Anda di halaman 1dari 11

PEMANFAATAN METABOLIT SEKUNDER DARI ORGANISME LAUT SEBAGAI BAHAN OBAT

Lebih dari setengah abad jasad renik yang berasal dari darat yaitu bakteri dan jamur merupakan sumber obat-obatan yang terpenting, sebagai contoh lebih dari 120 obat yang digunakan saat ini antara lain penicillins, cyclosporine A, adriamycine dan Iain-lain diperoleh dari mikroorganisme darat. Bahkan sebagian besar antibiotik berasal dari kelompok besar bakteri darat ordo Actinomycetales, namun sayangnya penemuan metabolit baru dari actinomycetes darat tersebut saat ini mengalami penurunan (KELECOM, 2002). Menganalogi hasil gemilang yang pernah dicapai oleh mikroorganisme darat, maka penelitian mulai tertuju pada mikroorganisme laut. Hal ini diawali dengan penemuan antibiotik cephalosporin C dan cephalosporin PI dari jamur Cephalosporium sp. yang diisolasi dari air laut sekitar pantai Sardinia (BURTON & ABRAHAM, 1951). Bahkan pada dua tahun terakhir ini penelitian tentang bahan bioaktif dari mikroorganisme laut meningkat dengan pesatnya. William Fenical dalam Simposium Produk Alam Laut IV melaporkan bahwa pada periode 1988-1997 dari 151 makalah tercatat 246 senyawa baru yang telah ditemukan dalam mikroorganisme laut (FENICAL et al., 1989). Hal tersebut mendorong peneliti produk alam laut lebih antusias menangani mikroorganisme. Laut merupakan salah satu sumber kekayaan biologi dan kimia. Salah satu sumber kekayaan biologi dan kimia dapat diperoleh dari bakteri laut. Meskipun bakteri laut menyusun sebagian kecil mahluk hidup laut tetapi satu sel bakteri laut mengandung ribuan senyawa kimia yang berpotensi untuk obat-obatan, suplement nutrisi, kosmetik, agrokimia, probe kimia dan enzim. Umumnya senyawa kimia potensial ini berasal dari metabolit sekunder mikroba. Metabolit diklasifikasikan menjadi dua, yaitu metabolit primer dan metabolit sekunder.

Metabolit primer yang dibentuk dalam jumlah terbatas adalah penting untuk pertumbuhan dan kehidupan mahluk hidup. Sedangkan Metabolit sekunder adalah senyawasenyawa hasil biosintetik turunan dari metabolit primer yang umumnya diproduksi oleh organisme yang berguna untuk pertahanan diri dari lingkungan maupun dari serangan organisme lain. Sedangkan substansi yang dihasilkan oleh organisme melalui metabolisme dasar, digunakan

untuk pertumbuhan dan perkembangan organisme yang bersangkutan disebut dengan metabolit primer. Hasil metabolit sekunder dari spons merupakan produk alam yang potensial sebagai bahan baku obat. Metabolit sekunder tidak digunakan untuk pertumbuhan dan dibentuk dari metabolit primer pada kondisi stress. Contoh metabolit sekunder adalah antibiotik, pigmen, toksin, efektor kompetisi ekologi dan simbiosis, feromon, inhibitor enzim, agen

immunomodulasi, reseptor antagonis dan agonis, pestisida, agen antitumor, dan promotor pertumbuhan binatang dan tumbuhan.

Ada beberapa hipotesis tentang fungsi metabolit sekunder bagi produsen metabolit sekunder, misalnya dalam mempertahankan hidup dari bakteri, fungi, insekta, dan binatang melalui produksi antibiotik dan anti kotor (antifouling). Selain itu, metabolit sekunder berperan juga dalam memperbaiki kehidupan mikroba penghasil metabolit sekunder ketika berkompetisi dengan spesies lain. Ada 5 alasan yang memperkuat hal tersebut. Pertama, metabolit sekunder beraksi sebagai mekanisme pertahanan alternatif sehingga organisme yang kekurangan sistem imun akan menghasilkan metabolit sekunder yang banyak dan bermacam-macam. Kedua, metabolit sekunder memiliki struktur dan mekanisme kerja yang mantap (sophisticated) serta jalur metabolismenya komplek dan mahal secara energetika. Ketiga, metabolit sekunder beraksi jika ada kompetisi dengan mikroba, tanaman, atau binatang. Keempat, metabolit sekunder dihasilkan oleh sekelompok gen biosintesis. Kelima, produksi metabolit sekunder dengan aktivitas antibiotik biasanya diiringi dengan sporulasi dan terjadi pada sel mikroba yang sensitif dengan mikroba, tumbuhan, atau binatang. Umumnya mikroba sensitif ini membutuhkan perlindungan khusus ketika nutrisinya mulai habis.

Pembentukan metabolit sekunder diatur oleh nutrisi, penurunan kecepatan pertumbuhan, feedback control, inaktivasi enzim, dan induksi enzim. Keterbatasan nutrisi dan penurunan kecepatan pertumbuhan akan menghasilkan sinyal yang mempunyai efek regulasi sehingga menyebabkan diferensiasi kimia (metabolit sekunder) dan diferensiasi morfologi (morfogenesis) (Demain 1998). Signal ini adalah suatu induser dengan berat molekul rendah yang berkerja sebagai kontrol negatip sehingga pada keadaan normal (pertumbuhan cepat dan cukup nutrisi) mencegah pembentukan metabolit sekunder dan morfogenesis. Tidak seperti metabolit primer, jalur metabolit sekunder belum banyak dimengerti. Oleh karena itu, pada artikel ulas balik ini

akan dicoba membahas tentang terjadinya metabolit sekunder di alam dan faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme biosintesis metabolit sekunder mikroba laut.

Penelitian bahan bioaktif dari organisme laut beberapa tahun terakhir sangat gencar dilakukan, baik didalam maupun diluar negeri. Substansi bioaktif, terutama terdapat pada biota laut yang tidak bertulang belakang (avertebrae) seperti spons, koral dan tunicate. Biota-biota tersebut mengandung senyawa aktif yang lebih banyak dibanding algae dan tumbuhan darat. Diantara biota laut tak bertulang belakang tersebut, spons menduduki tempat teratas sebagai sumber substansi aktif.

Berbagai macam senyawa telah berhasil diisolasi dari biota ini diantaranya adalah alkaloid, terpenoid, acetogenin, senyawa nitrogen, halida siklik, peptide siklik dan lain-lain. Senyawa-senyawa ini merupakan hasil metabolisme sekunder dari biota spons. Hasil metabolisme sekunder ini mempunyai keaktifan sebagai antimikroba, antivirus, antikanker yang sangat berguna sebagai bahan baku obat. Perbedaan kondisi lingkungan seperti tingginya kekuatan ionik pada air laut, intensitas cahaya yang kecil, rendahnya temperature, tekanan dan struktur tubuh yang berbeda dengan organisme darat memungkinkan spons menghasilkan metabolit yang mempunyai struktur kimia yang spesifik dan bervariasi hal ini sangat berpengaruh terhadap bioktivitasnya. Spons (porifera) merupakan biota laut multi sel yang fungsi jaringan dan organnya sangat sederhana. Habitat spons umumnya adalah menempel pada pasir, batu-batuan dan karang-karang mati. Biota laut ini dikenal dengan "filter feeders", yaitu mencari makanan dengan mengisap dan menyaring air melalui sel cambuk dan memompakan air keluar melalui oskulum. Partikel-partikel makanan seperti bakteri, mikroalga dan detritus terbawa oleh aliran air ini. Habitat spons yang melekat pada pasir atau bebatuan menyebabkan hewan ini sulit untuk bergerak. Untuk mempertahankan diri dari serangan predator dan infeksi bakteri pathogen, spons mengembangkan system "biodefense" yaitu dengan menghasilkan zat racun dari dalam tubuhnya, zat ini umumnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan farmasi.

Indonesia mempunyai banyak keanekaragaman jenis spons, dan berdasarkan ekspedisi Snellius-II terdapat 830 ditemukan dari perairan Indonesia Timur (VAN SOEST, 1989). Kekayaan jenis spons yang sangat potensial ini belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat

Indonesia. Untuk memberi nilai tambah terhadap biota tersebut beberapa penelitian telah dilakukan baik oleh institusi pemerintah maupun perguruan tinggi. Perlunya penelitian pencarian bahan aktif dari hasil metabolisme sekunder dari biota-biota laut selain tersebut di atas adalah untuk mendapatkan sumber bahan baku obat-obatan dari biota laut.

Untuk mendapatkan metabolit sekunder dari biota laut khususnya spons dilakukan isolasi dengan metode pemisahan senyawa organik. Isolasi metabolit sekunder dari biota laut ini dilakukan dengan beberapa tahap, diantaranya adalah ekstraksi senyawa menggunakan pelarut organik dengan metode maserasi yang kemudian dilanjutkan dengan tahap ekstraksi partisi (fraksinasi untuk memisahkan senyawa polar dan polar. Tahap terakhir adalah dilakukan proses pemisahan senyawa organik dengan metode kromatografi.

SUBSTANSI AKTIF YANG DIISOLASI DARI SPONS Penelitian senyawa aktif dari hasil metabolisme sekunder biota spons telah menghasilkan beberapa senyawa obat, antara lain adalah antimikroba, antikanker, anti virus dan lain-lain. Berikut adalah beberapa senyawa aktif dari biota spons yang berpotensi sebagai bahan farmasi. 1. Senyawa Antimikroba Substansi antimikroba adalah senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Sifat penghambatanini dimanfaatkan dalam farmakologi sebagai obat terhadap penyakit yang umumnya disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, yeast dan jamur. Beberapa senyawa antimikroba yang telah diisolasi dari biota spons diantaranya adalah : a. Aeroplysinin-1 yang diisolasi dari spons jenis Aplysina aerophoba. Senyawa aeroplysinin1 dapat menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio micrococcus atau Alteromonas sp Berikut di bawah ini adalah struktur kimia dari senyawa aeroplysinin.

MeO

b. Strongylophorines diisolasi dari spons Strongylophora durissina yang ditemukan di Papua New Guinea. Senyawa meroditerpenoid ini aktif menghambat bakteri Salmonella typhii dan Micrococ-cus luteus dengan zone diameter hambat bakteri 7-9 mm pada konsentrasi 100g/disk (BALBIN et al. 1998). Berikut di bawah ini adalah struktur dari senyawa Strongylophorine 2 dan Stronggyloporine 3.

c. Chromodorolide A adalah senyawa diterpene yang mempunyai kerangka karbon yang berbeda dengan senyawa diterpen sebelumnya. Senyawa ini mempunyai aktivitas antimikroba dan sitotoksik. Chromodorolide tidak disintesa dalam tubuh spons, melainkan berasal dari nudibranch (Chromodoris sp) yang dimakannya (CAPON & MACLEOD, 1987). Berikut dibawah ini adalah struktur dari Chromodorolide A.

d.

Muqubilin, adalah senyawa peroksida siklik norsesterpen yang diisolasi dari spons Prianos sp. Organisme tersebut diambil dari Teluk Eilat. Senyawa ini mempunyai aktivitas sebagai antibiotik (ALBERICCI et al. 1979).

e. Sigmosceptrellin-A adalah senyawa antimikroba peroksida siklik norsesterpen, yang tidak


berbentuk kristal, penentuan strereokimia dari senyawa ini tidak dapat dilakukan dengan sinar x. Senyawa ini diisolasi dari spons jenis Sigmosceptrella laevis yang berasal dari pantai utara Papua New Guinea. (ALBERICCI et al. 1979).

f. Oroidin adalah senyawa antibiotik sikloheksadiena yang mempunyai fungsi antiseptik


seperti iodine tincture.

g. Aaptamine dan Demethylaaptamine adalah senyawa alkaloid yang mempunyai keaktifan


menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan Vibrio eltor. (RACHMANIAR et al. 2001).

h. Senyawa N-Amidino-4-bromo-pyrole-2-carboxamide senyawa antibiotik yang diisolasi


dari spons jenis Agelas sp. (INANAGA et al. 1974).

i. Senyawa 3,5-Dibromo-4-hydroxyphenyl-acetamide dan 4-Acetamido-2,6-dibromo-4hydroxy-cyclohexadienon. Kedua senyawa ini mempunyai aktivitas sebagai antibiotik diisolasi dari spons Verongia archeri dan Verongia cauliformis (BOTTICELLI, 1960).

2.

Senyawa antikanker
Beberapa senyawa yang berhasil diisolasi dari biota spons telah terbukti menghambat pertumbuhan sel kanker, berikut adalah senyawa-senyawa antikanker yang ditemukan: a. Spongouridin dan spongothymidine, adalah senyawa yang disintesa dari spons Cryptotetis crypta yang mempunyai keaktifan sitotoksik terhadap sel karsinoma pada manusia. Senyawa ini merupakan sebuah nukleosida yang berbeda dari biasanya dan dapat berfungsi sebagai terapi terhadap nukleosida virustatik Ara-A. Kedua senyawa ini merupakan zat aktif terhadap virus harpes simplex. (BERGMAN & FEENY. 1951). b. Avarol dan avaron adalah senyawa yang mempunyai keaktifan menghambat virus HIV. Senyawa ini dapat menghambat replikasi virus-HIV dan melindungi T-lymphoocytes dari infeksi virus (SARIN et al. 1987). c. Adociaquinon B diisolasi dari spons Xestospongia sp., Senyawa ini aktif dalam menghambat pertumbuhan sel tumor manusia (Human Colon Tumor) (SWERSEY, 1988). d. Bistratamide D diisolasi dari senyawa Lissoclinum bistratum. Senyawa ini aktif menghambat sel tumor HCT (Human Colon Tumor) (CONCEPCION et al. 1995). e. Makaluvamine N Senyawa ini diisolasi dari Zyzzyafiiliginosa dikumpulkan dari Filipina, mempunyai keaktifan menghambat aktifitas katalitik topoisomerase II. (FOSTER et al 1992). Selain senyawa-senyawa yang mempunyai keaktifan sebagai antimikroba dan antikanker,

beberapa senyawa dari spons dapat digunakan juga sebagai "lead compound" obat antasida, antiepileptic, lipotropik dan hypotensif. Adapun gambar struktur kimia dari senyawa tersebut adalah : a. Glisin diisolasi dari spons Zoanthids, senyawa ini mempunyai keaktifan sebagai antasida. (CORMIER et al. 1973) b. Asam Glutamat, senyawa ini mempunyai keaktifan sebagai antiepileptic (CORMIER et al. 1973)

c. N,N-Dimethylhistamine, diisolasi dari spons Geodia gigas dan Ianthella sp. Senyawa ini mempunyai keaktifan sebagai hipotensif (CORMIERS et al. 1973). d. Metionin, senyawa ini mempunyai keaktifan sebagai lipotropic agent (BERGMANN & STEMPIEN, 1957). Hasil metabolit sekunder dari beberapa spons terbukti mengandung senyawa-senyawa aktif sebagai "lead compound" dalam pengembangan obat antibiotik, antikanker antivirus dan Iain-lain. Hal ini membuktikan bahwa spons sangat potensial dalam pengembangan industri farmasi, mengingat senyawa-senyawa aktif yang dihasilkan mempunyai perbedaan dengan senyawa yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan darat yang selama ini merupakan sumber utama bahan obat-obatan. Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengembangan obat dari biota laut ini adalah terbatasnya bahan baku yang tersedia di alam, karena itu sangat perlu sekali untuk dilakukan penelitian bioteknologi untuk budidaya spons. Dua masalah serius yang menghambat pengembangan obat-obatan dari laut, yang pertama adalah sebagian besar senyawa aktif yang diisolasi dari biota laut mempunyai struktur yang komplek dan kuantitasnya sangat sedikit, padahal untuk proses sintesis senyawa organik diperlukan jumlah yang cukup banyak. Sintesis ini sangat diperlukan karena pada umumnya senyawa yang diperoleh mempunyai toksisitas yang cukup tinggi sehingga untuk mengurangi toksisitas dan meningkatkan aktivitas dilakukan modifikasi struktur kimianya. Masalah yang kedua adalah terbatas-nya sumber biota penghasil senyawa aktif dan berbagai kendala dalam budidayanya. Beberapa fakta membuktikan bahwa sebagian senyawa aktif yang diisolasi dari biota laut, diproduksi oleh mikroorganisme yang bersimbiosis dengannya. Hal ini merupakan angin segar untuk memecahkan kedua masalah tersebut. Mikroorganisme yang diisolasi baik dan invertebrata maupun biota laut lainnya dapat dikulturkan sesuai dengan jumlah yang kita inginkan. Agar produksi substansi aktif dapat dioptimalkan maka perlu memodifikasi lingkungan kuitivasi. Kondisi kultivasi mikrorganisme laut yang berbeda dengan mikroorganisme darat memungkinkan mikroorganisme laut memproduksi metabolit sekunder yang mempunyai struktur unik dan kompleks.

Sebagai sumber bahan obat yang dapat diperbaharui mikroorganisme yang diisolasi dari lingkungan laut mempunyai prospek yang menjanjikan. Dalam tulisan ini dipaparkan tentang bagaimana peran mikroorganisme simbion dalam produksi metabolit sekunder,dan senyawasenyawa aktif lain yang dikandung oleh mikroorganisme laut. Salah satu biota tempat mikroorganisme bersimbiosis adalah spons. Spons mencari makanan dengan cara "filter feeder", yaitu dengan memompa sejumlah volume air kedalam tubuh melalui saluran vascular yang unik, sehingga air yang masuk ke tubuhnya menjadi steril. Sedangkan bakteri yang merupakan makanan spons terdapat dalam air yang dipompa masuk kedalam tubuh spons, tertahan dalam membran pinacoderm spons sebagai simbion. (VACELET, 1975). Populasi bakteri ini sebagaian besar bakteri ekstraselular yang berada dekat dengan matriks mesohyl dan secara fisik terhindar dari air laut karena dibatasi oleh membran pinacoderm spons. Seperti halnya dengan bakteri, jamur juga berasosiasi kedalam tubuh spons lewat air laut yang dipompa masuk kedalam tubuhnya. Spora jamur terakumulasi didalam jaringan tubuh spons dan hidup sebagai "dormant" kemudian spora ini akan tumbuh jika menemukan media yang cocok (PAUL & FENICAL, 2000). Interaksi simbiotik mutualisme terjadi antara spons dan mikroorganisme. Bagi spons, simbion mikroorganisme berfungsi dalam membantu proses perolehan nutrien (terutama dalam fiksasi karbon dan nitrogen), penstabil kerangka spons, proses ekskresi dan ikut andil daiam siklus produksi metabolit sekunder (HENTSCEL et al, 2002). Sedangkan bakteri mendapatkan lingkungan tumbuh yang sesuai dalam tubuh spon. Fungsi bakteri simbion dalam produksi metabolit sekunder spons berkaitan dengan bidang farmakologi dan bioteknologi, karena adanya laporan bahwa beberapa produk alam laut dari spons berasal dari mikroorganisme simbion. Bukti keterlibatan mikroorganisme dalam biosintesa produk alam laut dapat ditunjukkan pada biota spons. Mikroalga yang diketahui mempunyai keterlibatan dalam biosintesa metabolit sekunder dari spons adalah genus Halicondria yaitu H. okadai atau H. melanodocia. Kedua spesies spons tersebut mengandung enzym penghambat protein phosphatase asam okadaik (TACHIBANA et al, 1981).

DAFTAR PUSTAKA Murniasih, Tutik., 2003, Metabolit Sekunder Dari Spons Sebagai Bahan Obat-Obatan, Oseana, Volume XXVIII, Nomor 3, 2003 : 27-33 Noviani, Risa., 2008, Urgensi dan Mekanisme Biosintesis Metabolit Sekunder Mikroba Laut, Jurnal Natur Indonesia 10 (2), April 2008: 120-125 Murniasih, Tutik., 2004, Potensimikroorganisme Sebagai Sumber Bahan Obat-Obatan Darilaut Yang Dap At Dibudidayakan, Oseana, Volume XXIX, Nomor 1, Tahun 2004 : 1 7 Rasyid, Abdullah., 2008, Biota Laut Sebagai Sumber Obat-Obatan, Oseana, Volume XXXIII, Nomor 1, Tahun 2008 : 11-18

TUGAS FARMAKOGNOSI
PEMANFAATAN METABOLIT SEKUNDER DARI ORGANISME LAUT SEBAGAI BAHAN OBAT

Oleh : ARIF YUDA ADITAMA K100070072

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013