Anda di halaman 1dari 27

http://reny-motz.blogspot.

com

Penentuan Vitamin K pada Tepung, Sereal, Makanan Ringan, Sarapan, dan Makanan yang Dipanggang Menggunakan Metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
ABSTRAK
Penentuan vitamin K memerlukan data komposisi makanan wakil untuk yang spesifik. Tujuan dari penenelitian ini untuk menentukan kandungan dari vitamin K (-filokuinon [K1], 2,3-dihydrophylloquinone [dK], dan menaquinone-4 [MK-4]) di dalam tepung, sereal, dan makanan yang dipanggang, termasuk sarapan, yang dilakukan di US. Sampel makanan diperoleh sebagian dari USDA Natl. Makanan dan Nutrient Analysis Program dan yang dianalisa oleh kromatografi cairan kinerja yang tinggi (HPLC). Pada tepung, roti-roti dan serealia sarapan hanya mengandung vitamin K1 dengan jumlah yang terbatas (cakupan: tidak bisa mendeteksi [ND] dalam 11.2 g/100 g), dengan cakupan luas di dK (cakupan: ND kepada 470 g/100 g). Kontrasnya, makanan-makanan yang diproses, seperti sarapan yang cepat saji sandwich-sandwich dan kue bakar, memiliki cakupan yang luas dari K1 (09 sampai 393 g/100 g)dan dK (ND kepada 722 g/100 g). Untuk setiap makanan yang telah dianalisis, konsentrasikonsentrasi K1 memiliki cakupan yang sempit, sedangkan konsentrasi-konsentrasi dK memiliki cakupan yang luas. Konsentrasi-konsentrasi MK-4 relatif rendah (- 18 sampai 40 g/100 g) yang dideteksi pada makanan sarapan yang mengandung keju dan daging. Data ini menyatakan bahwa makanan-makanan yang diproses oleh pabrik mengandung minyak tanaman sehingga menghasilkan data K1 dan dK yang besar. Kata kunci: vitamin K, filokuinon, sereal, tepung, komposisi makanan

http://reny-motz.blogspot.com

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vitamin K adalah suatu vitamin yang dapat larut dalam lemak yang berperan dalam pembekuan darah dan proses pengerasan kapur vaskuler. Filokuinon, juga yang dikenal sebagai vitamin K1, terdapat pada sayuran dan hati binatang. Vitamin K1 (filokuinon) adalah satu kofaktor yang terdapat di dalam post-translational modifikasi karboksilase pada zat kapur protein yang melibatkan proses aktivitas antihemorrhagic. Transport dan jaringan distribusi dibantu oleh lipoprotein-lipoprotein tanpa adanya pengangkut yang spesifik pada protein namun ada di dalam kloroplas dari penghasil zat hijau, yang melembagakan sumber berkenaan dengan aturan makan utama dari vitamin. Menakuinon-menakuinon berbeda dan prenylated yang lebih tinggi (K2 atau MKn rangkaian) berasal dari hasil bakteri, selagi MK4 tidak lazimnya dari kelompok ini tersebut ada bukti dari suatu jaringan yang bukan merupakan hasil bakteri alkilasi mengarahkan pada yang tidak terlindungi merupakan pemanfaatan dan peran dari menakuinon-menakuinon di dalam metabolisme vitamin K. Program Analisa Makanan dan Bahan Gizi (NFNAP), makanan-makanan yang dibuat sejenis adalah contoh kunci makanan-makanan yang dikonsumsi di Amerika Serikat sedang dianalisa untuk berbagai wujud-wujud dari vitamin K (Haytowitz, et al, 1996; Pehrsson, et al, 2000; Peterson,et al, 2002). Sereal dan tepung dipertimbangkan sebagai makanan yang sedikit mengandung vitamin K (Koivu , et al, 1998), meski berdasarkan pada suatu batasan angka dari analisis sampel dari studi yang telah dilakukan sebelumnya, makanan sereal dan tepung yang diproses dengan pemanggangan mengandung filokuinon dan dihydrophylloquinone dalam beberapa makanan (Booth , et al, 1995b). Meski produk panggangan bukanlah sumber penting dari K vitamin, namun produk ini sering di konsumsi dan oleh karena itu, vitamin K disediakan tambahan pada makanan diet. Tujuan dari studi ini untuk menentukan

http://reny-motz.blogspot.com kadar filokuinon, dihydrophylloquinone, dan MK-4 dari tepung, sereal, dan makanan panggang di dalam suplai makanan US. Penentuan kandungan vitamin K pada makanan-makanan tersebut dapat dilakukan dengan metode High Performance Liquid Sistem dari Chromatography menaquinone-4, (HPLC) filokuinon atau dan Kromatograpi Cair Kinerja Tinggi. menentukan konsentrasi-konsentrasi Kromatografi digunakan untuk

dihydrophylloquinone. Lebih lanjut, ada yang ditemukan tanpa tingkat MK-4. Sarapan yang mengandung kebanyakan tepung juga mengandung filokuinon yang sangat rendah. Secara komparatif, memproses makanan bahwa berisi minyak, seperti sandwich buat sarapan, kue dadar, wafel-wafel, dan kentang goreng, mempunyai konsentrasi filokuinon dan dihydrophylloquinone yang jauh lebih tinggi. Makanan sarapan lain, seperti gandum, dan kue kering juga merupakan sumber yang sesuai dengan aturan makan dari vitamin K. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana cara menentukan kadar vitamin K pada tepung, sereal, makanan ringan, sarapan dan makanan yang dipanggang menggunakan metode HPLC? 1.3 Tujuan Menentukan kadar vitamin K pada tepung, sereal, makanan ringan, sarapan dan makanan yang dipanggang menggunakan metode HPLC.

1.4 Manfaat Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran tentang cara menentukan vitamin K pada makanan dengan menggunakna metode HPLC.

http://reny-motz.blogspot.com

BAB II ISI

2.1 Vitamin Vitamin merupakan suatu molekul organic yang sangat diperlukan tubuh untuk memproses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi, kecuali vitamin D yang dapat dibuat dalam kulit asalkan kulit mendapat cukup kesempatan kena sinar matahari. Dalam bahan pangan hanya terdapat vitamin dalam jumlah yang relative sangat kecil, yang terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda, diantaranya ada yang berbentuk provitamin atau precursor yang dapat diubah dalam tubuh menjadi vitamin yang aktif, setelah diserap oleh tubuh, provitamin mengalami perubahan kimia sehingga menjadi satu atau lebih bentuk yang aktif. Vitamin adalah molekul organik yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam jumlah sedikit untuk kesehatan. Makhluk yang kekurangan salah satu vitamin akan menderita gejala-gejala penyakit yang berkaitan dengan vitamin tersebut (Anonim a,2008). Vitamin dibedakan menjadi dua jenis: vitamin yang larut dalam lemak meliputi vitamin A, D, E dan K dan vitamin yang larut dalam air yang terdiri dari vitamin C dan B komplek. Vitamin-vitamin yang larut dalam air bergerak bebas dalam badan, darah dan limfa. Karena sifatnya yang larut dalam air, vitamin mudah rusak dalam pengolahan dan mudah hilang karena tercuci atau terlarut oleh air, keluar dari bahan. Vitamin larut air disimpan dalam tubuh hanya dalam jumlah terbatas dan sisanya dibuang, sehingga untuk mempertahankan saturasi jaringan vitamin larut air perlu sering dikonsumsi. Meskipundemikian, pemberian vitamin larut air dalam jumlah

http://reny-motz.blogspot.com berlebihan selain merupakan pemborosan, juga mungkin menimbulkan efek yang tidak diinginkan (Winarno, 2002 dan anonim b, 2008).

Vitamin yang larut dalam lemak banyak terdapat dalam daging ikan, minyak ikan, dan biji-bijian sumber minyak seperti kacang tanah, kacang kedelai dan sebagainya. Sekali diserap dalam tubuh, vitamin-vitamin tersebut disimpan dalam hati atau jaringan-jaringan lemak. Seperti halnya lemak, vitamin memerlukan protein pengangkut untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air, maka vitamin-vitamin tersebut tidak dikeluarkan atau dieksresikan, akibatnya vitamin ini dapat ditimbun dalam tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Jika konsumsi vitamin yang larut dalam lemak berlebih, kelebihannya dapat disimpan dalam tubuh manusia, sedangkan untuk vitamin yang larut dalam air akan dikeluarkan (ekskresi). Hal inilah yang membuat kelebihan vitamin yang larut dalam lemak kadang-kadang dapat menyebabkan gejala keracunan yang jarang terjadi pada vitamin yang larut dalam air. Sebaliknya, gejala defisiensi (kekurangan) lebih sering terjadi pada vitamin yang larut dalam air karena vitamin ini tidak dapat disimpan di dalam jaringan tubuh. Beberapa vitamin baru aktif setelah mengalami aktivasi in vivo. Aktivasi vitamin larut air dapat berupa fosforilasi (tiamin, riboflavin, niasin, piridoksin) dan juga dapat membutuhkan pengikatan dengan nukleotida purin atau pirimidin (riboflavin, niasin). Vitamin larut air berperan sebagai kofaktor untuk enzim tertentu, sedangkan vitamin A dan D mempunyai sifat lebih menyerupai interaksi dengan reseptor spesifik intraselular pada jaringan target. Vitamin ditemukan di berbagai jenis makanan, buah-buahan, sayur-sayuran, sereal (biji-bijian), daging, ikan dan produk-produk susu. Kadar vitamin termasuk penyimpanan dan pengolahannya tergantung dari jenis makanan itu sendiri. Penyimpanan dan pengolahan yang lama akan mengurangi kadar vitamin di dalam makanan (Anonim b, 2008). a. Vitamin yang larut dalam lemak

http://reny-motz.blogspot.com Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E dan K. Untuk beberapa hal, vitamin ini berbeda dari vitamin yang larut dalam air. Vitamin ini terdapat dalam lemak dan bagian berminyak dari makanan. Vitamin ini hanya dicerna oleh empedu karena tidak larut dalam air. Bagian berikut memberikan gambaran terperinci dari setiap vitamin jenis ini. Vitamin larut lemak (vitaminA, D,E dan K ) diadsorbsi dengan cara yang kompleks dan sejalan dengan adsorbsi lemak. Dengan demikian keadaan-keadaan yang menyebabkan adsorbsi lemak seperti defisiensi asam empedu, ikterus dan enteritis dapat menyebabkan defisiensi satu atau mungkin semua vitamin golongan ini. Vitamin larut lemak mempengaruhi permeabilitas atau transport pada berbagai membran sel dan bekerja sebagai oksidator atau reduktor, koenzim atau inhibitor enzim. Vitamin A dan D mempunyai aktivitas mirip hormon. Vitamin-vitamin ini disimpan terutama dihati dan diekskresi melalui feses. Karena metabolismenya sangat lambat, dosis yang berlebihan dapat menyebabkan efek toksik. Vitamin A Vitamin A pada umumnya stabil terhadap panas, asam, dan alkali. Sayangnya mempunyai sifat yang sangat mudah teroksidasi oleh udara dan akan rusak bila dipanaskan pada suhu tinggi bersama udara, sinar dan lemak yang sudah tengik. Sebagian besar sumber vitamin A adalah karoten yang banyak terdapat dalam bahanbahan nabati. Tubuh manusia mempunyai kemampuan mengubah sejumlah besar karoten menjadi vitamin A. Sayuran, buah buahan yang berwarna hijau atau kuning biasanya banyak mengandung karoten. Ada hubungan langsung antara derajat kehijauan sayuran dengan kadar karoten. Semakin hijau daun tersebut semakin tinggi kadar karotennya, sedang daun daunan yang pucat seperti selada dan kol miskin kadar karoten. Wortel, ubi jalar dan waluh kaya akan karoten. Vitamin A juga terdapat pada mentega, telur, hati dan daging, dan terdapat dalam beberapa bentuk misalnya retinol (vitamin A1) dan 3-tehidroretinol (vitamin A2). Asam retinoat ( retionin,isotretionin ) merupkan hasil oksidasi grup alkohol dari retinol. Kelebihan vitamin A dalam tubuh dapat disimpan dalam hati, terutama dalam sel sel parenkim, yaitu dalam bentuk butir butir lemak yang berisi campuran rantai rantai

http://reny-motz.blogspot.com ester retinil (retinil palmitat, retinil stearat, dan retinil oleat). Sebelum dilepaskan sebagai vitamin A, ester ester tersebut mengalami hidrolisis menjadi retinol, tetapi dalam drah retinol teriokat pada protein spesifik yang disebut Retinol Binding Protein (RBP) dan diangkut ke jaringan jaringan tepi seperti mata, usus serta kelenjar ludah. Terlalu banyak vitamin A dapat menyabakan hipervitaminosis, suatu keadaan keracunan yang disebabkan oleh terlalu banyaknya konsumsi vitamin A, yaitu bila mengkonsumsi 75.000 sampai 500.000 SI (45 sampai 300 mg -karoten) setiap hari untuk jangka waktu beberapa bulan. Defisiensi vitamin A seperti xeroftalmia, adalah keadaan bila orang mengalami kekurangan vitamin A, mula mula konjungtiva mata menagalami keratinisasi, kemudian korneanya juga terpengaruh. Bila tidak diobati dapat menyebabkan kebutaan. Vitamin A berperan menjaga agar kornea mata selalu sehat. Bila kekurangan vitamin A, sel epitel akan mengeluarkan keratin, yaitu protein yang tidak larut dalam air sehingga sel sel membran akan kering dan mengeras. Keracunan vitamin A terjadi pada saat protein yang mengikatnya telah terpenuhi sehingga vitamin A yang bebas dapat menyerang sel-sel tubuh. Hal ini biasanya dapat terjadi jika seseorang menggunakan suplemen. Gejala-gejalanya adalah mual, muntah, nyeri pada perut, diare dan kehilangan berat badan. Sistem syaraf dan otot juga bisa dipengaruhi, menyebabkan gejala seperti kehilangan nafsu makan, sifat mudah marah, lelah, susah tidur, gelisah, sakit kepala dan lemah otot. Vitamin D Vitamin D merupakan vitamin yang larut dalam lemak, yang dapat disintesis oleh

manusia dan hewan. Laju sintesis vitamin D dalam kulit tergantung jumlah sinar matahari yang diterima serta konsentrasi pigmen di kulit. Vitamin tersebut kemudian diaktifkan oleh sinar matahari dan diangkut ke berbagai alat tubuh untuk dimanfaatkan atau disimpan di dalam hati. Karena itu konsumsi vitamin D tidak terlalu penting dalam pemenuhan kebutuhan vitamin D secara keseluruhan. Perana vitamin D sangat penting bagi metabolisme kalsium dan fosfor. Dengan adanya vitamin D, absorpsi kalsium oleh alat pencernaan akan diperbaiki, kalsium

http://reny-motz.blogspot.com dan fosfor dimobilisasi, pengeluaran dan keseimbangan mineral dalam darah ikut dikendalikan. Vitamin D dari makanan yang dikonsumsi diserap bersama- sama lemak dan masuk ke dalam saluran darah melalui dinding usus kecil jejunum dan ileum dan diangkut ke dalam chylomicron melalui sirkulasi limpa. Gejala kekurangan : Penyebab kekurangan vitamin D sama dengan gejala kekurangan kalsium. Tulang tidak dapat mengeras dengan cara biasa.Tulang dapat menjadi lemah seperti halnya tulang bengkok akibat berat badan.Kekurangan vitamin D dapat juga menyebabkan kelainan bentuk dan rasa nyeri pada lengan dan tungkai, punggung, torax (rongga dada) dan panggul. Kekurangan vitamin D juga merusak sistem syaraf dan otot, yang menyebabkan kekejangan otot. Kelebihan vitamin D menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium didalam darah. Kalsium dapat membentuk batu ginjal. Kadar kalsium yang tinggi di dalam darah juga dapat menyebabkan pembuluh darah mengeras, yang sangat berbahaya bagi arteri pada hati dan paru-paru dan dapat berakibat fatal. Gejala tambahan dari keracunan vitamin D adalah kehilangan nafsu makan, sakit kepala, lemah, lelah, dahaga yang berlebihan, sifat lekas marah dan lesu (Anonim c, 2008). Vitamin E Vitamin E merupakan salah satu faktor yang larut dalam lemak dan diperlukan dalam proses reproduksi tikus. Karena itu vitamin E disebut juga vitamin antisteriditas. Vutamin E tahan terhadap suhu tinggi serta asam, tetapi karena karena bersifat antioksidan, maka vitamin E mudah teroksidasi terutama bila ada lemak yang tengik, timah dan garam besi serta mudah rusak oleh sinar ultara violet. Vitamin E antara lain didapat dalam telur, susu, daging, buah-buahan, kacangkacangan dan sayur- sayuran misalnya selada dan bayam. Vitamin E membantu menstabilkan membran sel, mengatur reaksi oksidasi dan melindungi vitamin A. Dalam peranannya sebagai anti oksidan, vitamin E mempunyai pengaruh besar terhadap sel, seperti sel darah merah dan sel darah putih yang melewati paru-paru. Vitamin K

http://reny-motz.blogspot.com Vitamin K disebut juga vitamin koagulasi. Dikenal dua jenis vitamin K alam yaitu vitamin K1 (filokuinon=fitonadion) dan vitamin K2 ( senyawa menakuinon ), dan satu jenis vitamin K sintetik vitamin K1, yang digunakan untuk pengobatan , terdapat pada kloroplas sayuran berwarna hijau dan buah-buahan. Vitamin K2 disintesis oleh bakteri usus terutama oleh bakteri Gram-positif. Vitamin K sintetik yaitu K3 ( manadion ) merupakan derivat naftokuinon, dengan aktivitas yang mendekati vitamin K alam. Derivatnya yang larut dalam air, menadion natrium diposfat, didalam tubuh diubahnya menjadi manadion. Kebanyakan sumber vitamin K didalam tubuh adalah hasil sintesis oleh bakteri di dalam sistem pencernaan. Sistem pencernaan dari manusia mengandung bakteri yang dapat mensintesis vitamin K, yang sebagian diserap dan disimpan didalam hati. Tubuh perlu mendapat tambahan vitamin K dari makanan. Sumber vitamin K dalam makanan adalah hati, sayur-sayuran berwarna hijau yang berdaun banyak, sayuran sejenis kubis (kol) dan susu. Vitamin K larut dalam lemak dan tahan panas, tetapi mudah rusak oleh radiasi, asam dan alkali. Vitamin K sangat penting bagi pembentukan protrombin. Kadar protrombin yang tinggi di dalam darh mengindikasikan baiknya daya penggumpalan darah. Vitamin K juga dibutuhkan untuk pembentukan tulang. Jika vitamin K tidak terdapat dalam tubuh, darah tidak dapat membeku. Hal ini dapat menyebabkan penyakit hemoragik. Bagaimanapun, jarang terjadi kekurangan vitamin K: hanya bayi yang mudah mengalami hal tersebut. Hal ini karena sistem pencernaan bayi yang baru lahir masih steril dan tidak mengandung bakteri yang dapat mensintesis vitamin K, air susu ibu mengandung hanya sejumlah kecil vitamin K. Untuk itu bayi diberi sejumlah vitamin K saat lahir (winarno, 2002 dan anonim, 2008). Keracunan vitamin K terjadi hanya pada orang yang menerima pengganti vitamin K larut air. Gejala-gejalanya adalah hemolisis sel darah merah, penyakit kuning dan kerusakan otak.

b. Vitamin yang larut dalam air.

http://reny-motz.blogspot.com Vitamin yang tergolong larut dalam air adalah vitamin C dan vitamin - vitamin B kompleks

Vitamin C Vitamin C selain bersifat larut dalam air, merupakan vitamin yang mudah rusak, mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar, alkali, enzim serta oksidator. Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan dalam keadaan asam atau pada suhu rendah. Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat. Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversibel menjadi asam Ldehidroaskorbat. Asam L-dehidroaskorbat secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L-diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan vitamin C lagi. Asam askorbat dengan rumus C 6H8O6 memiliki rumus bangun sebagai berikut :

Gambar 2.1. asam askorbat

Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen intraseluler. Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan, kulit bagian dalam tulang, dentin dan vascular endothelium. Asam askorbat sangat penting peranannya dalam proses hidroksilasi dua asam amino prolin dan lisin menjadi hidroksi prolin dan hidroksilisin. Kolagen dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi dan juga untuk membentuk jaringan bekas luka. Vitamin C juga meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi dan membantu tubuh menyerap zat besi.

http://reny-motz.blogspot.com Sumber utama vitamin C berasal dari sayuran dan buah buahan. Jeruk, nenas, berries, jambu, brokoli, bayam, dan kubis mengandung vitamin C bermutu tinggi. Konsumsi vitamin C per hari untuk anak dan orang dewasa antara 20 30 mg, sedang untuk ibu mengandung dan menyusui perlu ditambah 20 mg. Kekurangan vitamin C akan menyebabkan sariawan atau skorbut. Vitamin B Kompleks Kelompok vitamin B termasuk dalam kelompok vitamin B kompleks yang meliputi tiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin (asam nikotinat, niasinamida), piridoksin (vitamin B6), asam pantotenat, biotin, folasin (asam folat dan turunan aktifnya, serta sianokobalamin (vitamin B12). 1) Tiamin (Vitamin B1) Tiamin dikenal juga sebagai vitamin B1. bentuk murninya adalah tiamin hidroklorida. Dalam makanan tiamin ditemukan dalam bentuk bebas atau dalam bentuk kompleks dengan protein atau kompleks protein fosfat. Bentuk yang terikat akan segera terpisah setelah terserap di duodenum atau jejunum. Tiamin merupakan bagian dari TPP, yaitu koenzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi. Sumber tiamin yang baik adalah biji-bijian seperti beras pecah kulit. Daging babi juga merupakan sumber yang sangat baik untuk tiamin. Kekurangan tiamin akan menyebabkan polyneuritis, yang disebabkan terganggunya transmisi syaraf, atau jaringan syaraf menderita kekurangan energi. Beri-beri merupakan penyakit kekurangan tiamin. Beri-beri dapat merusak sistem syaraf dan keracunan otot. 2) Riboflavin (Vitamin B2) Vitamin B2 disebut riboflavin. Riboflavin larut dalam air memberi warna fluoresens kuning-kehijauan. Riboflavin sangat mudah rusak oleh cahaya dan sinar ultra violet tetapi tahan terhadap panas, oksidator, dan asam. Riboflavin merupakan bagian dari dua enzim yaitu riboflavin fosfat yang juga disebut flavin mononukleotida (FMN) dan flavin adenosin dinukleotida (FAD). Keduanya

http://reny-motz.blogspot.com merupakan bentuk aktif riboflavin yang berperan sebagai koenzim dalam berbagai proses metabolisme. Sumber riboflavin terutama berasal dari hasil ternak. Hati, ginjal dan jantung mengandung riboflavin dalam jumlah yang tinggi. Kekurangan riboflavin dapat menyebabkan gejala seperti iritasi, kulit merah dan keretakan kulit dekat dengan sudut mata dan bibir seperti halnya sensitivitas yang berlebihan terhadap sinar (photophobia) . Hal ini dapat juga menyebabkan keretakan pada sudut mulut (cheilosis). 3) Niasin Vitamin ini sangat sedikit larut dalam air dingin, dan hanya larut sebagian dalam air panas, tahan terhadap alkali, asam, panas, cahaya dan oksidasi. Niasin sangat mudah diserap oleh usus kecil. Niasin berperan dalam reaksi enzimatik dalam tubuh atau metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, yaitu NAD dan NADP. Niasin memiliki keunikan diantara vitamin B karena tubuh dapat membentuknya dari asam amino triptofan. Niasin membantu kesehatan kulit, sistem syaraf dan sistem pencernaan. Kekurangan niasin yang parah setelah beberapa bulan mengakibatkan Pellagra (penyakit kekurangan niacin), menunjukkan gejala seperti dermatitis, diare dan dementia . Gejala kekurangan niacin lainnya adalah kehilangan nafsu makan, lemah, pusing dan kebingungan mental. Kulit dapat menunjukkan gejala dermatitis simetrik bilateral, khususnya pada daerah yang terkena sinar matahari langsung. 4) Piridoksin (Vitamin B6) Vitamin B6 terdiri dari kelompok piridina yang banayak kesamaannya satu dengan yang lain, yaitu piridoksin, piridoksal, dan piridoksamina. Vitamin B 6 bersifat larut dalam air dan relatif sangat stabil terhadap panas dan asam. Piridoksal akan rusak dalam larutan alkali. Dari tiga bentuk vitamin B 6, piridoksinlah penyimpanan. yang paling tahan terhadap pengaruh pengolahan dan

http://reny-motz.blogspot.com Vitamin B6 berperan dalam metabolisme asam amino dan asam lemak. Vitamin B6 membantu tubuh untuk mensintesis asam amino nonesensial. Selain itu juga berperan dalam produksi sel darah merah. Sumber utama vitamin B6 adalah daging, unggas dan ikan. Kekurangan vitamin B6 menyebabkan gejala kulit rusak, syaraf motorik terganggu dan kelainan darah.

5) Asam Pantotenat Asam pantotenat merupakan bagian dari koenzim A, secara komersial ditemukan dalam bentuk garam kalsium, larut dalam air, agak manis, dan stabil dalam pemasakan yang normal. Koenzim ini berperan untuk membawa molekul dalam proses pemecahan glukosa, asam lemak dan metabolisme energi. Sumber asam pantotenat banyak terdapat dalam royal jelly. Kekurangan asam pantotenat pada manusia jarang terjadi. Kekurangan asam pantetonat ditandai dengan muntah-muntah. 6) Biotin Biotin merupakan koenzim dari berbagai enzim yang ikut berpartisipasi dalam proses karboksilasi, dekarboksilasi, dan reaksi deaminasi. Biotin memainkan peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Sumber biotin terutama terdapat dalam saluran pencernaan karena mikroflora mampu membuatnya dalam jumlah yang cukup banyak. Di samping itu, jeroan, kuning telur dan khamir banyak mengandung biotin. Kekurangan biotin jarang terjadi, tetapi dapat muncul pada pasien rumah sakit yang menggunakan infus. Hal ini dapat menyebabkan gejala seperti kehilangan nafsu makan, mual, depresi, kelemahan dan kelelahan. Dosis tambahan biotin diberikan pada pasien untuk mencegah defisiensi. 7) Vitamin B12

http://reny-motz.blogspot.com Vitamin B12 adalah suatu vitamin yang sangat kompleks molekulnya, yang mengandung sebuah atom kobalt yang terikat mirip dengan besi terikat dalam hemoglobin atau magnesium dalam klorofil. Vitamin B12 dikenal sebagai kobalamina atau sianokobalamina. Vitamin B12 berperan dalam menjaga sel-sel berfungsi normal terutama sel-sel saluran pencvernaan, sistem syaraf dan sumsum tulang. Vitamin B12 juga memelihara lapisan yang mengelilingi dan melindungi serat syaraf dan mendorong pertumbuhan normalnya. Selain itu juga berperan dalam aktifitas dan metabolisme sel-sel tulang. Vitamin B12 banyak didapat dari hasil ternak terutama dalam hati. Beberapa produk nabati yang mengandung Vitamin B12 adalah oncom dari bungkil kacang tanah, dan produk fermentasi kedelai seperti tempe, tauco dan kecap. . Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kekurangan darah (anemia), yang sebenarnya disebabkan oleh kekurangan folat. Tanpa vitamin B 12, folat tidak dapat berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Gejala kekurangan lainnya adalah sel-sel darah merah menjadi belum matang (immature), yang menunjukkan sintesis DNA yang lambat. Kekurangan vitamin B12 dapat juga mempengaruhi sistem syaraf, berperan pada regenerasi syaraf peripheral, mendorong kelumpuhan. Selain itu juga dapat menyebabkan hipersensitif pada kulit. 8) Folasin Folasin atau asam folat terdiri dari tiga komponen yang terikat menjadi satu gugusan pteridina, asam para amino benzoat, dan asam glutamat. Asam folat larut dalam air, mudah dioksidasi dalam larutan asam, dan peka terhadap sinar matahari. Asam folat banyak terdapat di dalam bahan makanan baiuk dalam bentuk bebas maupun konjugasi. Hati, ginjal, khamir dan sayur-sayuran gelap banayak mengandung asam folat. Kekurangan asam folat dapat terjadi karena konsumsi rendah atau karena mengalami penyakit saluran pencernaan. Kekurangan asam folat ditandai dengan anemia,jumlah sel darah merah berkurang. 2.2 Kromatografi Cair kinerja Tinggi atau HPLC (High Performance Liquid Chromatography)

http://reny-motz.blogspot.com Prinsip kerja dari HPLC adalah sebagai berikut, dengan bantuan pompa fasa gerak cair dialirkan melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponenkomponen campuran. Karena terhadap fasa diam. Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka solut-solut tersebut akan keluar dari kolom lebih lama. Setiap komponen campuran yang keluar kolom dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Kromatogram HPLC serupa dengan kromatogram pada kromatografi gas. Seperti pada kromatografi gas, jumlah peak menyatakan jumlah komponen sedangkan luas peak menyatakan konsentrasi komponen dalam campuran. Komputer dapat digunakan untuk mengontrol kerja sistem HPLC dan mengumpulkan serta mengolah data hasil pengukuran HPLC. Beberapa senyawa organik mudah terurai (labil) pada pemanasan. Cuplikan yang labil (terurai) pada pemanasan tidak dapat dianalisis dengan cara kromatografi gas. Kromatografi cairan kinerja tinggi atau HPLC dapat menganalisis cuplikan yang labil karena HPLC dilakukan pada suhu kamar. Selain itu HPLC tidak terbatas pada senyawa organik saja tapi pada senyawa anorganik juga. Keuntungan lainnya, HPLC dapat menganalisis cuplikan yang mempunyai berat molekul tinggi atau titik didihnya sangat tinggi seperti polimer. Kromatografi cairan kinerja tinggi atau HPLC merupakan pengembangan kromatografi kolom konvensional. Dengan HPLC, ukuran partikel pengisi kolom diperkecil untuk menambah luas permukaan tempat terjadinya pemisahan. Untuk mengalirkan fasa gerak secara cepat digunakan pompa bertekanan tinggi. Dalam HPLC, fasa gerak cair dialirkan dengan bantuan pompa ke detektor. Larutan cuplikan disuntikan ke dalam aliran fasa gerak dan terjadi pemisahan di dalam kolom. Ukuran solut meninggalkan kolom bergantung pada kekuatan interaksi antara solut dengan fasa diam. perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut

http://reny-motz.blogspot.com Kromatografi cairan kinerja tinggi dapat dikelompokkan menjadi 5 jenis berdasarkan mekanisme retensinya. Kelima jenis HPLC meliputi kromatografi adsorbs, partisi, fasa terikat, penukar ion, dan ekslusi ukuran. Jenis-jenis HPLC tersebut mempunyai kekhasan dalam hal penerapan analisis (Hendayana, 2006).

2.3 Kandungan Vitamin K dalam Tepung dan Sereal 2.3.1 Penyiapan Cuplikan Kira-kira sebanyak 10 g sampel yang berupa bubuk/tepung, atau 100 g dari cairan ditimbang dengan teliti dan dimasukan kedalam suatu tabung. Bubuk atau tepung dilarutkan dalam 15 mL air hangat (kurang dari 40oC). Ditambahkan larutan fosfat 50 mL kemudian lipase sebanyak 10 g. Tabung yang telah berisi campuran diatas disentrifugasi selama 7 menit. Sampel-sampel kemudian di inkubasi pada 37 0C selama 120 menit, dan di shaker tiap 20 menit agar campuran homogen. Dilanjutkan dengan penambahan alcohol sebanyak 10 mL, potassium karbonat sebanyak 1 g dan kemudian diaduk. Ditambahkan heksan 30 mL dan pada masing-masing tabung di shaker selama 7 menit, kemudian disentrifugasi selama 1000 putaran per menit untuk 10 menit. Untuk menentukan kadar vitamin K1 yang ada dalam formula suplemen, 0,5 mL fase heksan diambil dan dimasukkan kedalam botol vial. Selain untuk menentukan kadar vitamin K pada level-level endogen, 5 mL adalah pemulihan (pada tingkatan ini, ekstrak dapat terjaga pada suhu < 4 0C dibawah nitrogen untuk 24 jam jika diperlukan). Sebelum dilakukan analisa kromatografi, heksan dipindahkan dibawah nitrogen dan residu yang dihasilkan dilarutkan kembali kedalam metanol (1,00 mL). 2.3.2 Analisis HPLC Sistem Kromatografi digunakan untuk menentukan konsentrasi-konsentrasi dari

menaquinone-4, filokuinon dan dihydrophylloquinone. Derivatnya berpijar dari

http://reny-motz.blogspot.com kuinon-kuinon yang disuntik adalah dalam-talian yang dihasilkan yang menggunakan kolom reaktor ( 20 50 juta) yang dikeringkan kemudian direaksikan dengan seng (200 mesh). Panjang gelombang eksitasi adalah 244 nm dan panjang gelombang emisi/ pancaran adalah 430 nm. Fase gerak terdiri dari 2 bahan pelarut. Bahan Pelarut/solvent A adalah metanol dengan 10 mM ZnCl2, 5 mM asam cuka dengan 5 natrium asetat mM disiapkan sebelumnya. Bahan Pelarut/solvent B adalah klorid metilena. Untuk melakukan prosedur elusi gradien yang berikut : (1) pompa suatu 90:10 (-A:B) campuran pada 0,60 mL/min dari suntikan untuk pertama 1150 min; (2) pada 1150 min, mengubah laju alir itu kepada 0,80 mL/min dan komposisi kepada 70:30 ( A:B); (3) pada 1950 min, mengubah komposisi itu untuk 90:10 ( A:B); (4) pada 2350 min, mengubah laju alir itu kepada 060 mL/min; dan (5) pada 240 min, berakhir siklus. Kurva standar disiapkan dari masing-masing suntikan. Fluoresensi menyatakan MK4, filokuinon, dan dihydrophylloquinone, yang bersifat linear dengan keserongan dari garis yang membagi dua bagian. Oleh karena itu, kalibrasi titik tunggal dilakukan secara terus menerus sehingga akan menghasilkan keserongan dari garis nol. Kuantitas yang dicapai oleh perbandingan yang langsung dari rasio luas puncak (MK4, dan filokuinon atau dihydrophylloquinone) diturunkan dari patokan kalibrasi kepada yang dihasilkan oleh contoh. Pengintegrasian puncak dan kalkulasi-kalkulasi konsentrasi dilaksanakan menggunakan Waters Millennium32 perangkat lunak, versi 320. Konsentrasi filokuinon dan dihidrofilokuinon dari beras, roti dan pasta dipaparkan dalam table I. .Tidak ada MK-4 yang dideteksi pada sample, yang mana diharapkan, MK-4 memberikan yang terbatas pada jaringan binatang (Booth dan Suttie 1998). Konsentrasi dari variasi filokuinon memberikan suatu yang bisa tidak mendeteksi (ND) dalam beras, pasta, bagels, dan jagung tortillas pada 460 g/ 100 g di dalam roti. Remah-remah roti yang dibumbui mempunyai filokuinon konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan roti yang tawar dengan jumlah remah-remah sedikit, karena dengan mengeringkan tumbuh-tumbuhan bumbu yang terkandung pada roti tersebut maka roti tersebut lebih kaya akan filokuinon (Booth dan Suttie 1998). Roti yang lain mempunyai konsentrasi filokuinon lebih rendah (06 ke 112 g/100 g).

http://reny-motz.blogspot.com Rentang konsentrasi Dihydrophylloquinone untuk tepung, spagheti, remah-remah roti yang dibumbui, dataran sejenis kue Inggris, bagels, dan Roti Perancis 470 g/100 g dikategorikan refrigerated biscuits. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada konsentrasi filokuinon atau dihydrophylloquinone diantara roti bakar atau muffin. Hasil ini sama pada konsentrasi filokuinon dan dihydrophylloquinone pada tepung dan sereal (Booth , et al, 1995a; Booth , et al, 1995b; Booth , et al, 1996; Koivu , et al, 1998; Bolton-Smith , et al, 2000). Kontrasnya, gandum dan roti putih mempunyai konsentrasi-konsentrasi filokuinon yang lebih tinggi di dalam studi ini bandingkan dengan laporan-laporan sebelumnya (Booth , et al, 1995a). Semua sampel kulit jagung taco dan refrigerated biscuits mempunyai konsentrasi dihydrophylloquinone yang relative tinggi bila dibandingkan kandungan filokuinonnya karena penambahan minyak terhidrogen selama proses pabrikasi akan diubah dengan perumusan kembali (reformulasi) yang dirancang untuk membuang v:trans asam lemak dari produk-produk makanan. Jagung mempunyai jumlah filokuinon yang sedikit, seperti pada filokuinon di dalam jagung tortillas (ND). 2.4 Hasil-Hasil dan Pembahasan Tabel 1. Kandungan Phylloquinone (K1) dan dihydrophylloquinone (dK) dari roti, beras, dan pasta

http://reny-motz.blogspot.com

Konsentrasi filokuinon dan dihidrofilokuinon dari beras, roti dan pasta dipaparkan dalam table I. .Tidak ada MK-4 yang dideteksi pada sample, yang mana diharapkan, MK-4 memberikan yang terbatas pada jaringanl binatang (Booth dan Suttie 1998). Konsentrasi dari variasi filokuinon memberikan suatu yang bisa tidak mendeteksi (ND) dalam beras, pasta, bagels, dan jagung tortillas pada 460 g/ 100 g di dalam roti. Remah-remah roti yang dibumbui mempunyai filokuinon konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan roti yang tawar dengan jumlah remah-remah sedikit, karena dengan mengeringkan tumbuh-tumbuhan bumbu yang terkandung pada roti tersebut maka roti tersebut lebih kaya akan filokuinon (Booth dan Suttie 1998). Roti yang lain mempunyai konsentrasi filokuinon lebih rendah (06 ke 112 g/100 g). Rentang konsentrasi Dihydrophylloquinone untuk tepung bleaching, spagheti, remahremah roti yang dibumbui, dataran sejenis kue Inggris, bagels, dan Roti Perancis 470 g/100 g dikategorikan refrigerated biscuits. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada konsentrasi filokuinon atau dihydrophylloquinone diantara roti bakar atau muffin. Hasil ini sama pada konsentrasi filokuinon dan dihydrophylloquinone pada tepung dan sereal (Booth , et al, 1995a; Booth , et al, 1995b; Booth , et al, 1996; Koivu , et al, 1998; Bolton-Smith , et al, 2000). Kontrasnya, gandum dan roti putih mempunyai konsentrasi-konsentrasi filokuinon yang lebih tinggi di dalam studi ini bandingkan dengan laporan-laporan sebelumnya (Booth , et al, 1995a). Semua sampel kulit jagung taco dan refrigerated biscuits mempunyai konsentrasi dihydrophylloquinone yang relative tinggi bila dibandingkan kandungan filokuinonnya karena penambahan minyak terhidrogen selama proses pabrikasi akan diubah dengan perumusan kembali (reformulasi) yang dirancang untuk membuang v:trans asam lemak dari produk-produk makanan. Jagung mempunyai jumlah filokuinon yang sedikit, seperti pada filokuinon di dalam jagung tortillas (ND).

http://reny-motz.blogspot.com

Tabel 2. Kandungan Phylloquinone (K1), dihydrophylloquinone (dK), dan menaquinone-4 (MK-4) dari makanan sarapan, makanan ringan, sereal, dan gandum

Konsentrasi Filokuinon, dihydrophylloquinone, dan menaquinone-4 di dalam sereal, dan gandum dipaparkan pada tabel 2. Sampel makanan dideteksi sejumlah menaquinone-4 dengan variasi konsentrasi dari 18 g/ 100 g di dalam bacon dan telor 40 g/100 g di dalam sosis, telor, dan sandwich keju pada restoran cepat saji. Konsentrasi-konsentrasi filokuinon di dalam makanan sarapan ini bergerak dari ND untuk krim dari jagung giling kasar gandum dan jagung kepada 211 g/100 g pada sereal. Konsentrasi filokuinon yang rendah di dalam sereal (Booth , et al, 1993; Booth , et al, 1995a; Bolton-Smith , et al, 2000) dan makanan dari gandum mentah mempunyai konsentrasi filokuinon yang lebih tinggi bila dibandingkan makanan dari

http://reny-motz.blogspot.com gandum yang dimasak karena efek pelarutan dengan penambahan air sejumlah vitamin K. selama

preparasi. Kontrasnya, dari krim jagung dan krim gandum dan jagung tidak dideteksi

Dedak dan granula alami sereal mempunyai konsentrasi filokuinon jauh lebih tinggi dibanding yang lain berbagai serealia sarapan. Daging babi, telor, dan sandwich keju dari makanan siap saji mempunyai jumlah filokuinon yang sama dibandingkan dengan hasil-hasil sebelumnya (Booth , et al, 1995a; Booth , et al, 1996); bagaimanapun, tidak ada dihydrophylloquinone dideteksi di dalam studi ini, di dalam kontras kepada laporan-laporan yang sebelumnya (Booth , et al,) Kontrasnya, konsentrasi dihydrophylloquinone mempunyai suatu cakupan luas pada makanan, sugestifnya dari divergen penggunaan dan jumlah dari minyak terhidrogen yang digunakan di dalam pabrikasi proses. Dengan perancangan kembali yang digunakan untuk menghilangkan minyak yang terhidrogenasi dari produk-produk makanan, dan konsentrasi dihydrophylloquinone dapat dikurangi dalam makanan tersebut. Tabel 3. Kandungan Phylloquinone, dihydrophylloquinone, dan menaquinone-4 dari makanan yang dipanggang

Tabel 3 berisi filokuinon dan dihydrophylloquinone data untuk makanan yang dibakar. Konsentrasi-konsentrasi filokuinon dimulai dari 47 g/100 g di dalam

http://reny-motz.blogspot.com campuran kue untuk 393 g/100 g didalam kue blueberry. Laporan-laporan sebelumnya untuk sejenis kue blueberry mempunyai konsentrasi filokuinon lebih rendah dan dihydrophylloquinone (Booth , et al, 1996). Di dalam studi ini, blueberry merupakan sejenis kue yang mempunyai kandungan paling sedikit dari dihydrophylloquinone untuk makanan yang dipanggang, lain halnya dengan coklat chip yang dimasak, dengan 722g dari dihydrophylloquinone/100 g kue. Hasil analisa Vitamin K dari berbagai kue donat hampir sama dengan laporan-laporan yang sebelumnya (Booth , et al, 1995a). konsentrasi dari Filokuinon dan dihydrophylloquinone mempunyai cakupan luas, dari penggunaan yang menyimpang dan jumlah dari minyak-minyak filokuinon yang kaya akan hydrogenated dan digunakan di dalam kegiatan pabrik. Di dalam kontras, pi (22:7) yang dibekukan mempunyai suatu cakupan yang sempit pada setiap jenis makanan. Persiapan tidak mengubah filokuinon atau dihydrophylloquinone dalam isi makanan-makanan ini. Dari bunga, menaquinone-4 yang ada sebagian , cara lainnya dimasukkan dalam keadaan tidak ada wujud yang lain dari vitamin K.Pengujian lebih lanjut menunjukkan bahwa ramuan-ramuan ini terutama dari lemak babi, berisi produkproduk yang terbuat dari binatang. Sejauh pengetahuan laporan 1st dari menaquinone4 yang baik dibakar. Sehubungan dengan filokuinon dan dihydrophylloquinone isi dari kerak-kerak pastel membuat dari pemendekan yang berbasis minyak nabati, menaquinone-4 yang dibuat dengan lemak babi rendah. Roti, tepung, dan sereal sarapan secara umum dibatasi dari sumber filokuinon atau dihydrophylloquinone, dengan a cakupan yang sempit untuk setiap makanan yang diberi, konsisten dengan asumsi sebelumnya (- Booth dan Suttie 1998). Makananmakanan yang diproses, seperti sandwich-sandwich sarapan cepat saji, gandum, kue dadar, wafel-wafel, dan barang-barang yang dibakar, mengandung vitamin K, dengan cakupan luas dari filokuinon dan dihydrophylloquinone yang berhubungan dengan suatu makanan. Ada data yang tersedia mengenai aktivitas biologi dihydrophylloquinone, walaupun 1 studi manusia menyatakan bahwa tidak akan serupa dengan wujud orangtua nya, filokuinon (- Booth , et al, 2001). Bagaimanapun, dihydrophylloquinone muncul untuk berfungsi sebagai suatu kofaktor untuk vitamin Kdependent karboksilase, dan sudah ditunjukkan untuk mendukung vitamin K dependent karboksilasi vitamin Kdependent protein-protein melibatkan di dalam pembekuan/pengentalan. Oleh karena itu, sumber yang berkenaan dengan aturan

http://reny-motz.blogspot.com makan dari dihydrophylloquinone berasal dari arti penting para ahli kesehatan untuk melibatkan aturan makan konseling vitamin K untuk pasien-pasien di coumadin, atau yang lain mencegah pembekuan darah lisan berbasis kumarin. Di dalam daging yang berisi sarapan kerak-kerak makanan-makanan dan pastel bahwa berisi MK-4, filokuinon dan dihydrophylloquinone untuk dikonsumsi keluarga. Meski a penelitian terbaru (Geleijnse , et al, 2004) menandai masukan-masukan menakuinon total bahwa MK-4, dari >33 g/d berpendapat pengaruh yang bersifat melindungi timbulnya dari penyakit jantung atau bahkan serangan jantung, asosiasi antara masukan MK-4 dan hasil-hasil fisiologis masih secara relatif tidak dikenal. Lebih lanjut, ada beberapa penelitian mengungkapkanmasukan MK-4 umum, terutama disebabkan oleh kekurangan MK-4 yang terdapat pada komposisi makanan.

http://reny-motz.blogspot.com

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Roti-roti, beras, dan pasta-pasta merupakan sumber yang miskin akan phyllokuinon dan dihydrophylloquinone. Lebih lanjut, ada yang ditemukan tanpa tingkat MK-4. Sarapan yang mengandung kebanyakan tepung juga mengandung filokuinon yang sangat rendah. Secara komparatif, memproses makanan bahwa berisi minyak, seperti sandwich buat sarapan, kue dadar, wafel-wafel, dan kentang goreng, mempunyai konsentrasi filokuinon dan dihydrophylloquinone yang jauh lebih tinggi. Makanan sarapan lain, seperti gandum, dan kue kering juga merupakan sumber yang sesuai dengan aturan makan dari vitamin K. Sandwich untuk sarapan yang berisi daging juga mengandung menaquinone-4. Secara bersama data ini menyarankan bahwa memproses makanan-makanan yang mengandung filokuinon kaya minyak merupakan suatu sumber tak diduga untuk filokuinon dan dihydrophylloquinone.

http://reny-motz.blogspot.com

Daftar Pustaka Anonim a, 2008, http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin. Anonim b, 2008, http://www.food-info.net/id/vita/fat.htm. Anonim c, 2008, http://www.food-info.net/id/vita/fat.htm. Bolton-Smith C, Price RJ, Fenton ST, Harrington DJ, Shearer MJ. 2000. Compila-tion of a provisional UK database for the phylloquinone (vitamin K1) content of foods. Br J Nutr 83(4):38999. Booth S, Sadowski J, Pennington J. 1995a. Phylloquinone (vitamin K-1) content of foods in the U.S. Food and Drug Administrations Total Diet Study. J Agric Food Chem 43(6):15749. Booth SL, Sadowski JA, Pennington J. 1995b. Phylloquinone (vitamin K-1) con-tent of foods in the U.S. Food and Drug Administrations Total Diet Study. J Agric Food Chem 43:15749. Booth SL, Pennington JA, Sadowski JA. 1996. Dihydro-vitamin K1: primary food sources and estimated dietary intakes in the American diet. Lipids 31(7):71520. Booth SL, Suttie JW. 1998. Dietary intake and adequacy of vitamin K. J Nutr 128(5):7858. Davidson K, Booth S, Dolnikowski G, Sadowski J. 1996. Conversion of vitamin K-1 to 2,3-dihydrovitamin K1 during the hydrogenation of vegetable oils. J Agric Food Chem 44:9803.

http://reny-motz.blogspot.com Ferreira, D. W., David B. Haytowitz, Michele A. Tassinari, James W. Peterson, Sarah L. Booth, 2006, Vitamin K Contents of Grains, Cereals,Fast-Food Breakfasts, and Baked Goods, Vol. 71, Institute of Food Technologists, USA. Geleijnse JM, Vermeer C, Grobbee DE, Schurgers LJ, Knapen MH, van der Meer IM, Hofman A, Witteman JC. 2004. Dietary intake of menaquinone is associated with a reduced risk of coronary heart disease: the Rotterdam Study. J Nutr 134(11):31005. Haytowitz DB, Pehrsson PR, Smith J, Gebhardt SE, Matthews RH, Anderson BA. 1996. Key foods: setting priorities for nutrient analysis. J Food Comp Anal 9(4):33164. Hendayana, S., 2006, Kimia Pemisahan Metode Kromatografi dan Elektroforesis Modern, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Indyk, H.E dan David C.W, 1997, Vol. 122 (465469) , Vitamin K in Milk and Infant ,Formulas: Determination and Distribution of Phylloquinone and Menaquinone-4, New Zealand. Koivu T, Piironen V, Mattila P. 1998. Phylloquinone (vitamin K1) in cereal products. Cereal Chem 75:1136. Pehrsson P, Haytowitz D, Holden J, Perry C, Beckler D. 2000. USDAs national food and nutrient analysis program: food sampling. J Food Compos Anal 13:37990. Peterson JW, Muzzey KL, Haytowitz D, Exler J, Lemar L, Booth SL. 2002. Phylloquinone (vitamin K-1) and dihydrophylloquinone content of fats and oils. JAOCS 79:6416. Suttie J.W., 1985, Vitamin K. In: Diplock AD, ed. Fat-soluble vitamins: their biochemistry and applications. Heinemann, London.

http://reny-motz.blogspot.com Thane C, Paul A, Bates C, Bolton-Smith C, Prentice A, Shearer M. 2002. Intake and sources of phylloquinone (vitamin K-1): variation with socio-demographic and lifestyle factors in a national sample of British elderly people. Brit J Nutr 87:60513. Winarno, F.G., 2002, Kimia Pangan dan Gizi, Edisi 9, Gramedia, Jakarta.