Anda di halaman 1dari 20

MONITORING PENGAWASAN KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN DI

WILAYAH PULAU GALANG BARU


BATAM – KEPULAUAN RIAU

MAKALAH

Oleh :
ROMI NOVRIADI (PHPI Terampil Lanjutan)
SRI AGUSTATIK (PHPI Ahli)
AHMAD NUR ILHAM (Pengawas Budidaya Terampil)

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN


DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM
2009
MONITORING PENGAWASAN KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN DI
WILAYAH TIAW WANG KANG DAN P.SETOKOK, BATAM-KEPULAUAN
RIAU

Romi Novriadi, Sri Agustatik, Ahmad Nur Ilham


Balai Budidaya Laut Batam
Jl. Barelang Raya Jembatan III, Pulau Setokok-Batam
PO BOX 60 Sekupang, Batam – 29422
E-mail : Romi_bbl@yahoo.co.id

Abstrak

Monitoring pemantauan kesehatan ikan dan lingkungan sebagai bagian dari


tugas pejabat fungsional PHPI telah dilakukan di wilayah Perairan Pulau
Galang Baru-Jembatan VI-Batam-Kepulauan Riau. Adapun kegiatan
monitoring ini dilakukan secara rutin oleh Laboratorium Kesehatan Ikan dan
Lingkungan BBL Batam berdasarkan dana DIPA Tahun Anggaran 2009.
Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk mengetahui kondisi keragaan kualitas
lingkungan perairan dan juga distribusi penyebaran penyakit di daerah Pulau
Galang Baru. Metoda pengambilan sampel dilakukan secara purposive
(ditentukan) untuk dianalisa baik secara kimiawi maupun biologi. Monitoring
ini juga disertai dengan pengumpulan data secara survey kepada para
pembudidaya untuk mengetahui kendala, hambatan, dan berbagai aspek
teknis lainnya khususnya dalam hal penanggulangan penyakit ikan dan
lingkungan. Hasil pengamatan secara kimia menunjukkan bahwa kualitas
perairan secara umum cukup optimal hanya NH3 yang menunjukkan
konsentrasi 0,03 mg/l. Sedangkan untuk pengamatan biologi menunjukkan
jenis Diplectanum untuk parasit dan Vibrio sp untuk bakteri sudah terdeteksi
keberadaannya pada tubuh ikan.

Kata kunci : Monitoring, Kimia dan Biologi, Galang Baru


I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Setelah Pulau Batam yang memiliki luas 415 Km persegi berhasil


menjadi daerah Industri yang diminati Foreign Direct Invesment (FDI) dan
Domestic Direct Invesment (DDI). Mantan Presiden BJ Habibie yang juga
bekas Ketua Otorita Batam memiliki impian untuk mengembangkan enam
Pulau lainnya yang telah dihubungkan dengan Jembatan berdesain artistic
yang selama ini belum dikembangkan, baik potensi wisata maupun bisnis.
Dan salah satu Pulau yang akan dikembangkan tersebut adalah Pulau
Galang baru – Jembatan VI.

Berdasarkan letak geografis yang dimiliki, maka pengembangan


usaha yang sangat cocok untuk dikembangkan di Pulau Galang Baru adalah
di sektor kelautan dan perikanan. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai
tindakan untuk meminimalisir berbagai faktor pengganggu keberhasilan
usaha budidaya ikan. Dan salah satu tindakan tersebut adalah
penanggulangan terhadap penyakit ikan.

Penyakit terdiri atas berbagai macam organisme yang dapat bersifat


sebagai wabah dan menyerang semua jenis dan ukuran ikan peliharaan baik
di perairan tawar, payau maupun laut. Pada umumnya penyakit tidak hanya
disebabkan oleh jasad pathogen melainkan juga oleh faktor lingkungan dan
pakan.

Perlu diperhatikan bahwa semua penyebab kematian ikan adalah


karena penyakit. Sehingga dalam menangani masalah kematian ikan,
tindakan penanggulangan perlu dilakukan dengan hati-hati dan teliti
sehingga tidak akan menimbulkan tindakan yang salah bahkan merugikan.
Didalam melakukan penanggulangan penyakit ada beberapa hal yang perlu
dilakukan. Yaitu :
1. Lingkungan perairan, baik fisik, kimia dan biologi
2. Teknik yang akan dipakai
3. Sosial dan ekonomi agar tindakan yang dilakukan menguntungkan dan
diterima masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan peran organisasi ataupun


instansi pemerintah untuk melakukan sosialisasi penanggulangan penyakit
ikan baik berupa aspek teknis maupun aspek non teknis. Untuk itu Balai
Budidaya Laut Batam sebagai salah satu UPT dilingkup DKP melalui
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan melakukan monitoring rutin
untuk melakukan berbagai sosialisasi tentang penanganan penyakit ikan,
penggunaan obat-obatan, dan juga untuk mendapatkan data status kondisi
penyebaran penyakit ikan dan lingkungan yang ada di wilayah kerja BBL
Batam. Dan untuk pendanaan kegiatan monitoring ini dibebankan kepada
anggaran BBL Batam tahun 2009.
I.2 Tujuan dan Manfaat

