Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN GASTRITIS

A.

Pengertian Gastritis merupakan infeksi pada mukosa lambung, berupa lesi mukosa akut berupa erosi dan perdarahan akibat gangguan sirkulasi akut ( Kapita Selekta Edisi, 2003 ; 136 ) Gastritis adalah peradangan inflamasi lambung yang disebabkan oleh mucus benigna / maligna dari lambung atau bakteri

Helicobacter Pylory. ( Bruner and Suddart, 2003 ; 1062 ) Gastritis adalah peradangan pada daerah lambung ( Kamus Kedokteran, 2003 ; 136 ) Klasifikasi 1. a. Gastritis superfisial akut Pengertian Gastritis akut merupakan penyakit yang paling sering ditemukan, blasnya jinak dan dapat sembuh sendiri,

merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal. b. Etiologi Gastritis (inflamasi mukosa lambung) sering akibat diet yang sembrono. Individu ini makan teralu banyak atau terlalu cepat atau makan-makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Penyebab lain dari gastritis akut mencakup lakohol, aspirin, reflek empedu atau terapi radiasi.

Bentuk

terberat

dari

gastritis

akut

disebabkan

oleh

mencerna asam atau alkali kuat, yang dapat menyebabkan mukosa menjadi ganggren atau perforasi. Pembentukan jaringan parut dapat terjadi, yang mengakibatkan obstruksi pilorus, gastritis juga merupakan tanda pertama dari infeksi sistemik akut. 2. a. Gastritis atrofik kronik Pengertian Yaitu inflamasi lambung lama yang dapat disebabkan oleh ulkus benigna/maligna dari lambung atau oleh bakteri helicobactery pylory (H. pylory). b. Etiologi Penyakit ini lebih sering terdapat pada orang tua, minum alkohol berlebihan, the panas dan merokok merupakan predis posisi timbulnya gastritis kronis. Gastritis kronis disebabkan dapat diklasfisikasikan sebagai tipe A dan tipe B (sering disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Hal ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B (kadang disebut gatritis H. pylory), ini dihubungkan dengan bakteri G. pylory, faktor diet seperti minum panas atau pedas, penggunaan obat-obatan dan lakohol, merokok atau refluks isi usus kedalam lambung.

B.

ANATOMI DAN FISIOLOGI Saluran pemcernaan merupakan saluran yamg menerima makanan dari luar mempersiapkan untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan ( Pengunyahan, penelanan, dan pencernaan ) dengan enzim dan zat cair yang terbentang dari mulut ( oris ) sampai anus. ( Syaifudin, Edisi 2 1997 ; 75 ). Bagian bagian lambung terdiri dari : 1. Fundus ventrikuli bagian yang menonjol keatas terletak sebelah kiri osteum cardium dan biasanya penuh berisi gas. 2. Korvus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan bagian bawah kurvatura minor. 3. Antrum Pylorus. Bagian lambung berbentuk tabung

mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pylorus. 4. Kurvatura Minor, terdapat sebelah kanan terbentang dari osteum kardiak sampai pylorus. 5. Kurvatura Mayor, lebih banyak / panjang dari kurvatura minor terbentang dari sisi kiri osteum kardium sampai pylorus inferior. Ligamentum gastrolienalis terbentang dari atas

kurvatura mayor sampai ke limfe 6. Osteum kardium, merupakan tempat dimana esophagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pylorik.

Susunan dari dalam keluar, terdiri dari : 1. Lapisan selaput lendir, apabila lambung dikosongkan, lapisan ini akan berlipat yang disebut Rugae. 2. lapisan otot melingkar ( M. aurikularis ) 3. Lapisan otot miring ( M. Obligikus ) 4. lapisan otot panjang ( M. Longitudinal ) 5. Lapisan jaringan ikat ( Perionium ) Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan, bisa melihat makanan, mencium bau makanan serta sekresi lambung akan terangsang. Rasa makanan merangsang sekresi lambung karena kerja saraf sehungga menimbulkan rangsangan kimiawi yang menyebabkan di dinding lambung melepaskan hormone yang disebut sekresi getah lambung. Getah lambung dihalangi oleh system saraf simpatis yang dapat terjadi pada waktu gangguan emosi seperti marah dan rasa takut. 1. Susunan Saluran Pencernaan Susunan pencernaan terdiri dari : a. b. c. d. e. Oris ( Mulut ) Faring ( Tekak ) Esofagus ( kerongkongan ) Ventrikus ( lambung ) Intestinum Minor ( Usus halus ) Deudenum Jejenum Ilium

f. g. h. i. Seikum

Intestinum mayor ( Usus mayor )

