Anda di halaman 1dari 13

Tugas

KEGAWATDARURATAN DI BIDANG THT-KL

Oleh : Etika Rahmi, S.Ked 04114705012

Pembimbing: Dr. Puspa Zuleika, Sp THT-KL, M.Kes

DEPARTEMEN ILMU THT-KL RSUP DR MOH HOESIN PALEMBANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

A. Abses Peritonsil Abses peritonsil merupakan salah satu abses leher dalam yang dapat menyebabkan komplikasi sehingga diperlukan penatalaksanaan yang optimal. Gejala Umum Odinofagi, Disfagi & Otalgia Hipersalivasi Trismus (Iritasi M.Pterygoideus Internus) Palatum Molle Oedema & Hiperemi Daerah peritonsil fluktuasi Uvula terdorong ke sisi yang sehat (biasanya unilateral) Arkus Faring asimetris, sisi yg sakit lebih rendah Tonsil sisi yg sakit terdorong ke Medial bawah, edema & Hiperemi

Diagnosis pasti abses peritonsil ditegakkan dengan ditemukannya pus pada saat melakukan aspirasi. Ada beberapa cara dalam penatalaksanaan berupa aspirasi dengan jarum, insisiabses , drainase dan antibiotik disertai tindakan tonsilektomi.

B. Angina Ludovici Angina ludovici merupakan selulitis pada ruang submandibula tanpa terbentuk abses dan keras pada perabaan. Gejala dan tanda: Nyeri tenggorok Bengkak di bawah dagu, hiperemis, dan keras pada palpasi. Lidah terangkat ke atas dan ke belakang. Dapat timbul sesak napas.

Terapi pada kasus ini yaitu trakeostomi bila terjadi obstruksi jalan napas. Antibiotik dosis tinggi, insisi pada garis tengah horizontal setinggi os hioid 34 jari di bawah mandibula, rawat inap sampai infeksi reda.

C. Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV)/vertigo BPPV merupakan gangguan keseimbangan perifer yang sering dijumpai. Penyebab BBPV idiopatik yang merupakan penyakit degeneratif, dapat juga akibat trauma kepala, labirinitis virus, neuritis vestibuler, fistula perilimfa, dan Meniere disease. Gejala yang dikeluhkan adalah vertigo yang datang tiba-tiba pda perubahan posisi kepala. Keluhan dapat disertai mual bahkan sampai muntah. Diagnosis VPPJ dapat dilakukan dengan melakukan tindakan provokasi dan menilai timbulnya nistagmus pada posisi tersebut. Dikenal tiga jenis perasat untuk memprovokasi timbulnya nistagmus yaitu perasat Dix-Hallpike, perasat Side-Lying, dan perasat Roll. Tatalaksana berupa Canalith Repositioning Treatment (CRT), perasat Liberatory, atau latihan Brandt-Daroff.

D. Meniere Disease Penyakit ini dikenal sebagai hydrops endolimfatik yaitu suatu gangguan telinga dalam (labyrinth) yang mana terdapat peningkatan volume dan tekanan endolimfe telinga dalam. Penyebab pasti penyakit Meniere ini belum diketahui. Beberapa teori menyebabkan penyakit ini, adalah: Gangguan lokal keseimbangan garam dan air. Gangguan regulasi otonom sistem endolimfe. Alergi lokal telinga. Gangguan vaskularisasi telinga dalam. Gangguan duktus atau sakus. Perubahan hubungan dinamika tekanan perilimfe dan endolimfe. Berkaitan dengan beberapa kelainan os temporal. Trauma kepala dan telinga
3

Infeksi telinga tengah Gangguan autoimmun Syphilis telinga dalam dan oleh suatu virus.

Gejala dan tanda khas penyakit Meniere yaitu Serangan pertama sangat berat berupa vertigo yang episodik Gangguan pendengaran yang berfluktuasi Tinitus serta rasa penuh dan tertekan di dalam telinga

Ketika diagnosis penyakit Meniere ditegakkan, pengobatan secara langsung perlu dilakukan untuk menghentikan atau mengurangi frekuensi dan beratnya serangan.

Terapi simptomatik 1.Sedativa (diazepam) 2. Antiemetik (proklorperazine) 3. Antivertigo (dimenhidrinat, prometazine) Istirahat dan berbaring dalam posisi yang meringankan keluhan. Fisioterapi dan Rehabilitasi

Pembedahan Dekompresi sakus endolimfatikus Labirintektomi Vestibular neurektomi Chemical labirintektomi Operasi endolimfatik shunt

E. OMSK dengan Komplikasi Peradangan mukosa telinga tengah disertai keluar cairan dari telinga tengah melalui perforasi membran timpani (gendang telinga berlubang). Cairan dapat encer atau kental, keluar dapat terus menerus atau hilang timbul. Pada OMSK tipe maligna dapat terjadi Perforasi di attik atau marginal, bau sekret khas, destruksi tulang, komplikasi ekstrakranial (gangguan pendengaran, paresis n.fasialis) dan intrakranial (abses otak, meningitis hidrosefalus, dll). Pengobatan: OMSK tipe jinak:

OMSK tipe bahaya:

Pengobatan OMSK dengan sangkaan komplikasi intrakranial: Ampicillin I.V. 200-400 mg. / Kg. /hari Chloramphenicol I.V. 4x 1-1.5 g / hari (dewasa) Metronidazol 3x 500 mg. /hari (prn) Gentamycin 3-5 mg / kg BB / hari dalam 3 dosisi bila kuman penyebabnya P. aeruginosa. Kortikosteroid, diamox, mannitol, antituberkulosis bila dianjurkan oleh bagian Kesehatan Anak atau Bagian Penyakit Dalam. Sulfametoxazole + trimetoprim menggantikan ampicillin pada kasus alergi penisilin. Sefalosporin generasi ke 3 menggantikan ampisilin dan chloramphenikol bila demam menetap.

F. Epistaksis Penyebab Lokal

Penyebab Sistemik : Penyakit Kardiovaskuler Hipertensi Infeksi DHF kehamilan Kelainan Kongenital

Sumber Perdarahan: Anterior, dari : Plexus Kiesselbachs A. ethmoid Ant (Biasa ringan & dapat berhenti spontan) Posterior, dari : A. Spenopalatina A. Etmoid post (Biasanya hebat dan sebagian besar mengalir ke nasofaring dan jarang berhenti spontan).

Penatalaksanaan:
6

Atasi keadaan akut : syok dan perdarahan hebatsegera pasang infus Pencet cuping hidung Kaustik kimia (AgNO3 20-30%) atau listrik Tampon Anterior Tampon Posterior (Bellocg) Balon kateter Foley Ligasi Arteri Setiap pemasangan tampon, harus diberikan Antibiotika.

G. Benda Asing THT-KL 1. Benda asing di laring Benda Asing tidak menutup seluruh Laring :

cunam tergantung jenis BA Benda Asing menyumbat total Laring: -5 menit dapat menyebabkan kematian

2. Benda asing di trakea Gejala : Batuk, mengi, sesak, jika masih dapat bergerakpalpatory thud, audible snap. Tindakan : Bronkoskopi bronkoskopi kaku -

3. Benda asing di bronkus

Gejala : batuk, sesak nafas, jika benda organik bersifat higroskopis akan mengembang >12 jam : atelektasis/emfisema paru Tindakan :

4. Benda asing di esofagus Gejala : Disfagia, nyeri dada di epigastrium, regurgitasi. Tindakan : lokasi benda asing.

5. Benda asing di faring Gejala :

Tindakan : lidah dan cunam

6. Benda asing di hidung Gejala : hidung tersumbat, ingus kental pada hidung yang tersumbat, berbau busuk Tindakan : dan pengait. BA ke nasofaring

7. Benda asing di liang telinga Gejala : sumbatan liang telinga, Nyeri di liang telinga. Tindakan :
8

dapat dilakukan irigasi telinga namun jika anak tidak kooperatif Narkose berupa serangga yg masih hidup, sebelum di ekstraksi dimatikan dulu dgn meneteskan Alkohol atau cloretil.

H. Tuli mendadak Tuli mendadak adalah tuli yang terjadi secara tiba-tiba, jenis tuli sensorineural, penyebabnya tidak dapat langsung diketahui, dan biasanya terjadi pada satu telinga. Definisi lain yaitu penurunan pendengaran 30 dB, paling sedikit pada tiga frekueis berurutan, waktu gradasi penurunan pendengaran kurang dari tiga hari. Etiologi (Hughes):

Gangguan imunologi

Faktor predisposisi: Kelainan hematologi Hipertensi Diabetes melitus Stres Kolesterol tinggi

Gejala klinik: Penurunan pendengaran tiba-tiba, biasanya pada satu telinga (sering pasien menyadari) Tinitus (91 %) Vertigo (42,9 %) Rasa penuh di telinga (40,7 %) Otalgia (6,3 %) Parestesia (3,5 %) Tidak jelas ada penyebab sebelumnya

Penatalaksanaan: Kortikosteroid Vasodilator Antikoagulan Fibrinolitik Inhalasi oksigen/carbogen Anti virus Vitamin/mineral Transqualizer Hiperbarik Antitrombotik

Kriteria perbaikan pendengaran: <30 dB pada 250 Hz, 500 Hz, 1000 Hz, 2000Hz dan <25 dB pada 4000 Hz > 30 dB pada 5 frekuensi -30 dB pada 5 frek. 5 frekuensi
10

I. Trauma laring Obstruksi jalan napas akibat trauma laring merupakan penyebab kematian terbanyak kedua. Trauma laring membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat. Prinsip penatalaksanaan trauma laring adalah menjaga kelancaran jalan napas dan memperbaiki/mengembalikan fungsi organ. Trauma akut laring dan trakea menurut lokasinya 1.Supraglotik: os hioid, membran hiotiroid, pita suara atas. 2.Transglotik: kartilago tiroid, meluas ke pita suara. 3.Subglotik: laring di bawah pita suara s/d cincin trakea I 4.Trakeal: cincin trakea I ke bawah

Etiologi: a. Trauma Mekanik 1. Eksterna Kecelakaan mobil, trauma tumpul leher,komplikasi trakeostomi, krikotirotomi. 2. Interna. Tindakan endoskopi, intubasi endotrakea, pemasangan pipa nasogaster. b. Luka Bakar 1.Termis: menelan, makanan cairan, makanan panas, inhalasi udara, gas panas 2.Kimiawi ( zat korosif ): cairan alkali, amoniak dll. c. Trauma penyinaran d. Trauma autogen.

Penatalaksanaan trauma laring: Trauma tumpul leher yang melibatkan laring dapat dilakukan terapi konservatif dan operatif. Terapi konservatif pd trauma laring: Jika laringoskopi langsung didapatkan :
11

hematom, laserasi minimal edema endolaring (-)

Cara terapi konservatif: pasien diistirahatkan dengan tirah baring elevasi kepala humidifikasi udara istirahat suara antibiotik kortikosteroid sistemik diobservasi paling sedikit 24 jam melihat apakah terdapat perburukan jalan nafas karena edema yang timbul

Eksplorasi terbuka dilakukan bila: 1. Laserasi melibatkan batas bebas pita atau komisura anterior. 2. Laserasi mukosa yang luas, terpaparnya tulang rawan. 3. Fraktur multipeI, dengan bergesernya Ietak tulang rawan laring. 4. Dislokasi atau avulsi aritenoid. 5. Immobilasasi pita suara

J. Obstruksi laring Penyebab obstruksi laring: Radang : difteri dan non-difteri Tumor : jinak atau ganas Kongenital : laringomalasia,trakeomalasia,lesi anatomik (selaput pita suara, stenosis, hemangioma), kelumpuhan pita suara, anomali pembuluh darah. Paresis N. rekuren laring bilateral Trauma laring dan trakea

12

Benda asing yang menyumbat laring

Gejala umum: stridor, sesak nafas, retraksi (fosa suprasternal, epigastrium,infra klavikula, interkostal), suara parau (disfonia), sianosis.

Tindakan segera: Laringoskopi direk : isap sekret (membebaskan jalan nafas) dan melihat kelainan Laringoskopi indirek : u/ orang dewasa, pasien tidak terlalu sesak

Stadium dan penatalaksanaan obstruksi laring: I. Terdapat stridor, sedikit retraksi di fosasuprasternal. Pasien tidak tampak ketakutan. Kortikosteroid & pengawasaan ketat II. Cekungan makin dalam difosa suprasternal & retraksi epigastrium

persiapan trakeostomi III. Retraksi jelas di fosa suprasternal, epigastrium, infra klavikula dan interkosta intubasi segera dilakukan, bila tidak dirawat diruang ICU trakeostomi. IV. Retraksi bertambah dalam, muka ketakutan, kulit pucat kebiruan (sianosis) Intubasi harus cepat dlakukan ( krikotirotomi ) dan diberi oksigen. Bila keadaan lebih baik maka dilakukan trakeostomi.

13