Anda di halaman 1dari 19

Time Line Perselisihan Rothschild vs Bakrie November 2011 Pada waktu itu diberitakan, Nathaniel Rothschild, pemilik 11%

saham Bumi Plc sekaligus mitra kongsian Grup Bakrie, sempat menulis surat kepada Ari Hudaya. Isinya kurang lebih mempertanyakan penempatan dana investasi Bumi Resources di sejumlah pihak yang terafiliasi, yakni Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau, senilai kurang lebih 867 juta dollar AS. Rothschild menginginkan agar dana itu dicairkan untuk membayar sejumlah kewajiban Bumi Resources kepada para krediturnya. Pada waktu itu, pihak Bumi Resources tidak memberikan tanggapan. Desember 2011 Bakrie justru menggaet taipan Indonesia lainnya, Samin Tan, untuk masuk ke Bumi Plc. Samin Tan, kala itu meminjam dana US$ 1 miliar kepada Standard Chartered dengan bunga 5,6% plus LIBOR. Jangka waktu pinjaman adalah selama 5 tahun. Hingga akhirnya, Samin Tan diangkat menjadi Chairman Bumi Plc menggantikan posisi Indra Bakrie, yang menjadi Co-Chairman. Adapun, Rothschild yang sebelumnya menjabat Co-Chairman terdepak ke posisi direktur non eksekutif. Hal ini yang lantas menimbulkan spekulasi bahwa Rothschild sakit hati atas perlakuan Grup Bakrie. Belakangan, muncul spekulasi bahwa Samin Tan juga marah lantaran investasinya di Bumi Plc yang semula 1 miliar dollar AS sudah anjlok menjadi 140 jutaan dollar AS hanya dalam waktu sembilan bulan. Ia sangat marah pada Bakrie, seperti Anda marah jika Anda meminjam 1 miliar dollar AS untuk berinvestasi dan sekarang menjadi kacau, tulis Reuters mengutip sumbernya. 24 September 2012 Manajemen Bumi Plc menyatakan akan menyelidiki kemungkinan penyelewengan keuangan pada Bumi Resources dan Berau Coal Energy. Pada hari yang sama, pasca tudingan penyelewengan keuangan di BUMI dan BRAU, Ari Hudaya Direktur Utama BUMI mundur dari posisi Non-Executive Director Bumi Plc. 11 Oktober 2012 Grup Bakrie memutuskan untuk bercerai dari kongsi dengan dua partnernya di Bumi Plc, yakni Nathaniel Rothschild dan Samin Tan. Grup Bakrie menawarkan proposal untuk melakukan tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham Bumi Resources Tbk (BUMI). Adapun skenarionya adalah Grup Bakrie yang kini menguasai 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan sekitar 10,3% saham BUMI. Selanjutnya sisa saham BUMI yaitu sekitar 18,7% akan dilunasi Grup Bakrie dengan pembayaran tunai. Penukaran saham Bumi Plc dengan saham BUMI ditargetkan sudah selesai sebelum natal tahun ini. Selain mengambil kembali saham BUMI, Grup Bakrie juga berencana untuk membeli 84,7% saham BRAU yang dikuasai oleh Bumi Plc. Transaksi ini ditargetkan sudah selesai sebelum 30 Juni 2013.

