Anda di halaman 1dari 21

JUMAT, 09 JULI 2010

Pengamatan Variasi Individu

I.PENDAHULUAN
TUJUAN : Mencoba menetapkan genotip dirinya sendiri berdasarkan sidik jari . Menentukan tipe pewarisan apa tentang sidik jari mahasiswa berdasarkan data yang terkumpul. LANDASAN TEORI Sidik jari dibentuk sejak lahir. Pola whorl mempunyai genotip LL, pola Arch adalah ll , sedangkan pola heterozigot adalah looped Ll. Dermatoglifik adalah rigi epidermis (epidermal ridge) pada kulit permukaan telapak tangan, jari tangan, telapak kaki, dan jari kaki pada primata dan mamalia. Dermatoglifik juga merupakan istilah yang dipakai untuk menyatakan ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk rigi epidermis itu sendiri. Dermatoglifik sudah sejak lama digunakan di kepolisian dan kedokteran kehakiman sebagai alat identifikasi. Masyarakat pada umumnya lebih banyak mengenal dermatoglifik sebagai alat identifikasi. Padahal dermatoglifik bukan hanya alat identifikasi semata. Dermatoglifik sangat kuat ditentukan secara genetik. Para ilmuwan mencoba mengembangkan dermatoglifik sebagai alat dalam mendiagnosis penyakit genetik Dermatoglifik sebagai alat identifikasi sudah sejak lama digunakan di kepolisian dan kedokteran kehakiman. Sidik jari sebagai alat identifikasi lebih umum dikenal masyarakat daripada dermatoglifik. Sidik jari adalah bagian dari dermatoglifik itu sendiri. Selain sebagai alat identifikasi dermatoglifik juga digunakan dalam melihat hubungan kekerabatan antara kelompok masyarakat tertentu. Akhir-akhir ini dermatoglifik banyak dikembangkan sebagai alat bantu diagnosis penyakit genetik. Hal ini terkait dengan beberapa bukti bahwa pada orang-orang yang mengalami kelainan genetik ternyata memiliki dermatoglifik yang khas dan berbeda dengan orang normal. Publikasi dermatoglifik pertamakali oleh Nehemiah Grew pada tahun 1648. Masyarakat Cina diduga yang pertamakali menggunakan dermatoglifik sebagai bagian dari acara ritual). Dermatoglifik sebagai alat identifikasi diperkenalkan pertama kali di India pada tahun 1870-an oleh Sir William Herschel. Pada tahun 1880 Herschel dan Henry Faulds

memperkenalkan dermatoglifik kepada masyarakat Inggris sebagai metoda yang sangat potensial untuk mengidentifikasi kejahatan. Francis Galton kemudian berupaya keras menggunakan dermatoglifik yang didasari kaidah ilmiah. Istilah dermatoglifik diperkenalkan pertama kali oleh Cummin dan Midloo pada tahun 1926. Pada awalnya dermatoglifik hanya diketahui keberadaannya pada manusia. Namun kemudian dermatoglifik ditemukan pula pada semua jenis primata. Pada primata yang menggunakan ekornya sebagai alat penggantung, dermatoglifik juga ditemukan pada ekornya (Supriyo, 1989). Dermatoglifik juga ditemukan pada telapak kaki tikus. Secara anatomis dermatoglifik akan membuat permukaan kasar pada telapak tangan jari tangan, telapak kaki, dan jari kaki yang berfungsi dalam membantu proses memegang atau berpijak sehingga tidak tergelincir. Dermatoglifik terbentuk pada tonjolan-tonjolan (volar pad) kulit telapak tangan, telapak kaki, jari tangan, dan jari kaki. Pembentukan dermatoglifik dimulai dengan proliferasi sel epitel basal epidermis volar pad sekitar minggu ke-10 sampai minggu ke-11 kehamilan. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini kemudian membentuk lipatan-lipatan. Lipatan-lipatan ini kemudian menjadi rigi epidermis (epidermal ridge). Periode kritis pembentukan rigi epidermis ini terjadi pada kehamilan berumur tiga bulan. Pada bulan ke-enam kehamilan pembentukan dermatoglifik berakhir sepenuhnya. Proses pembentukan dermatoglifik pada kaki terjadi dua sampai tiga minggu setelah proses pembentukan dermatoglifik pada tangan dimulai. Pada beruk (Macaca nemestrina) masa pembentukan dermatoglifik berkisar antara hari ke-55 sampai hari ke-70 kebuntingan Dermatoglifik diturunkan secara poligenik. Sekali suatu pola dermatoglifik telah terbentuk, maka pola itu akan tetap selamanya, tidak dipengaruhi oleh umur, pertumbuhan dan perubahan lingkungan). Menurut Slatis et al. (1976), pola dasar dermatoglifik manusia semuanya berpola loop ulnar. Namun ada tujuh gen lain yang turut berperan, sehingga terjadi variasi pola dermatoglifik. Walaupun dermatoglifik sangat kuat ditentukan secara genetik tapi selama periode kritis, dermatoglifik dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan prenatal

Menurut Schaumann dan Alter, 1976, pola dermatoglifik berdasarkan klasifikasi Galton dibedakan atas tiga pola dasar yaitu arch (busur), whorl (pusaran), dan loop (lengkung). Disamping ketiga pola dasar tersebut juga dikenal pola dasar open field yang berupa garis lurus sejajar. Arch adalah pola dermatoglifik yang dibentuk oleh rigi epidermis yang berupa garis-garis sejajar melengkung seperti busur. Ada dua macam pola arch yaitu plain arch dan tented arch. Sekitar 10% sidik jari manusia berpola arch. Pola arch pada dermatoglifik monyet (Macaques) kurang umum dikenal. Justru sebaliknya pola open field lebih dikenal pada dermatoglifik monyet (Iwamoto dan Suryobroto, 1990).Open field adalah pola dermatoglifik berupa garis-garis sejajar lurus atau sedikit melengkung. Open field sering dianggap sebagai rigi epidermis yang tidak mempunyai pola, karena itu diabaikan pada manusia. Loop adalah pola dermatoglifik berupa alur garis-garis sejajar yang berbalik 1800. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar suatu pola dermatoglifik dapat disebut sebagai loop, yaitu ada pusat (core), memiliki delta dan paling sedikit ada satu garis rigi epidermis yang berbalik 1800 melintasi delta dan pusat Pada dasarnya ada dua macam loop baik pada tangan maupun pada kaki sesuai dengan alur membuka garis-garis penyusunnya. Pada tangan dikenal loop radial dan loop ulnar sedang pada kaki dikenal loop tibial dan loop fibular.

Whorl adalah pola dermatoglifik yang dibentuk oleh garis-garis rigi epidermis yang memutar berbentuk pusaran. Ada empat macam pola whorl yaitu plain whorl, central pocket loop, double loop, dan accidental whorl Komponen pola dermatoglifik ada tiga yaitu garis tipe (type line), delta dengan tri radii-nya, dan pusat (core). Garis tipe adalah dua buah garis yang paling dalam di daerah pola, yang berjalan sejajar, divergen, mengelilingi atau cenderung mengelilingi daerah pola. Daerah pola adalah cetakan dermatoglifik yang mengandung pola dermatoglifik yang difinitif. Delta merupakan daerah yang berbentuk segitiga dengan pusat yang disebut tri radii. Titik tengah

dari tri radii disebut triradiant point. Triradial point merupakan titik dari mana garis-garis rigi epidermis dihitung. Sedangkan pusat (core) adalah pusat dari pola dermatoglifik. Walaupun secara umum garis-garis rigi epidermis yang membentuk pola dermatoglifik kelihatan sama tetapi bila diamati secara seksama akan memperlihatkan detail yang berbeda-beda. Detail struktur rigi epidermis oleh Galton disebut minutiae. Detail rigi ini sangat bervariasi dalam jumlah, tipe, bentuk, dan posisi serta sangat khas untuk tiap individu. Detail rigi sangat bernilai dalam penerapan dermatoglifik sebagai alat identifikasi. Namun pada penerapan dermatoglifik sebagai alat diagnosis di bidang kedokteran (genetika) detail rigi ini kurang punya nilai dan diabaikan . Variasi pola dermatoglifik suatu spesies berbeda dengan spesies yang lain dan menunjukkan kekhasan pada spesies tersebut. Pada manusia bahkan ditemukan adanya perbedaan variasi pola dermatoglifik antar etnis atau trah. Variasi pola dermatoglifik merupakan hasil gabungan antara pengaruh genetik dan lingkungan prenatal. Gangguan proliferasi sel epitel epidermis, tekanan pada kulit, gangguan pertumbuhan pembuluh darah perifer dan saraf perifer, kekurangan pasokan oksigen, dan gangguan proses keratinisasi saat pertumbuhan embrio dapat mempengaruhi variasi dermatoglifik. Gangguan-gangguan tersebut akan sangat nyata pengaruhnya bila terjadi pada kehamilan sebelum berumur 19 minggu .Kelainan-kelainan yang dapat mempengaruhi dermatoglifik antara lain trisomi 13, trisomi 18, trisomi 21 (Dawn syndrome), monosomi kromosom X (Turner syndrome), Klinefelter, polisomi kromosom X , polisomi kromosom Y, cri-du-chart syndrome. Infeksi cytomegalovirus, penyakit rubella prenatal (Purvis dan Menser, 1973; Soekarto, 1978) dikatakan dapat mempengaruhi dermatoglifik. menyatakan alkohol yang dikonsumsi seorang ibu yang sedang mengandung dapat mempengaruhi dermatoglifik anaknya. Cekaman prenatal ternyata dapat meningkatkan asimetri dermatoglifik pada monyet (Macaca nemestrina). Rafiah (1990) mendapatkan adanya perbedaan jumlah sulur dermatoglifik yang lebah banyak pada kelompok sarjana dengan yang bukan sarjana. Penelitian yang dilakukan oleh Daniela et al.,(1991) memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik dermatoglifik yang menciri pada

remaja yang menderita hipertensi dibandingkan dengan normal. Berdasarkan keterkaitan ini, Daniela et al.,(1991) mengatakan dermatoglifik nantinya dapat dipakai sebagai penanda resiko kecenderungan terjadinya hipertensi dengan cara yang lebih murah, mudah (non invasiv) dan lebih cepat dibandingkan metode lain yang telah berkembang saat ini. Pemberian testosteron prenatal mempengaruhi dermatoglifik monyet maupun manusia. Makol et al.,(1994) menemukan frekeuensi pola dermatoglifik yang berbeda nyata antara pria infertil dengan pria normal. Tingkat asimetri dermatoglifik anak-anak yang mengalami keterbelakangan perkembangan mental secara statistika berbeda nyata dengan dermatoglifik anak-anak normal (Naugler dan Ludman, 1996).Berdasarkan hal tersebut Naugler dan Ludman (1996) mengatakan fluktuasi asimetri dermatoglifik mempunyai potensi sebagai penanda terjadinya resiko gangguan perkembangan mental. Orang yang menderita cystic fibrosis juga dikatakan mempunyai karakter dermatoglifik yang khas dan berbeda dengan orang normal Garis tangan (crease) yang merupakan unsur dermatoglifik juga dapat dipakai sebagai penanda bagaimana seseorang mengolah informasi yang terkait dengan karakter emosionalnya Dermatoglifik dengan detailnya (minutiae) bersifat khas dan berbeda pada tiap individu banyak digunakan sebagai alat identifikasi. Variasi pola dermatoglifik suatu spesies berbeda dengan spesies yang lain dan menunjukkan kekhasan pada spesies tersebut.Maka dari itu dalam bidang antropologi, dermatoglifik banyak digunakan untuk melihat hubungan kekerabatan antar kelompok masyarakat yang terisolasi baik secara geografis maupun budaya. Orang-orang yang menderita kelainan genetik mempunyai karakter dermatoglifik yang khas dan berbeda dengan orang lain. Kekhasan karakter dermatoglifik pada kelainan tertentu dalam bidang kedokteran dapat dipakai sebagai penanda dalam membantu mendiagnosis.(Veteriner.2002) ALAT DAN BAHAN 1. Jari telunjuk dan jari tengah milik mahasiswa sendiri 2. Tinta stempel atau tinta warna biru atau sejenisnya

3. Kertas dan pensil CARA KERJA 1. Di buat sidik jari diri sendiri dan teman-teman satu kelompok, dibandingkan pola yang ditemukan degan pola sidik jari yang terlampir 2. Dicatat pola sidik jari teman-teman dan dimasukkan kedalam tabel data 3. Ditentukan tipe pewarisan sidik jari tersebut, berdasarkan data kelompok. DAFTAR PUSTAKA Soekarto, A. 1978. Teknik dermatoglifik yang diterapkan dalam kedokteran. B Ilmu Kedokteran 10: 129 137 Soepriyo, A. 1989. Dermatoglifik ensiklopedi nasional Indonesia 4. Cipta Adi Pustaka, Jakarta. Hhtp//www.Jurnal Veteriner@2002.Dermatoglifig .co.id Hhtp///Rafiah1990@pdf.Tipe pola dan jumlah sulur ujung jari tangan,Jurnal UIJakarta

http://bhimashraf.blogspot.com/2010/07/pengamatan-variasi-individu.html

JUMAT, 16 OKTOBER 2009

variasi individu The Best Business Makalah Gratis Unbari Unja LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA PENGAMATAN VARIASI INDIVIDU

Oleh Samsul Maarif A1C406026 Kelompok 4 Hendra Budiono A1C406044 Hari Kapli A1C406022 Ratih Ratna Wati A1C406004 Mukson Dadik A A1C406016 Sriduana A1C406019 DOSEN PENGAMPU Drs Jodion Siburian, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI 2009 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Landasan Teori Tiap manusia yang diciptakan oleh Tuhan mempunyai cirri khusus yang berbeda dengan manusia lainnya. Salah satunya adalah sidik jari. Sidik jari manusia merupakan bukti materi yang sangat penting. Tak ada sidik jari yang identik di dunia ini sekalipun diantara dua saudara kembar. Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada lima juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru akan terjadi lagi 300 tahun kemudian. Sidik jari biasanya tertinggal di tempat kejadian perkara sebuah peristiwa kriminal . Hanya dengan memasukkan sidik jari seseorang melalui teknologi komputer, pihak berwenang puu langsung mendapatkan data seputar nama, tanggal lahir dan sejarah kriminalaya. Meski lebih populer untuk melacak pelaku kejahatan, alat pendeteksi, sidik jari ini ternyata juga digunakan untuk mengetahui latar belakang seorang calon pekerja. Sejak tahun 1970-an, beberapa

perusahaan--sedikitnya di 10 negara dunia sudah menggunakan teknologi ini. Kini, seiring bertahannya cara pengambilan manual yaitu, pengambilan sidik jari dengan tinta diatas kertas, perkembangan sistem identifikasi sidik jari kian terasa. Banyak perusahaan yang telah menyadari kegunaannya. Efesiensi menjadi dasar penggunaan sistem identifikasi sidik jari di perusahaanperusahaan. Alat ini mendorong perusahaan untuk menghemat waktu, tenaga sekaligus menjamin keamanan. Sistem identifikasi sidik jari ini yang masuk melalui dunia sains kini telah bergeser keberadaannya. Tak hanya kepentingan dunia pengetahuan atau aparat keamanan saja yang terpenuhi dengan penggunaan alat ini, setiap perusahaan komersial pun merasakan manfaatnya. Ini salah satu bukti pula bahwa pemakaian alat pendeteksi sidik jari manusia menjadi lebih berkembang. Dengan kata lain, kegunaan mesin otomatis pendeteksi sidik jari semakin luas penggunaannya. Tidak hanya utuk mengetahui latar belakang tersangka criminal, seperti kegunaannya pada awalya, tetapi juga untuk kemudahan lainnya dalam sebuah perusahaan dan institusi. Zaman semakin maju, perkembagan teknologi pun menjadi lebih luar biasa. Semua pekerjaan menuntut eftensi baik dalam hal waktu, hingga tingkat keamanan yang tinggi. Pendeteksi sidik jari pun sudah bergeser care kerjanya. Mencatat sidik jari dengan menggunakan tinta dan kertas sudah ketinggalan zaman Kini telah muncul alat-alat pendeteksi elektronik yang otomatis. Sekali tekan, seluruh data keluar. Sistem yang digunakan di AS oleh agen-agen FBI tahun 70-an, kini telah berubah. Tidak lagi dipakai oleh pare aparat saja tetapi berangsur-angsur menjadi barang komersial yang laku di pasar. Rasanya, asal kelengkapan dan keakurasian data bisa diperoleh maka alat ini pun akan menjadi sangat berguna. Sidik jari adalah garis-garis yang terdapat di kulit ujung jari. Fungsinya adalah untuk memberi gays gesek lebih besar agar iari dapat memegang benda-benda lebih lanjut Sidik jari manusia digunakan untuk keperluan identifikasi Sidik jari kaki bayi juga diambil di rumah sakit untuk identifikasi bayi 1.2. Tujuan Mencoba menetapkan genotip dirinya sendiri berdasarkan sidik jari, menentukan tipe pewarisan apa tentang sidik jari mahasiswa berdasarkan data yang terkumpul.

BAB II PELAKSANAAN PRAKTIKUM 2.1. WAKTU DAN TEMPAT Praktikum pengamatan variasi individu ini dilakukan di salah satu rumah kelompok kami yang dilaksanakan pada tanggal 1 februari 2009

2.2. ALAT DAN BAHAN 1. Jari telunjuk dan jari tengah milik mahasiswa sendiri 2. Tinta stempel atau tinta warna biru atau sejenisnya 3. Kertas dan pensil 2.3. CARA KERJA 1. Dibuat sidik jari diri sendiri dan teman-teman satu kelompok,lalu dibandingkan pola yang ditemukan degan pola sidik jari yang terlampir 2. Dicatat pola sidik jari teman-teman dan dimasukkan kedalam tabel data 3. Ditentukan tipe pewarisan sidik jari tersebut, berdasarkan data kelompok.

3.2. PEMBAHASAN Dari hasil yang didapatkan tampak pada jari sampel Mukson Dadik A mempunyai sidik jari yang bertipe Arch sedangkan pada sampel Samsul Maarif mempunyai tipe sidik jari Whorl, begitu juga pada sampel sri duana, hari kapli dan ratih ratnawati. Dalam pengamatan ini kami tidak menemukan tipe sidik jari loop, hal ini mungkin sampel yang kami gunakan kurang banyak. Walaupun tipenya sama akan tetapi guratan dari sidik jari itu sendiri berbeda, inilah yang dimanfaatkan pihak kepolisian untuk menangkap para tersangka kriminal. Dari pengamatan yang kami lakukan pada praktikum ini di dapat hasil seperti pada lembaran hasil diatas, dimana hasil tersebut menunjukan bahwa setiap individu memiliki sidik jari yang berbedabeda. Hal ini sangat penting dan merupakan bukti materi. Tidak ada sidik jari yang identik di dunia ini sekalipun diantara dua saudara kembar. Dalam dunia sains pernah ditemukan, jika sda 5 juta orang di bumi, kemungkinan muncuknya dua sidik jari manusia yang sama baru akan terjadi lagi 300 tahun kemudian. Sidik jari biasanya tertinggal di tempat kejadian perkara sebuah peristiwa kriminal. Hanya dengan memasukkan sidik jari seseorang melalui teknologi komputer, pihak berwenang pun langsung mendapatkan data seputer nama, tanggal lahir dan sejarah kriminalnya. Meski lebih populer untuk melecak kejahatan, alat pendeteksi sidik jari ini ternyata juga digunakan untuk mengetahui latar belakang seseorang calon pekerja. Sejak tahun 1970-an, beberapa perusahan sedikitnya di 10 negara besar dunia, sudah mengguankan teknologi ini. kini, seiring bertahanya cara manual yaitu pengambilan sidik jari dengan tinta di atas klartu atau kertas, perkembangan sistem sidik jari kain terasa. banyak perusahan yang kian menyadari kegunaanya. efisiensi menjadi dasar penggunaan sistem identifikasi sidik jari di perusahaan- perusahaan. alat ini mendorong perusahaan untuk menghemat waktu, tenaga sekaligus menjamin keamanan. alat ini pun laris manis sebagai barang komersial. melihat amino yang besar terhadap penggunaan alat ini, banyak perusahaan yang berlomba- lomba menciptakan alat ini. berbagai fitur canggih pun disertakan di dalamnya. Adapun kegunaan sitem sidik jari ini, mengetahui bahwa manusia di dunia ini diciptakan tidak ada yang sama walaupu terlahir kembar, mepermudah melacak prilaku kriminail di masyarakat, mempermudah sistem pengamanan di perusahaan- perusahaan dan instansi terkait. penyilangan genetis untuk masing- masing individu. Sidik jari yang kami amati dari hasil praktikum yang kami lakukan berupa gurat- gurat yang terdapat di kulit ujung jari. fungsinya adalah untuk mberi gaya gesek lebih besar agar jari dapat memegang benda- benda lebih erat. sidik jari manusia digunakan untuk keperluan identifikasi karena tidak ada dua manusia yang memiliki sidik jari persis sama.

BAB IV KESIMPULAN Setelah melakukan praktikum maka dapat disimpulkan bahwa praktikan dapat : Menetapkan genotip dirinya sendiri berdasarkan sidik jari Mengetahui bahwa tidak ada sidik jari yang identik di dunia ini sekalipun diantara dua saudara kembar Mengetahui bahwa jika ada 5 juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia

yang sama baru akan terjadi lagi 300 tahun kemudian Melihat kesimpulan di atas dan membandingkanya dengan literatur yang ada maka dapat di katakan bahwa praktikum yang kami lakukan telah berhasil. DAFTAR PUSTAKA

Soepriyo, A. 1989. Dermatoglifik ensiklopedi nasional Indonesia 4. Cipta Adi Pustaka, Jakarta. Soekarto, A. 1978. Teknik dermatoglifik yang diterapkan dalam kedokteran. B Ilmu Kedokteran 10: 129 137 Hhtp//www.Jurnal Veteriner@2002.Dermatoglifig .co.id Hhtp///Rafiah1990@pdf.Tipe pola dan jumlah sulur ujung jari tangan, Jurnal UIJakarta

imabio-unja.blogspot.com/2009/10/variasi-individu.html

I. PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Keanekaragaman banyak ditemukan dalam kehidupan , baik hewan maupun tumbuhan bahkan manusia. Secara morfologik, keanekaragaman mudah sekali diamati karena sifat morfologik terdiri dari sekumpulan ciri karateristik masing-masing organisme. Sifat dan keragaman adalah khas untuk suatu interaksi populasi habitat. Individu-individu tiap spesies organisme sangat bervariasi dalam ukuran, proporsi tubuh, pola warna, struktur morfologi dan anatomi, serta fisiologi dan kebiasaan hidup. Dalam suatu populasi ikan (dalam satu speises yang sama), antara individu yang satu dengan yang lainnya akan dijumpai adanya perbedaan-perbedaan ukuran tubuh seperti lebar, panjang, berat, tinggi tubuh, dan cacah squama (sisik). Selain itu juga terdapat perbedaan bentuk dan warna walaupun individu tersebut masih dalam satu spesies yang sama. Kenyataan seperti ini disebut dengan variasi antar individu. Variasi individu terlihat jelas pada fenotip ikan yang dipengaruhi oleh faktor genetik yang diturunkan dari induk kepada anaknya dan faktor lingkungan sekitar. Adanya variasi dan perbedaan-perbedaan diantara mahluk hidup, maka disusunlah suatu sistem pengklasifikasian yang dinamakan taksonomi. Sistem klasifikasi ini sangat berguna untuk mempelajari variasi antar individu organisme dan juga membantu dalam mengidentifikasi, tatanama dan klasifikasi suatu organisme. 2. 1. 2. Tujuan

Mempelajari adanya variasi yang terdapat diantara individu-individu ikan yang sejenis (satu spesies) Membandingkan sifat-sifat yang bervariasi tersebut pada beberapa jenis (spesies) ikan yang berlainan. 3. Mempelajari korelasi anatara beberapa sifat-sifat yang bervariasi tersebut. C. Waktu dan Tempat Praktikum Ekologi Perairan acara Variasi Antar Individu dilaksanakan pada: Hari/tanggal : Rabu, 30 Maret 2005 Waktu : pukul 13.30 WIB selesai Tempat : Kolam Percobaan dan Penelitian Jurusan Perikanan UGM

II. TINJAUAN PUSTAKA


Menurut Ewusie (1990), keanekaragaman bisa diartikan sebagai keadaan yang berbeda atau yang mempunyai berbagai perbedaan dalam bentuk sifat. Keanekaragaman spesies di daerah tropis dapat dilihat pada dua lingkaran, yaitu jumlah besar spesies dengan bentuk kehidupan serupa dan kehadiran banyak spesies dengan wujud kehidupan sangat berbeda yang tidak ditemukan di bagian dunia yang lain. Keanekaragaman spesies dapat diambil untuk menandai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagian jumlah spesies di antara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keragaman. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologis karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil. (Michael 1994). Beberapa pengukuran yang sering dilakukan untuk keperluan taksonomi yaitu panjang total atau panjang mutlak, fork length, panjang baku, tinggi tubuh, dan perhitungan cacah squama. (Probosunu 1999). Menurut Bordach,Langler dan Miller Passino (1977), pengukuran pada ikan yaitu: 1. 2. Panjang total atau panjang mutlak: jarak garis lurus antara ujung bagian caput (kepala) sampai ujung terakhir sirip ekor yang belakang apabila sirip ekor (pinna caudalis) mudah disatukan. Fork length: jarak garis lurus antara ujung terdepan caput (kepala) hingga ujung terluar lekukan pinna caudalis. Pengukuran ini sering dilakukan pada jenis-jenis ikan tertentu yang kedua belahan pinna caudalisnya sukar disatukan karena keras.

3. 4.

Panjang baku: jarak garis lurus antara ujung terdepan caput hingga ujung terakhir tulang verterbre. Tinggi tubuh: jarak garis lurus antara pangkal pinna dorsalis (sirip punggung) hingga pangkal pinnae abdominals (sirip perut). Untuk menghitung sisik (squama) pada gurat sisi (linea lateralis) dimulai dari squama di belakang operculum (tutup insang) hingga squama pada permulaan pangkal cauda (Saahin 1968).

1.

Ikan Tawes Menurut Cahyono (2000), ikan tawes memiliki bentuk tubuh seperti ikan mas, sedikit lebih montok dibandingkan karper. Corak warna bervariasi dari hitam hingga merah. Panjang relatif lebih pendek dibandingkan karper. Klasifikasi ikan tawes Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Classis : Pisces Sub classis : Actinopterygii Ordo : Ostatiophysi Sub ordo : Cyprinoidea Familia : Cyprinidae Sub familia : Cyprininae Genus : Puntius Spesies : Puntius javanicus

2.

Ikan Nila

Menurut Cahyono (2000), ikan nila bukan ikan asli Indonesia melainkan berasal dari daratan Taiwan. Menurut sejarahnya, ikan nila berasal dari benua Afrika dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1986. Klasifikasi ikan Nila Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub Phylum : Osteichytes Classis : Pisces Sub Classis : Acanthopthorigrii Ordo : Pericomorphi Sub ordo : Pericoidea Familia : Cichlidae Genus : Oreochromis Species : Oreochromis niloticus Pada Percobaan ini terdapat hipotesis berupa; 1. Ho a. Panjang Baku bernilai besar ditemukan Sisik Horisontal tidak lebih banyak. b. Tinggi tubuh bernilai besar ditemukan Sisik Vertikal tidak lebih banyak. c. Pertambahan Panjang Baku tidak diikuti pertumbuhan Tinggi tubuh. 2. Hi a. Panjang Baku bernilai besar diikuti Sisik Horisontal bernilai besar. b. Tinggi tubuh bernilai besar diikuti Sisik Vertikal bernilai besar. c. Panjang Baku diiringi pertumbuhan Tinggi tubuh.

III. METODOLOGI

1. 2. Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 1. Alat Penggaris Kertas milimeter blok Plastik mika pensil Ikan nila (Oreochromis niloticus) Ikan tawes ( Puntius javanicus) 2.

Alat dan Bahan

Cara Kerja

Menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan. Meletakkan cuplikan ikan di atas kertas. Melakukan pengukuran beberapa tolak ukur pada seluruh anggota populasi cuplikan ikan seperti: panjang total, panjang baku, tinggi tubuh dan cacah squama. Mencatat dalam tabel semua hasil pengamatan. Masukkan data yang diperoleh dengan membuat klas interval (interval class), selanjutnya membuat grafik distribusi frekuensinya. Klas interval dicari dengan cara membagi selisih nilai terbesar dan nilai terkecil dengan cacah klas yang akan dibuat. Data yang didapat kemudian dianalisis guna mencari bentuk dan keeratan hubungan antara panjang baku dengan tinggi tubuh. Bentuk dan keeratan hubungan kedua macam ukuran tubuh tersebut dicari dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi. Data spesies yang didapat dibandingkan satu dengan lainnya dengan melihat nilai rerata dan simpangan bakunya.

6.

7.

<![if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]>

1.

a.

b.

B. Pembahasan Pengamatan Variasi Diantara Individu dilakukan dengan mengambil sampel dari spesies Nila (Oreochromis niloticus) dan ikan tawes (Puntius javanicus). Jumlah populasi untuk masing-masing ikan adalah 30 ekor. Spesies ini diamati dengan pengukuran panjang total, panjang baku, tinggi tubuh dan cacah squama. Perlakuan ini dilakukan pada seluruh populasi. Pembahasan perspesies Pada percobaan ini dicari nilai mean, median dan modus, varian dan standar deviasi. Mean ialah nilai rata-rata dari data yang telah diukur. Modus ialah banyaknya ukuran dari data yang sering muncul. Median ialah kumpulan data yang telah diurutkan dari yang terkecil hingga yang terbesar dan kemudian dicari nilai tengahnya. Varian (ragam contoh) ialah banayknya ragam dalam suatu data. Standar deviasi ialah ukuran yang didapat untuk menentukan ukuran keragaman yang mempunyai satuan yang sama dengan satuan asalnya. Ikan tawes (Puntius javanicus) Pada spesies ini mean, modus, median, varian, standar deviasi tercatat adalah : 3,0692; 2,804; 2,87; 0,4009; 0,633. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pada spesies ini rentang terbesar ada pada ukuran sekitar 2,804 cm. Kelas interval dengan anggota terbesar adalah pada interval 2,336-3,252. Spesies ini memiliki rentang variasi sebesar 0,4009. Ukuran yang membagi data menjadi dua bagian yaitu bagian atas dan bawah ditunjukkan pada nilai median yaitu 2,87. Frekuensi Relatif adalah nilai frekuensi kelas interval yang telah dibagi oleh jumlah populasi dan digunakan untuk mengetahui perbandingan setiap kelas interval. Frekuensi relatif(FR) tertinggi ialah 80% terletak pada interval 2,336-3,252. Hal ini terjadi karena pada interval tersebut frekuensinya paling banyak sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi frekuensi relatif . Frekuensi relatif berbanding linear dengan frekuensinya, sehingga semakin besar frekuensinya semakin besar juga frekuensi relatifnya. Frekuensi relatif juga berpengaruh pada variasi dari suatu data sehingga semakin besar FR semakin banyak variasinya. Korelasi antara Panjang Baku (PB) dan Sisik Horisontal (SH) dengan r = 0,31 memiliki korelasi positif (r>0) yang berarti semakin panjang tubuh ikan maka sisik horisontalnya cenderung bertambah sisiknya. Nilai t hitung adalah 0,173 sedangkan t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel yang terjadi adalah t hitung < t tabel sehingga seiring pertambahan panjang baku tidak diikuti pertambahan jumlah squama horisontal (tidak beda nyata) sehingga hipotesis dari Ho diterima dengan kata lain yang terjadi hanyalah sebuah variasi. Korelasi antara tinggi tubuh (T) dengan sisik vertikal (SV) di dapat nilai r = 0,225. Korelasi yang terjadi adalah korelasi negatif dimana r < 0. Nilai uji t hitung diperoleh sebesar -1,22 sedangkan tabel kepercayaan ialah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel menunjukkan t hitung < t tabel (Ho diterima) sehingga dengan pertambahan tinggi pada ikan, sisik (squama) tidak ikut bertambah. Korelasi antara Panjang Baku dan Tinggi mendapatkan nilai r= 0,898. Nilai t hitung adalah 10,7932 sedang t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. T hitung ternyata lebih besar daripada t tabel (t hitung > t tabel) dan hipotesis Hi diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa seiring pertambahan Panjang Baku maka Tinggi tubuh juga bertambah. Ikan Nila (Oreochormis niloticus) Pada spesies ini mean, modus, median, varian, standar deviasi tercatat adalah : 2,579; 2,572 dan 2,573; 2,572; 0,044; 0,21. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pada spesies ini rentang terbesar ada pada ukuran sekitar 2,572 dan 2,573 cm. Kelas interval dengan anggota terbesar adalah pada interval 2,356-2,572 dan 2,572-2,788. Spesies ini memiliki rentang variasi sebesar 0,044. Hal ini menunjukkan bahwa variabilitas preparat tidak terlalu besar. Ukuran yang membagi data menjadi dua bagian yaitu bagian atas dan bawah ditunjukkan pada nilai median yaitu 2,572.

2.

Frekuensi relatif (FR) tertinggi ialah 36,67% terletak pada interval 2,356-2,572 dan 2,5722,788. Hal ini terjadi karena pada interval tersebut frekuensinya paling banyak yang pada akhirnya akan mempengaruhi dari frekuensi relatif . Korelasi antara Panjang Baku (PB) dan Sisik Horisontal (SH) dengan r = 0,261 memiliki korelasi positif (r>0) yang berarti semakin panjang tubuh ikan maka sisik horisontalnya cenderung bertambah sisiknya. Nilai t hitung adalah 1,4305 sedangkan t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel yang terjadi adalah t hitung < t tabel (hipotesis Ho diterima) yaitu seiring pertambahan panjang baku tidak diikuti pertambahan jumlah squama horisontal. Kesimpulan yang didapat ialah adanya variasi pada ikan nila. Korelasi antara tinggi tubuh (T) dengan sisik vertikal (SV) di dapat nilai r = 0,0629. Korelasi yang terjadi adalah korelasi positif dimana r > 0. Nilai uji t hitung diperoleh sebesar 0,333 sedangkan tabel kepercayaan ialah 2,048. Perbandingan t hitung dan t tabel menunjukkan t hitung < t tabel (hipotesis Ho diterima) sehingga dengan pertambahan tinggi pada ikan, sisik (squama) tidak ikut bertambah dan yang terjadi hanyalah sebuah variasi. Korelasi antara Panjang Baku dan Tinggi mendapatkan nilai r= 0,807. Nilai t hitung adalah 7,256 sedang t tabel dengan nilai kepercayaan 95% adalah 2,048. T hitung ternyata lebih besar daripada t tabel ( t hitung >t tabel) sehingga dapat disimpulkan bahwa seiring pertambahan panjang baku maka tinggi tubuh ikan nila juga bertambah (hipotesis Hi diterima). Pembahasan antar spesies Spesies tawes memiliki nilai FR (frekuensi Relatif) terbesar ialah 80% terletak pada interval 2,336-3,252 dan pada spesies nila FRnya ialah 36,67% terletak pada interval 2,356-2,572 dan 2,5722,788. Nilai frekuensi relative terbesar senilai dengan modus pada data, dimana data dengan anggota terbesar pasti memiliki frekuensi relatif terbesar. Sehingga dengan membandingkan nilai frekuensi relatif kita dapat mengetahui ukuran ikan dengan anggota terbanyak. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tawes memiliki frekuensi yang besar sehingga ikan tawes lebih bervariasi. Spesies tawes memiliki nilai mean sebesar 3,0692 dan spesies nila sebesar 2,579. Mean adalah nilai yang menjadi nilai tengah bagi data. Mean secara teoritis ada pada kelas interval pertengahan atau pada kelas dengan anggota terbesar. Nilai mean pada spesies tawes lebih besar daripada spesies nila (mean tawes>mean nila) yang berarti spesies tawes memiliki ukuran tubuh ratarata lebih memanjang daripada spesies nila.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan 1. Hasil pengamatan : a. Ikan nila 1) Panjang Baku vs Sisik Horisontal r = 0,261 dan nilai t hitung adalah 1,4305 2) Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal r = 0,0629 dan t hitung diperoleh sebesar 0,333 3) Panjang Baku vs Tinggi r = 0,807 dan t hitung adalah 7,256 b. Ikan tawes 1) Panjang Baku vs Sisik Horisontal r = 0,31 dan nilai t hitung adalah 0,173 2) Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal r = -0,225 dan nilai t hitung adalah -1,22 3) Panjang Baku vs Tinggi r = 0,898 dan nilai t hitung adalah 2,048 2. Tingkat kepercayaaan t tabel 95% diperoleh hasil t = 2,048 dengan populasi masing-masing 30ekor a. Ikan nila 1) Panjang Baku vs Sisik Horisontal menunjukkan tidak adanya korelasi yang nyata atau hanya sebagai variasi. 2) Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal korelasi yang terjadi adalah tidak beda nyata. 3) Panjang Baku vs Tinggi korelasi yang terjadi adalah terdapat beda yang nyata. b. Ikan tawes

1) 2) 3) 3. 4.

Panjang Baku vs Sisik Horisontal menunjukkan tidak adanya korelasi yang nyata atau hanya sebagai variasi. Tinggi Tubuh vs Sisik Vertikal korelasi yang terjadi adalah tidak beda nyata. Panjang Baku vs Tinggi korelasi yang terjadi adalah terdapat beda yang nyata. Ikan tawes lebih bervariasi daripada ikan nila karena frekuensi relatif tawes lebih besar dari frekuensi relatif ikan nila. Ikan tawes memiliki tubuh yang lebih dari ikan nila karena mean tawes > mean nila. B. Saran Percobaan ini hanya dilakukan sekali saja sehingga pengukuran yang terjadi tidak terlalu tepat untuk itulah perlu dilakukan beberapa kali percobaan untuk menentukan ketepatan pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan . Laboratorium Ekologi Perairan, Laboratorium Ekologi Perairan, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta. Bordach, Lagler, dan Miller Passino.1977. Ichtyology. John Willey & Sons inc, USA. Cahyono.2000. Ikan-ikan air tawar. Penebar Swadaya, Bogor. Ewusie, J. Y., 1990. Elements of Tropical Ecology. Institut Teknologi Bandung : Bandung. Michael, 1994. Metode Penelitian Ekologi Untuk Lapangan dan Laboratorium . Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Probosunu, 1999. Ekologi Perairan. Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

http://akutresno.wordpress.com/2012/02/25/variasi/

PRAKTIKUM VI PEWARISAN SIFAT YANG DIKENDALIKAN OLEH GEN MAJEMUK(POLIGEN) A. Tujuan Merinci prosedur untuk mengidentifikasi pola dan jumlah sulur jari tangan dan penentuan sidik jari tangan. B. Dasar Teori Diketahui bahwa sifat dikendalikan oleh sepasang alel pada suatu lokus gen. Namaun pada kenyataannya banyak sifat yang dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau bahkan dalam kromosom yang berlainan, fenomena ini dinamakan poligen atau gen majemuk. Susunan rigi pada epidermis dapat di amati pada telapak tangan, jari tangan, telapak kaki, tetapi yang paling mudah di amati adalah jari tangan. Pembentukan rigi dermal ini terjadi pada fetus usia 3 sampai 4 bulan dalam kandungan. Dan apabila sudah terbentuk sempurna maka polanya tidak akan berubah selama hidup. Sidik jari adalah gambaran yang menunjukkan aur-alur pada ujung jari manusia. Gambaran ini bias di dapat dengan cara menyentuhkan ujung jari pada tinta atau zat warna lainnya, kemudian di tempelkan pada kertas atau media lain yang dapat mencetak gambar. Setiap orang memiliki sidik jari berbeda-beda, bahkan orang kembar identik sekalipun, karena itu sidik jari bias menjadi sarana identifikasi seseorang yang paling aman. Mengapa demikian? Karena sidik jari tidak dapat di palsukan oleh orang lain. Berbeda dari identifikasi berupa tanda tangan yang sangat mudah di palsukan. Sir Richard Edward Henry, berkat dirinya dalam usaha mengelompokkan pola sidik jari tapi bukanlah penemu teknik atau metode sidik jari (Muchlisin, 2009). Sidik jari terdiri atas garis-garis timbul pada kulit yang berbeda di atas pori-pori keringat. Garis-garis itu memanjang, membelok, bercabang, beranting, dan mengambil bentuk tertentu pada setiap orang. Telah terbukti bahwa di dunia ini tidak ada dua sisdik jari yang sama, bahkan antar saudara kembar yang berasal dari satu sel telur sekalipun (Fuad, 2004). Sir Francis Galton telah membuktikan pada tahun 1982 bentuk sidik jari akan tetap hidup bersama pemiliknya dan tidak akan berubah (Fuad, 2004). Sidik jari yaitu pola guratan-guratan menonjol yang khas pada ujung jari manusia bersifat unik bagi setiap individu. Jari tangan dan kaki, serta telapak tangan dan kaki dipenuhi guratan-guratan teratur yang membentuk suatu pola. Istilahnya Dermatoglifik dipakai untuk konfigurasi guratan-guratan tersebut. Jika diperhatikan dengan cermat, akan terlihat adanya guratan-guratan tipis, yang berbeda dengan lipatan kulit. Pada ujun-ujung jari terdapat tiga pola dasar, yaitu garis melengkung (Arch), garis melingkar (Loop), dan garis memutar (Whorl). Garis-garis melingkar di bagi menjadi 2 kelompok yaitu ulnar dan radial dari tangan. Perpotongan guratan-guatan membentuk segitiga yang disebut triradius, dan triradius ini tidak hanya terdapat pada ujung-ujung jari, tetapi juga pada pangkal jari, biasanya pada telapak tangan (Proksimal). Pola guratan-guratan sidik jari tidak hanya bermanfaat untuk identifikasi tetapi bias untuk menemukan abnormalitas dermatoglifik yang khas yang sering sekali berhubungan dengan banyak kelainan kromosom (Brown,2005). Frekuensi pola sulur ini berbeda utuk setiap bangsa, juga berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Pada populasi kulit putih dan kulit hitam bnanyak dijumpai pola loop, sedangkan

whorl banyak dijumpai pada populasi bangsa Mongoloid, populasi penduduk Australia dan populasi bangsa Melanesia dan Pasifik. Pola arch paling sedikit ditemukan untuk semua populasi baangsa, biasanya kurang dari 10 %. Hanya pada populasi Bushman (Bangsa Negroid yang hidup di Afrika Selatan) pola arch dijumpai lebih dari 10 %. Dalam populasi rata-rata pola arch dijumpai 5%, pola loop 65-75% dan whorl 25-30%. Metode ini melibatkan perhitungan jumlah rigi mulai dari triradius sampai pusat rigi. Oleh karena itu pola arch jumlah rigi adalah nol. Jika ada dua triradius, maka rigi dari semua jari tangan dijumlahkan sehingga disebut total finger ridge count. Pada perempuan jumlah rigi rata-rata 127 dan laki-laki 144. Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja diambil, dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah tersentuh dengan kulit telapak tangan/kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari dan kulit bagian dari telapak kaki mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah/alur yang membentuk lukisan tertentu. Kulit tapak terdiri dari dua lapisan: Lapisan dermal adalah kulit jangat/kulit yang sebenarnya. Kulit inilah yang menentukan garis yang ada pada permukaan kulit telapak. Lapisan epidermal adalah lapisan kulit luar/garis papilar. Garis inilah yang menjadi perhatian kita untuk menentukan bentuk pokok perumusan dan perbandingan sidik jari. Jenis sidik jari dibagi menjadi tiga macam, yaitu: 1. Visible impression adalah sidik jari yang dapat langsung dilihat tanpa menggunakan alat bantu. 2. Laten impression adalah sidik jari yang biasanya tidak dapat dilihat langsung tetapi harus menggunakan beberapa cara pengembangan terlebih dahulu supaya dapat nampak lebih jelas. 3. Plastic impression adalah sidik jari yang berbekas pada benda yang lunak seperti sabun, gemuk, permen, coklat. Sedangkan untuk sidik jari yang mengalami kerusakan atau cacat dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Cacat sementara adalah cacat pada bagian kulit luar (epidermal) dan garis yang cacat/rusak tersebut dapat sembuh kembali seperti semula 2. Cacat tetap adalah cacat yang disebabkan ikut rusaknya garis sampai lapisan dermal. Sidik jari yang cacat tetap atau sementara biasanya tidak akan mempengaruhi identifikasi terhadap jari kecuali apabila sidik jari rusak sama sekali. Ada tiga dalil atau aksioma yang melandasi daktiloskopi (ilmu sidik jari), yaitu: 3. Sidik jari setiap orang tidak sama. 4. Sidik jari manusia tidak berubah selama hidup. 5. Sidik jari dapat dirumuskan dan diklasifikasikan secara matematis (http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/). Ada tiga bentuk sidik jari yaitu busur (arch), sangkutan (loop), dan lingkaran (whorl). Bentuk pokok tersebut terbagi lagi menjadi beberapa sub-group, yaitu bentuk busur terbagi menjadi plain arch dan tented arch, bentuk sangkutan terbagi menjadi ulnar loop dan radial loop, sedangkan bentuk lingkaran terbagi menjadi plain whorl, central pocket loop whorl, double loop whorl, dan accidental whorl. Perbedaan utama dari ketiga bentuk pokok tersebut terletak pada keberadaan core dan delta pada lukisan sidik jarinya.

(http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/). Keberadaan titik fokus di dalam sidik jari akan berperan penting dalam menentukan termasuk klasifikasi apa sidik jari tersebut. Dalam pengklasifikasian dikenal dua jenis titik fokus yaitu delta yang merupakan titik fokus luar (outer terminus) dan core yang merupakan titik fokus dalam (inner terminus). Tidak semua sidik jari memiliki titik fokus tergantung jenis/klasifikasi dari sidik jarinya. Delta yang sebenarnya pada sidik jari adalah titik/garis yang terdapat pada pusat perpisahan garis type lines. Delta merupakan titik fokus yang terletak di depan pusat berpisahnya garis pokok (type lines). Garis pokok lukisan merupakan dua buah garis yang paling dalam dari sejumlah garis yang berjajar (paralel) dan memisah serta (cenderung) melingkupi pokok lukisan (pattern area). Pokok lukisan adalah daerah/ruangan putih yang dikelilingi oleh garis type lines yang mana ruangan tersebut merupakan tempat lukisan garis sidik jari. Pada kenyataannya tidak semua sidik jari memiliki delta tetapi ada juga sidik jari yang memiliki lebih dari satu delta (http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidikjari/). C. Alat dan Bahan Alat Bahan Kaca Pembesar Tinta stempel Bak stempel Kertas tulis Daftar Pustaka Brown, Graham. 2005. Dermatologi Edisi 8. Erlangga: Jakarta Campbell.2003. Biologi. Erlangga : Jakarta Muchlisin, Badiatul. 2009. 105 Tokoh Penemu dan Perintis Dunia. NARASI : Yogyakarta Fuad, Ahmad. 2004. Dimensi sains Al-quran menggali ilmu pengetahuan dari Al-quran. Tiga serangkai : Solo Daftar Sumber http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/1960552-rahasia-sidik-jari/_ http://santai2008.wordpress.com/2010/05/02/daktiloskopi-ilmu-sidik-jari/

http://dienznature.blogspot.com/2010/05/genetika_6085.html

http://www.google.co.id/imgres? q=Loop+Whorl+Arch&hl=id&tbo=d&biw=1366&bih=600&tbm=isch&tbnid=Ux my86wSBSJJ2M:&imgrefurl=http://www.viewzone.com/fingerprintsx.html&docid= h46v47ppvSguLM&imgurl=http://www.viewzone.com/fingerprint1.jpg&w=596&h =409&ei=nWLFUJ6ZG5HqrQeH1IGgDg&zoom=1&iact=hc&vpx=236&vpy=134& dur=3972&hovh=186&hovw=271&tx=169&ty=81&sig=1173356263102873974 62&page=1&tbnh=146&tbnw=199&start=0&ndsp=22&ved=1t:429,r:2,s:0,i:83

http://www.google.co.id/imgres? q=Loop+Whorl+Arch&hl=id&tbo=d&biw=1366&bih=600&tbm=isch&tbnid=4eupc4EXpM 9sQM:&imgrefurl=http://www.bxscience.edu/publications/forensics/articles/fingerprinting/rfing01.htm&docid=EaIveS3NrMW-

0M&imgurl=http://www.bxscience.edu/publications/forensics/articles/fingerprinting/images/ basicpatterns.jpg&w=389&h=156&ei=nWLFUJ6ZG5HqrQeH1IGgDg&zoom=1&iact=hc&v px=464&vpy=165&dur=5930&hovh=124&hovw=311&tx=169&ty=44&sig=117335626310 287397462&page=1&tbnh=121&tbnw=273&start=0&ndsp=22&ved=1t:429,r:3,s:0,i:86