% peserta mampu menjawab pertanyaan dan memahami pengertian sampai dengan hal-hal yang harus diperhatikan terkait perawatan pasien dengan fraktur .

et al. Kekerasan langsung Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Sedangkan patah tulang kompleks adalah patah tulang yang disertai dengan kerusakan jaringan disekitarnya. Arif. b. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling . Etiologi Berdasarkan penyebab/etiologinya striktur dibagi menjadi 3 jenis : a. Fraktur demikian sering bersifat terbuka dengan garis patah melintang atau miring. B. Pengertian Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer.5 MATERI FRAKTUR A. Kekerasan tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari terjadinya kekerasan. Menurut Linda Juall (2001) fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan oleh tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. 2000). Patah tulang dibagi menjadi patah tulang sederhana dan kompleks. Patah tulang sederhana adalah patah tulang tanpa disertai kerusakan jaringan sekitarnya.

Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis Reduksi tertutup. Perlu immobilisasi dan penyangga fraktur Mengistirahatkan dan stabilisasi bagian tubuh yang fraktur Koreksi deformitas Mengurangi aktifitas bagian tubuh yang fraktur 1. 2. D. 2. mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung ujungnya saling berhubungan ) dengan manipulasi dan traksi manual. 1993). 2.6 lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan. C. Nyeri pada bagian yang patah 4. Penatalaksanaan segera setelah cidera adalah imobilisasi bagian yang cidera . Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh Indikasi pemasangan gips adalah: 1. Pentalaksanaan Di Rumah Sakit a. Tanda dan gejala 1. Reposisi Imobilisasi dengan Gips Dilakukan bila patah tulang tidak merusak jaringan disekitarnya. Perubahan bentuk (deformitas) karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah. Kekeuatan dapat berupa pemuntiran. c. dan penarikan (Oswari. penekukan. kombinasi dari ketiganya. 3. bidai dan alat yang lainnya. Alat yang digunakan biasanya traksi. Selanjutnya prinsip penanganan fraktur adalah reduksi. patah tulang sederhana dan tidak mengenai sendi. 4. Kekerasan akibat tarikan otot Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Organ (tangan atau kaki) menjadi tidak stabil 3. 3. Bunyi seperti batu bergeser atau Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Penatalaksanaan apabila klien akan dipindahkan perlu disangga bagian bawah dan atas tubuh yang mengalami cidera tersebut untuk mencegah terjadinya rotasi atau angulasi. penekukan dan penekanan.

7 5. sekrup. Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin.Operasi pemasangan Penyangga tulang Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin adalah pembedahan. 4. 3. terutama pada kasus-kasus yang tanpa komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan Membuat cetakan tubuh yang orthotik Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan Gips patah tidak bias digunakan Gips membahayakan klien Jangan merusak/menekan gips Jangan gips/menggaruk Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama pernah memasukkan benda asing ke dalam yang terlalu longgar atau terlalu kecil sangat Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah: . 2. 6. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. 1. Operasi . fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alatalat ortopedik berupa pen. pelat. dan paku. 5. Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomic menuju tempat yang mengalami fraktur. b. Dapat mencapai stabilitas fiksasiyang cukup memadai 4. Sesudah direduksi. Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada di dekatnya 3. Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yag lain 5. 1. Hematoma fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang sudah normal kembali.Operasi pembersihan pada patah tulang yang merobek kulit sehingga sempat terkena udara bebas .Operasi untuk pembersihan dan pemasangan penyangga tulang . Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah 2. Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain.

1995. 1995. 1992. EGC. Edisi II.B. FKUGM Henderson. Jakarta . Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley .A. Widya Medika. DAFTAR PUSTAKA Apley.8 fungsi otot hamper normal selama penatalaksanaan dijalankan.B. Jakarta Dudley. Volume I EGC. Edisi 3 EGC. W.Perawatan Medikal Bedah. W. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan . Graham . Medikal Nursing : A Nursing Process Approach. Lynda Juall. Luckman and Sorensen’s. 1994. 1996. Ilmu Bedah Gawat Darurat. Saunder Company Long. 1995. A. Donna D. J. Ilmu Bedah untuk Perawat. M. 1999. et al.M. Barbara C. Jakarta Black. 1986. Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach. Keperawatan Kritis. Hugh AF. Yogyakarta Hudak and Gallo. Jakarta Ignatavicius. 4 th Edition. Yayasan Essentia Medika. Saunder Company Carpenito.

diunduh tgl 29 agustus 2009 jam 20.30 http://health.betterhealth. Jakarta Price. 1997.html. Standar Perawatan Pasien. E. 1993. Jakarta Reksoprodjo. Binarupa Aksara. Gramedia.nsf/pages/Bone_fracture s_treatment_options?OpenDocument. Evelyn C. Jilid II. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.au/bhcv2/bhcarticles. Kapita Selekta Kedokteran. Bedah dan Perawatannya.9 Mansjoer.35 . Jakarta http://www. EGC.yahoo. et al. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah FKUI/RSCM. Jakarta Tucker. diunduh tgl 29 agustus 2009 jam 20.gov. 1998. 2000. Susan Martin. Jakarta Oswari. Soelarto. PT Gramedia Pustaka Utama. Medika Aesculapius FKUI. 1995.com/musculoskeletal-living/hip-fracture-hometreatment/healthwise--aa7033.vic. Arif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful