Anda di halaman 1dari 2

Sosial

: transplantasi organ merupakan suatu tindakan mulia yang melibatkan dua pihak. Yang pertama adalah donor dan yang kedua adalah resipien. Transplantasi organ dapat memberikan nilai-nilai luhur pada mayarakat, dimana kita sebagai manusia diwajibkan tolong-menolong dalam hal kebaikan. Melalui tindakan transplantasi diharapkan dapat memberikan nilai yang besar bagi kehidupan resipien.

Budaya

: dalam kehidupan sehari-hari, kita diwajibkan tolong-menolong. Dalam budaya manapun yang dianut oleh masyarakat pasti dianjurkan untuk saling berbuat baik kepada sesama dalam hal kebaikan. Dalam masalah transpalntasi organ ini sendiri belum ada budaya yang menolaknya karena masing-masing budaya pasti memiliki pandangan yang berbeda terhadap masalah transplantasi. Dengan satu niat untuk membantu sesama yang membutuhkan, pasti disetujui oleh budaya yang ada.

Agama Transplantasi organ ketika masih hidup Yang dimaksud disini adalah donor anggota tubuh bagi siapa saja yang memerlukan pada saat si donor masih hidup. Donor semacam ini hukumnya boleh. Karena Allah Swt memperbolehkan memberikan pengampunan terhadap qisash maupun diyat. Allah Swt berfirman: Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (TQS al-Baqarah [2]: 178) Namun, donor seperti ini dibolehkan dengan syarat. Yaitu, donor tersebut tidak mengakibatkan kematian si pendonor. Misalnya, dia mendonorkan jantung, limpha atau paru-parunya. Hal ini akan mengakibatkan kematian pada diri si pendonor. Padahal manusia tidak boleh membunuh dirinya, atau membiarkan orang lain membunuh dirinya; meski dengan kerelaannya. Selanjutnya Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS al-An'am [6]: 151) Sebagaimana tidak bolehnya manusia mendonorkan anggota tubuhnya yang dapat

mengakibatkan terjadinya pencampur-adukan nasab atau keturunan. Misalnya, donor testis bagi pria atau donor indung telur bagi perempuan. Sungguh Islam telah melarang untuk menisbahkan dirinya pada selain bapak maupun ibunya. Transplantasi organ yang dilakukan setelah mati Adapun transplantasi setelah berakhirnya kehidupan hukumnya berbeda dengan donor ketika pendonor masih hidup. Dengan asumsi bahwa disini diperlukan adanya penjelasan tentang hokum kepemilikan tubuh manusia setelah dia mati. Merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa setelah kematiannya, manusia telah keluar dari kepemilikan tubuhnya. Maka ketika dia memberikan wasiat untuk mendonorkan sebagian anggota tubuhnya, berarti dia telah mengatur sesuatu yang bukan haknya. Jadi dia tidak lagi diperbolehkan untuk mendonorkan tubuhnya dan dengan sendrinya wasiatnya dalam hal itu tidak sah.