Kegiatan monitoring kesehatan ikan dan lingkungan ini bertujuan untuk


memperoleh data dan informasi mengenai kondisi perairan budidaya serta
paparan distribusi penyebaran penyakit yang terdapat di kawasan budidaya di
dan untuk kegiatan ini mengambil lokasi di Pulau Galang Baru. Selain itu juga
kegiatan monitoring ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi penggunaan
bahan kimia dan obat obatan dalam rangka budidaya ramah lingkungan dan
berkelanjutan serta memberikan saran dan masukan tentang pencegahan
dan penanggulangan berbagai penyakit ikan.
Diharapkan hasil kegiatan monitoring ini dapat digunakan sebagai informasi
dan menjadi salah satu acuan bagi pembudidaya khususnya serta para
pengambil kebijakan di daerah untuk keberhasilan dan keberlanjutan kegiatan
budidaya perikanan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Peranan budidaya pantai dewasa ini semakin meningkat sejalan


dengan besarnya potensi pengembangannya baik sumberdaya lahan
maupun jenis komoditas. Kegiatan perikanan yang memanfaatkan kawasan
pantai telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, tidak
saja dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani tetapi juga sebagai sektor
penghasil devisa dan mampu menciptakan lapangan kerja baru di wilayah
desa pantai. Pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya makanan sehat asal laut mengakibatkan jumlah
permintaan jenis-jenis ikan laut dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.
Potensi perairan laut yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan
usaha budidaya ikan-ikan bersirip diperkirakan 3 juta Ha (Sunaryanto, et al,
2001). Upaya budidaya selain bertujuan meningkatkan produksi untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi ikan per kapita, juga untuk memenuhi
permintaan pasar dunia serta memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang
tersedia dengan cara-cara yang ramah lingkungan dalam upaya
pelestariannya di alam baik terhadap ruaya hidupnya maupun terhadap
kelestarian jenis-jenisnya.
Ikan kerapu tersebar luas di perairan pantai baik di daerah tropis
maupun sub tropis, dan termasuk jenis ikan yang hidup di perairan berkarang
sehingga sering dikenal sebagai ikan karang (coral reef fish). Beberapa jenis
ikan kerapu yang banyak terdapat di Indonesia seperti kerapu bebek atau
tikus (Cromileptes altivelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus),
kerapu sunu (Plectropomus leopardus), kerapu lumpur (Epinephelus
coioides), kerapu malabar (Epinephelus malabaricus), dan kerapu bintik atau
batik (Epinephelus bleekeri), merupakan komoditas andalan untuk
dibudidayakan karena selain memiliki nilai jual yang tinggi juga dalam proses
produksinya lebih banyak memanfaatkan sumber daya laut yang ada dan
menggunakan komponen lokal cukup besar, sementara hasil dari usaha
budidayanya mempunyai pangsa pasar yang luas sehingga sangat potensial
untuk dikembangkan yang pada gilirannya dapat meningkatkan devisa negara
Salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha
budidaya ikan kerapu dalam proses pembesarannya adalah tingginya tingkat
kematian. Hal ini terutama disebabkan karena belum dikuasainya tekhnologi
pembesaran secara baku, baik ditinjau dari kondisi lingkungan perairan yang
kurang mendukung maupun dari segi standar operasional (ukuran KJA,
ukuran benih pada saat tebar, padat penebaran dalam pemeliharaan, pola
pemberian pakan, dll). Termasuk kedalamnya adalah belum dikuasainya
berbagai aspek dan teknologi dalam usaha penanggulangan penyakit ikan
dan lingkungan. (Titiek Aslianti, Bedjo Slamet, BBRPBL Gondol).
Salah satu upaya dalam penanggulangan penyakit adalah penggunaan
obat-obatan. Mengingat obat-obatan merupakan salah satu cara yang dapat
dipakai untuk menekan angka kematian akibat serangan penyakit sehingga
dapat mengurangi resiko menyebarnya penyakit ke daerah lain dan
mengurangi timbulnya kerugian secara ekonomis.
Pengertian Obat-obatan, Vaksin dan Antibiotika Dalam Penanggulangan
Penyakit.
Obat-obatan adalah senyawa atau campuran senyawa yang dipakai
untuk mengurangi gejala penyakit atau untuk menyembuhkan penyakit. Obat-
obatan termasuk pestisida pada budidaya ikan dan digunakan untuk
menyembuhkan penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit.
Penggunaan obat-obatan sering sangat praktis, efektif dan murah.
Tetapi perlu diingat karena obat-obatan kebanyakan tidak spesifik dan dapat
menimbulkan strain bakteri yang resisten dan menimbulkan pencemaran
lingkungan. Selain obat-obatan kimia, dalam penanggulangan penyakit dapat
pula dipergunakan Vaksin. Vaksin adalah suatu antigen yang biasanya
berasal dari suatu jasad pathogen yang telah dilemahkan atau dimatikan.
Ditujukan untuk meningkatkan pertahanan ikan atau untuk menimbulkan
kekebalan aktif terhadap suatu penyakit tertentu.
Teknik pemakaian Vaksin yang biasa dilakukan pada ikan mencakup
bermacam cara, yakni :
- Melalui suntikan
- Melalui makanan (oral)
- Perendaman, dan
- Penyemprotan dengan tekanan tinggi.

Faktor yang mempengaruhi Vaksinasi pada ikan adalah : (1)


Temperatur, karena pada temperatur yang rendah, produksi antibodi lambat;
(2) Umur dan berat ikan, Vaksinasi jangan dilakukan pada ikan kurang dari 3
minggu dan beratnya kurang dari 1 gram.

Antibiotika adalah hasil mikroorganisme yang dalam konsentrasi


rendah dapat menghambat perkembangan atau membunuh mikroorganisme
lain. Penggunaan antibiotika disarankan menjadi alternatif terakhir, dan
apabila merasa perlu menggunakan antibiotika hendaknya digunakan dengan
sebaik-baiknya. Antibiotika hanya digunakan untuk penyakit infeksi bakteri
dan tidak dapat atau tidak ada gunanya apabila diberikan pada penyakit
Infeksi Virus, jamur atau Protozoa.

Beberapa Cara/Teknik Penanggulangan Penyakit Ikan.

Cara penanggulangan dengan menggunakan obat-obatan atau secara


kimiawi dapat dilakukan di dalam bak (tank treatment) maupun didalam kolam
(pond treatment), beberapa teknik yang dapat dipergunakan antara lain :
1. Jangka Pendek (Short Duration)
a. Metoda perendaman (Dip method).
Dipakai dosis konsentrasi yang tinggi untuk waktu yang pendek, tidak
lebih dari beberapa detik. Ikan yang diobati disimpan dalam net dan
dicelupkan. Dipakai untuk pengobatan ikan dan telur ikan.
b. Metoda pembilasan (rapid flush)
Dipakai konsentrasi yang relatif tinggi. Dibilas sekaligus sambil
dilakukan pergantian air. Biasanya dipakai untuk telur ikan.
2. Jangka Panjang (Prolonged Treatment)
a. Metoda pemandian (Bath Method)
Lama pengobatan sekitar 1 jam. Selama pengobatan, ikan selalu
diamati. Aerasi terus menerus diberikan.
b. Perlakukan dengan aliran tetap (Constant Flow Treatment)
Diperlukan alat aliran tetap (Constant flow apparatus). Lama
pengobatan 1 jam.

3. Jangka Waktu Tak Terbatas (Indefinite Treatment)


Metoda ini umumnya dipakai di kolam atau bak-bak berukuran besar.
Bahan kimia yang dipergunakan dalam dosis yang rendah untuk jangka
waktu lama, dan dibiarkan supaya berkurang dan hilang dengan
sendirinya.

4. Penyemprotan
Pemberantasan dikolam dapat dilakukan dengan cara penyemprotan.
Bahan kimia yang biasa digunakan dengan jalan penyemprotan adalah
pestisida. Pengobatan dengan pestisida ini hanya dilakukan sebagai cara
terakhir, setelah cara-cara yang lain tidak ada yang efektif.

5. Injeksi atau Penyuntikan


Biasanya dilakukan untuk ikan-ikan yang berukuran besar atau induk, dan
dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
- Secara Intra Peritoneal (IP), penyuntikan dilakukan pada bagian
belakang dari rongga perut yaitu tepat di depan sirip perut (diusahakan
agar tidak melukai usus).
- Intra Muscular (IM), penyuntikan dilakukan pada bagian tengah otot
punggung dekat sirip punggung (lebih kurang 3 sisik di bawah ujung
belakang sirip punggung).

6. Pengobatan Melalui makanan.


Apabila ikan yang terserang suatu penyakit masih mau makan (belum
kehilangan nafsu makannya), maka pengobatan dilakukan melalui
makanan. Pencampuran dilakukan sesaat sebelum makanan diberikan.

Dalam rangka mendukung peningkatan produksi perikanan, khususnya


ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti: kakap putih, kerapu,
beronang, rumput laut dan jenis ikan laut lainnya, akhir-akhir ini sedang
digalakkan pembudidayaannya dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan laut tersebut, terdapat
pula beberapa masalah yang mengganggu, sehingga menghambat
perkembangan usaha budidaya, yaitu hama dan penyakit ikan. Apabila
keadaan tersebut tidak segera ditanggulangi lebih awal, maka kegiatan
budidaya ikan laut akan terganggu, akibatnya ikan akan menurun karena
tingkat kematiannya tinggi. Untuk menghindari hal tersebut perlu diupayakan
pencegahan dan pengobatan terhadap hama dan penyakit ikan. Namun
demikian perlu diperhatikan bahwa tidak semua penyebab kematian
dikarenakan penyakit, maka dalam menangani masalah ini, tindakan
penanggulangannya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar tidak
menimbulkan kesalahan yang merugikan.
JENIS PENYAKIT PADA IKAN.

1. Penyakit pada kulit


Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan berlendir. Tanda ini terlihat jelas
pada ikan yang berwarna gelap. Penyakit yang disebabkan oleh jamur
menimbulkan bercak-bercak warna kelabu, putih atau kehitam-hitaman
pada kulit ikan. Ikan yang menderita penyakit kulit kadang-kadang
menggosok-gosokkan badannya pada suatu benda di dalam air.
2. Penyakit pada insang. Ikan terlihat sulit bernafas. Tutup insang.
mengembang dan lembaran-lembaran insang pucat. Pada lembaran-
lembaran insang terlihat bintik merah yang disebabkan oleh pendarahan
kecil (peradangan). Jika terdapat bintik-bintik putih pada insang, hal ini
diebabkan oleh parasit kecil yang menempel pada tempat tersebut.
3. Penyakit pada organ (alat-alat dalam). Perut ikan membengkak dengan
sisik-sisik ikan berdiri (penyakit dropsy), dapat juga sebaliknya, perut
menjadi sangat kurus. Kotoran ikan berdarah, menandakan adanya
radang usus. Penyakit pada gelembung renang, menyebabkan ikan
berenang terjungkir balik karena terganggunya keseimbangan badan.

Fungsi monitoring menitik beratkan pada :


1. Pemantauan terhadap mewabahnya penyakit yang mungkin akan
berdampak pada produksi perikanan dan memberikan informasi sistem
pengendalian.
2. Pengawasan terhadap penggunaan obat dan pestisida yang dipergunakan
oleh petambak untuk menjaga salah penggunaan bahan pengendali hama
dan penyakit yang pada akhirnya akan berdampak pada kwalitas produk
perikanan yang dihasilkan.

Karakteristik penyakit infeksi pada ikan


Ikan merupakan salah satu hewan air yang selalu bersentuhan dengan
lingkungan perairan sehingga mudah terinfeksi patogen melalui air. Infeksi
bakteri dan parasit tidak terjadi pada hewan darat melalui perantara udara,
namun pada ikan sering terjadi melalui air. Pada budidaya, air tidak hanya
sebagai tempat hidup bagi ikan, tapi juga sebagai perantara bagi patogen.

Prosedur diagnosa di lapangan

 Pengukuran panjang dan berat ikan.


 Pengamatan tanda-tanda luar pada permukaan tubuh dan insang.
 Gunting lembaran insang dan ambil lendir tubuh untuk mendeteksi parasit
di bawah mikroskop.
 Ambil contoh darah dari sirip dada menggunakan jarum suntik untuk
pembuatan
preparat apusan darah dengan menggunakan pewarnaan Giemsa.
 Isolasi jamur dengan menggunakan agar GY jika diduga terjadi infeksi
jamur. vi. Isolasi bakteri dari sirip atau insang dengan menggunakan agar
cytophaga, jika diamati adanya insang atau sirip yang membusuk.
 Isolasi bakteri dari luka dengan menggunakan agar TS atau BHI, jika ikan
memiliki borok atau ada pembengkakan pada permukaan tubuh.
 Bedah ikan dengan peralatan bedah yang bersih untuk membuka rongga
perut dan amati tanda-tanda internal.
 Isolasi bakteri dari hati, ginjal dan limpa dengan menggunakan agar TS
atau BHI. x. Pembuatan preparat limpa pada kaca preparat dengan
pewarnaan Giemsa untuk mendeteksi infeksi bakteri.
 Fiksasi setiap organ dengan larutan formalin 10°I° berpenyangga fosfat-
untuk histopatologi dan dalam etanol 70% untuk uji PCR.

Pekerjaan di laboratorium

Pekerjaan yang paling penting bagi ahli penyakit adalah mendiagnosa


penyakit. Jika diagnosanya salah, maka penanganannya juga akan salah.
Bila terlalu lama untuk mendiagnosa penyakit, ikan mati sebelum pengobatan
dilakukan, diagnosa harus tepat dan cepat. Prosedur diagnosa adalah
sebagai berikut : pertama, coba isolasi patogen dari ikan yang sakit (kecuali
untuk infeksi oleh virus); kedua, patogen yang diisolasi diinfeksikan ke ikan
yang sehat. Bila diduga virus, larutan yang sudah disaring dengan
menggunakan saringan 0,45 µm homogen, diinfeksikan ke ikan yang sehat.
Jika ikan yang sekarat (moribund) dengan gejala seperti ikan yang sakit
tersebut, hal ini membuktikan bahwa yang diisolasikan tersebut merupakan
penyebab penyakit. Dengan demikian, penyebab penyakit teridentifikasi
sebagai spesies yang sama dengan patogen sebelumnya. Diagnosa penyakit
ikan dapat menjadi lengkap dengan adanya identifikasi penyebab penyakit.
Metode pemeriksaan untuk konfirmasi diagnosa berbeda untuk setiap jenis
patogen, virus, bakteri, jamur dan parasit.

Tindakan penanganan
 Penyakit viral : jika ikan terinfeksi oleh virus sangatlah sulit untuk diobati.
Ada dua cara tindakan pencegahan yaitu membersihkan virus penyebab
penyakit dari lingkungan clan meningkatkan kekebalan ikan terhadap viral.
Tindakan pencegahan pertama, desinfeksi semua wadah dan peralatan,
seleksi induk dan telur bebas virus. Tindakan selanjutnya bila
memungkinkan adalah meningkatkan kualitas telur, penggunaan vaksin
clan immunostimulan atau vitamin. Diantara tindakan penanganan yang
ada, vaksin merupakan tindakan yang paling efektif untuk mencegah
penyakit viral.
 Penyakit bakterial : penyakit bakterial dapat diobati dengan antibiotika.
Namun, penggunaan antibiotika yang tidak tepat menghasilkan efek yang
negatif. Itulah sebabnya pemilihan antibiotika yang tepat merupakan
pekerjaan yang paling penting untuk masalah infeksi bakteri. Pemilihan
antibiotika dilakukan berdasarkan hasil uji sensitivitas obat.
 Penyakit jamur : sampai sekarang belum dikembangkan tindakan
penanganan untuk infeksi jamur pada hewan air. Jadi pencegahan
merupakan tindakan terbaik yang dapat dilakukan.
 Penyakit parasitik : pada umumnya ektoparasit dapat ditangani dengan zat
kimia. Namun, telur dan siste memiliki resistensi terhadap zat kimia.
Berdasarkan keberadaan parasit, pengobatan kedua harus dilakukan
setelah spora atau oncomiracidium menetas. Untuk menentukan jadwal
pengobatan untuk setiap parasit, studi siklus hidup parasit sangatlah
penting.
III. METODA PENGAMATAN

III.1 Waktu Pelaksanaan


Kegiatan pemantauan Kesehatan Ikan dan Lingkungan ini dilaksanakan
pada hari Selasa tanggal 24 Maret 2009 di satu lokasi titik sampling
yakni di KJA Milik Bp. A Huan Jembatan VI Galang Baru-Batam.

III.2 Alat dan Bahan


III.2.1 Alat
1. Dissecting Set
2. pH meter
3. HACH DR 890 Kolorimeter
4. Hand Refraktometer
5. Botol Sampel
6. Kamera digital
7. Bunsen
8. Ember
9. Pena
10. Form Kuisioner Monitoring

III.2.2 Bahan

1. Ammonia Salycilate reagen sachet


2. Ammonia Cyanurate reagen sachet
3. NitraVer reagen sachet
4. NitriVer reagen sachet
5. pH Buffer 7.0
6. pH Buffer 4.0
7. TSA
8. TCBS
9. Aquadest

III.2.3 Metoda

Didalam kegiatan monitoring pemantauan kesehatan ikan dan


lingkungan di daerah Galang Baru ini, pengamatan dibagi atas dua
metoda, metoda pertama pengamatan yang dilakukan langsung di
lapangan. Diantaranya adalah pengamatan lingkungan secara visual,
kondisi budidaya dan berbagai aspek teknis lainnya yang secara
keseluruhan tercantum di form monitoring. Metoda kedua adalah
pengamatan yang dilakukan di Laboratorium. Pengamatan metoda ini
mencakup parameter biologi dan kimia air dan mikrobiologi ikan seperti
parasit, bakteri dan Virus.
Untuk pengamatan di Laboratorium, pengambilan sampel dilakukan
berdasarkan SOP yang telah dibuat oleh Tim Laboratorium Kesehatan
Ikan dan Lingkungan Balai Budidaya Laut Batam. Diantaranya
pengambilan sampel air untuk parameter NO2, NO3, NH3, pH, salinitas,
Total Bakteri Umum (TBU) dan Total Bakteri Vibrio (TBV) di dalam air
media pemeliharaan.
Didalam melakukan sampling, patokan yang digunakan oleh Tim
Monitoring Pemantauan Kesehatan Ikan dan Lingkungan adalah SNI
6989.57:2008, dimana kegiatan yang dilakukan meliputi :
1.1 Untuk penentuan tentang titik sampling, didasarkan pada prinsip
tempat pengambilan sampel dapat mewakili kualitas badan perairan.
1.2 Membuat persyaratan wadah contoh, diantaranya :
a) Menggunakan bahan gelas atau plastik Poli Etilen (PE) atau Poli
Propilen (PP) atau Teflon (Poli Tetra Fluoro Etilen, PTFE);
b) dapat ditutup dengan kuat dan rapat; tidak mudah pecah
c) bersih dan bebas kontaminan;
d) contoh/sampel tidak berinteraksi dengan wadah yang digunakan.
1.3 Persiapan Wadah Sampel
a) untuk menghindari kontaminasi contoh di lapangan, seluruh wadah
contoh harus benar-benar dibersihkan di laboratorium sebelum
dilakukan pengambilan contoh.
b) wadah yang disiapkan jumlahnya harus selalu dilebihkan dari yang
dibutuhkan, untuk jaminan mutu, pengendalian mutu dan
cadangan.
c) Jenis wadah contoh dan tingkat pembersihan yang diperlukan
tergantung dari jenis contoh yang akan diambil.
1.4 Cara pengambilan contoh dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a) Disiapkan alat pengambil contoh yang sesuai dengan keadaan
sumber airnya;
b) Dibilas alat pengambil contoh dengan air yang akan diambil,
sebanyak 3 (tiga) kali;
c) Diambil contoh sesuai dengan peruntukan analisis dan
campurkan dalam penampung sementara, kemudian
homogenkan;
d) Dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis;
e) Dilakukan segera pengujian untuk parameter suhu, kekeruhan
dan daya hantar listrik, pH dan oksigen terlarut yang dapat
berubah dengan cepat dan tidak dapat diawetkan;
f) Hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan
khusus;
g) Pengambilan contoh untuk parameter pengujian di laboratorium
dilakukan pengawetan
Sementara untuk pengamatan hama dan penyakit ikan,
sampel diambil dari suatu populasi secara selektif yang menunjukkan
tanda-tanda klinis ikan terserang penyakit sesuai dengan data yang
telah ada. Apabila tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda klinis
pengambilan sampel dilakukan secara acak. Pengamatan gejala klinis
ikan sakit, pemeriksaan patologi anatomi dan pengambilan / isolasi
bakteri dari organ dalam. Parameter uji untuk penyakit ikan yang diamati
yakni parasit dan bakteri dan virus. Semua sampel dibawa ke
laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan Balai Budidaya Laut Batam
untuk dilakukan analisa/uji. Disamping itu juga dilakukan pengambilan
data sekunder dengan mewawancarai pembudidaya mengenai kondisi
budidaya, lingkungan, kasus serangan penyakit, cara penanggulangan
penyakit, taksiran kerugian, obat-obatan yang dipakai, pakan, dan lain
sebagainya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Keadaan Umum

Sejalan dengan perkembangan Pulau Batam oleh Otorita Batam, sesuai


dengan periodesasi pembangunan dan pimpinannya maka dibentuklah
KOTAMADYA BATAM berdasarkan PP No.34 tahun 1983, dalam hal ini
wilayah pemerintahannya sama dengan Kecamatan Batam sebelum
dibentuknya Kotamadya Batam tersebut dan membawahi 3 (tiga) kecamatan
yaitu : Belakang Padang, Batam Barat dan Batam Timur. Tentang
penyelenggaraan pemerintahan, sebagai penjabaran dari pasal 17 PP No. 34
tahun 1983, telah keluar KEPRES No. 7 tahun 1984 tentang: hubungan kerja
antara Kota-madya Batam dengan Otorita Pengembangan Daerah Industri
Pulau Batam.
Dengan Kepres No. 28 Tahun 1992 wilayah kerja Otorita Batam
diperluas meliputi wilayah BARELANG ( Pulau Batam, Rempang, Galang dan
pulau-pulau sekitarnya ) dengan luas wilayah seluruhnya sekitar 715 Km
( 115 % dari luas Singapura ). Implementasi Undang-Undang No.53 Tahun
1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No 13 Tahun 2000,
maka Batam yang semula sebagai Kota Administratif Batam statusnya
berubah menjadi daerah otonom Kota Batam. Untuk itu, struktur
pemerintahan dan penataan wilayahnya juga mengalami perubahan.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005, dinyatakan bahwa Kota
Batam semula terdiri dari 8 Kecamatan dan 51 Kelurahan berubah menjadi 12
Kecamatan dan 64 Kelurahan.
Pada monitoring Kesehatan Ikan dan Lingkungan ini dilaksanakan di
Kecamatan Bulang meliputi 2 (dua) titik sampling yakni Tiaw wang Kang dan
P.Nipah/Setokok.
Kecamatan Bulang
Kecamatan Bulang dengan luas wilayah 463 Ha yang terdiri dari 6
Kelurahan yaitu Pantai Gelam, Temoyong, Pulau Setokok,Batu Legong,
Bulang Lintang dan Pulau Buluh ini, juga memiliki kawasan perairan yang
cukup luas, dengan jumlah penduduk sebanyak 9.431 jiwa (2007). Sekolah
yang ada di Kecamatan Bulang terbagi atas 11 SD Negeri, 3 SMP Negeri dan
1 SMP Swasta serta 1 SMA Negeri dengan jumalh murid 1310 orang untuk
Sekolah Dasar, 448 orang untuk murid SMP dan 102 orang untuk murid SMA.
Sedangkan banyak nya tenaga pengajar sebanyak 73 guru SD, 32 guru SMP
dan 19 guru SMA (data 2006) , serta 7 sekolah agama mulai dari tingkat MI
hingga MA dengan 3 Pesantren.
Untuk Pelayanan Kesehatan kepada masyarakat, di Kecamatan
Bulang terdapat 1 Puskesmas,6 Puskesmas Pembantu, 3 Puskesmas
Keliling, dan 1 Polindes dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 2 dokter
umum, 1 dokter gigi, 4 bidan desa dan 10 dukun beranak (data 2006).
Kerukunan umat beragama di Kecamatan Bulang pun terjalin dengan baik
antar umat beragama, dimana terdapat 26 Masjid dengan 2 Mushola, 1
Gereja untuk pemeluk Katholik serta 1 Vihara untuk umat Budha. Kegiatan
Kemasyarakatan dan Kesejahteraan Sosial pun di Kecamatan Bulang cukup
banyak, terdapat 25 Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat dan 6 Karang
Taruna.

Meskipun daerah perairan lebih luas namun cukup banyak rumah


tangga yang bergerak di sektor pertanian yaitu sebanyak 328 Rumah tangga,
dengan hasil produksi tanaman Palawija sebanyak 171 ton dengan luas areal
tanam seluas 42 Ha untuk tanaman Palawija. Sedangkan untuk tanamanan
Sayur-sayuran pada areal tanam 167 Ha, menghasilkan 620 ton untuk 12
varietas tanaman sayur-sayuran (2006). Tak kalah dengan hasil produksi
tanaman palawija dan sayuran, hasil produksi buah-buahan pun cukup
banyak. Dengan luas areal tanam 73 Ha mampu menghasilkan 333 ton hasil
tanam buah-buahan dari beberapa jenis tanamana buah-buahan.
Daerah yang dikeliling lautan menjadikan masyarakat di Kecamatan Bulang
hampir semuanya menjadikan nelayan ataupun pembudidaya hasil laut
sebagai mata pencaharian. Terdapat 1.447 Rumah tangga yang menjalankan
Perikanan laut dengan hasil 1.476 ton dan 1.305 rumah tangga yang
bergerak di budidaya laut dengan hasil 1.331 ton dengan hasil perikanan
mencapai 5.880 ton dimana nilai produksi mencapai Rp 14 miliar (2007).

Lokasi
Pemantauan
Monitoring HPI

IV.3 Hasil Pengamatan di Lokasi Monitoring.


LOKASI I

Nama Pemilik : Amos dan Anton


Lokasi Budidaya : Desa Tiaw Wang Kang, Kecamatan Bulang,
Kotamadya Batam, Provinsi Kepulauan Riau
Deskripsi Usaha :

a. Metode budidaya: Keramba jaring Apung


b. Luas (m3) : 3 x 3 meter, 8 lubang/jaring (4 hole efektif)
c. Jenis Ikan : Kerapu Macan, Kakap Putih
d. Asal benih : BBL Batam (kakap Putih) dan Jembatan V
e. Ukuran Tebar: 3 – 5 inch
f. Penyakit : Benedenia sp
g. Pakan : rucah (trash fish)
Secara umum, pembudidaya masih bersemangat untuk melanjutkan
budidaya ikan Kakap di daerah Tiaw Wang kang ini. Cuma
permasalahan yang sering dialami oleh pembudidaya adalah perairan
yang cenderyung memerah bila angin utara datang. Manurut dugaan
para pembudidaya berasal dari area pembangunan resort di dekat
lokasi budidaya. Selain itu adanya cacing insang juga menyebabkan
hampir separuh dari ikan yang dibudidayakan mengalami kematian.
Pengobatan yang telah dilakukan adalah dengan merendam ikan
menggunakan air tawar dan selanjutnya di treatment dengan
Acriflavine. Pengobatan dengan formalin tidak dilakukan karena
keterbatasan alat yang dimiliki oleh pembudidaya.

LOKASI II

Nama Pemilik : Wahyudi Firdaus


Lokasi Budidaya : Desa Setokok, Kecamatan Bulang, Kotamadya
Batam, Provinsi Kepulauan Riau
Deskripsi Usaha :

h. Metode budidaya: Keramba jaring Apung dan Keramba Tancap


i. Luas (m3) : 3 x 3 meter, 10 hole
j. Jenis Ikan : Kerapu Macan, Kakap Putih, Kerapu Lumpur,
Simba Kuning, Kakap Merah
k. Asal benih : BBL Batam, Bali, Situbondo
l. Ukuran Tebar: -- (Keramba Tampungan Sementara / Transit)
m. Penyakit : Benedenia sp
n. Pakan : rucah (trash fish)

Lokasi budidaya yang dimiliki oleh wahyudi Firdaus merupakan unit


keramba yang diposisikan sebagai tempat penampungan ikan
sementara sebelum dikirimkan lepada pemilik ikan yang sebenarnya.
Oleh karena itu jarang ditemukan adanya penyakit pada berbagai
komoditas ikan yang dimiliki oleh unit KJA Wahyudi.

Tabel 1. Hasil pemeriksaan kualitas air di lokasi monitoring


HASIL UJI
PARAMETE TEST RESULT SPESIFIKASI
SATUA
R Lokasi METODE
No N Lokasi I
PARAMETE II METHODE
UNIT (Bp.Am
RS (Bp.Yud SPESIFICATION
os)
i)
TBU 3,5x102 1x102 Isolasi dan
CFU/m
1 Identifikasi
TBV L 0 0
Konvensional
2 pH 7,85 7,90 SNI 06-6989.11-2004

3 Nitrat (NO3) 0 0 Kolorimetri

4 Nitrit (NO2) 0 0 Kolorimetri


mg/L
Amoniak 0 0 Kolorimetri
5
(NH3)
o
6 Salinitas /oo 30 30 IKM/5.4.4/BBL-B
Tabel. 2 Hasil pemeriksaan parameter biologi

PARAMETER SATUA
HASIL UJI
No PARAMETER N
TEST RESULT
S UNIT
Cacing insang
1 Parasit
Diplectanum
2 Bakteri Vibrio sp

Pembahasan

Berdasarkan data kualitas air baik secara kimia maupun biologi


menunjukkan bahwa perairan Tiaw Wang Kang dan P.Nipah/Setokok
masih cukup optimal dalam mendukung budidaya perikanan. Hanya
saja untuk parasit seperti Benedenia sp dan Diplectanum serta Vibrio
sp sudah terdeteksi keberadaannya pada tubuh ikan. Hal ini harus
mendapatkan perhatian khusus bagi pembudidaya untuk melakukan
treatment pengobatan bila ikan mengalami gejala klinis terserang
penyakit mikrobial tersebut.
Untuk keberlanjutan budidaya perikanan, pihak pembudidaya masih
sangat optimis untuk mengembangkan usaha perikanan ini dan
mereka sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah baik bantuan
berupa modal maupun sarana dan prasarana.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
1. Kondisi lingkungan perairan cukup optimal mendukung budidaya
perikanan, namun dengan lokasi budidaya yang berdekatan
dengan muara sungai, hal yang harus diperhatikan adalah
kekeruhan yang ditimbulkan oleh arus sungai serta adanya fluktuasi
salinitas di badan perairan.
2. Hasil analisa untuk parameter biologi pada sample ikan yang
dibawa menunjukkan bahwa ikan terserang cacing insang dan
Diplectanum dan cacing insang untuk parasit serta Vibrio sp. Untuk
bakteri.

V.2 Saran
1. Diharapkan pembudidaya ikut aktif dalam memeriksakan kondisi
penyakit ikan yang dialami agar dapat dilakukan tindakan dan saran
perlakuan pengobatan yang efektif.
2. Pakan yang digunakan diharapkan juga bagus dalam hal kualitas
dan gizi. Kana bila pakan yang telah menurun kualitas dan disertai
dengan bau yang menyengat tetap diberikan pada ikan yang
dibudidayakan dikhawatirkan akan menjadi pemicu tersendiri bagi
tumbuh kembangnya penyakit ikan.
3. Perlunya dibentuk tata Ruang Wilayah yang jelas untuk area
pengembangan budidaya ikan agar kasus pencemaran lingkungan
yang merugikan para pembudidaya tidak terjadi lagi
VI. DAFTAR PUSTAKA

.............,2008, Potensi Pulau Batam, www. Pemko-batam.go.id


Anonim. 2002. Pedoman Umum Monitoring dan Surveilance Hama dan
Penyakit Ikan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya.
Direktorat Kesehatan Ikan Dan Lingkungan
Direktorat Jenderal Perikanan. 1994, Petunjuk Teknis Budidaya Ikan
Laut Di Jaring Apung, Departemen Pertanian
Kusumastanto, T., 2001. Potensi dan Peluang Industri Kelautan
Indonesia. Makalah Seminar Peluang Usaha dan Teknologi
Pendukung pada Sektor Kelautan Indonesia 11 Juli 2001.
Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Jakarta.

Mahony, 1995. HACCP in Aquaculture: Papers Prepared for


PAEC/DOF. Seminar on Quality Assurance for Aquaculture
Products. Queen Sirikit National Convention Centre, Bangkok

Southeast Asian Fisheries Development Centre, 1997. Quality


Management for Aquacultured Shrimp. SEAFDEC, Changi,
Singapore.

Suboko, B., 2001. Kebutuhan Teknologi Pengolahan dan Delivery


Bagi Pelaku Usaha Industri Perikanan Di Indonesia. Makalah
Seminar Peluang Usaha dan Teknologi Pendukung pada
Sektor Kelautan Indonesia 11 Juli 2001. Departemen
Kelautan dan Perikanan , Jakarta
Lampiran.I

Gambar-Gambar di Lokasi Monitoring Pemantauan Hama dan


Penyakit Ikan di Tiaw Wang kang dan P. Nipah/setokok

Sampling Air untuk analisa kimia dan Wawancara dengan pembudidaya untuk
biologi di laboratorium Kesling mendapatkan data sekunder

Parasit yang terdeteksi dari sampel ikan Pengamatan patologis klinis dari sanpel
monitoring ikan monitoring
Lampiran II

LAPORAN HASIL UJI


Report of Analysis
No.: 287/ A / LHU /BBL-B /II/ 2009

Nama Customer : Amos dan Yudi Tanggal : 11 Februari 2009


Customer Name Date
Personil yang : Amos dan Yudi
dihubungi
Contact Person
Alamat : Thio Angkang, Jembatan
Address 3 Barelang
Jenis Sampel : Air Laut KJA No. FPPS : 287/A/FPPS/BBL-
Type of B/II/2009
Sample(s)
Kode Sampel : Lokasi I Thioangkang KJA Bp.Amos
Sample Code Lokasi II Jembatan 3 KJA Bp.Yudi

Tanggal : 9 Februari 2009 Tanggal : 9 - 11 Februari 2009


Penerimaan Pengujian
Received date Analysis date

HASIL UJI
SPESIFIKASI
PARAMETER TEST RESULT
SATUAN METODE
No PARAMETER
UNIT Lokasi I Lokasi II METHODE
S
(Bp.Amos) (Bp.Yudi) SPESIFICATION
TBU 3,5x102 1x102 Isolasi dan
1 CFU/mL Identifikasi
TBV 0 0
Konvensional
2 pH 7,85 7,90 SNI 06-6989.11-2004

3 Nitrat (NO3) 0 0 Kolorimetri

4 Nitrit (NO2) 0 0 Kolorimetri


mg/L
Amoniak 0 0 Kolorimetri
5
(NH3)
o
6 Salinitas /oo 30 30 IKM/5.4.4/BBL-B
Batam, 11 Februari
2009

Manajer Teknik,

Sri Agustatik, S.Pi


NIP. 080 123 057

.
Catatan : 1. Hasil uji ini hanya berlaku untuk sampel yang diuji.
Note These analytical results are only valid for the tested sample.
2. Laporan Hasil Uji ini terdiri dari 1 (satu) halaman.
This Report of Analysis consists of 1 (one) page.
3. Laporan Hasil Uji ini tidak boleh digandakan, kecuali secara lengkap dan seizin tertulis
Laboratorium Penguji Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBL Batam
This Report of Analysis shall not be reproduced (copied) except for the completed one and with
the written permission of the Testing Laboratory Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBL Batam

ARSIP LABORATORIUM KESLING BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM