Anda di halaman 1dari 2

1000 Gumuk Kotaku

Gumuk? Bukan, bukan gemuk tapi gumuk. Nggak, nggak salah denger kok. Jarang di dengar? Oh, iya, memang gumuk secara eksklusif terdapat di 3 wilayah khusus di dunia yaitu Jepang, Tasikmalaya dan Jember. Ya, kota Jember terletak di ujung timur propinsi Jawa Timur. Kota dengan tembakau sebagai komoditas utama perkebunannya ini terletak pada ketinggian 83 meter diatas permukaan tanah. Selain itu, Jember memiliki tanah litosol dan regosol dengan warna coklat kekuningan. Kembali ke apa itu gumuk, Gumuk serupa dengan gunung kecil atau bukit dengan ketinggian 1-57,5 m. Bukit sendiri terbentuk oleh tanah sedangkan menurut Verbeek dan Vennema (1936) formasi gumuk-gumuk di Jember terbentuk dari bekas aliran lava dan lahar dari kawah gunung Raung. Aliran ini lalu tertutup oleh bahan vulkanik yang lebih muda sampai ketebalan puluhan meter yang berasal dari gunung Raung sekarang. Kemudian terjadi erosi pada bagian bagian yang lunak yang terdiri atas sediment vulkanik lepas selama kurang lebih 2000 tahun. Proses ini menghasilkan bentukan topografi gumuk seperti yang dapat dilihat saat ini. Bagian atas gumuk menjadi tanah yang subur. Ini karena ribuan tahun formasi gumuk berubah dan terjadi proses pelapukan. Macam macam batuan di dalam gumuk ialah batu padas, batu pondasi, batu koral, batu piring dan batu pedang. Karena materi pembentuknya itu gumuk dikategorikan sebagai tambang gilian C dengan material batu piring, pasir, dan batu pondasi sehingga mengundang eksploitasi gumuk secara ekonomi. Secara alamiah gumuk berkontribusi sangat besar terhadap keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat Jember. Letak geografis Jember yang berada di lembah antara pegunungan Argopuro dan Kumitir menyebabkan Jember memiliki potensi sebagai kawasan dengan cuaca ekstrem seperti angin kencang yang dapat menyebabkan berbagai kerusakan bangunan dan tanaman perkebunan. Menurut Badan Lingkungan Hidup Jember potensi gumuk salah satunya adalah untuk mencegah terjadinya angin kencang karena gumuk dapat mejadi penghalang atau pemecah angin sehingga kecepatan angin dapat terkurangi. Gumuk juga berfungsi sebagai lokasi serapan air utama di daerah Jember sehingga menghilangnya gumuk di daerah Jember dapat menyebabkan siklus banjir 5 tahunan terjadi dan sulitnya mendapatkan air bersih pada musim kemarau. Selain itu, banyaknya pemukiman yang berada di wilayah gumuk mempengaruhi hal tersebut. Survei yang dilakukan oleh PALAPA (UKM Pecinta Alam FMIPA UNEJ) pada pemukiman menyatakan pemukiman yang berada di kawasan bawah gumuk merasa hawa rumah terasa lebih panas dan terjadi banjir ketika musim hujan tiba. Menurut Dinas Pertanahan Nasional Jember, keberadaan gumuk di Jember sulit diidentifikasi dari jumlah dan status kepemilikannya. Hampir 100% dari gumuk yang ada di daerah Jember berstatus

kepemilikan perorangan dan minimnya pengetahuan akan gumuk menyebabkan sulitnya pengawasan pemerintah akan eksploitasi gumuk. Jember pernah diberi predikat Kota Seribu Gumuk. Karena kelangkaan dan ancaman manusia terhadap gumuk muncul komunitas pelestari gumuk dari inisiatif masyarakat Jember. Salah satu komunitas bahkan mengumpulkan uang untuk membeli gumuk dengan status kepemilikan perseorangan untuk membuat gumuk berstatus komunal sekaligus untuk menghindari eksploitasi gumuk. Pada dasarnya manusia dan alam bagai dua sisi mata uang yang saling mendukung satu sama lain dalam harmoni. Evolusi kehidupan manusia dari jaman batu hingga jaman digital seperti sekarang tidak lepas dari pengaruh alam. Ketika ego manusia lebih besar dari dirinya sendiri dan merusak alam, apa yang alam berikan pada manusia kemarin, saat ini, dan saat yang akan datang?