Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Cidera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai daerah L1-2 atau di bawahnya maka dapat mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan berkemih. Cidera medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet : kehilangan sensasi fungsi motorik volunter total dan tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter (Marilynn E. Doenges,1999;338). Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi 150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan10.000 cedera baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih dari 75% dari seluruh cedera (Suzanne C. Smeltzer,2001;2220). Data dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari sampai Juni 2003 angka kejadian angka kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian untuk cidera medulla spinalis yang berjumlah 20 orang (12,5%). Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan perubahan hormonal (menopause) (di kutip dari Medical Surgical Nursing, Charlene J. Reeves,1999). Klien yang mengalami cidera medulla spinalis khususnya bone loss pada L2-3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, gagal napas; pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan cidera medulla spinalis dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling buruk. B. TUJUAN 1. Tujuan Umum a. Mengetahui konsep teori, masalah keperawatan dan asuhan keperawatan pasien dengan trauma kepala dan Cedera medulla spinalis 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pengertian trauma kepala dan Cedera medulla spinalis b. Mengetahui etiologi, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan pasien dengan trauma kepala dan Cedera medulla spinalis

BAB II CEDERA MEDULLA SPINALIS


A. ANATOMI FISIOLOGI Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang berfungsi melindungi medula spinalis dan menunjang berat kepala serta batang tubuh, yang diteruskannya ke lubang-lubang paha dan tungkai bawah. Masing-masing tulang dipisahkan oleh disitus intervertebralis. Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut : 1. Vetebrata Thoracalis (atlas) Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi hanya berupa cincin tulang. Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens, yang mirip dengan pasak. Veterbrata cervitalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus spinasus paling panjang. 2. Vertebrata Thoracalis Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. Corpus berbentuk jantung, berjumlah 12 buah yang membentuk bagian belakang thorax. 3. Vertebrata Lumbalis Corpus Setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal, berjumlah 5 buah yang membentuk daerah pinggang, memiliki corpus vertebra yang besar ukurnanya sehingga pergerakannya lebih luas kearah fleksi. 4. Os. Sacrum Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang dimana ke 5 vertebral ini rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang bayi. 5. Os. Coccygis Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia, mengalami rudimenter. Lengkung koluma vertebralis.kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis memperlihatkan empat kurva atau lengkung antero-pesterior : lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan daerah torakal melengkung kebelakang, daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung kebelakang. Kedua lengkung yang
3

menghadap pasterior, yaitu torakal dan pelvis, disebut promer karena mereka mempertahankan lengkung aslinya kebelakang dari hidung tulang belakang, yaitu bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke bawah sampai batas dada dan gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan. Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah sekunder lengkung servikal berkembang ketika kanakkanak mengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki, dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia merangkak, berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak. (lihat gambar A1). Fungsi dari kolumna vertebralis. Sebagai pendukung badan yang kokoh dan sekaligus bekerja sebagai penyangga kedengan prantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya memberikan fleksibilitas dan memungkinkan membonkok tanpa patah. Cakramnya juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan meloncat, dan dengan demikian otak dan sumsum belkang terlindung terhadap goncangan. Disamping itu juga untuk memikul berat badan, menyediakan permukaan untuk kartan otot dan membentuk tapal batas pasterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan pada iga. (Eveltan. C. Pearah, 1997 ; 56 62). Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula ablonata, menjulur kearah kaudal melalu foramen magnum dan berakhir diantara vertebralumbalis pertama dan kedua. Disini medula spinalis meruncing sebagai konus medularis, dna kemudian sebuah sambungan tipis dasri pia meter yang disebut filum terminale, yang menembus kantong durameter, bergerak menuju koksigis. Sumsum tulang belakang yang berukuran panjang sekitar 45 cm ini, pada bagian depannya dibelah oleh figura anterior yang dalam, sementara bagian belakang dibelah oleh sebuah figura sempit. Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, servikal dan lumbal. Dari penebalan ini, plexus-plexus saraf bergerak guna melayani anggota badan atas dan bawah, dan plexus dari daerah thorax membentuk saraf-saraf interkostalis. Fungsi sumsum tulang belakang : 1. Mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh dan bergerak refleks.
4

Untuk terjadinya geraka refleks, dibutuhkan struktur sebagai berikut : a. Organ sensorik : menerima impuls, misalnya kulit b. Serabut saraf sensorik ; mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju sel-sel dalam ganglion radix pasterior dan selanjutnya menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis. c. Sumsum tulang belakang, dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls-impuls menuju karnu anterior medula spinalis. d. sel saraf motorik ; dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan impuls tersebut melalui serabut sarag motorik. e. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls saraf motorik. f. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal, paralisis pada otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta paralisis sfinker pada uretra dan rektum. B. PENGERTIAN Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth, 2001) Cedera Medula spinalis dalah cedera yang biasanya berupa fraktur atau cedera lain pada tulang vertebra, korda spinalis itu sendiri, yang terletak didalam kolumna vertebralis, dapat terpotong, tertarik,terpilin atau tertekan.. kerusakan pada kolumna vertaebralis atau korda dapat terjadi disetiap tingkatan,kerusakan korda spinalis dapat mengenai seluruh korda atau hanya separuhnya. Cidera medulla spinalis adalah buatan kerusakan tulang dan sumsum yang mengakibatkan gangguan sistem persyarafan didalam tubuh manusia yang diklasifikasikan sebagai : 1. Komplet (kehilangan sensasi dan fungsi motorik total) 2. Tidak komplet (campuran kehilagan sensori dan fungsi motorik)

C. KLASIFIKASI SPINAL CORD INJURY Nama Sindroma Pola dari lesi saraf Kerusakan Central cord Cedera pada posisi sentralMenyebar ke daerah sacral. syndrome dan sebagian pada daerahKelemahan otot ekstremitas atas dan lateral. ekstremitas bawah jarang terjadi pada Dapat sering terjadi padaekstremitas bawah daerah servikal Brown- Sequard Anterior dan posteriorKehilangan ipsilateral proprioseptiv Syndrome hemisection dari medulladan kehilangan fungsi motorik. spinalis atau cedera akan menghasilkan medulla spinalis unilateral Anterior cord Kerusakan pada anteriorKehilangan funsgsi motorik dan syndrome dari daerah putih dan abu-sensorik secara komplit. abu medulla spinalis Posterior cord Kerusakan pada anteriorKerusakan proprioseptiv diskriminasi syndrome dari daerah putih dan abu-dan getaran. Funsgis motor juga abu medulla spinalis terganggu Cauda equine Kerusakan pada sarafKerusakan sensori dan lumpuh flaccid syndrome lumbal atau sacral samapipada ekstremitas bawah dan kontrol ujung medulla spinalis berkemih dan defekasi.

D. ETIOLOGI Penyebab dari cidera medulla spinalis yaitu: 1. Kecelakaan jalan raya adalah penyebab terbesar, hal mana cukup kuat untuk merusak kord spinal serta kauda ekuina. 2. Di bidang olah-raga, tersering karena menyelam pada air yang sangat dangkal (Pranida, Iwan Buchori, 2007). 3. Akibat suatu trauma mengenai tulang belakang, jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas, kecelakakan olah raga (Arifin, 1997). Dari kedua sumber di atas dapat disimpulkan bahwa etiologi dari Spinal Cord Injury (SCI) adalah karena trauma. E. PATOFISIOLOGI

Kerusakan medulla spinalis berkisar dari kamosio sementara (pasien sembuh sempurna) sampai kontusio, laserasi dan kompresi substansi medulla, (lebih salah satu atau dalam kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla (membuat pasien paralisis). Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau daerah suaranoid pada kanal spinal, segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada cedera, serabut-serabut saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi terganggu, tidak hanya ini saja tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cidera medulla spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulakn iskemia, hipoksia, edema, lesi, hemorargi. Cidera medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5 1. Lesi 11 15 : Kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat paha dan bagian dari bokong. 2. Lesi L2 : Ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha. 3. Lesi L3 : Ekstremitas bagian bawah. 4. Lesi L4 : Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior paha. 5. Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki. Fungsi Dan Persarafan Otot Periferal Dan Segmental Fungsi I. Fleksi, ekstensi, rotasi, dan eksorotasi leher Otot Pleksus servikalis C1-C4 Saraf servikalis C1-C4 C3-C5 Saraf frenikus C3-C5 Saraf torakalis anterior C5-T1 Saraf torakalis longus
7

Saraf

Mm. koli profundi (M. sternokleidomastoideus, M. trapezius) Pengangkatan dada atas, inspirasi Mm. skaleni Inspirasi II. Aduksi dan endorotasi lengan, Menurunkan bahu ke dorsoventral Fiksasi skapula selama Diafragma Pleksus brakhialis C5-T1 M. pektoralis mayor dan minor

M. seratus anterior

mengangkat lengan Elevasi dan aduksi skapula ke arah kolumna spinalis Mengangkat dan eksorotasi lengan, Eksorotasi lengan pada sendi bahu Endorotasi sendi bahu; aduksi dari ventral ke dorsal; menurunkan lengan yang terangkat Abduksi lengan ke garis horizontal, Eksorotasi lengan M. levator skapula, Mm. rhomboidei M. supraspinatus, M. infraspinatus

C5-C7 Saraf skapularis dorsal C4-C5 Saraf supraskapularis C4-C6 C4-C6 Saraf torakalis dorsal C5-C8 (dari daerah dorsal pleksus) Saraf aksilaris C5-C6 C4-C5 Saraf muskulokutaneus C5-C6

M. latissimus dorsi, M. teres major, M. subskapularis M. deltoideus M. teres minor

Fleksi lengan atas dan bawah dan M. biseps brakhii, supinasi lengan bawah, Elevasi dan aduksi lengan, Fleksi lengan bawah M. korakobrakhialis, M. brakhialis

C5-C7 C5-C6 Saraf medianus C5-C6 C5-C6 C7-T1 C7-T1 C6-C8 M. fleksor digitorum profundus (radial) M. abduktor polisis brevis M. fleksor polisis brevis M. oponens polisis brevis C7-T1 C7-T1 C7-T1 C6-C7
8

Fleksi dan deviasi radial tangan, Pronasi lengan bawah, Fleksi tangan, Fleksi jari II-V pada falangs tengah, Fleksi falangs distal ibu jari tangan, Fleksi falangs distal jari II dan III tangan, Abduksi metakarpal I, Fleksi falangs proksimal ibu jari tangan, Oposisi metakarpal I

M. fleksor karpi radialis M. pronator teres M. palmaris longus M. fleksor digitorum superfisialis M. fleksor polisis longus

Fleksi falangs proksimal dan ekstensi sendi lain, Fleksi falangs proksimal dan ekstensi sendi lain

Mm. lumbrikalis Jari II dan III tangan

Saraf medianus C8-T1 Saraf ulnaris C8-T1

Jari IV dan V tangan

Fleksi dan pembengkokan ke arah ulnar jari tangan, Fleksi falangs proksimal jari tangan IV dan V, Aduksi metakarpal I, Abduksi jari tangan V, Oposisi jari tangan V,

M. fleksor karpi ulnaris

Saraf ulnaris C7-T1

M. fleksor digitorum profundus (ulnar) M. aduktor polisis M. abduktus digiti V M. oponens digiti V

C7-T1 C8-T1 C8-T1 C7-T1 Saraf ulnaris C7-T1

Fleksi jari V pada sendi metakarpofalangeal, Pembengkokan falangs proksimal, meregangkan jari tangan III, IV, dan V pada sendi tangan dan distal seperti juga gerakan membuka dan menutup jari-jari Ekstensi siku, Fleksi siku, Ekstensi siku dan abduksi radial tangan, Ekstensi falangs proksimal jari II-IV, Ekstensi falangs proksimal jari V, Ekstensi dan deviasi ke arah ulnar dari tangan, Supinasi lengan bawah, Abduksi metakarpal I: ekstensi radial dari tangan, Ekstensi ibu jari tangan pada falangs proksimal, Ekstensi falangs distal ibu jari, Ekstensi falangs proksimal jari II

M. fleksor digiti brevis V

Mm. interosei palmaris dan dorsalis C8-T1 Mm. lumbrikalis III dan IV

M. biseps brakhii dan M. ankoneus M. brakhioradialis M. ekstensor karpi radialis M. ekstensor digitorum M. ekstensor digiti V M. ekstensor karpi ulnaris M. supinator M. abduktor polisis longus M. ekstensor polisis brevis

Saraf radialis C6-C8 C5-C6 C6-C8 C6-C8 C6-C8 C6-C8 C5-C7 C6-C7 C7-C8

M. ekstensor polisis longus M. ekstensor indisis proprius

C7-C8 C6-C8
9

Elevasi iga; ekspirasi; kompresi abdomen; anterofleksi dan laterofleksi tubuh. III. Fleksi dan endorotasi pinggul, Fleksi dan endorotasi tungkai bawah, Ekstensi tungkai bawah pada tungkai lutut

Mm. toracis dan abdominalis Pleksus lumbalis T12-L4 M. iliopsoas M. sartorius L2-L4 M. quadriseps femoris Saraf femoralis L1-L3 L2-L3

N. toracis T1-L1

Aduksi paha

Aduksi dan eksorotasi paha

Saraf obturatorius M. pektineus L2-L3 M. aduktor longus L2-L3 M. aduktor brevis L2-L4 M. aduktor magnus L3-L4 M. grasilis L2-L4 M. obturator L3-L4 eksternus IV. Pleksus sakralis L5-S1

Saraf glutealis superior Abduksi dan endorotasi paha, M. gluteus medius L4-S1 Fleksi tungkai atas pada pinggul; dan minimus L4-L5 abduksi dan endorotasi, M. tensor fasia lata Eksorotasi paha dan abduksi L5-S1 M. piriformis Saraf glutealis inferior Ekstensi paha pada pinggul, M. gluteus L4-S2 Eksorotasi paha maksimus L5-S1 M. obturator internus L4-S1 Mm. gemeli M. quadratus Saraf skiatikus Fleksi tungkai bawah M. biseps femoris L4-S2 M. semitendinosus L4-S1 M. L4-S1 semimembranosus Saraf peronealis profunda Dorsifleksi dan supinasi kaki, M. tibialis anterior L4-L5
10

Ekstensi kaki dan jari-jari kaki, Ekstensi jari kaki II-V, Ekstensi ibu jari kaki Ekstensi ibu jari kaki

M. ekstensor L4-S1 digitorum longus L4-S1 M. ekstensor L4-S1 digitorum brevis L4-S1 M. ekstensor halusis longus M. ekstensor halusis brevis Saraf peronealis superfisialis Pengangkatan dan pronasi bagian Mm. peronei L5-S1 luar kaki Saraf tibialis Fleksi plantar dan kaki dalam M. gastroknemius L5-S2 supinasi, M. triseps surae M. soleus Supinasi dan fleksi plantar dari M. tibialis posterior L4-L5 kaki Fleksi falangs distal jari kaki II-V M. fleksor L5-S2 (plantar fleksi kaki dalam digitorum longus supinasi), Fleksi falangs distal ibu jari kaki, L5-S2 Fleksi jari kaki II-V pada falangs M. fleksor halusis S1-S3 tengah, longus Melebarkan, menutup, dan fleksi M. fleksor S1-S3 falangs proksimal jari-jari kaki digitorum brevis Mm. plantaris pedis Saraf pudendalis Menutup sfingter kandung kemih Otot-otot perinealis S2-S4 dan rectum dan sfingter

F. MANIFESTASI KLINIS 1. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang terkena 2. Paraplegia
11

3. Tingkat neurologik 4. Paralisis sensorik motorik total 5. Kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine, distensi kandung kemih) 6. Penurunan keringat dan tonus vasomoto 7. Penurunan fungsi pernafasan 8. Gagal nafas (Diane C. Baughman, 200 : 87) G. PEMERIKSAN DIAGNOSTIK 1. Sinar X spinal Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur, dislokasi), unutk kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi 2. CT Scan Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural 3. MRI Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi 4. Mielografi. Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi). 5. Foto ronsen torak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma, atelektasis) 6. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal). 7. GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Marilyn E. Doengoes, 1999 ; 339 340)

H. KOMPLIKASI DAN PENCEGAHAN 1. Komplikasi a. Syok neurogenik versus syok spinal merupakan hasiol dari kerusakan jalur simpatik yang desending pada medulla spinalis. Kondisi mengakibatkan
12

kehilangan tonus vasomotor dan kehilangan persarafan simpatis pada jantung. Keadaan ini menyebapkan vasodilatasi pembuluh darah visceral serta ektremitas bawah, terjadi penumpukan darah dan sebagai konsekuensinya terjadi hipotensi. Sebagai akibat kehilangan cardiac sympatik tone. Penderita akan mengalami bradikardia atau setidak tidaknya gagal untuk menjadi takhikardia sebagai respon dari hipovolemia. Pada keadaan ini tekanan darah tidak akan membaik hanya dengan impus saja dan usaha untuk menormalisasi tekanan darah akan menyebabkan kelebihan cairan dan udema paru. Tekanan darah biasanya dapat diperbaiki dengan penggunaan vasopresor, tetapi perfusi yang adekuat akan dapat dipertahankan walaupun tekanan darah belum normal. b. Syok spinal adalah keadaan flasid dan hilangnya repleks, terlihat setelah terjadinya cedera medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti lesi komplit, walaupun tidak seluruh bagian rusak. c. Hipoventilasi yang disebabkan karena paralysis otot interkostal dapat merupakan hasil dari cedera yang mengenai medulla spinalis didaerah servikal bawah atau torakal atas. Bila bagian atas atu tengah medulla spinalis didaerah servikal mengalami cedera, diagframa akan mengalami paralysis yang disebabkan segmen C3 C5 terkena, yang mempersarafi diagfragma melalui frenikus. d. Trombosis vena profunda adalah komplikasi umum pada cedera medulla spinalis. Pasien PVT berisiko mengalami embolisme pulmonal. e. Komplikasi lain adalah hiperfleksia autonomic(dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut, keringat banyak,kongesti nasal,piloereksi, bradikardi dan hipertensi), komplikasi lain yaitu berupa dekubitus dan infeksi (infeksi urinarius,dan tempat pin ).

2. Pencegahan Faktor faktor resiko dominant untuk cedara medulla spinalis meliputi usia, jenis kelamin, dan penyalahgunaan obat. Frekuensi factor resiko ini dikaitkan dengan cedera medulla spinalis bertindak untuk menekankan pentingnya pencegahan
13

primer.untuk mencegah kerusakan dan bencana cedera ini, langkah langkah berikut perlu dilakukan : a. Menurungkan kecepatan berkendara b. Menggunakan sabuk pengaman c. Menggunakan helm untuk pengendara motor dan sepeda d. Program pendidikan langsung untuk mencegah berkendara sambil mabuk e. Mencegah jatuh f. Menggunakn alat alat pelindung dan tekhnik latihan. I. PENATALAKSANAAN MEDIS Tindakan-tindakan untuk imobilisasi dan mempertahankan vertebral dalam posisi lurus; 1. Pemakaian kollar leher, bantal psir atau kantung IV untuk mempertahankan agar leher stabil, dan menggunakan papan punggung bila memindahkan pasien. 2. Lakukan traksi skeletal untuk fraktur servikal, yang meliputi penggunaan Crutchfield, Vinke, atau tong Gard-Wellsbrace pada tengkorak. 3. Tirah baring total dan pakaikan brace haloi untuk pasien dengan fraktur servikal stabil ringan. 4. Pembedahan (laminektomi, fusi spinal atau insersi batang Harrington) untuk mengurangi tekanan pada spinal bila pada pemeriksaan sinar-x ditemui spinal tidak aktif. 5. Tindakan-tidakan untuk mengurangi pembengkakan pada medula spinalis dengan menggunakan glukortiko steroid intravena J. PENATALAKSANAAN CEDERA MEDULA SPINALIS (FASE AKUT) Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah cedera medula spinalis lebih lanjut dan untuk mengobservasi gejala perkembangan defisit neurologis. Lakukan resusitasi sesuai kebutuhan dan pertahankan oksigenasi dan kestabilan kardiovaskuler. 1. Farmakoterapi dengan memberikan steroid dosis tinggi (metilpredisolon) untuk melawan edema medela. 2. Tindakan Respiratori a. Berikan oksigen untuk mempertahankan PO2 arterial yang tinggi. b. Terapkan perawatan yang sangat berhati-hati untuk menghindari fleksi atau eksistensi leher bila diperlukan inkubasi endrotakeal.
14

c. Pertimbangan alat pacu diafragma (stimulasi listrik saraf frenikus) untuk pasien dengan lesi servikal yang tinggi. 3. Reduksi dan Fraksi skeletal a. Cedera medulla spinalis membutuhkan immobilisasi, reduksi, dislokasi, dan stabilisasi koluma vertebrata. b. Kurangi fraktur servikal dan luruskan spinal servikal dengan suatu bentuk traksi skeletal, yaitu teknik tong /capiller skeletal atau halo vest. c. Gantung pemberat dengan batas sehinga tidak menggangu traksi 4. Intervensi bedah = Laminektomi, dilakukan Bila : a. Deformitas tidak dapat dikurangi dengan fraksi b. Terdapat ketidakstabilan signifikan dari spinal servikal c. Cedera terjadi pada region lumbar atau torakal d. Status Neurologis mengalami penyimpanan untuk mengurangi fraktur spinal atau dislokasi atau dekompres medulla. (Diane C. Braughman, 2000 ; 88-89) K. PENATALAKSANAAN CEDERA MEDULA SPINALIS POST OPERASI (DI RUMAH) 1. Mempersiapkan rumah beserta isinya pada penderita. 2. Mengadakan alat-alat pembantu 3. Mempersiapkan pekerjaan tangannya. Siapapun yang mengelola penderita ini harus dapat: a. Mengembalikan spinal augment b. Stabilitas dan tulang belakang c. Mengusahakan agar penderita mencapai kehidupan normal d. Mencegah komplikasi. 4. Latihan gerak pasif untuk ekstremitas 5. Rehabilitasi 6. Terapi Definitif a. Tujuan Terapi adalah : 1) Mempertahankan fungsi neurologic 2) Mengurangi kompresi pada saraf atau korda yang dapat dipulihkan
15

3) Menstabilkan spina 4) Merehabilitasi pasien b. Metode Terapi 1) Halo-Body cast Dengan pasien pada posisi terlentang dan kepalanya disangga oleh seorang asisten, alat halo dipertahankan pada posisi tepat di bawah bagian terlabar tengkorak. Di bawah anastesia local, empat pen steril dimasukan ke lubang halo dan disekrupkan ke bagian luar tengkorak, pen kemudian dikunci pada posisinya. Jaket gips diterapkan. 2) Dekompresi dan stabilisasi Dekompresi dapat dicapai dari depan melalui pendekatan transtoraks atau transperitoneal, atau dari belakang melalui pendekatan translaminar atau trans pedikular. L. PROMOSI KESEHATAN Memberian diet yang sesuai diantaranya: 1. Makanan yang mudah dicerna, makanan dengan porsi kecil tapi sering 2. Makanan yang tinggi kalori, protein, dan kalsium 3. Nutrisi yang seimbang, (nutrisi oral dan parenteral) 4. Mengurangi konsumsi alcohol dan rokok 5. Menghindari makanan rendah serat dan berlemak 6. Membuat jadual kegiatan dan mendampingi dalam setiap kegiatan 7. ika pasien fraktur, maka biasanya bad rest untuk itu perlu d perhatikan kebutuhan cairanya.

BAB III PENUTUP

16

A. KESIMPULAN Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth, 2001) Cedera Medula spinalis dalah cedera yang biasanya berupa fraktur atau cedera lain pada tulang vertebra, korda spinalis itu sendiri, yang terletak didalam kolumna vertebralis, dapat terpotong, tertarik,terpilin atau tertekan.. kerusakan pada kolumna vertaebralis atau korda dapat terjadi disetiap tingkatan,kerusakan korda spinalis dapat mengenai seluruh korda atau hanya separuhnya.

17