BAB I PENDAHULUAN Kejang bukan suatu penyakit, tetapi gejala dari suatu atau beberapa penyakit, yang merupakan

manifestasi dari lepasnya muatan listrik yang berlebihan di sel-sel neuron otak oleh karena terganggu fungsinya. Kejang demam pada anak merupakan kelainan neurologik yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak. Kejang demam adalah tipe kejang yang paling sering terjadi pada anak. Walaupun telah dijelaskan oleh bangsa Yunani , baru pada abad ini kejang demam dibedakan dengan epilepsy. 1,2 Kejang merupakan salah satu darurat medik yang harus segera diatasi. 2 Kejang didefinisikan sebagai gangguan fungsi otak paroksismal yang dapat dilihat sebagai kehilangan kesadaran, aktivitas motorik abnormal, kelainan perilaku, gangguan sensoris, atau disfungsi autonom.1,2 Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu badan yang tinggi ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial (ekstrakranial : ekstra = di luar, kranium : rongga tengkorak. Ekstrakranial : di luar rongga tengkorak).1 Serangan kejang demam pada anak yang satu dengan yang lain tidak sama, tergantung dari nilai ambang kejang masing-masing. Setiap serangan kejang pada anak harus mendapat penanganan yang cepat dan tepat apalagi pada kasus kejang yang berlangsung lama dan berulang. Karena keterlambatan dan kesalahan prosedur akan mengakibatkan gejala sisa pada anak atau bahkan menyebabkan kematian.2 Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2-4% dari jumlah penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Namun di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% diantara jumlah penderita mengalami kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat jenis kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki. Penderita pada umumnya mempunyai riwayat keluarga (orang tua atau saudara kandung) penderita kejang demam.

1

BAB II STATUS PEDIATRIK 2.1 Nama Umur Suku Bangsa Agama Alamat IDENTITAS PASIEN : An. AZ : 1,7 Tahun : Melayu : Indonesia : Islam : RT. 03 Ulu Gedong, Seberang Kota Jambi

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Tanggal Masuk : 18 Februari 2013 2.2 ANAMNESA

Keluahan Utama : Kejang pada seluruh badan Keluhan Tambahan : Demam ± 3 hari, mencret ± 1 hari Riwayat perjalanan penyakit : Os datang ke IGD RSUD Raden Mattaher Pada tanggal 17 februari 2013 pukul 12.50 dengan keluhan demam tinggi sejak 3 hari. Os sudah berobat ke puskesmas dan diberi obat penurun panas, tetapi hanya turun sebentar kemudian demam tinggi lagi. Os juga mengeluh BAB cair 4x/hr dalam 1 hari, ampas (+), banyaknya ¼-½ gelas belimbing/x mencret, warna kuning, lendir (-), darah (-), perut kembung. Os muntah sebanyak 2 kali, kira2 ¼ gelas aqua. Nafsu makan menurun, tapi masih mau minum. BAK masih sering (3-4x/hari), airmata masih keluar. Pada tanggal 18 Februari 2013, pukul 01.00 Os datang lagi ke IGD dengan keluhan kejang sebanyak 2 kali dalam satu hari. Durasi kejang ± 5 menit. Semua anggota tubuh ikut bergerak, mata mendelik ke atas, Jarak kejang pertama dengan kejang ke dua ± 6 jam. Setelah kejang Os kembali sadar dan menangis. Demam masih tinggi, hilang dengan obat penurun panas sebentar, lalu tinggi kembali, Sesak napas (-), pingsan (-). BAB masih cair 4x/hari, ampas (+), banyaknya ¼-½ gelas belimbing/x mencret, warna kuning, lendir (-), darah (-), perut kembung.

2

Riwayat Penyakit Dahulu: - Riwayat penyakit dengan keluhan dan gejala yang sama sebelumnya disangkal - Riwayat trauma kepala disangkal Riwayat Penyakit Keluarga: - Penyakit dengan keluhan dan gejala yang sama dalam keluarga disangkal. Riwayat Sebelum Masuk Rumah Sakit 1. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran Masa Kehamilan Partus Tempat Ditolong oleh Tanggal BBL PB 2. Riwayat Makanan ASI Susu Botol / kaleng Bubur susu Nasi TIM / lembek Nasi Biasa Daging, Ikan, Telur Tempe dan Tahu Sayur dan Buah Kesan 3. Riwaya Imunisasi BCG Polio DPT : (+) : (+) : (+) Campak Hepatitis Kesan : (+) : (+) : Imunisasi Dasar Lengkap : ASI sejak lahir hingga sekarang : sejak 3 bulan – 1 tahun : (-) : usia 6 bulan – 1 tahun : (+), sejak umur 1 tahun hingga sekarang : (+) : (+) : (+) : Sumber Nutrisi cukup : Aterm : Fisiologis spontan / pervaginam : Puskesmas : Bidan : 31-7-2011 : 2600 gram : 49 cm

3

5 Kg TB = 85 cm BB/TB : Z score -2 SD sampai dengan + 2 SD (normal) BB/U : Z score -2 SD sampai dengan +2 SD (gizi baik) TB/U : Z score -1 SD sampai dengan +1 SD (normal) 8. perkembangan sama dengan anak normal lainnya 5.4. Riwayat Perkembangan Fisik meskipun ibu os ada yang lupa umur pasti riwayat perkembangan fisik anak 6. Status Gizi BB = 10. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita Parotitis : (-) Pertusis : (-) Muntah Berak : (-) Asma : (-) : (-) : (-) : (+) : (-) : Aktif : (-) 4 . Riwayat Perkembangan Mental Isap Jempol Ngompol Sering Mimpi Aktifitas Membangkang Ketakutan 7. Riwayat Keluarga Perkawinan Umur Pendidikan Saudara Gigi Pertama Berbalik Tengkurap Merangkak Duduk Berdiri Berjalan Berbicara Kesan ::: SMP : Pasien anak ke 3 dari 3 bersaudara :: 2 bulan : 4 bulan : 9 bulan : 8 bulan : 10 bulan : 14 bulan : 10 bulan : Baik.

Difteri : (-) Tetanus : (-) Campak : (-) Varicella : (-) Thypoid : (-) Malaria : (-) DBD : (-) Batuk Pilek : (+) Radang Paru : (-) TBC : (-) Perut Kembung : (+) Alergi : (-) Anamnesa Organ Kepala Sakit Kepala : Rambut Rontok : Lain-lain : Telinga Nyeri : Sekret : Gangguan Pendengaran : Tinitus Gigi Mulut Sakit gigi Sariawan Gusi Berdarah Tenggorakan Sakit menelan Leher Kaku kuduk ::::::- Cacingan : (-) Patah Tulang : (-) Jantung : (-) Sendi Bengkak : (-) Kecelakaan : (-) Operasi : (-) Keracunan : (-) Sakit Kencing : (-) Sakit Ginjal : (-) Kejang : saat ini Lumpuh : (-) Otitis Media : (-) Mata Rabun Senja : Mata Merah : Bengkak : Hidung Epistaksis : Kebiruan : Penciuman : dbn Sakit membuka mulut Rhagaden Lidah kotor :::- Gangguan mengecap : - Suara serak :- 5 .

julah ±½ piring :+ :+ ::+ : Cair : 4x/hari : kekuningan :::::- 6 . Hepar ::::::::::Sesak waktu malam Berdebar Sakit saat bernapas Dingin ujung jari Kebiruan :::::- Napas bunyi / mengi : Pengelihatan berkurang : Keringat Malam Hari : + Tinja seperti dempul : Sakit Kuning Kencing warna tua b.Tortikolis Parotitis Jantung Paru Nyeri dada Sifat Penjalaran Sesak Napas Batuk Pilek Sputum Batuk darah Sembab Abdomen a. Lambung dan Usus Nafsu makan Frekuensi/jumlah Perut kembung Mual / muntah Muntah darah Menceret Konsistensi Frekuensi Warna Tinja berlendir Tinja berdarah Sukar BAB Sakit perut Lokasi : Berkurang ::- Kuning di sclera dan kulit Perut Kembung Mual / muntah ::+ :+ : 1-2 kali sehari.

Endokrin ::: dbn : dbn :::::::+ Lama Interval Frekuensi Jenis Kejang Badan Kaku Tidak Sadar Mulut mencucu Trismus Panas : 5 menit : 6 jam : 2 kali : Kejang umum :+ : selama kejang ::: + Febris Sering minum : Sering kencing : Sering makan : Keringat dingin : Tanda pubertas preoks : - c. Alat Kelamin dan Anus Hernia Bengkak ::- 7 . Syaraf dan Otot Hilang rasa Kesemutan Otot Lemas Otot Pegal Lumpuh Kejang Sembab kelopak mata : - Riwayat Kejang keluarga : Disangkal Kejang pertama usia : Riwayat trauma kepala : disangkal f.Sifat Sakit kuning Warna keruh :d. Ginjal dan Urogenital Frekuensi miksi Jumlah Edema Tungkai e.

3 PEMERIKSAAN FISIK : Tampak lemas. rewel : Composmentis : Berbaring : 10.2.5 Kg : 85 cm : BB/TB normal dan BB/U gizi baik :::::+ : 38 0C : 25 x/ menit : Torakoabdominal : baik (< 2 detik) : 100/70 mmHg : 103 x/menit : cukup : equal : teratur Pulsus tardus : Pulsus celler : Pulsus trigeminus : Pulsus magnus: Pulsus parvus : Pulsus bigerminus : - Keadaan Umum Kesadaran Posisi BB PB Gizi Edema Sianosis Dyspnoe Ikterus Anemia Suhu Resepirasi Tipe Pernapasan Turgor Tekanan Darah Nadi Frekuensi Isi / kualitas Equalitas Regularitas Pulsus Defisit : Pulsus alternant : Pulsus paradox : Kulit Warna : Sawo matang Vesikula Pustula Sikatriks Edema Eritema :::::- Hipopigmentasi : Hiperpigmentasi : Ikterus Bersisik Makula :::- Haemangiom ptechie : - 8 .

Papula :- Skrofuloderma : - 2.4 PEMERIKSAAN KHUSUS Kepala Bentuk Rambut Warna Kehalusan Alopesia Sutura UUB : normocephal : Lurus : Hitam : cukup ::: Sedikit cekung Lingkar Kepala : 49 cm Mudah rontok : - Cracked pot sign : Cranio tabes : MUKA ALIS Roman muka Bentuk muka Sembab Simetris MATA Sorot mata Hipertelorisme Sekret Epifora Pernanahan KELOPAK MATA Cekung Edema Ptosis Lagoptalmus Kalazion : sedikit : (-) : (-) : (-) : (-) Ektropion Entropion Haemangioma Hordeolum : (-) : (-) : (-) : (-) : wajar : (-) : (-) : (-) : (-) Endophthalmus Exophthalmus Nistagmus Starbismus Cekung : (-) : (-) : (-) : (-) : sedikit :dbn : dbn ::+ Kerapatan Alopesia : dbn :Mudah rontok : - 9 .