Rencana Grup Bakrie ini merupakan pilihan terbaik untuk menyelamatkan aset-aset batubara terbesar dan terbaik di Indonesia, tegas Fong. 15 Oktober 2012 Rothschild memutuskan untuk keluar dari jajaran direksi Bumi Plc. Selain itu, Rotschild bersumpah akan terus melawan dari luar perusahaan. Dia pun melayangkan surat pengunduran dirinya (15/10) kepada Samin Tan, Chairman Bumi Plc. Isi surat itu antara lain: Saya khawatir bahwa saya telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan jajaran direksi Bumi Plc. Para pemegang saham sudah diperlakukan tidak adil pada proposal senilai US$ 1,2 miliar yang diajukan oleh Bakrie untuk membatalkan perjanjian antara perusahaan yang tercatat di London terhadap dua perusahaan batubara Indonesia, jelas Rothschild. Perjalan konflik ini sebenarnya sudah menarik sejak awal bahkan sebelum konfilk ini terjadi. Nat Rothschild menulis kepada media, Saya sangat menyesal mengakui bahwa saya adalah pihak yang membawa Bakrie ke London, dengan kata lain Rothschild adalah orang yang membukakan jalan kepada Bakrie untuk masuk ke Londong, dan sekarang malah Rothschild yang menyesal. Penyesalan tersebut terindikasi karena awalnya Rothschild mengira, melalui Bakrie ia dapat mengambil alih aset tambang terbesar di Indonesia. Memang dasar akal-akalan Yahudi. Akan tetapi Bakrie yang menyadari hal tersebut mengambil langkah cepat untuk mengajak, Samin Tan, salah satu pengusaha lokal, untuk mengamankan saham Bumi Plc agar tidak diambil alih Rothschild. Seperti yang pernah diucapkan oleh salah satu petinggi Bakrie yang sempat dikutip diatas, Rencana Grup Bakrie ini merupakan pilihan terbaik untuk menyelamatkan aset-aset batubara terbesar dan terbaik di Indonesia, dan ini memang satu-satunya jalan untuk menangkal serangan pangeran Yahudi Eropa yang memang telah lama mengincar aset kekayaan Nusantara. KOMPAS.com - Prahara menerpa Bumi Plc. Perusahaan hasil kongsi dua konglomerasi, keluargaBakrie dan Nathaniel Rothschild, ini membentuk tim independen untuk menyelidiki keganjilan laporan keuangan dalam anak usahanya. Apa yang terjadi? Bukanlah hal lazim, suatu perusahaan menggelar rapat direksi pada dini hari. Namun, para petinggi Bumi Plc. memutuskan melakukan hal itu. Sekitar pukul 4.00 dini hari, Senin (24/9/2012), di negeri Ratu Elizabeth, mereka menggelar conference call. Maklum, para pengambil keputusan di perusahaan ini tengah berada di beberapa belahan Bumi yang berbeda. Menurut sumber KONTAN, sekitar delapan pengambil keputusan di Bumi Plc. berpartisipasi dalamconference call tersebut. Selain mereka, hadir pula seorang penasihat hukum. Apa masalah yang begitu penting dan mendesak yang memaksa rapat pada dini hari tersebut? Tak lain, menyangkut keberadaan dokumen yang sampai ke direksi Bumi Plc. Dokumen yang disebut-sebut berasal dari whistle blower tersebut konon menuding adanya keganjilan laporan

keuangan aliasfinancial irregularities di PT Bumi Resources Tbk, anak usaha Bumi Plc di Indonesia. Samin Tan, Chairman Bumi Plc saat ditemui KONTAN, Jumat pekan lalu (28/9/2012), membenarkan adanya pembahasan tersebut. Ia pun mengaku turut serta dalam conference call tersebut. Samin menyatakan, pembicaraan tersebut berlangsung singkat. Intinya, direksi memutuskan untuk mengeluarkan pengumuman bahwa Bumi Plc. akan membentuk tim investigasi berkaitan dengan tuduhan penyimpangan pelaporan keuangan yang terjadi di Bumi Resources. Sayang, Samin Tan tidak bersedia merinci isi pertemuan tersebut. Ia hanya menyatakan, tudingan dariwhistle blower tersebut sebenarnya isu lama yang pernah merebak sekitar setahun silam. Toh, direksi mengambil keputusan untuk mengeluarkan pengumuman pada pukul 07.00 waktu London tentang pembentukan tim investigasi independen. Itu keputusan direksi berdasarkan saran dari lawyer, bukan dari saya saja. Saya justru sempat meminta penundaan waktu agar pembahasannya bisa lebih jelas, terang Samin. Dan, seperti telah banyak diberitakan, hari itu Bumi Plc mengumumkan rencana pembentukan tim independen berkaitan dengan tuduhan telah terjadi keganjilan laporan keuangan, terutama di Bumi Resources, di mana Bumi Plc menguasai 29 persen persen. Bumi juga menyatakan, investigasi itu berfokus pada sejumlah dana pengembangan (development fund) di Bumi Resources. Menyusul pengumuman tersebut, di hari yang sama, Ari Hudaya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Non Eksekutif Bumi Plc. Rilis Bumi Plc tidak menyebutkan alasan Ari mundur. Yang jelas, ekses kejadian tersebut, Senin (24/9/2012), harga saham Bumi Plc di London Stock Exchange anjlok 24,66 persen menjadi 147,60 pence dari