Anda di halaman 1dari 21

Farmakoterapi Nyeri

Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Anggota Kelompok
Eky Septian Pradana Iqbal Sujida Ramadhan Nuraini Oktaviani Agustin Eko Setyowati Hesti Lestari 260110100093 260110100094 260110100095 260110100096 260110100097

Definisi Nyeri
Kennet Anderson, 1994 Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya International Association for Study of Pain (IASP) Pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

Klasifikasi Nyeri.[1/3]
Menurut Serangan : 1. Nyeri Akut
Nyeri yang bersifat sementara, terjadi kurang dari enam bulan, biasanya nyeri dirasakan mendadak dan area nyeri dapat diidentifikasi. Mempunyai karakteristik gejala nyeri berkeringat, pucat, peningkatan tekanan darah nadi dan pernafasan, dilatasi pupil, kekejangan otot dan kecemasan (Priharjo, 1993).

2. Nyeri Kronis
Nyeri yang bertahan lebih dari enam bulan, sumber nyeri tidak dapat diketahui dan nyeri sulit dihilangkan. Sensasi nyeri dapat berupa nyeri difus sehingga sulit diidentifikasi secara spesifik sumber nyeri tersebut (Priharjo, 1993).

Klasifikasi Nyeri.[2/3]
Menurut Lokasi Serangan : 1. Nyeri Somatik
Digambarkan dengan nyeri yang tajam, menusuk, mudah dilokalisasi dan rasa terbakar yang biasanya berasal dari kulit, jaringan subkutan, membran mukosa, otot skeletal, tendon, tulang dan peritoneum (Priharjo, 1993).

2. Nyeri Viceral
Nyeri yang timbul akibat adanya gangguan pada organ bagian dalam, misalnya pada abdomen, cranium dan thoraks (Sulaiman, 1983).

3. Nyeri Nosiseptif dan Nyeri Neuropatik


Nyeri nosiseptif adalah nyeri inflamasi yang dihasilkan oleh rangsangan kimia, mekanik dan suhu yang menyebabkan aktifasi maupun sensitisasi pada nosiseptor perifer.

Klasifikasi Nyeri.[3/3]
Nyeri neuropatik merupakan nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakanneural pada saraf perifer maupun pada sistem saraf pusat yang meliputi jalur saraf aferen sentral dan perifer (Solomon, 1990).

4. Nyeri Alih
Nyeri yang menjalar dan terasa pada lokasi lain dari lokasi yang sebenarnya terkena serangan (Solomon, 1990).

5. Nyeri Neurologis
Nyeri dalam sistem neurologis yang timbul dalam berbagai bentuk, seperti neuralgia (Solomon, 1990).

6. Nyeri Psikogenik
Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiologisnya (Solomon, 1990).

Reseptor Nyeri
Organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor. Secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.

Mekanisme Nyeri
1. Proses Tranduksi
Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf (Corwin, 2007).

2. Proses Transmisi
Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan C dari perifer ke medulla spinalis (Corwin, 2007).

3. Proses Modulasi
Proses perubahan transmisi nyeri yang terjadi disusunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak) (Corwin, 2007).

4. Persepsi
Proses subjektif yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari sensorik (Corwin, 2007).

Patofisiologi Nyeri
1. Nyeri Fisiologis
Terjadinya nyeri oleh karena stimulasi singkat yang tidak merusak jaringan, misalnya pukulan ringan akan menimbulkan nyeri yang ringan. Ciri khas nyeri sederhana adalah terdapatnya korelasi positif antara kuatnya stimuli dan persepsi nyeri, seperti semakin kuat stimuli maka semakin berat nyeri yang dialami (USU, 2012).

2. Nyeri Inflamasi
Terjadinya nyeri oleh karena stimuli yang sangat kuat sehingga merusak jaringan. Jaringan yang dirusak mengalami inflamasi dan menyebabkan fungsi berbagai komponen nosiseptif berubah (USU, 2012).

3. Nyeri Neuropatik
Nyeri yang didahului dan disebabkan adanya disfungsi primer ataupun lesi pada sistem saraf yang diakibatkan: trauma, kompresi, keracunan toksin atau gangguan metabolik (USU, 2012).

Nyeri inflamasi

Manifestasi Klinik
1. Nyeri Akut
Nyeri akut ditandai dengan peningkatan frekunsi jantung, peningkatan frekuensi pernafasan, wajah meringis, menarik diri dan menangis. Terjadi dilatasi pupil dan keluarnya keringat. Individu yang biasanya terfokus atau nyerinya (USU, 2012).

2. Nyeri Kronik
Nyeri kronis berkaitan dengan kembalinya frekuensi jantung dan frekuensi pernafasan ke normal. Individu yang mengalami nyeri kronis mungkin tampak tenang dan lemah. Depresi dan keputusasaan dapat timbul (USU, 2012).

Diagnosis.[1/4]
1. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale

(Sylvia & Lorraine, 1995).

Diagnosis.[2/4]
2. Verbal Rating Scale (VRS)

(Sylvia & Lorraine, 1995).

Diagnosis.[3/4]
3. Numerical Rating Scale (NRS)

(Sylvia & Lorraine, 1995).

Diagnosis.[4/4]
4. Visual Analogue Scale (VAS)

(Sylvia & Lorraine, 1995).

Terapi.[1/3]
Dalam penatalaksanaan nyeri, WHO menganjurkan tiga langkah bertahap dalam penggunaan analgesik. Langkah 1 digunakan untuk nyeri ringan dan sedang seperti obat golongan nonopioid seperti aspirin, asetaminofen, atau AINS, obat ini diberikan tanpa obat tambahan lain. Jika nyeri masih menetap atau meningkat. Langkah 2 ditambah opioid, untuk non opioid diberikan dengan atau tanpa obat tambahan lain. Jika nyeri terus menerus atau intensif. Langkah 3 meningkatkan dosis potensi opioid atau dosisnya sementara dilanjutkan non opioid dan obat tambahan lain. Dosis tambahan yang onsetnya cepat dan durasinya pendek digunakan untuk nyeri yang menyerang tiba-tiba. VAS nyeri 1-3 disebut nyeri ringan, 4-7 disebut nyeri sedang, dan di atas 7 dianggap nyeri hebat.

Terapi.[2/3]
Secara Farmakologi
1. Analgetika non-narkotik (non-opioid) dengan kerja perifer a. Aspirin b. Asetaminofen c. Anti Inflamasi Non Steroid Analgetika narkotik dengan kerja sentral a. Analgesik Opioid (Kodein, Morfin, Bruprenorfin dan Methadon) b. Opioid Lemah (Fenantren, Fenilheptilamin, Fenilperidin) c. Opioid Kuat (Metadhon, Morfin, Hidromorfon dan Levorfanol) d. Obat Ajuvan (Kortikosteroid)

2.

Terapi.[3/3]
Secara Non Farmakologi
1. Terapi Stimulasi ENS (Trans Cutaneus Electrical Stimulation) menggunakan bantal khusus yang dihubungkan dengan mesin kecil yang menghantarkan aliran listrik lemah ke permukaan kulit dari area nyeri.

2. Terapi Bedah Pembedahan. Pada beberapa kasus, terapi bedah diperlukan untuk mengurangi nyeri kronik. Terapi ini merupakan lini terakhir yang dilakukan bila semua usaha untuk mengurangi nyeri gagal.

Contoh Kasus
Kasus
Ibu Jonah, 50 tahun, datang dengan keluhan nyeri saat BAK. Ibu Jonah mengeluhkan bila BAK hanya sedikit-sedikit dan itupun terasa panas di perkemihan. Keluhan BAK di malam hari meningkat (lebih dari 5 kali) serta sering kali celana dalamnya basah tanpa sadar bahwa beliau telah BAK. Hal ini sangat menggangu aktifitas beliau dan membuat tidak nyaman.

Daftar Pustaka
Anderson, Kennet. 1994. Mosbys Dictionary ; Medical Nursing and Allied Health Fourth Edition. Mosbys Year Bookship. ST Louise USA. Corwin, Elizabeth. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Penerbitan buku Jakarta ECG. Pain Rating Scale. Available online at http://pain.healthcommunities.com/painscales/index.shtml (diakses pada tanggal 3 april 2013). Neil, Niven. 2002. Psikologi Kesehatan Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Priharjo, R. 1993. Perawatan Nyeri : Pemenuhan Aktivitas Istirahat Pasien. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Solomon, et al. 1990. Human Anatomy & Physiology Second Edition. Saunders College Publishing. Florida. Sulaiman, S. 1983. Obstetri Fisiologi. Penerbit Eleman. Bandung. Sylvia, Anderson and Lorraine. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Universitas Sumatra utara. Available online at http://repository.usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/ 24986/3/ Chapter%20II.pdf (diakses pada tanggal 3 april 2013).