Anda di halaman 1dari 3

Kearifan Lokal Melayu Riau Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kearifan lokal di dalam masyarakat Melayu Riau?

Beberapa dekade yang lalu, mungkin tidak asing bagi kita ketika anak-anak gembala duduk di atas kerbau memenuhi jalan-jalan di sore hari membawa gembalaannya pulang ke kandang, atau petani yang membajak sawah dengan kerbau atau sapi menghiasi sawah-sawah di Riau khususnya dan Indonesia umumnya. Momen-momen seperti ini banyak dipublikasikan dalam foto-foto dan lukisan-lukisan di akhir 80-an. Sistem beternak ala kampung dan membajak sawah secara tradisional tersebut tersebut tanpa kita sadari ternyata mampu memenuhi kebutuhan daging dan beras di dalam negeri. Sehingga saat itu kita tidak mengenal istilah daging impor, atau beras impor. Namun kemudian, masuknya era mekanisme di sektor pertanian telah mengubah perilaku petani dan secara signifikan menurunkan populasi kerbau dan sapi di dunia. Dan kitapun mulai mengimpor beras. Sawah dan kerbau, mungkin seperti dua sisi mata uang, tidak berarti jika hilang salah satunya. Beberapa petani di Yogyakarta yang saya temui mengatakan, kotoran kerbau atau sapi dapat sekaligus menjadi pupuk, di samping bajakan yang jauh lebih baik dari pada traktor tangan, sehingga penggunaan pupuk bisa lebih efekt. Selain itu, kerbau atau sapi juga bisa berkembang biak jika dipelihara dengan baik. Bandingkan dengan traktor, jika sudah sampai akhir masa pakainya akan berubah menjadi onggokan besi tua. Disamping bahan bakar yang mencemari lingkungan. Jadi jangan aneh, di beberapa daerah di Jawa akhir-akhir ini membajak sawah dengan kerbau sesuatu yang sangat digemari petani, di samping untuk tujuan wisata. Pergeseran budaya bertani ini mendorong badan pangan dunia FAO, mencanangkan kembali sistem tradisional yang telah lama ditinggalkan. Untuk mendukung program tersebut, FAO mendirikan buffalo villagedi Thailand. Tujuan program ini adalah mengembalikan kejayaan bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jika kita ingin melihat lebih jauh, di Jerman misalnya, pada 2012 negara tersebut memutuskan seluruh ayam tidak boleh lagi dipelihara dengan cara dikandangkan secara individu, berpasangan, atau kelompok. Pola pemeliharaan yang dipraktekan selama ini dianggap sebagai bentuk penyiksaan, saling mematuk, dan terjadi kanibalisme. Sebagai akibatnya produksi telur menurun secara drastis akibat stress. Penerapan peraturan ini setelah sebuah perusahaan ayam terbesar di negara tersebut dan juga terbesar di dunia, menemukan galur ayam dengan produksi hingga 360 butir telur per ekor per tahun (produksi tertinggi di dunia). Ini berarti hanya 5 hari saja ayam tersebut beristirahat bertelur. Sistem pemeliharaan ayam yang mereka kembangkan adalah dengan membiarkan ayam-ayam petelur tersebut bebas berkeliaran yang tidak terikat di dalam kandang yang sempit dan disediakan sangkak untuk bertelur. Jika kita melihat pola beternak ayam nenek moyang kita saat ini masih dipraktekkan di kampungkampungkita bertanya tanya pada diri kita sendiri, mengapa mereka meniru teknik beternak secara ekstensif seperti yang diterapkan oleh nenek moyang kita? Beberapa kearifan lokal kita lainnya, semisal hutan kepungan silang, telah mampu mempertahankan produksi madu lebah hutan asli. Sistem eding (hutan perantara) dalam sistem ladang bepindah, mencegah hutan monokultur, erosi, dan banjir. Manggota kuaran (di Kuantan dan Kampar), telah pula menjaga pelestarian burung kuaran (sejenis burung berebah) tapi saat ini telah punah karena diburu dengan senapan angin. Pacujalur, mendidik masyarakatnya untuk selalu menjaga dan memelihara pokok-pokok kayu di rimbo gano. Mararuah, menjaga produksi ikan sungai. Batobo/botobo, sistem arisan pertanian yang menjagaefisiensi waktu, biaya, dan hubungan silahturahi. Sistem peletarian hutan oleh suku-suku asli. Pengelolaan hutan ulayat dengan sistem rimbo larangan, dan ratusan atau mungkin ribuan lainnya yang terbukti ampuh diterapkan sejalan dengan kehidupan modern saat ini. Uraian di atas memberi sedikit gambaran kepada kita, betapa nenek moyang dan ilmu pengetahuan masyarakat kita telah berkembang jauh ke depan melampaui zamannya, dan kearifan lokal bukanlah suatu yang ditemukan dan dikembangkan dalam jangka waktu yang instan. Tetapi memakan waktu, pengalaman, dan ujicoba yang beratus-ratus tahun. Pertanyaan terakhir yang tersisa adalah, masihkah kita menelantarkan anugrah kearifan lokal kita? Sayapun teringat sebuah nyanyian pantun batobomungkin tidak ditemukan lagi di komunitas pemilikinya yang ditampilkan oleh tim kesenian Universitas Riau pada WISDOM 2010 tersebut, seperti yang saya kutip di awal tulisan ini.

http://riauculture.blogspot.com/2012/01/kearifan-lokal-masihkah.html
Kenduri Air bertujuan untuk mewujudkan kearifan lokal masyarakat Kepri yang tinggal di perkotaan untuk peduli terhadap air. Kepedulian dan rasa syukur terhadap Air itu yang kemudian kami selaraskan dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Mengapa Melayu, karena masyarakat asli Kepulauan Riau merupakan orang melayu yang beragama Islam.

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa bumi melayu Kepuluan Riau telah dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah seperti sumber daya kelautan, energi dan sumber daya mineral seperti gas, minyak, timah, bauksit, pasir, granit, sumber daya lainnya seperti hutan, keindahan pantai dan sumber daya air. Orang Melayu adalah orang yang pandai bersyukur dan ramah terhadap alam, lingkungan hidup dan bersifat sangat terbuka kepada kaum pendatang dan dapat beradaptasi dengan suku apapun. Kearifan lokal Ini penting ditumbuhkembangkan ditengah lajunya arus migrasi yang masuk ke daerah ini. Jumlah penduduk pendatang terus meningkat dan mereka butuh air untuk hidup. Tidak peduli apakah mereka datang menetap atau hanya singgah saja, yang pasti mereka semua sama-sama memerlukan air. Melalui kearifan lokal itulah nantinya diharapkan penduduk lokal dan pendatang bersama-sama melestarikan sumber daya air di Kepri ini melalui kepedulian dan aksi tindak nyata. Dengan kata lain, menghemat air, tidak serakah dan tidak merusak sumber daya air yang ada di Kepri ini dengan dalil apapun, termasuk dalil agama, ekonomi, politik dan pembangunan. Sejak HAD 2010 lalu, 'Alim' menitikberatkan isu air yang dikaitkan dalam konteks agama dan budaya dengan tetap mengacu kepada tema umum yang ditetapkan PBB. Kenduri Air 2011 ini sudah didaftarkan pada Event International yang dikelola Lembaga Dunia dibawah naungan PBB yang bernama Unwater. Kenduri Air 2010 yang lalu dilaksanakan di dekat Waduk Sei Pulai, tepatnya di IPA PDAM Tirta Kepri. Waktu itu semua Pimpinan Daerah yang berada di Pulau Bintan ini mulai dari Gubernur Kepri, Walikota Tanjungpinang dan Bupati Bintan, Forum Perangkat Daerah dan SKPD terkait termasuk PDAM, diundang. Seluruh biaya berasal dari dana ALIM sendiri. Tahun ini, mengingat keterbatasan anggaran, ALIM akan melaksanakan Kenduri Air di salah satu Panti Asuhan di Tanjungpinang. Bersama anak yatim piatu itu nantinya semua yang hadir akan bermunajab, berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan karunia air bagi kesehatan dan derajat hidup yang lebih baik bagi kita semua. Dalam Al Quran dijelaskan, barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah, niscaya Allah akan menambah nikmat itu. Tetapi barang siapa yang tidak mensyukurinya atau kufur akan nikmat Allah, maka sesungguhnya siksa Allah amat pedih. Kita tidak ingin Kepri menjadi daerah yang fakir karena warganya kesulitan mendapatkan air. Negeri Fakir adalah negeri yang tidak berair. Jangan sampai demikian. Dari perspektif hukum ketatanegaraan Indonesia pun dijelaskan bahwa Sumber Daya air merupakan Karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat kesejahteraan bagi seluruh rakyat disegala bidang. Doktrin itu tercantum pada pembukaan UU Sumber Daya Air yaitu UU Nomor 7 Tahun 2004. Selain Kenduri Air yang akan kami tumbuhkembangkan, ada terdapat sejumlah petuah dan ritual yang berkaitan dengan air yang telah hidup didalam masyarakat melayu Kepulauan Riau sejak dulu seperti Beradap Mandi, Mandi Safar, Mandi Berlanger, Mandi Air Tujuh Perigi, Air Sulong, Jembalang Air, Mambang Air dan Air Jampi. Ada sejumlah peribahasa seperti Menepok Air Di dulang, Terpecik Muka Sendiri, Air Susu dibalas Air Tuba, Tak Putus Air Dicencang, Jangan Disangka Air Tenang Tidak Ada Buayanya dan lain sebagainya. Petuah dan Peribahasa orang Melayu itu kirannya dapat dijadikan referensi untuk menggali dan mengkaji lebih dalam tentang budaya, tata cara dan tata kelola orang-orang Melayu terhadap air dalam kehidupan sehari-hari. Air Jampi adalah salah satu kearifan lokal yang dilakukan orang tua-tua Melayu ketika itu dalam memperlakukan air dengan bijaksana. Air Jampi adalah air putih, baik yang telah dimasak atau

yang belum dimasak, dimasukan kedalam cangkir/gelas/baskom/ember/baki dan lainnya, lalu dibacakan/dikumandangkan ayat-ayat suci Al Quran, doa dan kemudian dipergunakan untuk diminum atau mandi, atau disemburkan ketubuh manusia atau kesuatu tempat untuk penyembuhan suatu penyakit, pisik maupun psikis. Tradisi itu diyakini masih berlangsung hingga hari ini. Begitulah orang Melayu dalam memperlakukan air dalam kehidupan sehari-hari. Ritual dan kearifan orang Melayu itu ternyata diperkuat kebenarannya secara ilmiah oleh seorang peneliti Jepang yang bernama Massaro Amoto. Dia melakukan penelitian dengan menggunankan teleskop berkwalitas tinggi untuk melihat Kristal-kristal yang terkandung didalam air. Ternyata, Massaro menemukan Kristal-kristal air itu hidup dan dapat merespon perilaku manusia. Ketia Ia mengumandangkan kata-kata yang baik seperti I Love You, Kristalkristal air itu berubah menjadi warna indah keemasan. Tetapi ketika dikumandangkan kata-kata yang kurang baik seperti Hate You, Kristal air berubah menjadi hitam pekat dan mati. Coba banyangkan, bila kita kumandangkan kalam Allah, Allahu Akbar, tentu Kristal air itu meresponnya dengan baik. Jadi wajar bila air jampi itu diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit karena Allah SWT yang menciptakan air dan manusia berkuasa atas segala penyakit. Allah SWT yang menyembuhkan penyakit. Secara fisik, kristal air yang baik dan bersih, dapat melarutkan berbagai unsur zat yang menganggu peredaran darah dan lain sebagainya.

http://www.haluankepri.com/opini-/9935-kearifan-masyarakat-terhadap-air.html