Anda di halaman 1dari 7

Eyang Subur: Solusi Praktik Magi Produktif, Protektif, atau Destruktif?

Artikel
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manusia dan Kebudayaan Indonesia Dosen Pembina Etty Saringendyanti, M.Hum Oleh Ingeu Widyatari Heriana 180110110055

Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

2013

Eyang Subur: Solusi Praktik Magi Produktif, Protektif, atau Destruktif?


Siapa takmengenal Eyang Subur? Tapi, siapa mengenal praktiknya? Ramai masyarakat memperbincangkan tokoh satu ini. Berbagai media mewadahi keresahan, kegundahgulanaan, dan kegemaran masyarakat terhadap tokoh religi ini. Sikap skeptis masyarakat menjadi penghias carut-marutnya perpolitikan dan perekonomian di Indonesia. Masalah senstif, ya religi. Bisa dikatakan persoalan religi yang muncul kembali sebagai sentilan dalam kehidupan bernegara. Negara Indonesia yang memiliki kemajemukan dalam budayanya juga menyimpan corak dalam menerapkan unsur-unsur kebudayaan. Hal yang sedang marak ini menjadi koreksi bahwa dalam berkehidupan bernegara ada campur tangan budaya. Kali ini religi khususnya sebagai salah satu dari tujuh unsur universal kebudayaan. Ketujuh unsur universal kebudayaan itu, antara lain bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sistem pengetahuan, organisasi sosial, religi, dan kesenian. Kasus Eyang Subur menyuluti unsur religi. Namun, bagaimana praktiknya dipahami oleh masyarakat berbudaya dan beragama? Masyarakat hanya membicarakan untung dan rugi saja tanpa mengetahui pasti ilmunya, penggolongannya, maka tidak memahami penyelesaiannya. Apabila ditilik menggunakan ilmu pengetahuan, kasus Eyang Subur ini termasuk ke dalam benda magi dalam unsur religi. Magi adalah upacara dan rumusan verbal yang memproyeksikan hasrat manusia ke dunia luar atas dasar teori pengontrolan manusia, untuk sesuatu tujuan (Dhavamony, 2006: 58). Menurut Frazer, magi merupakan bentuk awal dari agama. Dhavamony membagi klasifikasi magi menjadi tiga, yakni magi produktif, magi protektif, dan magi destruktif (Fenomenologi Agama, 2006: 58). Magi produktif ialah magi untuk organisasi kegiatan ekonomi; berburu, menyuburkan tanah, menanam, dan menuai panenan, pembuatan hujan, penangkapan ikan, pelayaran,

perdagangan, dan percintaan. Praktiknya berupa obat-obatan atau perhiasan. Magi protektif ialah tabu-tabu untuk menjaga milik; mengumpulkan hutang, menanggulangi kemalangan, pemeliharaan orang sakit, keselamatan perjalanan. Praktiknya berupa penggarapan atau upacara untuk perlawanan magi destruktif. Magi destruktif ialah magi untuk mendatangkan badai, merusak milik, mendatangkan penyakit, mendatangkan kematian. Praktiknya dengan mantra. Ketiganya tergolong dalam ilmu putih dan hitam. Lalu bagaimana dengan praktik Eyang Subur selama ini? Apabila digolongkan ke dalam produktif, ada benarnya bahwa Beliau membantu masyarakat yang datang kepadanya. Kasusnya mengenai masalah ekonomis, seperti percintaan, popularitas, perdagangan, panenan, dan sebagainya. Hal disoroti kali ini ialah figur publik yang datang kepadanya dinilai untuk mendongkrak pepolaritas. Entah masalah detilnya apa, individu tersebut meminta petuah dan ajimat kepada Eyang Subur. Tokoh Adi Bing Slamet dan istrinya pernah berguru kepadanya hingga diberi perhiasan untuk dipakai. Tokoh Srimulat, seperti Tessy, Gogon, Unang, dan Nunung pun demikian. Maka, pasien-pasien tersebut telah terikat oleh Eyang Subur. Namun, ada yang bisa disangkal dari kasus ini. Nunung yang pernah dikasih perhiasan oleh Subur justru menjualnya lantas yang popular sampai saat ini Nunung. Kekuatan magi tersebut toh bisa dipatahkan. Praktiknya lagi bisa diterima logika bahwa Subur menganjurkan meminum minuman yang pahit, seperti kopi, air putih, atau teh pait dahulu lalu dilanjut dengan minuman manis, seperti teh manis, sirup, susu, dan sebagainya. Hal tersebut berdasarkan alasan bahwa kehidupan ialah pahit dahulu barulah memetik manisnya. Memang benar sebaiknya diterima filosofi demikian melalui simbol barang konsumsi sebagai motivasi hidup. Terima saja yang baiknya dan jangan melihat dari sisi buruknya tanpa alasan. Toh yang magi pun yang merupakan benda budaya masih ada hal-hal yang bias dibuktikan dan dipertanggungjawabkan ilmunya. Lalu apabila praktiknya tergolong ke dalam protektif, sama saja. Subur membantu pasien yang datang kepadanya dalam perkara kualitas hidup. Selain pasien-pasien tadi mengambil mafaat ekonomis untuk kedirian masing-masing disertai keselamatan hidup. Praktiknya bias dilihat dari guru ini sendiri, Subur. Beliau melaksanakan shalat seperti yang dilakukan muslim kebanyakan. Namun, informasi dari para pasien caranya berbeda. Subur tidak melakukan syarat sah, wajib, dan rukun shalat sebagaimana tauhid ajaran Islam. Subur tidak berwudhu hanya

menggerak-gerakkan

tubuhnya

ketika

shalat.

Berpuasa

yang

dilaksanakan

Beliau

memperbolehkan makan dan minum saat-saat tertentu. Memang ada ajaran Islam berupa ketentuan berbuka pada saat tertentu lalu melanjutkan kembali berpuasa bagi yang tidak kuat. Hal tersebut merupakan kemudahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Mungkin bagi golongan tertentu tidak berterima karena subjek yang melaksanakannya.

Untuk kategori desruktif, Eyang Subur dinilai sambil menyelam minum air. Beliau membantu para pasien, tetapi apabila pasien tersebut seorang wanita atau membawa wanita akan diikatnya wanita tersebut menggunakan ilmunya sehingga mau menjadi istrinya. Istri Adi Bing Slamet dan Arya Wiguna sebagai pasien dahulu kini korbannya. Hal ini dinilai benar merugikan karena berkaitan dengan merusak milik. Apalagi diketahui bahwa jumlah istri Subur melebihi ketentuan agama yang dianutnya. Islam menganjurkan menikahi empat wanita dengan jalan ibadah, bukan nafsu. Apabila lebih dari itu herus diperlakukan dengan adil dan mendatangkan maghfirah. Seharusnya istri yang dinikahi membantu dan meneruskan pekerjaan, menolong sesama, dan menyiarkan dakwah (kebaikan). Namun, kasus ini meneruskan pekerjaan yang dinilai tidak berterima dalam tauhid. Diketahui juga keadaan wanita-wanita tersebut sebagai koleksi. Dalam media elektronik dilaksanakan wawancara kepada delapan istri Subur. Seluruhnya menyatakan hanya kesan dan pesan bahwa mereka bahagia menikah dengan Subur. Yang benar saja? Taka da timbal balik untuk social. Ini menjadi kejanggalan dalam budaya kita. Berpoligami tidak berterima dalam budaya apalagi tidak didasari pemahaman agama yang kuat. Jelas merugikan dari sudut pandang pola pikir, psikologi budaya, dan sosiologi. Moral masyarakat dalam keadaan disorder of law. Masyarakat bertindak tidak dengan nalar dan batin yang sehat lagi sehingga terlepas dari ajaran dan hokum yang berlaku. Lalu bagaimana solusinya untuk kasus tokoh masyarakat yang sedemikian gembargembor? Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tiap-tiap kasus yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat ada golongannya. Hal tersebut merupakan fenomena atau gejala social. Maka, bagi gejala yang dianggap bermasalah pasti ada solusinya. Praktik Eyang Subur yang

dianggap sakral entah itu magi produktif, protektif atau destruktif mencerminkan masih adanya tradisi lisan pada unsur religi dalam kebudayaan kita. Sudah saja terima sebagai corak kebudayaan kita. Apapun praktiknya dengan aliran bagaimanapun tetap menjadi ciri khas kebudayaan kita yang sejak zaman prasejarah menganut animism dan dinamisme. Sudah menjadi hukumnya bawaan dari nenek moyang kita. Ini justru apabila diterima dari sudut kebudayaan merupakan pelestarian penerapan salah satu tujuh unsur universal kebudayaan.

Lagipula, untuk jalan penerangan lainnya, masyarakat sebagai umat beragama seharusnya mengetahui hukum agama. Bagaimana seorang anggota masyarakat menerapkan kepercayaannya tersebut ke dalam tindakan yang didasari pola pikir sehat? Apabila ada sebagian yang menganggap bahwa praktik Eyang Subur termasuk magi destruktif yang merugikan, yang dilakukan ialah harus ikhlas. Apabila individual mengaku beragama, seharusnya memahami bahwa harta yang dimiliki di dunia hanya titipan-Nya. Kepemilikan di dunia ini bersifat sementara. Istri para pasien yang seolah-olah diambil Subur menggunakan ilmunya menjadi kerugian. Istri-istri diasumsikan terkena pelet dari Subur. Adi Bing Slamet dan Arya Wiguna sebagai mantan pasien menuntut atas kejadian itu. Ya, ikhlaskan saja. Toh faktanya marak juga kasus perceraian di kalangan artis-artis dan berlalu begitu saja. Lalu apabila sesorang itu mengaku beragama, seharusnya memahami terhadap hal yang dilakukannya. Janganlah menelan ludah sendiri! Sebagai umat beragama juga sudah mengetahui memiliki Tuhan, tapi tetap saja berguru pada objek yang salah. Masyarakat datang kepada Eyang Subur di awal, kemudian memercayainya dan mematuhinya, lantas setelah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan justru menyudutkan, menuduh, memprotes, dan sebagainya. Di mana letak akal sehat mereka? Padahal, apabila dicermati segala tindakan yang dilakukan akan memberikan hasil. Timbal balik akan muncul. Namun, inilah yang menjadi ujian bagi umat beragama, tindakan yang baik akan menghasilkan yang baik pula dan tindakan yang buruk akan menghasilkan yang buruk pula. Segala tindakan hendaknya dikembalikan lagi pada akal sehat dan hati. Begitu seharusnya bertindak sebagai yang merngakui bahwa ia beragama. Bukan sekadar mengatasnamakan Tuhan.

Dari penyelesaian di atas, berkelanjutan dengan kembali lagi pada local genius atau cerlang budaya masyarakat. Apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan hal demikian? Berguru pada orang yang salah, sementara mengaku berbudaya dan beragama. Sebagai anggota masyarakat yang hidup dekat dan akrab dengan kebiasaan dan tradisi, seharusnya paham betul menjalankan antara budaya dan agama.

Kembali lagi pada pemahaman masyarakat terhadap hakikat budaya dan agama itu sendiri karena bangsa kita yang hidup dalam kemajemukan. Tidak berlaku bahwa adanya mengagamakan budaya. Tidak berterima budaya dimasukkan lalu dicampurkan ke dalam praktik agama. Agama dipraktikan melalui ritual-ritual khusus keluar dari ajaran. Walaupun berterima bagi kategori magi destruktif tadi, menyuluti kemajemukan budaya Indonesia. Namun, lebih berterima bahwa adanya membudayakan agama. Masyarakat mempraktikan pemahaman agamanya dengan akal sehat dan hati dalam berbudaya. Bicara mengenai cerlang budaya, ada praktik Subur yang dapat dijadikan motivasi dan pelajaran. Dari praktik produktif menggunakan obat-obatan, dapat diterima filosonya mengenai alasan harus meminum minuman pahit sebelum yang manis karena untuk mencapai kesuksesan dalam hidup harus ada sakit dan pahitnya dahulu sebelum mendapatkan hasil yang baik dan manis. Ada simbol-simbol dalam kebudayaan dapat dijadikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan dibuktikan ilmunya. Gunakanlah hal itu! Sugestikan menggunakan ilmu dan analisisnya. Dasarkanlah logika bukan sekadar metafisiknya dan hanya bisa menerima instan. Masalah-masalah demikian hendaknya diterima sebagai kontemplasi bagi masyarakat. Perenungan bahwa yang menganut agama menerima adanya corak budaya dalam religi itu sendiri sebagai karunia-nya. Maka, dengan pemahaman demikian akan muncul sikap kritis hal yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ajaran agama yang dianut atau tidak. Sebagai anggota

masyarakat melakukan hal tersebut harus pula didasari akal sehat dan hati. Masalah merugikan orang lain atau tidak, gunakan pula pemahaman mengenai hakikat agama itu sendiri bahwa dunia ini fana. Harta dunia bersifat sementara dan akan kembali lagi kepada-Nya. Perkara dirugikan atau diuntungkan akan ada timbangannya di akhir kelak dan itu hanya urusan Tuhan. Gembargembor mengenai hukum dalam kehidupan bernegara pun hanya bersifat sementara kerena hokum yang sebenarnya dan seadil-adilnya ialah pengadilan miliki Tuhan. Carut-marut kehidupan sosial dalam kehidupan bernegara ini sebagai ujian dari Tuhan. Kita kembalikan lagi apabila kita berpikir demikian sebagai umat yang memegang religi. Alasan munculnya kasus marak menimbulkan pro atau kontra sebagai penggugah masyarakat untuk berpikir jernih di masa sekarang dengan melihat kasus langsungnya. Semua yang terjadi di dunia ini ialah pelajaran, maka Tuhan sebagai pemilik segalanya menguji masyarakat apakah akan mengolah pelajaran atau tidak? Mari memperbaiki diri!