Kolon asenden Kolon tranversum Colon Rectum Anus

2. Alat alat Penghasil Getah Bening a. Kelenjar ludah Kelenjar parotis Kelenjar submaksilaris Kelenjar sublingualis

b. Kelenjar lambung c. Kelenjar hati d. Kelenjar pancreas e. Kelenjar Getah usus 3. Gaster ( Lambung ) Lambung terletak dibawah diafragma didepan pancreas dan limpa, menempel disebelah kiri fundus uteri. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri yang berhubungan dengan esophagus melalui orifisium pilorik. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsoprsi air dan elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang manampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Kolon mengabsorpsi sekitar 600 ml air perhari, bandingkan dengan usus halus yang mengabsorpsi sekitar 8.000 ml. kapasitas

absorpsi usus besar adalah sekitar 2.000 ml/hari. Berat akhir feses yang dikeluarkan perhari sekitar 200 gr, 75% diantaranya berupa air. Usus besar mengsekresikan mukus alkali yang tidak mengandung enzim. Mukus ini bekerja untuk melumasi dan melindungi mukosa. Bakteri usus besar mensintesis vitamin K dan beberapa Vitamin B. pembusukan oleh bakteri dari sisa-sisa protei menjadi asam amino dan zat-zat yang lebih sederhana seperti peptida, indol, skatol, fenol dan asam lemak. Pembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2, H2S, dan CH4 membantu pembentukan flatus di kolon. Beberapa substansi ini dikeluarkan dalam feses, sedangkan zat lainnya diabsorpsi dan diangkut ke hati dimana zat-zat ini akan dirubah menjadi senyawa yang kurang toksik dan dieksekresikan melalui kemih. Frementasi bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskan CO 2, H2, CH4, yang merupakan komponen flatus. Dalam sehari secara normal dihasilkan sekitar 1.000 ml flatus. Pergerakan usus besar yang khas adalah gerakan mendadak haustrak. Pergerakannya tidak progesif, tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolak-balik dan meremas-remas sehingga memberi cukup waktu untuk absorpsi. Terdapat dua jenis peristaltik propulsif : (1) kontraksi lamban dan tidak teratut, berasal dari segmen proksimal dan bergerak ke depan, menyumbat beberapa haustra; dan (2) peristaltik massa, merupakan kontraksi yang lebih melibatkan segmen kolon. Kejadian ini timbul sampai tiga kali sehari dan dirangsang oleh refleks gastrokolik, setelah makan, khususnya setelah makanan pertama masuk pada hari itu.

Propusi feses ke ruktum mengakibatkan distensi dinding rektum dan merangsang refleks defekasi. Defekasi dikendalikan oleh stingter ani eksterna dan interna. Serabut-serabut parasimpatis mencapai rektuim melalui saraf splangnikus panggul dan

bertanggung jawab atas kontraksi rektum dan relaksasi stingter interna. Otot-otot stingter interna dan eksterna berelaksasi pada waktu anus tertarik atas melebihi tinggi massa feses. Defeksi dipercepat dengan adanya peningkatan tekanan intra abdomen

yang terjadi akibat kontraksi voluntar otot-otot dada dengan glotis ditutup, dan kontraksi secara terus-menerus dari otot-otot abdomen (manuver atau peregangan valvasa). Rektum dan anus merupakan lokasi dari penyakit-penyakit yang sering ditemukan pada manusia. Penyebab umum konstipasi adalah kegagalan pengosongan rectum saat terjadi peristaltik massa. Akibat tekanan feses berlebihan menyebabkan kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna dan merupakan salah satu penyebab henoroid (vena varikosa rectum). Ikontinensia feses dapat diakibatkan oleh kerusakan medula spinalis. Kanker kolon dan rektum merupakan kanker saluran cerna yang laing sering terjadi.

PARTOGRAF

C.

PATOFISIOLOGI Terdapat gangguan keseimbangan factor agresif dan factor defensive yang berperan dalam menimbulkan lesi pada mukosa factor agresif. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Asam lambung Pepsin Empedu Infeksi bacteri Bahan korosif Infeksi virus

Factor Defensif 1. Mukus 2. Bicarbonas Mucosa 3. Prostaglandin Mikrosirkulasi D. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejalanya diantaranya : 1. 2. 3. 4. 5. Nyeri ulku hati Mual Muntah Kembung Muntah dan dapat ditemukan perdarahan pada saluran cerna berupa Hematemesis dan Melena. Kemudian disusul dengan tanda tanda anemia pasca perdarahan. E. 1. MANAJEMEN MEDIK Diet lunak, diberikan sedikit demi sedikit tetapi lebih sering hindari bahan- bahan yang merangsang seperti alcohol, bumbu dapur dan lain lain.

2.

Berikan antacid kecuali pada gastritis hipotropik dan atrofik gaster.

3.