KONJUNGTIVA Pelebaran vena Infeksi Bitot spot SKLERA Ikterik IRIS Bentuk Ukuran ±3mm TELINGA Bentuk Kebersihan Sekret Tophi HIDUNG Bentuk Saddle nose Gangren BIBIR Bentuk Warna Bibir kering Rhagaden Sikatrik Cheitosis Sianosis : dbn : merah muda : (+) : (-) : (-) : (-) : (-) : dbn : (-) : (-) Labioschiziz Bengkak Vesikel Oral rush Trismus Bercak koplik Palatoschizis : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) Membran timpani : suli : dbn : cukup : (-) : (-) Coryza Mukosa edema Epistaksis Deviasi septum : (-) : (-) : (-) : (-) Nyeri tekan mastoid : (-) Nyeri tekan daum telinga : (-) : bulat : Isokor Refleks cahaya lgsg : (+) : (+) : (-) : (-) : (-) : (-) Xerosis Ulkus Refleks Anemis : (-) : (-) : (-) : (+) Perdarahan subconj. : (-) 10 .

GIGI Kebersihan Karies LIDAH Bentuk Gerakan Tremor Warna Selaput FARING-TONSIL Warna Edema Selaput LEHER Inspeksi Struma Pulsasi Palpasi Kaku kuduk Pergerakan : (-) : bebas Struma : (-) : (-) : (+) Tortikolis Bullneck Parotitis : (-) : (-) : (-) Bendungn vena : (-) Limpadenopati : (-) : dbn : (-) : (-) Pembesaran tonsil : (+) Ukuran Simetris : T2/T2 : (-) : dbn : dbn : (-) : merah muda : (-) Hiperemis Atropi papil Makroglosia Mikroglosia : (-) : (-) : (-) : (-) : cukup : (-) Hutchinson Gusi : (-) : (+) THORAK DEPAN DAN PARU Inspeksi Statis : Bentuk Simetris Vousure cardiac Clavikula : simetris : (+) : (-) : dbn Sternum Bendungan vena Tumor Sela iga : dbn : dbn : (-) : (-) 11 .

Spinosus: dbn : simetris Scapula Skoliosis : (-) : dbn : regular : regular : (-) : dbn : dbn Batas atas Batas bawah : dbn : dbn : dbn : (-) : (-) Aktivitas jantung ka : dbn Aktivitas jantung ki : dbn : (-) : tidak tampak : tidak tampak : vesikuler Bunyi napas tambahan (-) : sonor : (-) Batas paru-hati Peranjakan : dbn : dbn : (-) : (-) Krepitasi : (-) : abdominotorakal : (-) 12 .Inspeksi Dinamis Bentuk pernapasan Retraksi Palpasi Nyeri tekan Fraktur iga Perkusi Bunyi ketuk Nyeri ketuk Auskultasi Bunyi napas pokok Jantung Inspeksi Vousure cardiac Ictus cordis Pulsasi jantung Palpasi Ictus cordis Thrill Defek pulmonum Perkusi Batas kiri Batas kanan Auskultasi Bunyi jantung I Bunyi jantung II Bising jantung THORAK BELAKANG Inspeksi Statis Bentuk Proc.

peristaltik usus: (-) Bendungan vena: (-) Ascites : (-) : (-) Nyeri tekan : (-) : (-) Nyeri tekan : (-) : (-) : (-) 13 .Khiposis Lordosis Palpasi Perkusi Auskultasi ABDOMEN Inspeksi Bentuk Spider nevi Palpasi Nyeri tekan Nyeri lepas Perkusi Timpani Auskultasi Bising usus HEPAR Pembesaran LIEN Pembesaran GINJAL Pembesaran Nyeri tekan : (+) ↑ : (+) : (-) : (-) : (-) : (-) : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan Gibus : (-) : simetris : (-) Gambaran usus Turgor Defans muskular Shifting dullness : (-) : baik :(-) : (-) Gamb.

8) 14 .0-50.100-.55 x 106/mm3 : 10.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah Rutin .HCT .#LYM .WBC .8 % : .5) (35.2 x 103/mm3 : 4.500) (1.#MON .RBC .0 x 103/mm3 (3.8) (11.0) (.HCT .2-6.PCT .#GRA : 14.179 : 5.6 x 103/mm3 : 0.5-10.HGB .0-50.3-3.PLT . Getah bening Edema Sikatrik Genitalia Anus EKSTREMITAS Bentuk Deformitas Edema Tropi Pergerakan Tremor Chorea Lain-lain : simetris : (-) : (-) : (-) : bebas : (-) : (-) : (-) : dbn : dbn : (-) : (-) : dbn : dbn Desensus testikulorum: dbn 2.0) (150-390) (35.8) (1.0) (3.8-5.0-16.3-0.4 g/dl : 32.8 % : 354 x 103/mm3 : 32.2) (0.6 x 103/mm3 : 6.LIPAT PAHA DAN GENITAL Kulit Kel.

9 TERAPI Medikamentosa IFVD RL 32 TPM mikro (4 jam pertama).3) (96-100) Elektrolit : Natrium (Na) : 130. Neuroimaging 2.5-5. EEG. selama 2 minggu.52 mmol/L : 107.41 mmol/L 2. Ceftriaxon 1 x 700 mg/hr IV selama 5 hari Supportif Curcuma syrup 1x1 cth Peemberian makanan bergizi Edukasi 15 .9 mmol/L Kalium (K) Clorida (Cl) : 3.GDS : 165 mg/dl (135-148) (3. Dilanjutkan KAEN 3A 48 TPM mikro O2 2 L/menit Stesolid rektal 10 mg (pada saat kejang) Paracetamol Sirup 3 x 1 cth Diazepam 3 mg per 8 jam (Intermitten) Oralit 100 ml tiap kali mencret Zinc 20mg per hari.6 PEMERIKSAAN ANJURAN Pungsi Lumbal.8 DIAGNOSA KERJA Kejang Demam Sederhana + GEA 2.7 DIAGNOSA DIFERENTIAL Kejang Demam Epilepsi Meningitis 2.

mencret O = KU lemas N : 156 x/i RR : 22x/I T : 39.2.10 PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungtionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam Quo ada sanationam : dubia ad bonam 2. BAB masih cair. O = KU tampak lemas TD:100/70 mmHg. Kejang (-).11 FOLLOW UP Hari/Tanggal Minggu/ 17 – 2 – 2013 Evaluasi Tindakan S= Os masuk IGD pukul 01.00 dengan Cek : Darah rutin.5oC A = Kejang Demam Sederhana + GEA P = Th/ IFVD RL 32 tts/menit mikro (4 jam pertama) O2 2 L/menit Stesolid rektal 10 mg (pada saat kejang) Paracetamol Sirup 3 x 1 cth Senin/ 18 – 2 – 2013 S = Demam masih (+). demam kimia darah. keluhan kejang seluruh tubuh. N: 110 x/i RR : 28x/i T : 38oC A = Kejang Demam Sederhana + GEA P = Th/ 16 . urin rutin. GDS tinggi.

O= ku lemas.60C A = Kejang Demam Sederhana P = Th/ IVFD KAEN 3A 42 tts/menit mikro Oralit 100 ml tiap kali mencret ` Zinc 20mg per hari Ceftriaxon 1 gr + D5% 100 cc 17 .80C A = Kejang Demam Sederhana P = Th/ IVFD KAEN 3A 42 tts/menit mikro Oralit 100 ml tiap kali mencret Zinc 20mg per hari Ceftriaxon 1 gr + D5% 100 cc \ Rabu/ 20 – 2 – 2013 S = Demam (-). rewel TD : 100/70 mmHg RR: 32x/i N: 113x/i T : 36. BAB cair (-). rewel TD : 100/70 mmHg RR: 26x/i N: 103x/i T : 37.IVFD KAEN 3A 42 tts/menit mikro Oralit 100 ml tiap kali mencret Zinc 20mg per hari Ceftriaxon 1 gr + D5% 100 cc Selasa/ 19 – 2 – 2013 S = Demam masih (+). Kejang (-). O= ku lemas. Kejang (-). BAB cair (+) berkurang.

Kamis / 21 – 2 – 2013 O= ku lemas. Kejang (-). BAB cair (-). BAB cair (-). O= ku lemas.50C A = Kejang Demam Sederhana P = Th/ IVFD KAEN 3A 42 tts/menit mikro Oralit 100 ml tiap kali mencret Zinc 20mg per hari Nystin 4 x 1 amp S = Demam (-) Kejang (-). rewel TD : 100/70 mmHg RR: 25x/i N: 113x/i T : 36.S = Demam (-). rewel Jum’at / 22 – 2 .2013 TD : 100/70 mmHg RR: 30x/i N: 119x/i T : 360C A = Kejang Demam Sederhana P = Th/ IVFD KAEN 3A 42 tts/menit mikro Oralit 100 ml tiap kali mencret Zinc 20mg per hari Ceftriaxon 1 gr + D5% 100 cc 18 .

BAB III ANALISIS KASUS 3. kejang sudah dapat terjadi pada suhu 38oC. dan dalam waktu yang singkat dapat terjadi difusi ion kalium listrik. kejang baru dapat terjadi pada suhu 40oC atau lebih 4. sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi. hipoglikemia. laktat asidosis disebabkan metabolism anaerob.meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet sedangkan otot pernafasan tidak efisien sehingga tidak sempat bernafas yang akhirnya terjadi hipoksemia. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu. Definisi ini menyingkirkan penyakit saraf separti meningitis. hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh yang semakin meningkat oleh karena meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otot meningkat. Pada kejang yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya apnea. Kejang keadaan ini mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadan yang mendasarinya mengenai susunan saraf pusat.1 Definisi dan Patofisiologi Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Pada keadaan demam. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron. kenaikan 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat sampai 20%3. Kejang demam harus dibedakan mengenai epilepsi. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul oedem otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron. hiperkapnea. yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam3. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke membran tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah. ensefalitisatau enselopati.Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah 19 .

