Anda di halaman 1dari 7

BAB I Tinjauan Pustaka

1.1 Definisi Campak adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak-anak
1

Campak disebabkan oleh virus Paramyxovirus yang memiliki gejala

klinis yang terdiri dari 3 stadium, yakni stadium masa tunas, prodormal, dan stadium erupsi. 2 Masa inkubasi 10-12 hari, stadium prodormal ditandai bercak koplik pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan, koriza dan batuk yang semakin berat. Stadium akhir dengan ruam makulopapular di leher, muka tubuh, lengan, hingga kaki berturut-turut dan disertai dengan demam tinggi.2 1.2 Epidemiologi Vaksin campak telah mengubah pola epidemiologi campak secara dramatis. Dulunya, di Amerika Serikat campak menyebabkan infeksi universal pada anak-anak dimana 90% anak mendapatkan infeksi campak sebelum berusia 15 tahun. Morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan penyakit campak telah menurun sehubungan dengan dikenalnya vaksin campak. Angka kejadian berkurang dari 313 kasus/100.000 populasi pada tahun 1956-1960 menjadi 1.3 kasus/100.000 pada tahun 1982-1988. 2 Di Indonesia, menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0.7%) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0.77%).1

Campak merupakan penyakit endemis, terutama di negara sedang berkembang. Di Indonesia penyakit campak sudah dikenal sejak waktu lama. Pengalaman menunjukkan bahwa epidemic campak di Indonesia timbul secara tidak teratur. Di daerah perkotaan epidemic campak terjadi setiap 2-4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Telah diketahui bahwa campak menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering dijumpai ialah bronkopneumonia (75.2%), gastroenteritis (7.1%), ensefalitis (6.7%), dan lain-lain (7.9%).1 1.3 Etiologi 1,2 Campak adalah virus RNA dari family Paramyxoviridae genus Morbili virus. Virus campak berada di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam. Virus tetap aktif minimal dalam 34 jam pada temperature kamar, 15 minggu dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperature 35 derajat Celcius, dan beberapa hari dalam suhu 0 derajat Celcius. Virus tidak aktif pada pH rendah. Virus campak menunjukkan antigenisitas yang homogen. Infeksi dengan virus campak memicu pembentukan neutralizing antibody, komplemen fixing antibody dan hemaglutinin inhibition antibody. Imunoglobulin IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak, muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi setelah 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terus terukur. IgM menunjukkan pertanda baru terkena infeksi atau baru mendapatkan vaksinasi, sedangkan IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibody IgA sekretori dapat dideteksi dari sekret nasal dan terdapat di seluruh saluran napas. Daya efektivitas vaksin virus campak

yang hidup dibandingkan dngan virus campak yang mati adalah adanya IgA sekretori yang hanya dapat ditimbulkan oleh vaksin virus campak hidup. 1.4 Patogenesis 2 Penularan campak terjadi secara droplet melaui udara, sejak 1 sampai 2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Virus masuk ke dalam limfatik local, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuclear, kemudian mencapai kelenjar getah bening regional, disini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuclear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak (sel Worthin), sedangkan limfosit T (T suppressor dan T helper) yang rentan terhadap infeksi, turut aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 56 hari setelah infeksi awal terbentuklah focus infeksi, yaitu ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih dan usus. Pada hari 9-10, focus infeksi yang berada di epitel saluran napas dan konjungtiva, akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada 1 sampai 2 lapis sel, pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan tampak suatu ulserasi kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, yang dapat tanda pasti untuk menegakkan diagnosis.

Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makupapular pada hari ke 14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi pada kulit. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami deficit sel T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis, tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel yang nekrotik di epitel nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dll. Dalam keadaan tertentu pneumonia juga dapat terjadi, selain itu campak dapat menyebabkan gizi kurang. 1.5 Manifestasi Klinis dan Diagnosis 1 Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari, diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas yaitu diawali dari belakang telinga menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan, kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh, dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan kemudian mengelupas. Pada stadium prodormal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonik campak ( bercak koplik ). Meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua kasus manifestasinya jelas. Pada pasien yang mengidap gizi kurang, ruam dapat berdarah dan mengelupas atau bahkan pasien meninggal sebelum ruam timbul. Diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu. Seperti pada pemeriksaan sitologi ditemukan sel raksasa pada lapisan

mukosahidung dan pipi, pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM spesifik. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal. Diagnosis banding antara lain rubella, demam skarlatina, ruam akibat obat, eksantema subitum, dan infeksi stafilokokus.

1.6 Diagnosis2 Biasanya dibuat hanya dari gambaran klinis khas, konfirmasi laboratorium jarang diperlukan. Selama stadium prodormal dapat ditemukan sel raksasa multinuklear pada pulasan mukosa hidung. Virus dapat diisolasi pada biakan jaringan, dan diagnosis didukung dengan kenaikan titer antibody yang dapat dideteksi pada serum pada fase akut dan konvalesens. Angka sel darah putih cenderung rendah dengan limfositosis relatif. Pada ensefalitis campak, pungsi lumbal dapat menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit, dengan kadar glukosa normal. 1.7 Komplikasi Utama 1,3,4 Beberapa komplikasi utama yang dapat terjadi pada campak yaitu : Laringitis akut Bronkopneumonia Ensefalitis SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis) Otitis media Enteritis Konjungtivitis Dan lain-lain

1.8 Pengobatan 1 Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simptomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan anti konvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak pada penyulit dapat dirawat inap, diberikan

vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila ditemukan malnutrisi diberikan 1500 IU tiap hari. Apabila terdapat penyulit, maka diberikan obat untuk mengatasi penyulit yang timbul yaitu : - Bronkopneumonia diberikan antibiotic Ampisilin 100 mg per kg BB per hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan Kloramfenikol 75 mg per kg BB per hari intravena dalam 4 dosis dan Oksigen 2 liter/menit sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai 3 hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberculin dilakukan seteah anak sehat kembali ( 3-4 minggu kemudian) karena uji tuberculin biasanya negative atau anergi pada saat anak menderita campak. Terjadi anergi karena adanya gangguan delayed hipersensitifity disebabkan oleh sel Limfosit T yang terganggu fungsinya. - Enteritis, pemberian cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi. - Otitis media, diberikan klotrimoksasol sulfametoksasol (TMP sulfametoksasol 4 mg per kgBB per hari dibagi dalam 2 dosis. - Ensefalopati perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga kebutuhan untuk mengurangi edem otak disamping pemberian kortikosteroid. Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah. 1.9 Pemantauan 3 Pada kasus campak dengan komplikasi bronkopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau adanya infeksi terhadap tuberculosis. Pantau gejala klinis serta lakukan uji tuberculin 1-3 bulan setelah penyembuhan. 1.10 Diagnosis Banding4 Adapun beberapa gejala yang menyerupi campak berupa : Eksantema subitum, rubella, infeksi karena echovirus, virus Koksaki, Adnovirus, Mononukleosis nukleosa, Toksoplasmosis,

Meningokoksemia, Skarlet fever dan ruam karena obat.

1.11

Prognosis1,3 Biasanya akan sembuh setelah 7-10 hari setelah ruam muncul. Kematian biasanya disebabkan

oleh komplikasi yang mungkin timbul, seperti encephalitis dan bronkopneumonia. Angka kematian di AS menurun pada tahun-tahun ini sampai tingkat rendah untuk semua kelompok umur, terutama karena keadaan sosioekonomi membaik tetapi juga karena terapi antibacterial efektif untuk infeksi sekunder. 1.12 Pencegahan 1 Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Pada tahun 1963, telah dibuat 2 macam vaksin campak : 1) Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonstone B) 2) Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium) Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan tidak dipakai lagi karena efek proteksinya yang rendah dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat. Dosis baku minimal pemberian vaksin campak adalah 1.000 TCID-50 atau sebanyak 0.5 ml, dengan cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan