Anda di halaman 1dari 15

Hitung darah lengkap -HDL- atau darah perifer lengkap DPL- (complete blood count/full blood count/blood panel)

adalah jenis pemeriksan yang memberikan informasi tentang sel-sel darah pasien. HDL merupakan tes laboratorium yang paling umum dilakukan. HDL digunakan sebagai tes skrining yang luas untuk memeriksa gangguan seperti seperti anemia, infeksi, dan banyak penyakit lainnya. HDL memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan trombosit (platelet). Pemeriksaan darah lengkap yang sering dilakukan meliputi: Jumlah sel darah putih Jumlah sel darah merah Hemoglobin Hematokrit Indeks eritrosit jumlah dan volume trombosit Tabel 1. Nilai pemeriksaan darah lengkap pada populasi normal Parameter Laki-Laki Perempuan Hitung sel darah putih (x 103/L) 7.8 (4.411.3) Hitung sel darah merah (x 106/L) 5.21 (4.525.90) 4.60 (4.105.10) Hemoglobin (g/dl) 15.7 (14.017.5) 13.8 (12.315.3) Hematokrit (%) 46 (4250) 40 (3645) MCV (fL) 88.0 (80.096.1) MCH (pg) 30.4 (27.533.2) MCHC 34.4 (33.435.5) RDW (%) 13.1 (11.514.5) Hitung trombosit (x 103/L) 311 (172450)

Spesimen Sebaiknya darah diambil pada waktu dan kondisi yang relatif sama untuk meminimalisasi perubahan pada sirkulasi darah, misalnya lokasi pengambilan, waktu pengambilan, serta kondisi pasien (puasa, makan). Cara pengambilan specimen juga perlu diperhatikan, misalnya tidak menekan lokasi pengambilan darah kapiler, tidak mengambil darah kapiler tetesan pertama, serta penggunaan antikoagulan (EDTA, sitrat) untuk mencegah terbentuknya clot. Hemoglobin Adalah molekul yang terdiri dari kandungan heme (zat besi) dan rantai polipeptida globin (alfa,beta,gama, dan delta), berada di dalam eritrosit dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah ditentukan oleh kadar haemoglobin. Stuktur Hb dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asama amino pada rantai alfa, dan 146 mol asam amino pada rantai beta, gama dan delta. Terdapat berbagai cara untuk menetapkan kadar hemoglobin tetapi yang sering dikerjakan di laboratorium adalah yang berdasarkan kolorimeterik visual cara Sahli dan fotoelektrik cara sianmethemoglobin atau hemiglobinsianida. Cara Sahli kurang baik, karena tidak semua macam hemoglobin diubah menjadi hematin asam misalnya karboksihemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin. Selain itu alat untuk pemeriksaan hemoglobin cara Sahli tidak dapat distandarkan, sehingga ketelitian yang dapat dicapai hanya 10%. Cara sianmethemoglobin adalah cara yang dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin di laboratorium karena larutan standar sianmethemoglobin sifatnya stabil, mudah diperoleh dan pada cara ini hampir semua hemoglobin terukur kecuali sulfhemoglobin. Pada cara ini ketelitian yang dapat dicapai 2%. Berhubung ketelitian masing-masing cara berbeda, untuk penilaian basil sebaiknya diketahui cara mana yang dipakai. Nilai rujukan kadar hemoglobin tergantung dari umur dan jenis kelamin. Pada bayi baru lahir, kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada orang dewasa yaitu berkisar antara 13,6 19, 6 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun dan pada umur 3 tahun dicapai kadar paling rendah yaitu 9,5 12,5 g/dl. Setelah itu secara bertahap kadar hemoglobin naik dan pada pubertas kadarnya mendekati kadar pada dewasa yaitu berkisar antara 11,5 14,8 g/dl. Pada laki-laki dewasa kadar hemoglobin berkisar antara 13 16 g/dl sedangkan pada perempuan dewasa antara 12 14 g/dl. Pada perempuan hamil terjadi hemodilusi sehingga batas terendah nilai rujukan ditentukan 10 g/dl. Penurunan Hb terdapat pada penderita: Anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan intravena berlebih, dan hodgkin. Dapat juga disebabkan oleh obat seperti: Antibiotik, aspirin, antineoplastik(obat kanker), indometasin, sulfonamida, primaquin, rifampin, dan trimetadion. Peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung kongesti, dan luka bakar hebat. Obat yang dapat meningkatkan Hb adalah metildopa dan gentamicin.

Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh tersedianya oksigen pada tempat tinggal, misalnya Hb meningkat pada orang yang tinggal di tempat yang tinggi dari permukaan laut. Selain itu, Hb juga dipengaruhi oleh posisi pasien (berdiri, berbaring), variasi diurnal (tertinggi pagi hari). Hematokrit Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah. Nilai hematokrit atau PCV dapat ditetapkan secara automatik menggunakan hematology analyzer atau secara manual. Metode pengukuran hematokrit secara manual dikenal ada 2, yaitu metode makrohematokrit dan mikrohematokrit/kapiler. Nilai normal HMT: Anak : 33-38% Laki-laki Dewasa : 40-50% Perempuan Dewasa : 36-44% Penurunan HMT, terjadi dengan pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia, leukemia, penyakit hodgkins, limfosarcoma, mieloma multiple, gagal ginjal kronik, sirosis hepatitis, malnutrisi, defisiensi vit B dan C, kehamilan, SLE, athritis reumatoid, dan ulkus peptikum. Peningkatan HMT, terjadi pada hipovolemia, dehidrasi, polisitemia vera, diare berat, asidosis diabetikum,emfisema paru, iskemik serebral, eklamsia, efek pembedahan, dan luka bakar. Hitung Eritrosit Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter dalah. Seperti hitung leukosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung leukosit, yaitu menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung leukosit. Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang digunakan adalah: Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g, aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi. Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml. Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux. Natrium klorid 0.85 % Nilai Rujukan Dewasa laki-laki : 4.50 6.50 (x106/L) Dewasa perempuan : 3.80 4.80 (x106/L) Bayi baru lahir : 4.30 6.30 (x106/L) Anak usia 1-3 tahun : 3.60 5.20 (x106/L) Anak usia 4-5 tahun : 3.70 5.70 (x106/L) Anak usia 6-10 tahun : 3.80 5.80 (x106/L) Penurunan eritrosit : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan Peningkatan eritrosit : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler Indeks Eritrosit Mencakup parameter eritrosit, yaitu: Mean cell / corpuscular volume (MCV) atau volume eritrosit rata-rata (VER) MCV = Hematokrit (l/l) / Jumlah eritrosit (106/L) Normal 80-96 fl Mean Cell Hemoglobin Content (MCH) atau hemoglobin eritrosit rata-rata (HER) MCH (pg) = Hemoglobin (g/l) / Jumlah eritrosit (106/L) Normal 27-33 pg Mean Cellular Hemoglobin Concentration (MCHC) atau konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata (KHER) MCHC (g/dL) = konsentrasi hemoglobin (g/dL) / hematokrit (l/l) Normal 33-36 g/dL Red Blood Cell Distribution Width (RDW) RDW adalah perbedaan/variasi ukuran (luas) eritrosit. Nilai RDW berguna memperkirakan terjadinya anemia dini, sebelum nilai MCV berubah dan sebelum terjadi gejala. Peningkatan nilai RDW dapat dijumpai pada anemia defisiensi (zat besi, asam folat, vit B12), anemia hemolitik, anemia sel sabit. Ukuran eritrosit biasanya

6-8m, semakin tinggi variasi ukuran sel mengindikasikan adanya kelainan. RDW = standar deviasi MCV / rata-rata MCV x 100 Nilai normal rujukan 11-15% Hitung Trombosit Adalah komponen sel darah yang dihasilkan oleh jaringan hemopoetik, dan berfungsi utama dalam proses pembekuan darah. Penurunan sampai dibawah 100.000/ L berpotensi untuk terjadinya perdarahan dan hambatan pembekuan darah. Jumlah Normal: 150.000-400.000 /L Hitung Leukosit Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau mikroliter darah. Leukosit merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh, terhadap benda asing, mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung julah leukosit merupakan indikator yang baik untuk mengetahui respon tubuh terhadap infeksi. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain-lain. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-30.000/l. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000-38.000 /l. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500- 11.000/l. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 10.000/l. Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/l. Peningkatan jumlah leukosit di atas normal disebut leukositosis, sedangkan penurunan jum lah leukosit di bawah normal disebut lekopenia. Terdapat dua metode yang digunakan dalam pemeriksaan hitung leukosit, yaitu cara automatik menggunakan mesin penghitung sel darah (hematology analyzer) dan cara manual dengan menggunakan pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop. Cara automatik lebih unggul dari cara pertama karena tekniknya lebih mudah, waktu yang diperlukan lebih singkat dan kesalahannya lebih kecil yaitu 2%, sedang pada cara manual kesalahannya sampai 10%. Keburukan cara automatik adalah harga alat mahal dan sulit untuk memperoleh reagen karena belum banyak laboratorium di Indonesia yang memakai alat ini. Nilai normal leukosit: Dewasa : 4000-10.000/ L Bayi / anak : 9000-12.000/ L Bayi baru lahir : 9000-30.000/ L Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebut leukositosis. Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksismal, partus dan haid. Peningkatan leukosit juga dapat menunjukan adanya proses infeksi atau radang akut, misalnya pneumonia, meningitis, apendisitis, tuberkolosis, tonsilitis, dll. Dapat juga terjadi miokard infark, sirosis hepatis, luka bakar, kanker, leukemia, penyakit kolagen, anemia hemolitik, anemia sel sabit , penyakit parasit, dan stress karena pembedahan ataupun gangguan emosi. Peningkatan leukosit juga bisa disebabkan oleh obat-obatan, misalnya: aspirin, prokainmid, alopurinol, kalium yodida, sulfonamide, haparin, digitalis, epinefrin, litium, dan antibiotika terutama ampicillin, eritromisin, kanamisin, metisilin, tetracycline, vankomisin, dan streptomycin. Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari 5000/L darah. Karena pada hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling tinggi persentasinya hampir selalu leukopenia disebabkan netropenia. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama virus, malaria, alkoholik, SLE, reumaotid artritis, dan penyakit hemopoetik(anemia aplastik, anemia perisiosa). Leokopenia dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama saetaminofen, sulfonamide, PTU, barbiturate, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika, antidiabetika oral, indometasin, metildopa, rimpamfin, fenotiazin, dan antibiotika.(penicilin, cefalosporin, dan kloramfenikol) Hitung Jenis Leukosit Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masingmasing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l). Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang diwarnai dengan pewarna

Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/L. Tabel 2. Hitung Jenis Leukosit Jenis Nilai normal Melebihi nilai normal Kurang dari nilai normal Basofil 0,4-1% 40-100/L inflamasi, leukemia, tahap penyembuhan infeksi atau inflamasi stress, reaksi hipersensitivitas, kehamilan, hipertiroidisme Eosinofil 1-3% 100-300/L Umumnya pada keadaan atopi/ alergi dan infeksi parasit stress, luka bakar, syok, hiperfungsi adrenokortikal. Neutrofil 55-70% (2500-7000/L) Bayi Baru Lahir 61% Umur 1 tahun 2% Segmen 50-65% (2500-6500/L) Batang 0-5% (0-500/L) Inflamasi, kerusakan jaringan, peyakit Hodgkin, leukemia mielositik, hemolytic disease of newborn, kolesistitis akut, apendisitis, pancreatitis akut, pengaruh obat Infeksi virus, autoimun/idiopatik, pengaruh obat-obatan Limfosit 20-40% 1700-3500/L BBL 34% 1 th 60% 6 th 42% 12 th 38% infeksi kronis dan virus kanker, leukemia, gagal ginjal, SLE, pemberian steroid yang berlebihan Monosit 2-8% 200-600/L Anak 4-9% Infeksi virus, parasit, anemia hemolitik, SLE<> Laju Endap Darah Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen. Prosedur pemeriksaan LED yaitu: 1. Metode Westergreen o Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. o Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0. o Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar mata hari langsung. o Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit. 1. Metode Wintrobe o Sampel yang digunakan berupa darah EDTA atau darah Amonium-kalium oksalat. Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. o Sampel dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe menggunakan pipet Pasteur sampai tanda 0. o Letakkan tabung dengan posisi tegak lurus. o Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm menurunnya eritrosit. Nilai Rujukan 1. Metode Westergreen: Laki-laki : 0 15 mm/jam Perempuan : 0 20 mm/jam

1. Metode Wintrobe : Laki-laki : 0 9 mm/jam Perempuan 0 15 mm/jam Referensi Dharma R, Immanuel S, Wirawan R. Penilaian hasil pemeriksaan hematologi rutin. Cermin Dunia Kedokteran. 1983; 30: 28-31. Gandasoebrata R. Penuntun laboratorium klinik. Jakarta: Dian Rakyat; 2009. hal. 11-42. Ronald AS, Richard AMcP, alih bahasa : Brahm U. Pendit dan Dewi Wulandari, editor : Huriawati Hartanto, Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium, edisi 11. Jakarta: EGC; 2004. Sutedjo AY. Mengenal penyakit melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Yogyakarta: Amara Books; 2008. hal. 17-35. Theml H, Diem H, Haferlach T. Color atlas of hematology; principal microscopic and clinical diagnosis. 2nd ed. Stuttgart: Thieme; 2004. Vajpayee N, Graham SS, Bem S. Basic examination of blood and bone marrow. In: Henrys clinical diagnosis and management by laboratory methods. 21st ed. Editor: McPherson RA, Pincus MR. China

http://analismuslim.blogspot.com/2011/10/tes-hematologi-rutin.html
Prinsip : Darah diencerkan dengan larutan TURK maka sel darah selain leukosit akan hancur oleh asam asetat dan leukosit akan diwarnai oleh gentian violet. Jumlah leukosit dalam volume pengenceran tersebut dihitung dengan menggunakan bilik hitung. Alat alat 1. 2. 3. :

Tabung reaksi Pipet automatik. Bilik hitung Improved Neubauer.

Bahan : Darah dengan antikoagulan K2EDTA. Reagen : Larutan TURK denagn komposisi : 1. 2. 3. Asam acetat 2 %. Gentian Violet 1 %. Aquadest ad 100 ml.

Cara kerja 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Dipipet 0.38 ml larutan TURK ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 20 ul darah K2EDTA sampel ke dalam larutan tersebut (pengenceran 20 X). Darah yang tersisa dalam pipet di bilas dengan menghisap dan mengeluarkan larutan pengencer sebanyak 3 kali. Dicampur sampai homogen selama 1 menit. Disiapkan bilik hitung improved neubauer yang bersih, diteteskan campuran darah tersebut ke dalamnya, diamkan 3 menit ( agar leukosit mengendap ). Dihitung jumlah leukosit dalam 4 bidang besar dengan bantuan mikroskop pembesaran 10 X. Jumlah leukosit didapat dikalikan faktor.

Perhitungan : Hasil leukosit yang didapat

= 180 sel.

Faktor : Luas 4 bidang kecil pada bilik hitung = 4 X 1 mm = Tinggi bilik hitung = 0.1 mm

4 mm2.

Dalam 4 bilik kecil ditemukan n leukosit, maka : n Jumlah leukosit = ----------- X Pengenceran 0.4 n = ------------ X 20 = n X 50 / ul 0.4 Jumlah leukosit = 180 X 50 = 9.000 sel / ul.

Pembahasan : 1. Nilai Normal leukosit untuk : Bayi : 6.000 16.000 /ul Anak : 5.000 13.500 /ul Dewasa : 5.000 10.000 /ul 2. Bila pada sediaan hapus dijumpai eritrosit berinti lebih dari 10/100 leukosit, maka lakukan koreksi dengan rumus perhitungan sebagai berikut : 100 = ------------------------------- X jumlah leukosit yang didapat. 100 + Eri berinti Kesimpulan : Jumlah leukosit sampel normal. Daftar Pustaka : R. Ganda Soebrata : Penuntun Laboratorium Klinik, PT. Dian Rakyat 1985. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana : FKUI 1996. Ketika melihat SAD(Sediaan Hapus Darah), ada baiknya kita memiliki pola untuk dilakukan secarA rutin saat pemeriksaan SAD. Mungkin terdengar membosankan, tetapi sebenarnyaakan membuat penilaian yang jauh lebih akurat dan lengkap. Jika tidak dilakukan, maka dilakukan hanyalah menempatkan slide di bawah mikroskop, melihat sekilas untuk menilai apakah ada sesuatu kelainan, dan kemudian fokus pada itu saja (sehingga hilang beberapa hal yang penting). Ada 10 hal utama yang perlu untuk dipastikan dalam mengevaluasi hapusan darah. Lebih baik jika ingin memulai dari sel darah merah, lalu trombosit, dan sel darah putih untuk yang terakhir, tapi ini hanya cara mudah saja namun sebenarnya bisa dengan metode apa sajayang cocok untuk kita. 1. Jumlah sel darah merah Pertama, pastikan lapang pandang berada di bagian kanan haousan, yaitu pada bagian yang tipis dimana semua sel-sel menyebar dan ada jarak antar sel. Hanya melihat sekilas dan memastikan sel darah merah tidak menumpuk satu sama lain, dan juga tidak menyebar terlalu jauh dengan banyak lubang di antara sel-sel merah. 2. Ukuran sel darah merah Biasanya, jika semua sel darah merah berukuran hampir sama, maka kita tidak akan dapat mengetahui apakah sel darah merah tersebut mikrositik (kecil) atau makrositik (besar). Jadi menentukannya harus melihat nilai MCV. Jadi perhatikan dan lihat apakah ada beberapa sel yang lebih kecil, dan beberapa yang lebih besar. Jika itu yang terjadi, ini disebut "anisocytosis" dan harus sesuai dengan RDW (red cell distribution width). Pada anisocytosis(ukuran sel darah merah bervariasi) maka seharusnya RDW semakin besar. 3. Bentuk Sel Darah Merah Biasanya, sel darah merah semua bagus dan bulat. Dalam beberapa anemia, ada lucu berbentuk sel, seperti schistocytes (sel darah merah pecah), sabit berbentuk sel, titik air mata berbentuk sel, atau sel target. Mata Anda secara alami akan tertarik pada ini (yang mengapa Anda harus memaksa diri Anda untuk mengikuti metode yang konsisten ketika melihat smear - jika Anda hanya melihat apa yang mata Anda tertarik pada!). Perhatikan apakah ada non-bulat sel, dan jika demikian, menggambarkan apa macam bentuk yang Anda lihat. 4. Chromasia Sel Darah Merah

"Chromasia" mengacu pada jumlah hemoglobin dalam sel darah merah rata-rata.Biasanya, ada zona pucat pusat (titik putih di tengah sel) yang terdiri dari sekitar 1/3 dari diameter sel. Check out zona lucu pucat sentral dalam sel darah merah di atas. Sel-sel ini disebut "normokromik." Jika ada titik putih besar, dan hanya tepi tipis dari hemoglobin, maka sel-sel yang disebut "hipokromik." Ada benar-benar bukan "hyperchromic" jenis sel darah merah. 5. Retikulosit Silakan melihat-lihat dan lihat apakah Anda melihat sel polychromatophilic (ini adalah sedikit lebih besar dari sel darah merah normal, dan mereka memiliki semburat ungu kepada mereka). Ini hanya sel darah merah muda yang RNA belum sepenuhnya diekstrusi (sehingga mereka noda biru bit). Dalam darah normal, sekitar 1% dari sel darah merah adalah retikulosit (karena kita selalu membuat sel darah merah baru). Itu setara dengan 1-2 sel merah per lapangan. Jika Anda melihat lebih dari itu, berarti sumsum adalah menendang keluar sel darah merah pada tingkat yang meningkat. 6. Benda-benda di dalam sel darah merah Melihat dan melihat apakah sel-sel merah dengan dalam hal - seperti inti, Howell-Jolly tubuh (sisa-sisa nuklir kecil yang tidak mendapatkan diekstrusi), badan Pappenheimer (butiran besi kecil), organisme (seperti malaria atau Babesia). 7. Jumlah trombosit Harus ada antara 7 dan 21 trombosit per bidang daya tinggi, yang sesuai dengan jumlah trombosit antara 150 dan 450 x 109 / L. 8. Morfologi trombosit Ini tidak biasanya menghasilkan banyak - tapi kita lihat trombosit tetap dan memastikan mereka kira-kira dari ukuran normal, dan memiliki beberapa butiran bagus dalam. Ada gangguan trombosit langka di mana trombosit yang normal besar, atau butiran kurang, atau keduanya. 9. Jumlah Sel Darah putih Melakukan scan cepat dari sekelompok bidang daya tinggi dan melihat berapa banyak sel darah putih ada. Harus ada sel darah putih saja per bidang daya tinggi. Periksa WBC dan melihat apakah itu tampaknya sesuai dengan apa yang Anda lihat. Kemudian, jangan diferensial sebuah menghitung: menghitung seratus beberapa sel putih (500 adalah yang terbaik) dan menempatkan mereka dalam kategori (neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, basofil). Bandingkan ini dengan diferensial otomatis pada KBK, dan kalikan persentase oleh WBC total untuk mendapatkan jumlah absolut dari setiap jenis sel. Bila Anda mencoba untuk menentukan apakah pasien memiliki jumlah normal dari tipe sel tertentu, jumlah absolut jauh lebih dapat diandalkan daripada persentase. 10. Morfologi Sel darah putih Akhirnya, memeriksa morfologi sel darah putih. Anda mungkin akan melakukan hal ini Anda lakukan diferensial Anda - mata Anda akan ditarik ke setiap kelainan karena Anda mengklasifikasikan sel. Pastikan neutrofil dan limfosit terlihat normal, dan menjaga mata Anda terbuka bagi aneh yang tampak seperti ledakan sel atau sel karsinoma beredar. Urutan apapun yang digunakan, jika melakukannya dengan cara yang sama setiap kali, akan mulai menjadi otomatis - dan Anda akan jauh lebih mungkin untuk melakukan pekerjaan, menyeluruh dan akurat. Sumber : http://www.pathologystudent.com

http://eprints.undip.ac.id/37772/1/Ronald_Baehaqi_G2A008169_Lap.KTI.pdf
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l). Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis leukosit, didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/l perlu dikoreksi. Netrofilia

Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil lebih dari 7000/l dalam darah tepi. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif. Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia. Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri atau shift to the left. Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang kurang. Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma Eosinofilia Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil lebih dari 300/l darah. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik. Basofilia Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil lebih dari 100/l darah. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.

Limfositosis Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit lebih dari 8000/l pada bayi dan anak-anak serta lebih dari 4000/l darah pada dewasa. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer. Monosit Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit lebih dari 750/l pada anak dan lebih dari 800/l darah pada orang dewasa. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur. Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3. Netropenia Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari 2500/l darah. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya. Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia. Limfopenia Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari 1000/l dan pada anak-anak kurang dari 3000/l darah. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.

Eosinopenia dan lain-lain Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari 50/l darah. Hal ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid. Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.

Artigos Relacionados:

Pembuatan sediaan apusan darah

Sediaan apus darah dengan pengecatan giemsa digunakan untuk pemeriksaan seperti: A. Pemeriksaana dengan Perbesaran kecil (obyektif 10x) -Penilaian kualitas hapusan darah. -Penaksiran jumlah leukosit dan eritrosit, penaksiran hitung jenis(diferensial) leukosit dan pemeriksaan sel-sel yan gtidak normal. B. Pemeriksaan dengan minyak Imersi (Obyektif 100x) -Eritrosit : Penaksiran jumlah dan morfologi. -Leukosit: Perhitungan differensial dan dicari apa apa ada kelainan morfologi. -Trombosit : Perhitungan jumlah dan kelainan morfologi. -Sel-sel abnormal. Alat -Kaca objek (Bersih, bebas debu dan lemak) *Untuk menggeser darah bagian pendek kaca objek harus rata sekali. -Pipet Pasteur (Digunakan bila sampel darah vena) Reagen -Cat Giemza -Buffer phospat (pH 6,4) -Methanol Bahan -Darah kapiler atau darah Vena berantikoagulan heparin/EDTA

Cara Kerja A.Pembuatan Sediaan Apus 1. Teteskan 1 tetes kecil darah ke kaca objek dengan garis tengak tidak lebih dari 2 mm (Langsung dari jari pasien bila yang di gunakan darah kapiler atau menggunakan pipet Pasteur bila menggunakan darah yang telah dicampur antikoagulan). 2. Dengan tangan kanan diletakakn kaca objek lain(penggeser darah) disebelah kiri tetes darah tadi. 3. Gerakkan kekanan sampai mengenai tetes darah. 4.Tunggu sampai darah menyebar pada sisi kaca penggeser. Tunggu sampai darah mencapai titik kira-kira cm dari sudut kaca penggeser. 5. Segeralah geser ke kiri sambil memegang miring dengan sudut 30-450. Jangan menekan kaca penggeser. 6. Biarkan kering diudara 7.Tulis nama pasien. Lanjutkan ke pengecatan. B.Pengecatan dengan Giemza 1. Cat Giemza diencerkan dengan buffer dengan perbandingan 1 bagian cat: 4 bagian buffer. 2. Sediaan di letakkan di rak tempat pengcatan 3. Genangi sediaan dengan methanol. Biarkan selama 5 menit atau lebih. 4. Buanglah larutan methanol dari kaca 5. Biarkan kering diudara 6. Genangi dengan cat giemsa yang sudah diencerkan, biarkan selama 20 menit. 7. Bilas dengan air suling 8. Letakkan sediaan vertikal dan biarkan mengering pada udara. Hal-hal yang mempengaruhi hasil dari sediaan apus -Kondisi kaca objek Kaca objek harus: Kering, bersih dan bebas dari lemak dan sisi terpendek kaca objek untuk menggeser darah harus rata. -Kemiringan kaca objek penggeser darah dan kecepatan menggeser mempengeruhi ketebalan sediaan. Semakin kecil sudut kaca objek penggeser atau semakin lambat menggeser maka hasil sediaan semakin tipis. Ciri-ciri sediaan apusan yang baik 1. Sediaan tidak melebar sampai tepi kaca obje (Panjangnya 1/2-2/3 kaca objek). 2. Pada sediaan harus ada bagian yang cukup tipis untuk diperiksa. Pada bagian itu eritrosit tidak menumpuk dan tidak menyusun gumpalan rouleaux.

3. Pinggir sediaan harus rata tidak boleh ada bergaris-garis atau berlobang-lobang. 4. Ujung sediaan tidak boleh seperti bendera sobek 5. Penyebaran leukosit tidak boleh buruk, leuksit tidak boleh menumpuk pada pinggir atau tepi sediaan. Hal yang Perlu Diperhatikan pada Pengecatan: 1.Darah harus benar-benar kering pada saat digenangi dengan methanol(fiksasi) 2.Sebelum di genangi giemsa sediaan harus benar-bener kering( dari methanol)

Label: Hematologi Artigos Relacionados:

Leukosit

Leukosit merupakan nama lain untuk sel darah putih. Leukosit berfungsi mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Itulah sebabnya leukosit disebut juga fagosit. Leukosit mempunyai bentuk yang berbeda dengan eritrosit. Bentuknya bervairasi dan mempunyai inti sel bulat ataupun cekung. Gerakannya seperti Amoeba dan dapat menembus dinding kapiler. Berdasarkan ada/tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menjadi: 1. Leukosit bergranula (granulosit) a. Neutrofil b. Eosinofil c. Basofil 2. Leukosit tidak bergranula (agranulosit) a. Limfosit b. Monosit

1. Neutrofil Plasmanya bersifat netral, inti selnya berjumlah banyak dengan bentuk bermacam-macam. Neutrofil fagositosis terhadap eritrosit (sel darah merah), kuman, dan jaringan mati. 2. Eosinofil

Plasmanya bersifat asam. Itulah sebabnya eosinofil akan merah tua bila ditetesi eosin. Eosinofil juga bersifat fagosit dan jumlahnya akan meningkat jika tubuh terkena infeksi. 3. Basofil Plasmanya bersifat basa. Itulah sebabnya plasma akan berwarna biru jika ditetesi larutan basa. Sel darah putih ini akan berjumlah banyak jika terkena infeksi. Basofil juga bersifat fagosit. Selain itu, basofil mengandung zat kimia anti penggumpalan, yaitu heparin. 4. Limfosit Limfosit tidak dapat bergerak dan berinti satu. Ukurannya ada yang besar dan ada yang kecil. Limfosit berfungsi untuk membentuk antibodi. 5. Monosit Monosit dapat bergerak seperti Amoeba dan mempunyai inti yang bulat/bulat panjang. Monosit diproduksi pada jaringan limfa dan bersifat fagosit. Adakalanya benda asing ataupun mikroba yang tidak dikehendaki memasuki tubuh kita. Jika hal tersebut terjadi tubuh akan menganggap benda yang masuk itu sebagai benda asing atau antigen. Apa yang terjadi pada antigen tersebut? Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan dianggap sebagai benda asing. Akibatnya tubuh melalui sel-sel darah putih (leukosit) memproduksi antibodi untuk menghancurkan antigen tersebut. Glikoprotein yang terdapat di dalam hati kita dapat merupakan antigen bagi orang lain jika glikoprotein tersebut disuntikkan kepada orang lain. Hal ini membuktikan bahwa suatu bahan dapat dianggap sebagai antigen untuk orang lain tetapi belum tentu sebagai antigen untuk kita. Hal tersebut juga berlaku untuk keadaan sebaliknya. Leukosit yang berperan penting terhadap kekebalan tubuh ada 2 macam, yaitu fagosit dan limfosit. Sel fagosit akan menghancurkan benda asing yang dengan cara menelannya (fagositosis). Fagosit terdiri atas 2 macam sel, yaitu: 1. Neutrofil, terdapat di dalam darah. 2. Makrofag, dapat meninggalkan peredaran darah untuk masuk ke dalam jaringan atau rongga tubuh. Limfosit terdiri atas: 1. T limfosit (T Sel), yang bergerak ke kelenjar timus (kelenjar limfa di dasar leher). 2. B limfosit (B sel). Keduanya dihasilkan oleh sumsum tulang dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah, menghasilkan antibodi yang disesuaikan dengan antigen yang masuk ke dalam tubuh. Seringkali virus memasuki tubuh tidak melalui pembuluh darah tetapi melalui kulit dan selaput lendir agar terhindar dari leukosit. Namun sel-sel tubuh tersebut tidak berdiam diri. Sel-sel tubuh tersebut akan menghasilkan interferon suatu protein yang dapat memproduksi zat penghalang terbentuknya virus baru (replikasi). Adanya kemampuan ini dapat mencegah terjadinya serangan virus.

leukositosi yaitu jumlah leukosit lebih banyak 11.000/mm biasanya disebabkan oleh peningkatan salah satu jenis leukosit, contoh neutrofilia leukositosis dapat disebabkan oleh banyak penyakit infeksi, kadang leukositosi dijumpai tanpa ada hubungan dengan suatu penyakit yaitu leukositosis fisiologis,, terap steroid dapat meningkatkan jumah leukosit

Leukopenia (juga dikenal sebagai leukocytopenia, atau leukopenia) adalah penurunan jumlah sel darah putih (leukosit) ditemukan dalam darah, yang menempatkan individu pada peningkatan risiko infeksi.

Neutropenia adalah jenis sub-leukopenia yang mengacu pada penurunan jumlah granulosit neutrofil beredar, sel-sel darah putih yang paling berlimpah. Para leukopenia dan neutropenia istilah kadang-kadang dapat digunakan secara bergantian, sebagai jumlah neutrofil adalah indikator yang paling penting dari risiko infeksi.

Leukopenia dapat diidentifikasi dengan jumlah darah lengkap.

http://aceh-laboratorium.blogspot.com/search/label/Hematologi

Evaluasi Hapusan Darah

PENDAHULUAN Evaluasi darah atau disebut juga sebagai pemeriksaan gambaran darah tepi dapat dilakukan di counting areal setelah melakukan pemeriksaan hitung jenis leukosit, mula-mula dengan pembesaran 100 x kemudian dengan pembesaran 1000 x dengan minyak emersi selanjutnya dilihat masing-masing morfologi selnya. Pemeriksaan hapusan darah terdiri atas : 1. Pemeriksaan dengan pembesaran kecil (objektif 10x) a. Penilaian kwalitet hapusan darah dan penyebaran sel-sel dalam hapusan. - Lapisan darah harus cukup tipis sehingga eryhtrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan lainnya. - Hapusan tidak boleh mengandung cat - Eryhtrosit, leukosit dan thrombosit harus tercat dengan baik. - Leukosit tidak boleh menggerombol pada akhir (ujung) hapusan. b. Penafsiran jumlah leukosit dan eryhtrosit, penaksiran penghitungan differential leukosit dan pemeriksaan apakah selsel ada yang abnormal. Dilakukan pada daerah area penghitungan dari bagian hapusan tempat eryhtrosit terletak berdampingan, tidak tertumpuk. Bila didapatkan 20-30 leukosit perlapang pandang kira-kira sesuai dengan junlah leukosit 5.000 dan 40-50 perlapang pandang sesuai dengan leukosit 10.000. 2. Pemeriksaan dengan menggunakan minyak imersi

a. Eryhtrosit : Penaksiran jumlahnya dan bagaimana morfologinya Dillihat adanya eryhtrosit berinti dan dihitung jumlahnya pada 100 leukosit untuk mengkoreksi hitung leukosit cara Turk. b. Leukosit : Penghitungan Differensial dan dicari kelainan morfologi Dihitung dalam 100 sel leukosit dan dilihat adanya kelainan selnya. c. Thrombosit : Dilihat penyebaran, morfologi dan ukuran selnya. Hapusan yang baik thrombosit tidak menggerombol pada bagian akhir hapusan. Bila sukar ditemukan thronbosit berarti jumlahnya sedikit, bila terlihat banyak berarti terjadi peningkatan jumlah. Dilhat juga adanya giant cell yang berukuran 68 mikron. d. Sel abnormal : Pemeriksaan morfologi Kelainan-kelainan dan variasi dari leukosit, erythrosit dan thrombosit perlu dicatat. A. Variasi Besar (Size) Erytrocyte : 1. NORMOSIT Erythrosit dengan diameter normal, yaitu 7-8 mikron. 2. MAKROSIT Erythrosit dengan diameter lebih dari 8 mikron. Bila makrosit diameternya lebih dari 12 mikrometer dan berbentuk oval disebut MEGALOSIT (12-15 mikron). Ini ditemukan pada anemia defisiensi Vitamin B12 atau defisiensi Asam Folat. Keadaan dimana makrosit banyak ditemukan dalam darah disebut MAKROSITOSIS. 3. MIKROSIT. Diameter erythrosit kurang dari 7 mikrometer. Ini ditemukan misalnya pada Anemia defisiensi besi (Fe). Keadaan dimana banyak ditemukan mikrosit dalam darah disebut MIKROSITOSIS. 4. ANISOSITOSIS Suatu keadaan ditemukan besar erytrocyte yang bervariasi sedangkan bentuknya sama, jadi ditemukan Normosit, makrosit dan mikrosit. Ini terjadi pada penyakit Anemia Hemolitik berat. B. Warna (Color / Stain) Erythrocyte : 1. NORMOKROM. Erythrosit dengan warna normal (ada pucat dibagian tengah dan lebih merah dibagian pinggirnya) dan dengan konsentrasi hemoglobin yang normal juga. 2. HIPOKROM Warna erythrosit lebih pucat sehingga daerah yang pucat ditengah melebar. Bila terlalu pucat / terlalu lebar akan membentuk ANULOSIT atau RING ERYTHROCYTE, hal ini karena konsentrasi hemoglobin rendah. Ini ditemukan misalnya pada Anemia Defisiensi Fe, Thallasemia, Hemoglobinopathy C atau S. 3. HIPERKROM Keadaan dimana warna erytrosit lebih merah dari normal. Misalnya ditemukan pada SFEROSITOSIS HEREDITER. 4. POLIKROMASI Keadaan dimana ditemukan erytrosit yang bersifat ACIDOPHILIC dan ditemukan juga yang bersifat BASOPHILIC. Ini ditemukan pada RETIKULOSITOSIS, juga ditemukan pada ERYTHROPOEISIS yang aktif. 5. NORMOBLAST Merupakan Erytrosit yang masih muda dengan masih memiliki inti. Keadaan ini ditemukan misal pada Hemopoeisis extra medullaris.

Penilaian dan pelaporan hasil : 1. Erythrosit - Kesan jumlah sel (meningkat, menurun, normal) - Adanya sel muda ( + / -) - Variasi Ukuran (size), Warna (stain), Bentuk (Shape) : Anisositosis, Polikromasia dan Poikilositosis - Indeks Anemia : Normokromik, Hipokromik dan Heperkromik dan Makrositer, Mikrositer dan Normositer. Misal : Normokromik Normositer. - Bentuk (shape), ukuran (size) dan warna (colour) sel yang ditemukan. - Retikulosit : (meningkat atau normal) 2. Leukosit - Kesan jumlah sel (meningkat, menurun, normal, sangat meningkat) - Adanya sel muda - Persentase hitung jenis - Morfologi leukosit - Indeks peningkatan : netrofilia, limpositosis, monositosis, eosinofilia,dll 3. Thrombosit - Kesan jumlah sel (meningkat, menurun, normal) - Adanya giant cell (+/-) - Penyebaran sel, clumping

Contoh Pelaporan Hasil : Contoh 1 : Eritrosit : Kesan jumlah menurun, Normokrom normositer Anisositosis sedang Poikilositosis ringan (pear shape cell, tear drop cell, helmed cell). Leukosit : Kesan jumlah meningkat, ukuran dalam batas normal. Vakuolisasi + Granula toksik + / Trombosit : Kesan Jumlah dan ukuran dalam batas normal. Clumping / agregasi ( - ). Kesan : Infeksi kronis Contoh 2 : Eritrosit : Normokrom normositer Anisositosis ringan Poikilositosis ringan (pear shape cell, tear drop cell) Leukosit : Jumlah dan bentuk dalam batas normal. Vakuolisasi (-) Granula toksik (-) Trombosit : Jumlah dan ukuran dalam batas normal. Clumping / agregasi ( - ). Kesan : Gambaran darah tepi dalam batas normal

Contoh 3 : Retikulosit : 0,63 % (n=0,5-1,5) Gambaran Darah Tepi : Eritrosit : Normokromik Normositik, Anisositosis Leukosit : Kesan Jumlah sangat meningkat Tampak dominasi sel-sel dengan ciri-ciri : - Inti tunggal - Anak inti 1-2 buah - Kromatin Kasar - Sitoplasma relatif sedikit - Ukuran sel relatif homogen Trombosit : Kesan jumlah Menurun Kesimpulan : Gambaran sesuai ALL (L1)

http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/02/evaluasi-hapusan-darah.html http://www.fkuii.org/files/panduan-praktikum-SPTPI-1011.pdf http://eprints.undip.ac.id/12207/1/2000FK450.pdf