Anda di halaman 1dari 14

PERENCANAAN KAWASAN KOTA LAMA MAKASSAR SEBAGAI PUSAT KOTA MANDIRI MENUJU KOTA DUNIA Dengan pendekatan Urban

Renewal Latar Belakang Urban renewal adalah upaya penataan kembali suatu kawasan tertentu di dalam kota dengan tujuan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih memadai bagi kawasan tersebut sesuai dengan potensi nilai ekonomi yang dimiliki oleh lahan kawasan tersebut. Urban renewal dilakukan pada kawasan yang biasanya mengalami penurunan vitalitas dan kualitas. Banyak hal yang mendasari kemerosotan itu, - Tata letak lingkungan fisik yang secara keseluruhan tidak memungkinkan lagi dikembangkan atau tidak sesuai lagi untuk menampung jenis kegiatan baru. Tingkat pencapaian yang buruk - Hubungan fungsional yang buruk - Kondisi bangunan/gedung sudah sangat buruk sehingga tidak layak pakai, tidak dapat melayani fungsinya dengan baik, tidak sehat serta tidak aman. Masalah di atas jika tidak segera diatasai kan membawa dampak negatif yang lebih luas pada struktur kehidupan kota yaitu menurunnya kualitas lingkungan kota. Urban renewal terdiri atas Renovasi, Konservasi, Revitalisasi, dan Redevolepment, Restorasi, Rekonstruksi, Reklamsi, Rehabilitasi serta tidak menguntungkan

Gantrifikasi. Revitalisasi menurut Sidharta (1989) adalah merubah tempat agar dapat digunakan untuk fungsi yang lebih sesuai. Yang dimaksud dengan fungsi yang lebih sesuai adalah kegunaan yang tidak menuntut perubahan drastis, atau yang hanya memerlukan sedikit dampak minimal. Berdasarkan Piagam Burra, revitalisasi merupakan pendekatan yang cermat untuk perubahan dengan melakukan sebanyak yang diperlukan untuk memelihara tempat tersebut dan membuatnya bermanfaat, tetapi sebaliknya merubah sedikit mungkin siginifikasi budayanya. Upaya konservasi termasuk revitalisasi tidak lepas dari kegiatan perlindungan dan penataan serta tujuan perencanaan kota yang bukan hanya secara fisik, tetapi juga stabilitas penduduk dan gaya hidup yang serasi

(Yuen:2005, Wieland:1997). Revitalisasi sebuah kawasan mencakup perbaikan aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial. Pendekatan revitalisasi harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan (sejarah, makna, keunikan lokasi dan citra tempat). Sejarah perkembangan kota di Barat mencatat bahwa memang kegiatan revitalisasi ini diawali dengan pemaknaan kembali daerah pusat kota setelah periode tahun 1960-an. Bahkan ketika isu pelestarian di dunia Barat meningkat pada periode pertengahan tahun 1970-an, kawasan (pusat) kota tua menjadi fokus kegiatan revitalisasi (Antariksa:2008). Revitalisasi kawasan diarahkan untuk memberdayakan daerah dalam usaha menghidupkan kembali aktivitas perkotaan dan vitalitas kawasan untuk mewujudkan kawasan yang layak huni (livable), mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta terintegrasi dalam kesatuan sistem kota. Revitalisasi pada umumnya dilakukan pada kawasan kota yang masih banyak terdapat artefak-artefak urbannya. Sebagai sebuah kegiatan yang sangat kompleks, revitalisasi terjadi melalui beberapa tahapan dan membutuhkan kurun waktu tertentu. Danisworo dalam Purnawan (2008), membagi beberapa tahapan revitalisasi yang meliputi intervensi fisik, rehabilitasi ekonomi dan revitalisasi sosial atau institusional. Aspek sosial dan budaya sangat berpengaruh dalam keberhasilan revitalisasi, karena berupa gagasan merupakan produk dari kehidupan sosial budaya. Keberhasilan revitalisasi dari aspek non fisik ini akan menjadi tumpuan untuk keberlanjutan suatu kawasan. Hal ini pulalah yang dikemukakan Juliarso (2001), revitalisasi menjadi bagian dari strategi konservasi kawasan perkotaan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan membawa pengaruh dan mendorong pada penguatan nilai budaya lokal. Modal sosial eksistensi suatu kawasan akan menjadi spirit of place. Hal ini merupakan modal ruang yang terdiri dari ruang-ruang internal yang terkandung dalam ruang dan prilaku manusia terhadap ruang yang mampu menggerakkan sendi-sendi kehidupan informal masyarakat pada ruang atau kawasan (Juwono, 2009). Lebih lanjut menurut Juwono, kontribusi komunitas dalam aspek sosial budaya pada revitalisasi menjadi kekuatan keberadaan komunitas yang dapat dijelaskan dengan konsep genius loci, suatu strategi investasi komunitas dan semangat

Vita Fajriani Ridwan

Page 2

bagi ruang sehingga mampun mengendalikan suksesi dan mengurangi segresi yang ekstrim. Sejalan dengan Juliarso (2009), Juwono (2001) menambahkan bahwa revitalisasi dapat pula dilakukan pada kawasan yang memiliki asset bangunan yang perlu dilindungi sebagai cagar budaya, terkait pula kehidupan budaya, tradisi, seni, masyarakat ataupun terkait dengan momentum, peristiwaperistiwa, sekaligus tindakan konservasi sebagai upaya penyelamatan terhadap pusaka warisan budaya. Dari hasil penjabaran revitalisasi sebagai referensi tersebut, maka pengidentikasian kawasan dapat ditelusuri berdasarkan aspek fisik (tangible) dan aspek non fisik (intangible.). Baik konservasi dan revitalisasi adalah perubahan dalam skala kecil. Restorasi adalah upaya mengembalikan kondisi suatu tempat

(bangunan dan lingkungan) pada kondisi asalnya dengan menghilangkan tambahan-tambahan yang timbul serta mengadakan kembali unsur semula yang hilang tanpa menambah unsur baru. Jenis ini adalah perubahan sedang dan senada dengan rekonstruksi dan rehabilitasi. Adapun rekonstruksi adalah upaya mengembalikan kondisi atau membangun kembali suatu tempat (bangunan dan lingkungan) sedekat mungkin dengan wujud yang semula diketahui. Sementara rehabilitasi adalah satu usaha untuk mengembalikan fungsi dan/atau struktur dan/atau lingkungan fisik karena mengalami perusakan, degradasi fisik atau degradasi kualitas serta degradasi kapassitas (daya tampung). Berbeda dengan di atas,Redevelopment adalah jenis perubahan skala besar dimana dilakukan pembangunan kembali atau upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan cara mengganti sebagian dari, atau seluruh, unsur-unsur lama dari kawasan kota tersebut dengan unsur-unsur kota yang lebih baru dengan tujuan untuk meningkatkan vitalitas serta kualitas lingkungan kawasan tersebut Sebagai kota mandiri, Makassar memiliki potensi besar berkembang di sector ekonomi. Misi menjadi kota dunia bukanlah utopis semata, karena kota ini tercatat pernah menjadi salah satu kota dunia tatkala Pelabuhan Somba Opu Makassar menjadi pelabuhan internasional pada abad XVI hingga abad XVII. Kota dunia atau global city menurut Wikipedia adalah merupakan sebuah kota yang dianggap menjadi titik penting dalam sistem ekonomi global.

Vita Fajriani Ridwan

Page 3

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Saskia Sassen untuk menyebut London, New York dan Tokyo dalam karya tahun 1991 The Global City. Secara umum karakteristik dari kota dunia adalah posisi yang strategis secara geografi dan ekonomi. Selain itu, kota dunia ditunjang dengan konsep tata kota system transportasi yang baik. Beberapa kota di dunia diangkat menjadi kota dunia bukan hanya karena keindahan pengaturan kotanya, tapi juga karena rekam sejarah yang masih terukir di kota itu, salah satunya Madrid di Spanyol. Dan Makassar, dengan kota lamanya yang menyimpan rekam jejak sebagai urban heritage. Sayangnya, kini kawasan kota lama ini mengalami penurunan dalam kegiatan ekonomi, dan untuk itu dibutuhkan sebuah pendekatan perencanaan yang menyeluruh untuk menggeliatkan kembali kawasan ini.

Gambar 1. Peta potensi kawasan

Secara umum, kawasan kota lama terdiri atasa dua kecamatan, yaitu Kecamatan Wajo dan Kecamatan Ujung Pandang, dimana memiliki potensi

Vita Fajriani Ridwan

Page 4

ekonomi kawasan kota yang dapat dikembangkan. Untuk sumber daya laut, dengan garis pantai yang panjang dan pulau-pulau kecil di selat Makassar, biota laut dengan nilai ekonomi tinggi ada di sana. Belum lagi di tunjang dengan letaknya yang strategis dalam perekonomian kota dengan daya pendukung sector pergudangan, perkantoran, dan perdagangan. Dari segi budaya, kawasan ini kaya akan artefak sejarah yang dapat dikelompokkan sebagai urban heritage dari kawasan kampong melayu, pecinan, gedung-gedung tua seperti RRI hingga Fort Rotterdam yang dapat dikembangkan sebagai urban heritage tourism. Dari segi masalaah politik juga sangat kondusif, sehingga adalah keniscayaan untuk melakukan upaya penataan kembali kawasan ini di dengan tujuan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih memadai sesuai dengan potensi nilai ekonomi yang dimiliki oleh lahan kawasan kota lama. Analisis masalah Masalah di kawasan kota lama sangat bervariatif. Dalam tulisan ini, penulis akan membaginya dalam masalah umum dan masalah khusus. 1. Masalah umum Masalah ini adalah masa utama, karena bukan hanya msalah di kawasan kota lama, tapi secara global. Transportasi dengan segala permasalahannya dengan melihat posisinya sebagai simpul ruang di satu kawasan sangat mendesak untuk di atasi. Kemacetan yang sering terjadi dan tingkat akses yang perlu ditingkatkan akan dapat menambah daya dorong percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Sementara untuk masalah kesemrawutan yang ditimbulkan PKL (pedagang Kaki Lima) di sepanjang sarana prasarana transportasi (dari trotoar), walaupun bukan masalah mendesak, namun cukup memberikan efek turunan yang signifikan terhadap citra kota dan pola transportasi secara umum. Selain itu aktifitas PKL yang mulai menjurus dalam mempermanenkan lapak mereka dengan menjadikannya sebagai rumah tinggal juga dapat merusak sarana prasarana yang mereka tumpangi. 2. Masalah khusus. Ada beberapa masalah khusus di kawasan ini; Pencemaran air

Vita Fajriani Ridwan

Page 5

Pencemaran air di kawasan ini boleh dikatakan sangat memprihatinkan. Sumber utama dari pencemaran untuk kawasan kota lama adalah kawasan pelabuhan dan sekitaran pantai losari. Dampak dari pencemaran ini bukan hanya mempengaruhi ketersediaan biota laut, yang artinya berefek untuk industry perikanan, tapi juga berdampak pada fisik dan visual kota. Kawasan kota lama yang berformat waterfront city memiliki potensi wisata air, namun dengan kondisi pencemaran yang ada, jelas akan mempengaruhi minat berwisata. Pemukiman kumuh. Seperti halnya di kota-kota besar lainnya, pemukiman kumuh adalah salah satu masaalh yang sering muncul. Pemukiman seperti ini pada umumnya terdiri dari rumah yang berukuran kecil, berkepadatan sangat tinggi bahkan sudah sampai ke taraf death point maka upaya untuk membangun permukiman yang mampu mengakomodasikan semua keluarga dengan lingkungan yang nyaman, dengan ruang terbuka yang memadai baik untuk olah raga maupun untuk taman lingkungan maka jalan satu-satunya adalah membangun rumah susun (Yunus, 2005). Di kawasan kota lama titik pemukiman kumuh terdapat pada empat lokasi yaitu pada kelurahan Pisang Utara, Pisang Selatan, Malimongan Tua, Pattunuang. Kawasan heritage. Salah satu identitas dari kawasan kota lama adalah banyaknya artifak sejarah yang terdapat di sana yang dahulunya dan semoga- ke depannya tetap dapat membentuk identitas kota yang kuat. Kawasan kampong melayu, pecinan, beberapa bangunan tua seperti klenteng naga, rumah abu family Nio, Mesjid Kampung Melayu, Pasar Bacan, jaringan jalan di Rotterdam timur laut koningsplein, Rotterdam hingga Societeit de Harmonie, adalah potensi-potensi heritage yang dapat dikembangkan sebagai bagian pengemembangan kawasan wisata budaya. Sayangnya beberapa bagunan tersebut tidak terlirik dan nyaris tergerus pembangunan.

Vita Fajriani Ridwan

Page 6

Gambar 2. Peta lokasi pencemaran air di kota

Gambar 3. Peta pemukiman kumuh di kota lama

Tujuan Urban renemal kawasan kota lama bertujuan memberikan vitalitas baru kepada kawasan tersebut agar kawasan tersebut dapat kembali menyumbang kontribusi yang spesifik pada kehidupan ekonomi kota.

Vita Fajriani Ridwan

Page 7

Perencanaan Kawasan Kota Lama Pola Pendekatan


Pendekatan Perencanaan Rasional Menyeluruh

Analisis -Permasalahan baru -SDA melimpah -Banyak terkait kebijakan -Memiliki kekuatan politik -Spesifikasi terpadu lengkap,menyeluruh

Aplikasi Dapat diterapkan untuk perencanaan umum kawasan kota lama

Pendekatan Perencanaan Terpilah

- Permasalahan lama -Sda terbatas -Ssedikit terkait kebijakan -Tidak memiliki kekuatan politik -Spesifikasi pada subsistem - Kombinasi konsep 1 dan 2 -SDA melimpah -Tinjauan menyeluruh dengan pertimbangan subsistem strategis (mixed scaning) -Spesifikasi lengkap,menyeluruh terpadu, mendalam -Umumnya dilakukan oleh lembaga sosial atau advokasi -Kelompok owner biasanya adalah kelompok berpenghasilan rendah -Perencanaan dilakukan secara dialogis -Didasari konsep komunikasi Dapat dipadukan untuk perencanaan pemukiman kumuh Dapat diterapkan untuk perencanaan (kawasan transportasi, pelabuhan, PKL subsitem heritage, pantai, pemukiman

Pendekatan Perencanaan Terpilah Berdasar Pertimbangan Menyeluruh Perencanaan Advokasi

kumuh dan penertiban

Perencanaan Komunikatif

Perencanaan Partisipatif

-Masyarakat sebagai sumber daya terbesar -Melibatkan masyarakat

Dapat dipadukan untuk perencanaan PKL

Tabel 1. Pola Pendekatan Perencanaan

Vita Fajriani Ridwan

Page 8

Konsep Perencanaan Dalam perencaan kawasan kota lama ini, digunakan berbagai jenis pola pendekatan perencanaan yang kesemuanya di sesuaikan dengan karakter masalahnya. Adapun alur perencanaan kawasan kota lama
1. Membuat Rencana Induk Kawasan Kota Lama, dengan pendekatan Perencanaan Rasional Menyeluruh.

- Meninjau segala aspek secara menyeluruh (internal dan eksternal) - Pendataan - Penetapan tujuan - Proyeksi - Perencanaan 2. Melakukan perencanaan per item dengan menggunakan konsep Pendekatan Perencanaan Terpilah Berdasar Pertimbangan Menyeluruh. Dalam tahap ini digunakan proses perencanaan urban renewal pada beberapa sub dengan perpaduaan pola pendekatan tertentu. a. Optimalisasi Jaringan Transportasi Transportasi sebagai suatu jaringan memiliki sifat seperti simpul yang menghubungkan antara satu dengan yang lain. Berbicara transportasi sama dengan berbicara aksesbilitas. Mengoptimalkan jaringan transportasi khusunya dengan memikirkan solusi kemacetan tentu akan berpengaruh pada pergerakan kota dan ekonomi khususnya. Untuk itu, pengggunaan moda anggkutan missal seperto monorail mutlak dierlukan. Untuk tata ruang dan fisik, menjadikan Karebosi sebagai centre point transportasi akan menambah nilai posisi kawasan ini.

Vita Fajriani Ridwan

Page 9

Gambar 3. Jalur transportasi monorail berdar sumber berita terkait dengan Karebosi sebagai centre point

b. Revitalisasi Kawasan Pelabuhan Keberadaan pelabuhan sebagai bagian jari jaringan transportasi dalam perspektif tata ruang belum optimal. Dengan dukungan pergudangan, dan wisata air dan budaya, seharusnya pelabuhan mampu dikembangkan lebih maju lagi. Salah satu konsep yang ditawarkan adalah revitalisasi yang meliputi, pembersihan pelabuhan dari penecemaran air yang sering terjadi, dan menjadikan areal pelabuhan (areal jalan depan) sebagi muara wisata budaya yang menggunakan moda transportasi becak. c. Konservasi Kawasan Heritage Untuk kawasan cagar budaya. merujuk pada UU RI No. 5 tahun 1992 dan PP RI No. 10 tahun 1993, yang secara jelas termaktub bahwa benda cagar budaya dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Selain itu konsep konservasi kawasan heritage bertujuan selain untuk menciptakan wista budaya atau urban heritage tourism juga untuk menjaga nilai cultural dan menjaga salah satu citra dan identitas kota lama baik secara fisik maupun visual. Konservasi ini ditujukan untuk menciptakan vitalitas kawasan. Bentuk-bentuk fisik dan visual akan nyaris tidak diubah demi mempertahan nilai culturalnya, sementara yang akan diperbaiki lebih pada jaringan,

Vita Fajriani Ridwan

Page 10

sarana dan pola spasial kawasan dalam menciptakan kognisi spasial. d. Revitalisasi Kawasan Pantai Untuk kawasan pantai. Revitalisasi yang dilakukan selain untuk optimalisai industry perikanan dengan menjaga pantai dari pencemaran air, juga untuk menjadikan pantai sebagi objek wisata air. Keberadaan pulau-pulau kecil di seputaran kota lama saangat ideal untuk dijadikan wisata air. Penambahan sarana prasarana yang berhubungan dengan olahraga air bisa menjadi solusi. e. Redevelopment pemukiman kumuh Masalah pemukiman kumuh dalam perencanaannya menggunakan pola perencanaan komunikatif dan redevelopment kawasan. Perencanaan komunikatif dalam rangka menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan untuk mereka. Dalam tataran design, konsep kawasan compact dan vertical adalh solusi yang ditawarkan. Sementara untuk menjaga kondisi social dan juga untuk fungsi visual maka dibuatkan plaza yang dapat digunakan mereka berinteraksi. Sementara untuk membantu perekonomian mereka, dibuatkan ruang yang dapat ditempatkan di lantai dasar pada pemukiman mereka (rumah susun)

Gambar 4. Rencana redevelopment pemukiman kumuh

Vita Fajriani Ridwan

Page 11

f.

Revitalisasi kawasan perdagangan Kawasan karebosi yang menjadi pusat perdagangan dapat lebih ditingkatkan fungsinya jika menghubungkan dengan optimalisasi transportasi

g. Lokalisasi PKL. Keberadaan PKL dapat diarahkan pada satu kawasan strategis, yang diproyeksikan menjadi citra dari sebuah kawasan seperti halnya orchard road di Singapura. Untuk itu dalama perencanaan, digunakan pola pendekatan perencanaan partisipatif yang melibatkan komunitas PKL

Vita Fajriani Ridwan

Page 12

Skema 1. Bagan alur konsep perencanaan

Ggfjghjgkhjkhlggknbnbnmnbnbbbnnb

Vita Fajriani Ridwan

Page 13

DAFTAR PUSTAKA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kotamadya Daerah Tingkat II Ujung Pandang, (1991) Pola Perkembangan Kota dan Arsitektur dalam Proyek Penelitian dan Survey Terapan 1991-1992. Buku Saku Makassar, http://makassarkota.go.id/download/buku_saku_makassar.zip, diakses tanggal 1 Januari 2013 Darjosanjoto, Endang T.S. 2006. Penelitian Arsitektur di bidang Perumahan dan Permukiman. ITS Press. Surabaya.Juliarso, Pudjo, Koeswhoro 2001, Revitalisasi Pusaka (Warisan) Budaya Kawasan Bersejarah, dalam Tesa Arsitektur, Vol. 4 No. 11 September - Desember 2001, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Juwono, 2009, Kampung Kuningan di Kawasan Mega Kuningan Jakarta : Kebertahanan Kampung dalam Perkembangan Kota, Disertasi pada Teknik Arsitektur dan Perkotaan, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang. Shidarta dan Budiharjo, Eko, (1989), Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di
Surkarta, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wijanarka. 2004. Teori Desain Kawasan Bersejarah. Suatu Dasar Mewujudkan Desain Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Bersejarah dengan Semarang sebagai Obyek Kajian. Universitas

Palangkaraya. Palangkaraya.

adadada

Vita Fajriani Ridwan

Page 14