Diare osmotik terjadi karena terdapatnya bahan yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus akan difermentasi oleh bahteri usus sehingga tekanan osmotik di lumen usus meningkat yang akan menarik cairan. Berdasarkan definisi tersebut kasus ini dapat dikategorikan sebagai diare akut5.4: Didahului oleh kenaikan suhu yang cepat. biasanya terjadi bila suhu diatas390 C Kehilangan kesadaran Kejang menyeluruh Serangan berupa kejang klonik atau tonik. misal pada diabetik neuropathi. post vagotomi. sehingga banyak cairan dan elektrolit yang terbuang keluar tubuhnya5. Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu diare osmotik. Kematian disebabkan karena dehidrasi. Sedangkan diare karena gangguan motilitas usus terjadi akibat adanya gangguan pada kontrol otonomik.2% anak usia 1-4 tahun. Diare sekretorik terjadi karena toxin dari bakteri akan menstimulasi cAMP dan cGMP yang akan menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit. Penyebab terbanyak usia 0-2 tahun adalah infeksi rotavirus.2 Anamnesa Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak terkait dengan kenaikan suhu yangcepat dan biasanya terjadi jika suhu tubuh (rectal) mencapai 380C atau lebih. 3. Pada pasien ini kemungkinan merupakan diare diare sekretorik oleh toksin bakteri. Manifestasi klinik yang sering dijumpai adalah 2. sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus. Diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25. Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 2 minggu. selain virus diare juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun parasit.2.klonik bilateral Mata mendelik ke atas 20 . post reseksi usus serta hipertiroid.sehingga di dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita menjadi kejang1.3 Pasien ini usia 1 tahun mengalami diare cair > 10 kali dalam 24 jam dan berlangsung baru 3 hari ini.

lendir (-). perut kembung. mencret dan muntah. badan lesu atau lemah. ampas (+). tetapi hanya turun sebentar kemudian demam tinggi lagi. darah (-). Os datang ke IGD RSUD Raden Mattaher Pada tanggal 17 februari 2013 pukul 12. 6 Dari anamnesa pasien ini diketahui bahwa seorang anak laki-laki. Os juga mengeluh BAB cair 4x/hr dalam 1 hari. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi. yang kadang disertai muntah. penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu. warna kuning. nyeri otot atau kejang. Os sudah berobat ke puskesmas dan diberi obat penurun panas. muntah. darah dan lendir dalam kotoran. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare. demam. tinja berdarah. Dengan keluhan tambahan. serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak demam.50 dengan keluhan demam tinggi sejak 3 hari.- Anak dapat menahan napasnya tanpa sadar Dapat mengeluarkan suara seperti teriakan melengking atau menangis Mungkin mengompol Selanjutnya diikuti gerakan ritmis berulang seluruh tubuh yang involunter yang tidak dapat dihentikan - Setelah kejang pasien mengalami periode mengantuk singkat Setelah beberapa detik atau menit anak akan bangun dan sadar kembalitanpa adanya defisit neurologis - Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis Tood) yang berlangsung beberapa jam atau beberapa hari Gejala diare atau mencret berupa tinja yang encer dengan frekuensi 3 x atau lebih dalam sehari. Dari allo anamnesa diketahui bahwa. banyaknya ¼-½ gelas belimbing/x mencret. demam tinggi sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut. dengan berat badan 10. datang ke IGD RS Raden Mattaher dengan keluhan kejang pada seluruh badan. tidak nafsu makan. panas. Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus.5 Kg. dan sakit kepala. umur 1 tahun 7 bulan. Os muntah 21 .

tidak melebihi 15 menit 3. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang adalah normal 6. Kejang bersifat umum 4. Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan).sebanyak 2 kali. rasa haus. mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Semua anggota tubuh ikut bergerak. banyaknya ¼-½ gelas belimbing/x mencret. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 4 tahun 2. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput. Demam masih tinggi.7 a. pingsan (-). BAB masih cair 4x/hari. turgor kulit abdomen menurun. 3. mata mendelik ke atas. Kejang berlangsung sebentar.6 Derajat dehidrasi ditegakkan bila terdapat 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda tambahan. tapi masih mau minum. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun kurang dari 4x 7. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan kelainan Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering.00 Os datang lagi ke IGD dengan keluhan kejang sebanyak 2 kali dalam satu hari. 22 . airmata masih keluar.4 : 1. Pada tanggal 18 Februari 2013. biasanya menyebabkan syok. pukul 01. Dehidrasi berat bisa berakibat fatal. Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit dan sering disertai dengan asidosis metabolik karena kehilangan basa. darah (-). Setelah kejang Os kembali sadar dan menangis. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. perut kembung. Sesak napas (-). Durasi kejang ± 5 menit.3 Pemeriksaan fisik Berdasarkan kriteria Livingstone. ampas (+). atau lemah/letargi/koma. sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak. BAK masih sering (3-4x/hari). Nafsu makan menurun. lendir (-). lalu tinggi kembali. sebagai pedoman untuk membuat diagnosa kejang demam sederhana yaitu sebagai berikut1.6. kira2 ¼ gelas aqua. warna kuning. hilang dengan obat penurun panas sebentar. Jarak kejang pertama dengan kejang ke dua ± 6 jam. Tanda Utama: keadaan umum gelisah/rewel.

Tabel 1. mata (+) Rasa Haus Kulit Minum Normal. ronkhi (-). dengan tanda-tanda vital: tekanan darah 100/70 mmHg.50C pada saat masuk rumah sakit. ubun-Ubun sedikit cekung. pada perawatan hari ke-3 telah turun menjadi 38 0C. 5-10% Letargik/ koma Sangat cekung Sangat cekung. didapatkan konjungtiva palpebra inferior anemis. Tanda Tambahan: UUB. Pada pemeriksaan fisik kepala. Pada dada tidak terdapat retraksi. Air mata kurang Kering Tampak Kehausan Kembali lambat & Keadaan Umum Baik. tidak Kembali mau minum sangat lambat Gelisah/ – Rewel Sedikit cekung Sedikit Cekung. Wheezing (-). Tidak Haus Dicubit kembali cepat 23 . suhu 39. mata (-) Sangat air kering Sulit. air mata. dan lidah. distensi.b. kelopak mata. Pada abdomen didapatkan. mulut. Sadar UUB Tidak cekung Mulut/ Lidah Basah air Mata Tidak cekung. frekuensi nadi 25x/menit. iketrik (-/-). mukosa bibir.1 Derajat Dehidrasi pada Pasien Diare Gejala Tanda Tanpa Dehidrasi Kehilangan cairan < 5% BB Dehidrasi Ringan Sedang Kehilangan cairan BB Dehidrasi Berat Kehilangan cairan > 10% BB Dari pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan: kesadaran composmentis.

perdarahan kulit. Maka diagnosa pada pasien ini adalah Kejang Demam Sederhana Dengan Gastroenteritis Akut derajat dehidrasi ringan sedang. Bila dicurigai adanya meningitis bakterialis dilakukan pemeriksaan kultur darah. peningkatan sel darah putih. kejang bersifat umum dan frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun kurang dari 4x. Pungsi lumbal Pemeriksaan cairan cerebrospinalis dilakukan untik menyingkirkan kemungkinan meningitis. Di mana didapatkan bahwa. Pemeriksaan ekstremitas. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium pada anak kejang ditujukan selain untuk mencari etiologi kejang juga untuk mencari komplikasi akibat kejang yang lama. bising usus normal. nyeri tekan (-). 3. 24 . akral dingin (-).18 bulan dan dipertimbangkan pada anak berumur diatas 18 bulan. Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 12 bulan. paresis. usia pasien 1 tahun 7 bulan. Pemeriksaan yang dianjurkan pada kejang yang pertama adalah kadar glukosa darah.dianjurkan pada pasien berumur 12. dan kultur cairan cerebrospinalis4. dengan kejang yang berlangsung ± 5 menit. kecuali bila didapatkan kelainan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.7 2.4 Pemeriksaan penunjang 1. gejalainfeksi. oleh karenanya tidak diindikasikan pada kejang demam. terutama pada pasien dengan kejang demam yang pertama. maka pasien ini termasuk ke dalam klasifikasi kejang demam sederhana. Selain itu pungsi lumbal dapat dipertimbangkan pada pasien dengan kejang disertai penurunan status kesadaran.hitung jenis dan prorombin time.3. Analisa gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. kecuali apabila ada tanda intoleransi laktosa dan kecurigaan amubiasis. tidak ada sianosis. Jenis pemeriksan laboratorium disesuaikan dengan kebutuhan. elektrolit.turgor baik (<2 detik). Pada kejang demam beberapa peneliti menemukan kadar yang normal terhadap pemeriksaan diatas. atau tidak adanya faktor pencetusyang jelas. kaku kuduk. Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada diare akut. Dengan menggunakan kriteria-kriteria \ tersebut.

Neuroimaging Pemeriksaan ini meliputi CT Scan dan MRI. epolepsi lobustemporalis.92 mmol/l). Ternyata hasil pemeriksaan elektrolitnya ditemukan hiponatremia (130. 3. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap untuk melihat adakah tandatanda infeksi maupun kelainan lainnya. sehingga hasil-hasil pemeriksaan penunjang ini dapat dipertimbangkan untuk menentukan terapi selanjutnya. ternyata ditemukan leukositosis (14. Pada psien ini juga dilakukan pemeriksaan elektrolit dengan pertimbangan klinis anak yang tampak sangat lemah dan letargis ditambah diarenya cair dan frekuansinya > 4x/hari. EEG dan Neuroimaging. Kira.3. Dan dilakukan juga pemeriksaan feses rutin untuk melihat adakan tanda-tanda infeksi bakteri maupun parasit. Elektroensefalografi Saat ini EEG tidak diindikasikan untuk anak-anak dengan kejang demam demam sederhana. Menurut American Academy of Pediatric EEG tidak dianjurkan pada penderita kejang demam sederhana maupun kompleks. ternyata hasil pemeriksaan feses rutinnya tidak ditemukan bakteri maupun parasit.5 PENATALAKSANAAN 25 . Jika memungkinkan.kira30% penderita yang mengalami perlambatan di posterior akan menghilang 7-10 hari kemudian. 4. Akan tetapi EEG yang dikerjakan 1 minggu setelah kejang demam dapat abnormal. karena hasil studi menunjukan bahwa mayoritas dari anak-anak dengan kejang demam sederhana mempunyai gambaran EEG yang normal. MRI dapat dipertimbangkan pada anak dengan kejang yang sulit diatasi. biasanya berupa perlambatan di bagian posterior. sehingga sangat mungkin sudah terjadi gangguan keseimbangan elektrolit pada pasien ini. Kedua pemeriksaan ini diindikasikan pada pasien yang dicurigai terdapat lesi intrakranial berdasarkan adanya riwayat pemeriksaan neurologis yang abnormal. perkembangan terlambat tanpa adanya kelainan pada kelainan padaCT Scan dan bila terdapat lesi ekuivokal pada CT Scan. anjuran pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah lumbal pungsi.500/mm3).

Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali . Pengobatan profilaksis intermittent dengan antikonvulsan segera diberikan pada waktu pasien demam (suhu rektal lebih dari 38ºC). Pada pasien ini diberikan antipiretik paracetamol sirup 3 x 1 sendok takar. yaitu pemberian Diazepam dengan dosis IV 0.5 mg/KgBB atau diazepam rectal dengan anak berat > 10 Kg.Terapi Kejang Penatalaksanaan yang diberikan.3-0. serta fungsi jantung dan paru.4 kali sehari. Terapi yang diberikan sesuai dengan tatalaksana kejang. Berdasarkan Konesus IDAI mengenai penatalaksanaan kejang demam. Antipiretik pilihan adalah parasetamol 10-15 mg/kg yang sama efektifnya dengan ibuprofen 5 mg/kg dalam menurunkan suhu tubuh 3. pemberian Antipiretik pada saat demam dianjurkan. dengan dosis 10 mg. Asetaminofen dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan.3 . Dosis asetaminofen yang digunakan berkisar 10 –15 mg/kg/kali diberikan 3-4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. meskipun jarang. pasien diberi oksigen 2 L/menit untuk menjamin oksigenasi jaringan otak. Dengan perhitungan. Pemberian atikonvulsan. walaupun tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam. 1 sendok takar = 120 mg (5mL). yaitu pemakaian diazepam 26 .

iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25 – 39 % kasus.40 mg/kg/hari dalam 2 . Antibiotik disini diberikan karena dijumpai leukositosis pada pemeriksaan darah perifer. misalnya disentri (diare berdarah) atau kolera. dihentikan dalam 1-2 bulan.2 dosis.oral dosis 0. hidrosefalus. Antibiotik diberikan bila ada indikasi.5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu > 38. pasien ini tidak memenuhi kriteri untuk indikasi pemberian obatan rumatan. selain itu juga dapat meningkatkan resistensi kuman terhadap antibiotik. Terapi Diare Tidak boleh diberikan obat anti diare. Maka pasien ini diberikan antikonvulsan profilaksis intermitten Diazepam oral 3 mg per 8 jam. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang. Perngobatan rumat dipertimbangkan bila: 1. Untuk mengetahui sumber infeksi. Karbamazepin. retardasi mental.3 dosis dan fenobarbital 3 4 mg/kg per hari dalam 1 . Berdasarkan ciri di atas. 27 .5 0 C. Dosis asam valproat 15 . Sementara Fenobarbital. 3. oleh sebab itu tidak diberikan. Pemberian obat rumatan hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu)3: 1. Diberikan 1 tahun bebas kejang. Tetapi dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia. misalnya hemiparesis.3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang (1/3 2/3 kasus). Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan 3.7 Pada pasien ini diberikan antibiotik yaitu ceftriaxon 1 x 700 mg/hr IV yang berspektrum luas selama 5 hari. palsi serebral. Kejang lama > 15 menit 2. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam 2. Kejang fokal 4. paresis Todd. begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0. dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam 3. sehingga dapat dipikirkan adanya infeksi bakteri baik primer maupun sekunder pada pasien ini. kejang demam > 4 kali per tahun Obat pilihan saat ini adalah asam valproat meskipun dapat menyebabkan hepatitis namun insidensnya kecil. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat mengganggu keseimbangan flora usus sehingga dapat memperpanjang lama diare.

7 Pada pasien ini diberikan rehidrasi pertama dengan cairan ringer laktat.5-10) x 50 ml/24 jam = 1000 +25 ml/24 jam = 1025 ml/24 jam Peningkatan suhu tubuh pada pasien ini 10C maka ditambahkan 12% = 123 ml/24 jam. Bila diare profus dengan pengeluaran air tinja yang banyak ( > 100 ml/kgBB/hari) atau muntah hebat (severe vomiting) sehingga penderita tak dapat minum sama sekali. tetapi tidak mengandung elektrolit yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup.5. 28 . Jadi total kebutuhan rumatan pasien ini adalah 1148 ml/24 jam = 16 tts makro/menit = 48 tts mikro/menit. Cairan Ringer Laktat (RL) adalah cairan yang banyak diperdagangkan dan mengandung konsentrasi natrium yang tepat serta cukup laktat yang akan dimetabolisme menjadi bikarbonat. Namun demikian kosentrasi kaliumnya rendah dan tidak mengandung glukosa untuk mencegah hipoglikemia.pada anak-anak paling sering gejala diare akut disebabkan oleh infeksi pada liang telinga. walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang. atau kembung yang sangat hebat (violent meteorism) sehingga upaya rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi parenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat. Jadi tidak ada salahnya anak dikonsulkan ke THT. Terapi Cairan Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi efektif diare akut. Kebutuhan rumatan : 10-20 Kg = 1000 + (BB-10) x 50 ml/24 jam = 1000 + (10. Sehingga ringer laktat lebih dipilih dari NaCl7. Cairan NaCL dengan atau tanpa dekstrosa dapat dipakai.6 Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parateral. Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai berdasarkan berat badan yang hilang sebagai persentasi kehilangan total berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya sebagai baku emas. Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik.

Cairan untuk dehidrasi ringan-sedang: 4 jam I = 75 cc/KgBB/4jam (mikro) = 75 cc x 10.kadar K terukur x kgBB x 0. Pemberian Zink 29 .4 + 2 mEq/kgBB/24 jam. diberikan dalam 4 jam pertama 3.Kadar K 2.5 kg) Koreksi : (135 – 130. . Pada pasien ini didapatkan hasil eletrolitnya berupa hiponatremia (130.5 ml/4 jam = 32 tts/menit mikro = 10 tts/menit makro Setelah 4 jam lanjutkan maintenance.5) Koreksi dilakukan berdasarkan kadar kalium . diberikan dalam 20 jam berikutnya. Koreksi elektrolit Setelah dilakukan rehidrasi baru dilakukan cek elektrolit.5-3.5 mEq/L dalam 24 jam bisa didapatkan dari maintenance 300 cc KAEN 3A (Na: 60 mEq/L).83 mEq/L + kebutuhan Na /hari (10.kadar K terukur x kgBB x 0. berikan KCL melalui drip intravena dengan dosis: 3. harus dikoreksi dengan cara:7 • Hiponatremia (Na: < 135) Kadar natrium koreksi (mEq/L) = 135 – kadar Na serum x 0.5 mEq/L.Kadar K < 2. Bila terjadi gangguan keseimbangan elektrolit seperti kasus ini. berikan KCL 75 mEq/kgBB/oral/hari dibagi 3 dosis.6 x 10.6 x kgBB Diberikan dalam 24 jam • Hipokalemia (K: < 3.9 mEq/L) sehingga harus dikoreksi.5 .5 mEq/L.4 + 1/6 x 2 mEq x BB.5x3) = 31.9) x (0.5/4 jam (mikro) = 787.5 .5) = 25. Berdasarkan teori tersebut ketikseimbangan elektrolit pada pasien diare akut dengan dehidrasi ringan sedang ini dapat dikoreksi dengan cara: Hiponatremia pada pasien ini (BB: 10.

(5) penyediaan air minum yang bersih. Berikan diazepam per rektal. Tetap tenang dan tidak panik 2. Kendorkan pakaian yang ketat. Memberitahukan cara penanganan kejang 3. Pemberian obat pencegahan memang efektif. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik 2. Jangan diberikan jika kejang telah berhenti. Seng/Zink elemental diberikan selama 10-14 hari meskipun anak tidak diare lagi. (3) kebersihan lingkungan. jangan masukkan apapun ke dalam mulut. 7. posisikan anak telentang dengan kepala miring. buang air besar dijamban. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau hidung. Jika tidak sadar. cuci tangan sebelum makan. (2) kebersihan perorangan. Walaupun ada risiko lidah tergigit. tetapi harus diingat risiko efek samping obat Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang : 1. (4) imunisasi campak bila belum. catat lama dan bentuk/sifat kejang 5. 3. Saat perawatan dan saat pasien hendak dipulangkan sebaiknya diberikan edukasi kepada orang tua pasien sebagai langkah promotif/preventive berupa: (1) ASI tetap diberikan. (6) selalu memasak makanan (7) sebelum menggunakan botol susu.6. terutama sekitar leher 3. diantaranya dapat dilakuakan: 1. Tetap bersama anak selama kejang 6. Memberi informasi tentang risiko kejang berulang 4. Ukur suhu tubuh. Bawa ke dokter atau rumah sakit jika kejang berlangsung 5 menit. Edukasi Edukasi yang perlu diberikan kepada orang tua untuk mengurangi kecemasan akan terjadinya kejang berulang.Zink terbukti secara ilmiah dan terpercaya dapat menurunkan frekuensi buang air besar dan volum tinja sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. 4. dengan dosis7: Anak umur dibawah 6 bulan : 10 mg/hari Anak umur diatas 6 bulan : 20 mg/hari Itu sebabnya pada pasien ini diberikan zink sirup 1 x 20 mg/hari. sebaiknya botol dan tutup serta dotnya 30 .

direbus pada suhu 70˚C selama 5-10 menit. (8) menjelaskan cara pemberian oralit dan penanganan utama mengatasi diare dirumah. 31 .

Nelson. Kejang Demam. Diare akut dalam: Standar pelayanan medis kesehatan anak. Jilid II. Faizi M.11. Jakarta. Juni 2008. Putra Deddy Satriya dari : Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad / FK UNRI). 2. 2009. 58-61. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. 2007. 49-52 6. 2010. 5. edisi 15.pediatrik. 4. et all.com. dkk. Pusponegoro Hardiono D. Jakarta.dr-deddy.com/artikel-kesehatan/1-diare-akut-padaanak. Pudjiaji AH. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Badan Penerbit IDAI. Ismael Sofyan. Jakarta. Widodo Dwi Putro. Pusponegoro HD. Handryastuti S.DAFTAR PUSTAKA 1.2000. Edisi 1. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. dkk. Diunduh dari URL: http://www. www. diakses tanggal 20 Februari 2013 3.html 7. Hegar Badriul. kejang demam. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Hassan Ruspeno. Badan Penerbit IDAI. Jilid I. Ilmu Kesehatan Anak. 32 . 2004. Upaya Mengurangi Kejadian Komplikasi Diare Akut dalam: Diare Akut Pada Anak. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Ed. Diare Akut dalam: Pedoman Pelayanan Medis IDAI. 2006 : 1 – 14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful