Anda di halaman 1dari 3

Gaya Kolonial yang kontekstual

BANGUNAN KOLONIAL DI INDONESIA Revolusi industri di Eropa pada akhir abad ke-19 ternyata memberikan dampak pada gaya arsitektur pada masa itu. Pada masa itu sendiri di Eropa dan Belanda sedang berkembang suatu gaya arsitektur yang memasuki masa peralihan dari era eklektisisme yang penuh dengan elemen-elemen dekoratif ke gaya bangunan modern yang menekankan pada fungsi, teknologi dan kekokohan bangunan. Penekanan terhadap rasionalisme mendapatkan bobot yang sangat besar. Semangat ini dibawa oleh pedagang-pedagang Belanda pada abad ke-19 ke Nusantara. Gaya itu pada awalnya mewakili kelompokkelompok kalangan atas yang pada masa penjajahan Belanda sebagai kediaman pejabat-pejabat dan fasilitas-fasilitas publik yang dirancang oleh arsitek-arsitek Belanda yang memakai gaya itu. Bangunan Kolonial dalam keberadaannya di Nusantara mengalami adaptasi dengan iklim, spirit dan budaya lokal. Sebagai contoh : semangat rasionalisme yang dibawa arsitek-arsitek eropa yang sangat menekankan pada fungsi bertemu dengan pemahaman ruang di Indonesia (Nusantara, khususnya Jawa) yang dihubungan dengan spiritualisme, iklim eropa dengan 4 musim bertemu dengan iklim Indonesia dengan 2 musimnya, dll. Sehingga terjadilah penyesuaian-penyesuaian baik secara fungsional maupun karakter. Dalam perkembangan Arsitektur di Indonesia, kemudian gaya Kolonial menjadi trend tersendiri. Trend itu kemudian tidak hanya masuk di bangunan publik, tetapi juga masuk ke wilayah yang lebih privat, seperti : hunian. Sementara itu perkembangan jaman yang ditandai kemajuan teknologi akhirnya mengawinkan gaya Kolonial dengan sentuhan modern yang merupakan ciri khas dari kemajuan teknologi itu sendiri. Meskipun demikian tetaplah ada ciri-ciri khas Kolonial yang berkolaborasi dengan ciri modern.

Bangunan di Jl. AM Sangaji

Bangunan di Perumahan Pesona Merapi

TATA RUANG Ciri khas bangunan Kolonial tropis adalah dalam tataruang ada ruang-ruang perantara antara ruang dalam dengan ruang luar yaitu teras-teras baik itu didepan, samping maupun belakang. Pada bangunan bertingkat dapat juga ditampilkan dalam bentuk sebuah balkon.

Bangunan di Kawasan Kotabaru

Teras atau Balkon ini berfungsi untuk mengatasi tampias air hujan dan isolator udara panas luar ke dalam. Perkawinan filosofi barat yang tertutup dengan filosofi timur yang terbuka terhadap alam diwujudkan juga melalui teras atau Balkon ini.

TAMPILAN BANGUNAN

Atap
Salah satu tipologi bangunan Kolonial adalah sudut kemiringan atap yang besar. Sudut kemiringan yang besar ini di Belanda bertujuan untuk mempermudah turunnya salju yang menempel di atap bangunan. Di Indonesia fungsi yang lebih nyata adalah untuk mengkondisikan suhu ruang didalam bangunan. Lebih jauh lagi atap bangunan Kolonial di Indonesia di pertegas dengan tritisan yang cukup untuk meminimalkan panas atau tampias karena hujan pada bangunan. Terkadang juga ditampilkan plat luifel atau kanopi sebagai pengganti tritisan dengan fungsi yang sama.
Bangunan di Jl. Mangkubumi

Bangunan di Kawasan Kotabaru

Tower
Tower sebagai massa independen dengan struktur yang berdiri sendiri maupun menjadi satu dengan bangunan sebagai aksen bangunan. Tower ini dapat merupakan massa massif tetapi juga dapat bersifat transparan sbg konsekwensi fungsi ruang yang berubah.

Bangunan di Kawasan Kotabaru

Bangunan di Kawasan Kotabaru

Roster
Roster sebagai pelubangan yang dipakai untuk mengalirkan udara . Elemen ini merupakan adaptasi dengan iklim tropis yang lembab.

ELEMEN-ELEMEN DEKORATIF

Bangunan di Kawasan Kotabaru

Penebalan
Penebalan-penebalan sebagai unsur dekoratif yang mempertegas bentuk elemen-elemen pendukung bangunan. Elemen penebalan ini juga sebagai elemen yang memperkuat kesan kokoh pada bangunan.

Sabuk bangunan Sabuk berupa penebalan horizontal baik pada kaki bangunan (mempertegas pemisahan bangunan dengan tanah) dan atap (mempertegas pemisahan pada badan bangunan dengan atap)
Bangunan di Kawasan Kotabaru Bangunan di Perumahan Pesona Merapi

Finishing Batu Alam


Pemakaian batu alam pada badan bangunan maupun kolom-kolom merupakan adaptasi dengan budaya lokal yang yang memberikan keseimbangan dari kekokohan bangunan dengan melembutkan dengan batu alam. Batu alam sebagai elemen bangunan Kolonial menunjukkan sisi natural bangunan sehingga sangat lekat dengan kekayaan alam lokal.

Freddy MR Nainggolan

Bangunan di Kawasan Kotabaru

Bangunan di Perumahan Pesona Merapi