Bila rada nyeri tidak hilang dengan antacid berikan oxitosm tablet 15 menit sebelun makan

4. 5. F. 1.

Berikan obat anti kolinergik bila sekresi asam berlebihan Pemeriksaan endoskopi dan laboratorium. DATA FOKUS PENGKAJIAN Wawancara Adalah menanyakan atau tanya jawab berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh pasien biasa disebut dengan anamesa yang meliputi : a. Biodata Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, datadata lain seperti : suku, agama dan pekerjaan. b. Riwayat Kesehatan Riwayat kesehatan sekarang mengkaji mengapa klien meminta bantuan selain itu untuk menggali keluhan utama dari klien dan di kembangkan PQRST. Riwayat kesehatan masa lalu ditanyakan apakah klien pernah sebelumnya menderita

Gastritis. Riwayat penggunaan obat dari dokter dan obat warung. Riwayat penggunaan kortikosteroid, kebiasaan minim alcohol, kafein, penggunaan sigaret, pola makan dan gaya hidup.

2.

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yangh dilakukan dengan cara infeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi secara menyeluruh tapi

difokuskan pada penderita Gastritis ditemukan : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. 3. a. b. c. d. G. Bentuk bibir simetris Mucosa bibir Gusi, warna merah muda Tidak terdapat stomatitis Jumlah gigi, ada caries / tidak Lidah, fungsi menelan baik tanpa nyeri Reflek ovula, tonsil Abdomen didapatkan bentuk datar Terdapat pembesaran hepar + 2 cm Lien tidak mermbesar. Pemeriksaan Diagnostik : Hematologi Urinalisa Kimia darah Endoskopi

ANALISA DATA Menurut Nasrul Efendy 1995 ; 24 Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsif yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan lain. 1. Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise. Pembatasan aktivitas / kerja sehubungan dengan proses penyakit.

2.

Integritas ego Gejala : Ketakutan. Factor stress akut / kronis Tanda : Menolak, depresi

3.

Eliminasi Gejala : Konstipasi hilang timbul. Episode diare yang tak dapat diperkirakan hilang timbul, sering tak terkontrol, flatus cair.

4.

Makanan / cairan Gejala : anorexia ; mual / muntah, penurunan berat badan Tanda : Kelemahan, membrane mukosa pucat

5.

Hygine Tanda : Ketdakmampuan mempertahankan perawatan diri

6.

Nyeri Gejala : Nyeri tekan abdomen kuadran kanan atas Tanda : Nyeri tekan

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang

menjelaskan respon ( status kesehatan atau resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawatan secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, membatasi mencegah dan

merubahnya. ( Lynada J. carpenito 2001 ; 35 ) Diagnosa yang mungkin timbul adalah : 1. Gangguan peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan proses infeksi 2. Perubahan intake nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan output berlebih berhubungan dengan Mual dan muntah.

3. Gangguan Keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual dan muntah 4. Gangguan personal Hygiene berhubungan dengan Intoleransi aktivitas 5.Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Kelemahan J. PERENCANAAN Adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah,

mengurangi atau mengoreksi masalah masalah yang diidentifikasi dari diagnosa keperawatan ( Nursalam 2001 ; 51 ) Dx 1 : a. Tujuan 1. Anak tampak tenang 2. Suhu tubuh turunmenurun 3. Bibir tidak pecah-pecah b. Tindakan 1. Beri kompres hangat pada leher 2. Beri minum 1400 cc/hari 3. Kolaborasi untuk memberikan cairan infuse, antibiotic dan anti piretik (paracetamol)

Dx 2 : a. Tujuan 1. 2. 3. Porsi makan yang disediakan habis Klien tidak lemah Aktivitas kembali seperti semula

b. Tindakan

1.

Beri makan dalam keadaan hangat dengan porsi sedikit tapi sering

2. 3. Dx 3 :

Monitor intake makanan Kolaborasi untuk pemberian anti muntah

a. Tujuan : 1. Mual dan Muntah berkurang 2. Masukan cairan bertambah 3. Suhu tubuh normal b. Tindakan : 1. Lakukan kompres hangat pada lambung 2. Observasi Intake dan Output Cairan 3. Kolaborasi untuk pemberian cairan infuse : Rl: 20 gtt/menit Dx 4 : a. Tujuan : 1. Klien terlihat bersih 2. Rambut dan kuku bersih 3. Klien terlihat lebih segar b. Tindakan : 1. Mandikan Klien dengan Air hangat 2. Potong kuku dan keramasi klien 3. Lakukan Oral Hygiene dan Sikat Gigi Dx 5 : a. Tujuan : 1. Klien dapat memaksimalkan Aktivitasnya 2. Klien dapat memenuhi KDM secara mandiri 3. Aktivitas kembali seperti sebelum sakit