Anda di halaman 1dari 5

I.

PENDAHULUAN

1.1 Teori Dormansi adalah masa biji yang istirahat yang berarti kemampuan biji-biji untuk menangguhkan kecambahnya sampai pada saat tertentu dan tepat menguntungkan bijinya untuk tumbuh. Dalam perkecambahan suatu biji atau pertunasan peristiwa dormansi ini sering dijumpai (Bidwel, 1979). Dormansi adalah sebuah fase apikal yang memperlihatkan adaptasi khusus terhadap situasi-situasi lingkungan yang berlawanan, dimana pada setiap fase di dalam siklus kehidupan keseluruhan tanaman atau organ-organ tertentu yang mana pertumbuhan akar untuk sementara berhenti. Berhentinya pertumbuhan aktif disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan seperti temperatur, cahaya dan kelembaban. Dormansi biji dapat terjadi karena pelapis biji yang tidak dapat tembus, belum dewasanya embrio (Malcolm, 1989). Menurut Abidin (1978), dormansi adalah suatu keadaan dimana perkecambahan atau pertumbuhan terhambat selama periode tertentu yang diakibatkan oleh faktor intern didalam biji. Tunas dikatakan dormansi apabila biji atau tunas tersebut gagal untuk melakukan perkecambahan atau bertunas setelah periode tertentu, meskipun telah disediakan faktorfaktor lingkungan yang cocok, seperti Oksigen, air, dan suhu. Dormansi adalah suatu keadaan dimana biji gagal atau terlambat dalam perkecambahan selam periode tertentu yang diakibatkan oleh faktor- faktor dalam, meskipun sudah disediakan faktor - faktor yang cocok. Quiescent adalah ketika kondisi biji tidak mau berkecambah hanya karena kondisi dan faktor faktor luarnya yang tidak mendukung, tetapi dapat berkecambah apabila syarat syarat lingkungan sudah sesuai telah cocok. Perkecambahan tidak berlangsung selama ada perlakuan yang mengakhiri dormansi, tetapi perkecambahan terjadi justru sesudahnya (Bidwell, 1979). Dormansi dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan fisiologis yang dapat endosperm dan embrio sendiri bertanggung jawab dalam penghambatan pertumbuhan embrio. Mekanisme dari dormansi biji sangat kompleks dimana interaksi antara faktor lingkungan, internal dan waktu. Ada dua jenis dormansi embrio, pertama dimana embrio berkembang kurang baik pada proses pendewasaan biji, kedua dimana embrio dapat melanjutkan pertumbuhan dengan cepat (Noggle dan Fritz, 1976). Dormansi adalah merupakan istilah yang digunakan terhadap biji-biji yang gagal dalam berkecambahan karena disebabkan beberapa faktor dari luar. Dormansi adalah suatu

proses yang terhambatnya pertumbuhan biji walaupun lebih yang diberikan faktor lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan biji. Dormasi merupakan waktu tidur biji, sebelum biji segera tumbuh menjadi tanaman baru, di mana masa-masa dormansi dari masing-masing tumbuhan berbeda (Loveless, 1987). Istilah atau keadaan dormansi sering kita jumpai pada peristiwa perkecambahan biji atau perkecambahan tunas. Dormansi yaitu kondisi biji yang gagal berkecambah karena kondisi dalam dan kondisi luarnya tidak cocok. Hal ini akan ditangguhkan sampai pada tempat yang menguntungkan bagi biji untuk tumbuh. Selain istilah dormansi dikenal juga dengan istilah kuisent, yaitu kondisi biji yang tidak mampu berkecambah hanya karena kondisi luarnya yang tidak cocok, seperti terlalu kering atau terlalu dingin (Salisbury dan Ross, 1995). Konsep dormansi mencerminkan konsep induksi yaitu hambatan semua kejadian, perkecamabahan tidak berlangsung selama ada perlakuan yang menghakhiri dormansi, tetapi justru sesudahnya. Dormansi biji merupakan suatu metode aktivitas metabolisme yang lambat, kandungan air rendah, dan tanpa pertumbuhan. Selama itu biji sangat kuat, menjadi kaku dan keras. Mekanisme ini makin lama akan mencegah perkecambahan biji dengan segera, walaupun faktor lingkungan lain dalam keadaan baik (Harjadi, 1979). Dormansi bukanlah suatu sifat khusus biji, tetapi juga terdapat pada organ tanaman yang lain, misalnya tunas. Ciri umum dari tumbuhan yang mengalami dormansi dapat dilihat dari pertumbuannya yang kurang baik atau kurang aktif. Dormansi terjadi karena embrio yang mengalami dormansi, dan juga karena dormansi kulit biji (Prawinata, 1981). Secara anatomis biji terdiri dari kulit embrio dan kulit biji. Kulit biji dibentuk oleh integument, lapisan sebelah dalam tipis dan lunak sedangkan lapisan sebelah luar keras dan tebal yang berguna untuk proteksi terhadap temperatur, penyakit dan tekanan mekanis dari luar. Pada beberapa spesies kulit biji begitu keras sehingga dibutuhkan banyak air untuk perkecambahan (Kimball, 1989). Masa dormansi berbeda-beda bagi setiap spesies. Banyak biji yang berkecambah setelah beberapa lama bahkan bertahun-tahun meskipun keadaan luar maupun lingkungannya menguntungkan. Dalam keadaan kering, biji dapat bertahan tnpa kehilangan kemampuan untuk tumbuh. Hal ini adalah suatu peluang bagi manusia untuk memperpanjang siklus hidup tanaman, namun dilain pihak dapat pula memperpendek masa dormansi yang dialami oleh suatu tanaman. Dengan demikian biji dapat dikecambahkan lagi (Dwidjoseputro, 1985). Dalam menjalankan siklus hidupnya biji dari suatu tanaman tidak segera tumbuh menjadi individu baru, tetapi memerlukan waktu istirahat beberapa waktu setelah dipanen

sebelum berkecambah, fase ini dikenal dengan dormansi biji. Dormansi ini juga sering terjadi pada pertunasan, dengan kata lain dormansi adalah suatu keadaan dimana perkecambahan atau pertumbuhan terhambat selama periode tertentu yang diakibatkan oleh factor intern didalam biji atau tunas (Dwidjoseputro, 1985). Biji adalah salah satu bentuk kehidupan isinya yang dapat mengalami kemunduran, dimana biji dari beberapa spesies mungkin mengalami masa istirahat atau dormansi. Dan hal inilah yang melatarbelakangi praktikum kali ini. (Meyer dan Anderson, 1952). Meyer dan Anderson (1952), menyatakan bahwa dormansi biji disebabkan oleh faktor seperti kulit biji yang keras, impemeabel terhadap air dan oksigen, embrio yang tidak sempurna dan menghambat perkecambahan. Pemecahan dormansi dengan abrasi alkohol dan asam sulfat dapat menambah pemeabelitas benih terhadap air yang mengakibatkan fase dormansi berkuran. Beberapa faktor biji sewaktu masak merupakan faktor-faktor penyebab terjadinya dormansi (Kimball,1989). Meyer dan Anderson (1952), menyatakan bahwa dormansi pada biji dapat diatasi dengan cara sebagai berikut: 1) perlakukan pada kulit biji, 2) pemberian temperatur yang rendah 0, 3) pencahayaan yang cukup dan 4) tekanan udara yang cocok. Tujuan pengikisan atau perkawinan pada biji yang kulitnya keras dan tebal agar biji tersebut dapat menyerap air dan oksigen dengan cara langsung dan akibatnya penuntasan terjadi secara cepat, temperatur yang tidak stabil akan menghalangi dari pertumbuhan biji atau perkecambahan. Biji yang berkecambah memerlukan temperatur optimum dengan perkecambahan yaitu berkisar 20-30
O

C. Pemecahan penghalang kulit biji dinamakan skarifikasi atau penggoresan. Dapat

dilakukan dengan menggunakan pisau, kikir dan kertas ampelas. Dalam penggoresan itu mungkin terjadi akibat kerja mikroba, ketika biji melewati alat pencernaan pada burung, kelelawar atau hewan-hewan lain. Biji terpajang pada suhu yang berubah-ubah atau terbawa pasir, air atau cadas. Di laboratorium dibidang pertanian digunakan alcohol atau pelarut lemak lain atau asam pekat. Sebagai contoh perkecambahan biij kapas dan berbagai tanaman kacang tropika dapat sangat dipacu dengan merendam biji terlebih dahulu. Dalam asam sulfat selama beberapa menit sampai satu jam, dan selanjutnya dibilas untuk menghilangkan asam tersebut (Salisbury dan Ross, 1995). Selain dari cara itu, ada juga dengan cara kemiawai dalam mempercepat masa dormansi biasanya yaitu dengan menggunakan zat-zat perangsang perkecambahan yang merangsang diantaranya KMnO4, Trindes, Etilen, Giberelin, Kinetin, dan asam-asam yang lain (Delvin, 1979).

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dormansi biji adalah: 1) Pelapis biji yang tidak dapat tembus, 2) belum dewasanya embrio, 3) perlunya penyimpanan kering setelah masak dan 4) biji-biji yang mempunyai pesyaratan pendinginan (Delvin, 1979) Dalam perkecambahan ada zat yang membantu seperti zat makanan, temperatur dan cahaya yang cukup maka ada pula zat yang menghambat perkecambahan (inhibitor) seperti campuran-campuran yang terdapat dalam biji amonis, asam persulfat dan asam dehidroaserat (Delvin, 1979). Bahan-bahan yang dapat membuat terlambatnya perkecambahan biji adalah: Bahan yang menganggu lintasan metabolik, dan hydrozymalide, cahaya, cianida, ozida, florida, dan hydrozylamide. Larutan yang mempengaruhi nilai osmotik tinggi yang mamisol dan NaCl. Manusia dapat memperpendek masa dormansi dengan cara meratakan kulit biji, merendahkan suhu dengan silih berganti pemanasan dan pendinginan dan penyinaran dengan tekanan (Dwijosepotro, 1981). Walaupun biji dari tumbuh-tumbuhan ini telah masak atau telah cukup tua, akan tetapi tidak dapat berkecambah walaupun dalam keadaan optimum, hal ini disebabkan oleh karena biji tersebut sedang mengalami dormasni. Selanjutnya yang sering menyebabkan dormasni biji adalah kulit (pericarp) dari testa. Tebal dan keras kulit biji menyebabkan sulitnya air dan O2 masuk yang diperlukan untuk perkecambahan, biji ini walaupun diletakan ditempat yang lembab tidak akan berkecambah sebagai kulit biji dan semipermiabel menjadi permiabel terhadap air. Secara perlahan-lahan kulit biji akan berubah yang disebabkan oleh pendinginginan serta kegiatan bakteri dan lain-lainnya (Bidwell, 1979). Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi selain yang diatas seperti suhu, cahaya dan kelembaban dapat menyebabkan dormansi pada biji. Dormansi pada biji. Dormansi pada biji dari tiap-tiap spesies berbeda-beda, usaha untuk mempersingkatkan ada beberapa cara, yaitu ; meratakan kulit biji, pemanasan dan pendinginan secara silih berganti, menyimpan dalam suhu yang rendah antara 5-10oc dengan penyinaran tekanan 200 atm (Darmawan dan Baharsyah, 1983). Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji tapi mengenai jumlah, bentuk, struktur, maupun kualitasnya mempunyai satu fungsi dan tujuan utama yaitu untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Biji yang bermutu tinggi akan berkecambah atau bereproduksi relatif lebih tinggi daripada daripada biji yang bermutu rendah. Gabah yang bermutu tinggi ditentukan oleh fakrtor genetik dan fisik (Dwidjoseputro, 1981). Pada biji dikenal beberapa tipe dormansi, antara lain : (a) karena kulit biji yang keras atau tidak permeable terhadap air atau udara (beberapa jenis leguminosa), (b) adanya

penghambat kimiawi terhadap perkecambahan di dalam daging buah atau cairan sekitar biji.(tomat, jeruk, bit gula), (c) perlu mendapat perlakuan cahaya dengan panjang gelombang tertentu (selada, mentimun), (d) perlu mendapat perlakuan suhu rendah (5-10 C) selama periode tertentu atau yang dikenal dengan vernalisasi (gandum musim dingin). (Salisbury dan Ross, 1995). Salah satu faktor eksternal tanaman yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan adalah hormon atau zat pengatur tumbuh. Hormon ini bekerja dalam konsentrasi yang sangat kecil dan hormon ini tanaman dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yang terdiri dari Auksin, Sitokinin, Giberelin, Asam Absisat (ABA) dan Etilen. Adanya hormon atau zat pengatur tumbuh ini ternyata tidak selalu memacu pertumbuhan tetapi dapat juga bersifat menghambat seperti ABA dan Etilen. Zat pengatur tumbuh atau hormon tanaman untuk memacu pertumbuhan dapat berinteraksi sesamanya, misalnya Auksin dan Giberelin (Darmawan dan Baharsyah, 1983). Kondisi penyimpanan selalu mempengaruhi daya hidup biji. Meningkatnya kelembaban biasanya mempercapat hilangnya daya hidup, tetapi beberapa biji dapat hidup lama bila direndam air. Berbagai biji lokal seperti biji kopi dan kedelai tetap mampu tumbuh lebih lama bila kandungan airnya diturunkan dan biji disimpan pada suhu yang rendah. Penyimpanan didalam botol atau diudara terbuka pada suhu sedang sampai tinggi biasanya menyebabkan biji di beri air. Pecahnya sel melukai embrio dan melepaskan hara yang merupakan bahan yang baik untuk pertumbuhan patogen. Tingkat oksigen normal umumnya merugikan masa hidup biji (Devlin, 1975). Mekanisme dormansi terletak pada tiga kemungkinan yaitu kulit biji yang mengandung senyawa kimia yang menghambat pemanjangan radikula, kulit biji atau endosperma bertindak sebagai penghalang mekanis atau radikula itu sendiri tidak dapat timbuh bila tidak diberi pendinginan awal. Jadi, embrio itu sendiri tanggap tehadap suhu rendah tapi hanya sedikit kulit biji dipengaruhi, meskipun zat penghambat itu ada (Salisbury dan Ross, 1995).