Anda di halaman 1dari 5

Madre: Ibu dan Roti

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengkajian Novel Popular Indonesia Dosen Pembina Abdul Hamid, M.Hum

Ingeu Widyatari Heriana 180110110055 Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran 2013

Madre: Ibu dan Roti

Tiap-tiap karya yang lahir pada suatu zaman ke lingkungan masyarakat selalu membawa pesan untuk masyarakatnya sebagai penikmat. Demikian yang terjadi pada karya Madre

ciptaan penulis Dewi Lestari sebagai sebuah novel yang juga memiliki hasil ekranisasi film Madre karya sutradara Benni Setiawan. Karya yang muncul merupakan sama sekali cerminan kehidupan memberikan pesan kepada masyarakat melalui bentuk seni yang berbeda. Novel popular yang menghibur sangat dekat dan akrab dengan kehidupan sehingga mudah memasukkan pesan kepada pemikiran masyarakat dan mudah dipahami sehingga dapat diterapkan dan dijadikan pelajaran. Madre menyampaikan gagasan dan pesan moral kepada penikmatnya melalui benda-benda penting dalam alurnya. Melalui topik utama dalam novel ini, sang pengarang menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Cerminan realitas diciptakan Dewi Lestari untuk meraih cita-citanya yang terpendam berupa simbol-simbol konkret dalam kehidupan. Garis-garis besar dalam sebuah karya, khususnya kali ini adalah novel, judul Madre memberikan makna-makna melalui alurnya. Apakah Madre itu? Madre secara etimologi berasal dari latin mtre, ablatif tunggal (singular ablative of) mter (mother, matron), matris digunakan dalam bahasa Spanyol memiliki arti ibu. Maka, dalam film Madre ada benda-benda utama dalam alur ini, yaitu ibu dan roti. Melalui alur, disampaikan bahwa antara ibu dan roti memiliki hubungan makna. Biang roti (ibu roti) yang merupakan warisan keluarga tokoh Tansen dapat diartikan sebagai ibu, biang, induk, dasar, cikal bakal yang melahirkan kisah cinta dan kesuksesan Tansen dan Mei. Dari sebuah biang roti kedua tokoh tersebut akhirnya bisa membuat keputusan penting dalam hidupnya. Biang roti menghasilkan roti-roti yang kemudian memunculkan konflik pertemuan tokoh-tokoh utama Tansen dan Mei, kedekatan intens Tansen dan Mei lantas kesuksesan toko roti Tan De Bakker hasil dari kerja sama kedua tokoh tersebut. Dapat dikatakan bahwa madrelah sebagai induk munculnya konflik dalam Madre yang memberikan pesan kepada penonton.

Melalui tokoh utama, Tansen, dapat diambil pelajaran bahwa penonton hendaknya menghargai keluarga walaupun mereka sudah tidak ada, tidak bersama lagi. Melalui tokoh Tansen juga penonton dapat mengambil pelajaran untuk memanfaatkan keahlian yang dimiliki tiap individu demi orang lain sehingga berguna untuk lingkungan hidup. Memilih sebuah keputusan dengan bijaksana tanpa merugikan pihak lain, menentukan prioritas didasari dengan akal sehat dan hati nurani, keteguhan hati tanpa mengabaikan masa lalu, dan meyelaraskan masa lalu dengan masa depan menjadi tujuan hidup. Hal tersebut yang dilakukan Tansen mempertahankan warisan keluarganya. Ia melaksanakan amanat dengan mempercayakan pada orang yang baru ia kenal baik dalam hidupnya. Melaksanakan kerja sama dengan orang yang ingin membantu kita, maka ciptakanlah hubungan yang baik dengan akal sehat. Melalui tokoh Pak Hadi dapat diambil pelajaran secara implisit melalui dialog yang disampaikannya, Laki-laki tidak berdaya tanpa wanita. Itu kutukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa makna Madre di sini sebagai ibu berperan penting. Dalam alur tersebut, tersampaikan bahwa Tan De Bakker dan para penggeraknya tidak bisa berjalan tanpa bantuan Mei. Maka, di sinilah benda ibu dan roti sebagai topik utama. Wanita yang bersikeras ingin memperkaryakan madre, si biang roti, menjadi sesuatu yang berkembang mampu menghidupi banyak orang lantas menyukseskan Tan De Bakker dengan niat yang sangat baik. Namun, ada hal yang berbeda dalam film dengan novelnya, Madre. Dalam novel, Pak Hadi (Dipi Petet) berkarakter sebagai pria Jawa. Hal tersebut menimbulkan

ketidakkonsistenan pengarang, Dewi Lestari, terhadap Madre. Bandung dipilih Dee sebagai atar tempat, tetapi justru dimunculkan tokoh Jawa tulen, Pak Hadi sebagai tokoh bijaksana. Dalam film dengan judul yang sama Pak Hadi dimunculkan sebagai pria Sunda. Hal tersebut dilakukan Benni Setiawan untuk meyelaraskan latar tempat utama, Bandung, dengan logat

yang digunakan. Karena Pak Hadi menetap di Bandung, karakter kuat muncul dengan dialek yang digunakan sama sekali khas Bandung memberikan kesan komedi dalam Madre. Diberlakukan demikian juga dengan maksud untuk kepentingan kejutan bagi penonton. Namun, bagi Dee bisa dikatakan untuk menyesuaikan dengan suasana dalam novel serius nanhikmat bahwa pembawaan watak Jawa lebih tenang dan lembut dibanding tutur sunda.