Anda di halaman 1dari 25

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN SPIRITUAL Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspekaspek : 1) berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, 2) menemukan arti dan tujuan hidup, 3) menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, 4) mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi. Mempunyai kepercayaaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian, yaitu : 1) Kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. 2) Kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan, kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, suatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action). Harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai suatu prestasi dan berorientasi ke depan. Agama, adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisasi atau teratur.

Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual dan kesadaran spiritual. Dimensi spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal, fisiologikal atau fisik, sosiologikal dan spiritual. Kata spiritual sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Untuk memahami pengertian spiritual dapat dilihat dari berbagai sumber. Menurut Oxford English Dictionary, untuk memahami makna kata spiritual dapat diketahui dari arti kata-kata berikut ini : persembahan, dimensi supranatural, berbeda dengan dimensi fisik, perasaan atau pernyataan jiwa, kekudusan, sesuatu yang suci, pemikiran yang intelektual dan berkualitas, adanya perkembangan pemikiran dan perasaan, adanya perasaan humor, ada perubahan hidup, dan berhubungan dengan organisasi keagaamaan. Sedangkan berdasarkan etimologinya, spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakan serta memimpin cara berfikir dan bertingkah laku seseorang . Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna, harapan, kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup hubungan intra-, inter-, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta, 2000). Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep yang dapat diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan

aspek yang menyatu dan universal bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual. Dimensi ini mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia. 2.2 KONSEP KESEHATAN SPIRITUAL Kesehatan spiritual atau kesejahteraan adalah rasa keharmonisan saling kedekatan antara diri dengan orang lain, alam dan dengan kehidupan tertinggi (Hungemannet al, 1985). Rasa keharmonisan ini dicapai ketika seseorang menemukan keseimbangan antara nilai, tujuan, dan system keyakinan mereka dengan hubungan mereka di dalam diri mereka sendiri dan orang lain. Pada saat terjadi stress, penyakit, penyembuhan, atau kehilangan, sesorang mungkin akan berbalik kecara-cara lama dalam merespon atau menyesuaikan dengan situasi. Seringkali gaya koping ini terdapat dalam keyakinan atau nilai dasar orang tersebut. Keyakinan ini sering berakar dalam spiritualitas orang tersebut. Sepanjang hidup seorang individu mungkin tumbuh lebih spiritual, menjadi lebih menyadari tentang makna, tujuan dan nilai hidup. Spiritual dimulai ketika anak-anak belajar tentang diri mereka dan hubungan mereka dengan orang lain. Banyak orang dewasa mengalami pertumbuhan spiritual ketika memasuki hubungan yang langgeng. Kemampuan untuk mengasihi orang lain dan diri mereka sendiri secara bermakna adalah bukti dari kesehatan spiritual. Menetapkan hubungan dengan yang Maha Agung, kehidupan atau nilai adalah salah satu cara mengembangkan spiritualitas. Anak-anak sering mulai dengan konsep tentang ketuhanan atau nilai seperti yang disuguhkan kepada mereka oleh lingkungan rumah mereka atau komunitas religius mereka. Remaja sering mempertimbangkan kembali konsep masa kanak-kanak mereka tentang kekuatan spiritual, dan dalam pencarian identitas, mungkin mempertanyakan tentang praktik atau nilai atau menemukan kekuatan spiritual sebagai motivasi untuk mencari makna hidup yang lebih jelas. Sejalan dengan makin dewasanya seseorang, mereka sering instrospeksi diri untuk memperkaya nilai dan konsep ketuhanan yang telah lama dianut dan

bermakna. Kesehatan spiritualitas yang sehat pada lansia adalah sesuatu yang memberikan kedamaian dan penerimaan tentang diri dan hal tersebut sering didasarkan pada hubungan yang langgeng dengan yang Maha Agung. Penyakit mengancam kesehatan spiritual.

2.3 MASALAH SPIRITUAL Ketika penyakit, kehilangan, atau nyeri menyerang seseorang, kekuatan spiritual dapat membantu seseorang kearah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual.selama penyakit atau kehilangan, misalnya saja, individu sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka sendiri dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Distres spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup. 1. Penyakit Akut Penyakit yang mendadak, tidak diperkirakan, yang menghadapkan baik ancaman langsung atau jangka panjang terhadap kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan klien dapat menimbulkan distress spiritual bermakna. Penyakit atau cedera dapat dipandang sebagai hukuman, sehingga klien menyalahkan diri mereka sendiri karena mempunyai kebiasaan kesehatan yang buruk, gagal untuk mematuhi tindakan kewaspadaan keselamatan atau menghindari pemeriksaan kesehatan secara rutin. Konflik dapat berkembang sekitar keyakinan individu dan makna hidup. Individu mungkin mempunyai kesulitan memandang masa depan dan dapat terpuruk tidak berdaya oleh kedukaan. Kemarahan bukan hal yang tidak wajar, dan klien mungkin mengekspresikannya terhadap Tuhan, keluarga, dan/atau diri mereka

sendiri. Kekuatan spiritualitas klien mempengaruhi bagaimana mereka menghadapi penyakit mendadak dan bagaimana mereka dengan cepat beralih kearah penyembuhan. 2. Penyakit Kronis Seseorang dengan penyakit kronis sering menderita gejala yang melumpuhkan dan mengganggu kemampuan untuk melanjutkan gaya hidup normal mereka. Kemandirian dapat sangat terancam, yang mengakibatkan ketakutan, ansietas, kesedihan yang menyeluruh. Ketergantungan pada orang lain untuk mendapat perawatan rutin dapat menimbulkan perasaan tidak berdaya dan persepsi tentang penurunan kekuatan batiniah. Seseorang mungkin merasa kehilangan tujuan dalam hidup yang mempengaruhi kekuatan dari dalam yang diperlukan untuk mengahdapi perubahan fungsi yang dialami. Kekuatan tentang spiritualitas seseorang dapat mejadi factor penting dalam cara seseorang menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh penyakit kronis. Keberhasilan dalam mengatasi perubahan yang diakibatkan oleh penyakit kronis dapat menguatkan seseorang secara spiritual. Reevaluasi tentang hidup mungkin terjadi. Mereka yang kuat secara spiritual akan membentuk kembali identitas diri dan hidup dalam potensi mereka. 3. Penyakit Terminal Penyakit terminal umumnya menyebabkan ketakutan terhadap nyeri fisik, ketidaktahuan, kematian, dan ancaman terhadap integritas (Turner et al, 1995). Klien mungkin mempunyai ketidak pastian tentang makna kematian dan dengan demikian mereka menjadi sangat rentan terhadap distress spiritual. Tedapat juga klien yang mempunyai rasa spiritual tentang ketenangan yang memampukan mereka untuk menghadapi kematian tanpa rasa takut. Individu yang mengalami penyakit terminal sering menemukan diri meraka menelaah kembali kehidupan mereka dan mempertanyakan

maknanya. Pertanyaan-petanyaan umum yang diajukan dapat mencakup, mengapa hal ini terjadi pada saya atau apa yang telah saya lakukan sehingga hal ini terjadi pada saya keluarga dan teman-teman dapat terpengaruhi sama halnya yang klien alami. Fryback (1992) melakukan penelitian untuk, mengetahui bagaimana individu dengan penykit terminal menggambarkan tentang kematian. Klien yang termasuk dalam penelitian mengidentifikasikan tiga domain kesehatan sebagai berikut: mental-emosi, spiritual dan fisik. Domain spiritual dipandang sebagai hal penting dalam hal kesehatan dan mencakup mempunyai hubungan penelitian tersebut didapatkan dengan kekuatan yang lebih tinggi, hasil bahwa penelitian tersebut menghargai moralitas seseorang dan menumbuhkan aktualisasi diri. Dari menunjukkan klien yang mempunyai penyakit terminal mempunyai

persepsi dalam Keadaan tidak sehat,persepsi tersebut bukan karena penyakitnya tetapi karena sedang tidak mampu menjalani hidup mereka dengan sempurna dan tidak mampu melakukan hal-hal yang mereka inginkan. 4. Individuasi Ketika seseorang menjalani hidup mereka, sering mengajukan pertanyaan untuk menemukan dan memahami diri (mereka) sebagai hal yang berbeda tetapi juga dalam hubungan dengan orang lain. Psikolog Carl Jung (Storr, 1983) menggambarkan proses ini sebagai individuasi seseorang. Juga digambarkan sebagai krisis pertengahan hidup, individuasi umumnya pada individu usia baya. Individuasi mungkin didahului oleh rasa kekosongan dalam hidup atau kurang mampu untuk memotivasi diri. Individuasi adalah pengalaman manusia yang umum yang ditandai oleh kebingungan, konflik, keputusasaan, dan perasaan hampa. Spiritualitas seseorang harus dipertahanka, karena individuasi tampaknya mendorong seseorang untuk mempertahankan aspek positif, life-asserting dari kepribadian. Kejadian seperti stress, keberhasilan atau kekurang

berhasilan dalam pekerjaan, konflik perkawinan, atau penurunan kesehatan dapat menyebabkan seseorang mencari pemahaman diri yang lebih besar. 5. Pengalaman Mendekati Kematian Perawat mungkin menghadapi klien yang telah mempunyai pengalaman mendekati kematian (NDE/near death experience). NDE telah diidentifkasikan sebagai fenomena psikologis tentang idividu yang baik telah sangat dekat dengan kematian secara klinis atau yag telah pulih setelah dinyatakan mati. NDE tidak berkaitan dengan kelaianan mental (Basford, 1990). Orang yang mengalami NDE setelah henti jantung-paru, misalnya sering mengatakan cerita yang sama tentang perasaan diri mereka terbang di atas tubuh mereka dan melihat para pemberi perawatan kesehatan melakukan tindakan penyelamatan hidup. Sebagian besar individu menggambarkan bahwa mereka melewati terowongan kearah cahaya yang terang, dan merasakan suatu ketenangan yang dalam dan damai. Tidak bergerak kearah cahaya tersebut, sering mereka mengetahui bahwa belum waktunya untuk mati bagi mereka dan mereka kembali hidup. Klien yang telah mengalami NDE sering enggan untuk mendiskusikan hal ini, mereka berpikir bahwa keluarga atau pemberi perawatan kesehatan tidak dapat memahami. Isolasi dan depresi dapat terjadi sebagai akibat tidak menceritakan pengalamannya atau menerima penghakiman dari orang lain ketika mereka menceritakannya. Namun demikian, imdividu yang mengalami NDE, dan mereka yang dapat mendiskusikannya dengan keluarga atau pemberi perawatan kesehatan, menemukan keterbukaan pada kekuatan pemgalaman mereka seperti yang dilaporkan. Mereka secara konsisten melaporka aftereffect yang positif, termasuk sikap positif, perubahan nilai, dan perkembangan spiritual (Turner, 1995). Bila klien dapat hidup setelah henti jantung-paru, penting artinya bagi perawat untuk tetap terbuka dan memberi kesempatan kepada klien untuk menggali apa yang sudah terjadi.

2.4 PENGKAJIAN Dengan jelas, kemampuan perawat untuk mendapat gambaran tetang dimensi spiritual klien yang jelas mungkin dibatasi oleh lingkungan dimana orang tersebut mempraktekkan spiritualnya. Hal ini benar jika perawat mempunyai kontak terbatas dengan klien dan gagal untuk membina hubungan. Tetapi ketika terbina hubungan saling percaya, perawat dan klien sampai pada titik pembelajaran bersama, dan terjadi pengasuhan spiritual. Pertanyaannya adalah bukan jenis dukungan apa yang dapat diberikan tetapi bagaimana secara sadar perawat mengintegrasikan perawatan spiritual ke dalam proses keperawatan. Perawat tidak perlu menggunakan alasan tak cukup waktu untuk menghindari pengenalan nilai spiritualitas yang dianut untuk kesehatan klien. Farran et al (1989) telah mengembangkan model untuk pengkajian spiritual yang dapat memberikan gambaran nyata dari dimensi spiritual klien. Model tersebut dirancang untuk menunjukkan aspek spiritual yang hampir pasti selalu dipengaruhi oleh pengalaman, kejadian dan pertanyaan dalam kejadian penyakit dan perawatan di rumah sakit. Pengkajian dapat menunjukkan kesempatan yang dimiliki perawat dalam mendukung atau menguatkan spiritualitas klien. Pengkajian itu sendiri, dapat menjadi terapeutik karena pengkajia tersebut menunjukkan tingkat perawatan dan dukungan yang diberikan. Perawat yang memahami pendekatan konseptual menyeluruh tentang pengkajian spiritual akan menjadi yang paling berhasil. Inti dari spiritualitas seseorang adalah menyeluruh tidak hanya dalam bagian yang ditunjukkan melalui setiap kategori pengkajian. Religi Berdasarkan kamus, religi berarti suatu sistem kepercayaan dan praktek yang berhubungan dengan Yang Maha Kuasa (Smith, 1995). Pargamet (1997) mendefinisikan religi sebagai suatu pencarian kebenaran tentang cara-cara yang berhubungan dengan korban atau persembahan. Seringkali kata spiritual dan religi digunakan secara bertukaran, akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Dari definisi religi, dapat digunakan sebagai dasar bahwa religi

merupakan sebuah konsep yang lebih sempit daripada spiritual. Mengingat spiritual lebih mengacu kepada suatu bagian dalam diri manusia, yang berfungsi untuk mencari makna hidup melalui hubungan intra-, inter-, dan transpersonal (Reed, 1992). Jadi dapat dikatakan religi merupakan jembatan menuju spiritual yang membantu cara berfikir, merasakan, dan berperilaku serta membantu seseorang menemukan makna hidup. Sedangkan praktek religi merupakan cara individu mengekspresikan spiritualnya .

AGAMA

KEYAKINAN KEPERAWATAN KESEHATAN

RESPON TERHADAP PENYAKIT

Hindu

Menerima

ilmu Penyakit disebabkan oleh dosa masa Memperpanjang hidup tidak dibenarkan ilmu Wanita harus diperiksa oleh wanita pakaian dalam akan menyebabkan distres yang besar ilmu Dapat menolak pengobatan pada hari

pengetahuan medis modern lalu. Sikh Menerima

pengetahuan medis modern Melepaskan Budhis Shinto Menerima

pengetahuan medis modern suci Menerima ilmu Akan tidak mengijinkan pengobatan pengetahuan medis modern yang tampak mencederai tubuh sesuai dengan tradisi dapat Menggunakan kepercayaan dan sebagai leluhur Harus Islam Dapat pandangan mempunyai yang fatal

Islam

mempraktikkan 5 Rukun penyembuh

mengijinkan

penghentian pendukung hidup

Yahudi

dalam kesehatan Mempercayai sanksi dari Mengunjungi orang sakit adalah suatu kehidupan Tuhan harus keseimbangan Kepatuhan kepada sabat adalah penting Tidak melakukan aktifitas pada hari sabat Mempercayai dan kewajiban kedokteran Mereka berkewajiban untuk mencari mempunyai perawatan Eutanasia adalah dilarang hari Pendukung hidup tidak dibenarkan

Kristen

ilmu Menggunakan doa, kepercayaan Menghargai kunjungan dari gereja Komuni suci umumnya digunakan

pengetahuan medis modern sebagai penyembuh

Keluarga Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritual anak. Hal

yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua pada anak tentang Tuhan,

tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan, diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan di dunia, maka pandangan anak ada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam berhubungan dengan saudara dan orang tua. Kebudayaan Kebudayaan merupakan kumpulan cara hidup dan berfikir yang dibangun oleh sekelompok orang dalam suatu daerah tertentu (Martsolf, 1997). Kebudayaan terdiri dari nilai, kepercayaan, tingkah laku sekelompok masyarakat. Kebudayaan juga meliputi perilaku, peran, dan praktek keagamaan yang diwariskan turuntemurun. Menurut Martsolf (1997) ada tiga pandangan yang menjelaskan hubungan spiritual dengan kebudayaan, yaitu spiritual dipengaruhi seluruhnya oleh kebudayaan, spiritual dipengaruhi pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan, dan spiritual dapat dipengaruhi kebudayaan dan pengalaman hidup yang tidak berhubungan dengan kebudayaan. Dimensi Psikologi Karena fisik, psikologi, dan spiritual merupakan aspek yang saling terkait, sangat sulit membedakan dimensi psikologi dengan dimensi spiritual. Akan tetapi sebagai perawat harus mengetahui perbedaan keduanya.Spilka, Spangler, dan Nelson (1983) membedakan dua dimensi ini dengan mengatakan bahwa dimensi psikologi berhubungan dengan hubungan antar manusia seperti : berduka, kehilangan, dan permasalahan emosional. Sedangkan dimensi spiritual merupakan segala hal dalam diri manusia yang berhubungan dengan pencarian makna, nilainilai, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa. 1) 2) Hubungan dengan diri sendiri Pengetahuan diri (siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya). Sikap (percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau keselarasan diri). Hubungan dengan alam

1) Mengetahui tentang tanaman, pohon, margasatwa dan iklim.

2) Berkomunikasi dengan alam (bertanam, berjalan kaki), mengabadikan dan melindungi alam. Hubungan dengan orang lain a. c. Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik. Meyakini kehidupan dan kematian.

Harmonis b. Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit. Tidak harmonis a. Konflik dengan orang lain. b. Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi. 4) 1) 2) 3) Hubungan dengan Ketuhanan Sembahyang/ berdoa/ meditasi. Perlengkapan keagamaaan. Bersatu dengan alam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu : 1) merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia/kehidupan, 2) mengembangkan arti penderitaan dan menyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan, 3) menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta, 4) membina integritas personal dan merasa diri berharga, 5) merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan, 6) mengembangkan hubungan antar manusia yang positif. 2.5 Diagnosa keperawatan Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegrasikan informasi tersebut kedalam diagnose keperawatan yang sesuai, perawat harus mempertimbangkan status kesehatan klien terakhir dari prespektif holistic, dengan Agamis atau tidak agamis

spiritualitas sebagai prinsip kesatuan. Perawat akan menghadapi klien dalam berbagai situasi dan selama masa sehat dan sakit. Selama peristiwa seperti kelahiran, penyakit, nyeri, penderitaan, aktivitas kehidupan sehari-hari, dan kematian, seseorang mempunyai pengalaman yang menciptakan pilihan. Pilihan dalam hidup terinterelasi dengan spiritualitas seseorang (farran, et al, 1989). Beberapa pilihan mengarah pada perluasan fungsi (peningkatan pemahaman tentang hidup atau suatu pendalaman makna hidup). Pilihan lainnya menghasilkan pemeliharaan dari perkembangan spiritual seseorang dan pemahaman praktis tentang spiritualitas. Akhirnya ada pilihan yang mengarah pada perubahan berfungsi seperti ketidakmampuan untuk menemukan makna dari peristiwa dalam kehidupan, terpecahnya persahabatan, dan kehilangan harapan. Untuk dapat mendukung klien, perawat harus berfokus tidak hanya pada perubahan yang terjadi dalam fungsi, tetapi juga pada pilihan yang memberikan kekuatan, harapan, dan memberikan dorongan selama waktu mengalami penyakit. Diagnosa keperawatan yang secara relative baru, yaitu kesejahteraan spiritual, potensial; untuk ditingkatkan, didasarkan pada batasan karakteristik yang menunjukan suatu pola kesejahteraan dan keterhubungan yang berasal dari kekuatan dari dalam (Kim, et al, 1995). Jika pengkajian keperawatan menunjukan bahwa klien mempunyai harapan dan keyakinan dari dalam, percaya terhadap kekuatan yang lebih tinggi, mempunyai tujuan dan makna dalam hidup, dan mengekspresikakan suatu keharmonisan dengan diri dan orang lain, maka kesejahteraan spiritual adalah diagnose yang mungkin. Adanya pernyataan tentang kehidupan ini menunjukan bahwa klien mempunyai sumber yang dapat dikerahkan ketika dihadapkan pada diagnose keperawatan yang lain seperti nyeri kronis, penurunan curah jantung, perubahan sensori/presepsi, atau gangguan citra tubuh. Ketika perawat mengidentifikasi diagnose yang sesuai dengan klien, penting artinya untuk mengenali makna yang diberikan oleh spiritualitas terhadap semua tipe masalah kesehatan, hampir semua diagnose keperawatan mempunyai implikasi terhadap spiritualitas klien. Nyeri, ansietas, ketakutan, hambatan mobilitas, dan kurang perawatan diri adalah diagnose keperawatan yang cukup

umum yang akan mengharuskan perawat untuk memadukan prinsi perawatan spiritual. Mungkin terdapat situasi saat perawat akan mengumpulkan batasan karakteristik dari pengkajian data dasar dan menemukan pola yang mencerminkan keputusasaan klien. Berpikir kritis membutuhkan penelaahan data konkrit (mis. Praktik keagamaan dan sumber persahabtan) juga pengkajian tentang pengalaman klien masa lalu, kesadaran spiritual perawat sendiri, dan indra intuituf tentang kekuatan spiritual klien. Batasan karakteristik harus divalidasi dan diklarifikasi dengan klien sebelum dibuat rencana perawatan. Pada perawatan spiritual, kepentingan aspirasi spiritual perawat sendiri, inspirasi dan presepsi tidak saling tumpang tindih. Perawat menhindari memaksakan keyakinan pribadinya pada klien. Setiap diagnosis harus mempunyai factor yang berhubungan dan akurat sehingga intervensi yang dihasilkan dapat bermakna dan langsung. 2.6 Perencanaan Ketika perawat dan klien mengidentifikasi bahwa klien mempunyai kebutuhan spiritual, penting artinya bagi perawat dan klien untuk berkolaborasi dengan erat saat membuat rencana keperawatan. Keharusan dan perasaan kasih harus dengan jelas dikomunikasikan antara perawat dan klien. Hal ini dapat dimulai dengan pengkajian yang dirancang dengan baik, tetapi hubungan perawatklien harus berlanjut didasarkan pada rasa kasih dan saling percaya agar intervensi menjadi efektif. Komunikasi akan menjadi suatu tema yang terintegrasi untuk apapun intervensi keperawatan yang dipilih. Sifat personal dari spiritualitas mengharuskan klien mampu mengungkapkan secara terbuka dengan perawat dan mengenali minat perawat dalam kebutuhannya. Orang terdekat, seperti pasangan, saudara kandung, orangtua, dan teman, harus dilakukan. Jika memungkinkan, untuk memberikan dukungan. Hal ini berarti bahwa perawat mempelajari dari pengkajian bentuk hubungan seperti apa yang terjalin antara individu atau kelompok. Individu tersebut mungkin akan terlibat dalam semua tingkat perawatan klien. Jaringan dukungan klien dapat

membantu dalam memberikan perawatan fisik, memberikan ketenangan emosional, dan saling berbagi dukungan spiritual. Jika klien berpartisipasi dalam suatu agama yang formal, maka anggota dari pendapatan atau anggota gereja, candi, masjid, atau sinagoge. Mungkin harus dilibatkan dalam perencanaan . bergantung pada status dan kebutuhan klien, sebagian dari perencanaan akan melibatkan kesinambungan ritual keagamaan yang sesuai. Perawat harus meyakinkan bahwa sesuai material keagamaam seperti kitab suci atau buku penunjuk doa tersedia. Dalam menetapkan rencana perawatan, terdapat tiga tujuan untuk pemberian perawaan spiritual (Munley, 1983); 1. Klien merasakan perasaan percaya pada pemberi perawatan. 2. Klien mampu terikat dengan anggota system pendukung. 3. Pencarian pribadi klien tenang makna (hidup) meningkat.

2.7 Implementasi Jika klien mengalami distres spiritual atau mempunyai masalah kesehatan yang menyebabkan keputusasaan, maka akan timbul perasaan kesepian. Klien akan merasa terisolasi dari orang yang biasanya memberikan dukungan. Apapun keragaman intervensi yang dipilih oleh perawat untuk klien, hubungan mengasihi dan saling memahami penting. Baik klien dan perawat harus merasa bebas untuk merelakan dan menemukan bersama makna dan tujuan hidup klien. Pencapaian tingkat pemahaman ini bersama klien memampukan perawat memberikan perawatan dengan cara yang sensitive, kreatif dan sesuai.

1. Menetapkan kehadiran Klien telah melaporkan bahwa kehadiran perawat dan aktivitas pemberi perawatan menunjang adanya perasaan sejahtera dan memberikan harapan untuk pemulihan (clark, et al, 1991). Perilaku pemberian perawatan spesifik yang

menunjukan

kehadiran

perawat

meliputi

member

perhatian,

menjawab

pertanyaan, dan mempunyai sikap positif dan memberikan dorongan (tetapi realistis). Kemampuan untuk menciptakan kehadiran adalah suatu kiat keperawatan. Kiat ini bukan hanya melakukan prosedur dengan cara yang sangat cepat atau berbagai informasi teknis dengan klien yang mungkin tidak bermakna. Benner (1984) mengklarifikasikan bahwa kehadiran melibatkan ada bersama klien versus melakukan untuk klien. Kehadiran adalah mampu memberikan kedekatan dengan klien secara fisik, psikologis, dan spiritual. Perawat dapat menunjukan adanya rasa kehadiran dalam berbagai cara yang tidak menyolok; melakukan pijat punggung dengan penyegaran, sentuhan yang lembut; dengan hati-hati memposisikan klien tanpa menimbulkan rasa nyeri; dengan halus memberikan perawatan mulit; dan bekerja bersama klien untuk dengan lembut dan berhati-hati bergerak dari tepi tempat tidur ke kursi. Memberikan sentuhan yang menyegarkan dan mendukung, menunjukan rasa percaya diri, dan menyediakan waktu bagi klien ketika terapi diberikan akan membantu menciptakan kehadiran. Klien yang sakit mengalami kehilangan control dan mencari seseorang untuk memberikan arahan dan perawatan yang kompeten. Perawat secara tepat menggunakan tangan, memberikan kata-kata pendukung, dan menggunakan pendekatan yang tenang dan desesif akan menciptakan kehadiran yang membangun kepercayaan dan kesejahteraan. Rasa percaya adalah dasar untuk segala hubungan. Sikap yang perawat tunjukan ketika memasuki ruangan klien membentuk suatu intonasi untuk interaksi. Perawat membuktikan bahwa ia dapat diandalkan dan percaya. Perhatian yang cermat terhadap setiap permintaan klien, tidak peduli betapa pun remehnya, memperlihatkan sikap mengasihi, dan melakukan perawatan secara mapan, mengkomunikasikan kepada perawat kepercayaan yang dibutuhkan untuk hubungan perawat-klien yang kuat. 2. Mendukung hubungan yang menyembuhkan Seorang perawat yang ahli belajar untuk melihat lebih jauh batasan masalah klien yang terisolasi dan mengenali gambaran tentang kebutuhan klien yang lebih luas. Hal ini menerapkan pandangan holistic terhadap masalah

kesehatan klien. Misalnya, perawat tidak hanya melihat pada nyeri punggung klien sebagai masalah yang harus diselesaikan dengan cepat menggunakan obat, tetapi lebih kepada bagaimana nyeri telah mempengaruhi kemampuan klien untuk berfungsi dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam hidupnya. Pandangan holistic telah memampukan perawat untuk menetapkan peran membantu, digambarkan oleh benner(1984) sebagai salah satu domain praktik keperawatan. Kompetesi yang didapat perawat dalam domain membantu dipelajari untuk menciptakan hubungan yang menyembuhkan. Benner (1984) mendefinisikan tiga langkah yang ternyata terbukti ketika hubungan yang menyembuhkan terbina antara perawat dan klien. 1) Mengerahkan harapan bagi perawat, demikian juga harapan bagi klien. 2) Menemukan interpretasi yang dapat diterima atau memahami tentang penyakit, nyeri, ketakutan, ansietas, atau emosi yang menegangkan. 3) Membantu klien menggunakan dukungan social, emosional, atau spiritual. Inti dari hubungan yang menyembuhkan adalah mengarahkan harapan klien. Harapan adalah motivator untuk merangkul individu dengan strategi yang dibutuhkan untuk menghadapi segala macam tantangan dalam hidup. Perawat dapat membantu klien menemukan hal-hal yang dapat menjadi harapan. Klien yang menderita penyakit terminal mungkin berharap dapat menghadiri hari wisuda anak perempuannya atau untuk menjalani hidup setiap hari dengan penuh makna. Klien yang akan menjalani bedah abdomen karena obstruksi usus mungkin mengharapkan peredaan nyeri dan segera dapat kembali ke rumah. Harapan mempunyai implikasi yang baik jangka pendek maupun jangka panjang dalam perawatan klien. Harapan terorientasi masa depan dan membantu klien berupaya ke arah penyembuhan, untuk membantu klien mencapai harapan, perawat dan klien bekerja sama untuk menemukan suatu interprestasi tentang situasi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Kemudian perawat membantu klien untuk menggunakan sumber yang tersedia bagi dirinya. Sumber ini dapat mencakup sikap positif klien terhadap hidup, keinginan untuk selalu diberi tahu

tentang kondisi dan membuat keputusan yang masuk akal. Atau keinginan untuk mencoba terapi yang berbeda. Misalnya, klien dengan nyeri abdomen mungkin mampu menerima fakta bahwa nyerinya mungkin sebentar karena proses penyembuhan. Jika klien adalah seorang yang biasanya mandiri dan merasa perlu untuk selalu dapat mengontrol diri, maka perawat dapat memberikan beberapa pilihan terapi untuk penatalaksanaan nyeri dan meminta klien untuk membuat keputusan yang masuk akal. Untuk mendukung lebih lanjut hubungan yang menyembuhkan perawat harus tetap menyadari tentang kekuatan dan kebutuhan spiritual klien. Penting bagi klien untuk mampu mengekspresikan dan menelaah keyakinan-nya. Perawat yang menghargai kepercayaan klien dan mengenali pengaruh spiritualitas yang dibeikan terhadap penyembuhannya akan dirasakan oleh klien sebagai sumber (clark et al, 1991). Ketika penyakit atau pengobatan menimbulkan kebingungan atau ketidakpastian bagi klien, maka perawat harus mengenali dampak dari hal ini terhadap kesejahteraan klien, sumber spiritual apa yang diperkuat? Perawat dapat memulai dari apa yang ingin klien ketahui untuk menghilangkan ketidakpastian klien, klien mungkin juga meminta kehadiran keluarga atau teman untuk mempertahankan persahabatan yang diperlukan untuk penyembuhan. a. Sistem dukungan Dalam studi yang melibatkan klien Yahudi dan Kristen, Clark et al. (1991) mengetahui bahwa sistem pendukung memberi mereka rasa sejahtera terbesar selama perawatan di rumah sakit. Sistem pendukung berfungsi sebagai hubungan manusia yang menghubung kan klien, perawat, dan gaya hidup klien sebelum terjadi penyakit. Bagian dari lingkungan pemberi perawatan klien adalah kehadiran teratur dari keluarga dan teman yang di pandang oleh klien sebagai pendukung. Perawat merencanakan perawatan bersama klien dan jaringan pendukung klien untuk meningkatkan ikatan interpersonal yang sangat penting untuk penyembuhan. Sistem pendukung sering memberi sumber kepercayaan yang memperbaharui jati diri spiritual klien. Keluarga dan teman mungkin juga menjadi sumber penting dalam melakukan ritual kebiasaan keagamaan yang dianut oleh klien.

Setelah mengkaji fungsi keluarga dan teman yang berperan dalam hidup klien. Perawat dapat mendorong mereka untuk mengunjungi klien secara teratur. Jika keluarga dan teman ditemukan sebagai sumber spiritual bagi klien, maka mereka dapat menjadi sumber terapi yang sangat baik. Dorongan perawat kepada keluarga untuk menjadi diri mereka sendiri dapat memudahkan kemampuan keluarga untuk memberikan ketenangan spiritual yang mampu mereka berikan. Sringkali penyakit dan lingkungan pengobatan meninbulkan pengobatan begitu banyak ketidak tahuan dimana keluarga dan teman terintimidasi. Perawat dapat sangat efektif dalam membantu keluarga diterima dengan baik dan mengetahui bahwa dukungan dan kehadiran mereka. Adalah bagian penting dari penyembuhan klien. Melibatkan keluarga dalam aktifitas pendoaan adalah suatu tindakan yang sangat bijaksana jika hal ini sesuai dengan agama klien, dan anggota keluarga dengan nyaman ikut serta. Memberikan dorongan kepada keluarga untuk membawa simbol keagamaan yang bermakna dapat menjadi sumber konsolidasi dan dukungan spiritual. Sumber penting lainnya bagi klien adalah penasihat spiritual dan anggota dari kerohanian. Perawat harus menanyakan kepada klien apakah klien menginginkan penasehat spiritual mereka diberi tahu tentang perawatan mereka di rumah sakit. Semua penasehat spiritual harus di buat nyaman di unit keperawatan. Jika di inginkan oleh klien atau keluarga, maka perawat harus terus memberi tahu penasihat spiritual tentang kehawatiran psikologi, psikososial, dan spiritual klien. Hal ini membantu dalam memberikan perawatan kesehatan yang holistik. Perawat menunjukan respek terhadap kebutuhan dan nilai. Spiritual klien dengan suka rela bekerja sama dengan orang lain yang memberikan perawatan spiritual dan memudahkan pemberian pelayanan rohani dan ritual. Memberikan privasi bagi klien dan penasihat spiritualnya adalah tindakan yang sensitif dan bijaksana. Jika perawat merasa tidak pasti tentang rutinitas agama klien, menanyakan kepada penasehat spiritual, keluarga, atau klien adalah tindakan yang sesuai. Sering kali klien yang di rawat di rumah sakit ingin mendiskusikan tentang perhatian spiritualnya pada malam atau tengah malam, ketika pelayanan pendukung seperti rohaniawan dan pekerja sosial tidak ada.

Perawat dapat melakukan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan klien, cukup dengan mendengarkan. b. Berdoa Tindakan bedoa adalah bentukdedikasi-diri yang memungkinkan individu untuk bersatu dengan tuhan atau yang maha kuasa (McCullough, 1995). Berdoa memberi kesempatan kepada individu untuk memperbaharui kepercayaan dan keyakinannya kepada yang maha kuasa dengan cara yang lebih formal. Bagi banyak orang, berdoa adalah suatu kesempatan untuk meninjau kembali kelemahan yang mereka rasa dan untuk membuat komitmen hidup lebih baik. Klien dapat berpartisipasi dalam berdoa secara pribadi atau mencari kesempatan untuk kelompok berdoa dengan keluarga, teman, atau kelompok rohaniawan. Berdoa telah ditemukan sebagai suatu sumber yang efektif bagi seseorang untuk mengatasi nyeri, stres, dan distres. Suatu setudi oleh Turner dan Celanci (1986) mengidentifikasi bahwa dengan meningkatkan berdoa dan berharap, klien nyeri pinggang kronis telah menunjukan penurunan intensitas nyeri. Yang juga sudah diteliti adalah bahwa berdoa dapat mencakup perubahan kardiovaskular dan relaksasi otot. Seringkali berdoa memnyebabkan seseorang merasakan perbaikan suasana hati dan merasakan kedamaian dan ketenangan. Selama pengkajian perawat mengetahui apakah berdoa merupakan ritual penting bagi klien dan kemudian menentukan apakah intervensi dibutuhkan sehingga berdoa dapat dilakukan. Intervensi dapat mencakup membentuk privasi, mendorong kunjungan dari rohaniawan, atau berdoa bersama klien. c. Diet Terapi Makanan dan nutrisi adalah aspek penting dari asuhan keperawatan. Makanan juga komponen penting dari kepatuhan keagamaan. Seperti halnya kultur atau agama tertentu. Makanan dan ritual sekitar persiapan dan penyajian makanan dapat menjadi bagian penting dari spiritualitas seseorang. Agama hindu mempunyai banyak pantangan diet beberapa sekte adalah penganut vegetarian, mempercayai bahwa membunuh segalah makhluk hidup adalah suatu tindakan kriminal. Banyak orang yang beragama budha juga

vegetarian. Sebagian besar penganut agama budha mempraktikkan moderasi dan tidak menggunakan alkohol, tembakau, atau obat-obatan dan berpuasa pada harihari khusus agama. Memakan daging babi dan mengkonsumsi alkohol adalah larangan dalam agama islam. Ramadhan adalah berpuasa pada siang hari. Orang yang sakit, wanita hamil, dan ibu yang sedang menyusui dibebaskan dari ritual berpuasa. Yahudi ortodoks, konservatif dan sebagian yahudi reformasi sangat ketat mematuhi hukum halal dalam diet, yang melarang makan daging babi dan kerang. Selain itu, daging dan susu, atau produk dari susu, tidak dapat di makan bersamaan waktunya, harus di makan 6 jam kemudian setelah makan atau minum yahudi juga mempunyai peraturan tentang prersiapan makanan untuk tetap menjaga makanan tetaphalal atau terbekati. Sebagian tradisi kristen, seperti Adven Hari Ketujuh, mempunyai peraturan diet. Kelompok lainnya, seperti Evangelikan melarang pengguanan alkohol, kafein, dan tembakau. Sebagian penganut Adven Hari Ketujuh mungkin menolak makanan yang mengandung daging. Saksi yehova menghindari makanan yang disiapkan dengan atau mengandung darah, seperti saus darah atau marus. Banyak penganut khatolik roma, yang berusia lebih dari 7 dan dibawah 65 tahun, jika kesehatan memungkinkan. Berpuasa atau tidak makan daging pada rabu abu (yang menandai dimulainya bulan puasa masehi, biasanya pada akhir februari) dan jumat agung (hari jumat sebelum paskah). Khatolik ortodoks mungkin berpuasa selama bulan puasa masehi dan tidak makan daging dan produk dari susu pada hari rabu dan jumat. Beberapa sempalan pada hari kristen mungkin berpuasaa 1 sampai 6 jam sebelum komunik. Semua ritual berpuasa tidak dilakukan saat sakit, hamil, atau menyusui. Perawat dapat mengintegrasikan pilihan diet klien ke dalam perawatan sehari-hari. Hal ini akan membutuhkan konsultasi dengan ahli gizi dari institusi keperawatan kesehatan. Pada situasi ketika dapur rumah sakit atau rumah perawatan tidak dapat menyiapkan dengan cara yang dipilih, keluarga di izinkan membawa makanan yang sesuai dengan pantangan diet yang diberlakukan oleh kondisi klien.

d. Mendukung Ritual Bagi banyak klien, kemampuan untuk menelaah ritual keagamaan adalah suatu sumber koping yang penting. Hal ini terutama benar bagi seorang lansia. Perawat yang bertugas di lingkungan perawatan akut dan perawatan jangka panjang menjadi aktif dalam perawatan spiritual klien, mereka membekali diri dengan kebijakan rumah sakit mengenai kunjungan, pelayanan gereja, dan semua hal-hal yang berkenaan dengan itu seperti penggunaan lilin untuk berdoa. Selain itu, perawat dapat berkonsul dengan dokter dan farmasi tentang penggunaan obatobat pribadi klien, ramuan tradisional, atau medikasi herbal, jika memungkinkan. Karena kunjungan ke Kapel atau musola rumah sakit atau menghadiri suatu pelayanan mungkin penting bagi klien yang dirawat di rumah sakit ada keluarganya, pengarahan tentang kapel atau musola harus dicakupkan selama orientasi pada fasilitas medis. Pengaturan mungkin diperlukan dengan pastoran dari departemen perawatan bagi klien dan keluarganya sehingga dapat menerima sakramen. Perawat merencanakan perawatan pribadi, terapi, atau pemeriksaan untuk memungkinkan pelayanan dari tempat ibadah, pembacaan keagamaan, atau kunjungan spiritual. Dalam lingkungan rumah perawat mungkin harus menemukan cara untuk memadukan pelayanan keagamaan. Banyak gereja membuat rekaman suara setiap minggu tantang pelayanan keagamaan untuk jemaat di rumah. Anggota keluarga dapat merencanakan sesi sembahyangan atau suat pembacaan alkitab yang teratur. Kependetaan akan secara rutin memberikan tawaran untuk kunjungan rumah bagi seseorang yang tidak mampu menghadiri pelayanan keagamaan.meditasi dan musik keagamaan yang direkam dan pelayanan keagamaan yang ditayangkan di televisi memberkan pilihan lain yang efektif.

Evaluasi Pencapaian kesehatan spiritual dapat dianggap sebagai tujuan sepanjang hidup. Klien akan mengalami pentingnya mengklarifikasi nilai, membentuk

kembali filosofi, dan menjalani pengalaman yang membantu membentuk tujuan seseorang dalam kehidupan. Ketika merawat klien, perawat mengevaluasi apakah intervensi keperawatan membantu menguatkan spiritualitas klien. Perawat membandingkan tingkat spiritual klien dengan perilaku dan kebutuhan yang tercatat dalam pengkajian keperawatan.klien harus mengalami emosi sesuai dengan situasi; dan mengalami hubungan interpersonal yang terbuka dan hangat. Keluarga dan teman, dengan siapa klien telah membentuk persahabatan dapat dijadikan sumber informasi evaluatif. Klien harus juga mempertahankan misi dalam hidup dan, bagi sebagian individu, percaya dan yakin dengan yang maha kuasa atau yang maha tinggi, Bagi klien dengan penyakit terminal yang serius, evaluasi difokuskan kepada keberhasilan membantu klien meraih kembali harapan. Perawat harus mengevaluasi kualitas hubungan perawat-klien. Apakah klien mengekspresikan rasa percaya dan yakin kepada perawat? Apakah klien mampu mendiskusikan halhal yang penting dalam hidup? Bagi klien dengan ansietas, ketakutan, kekuatan,dan pertanyaan yang bertubi-tubi, mungkin sebaiknya dilakukan penyesuaian kembali rencana perawatan. Sumber tambahan seperti penasehat atau anggota dari kongregasi gereja mungkin diperlukan. Akhirnya, klien yang membutuhkan spiritualnya terpenuhi mungkun menjadi tenang, bahwa ketika mengalami penyakit yang parah. Jika klien merasa nyaman mengekspresikan kebutuhan spiritual dan harapannya kepada perawat, maka telah terjadi hubungan efektif yang menyembuhkan. Kotak evaluasi yang disajikan meringkas contoh tindakan evaluasi yang digunakan untuk mencapai hasil dalam rencana perawatan spiritual. Asuhan keperawatan holistik mengintegrasikan intervensi yang mendukung spiritualitas klien. Untuk memberikan keperawatan spirital, perawat harus memahami dimemnsi kesehatan spiritual dan mampu mengenali kesehatan spiritual seseorang. Sama artinya, setiap pearawat harus mampu untuk memahami spiritualitas mereka sendiri sehingga ia dapat merasakan dan memberdayakan diri untuk memberi dukungan terhadap kebutuan spiritual klien.

Pengembangan hubungan perawat-klien yang mengasihi adalah inti dari pemberian perawatan spiritual. Tecapainya kehadiran dan keterbukaan bersama klien memberyakan perawat untuk memberikan pearawatan dalam cara yang sensitif, kreatif, dan sesuai. Perawat juga mempelajari untuk mengarahkan harapan klien, sambil membentuk hubungan yang menyembuhkan. Hal ini membantu klien berorientasi pada masa depan dan mampu berupaya kearah penyembuhan dan pemulihan.

BAB III PENUTUP

3.1

KESIMPULAN Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat

mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami ,menuntun kebiasaan hidup sehari-hari gaya hidup atau perilaku tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien seperti tentang permintaan menu diet. Sumber dukungan, spiritual sering menjadi sumber dukungan bagi seseorang untuk menghadapi situasi stress. Dukungan ini sering menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima keadaan hidup yang harus dihadapi termasuk penyakit yang dirasakan. Sumber kekuatan dan penyembuhan,individu bisa memahami distres fisik yang berat karena mempunyai keyakinan yang kuat. Pemenuhan spiritual dapat menjadi sumber kekuatan dan pembangkit semangat pasien yang dapat turut mempercepat proses kesembuhan. Sumber konflik pada situasi tertentu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan seperti tentang pandangan penyakit ataupun tindakan terapi. Pada situasi ini, perawat diharapkan mampu memberikan alternatif terapi yang dapat diterima sesuai keyakinan pasien. 3.2 SARAN Perlu banyak pembelajaran tentang spiritualitas klien agar seorang tenaga kesehatan tidak salah mengambil sikap atau tindakan dalam menghadapi klien dengan gangguan spiritualitas. Perhatian spiritualitas dapat menjadi dorongan yang kuat bagi klien kearah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritualitas. Untuk itu seorang perawat tidak boleh mangesampingkan masalah spiritualitas klien.