Anda di halaman 1dari 17

GEOGRAFI DESA

PENGARUH URBANISASI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN WILAYAH KRANGGAN, SERPONG, TANGERANG
Dosen Pengampu :
Dr. Moh. Gamal R, M.Si

Disusun Oleh :

1. ABDUL KARIM K 5410001 2. BHIAN RANGGA J.R K 5410012 3. SEFTIAN EVA W K 5410054

PRODI GEOGRAFI FKIP UNS 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Selama ini, istilah urbanisasi oleh sebagian orang diartikan sebagai suatu proses perpindahan dari desa menuju ke kota. Padahal istilah urbanisasi yang di maksud bukanlah demikian. Yang dimaksud dengan urbanisasi sebenarnya merujuk kepada suatu proses pengkotaan. Jadi dapat dikatakan bahwa

kebanyakan orang awam sering mengacaukan pengertian urbanisasi sebagai suatu perpindahan penduduk dari desa ke kota, walaupun hal tersebut merupakan salah satu sebab dari urbanisasi. Tulisan ini merupakan sebuah pemaparan mengenai konsep urbanisasi sebagai salah satu proses terjadinya sebuah kota (proses pengkotaan). Di dalam paparannya, juga akan dibahas mengenai latar belakang timbulnya urbanisasi, faktor-faktor pendorong timbulnya urbanisasi, serta dampak yang ditimbulkannya. Selain itu di dalam makalah ini juga akan disajikan salah satu bentuk analisis terhadap suatu kawasan yang mengalami urbanisasi (pengkotaan). Dalam hal ini daerah yang menjadi wilayah percontohan adalah daerah Kranggan Kecamatan Serpong, Kota Tangerang. Dengan adanya pembahasan ini, maka diharapkan dapat menambah wawasan serta mengarahkan pada pengertian urbanisasi yang lebih tepat.

B. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut 1. Memahami istilah yang tepat dari urbanisasi 2. Mengetahui faktor penyebab terjadinya proses urbanisasi 3. Melakukan suatu analisis salah satu wilayah yang mengalami gejala urbanisasi 4. Mengkaji berbagai faktor yang mendorong terjadinya urbanisasi dalam lingkup wilayah yang dikaji 5. Menimbulkan persepsi yang benar tentang arti kata urbanisasi

C. Ruang Lingkup Ruang lingkup dalam pembahasan makalah ini secara subtansial yaitu meliputi : Analisis proses urbanisasi yang terjadi di suatu wilayah Dengan ruang lingkup pembahasan secara spasial meliputi : 1. Pengertian Urbanisasi 2. Latar belakang terjadinya urbanisasi 3. Serta berbagai hal yang berkaitan dengan urbanisasi.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Terminologi Urbanisasi Pengertian urbanisasi yang sebenarnya menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia adalah, suatu proses kenaikan proporsi jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Selain itu dalam ilmu lingkungan, urbanisasi dapat diartikan sebagai suatu proses pengkotaan suatu wilayah. Proses pengkotaan ini dapat diartikan dalam dua pengertian. Pengertian pertama, adalah merupakan suatu perubahan secara esensial unsur fisik dan sosial-ekonomi-budaya wilayah karena percepatan kemajuan ekonomi. Pengertian kedua adalah banyaknya penduduk yang pindah dari desa ke kota, karena adanya penarik di kota, misal kesempatan kerja. Pengertian urbanisasi inipun berbeda-beda, sesuai dengan interpretasi setiap orang yang berbeda-beda. Jadi pengertian urbanisasi diartikan sebagai suatu proses perubahan masyarakat dan kawasan dalam suatu wilayah yang non-urban menjadi urban. Secara spasial. Hal ini dikatakan sebagai suatu proses diferensiasi dan spesialisasi pemanfaatan ruang dimana lokasi tertentu menerima bagian pemukim dan fasilitas yang tidak proporsional. Pengertian lain dari urbanisasi, pengertian pertama diutarakan bahwa urbanisasi merupakan suatu proses pembentukan kota, suatu proses yang digerakkan oleh perubahan struktural dalam masyarakat sehingga daerah-daerah yang dulu merupakan daerah pedesaan dengan struktur mata pencaharian yang agraris maupun sifat kehidupan masyarakatnya lambat laun atau melalui proses yang mendadak memperoleh sifat kehidupan kota. Pengertian kedua dari urbanisasi adalah, bahwa urbanisasi menyangkut adanya gejala perluasan pengaruh kota ke pedesaan yang dilihat dari sudut morfologi, ekonomi, sosial dan psikologi. Dari beberapa pengertian mengenai urbanisasi yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian urbanisasi adalah merupakan suatu proses

perubahan dari desa ke kota (pengkotaan) yang meliputi wilayah atau daerah beserta masyarakat di dalamnya dan dipengaruhi oleh aspek-aspek fisik atau morfologi, sosial, ekonomi, budaya, dan psikologi masyarakatnya. B. Latar Belakang Terjadinya Urbanisasi Latar belakang terjadinya urbanisasi pada negara indusrti maju dengan negara yang berkembang mempunyai beberapa perbedaan yang terdiri dari: 1. Negara Industri Maju Pada negara industri maju, urbanisasi dimulai sejak industrialisasi, jadi industri merupakan titik tolak terjadinya urbanisasi. Penduduk kota meningkat lebih lambat dibandingkan di negara berkembang. Pertumbuhan kota relatif lebih imbang (perbedaan tidak besar). proses urbanisasi merupakan proses ekonomi 2. Negara Sedang Berkembang Urbanisasi pada negara berkembang dimulai sejak PD II, urbanisasi merupakan titik tolak terjadinya industri (kebalikan dari negara industri maju). Penduduk kota meningkat cepat. Urbanisasi tidak terbagi rata, semakin besar kotanya, semakin cepat proses urbanisasinya, adanya konsep Primate City. proses urbanisasi bersifat demografi Dari uraian di atas, jelas bahwa sejak PD II, proses urbanisasi di negara berkembang terjadi terlebih dulu dan kemudian menjadi titik tolak terjadinya industrialisasi. Pada kenyataannnya, saat ini seperti yang terjadi di Cibinong, urbanisasi terjadi setelah adanya industri (dibangunnya daerah-daerah industri baru). Selain itu pada daerah pinggiran Jakarta dibangun beberapa daerah industri yang berfungsi untuk mendukung kegiatan kota Jakarta, selain itu juga terjadi peningkatan ekonomi wilayah pinggiran tersebut sehingga wilayah tersebut berangsur-angsur menjadi kota. Oleh karena itu konsep bahwa urbanisasi merupakan titik tolak terjadinya industri menjadi kurang tepat karena sesungguhnya keduanya saling mempengaruhi. Selain itu telah disebutkan bahwa urbanisasi adalah proses kenaikan proporsi jumlah penduduk kota, dalam buku Kota Indonesia Masa Depan Masalah dan Prospek, oleh BN Marbun, disebutkan bahwa kenaikan jumlah penduduk ini diantaranya disebabkan oleh gejala alami

yaitu kelahiran dan masuknya orang-orang yang pindah dari daerah pedesaan ke perkotaan, ataupun dari daerah perkotaan ke daerah perkotaan yang lebih besar atau yang disebut migrasi (rural-urban, urban-urban). Kedua hal ini biasanya disebut sebagai komponen urbanisasi. Dari kedua komponen tersebut biasanya, pengaruh perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan ataupun perpindahan daeri perkotaan ke kota yang lebih besar akan mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan pengaruh jumlah kelahiran. Banyak orang berpendapat bahwa alasan utama kepindahan seseorang atau sekelompok orang dari daerahnya ke tempat lain adalah karena terdorong oleh faktor-faktor penarik daerah kota atau daerah tersebut serta anggapan dari masyarakat desa bahwa kota dapat memberikan lapangan atau kesempatan kerja dengan memberikan upah yang besar. Namun dalam kenyataannya sebagian besar penyebab terjadinya migrasi ini adalah karena tidak adanya pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang mereka miliki, sehingga timbul kecenderungan untuk keluar dari desa atau daerah mereka untuk pindah ke kota. Secara terperinci faktor penyebab adanya urbanisasi adalah karena adanya faktor utama yang klasik yaitu kemiskinan di daerah pedesaan. Faktor utama ini melahirkan dua faktor penyebab adanya urbanisasi yaitu sebagai berikut. a. Faktor Penarik (pull factors) Orang desa tertarik ke kota adalah suatu yang lumrah yang sebab-sebabnya bagi individu atau kelompok mungkin berbeda satu sama lain dilihat dari kepentingan individu tadi. Beberapa alasan yang menarik mereka pindah ke kota diantaranya adalah: Melanjutkan sekolah, karena di desa tidak ada fasilitasnya atau mutu kurang Pengaruh cerita orang, bahwa hidup di kota gampang cari pekerjaan, atau mudahnya membuka usaha kecil-kecilan Tingkat upah di kota yang lebih tinggi Keamanan di kota lebih terjamin Hiburan lebih banyak Kebebasan pribadi lebih luas Adat atau agama lebih longgar.

b. Faktor pendorong (Push factors) Di sisi lain kota mempunyai daya tarik, di pihak lain keadaan tingkat hidup di desa umumnya mempercepat proses urbanisasi tersebut, hal ini menjadi faktor pendorong tumbulnya urbanisasi. Faktor pendorong yang dimaksud diantaranya adalah: Keadaan desa yang umumnya mempunyai kehidupan yang statis Keadaan kemiskinan desa yang seakan-akan abadi Lapangan kerja yang hampir tidak ada Pendapatan yang rendah Keamanan yang kurang Adat istiadat yang ketat Kurang fasilitas pendidikan Dari uraian di atas, jelaslah bahwa faktor utama penyebab timbulnya urbanisasi yang paling kuat adalah faktor ekonomi (menjadi motif utama para migran), selain itu disusul dengan faktor tingkat pendidikan. Penyebab lain dari terjadinya urbanisasi adalah karena terjadinya overruralisasi yaitu tingkat dan cara produksi di pedesaan terdapat terlalu banyak orang. Berbeda dengan jaman sebelum terjadinya industrialisasi, pada jaman tersebut proses timbulnya kota-kota di negara-negara wilayah Asia dipengaruhi oleh faktor-faktor: Ekologi: adanya lingkungan alamiah yang menguntungkan dapat memperngaruhi tumbuhnya suatu kota Teknologi: adanya perkembangan teknologi sesuai kemajuan jaman Organisasi sosial: ditandai dengan adanya pembagian kerja. Sedangkan faktor penggerak terjadinya urbanisasi sebelum industrialisasi adalah: Lembaga militer Agama, penyebaran dan misi agama Politik.

BAB III PEMBAHASAN

A. Analisis Keadaan Wilayah Tahun 2004

Berdasarkan peta citra yang diambil dari citra ikonos google earth pada tahun 2004, dapat diperoleh gambaran bahwa pada daerah ini permukiman mendominasi di wilayah bagian utara. Permukiman padat yang ada di bagian utara ini merupakan permukiman yang teratur dan terencana. Sehingga ada kemungkinan bahwa permukiman ini merupakan sebuah area kompleks perumahan yang telah dibangun dan berdiri sejak lama. Dan diprediksikan akan semakin bertambah besar dan luas. Hal ini diindikasikan dari mulai dibangun dan didirikannya beberapa rumah di sekeliling perumahan ini. Selain itu, didukung juga karena mulai terlihatnya titik terang perkembangan mengenai pembangunan dan pendirian sebuah areal perindustrian untuk beberapa tahun kedepannya. Luas area permukiman = 2,14 km2, sedangkan luas area industri = 0,32 km2

Gambar yang menunjukan dominasi permukiman di sebelah utara Sedangkan di bagian selatan, daerah permukiman tidak sepadat permukiman yang ada di bagian utara. Permukiman yang ada di bagian selatan ini terlihat seperti permukiman yang tidak teratur dan terencana. Hal ini ditunjukan dari pola permukiman yang menyebar tidak merata. Selain itu, juga dikarenakan lahan yang ada di bagian selatan ini masih merupakan lahan hijau terbuka bukan lahan kosong yang dapat lebih mudah untuk dijadikan lahan permukiman. Untuk perkembangan permukiman masih terlihat hanya dibeberapa area atau titik saja. Ada areal permukiman yang cukup besar dan ada juga yang sangat kecil bahkan tidak terlihat oleh mata. Di daerahbagian selatan ini, masih bisa terlihat adanya tataguna lahan (landuse) yang dipergunakan sebagai lahan terbuka hijau, seperti pekarangan dan perkebunan.

Gambar yang menunjukan adanya daerah yang permukimannya masih jarang dan masih adanya areal lahan hijau dibagian selatan

Selanjutnya, di bagian timur, daerah permukiman tidak terlihat sama sekali bahkan perkembangannya nol. Yang ada hanyalah sebuah area lahan kosong yang sangat luas. Mungkin karena akibat dari letaknya yang sangat berdekatan dengan jalan raya utama sehingga lahan kosong di daerah bagian timur ini harga tanahnya sangat mahal. Sedangkan disisi lain, perkembangan daerah industri di daerah ini mulai terlihat dan nampak. Hal ini diindikasikan dari adanya dua bangunan industri baru yang cukup besar. Adanya dua bangunan industri ini merupakan kemungkinan awal tumbuhnya daerah industri baru di daerah bagian timur ini karena memang letaknya yang sangat strategis dari sisi aksesibilitas dan pemasaran.

Mulai munculnya bangunan industri

Gambar yang menunjukan munculnya beberapa bangunan industri

B. Analisis Keadaan Wilayah Tahun 2006

Berdasarkan peta citra yang diambil dari citra ikonos google earth pada 2006, dapat diperoleh gambaran bahwa di daerah ini area permukiman tidak jauh berbeda dengan gambaran permukiman pada tahun 2004. Perkembangan permukiman yang semula berada di bagian utara pada tahun 2004 berpindah menjadi di bagian selatan yang dulunya merupakan lahan hijau kemudian menjadi lahan kosong dan akhirnya dibangun dan didirikan beberapa permukiman yang hampir menjadi sebuah perumahan. Hal ini kemungkinan karena harga tanah di daerah bagian selatan ini tidak semahal harga tanah yang ada di bagian utara. Perkembangan signifikan justru terjadi perkembangan area perindustrian. Yang semula pada tahun 2004 hanya terdapat 2 buah bangunan industri saja, pada tahun 2006 berkembang dengan pesat menjadi 11 buah bangunan industri yang terdapat di sebelah timur jalan raya utama (9 bangunan industri) dan di sebelah barat jalan raya utama (2 bangunan industri). Hal ini tidak terlepas dari kemudahan aksesbilitas dalam hal ini adalah kemudahan transportasi baik dalam mencari dan mengangkut bahan baku dan juga dalam pemasaran hasil produksi dari industri tersebut sehingga menguntungkan dari sisi kesehatan finansialnya. Luas area permukiman = 2,7 km2, sedangkan luas area industri = 0,69 km2

Gambar yang menunjukan perpindahan perkembangan permukiman yang semula berada di bagian utara menjadi di bagian selatan

2004

2006

Gambar yang menunjukan perkembangan daerah industri yang kemungkinan akan menjadi sebuah kawasan industri yang cukup besar

C. Analisis Keadaan Wilayah Tahun 2011

Berdasarkan peta citra yang diambil dari citra ikonos google earth pada tahun 2011, dapat diperoleh gambaran bahwa di daerah ini daerah permukiman dan daerah industri berkembang dan bertambah sangat luas. Hal ini tidak terlepas dari sudah banyaknya lahan hijau yang telah beralih fungsi menjadi lahan kosong yang sangat luas. Daerah permukiman yang berada di sebelah barat jalan raya utama tumbuh dan berkembang begitu pesat kemungkinan imbas dari terbentuknya sebuah kawasan industri yang berada di sebelah timur jalan raya utama. Hal ini telah diprediksikan sebelumnya bahwa akan terbentuk sebuah kawasan industri yang cukup besar yang ditunjukkan dari banyaknya lahan kosong yang sangat luas yang berada di sebelah timur jalan raya utama. Ada suatu areal di sebelah barat jalan raya utama yang perubahan landusenya berubah sangat signifikan yakni yang pada tahun 2004 berupa lahan hijau, pada tahun 2006 berupa lahan kosong, dan akhirnya pada tahun 2011 berubah menjadi daerah permukiman yang cukup luas dengan pola perkembangan yang terencana dan teratur. Kemungkinan daerah ini merupakan kawasan perumahan yang akan terus berkembang dan bertambah luas seiring akan kebutuhan tempat tinggal bagi para pekerja industri. Luas area permukiman = 3,74 km2, sedangkan luas area industri = 3,08 km2

Berikut ini adalah daerah yang perubahan landusenya sangat signifikan:

Gambar yang menunjukan daerah yang mengalami perubahan yang sangat signifikan Keterangan: A : Landuse yang berupa lahan pekarangan (2004) B : Landuse yang berupa lahan kosong yang disiapkan untuk areal permukiman C : Landuse yang berupa areal permukiman

Gambar yang menunjukkan perkembangan kawasan permukiman yang berada di sebelah timur jalan raya utama

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan Pengertian urbanisasi telah dijelaskan di atas yakni perubahan daerah pedesaan ke arah sifat kehidupan kota, pertumbuhan suatu pemukiman menjadi kota, perpindahan penduduk ke kota yang terlihat pada berbagai bentuk mobilitas penduduk, serta kenaikan proporsi penduduk yang tinggal di kota. Salah satu faktor terjadinya urbanisasi adalah adanya industrialisasi. Fenomena yang terjadi di daerah Kragan, Kecamatan Serpong, Kota Tanggerang merupakan sebuah fenomena sub-urbanisasi di Indonesia yang lebih bercirikan sebagai globalisasi di kawasan sub-urban. Faktor-faktor pendorongnya merupakan kombinasi dari kekuatan politik-ekonomi yang bergerak pada tataran makro hingga mikro. Hal ini kemudian berdampak pada perkembangan penggunaan lahan kota dan pola interaksi aktivitas yang berlangsung di atasnya, dan pada sisi lain terjadinya peningkatan eksploitasi lahan terutama konversi lahan pertanian produktif maupun kawasan konservasi dan perluasan kerusakan ekosistem lokal. Karakteristik sub-urbanisasi di pinggiran Jakarta khususnya di Kota Tangerang dicirikan oleh adanya faktor-faktor sebagai berikut : 1. Tingkat Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk Pertumbuhan dan kepadatan penduduk kota mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga proses urbanisasi masih akan berlangsung. Dengan demikian potensi perkembangan penduduk Tangerang akan semakin masif seperti yang terjadi di Jakarta. Hal ini akan berdampak langsung pada penggunaan lahan di wilayah sub-urban. Jika pada awalnya sebagian besar guna lahan wilayah sub-urban adalah lahan pertanian, lama kelamaan bergeser menjadi lahan permukiman dan industri.

2. Perkembangan Perumahan Skala Besar Perkembangan permukiman skala besar ditandai oleh pesatnya permintaan akan lahan untuk kegiatan usaha atau tempat hunian, khususnya kawasan perumahan sebagai akibat perkembangan ekonomi yang cukup pesat di Kota Jakarta. Sehingga perkembangan permukiman di wilayah suburban yang terjadi pada umumnya masih punya ketergantungan yang sangat tinggi dengan Kota Jakarta. 3. Perkembangan Kawasan Industri Salah satu dari bangkitan akibat tumbuhnya industri di beberapa wilayah Jakarta tersebut adalah pembangunan perumahan dalam skala besar. Hal ini terjadi akibat tuntutan kebutuhan tempat tinggal para pelaku industri atau karyawan yang ingin bermukim di sekitar kawasan untuk mengurangi biaya transportasinya. 4. Peningkatan Intensitas Pergerakan Aktivitas Kota Wilayah Jabotabek memiliki volume lalu lintas yang cukup tinggi terutama pada jam-jam puncak yakni pada jam berangkat kerja dan jam pulang kerja sehingga menimbulkan titik-titik kemacetan di beberapa ruas jalan utama setiap harinya. Dari pembahasan uraian makalah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pertumbuhan dan perkembangan kawasan permukiman di daerah Kragan, Kecamatan Serpong, Kota Tanggerang merupakan akibat dari proses urbanisasi yang diakibatkan oleh adanya industrialisasi (perkembangan kawasan industri) yang terjadi di daerah ini yang merupakan imbas dari perluasan kawasan industri Kota Jakarta yang dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/923/939.html http://dixna.wordpress.com/2007/10/22/urbanisasi-akan-selesai-jika-kemakmuranmerata/.html http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/urbanisasi.html http://aguswibowo82.blogspot.com/2008/10/mengatasi-problem-urbanisasi.html http://www.averroes.or.id/lifestyle/menolak-urbanisasi.html http://www.menkokesra.go.id/content/view/6180/39/.html http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/makalah-urbanisasi-pascalebaran.html http://www.google.com/google_earth.com

Anda mungkin juga menyukai