posisi akhir pekan sebelumnya di 195,9 pence per saham. Namun, sebenarnya, harga saham Bumi Plc telah meluncur turun sebelum pengumuman tersebut. Seorang sumber KONTAN yang tak ingin disebut namanya mengatakan, sebenarnya beberapa manajemen Bumi Plc sudah menerima surat kaleng dari whistle blower tadi, sepekan sebelum pengumuman rencana pembentukan tim investigasi. Jadi, apakah rumor surat kaleng ini telah beredar ke pasar sehingga memicu kejatuhan saham Bumi Plc? Tidak jelas. Tudingan penyelewengan dana Sebenarnya apa yang menjadi bahan bakar sang whistle blower tersebut? Seperti telah disebut sebelumnya, jika merujuk pengumuman Bumi Plc, tak lain adalah pencatatan development fund di Bumi Resources dan development asset di Berau Coal. Dalam laporan keuangan Bumi Plc tahun 2011 hal 23 disebutkan adanya penghapusan akun senilai 247 juta dollar AS milik Bumi Resources dan 75 juta dollar AS milik Berau Coal. Penghapusan ini dilakukan

karena auditor Bumi Plc, Pricewaterhouse Coopers LLP tidak bisa membuktikan aset dasar (underlying asset) dari sejumlah dana tersebut. Sementara James Kallman, Managing Partner Mazars Indonesia yang menjadi auditor Bumi Resources, kepada Reuters mengatakan bahwa Bumi Resources telah mengungkapkan data yang benar. Sekarang mari kita tengok sebentar laporan keuangan Bumi Resources dan Berau Coal tahun 2011. Dalam laporan keuangan Bumi Resources tahun 2009, 2011, dan semester I 2012, disebutkan dana yang jumlahnya persis sama seperti yang dipermasalahkan Bumi Plc, yakni 247 juta dollar AS. Dalam laporan keuangannya, Bumi Resources tercatat menjual 20 persen saham anak usahanya yang bernama Gallo Oil Ltd kepada Florenceville Financial Ltd (Florenceville) 28 Desember 2009 silam. Gallo Oil adalah pemilik dua konsesi ladang minyak dan gas di Yaman. Nilai penjualan sebesar 290 juta dollar AS. Bumi mengklaim nilai investasi mereka atas 20 persen saham Gallo Oil adalah 247 juta dollar AS. Bumi pun mencatatkan selisih keuntungan transaksi itu sebagai laba penjualan investasi. Namun, transaksi tersebut batal pada 21 April 2011 karena Florenceville belum juga berhasil memperoleh pendanaan untuk akuisisi tersebut. Bumi Resources pun kembali menjadi pemilik 99,99 persen Gallo Oil dan laba penjualan investasi pun terpaksa mereka hapus. Adapun perihal Berau Coal, dalam laporan keuangan tahun 2011 disebutkan, dana 75 juta dollar AS itu mereka gunakan pada 26 Januari 2010 untuk membeli premium convertible unsecured loan notes (surat utang) dari Chateau. Berau Coal tidak mendapat bunga atas pembelian surat utang itu. Belakangan surat utang itu dikonversi menjadi kepemilikan saham di Chateau Asset Management SPC, sebuah perusahaan di kepulauan Cayman untuk dan atas nama ASEAN Mining Development Segregated Portfolio. ASEAN Mining Development Segregated Portfolio, seperti dalam penjelasan laporan keuangan Berau Coal 2011, adalah sebuah dana investasi dengan target akuisisi pertambangan batubara dan aset yang berkaitan dengan batubara. Termasuk juga, teknologi ramah lingkungan dengan aplikasi komersial pada pertambangan di ASEAN. Pada 30 September 2011, Berau menetapkan bahwa nilai wajar dari transaksinya itu menurun menjadi 55 juta dollar AS. Selisih kerugian itu kemudian mereka catatkan sebagai rugi penurunan nilai. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada penjelasan lagi dari pihak Bumi Plc mengenai apa sebenarnya yang terjadi. Amir Sambodo, Direktur Non Eksekutif Bumi Plc yang coba dihubungi KONTAN, mengaku tidak punya kewenangan untuk berbicara. Sementara Sony Harsono, Direktur Non Eksekutif Bumi Plc yang juga disambangi KONTAN di kantornya mengelak untuk dimintai konfirmasi. Asal tahu saja, kedua orang non executive director ini membawahi komite audit Bumi Plc. Sementara Ari Hudaya yang dihubungi KONTAN menolak berkomentar. Ia pun enggan

menjelaskan alasannya mundur dari posisi direktur non eksekutif Bumi Plc. Siapa bermain api? Lantas, siapa yang bermain api dalam kasus Bumi Plc ini? Bumi Resources punya versi mereka sendiri. Situasi saat ini tidak menguntungkan dan merupakan isu internal antara beberapa pemegang saham yang memutuskan untuk membukanya keluar, ujar Dileep Srivastava, Direktur Bumi Resources, kepada Bloomberg. Lebih jauh, Dileep menuding, kejadian ini merupakan upaya untuk merusak nilai yang melekat pada bisnis Bumi Resources dengan cara menciptakan persoalan internal dan membocorkannya kepada publik. Sayang, Dileep tidak menyebut jelas siapa pihak yang dia maksud dan motifnya. Namun, jika menengok setahun ke belakang, bisa jadi ini adalah konflik antara kubu Bakrie dan Nathaniel Rothschild. Merujuk pemberitaan Financial Times, pada November 2011, Nathaniel Rothschild, pemilik 11 persen saham Bumi Plc sekaligus mitra kongsian Grup Bakrie, sempat menulis surat kepada Ari Hudaya. Isinya kurang lebih mempertanyakan penempatan dana investasi Bumi Resources di sejumlah pihak yang terafiliasi, yakni Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau, senilai kurang lebih 867 juta dollar AS. Rothschild menginginkan agar dana itu dicairkan untuk membayar sejumlah kewajiban Bumi Resources kepada para krediturnya. Tujuannya tentu agar beban bunga utang Bumi Resources berkurang. Ia juga menginginkan Bumi Resources melakukan pembenahan keuangan yang radikal. Tak terdengar kabar tanggapan dari pihak Bumi. Belakangan, pada Desember 2011, Bakrie justru menggandeng Samin Tan masuk ke Bumi Plc. Samin Tan, kala itu meminjam dana 1 miliar dollar AS kepada Standard Chartered dengan bunga 5,6 persen plus LIBOR. Jangka waktu pinjaman adalah selama 5 tahun. Samin Tan pun lantas diangkat menjadi Chairman Bumi Plc menggantikan Indra Bakrie, yang menjadi Co-Chairman. Adapun, Rothschild yang sebelumnya menjabat Co-Chairman didepak ke posisi direktur non eksekutif. Muncul spekulasi, Rothschild sakit hati. Belakangan, muncul spekulasi bahwa Samin Tan juga marah lantaran investasinya di Bumi Plc yang semula 1 miliar dollar AS sudah anjlok menjadi 140 jutaan dollar AS hanya dalam waktu sembilan bulan. Ia sangat marah pada Bakrie, seperti Anda marah jika Anda meminjam 1 miliar dollar AS untuk berinvestasi dan sekarang menjadi kacau, tulis Reuters mengutip sumbernya. Namun, kepada KONTAN, Samin Tan menegaskan, ia tak memiliki niat bertindak usil kepada Grup Bakrie. Saya sudah sejak tahun 1997 berkenalan dengan Nirwan Bakrie dan menjadi teman akrab. Di mana logikanya, saya berbuat demikian? ujarnya.

Liputan6.com, Jakarta : Perseteruan yang melanda Bumi Plc dengan Nathaniel Rothschild akhirnya berakhir untuk kemenangan di pihak Bakrie. Upaya pemisahan dengan emiten di bursa London itu tinggal menunggu pengesahan pada 30 Mei 2013. Pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tampaknya menanggapi dingin kemenangan yang diperoleh Bakrie. Pada transaksi perdagangan saham, Jumat (22/2/2013), hingga pukul 10.28 WIB, harga saham Bumi Resources yang banyak terkait dalam transaksi Bumi Plc, justru melemah 40 poin (4,35%) ke level 880 per saham. Namun transaksi saham perusahaan tambang batu bara ini terbulang cukup ramai. Tercatat telah terjadi transaksi jual beli saham BUMI sebanyak 6.428 kali dengan saham berpindah tangan sebanyak 589.623 saham dengan nilai Rp 276,4 miliar. Nilai transaksi dari pergerakan aktif saham BUMI ini lebih banyak dibandingkan 7 kelompok usaha Bakrie lain yang tercatat di papan perdagangan BEI. Selain BUMI, hampir saham kelompok Bakrie yang tertekan pada perdagangan sesi pagi ini. Hanya Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) yang mampu menguat 2 poin (1,82%) ke level 887 per saham. Sementara saham perusahaan media Bakrie, Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang sebelumnya terus menguat, justru kali ini melemah 10 poin (1,61%) ke level 513 per saham. Pergerakan saham VIVA ini tak lepas dari isu penjualan saham perusahaan kepada kelompok usaha MNC milik Hary Tanoesoedibjo. Seperti diketahui, Juru Bicara kelompok usaha Bakrie, Christopher Fong melaporkan perseteruan Bumi Plc yang melibatkan Rothschild dan Bakrie akhirnya dimenangkan kubu Bakrie. Dengan jumlah suara pendukung mencapai 60%, Bakrie tinggal selangkah lagi untuk menuntaskan langkah perceraian dengan Bumi Plc. (Shd) INILAH.COM, Jakarta - Kisruh antara Bakrie dan Rothschild tampaknya semakin seru. Kabar paling hangat menyebutkan, Senin ini (18/2) pihak Bakrie akan bertemu dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjelaskan kecurangan yang dilakukan Rothschild. Dengan penjelasan tersebut, OJK diharapkan akan membatalkan transaksi di 2010. Seperti diketahui, di 2010 Bakrie dan Rothschild melakukan barter saham. Dalam barter itu Bakrie melepas 5,2 miliar saham (25%) PT Bumi Resources Tbk senilai Rp13 triliun (Rp2.500 per saham) kepada Rothschild. Sedang Bakrie mendapat 90,1 juta saham (43%) BUMI Plc (dulu Vallars Plc) milik Rothschild dengan harga GBP 10 per saham. Dalam perjanjian tukar guling saham itu pihak Bakrie mengajukan sejumlah syarat. Di antaranya saham pengendali dan direksi BUMI Plc dikendalikan pihak Indonesia. Syarat ini dibuat agar kekayaan alam dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat, seperti diamanahkan oleh pasal 33 UUD, kata Nirwan Bakrie kepada INILAH.COM.

Tapi, sayang, syarat itu dilanggar Rothschild. Nathanie (Nat) Rothschild, co-founder BUMI Plc, ingin menjadi pemegang saham pengendali. Tak hanya itu, Nat pun mengincar kursi direktur utama dan mengganti 14 dari 16 direktur BUMI Plc. Salah satu calon direktur yang akan ditempatkan Nat di BUMI Plc adalah pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Untuk membendung niat buruk Nat, Bakrie pun memilih bercerai. Caranya, lewat tukar guling 23,8% saham BUMI Plc dengan 10,3% saham Bumi Resources. Selain itu, Bakrie juga berniat membeli 18,9% saham Bumi Resources seharga US$278,3 juta. Nah, pekan lalu, BUMI Plc menyetujui propsal tersebut. Hanya saja, transaksi itu harus disetujui RUPS yang akan digelar 21 Februari. Masalah inilah tampaknya yang akan disampaikan pihak Bakrie kepada OJK, Senin ini. Diharapkan, dengan adanya pelanggaran yang dilakukan Rothschild, OJK membatalkan transaksi pada 2010. Artinya, saham Bumi Resources dan Berau harus kembali ke tangan investor dalam negeri. Peluang Bakrie untuk mengambil kembali Bumi Resources dan Berau dari tangan BUMI Plc memang cukup besar. Sebab, jika mengacu kepada UU Pasar Modal, Rothschild sebagai pemegang saham pengendali baru BUMI Plc wajib membeli saham Bakrie yang tidak menyetujui pengambialihan pemegang saham pengendali tersebut. Tidak hanya itu. Berdasarkan aturan yang berlaku, Rothschild harus membeli saham Bakrie di BUMI Plc dengan harga pada saat transaksi 2010, yakni GBP 10 per saham. Seperti diketahui, gara-gara krisis Eropa, saat ini harga saham BUMN Plc dikabarkan telah turun di bawah GBP 3 per saham. Nah, sekarang semuanya ada di tangan OJK. Jika tak ingin hasil bumi dikuasasi oleh asing, mestinya OJK mempertimbangkan rencana Bakrie untuk membeli kembali saham-saham Bumi Resources dan Berau yang saat ini berada di tangan BUMI Plc. [mdr]
INILAH.COM, Jakarta Tuduhan penyimpangan dana atas PT Bumi Resources (BUMI) jadi pemicu utama kerontokan harga sahamnya. Padahal, tuduhan tersebut dinilai tidak masuk akal. Ada maksud terselubung? Pada sesi pertama perdagangan Selasa (25/9/2012), saham PT Bumi Resources (BUMI) ditransaksikan melemah 10 poin (1,47%) ke angka Rp670 dengan intraday tertinggi Rp680 dan terendah Rp590. Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, kalau perusahaan Tbk adalah terbuka, siapa pun bisa melakukan audit. Melihat dari kasus Bumi Plc mau mengaudit atau investigasi ke dalam silahkan saja selama perusahaan Tbk tersebut tidak masalah, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (25/9/2012). Melihat dari kasus Bumi Plc yang menurut Willy dihancurkan harganya, dengan alasan tuduhan penyelewengan dana, sungguh tidak masuk akal. Sebab, setiap perusahan Tbk kalau mau menggunakan dananya harus lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), paparnya. Willy mempertanyakan, mengapa saat RUPS para pemegang saham menyetujuinya. Dan andaikata ada kecurigaan kenapa mereka tidak meminta diadakan RUPS Luar Biasa (RUPSLB).

Tujuannya, untuk meminta pertanggungjawaban dan bukannya menyanyikannya di media massa, tutur Willy. Tentang auditor, lanjut dia, tentunya mereka telah menelaah dengan kemampuan regulasi-nya. Juga, kenapa saham Bumi plc sudah jatuh sehari (Jumat) sebelum press release tentang investigasi pada Senin (24/9/2012)? kata dia mempertanyakan. Menurutnya, Vallar plc, banker dan pengacara, tentu telah melakukan due dilligence menyeluruh saat mau aksi korporasi reverse take over PT BumiResources Tbk. Kenapabaru dipermasalahkan sekarang? timpal dia. Willy menengarai adanya tujuan terselubung di balik upaya menghancurkan harga dan menghembuskan issu. Untuk mendapatkan harga murah. Wahai investor cerdiklah. Masalah seperti ini sudah sering terjadi di bursa kita, tandas dia. Dia mencontohkan saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang harganya rontok tapi isunya tidak terbukti dan pada akhirnya PGAS pun rebound balik. Begitu juga dengan BUMI. Menurut dia, isu ini tidak akan mempengaruhi kinerja maupun produktivitas perusahaan. Dan, masalah yang di-blow up sekarang adalah masalah tahun berapa? Dia mempertanyakan, apakah kinerja PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrieland Development (ELTY), PT Bumi Resouces Mineral (BRMS), PT Borneo Lumbung Energi (BORN) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) juga harus ikut terpengaruh, lagi Willy mempertanyakan. Sebelumnya, Direktur Bumi Plc Ari Hudaya mengundurkan diri dari jabatannya menyusul adanya tuduhan penyimpangan dana di PT Bumi Resources (BUMI). Ari sebelumnya pernah menjabat sebagai CEO Bumi Plc sampai Maret 2012 silam. "Bapak Ari Hudaya sudah mengundurkan diri dari jabatan direktur non eksekutifnya di Bumi Plc, efektif 24 September 2012," kata Direktur dan Sekretaris Korporasi BUMI, Dileep Srivastava. Menurut Dileep, Ari sengaja melepas jabatan tersebut untuk lebih fokus membangun bisnis di BUMI, perusahaan tambang grup Bakrie. Saat ini, Ari masih menjabat sebagai Presiden Direktur BUMI, perusahaan yang 29% sahamnya dikuasi Bumi Plc.

JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendapat hantaman serius dari induknya sendiri, Bumi Plc. Perusahaan investasi asal London ini berniat mengaudit kinerja operasi dan keuangan BUMI dengan alasan menemukan keganjilan, sebenarnya memiliki maksud tertentu. Pengamat Ekonomi Universitas Pancasila Agus S Irfani menduga ada permainan dari Bumi Plc sendiri untuk mendapatkan saham BUMI di harga rendah. Logikanya begini, kalau pemilik perusahaan melihat adanya penyelewengan, umumnya dilakukan peneguran secara tertutup, karena memang selayaknya pemilik menjaga citra perusahaannya. Dalam kasus ini, kenapa malah di-blow up ke publik melalui media massa? Saya mencurigai ada permainan Bumi Plc sendiri untuk menurunkan harga saham BUMI lalu membelinya dari bawah, kata Agus saat dihubungi, Jumat (28/9).

Banyak konspirasi yang melatarbelakangi aksi Bumi Plc. Salah satu yang paling santer terdengar, Rothschild sedang "bermain-main" dengan anak usahanya di Indonesia ini untuk tujuan tertentu. Langkah Bumi Plc, yang didalangi Rothschild, kabarnya dimulai dari surat kaleng yang berasal dari Jakarta. Surat tersebut menyebut adanya kejanggalan atas kinerja perusahaan batubaranya di Indonesia. Bumi Plc langsung memberi pernyataan kepada publik untuk melangsungkan audit investigasi. Sontak saja, saham Bumi Plc dan BUMI langsung melorot pada awal pekan. Analis PT Lautandhana Securindo, Willy Sanjaya mengaku, sebagai perusahaan global dan tercatat di Bursa London Bumi Plc seharusnya tidak mengambil langkah terburu-buru. Apalagi sumbernya tidak relevan. "Ini dari surat kaleng yang dikirim Jakarta. Ini ada apa? Menurunkan harga BUMI dengan maksud apa?" kata Willy. Pengumuman audit BUMI oleh Bumi Plc ini, lanjut Willy, menjadi sulit "dicerna" mengingat awalnya Rothschild melalui Vallar Plc yang ngebet masuk sebagai pemegang saham. Rothschild pasti telah melalui proses uji tuntas (due dilligence), dan jika menemukan kejanggalan tidak mungkin perusahaan tetap nafsu membeli saham BUMI di 2010. Waktu ambil-alih BUMI tentu sudah melewati due dilligence. Masak nggak ketahuan, ada aspek penyimpangan," imbuhnya. Wily meminta investor tidak terpancing dan ikut menurunkan harga saham BUMI. Tentu ada skenario besar dalam aksi Bumi Plc kali ini. "Selama BUMI masih beroperasi, KPC tetap berproduksi tentu tidak masalah. Investor harus jeli," tegasnya. Menurut Agus Irfani, kemunduran CEO Bumi Plc Ari Saptari Hudaya menunjukkan bahwa benar sedang terjadi perselisihan kembali antara kelompok usaha Bakrie dengan Rothschild di Bumi Plc. Ini mengingatkan kita Nathaniel Rothschild, pendiri Bumi Plc, sempat berupaya take over posisi CEO beberapa waktu lalu. Rothschild ingin mendepak orang-orang Bakrie dari Bumi Plc, papar Agus. Sayangnya, mantan Presiden Direktur Bumi Plc Ari Saptari Hudaya menolak berkomentar ketika dikonfirmasi. Saya sudah bukan direksi Bumi Plc, bukan wewenang saya menjawab pertanyaan itu, ujar Ari. Selama periode 1924 September 2012, harga saham Bumi Plc anjlok tajam 30,53 persen dari 282 pence menjadi 195,9 pence. Penurunan tajam ini jauh lebih besar dari penurunan harga-harga saham serupa di bursa London. Saham Xstrata, Rio Tinto, Anglo American dan Glencore, masing-masing hanya turun 5,37 persen, 3,82 persen, 4,72 peersen dan 3,02 peersen pada periode yang sama. Kelihatannya isu ini dihembuskan untuk mendapatkan harga murah. Itu terlihat dari pemberitaan terkini dari Bumi Plc yang berencana menjual kepemilikannya di BUMI, jelas Agus.

Pada penutupan perdagangan Kamis (27/9/2012), saham BUMI sudah menghijau dan ditutup pada level Rp730, naik 60 poin (8,96 persen) dari periode sebelumnya. Saham perseroan sempat berada pada level tertinggi Rp770 dan terendah Rp660. Contoh kasus perusahaan yang menyimpang dari GCG : Pada saat ini, santer beredar rumor di kalangan pasar modal mengenai PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Yakni, pemerintah akan memberikan bailout alias dana talangan kepada BUMI yang saat ini memiliki masalah segudang yang belum terselesaikan. Pertama, BUMI memiliki utang yang cukup besar sehingga banyak pihak yang pesimistis akan kemampuan perusahaan batubara ini dalam menyelesaikan kewajibannya. Total pinjaman BUMI per Juni 2012 adalah US$ 3.789,63 juta. Kedua, beberapa waktu lalu, BUMI dituding melakukan penyelewengan dana oleh Bumi Plc. Bumi Plc menegaskan akan melakukan investigasi yang berfokus pada dana pengembangan yang besar di BUMI dan aset di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), yang semua dihapuskan nilainya menjadi nol dalam akun Bumi Plc per 31 Desember 2011, kecuali investasi US$ 39 juta di laporan keuangan konsolidasi. Ketiga, setelah dituding melakukan penyelewengan dana oleh Bumi Plc, outlook peringkat utang BUMI diturunkan oleh sejumlah perusahaan pemeringkat internasional. Mereka adalah Moody's Investor Service dan Standard & Poor's. Pemangkasan outlook peringkat utang tentunya akan berdampak pada upaya BUMI untuk mendapatkan akses ke pasar modal. Di mana investor mempertanyakan kemampuan perusahaan batubara ini dalam mengembalikan pinjamannya. Banyaknya permasalahan itu yang kemudian memicu mencuatnya rumor bailout tersebut. Saat ini, BUMI merupakan salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia. Berdasarkan data RTI pada hari ini, nilai kapitalisasi BUMI mencapai Rp 14,125 triliun dan menduduki posisi ke 55 di Bursa Efek Indonesia. Pertanyaan yang mengemuka saat ini adalah apakah layak BUMI mendapatkan bailout? Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menjelaskan, bailout merupakan usaha penyelamatan yang kalau tidak dilakukan dampaknya bisa sistematis atau sangat besar terhadap negara. Namun, Satrio menilai, BUMI tidak layak mendapatkan bailout dari pemerintah. Dia sangat menyayangkan jika dana pemerintah yang bersumber dari pajak masyarakat digunakan untuk menyelamatkan BUMI. Sebab, ia menilai, good corporate governance (GCG) BUMI tergolong jelek. Pembayaran utang anak usaha grup Bakrie ini sejak 2008 kerap mengalami rescheduling. Sementara itu, pendapatan yang diperoleh perseoran bukannya dipakai untuk melunasi utang malah diinvestasikan lagi dengan bunga yang lebih kecil dibandingkan utangnya. Analisis: Menurut saya jika di lihat dari GCG, perusahaan ini sudah mulai dalam kondisi yang tidak baik atau krisis, oleh karena itu sebaiknya pemerintah atau pun para pemegang saham lebih memperhatikan perusahaan tersebut dan mencarikan solusi yang tepat untuk dapat

memecahkan permasalahan perusahaan tersebut sehingga dapat terselesaikan dengan baik, dan tidak ada yang merasa dirugikan.
Kembali pada persoalan kisruh Bumi Plc, ia menilai, jika Bumi tidak mencatatkan sahamnya di London Stock Exchange, maka rekayasa Bumi Plc tidak akan terdeteksi sebagai upaya untuk merugikan investor lainnya. "Ini memperlihatkan bahwa kualitas pasar modal Indonesia sangat lemah dan memalukan," tegas Deni. NERACA JAKARTA Penjelasan manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) soal audit laporan penyimpangan laporan keuangan yang dituduhkan Bumi Plc masih menyisakan pertanyaan besar, meskipun perseroan telah menggelar public expose. Pasalnya, tidak hanya investor yang belum puas terhadap penjelasan BUMI, tetapi juga PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Direktur Penilaian BEI Hoesen mengatakan, masih ada beberapa penjelasan yang disampaikan BUMI yang belum jelas. Oleh karena itu, pihaknya masih akan terus menunggu hasilnya laporan tersebut. "Hari ini batas waktu penyerahan laporan dari paparan publik kemarin, kami akan tunggu dan kita lihat dari statement-statement verbal kemarin, namun masih ada beberapa yang belum jelas, justru yang kita tunggu," katanya di Jakarta, Kamis (4/10). Menurutnya, perseroan sudah bersikap kooperatif, namun dari lima isu yang ditanyakan oleh BEI hanya empat yang sudah terjawab. Sementara Kepala Riset dari PT MNC Securities, Edwin Sebayang mendesak BEI bisa menuntaskan masalah BUMI secepatnya dan jangan sampai berlarut larut. Dia menegaskan, seharusnya ada kejelasan dari BUMI untuk mengklarifikasi masalah ini agar tidak membingungkan investor, Sebagai perusahaan publik, akan lebih bijaksana jika BUMI memberikan penjelasan secara detail apa yang sedang terjadi sebenarnya."papar Edwin. Lanjut Edwin, langkah otoritas BEI mewajibkan BUMI dan BRAU menggelar paparan publik merupakan hal yang sangat tepat dan jangan hanya sekedar menggugurkan sebuah kewajiban, Saya rasa apa yang dilakukan BEI pada dua emiten itu untuk melakukan paparan publik agar seluruh investor dapat mendengar dan menanyakan secara langsung," terang Edwin. Pro Aktif OtoritasBursa Sebaliknya, pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani menuturkan, sebelum BEI atau Bappepam memberikan sanksi kepada BUMI atau Berau atas dugaan menggelapkan dana sekitar US$ 647 juta harusnya otoritas investigasi terlebih dahulu, Otoritas bursa harus mempunyai data sendiri, jangan dari hasil dugaan saja. Lagi pula BEI atau Bappepam mempunyai kewenangan untuk memeriksa kedua perusahaan tersebut, tegas Agus. Bahkan, untuk memastikan bahwa tuduhan Rostchild terhadap Bumi atau Berau juga perlu diperiksa juga. Pasalnya, hal ini bisa jadi ini permainan Rostchild untuk bisa menguasi Bumi Plc secara penuh. Menurut dia, BEI atau Bappepam harus pergi ke Inggris untuk bekerjasama dengan pihak bursa di London untuk memastikan dugaan ini. Bahkan kalau perlu, BEI atau Bappepam harus melakukan investigasi juga kepada pihak Rostchild. Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga, otoritas harusnya tahu lebih dulu daripada publik karena dia menjadi tumpuan kepercayaan dari publik. "Ini sudah jelas bahwa kedua perusahaan tersebut tidak jelas, terutama caranya menyikapi

persoalan dengan induknya Bumi Plc. Jadi publik juga belum tahu mengapa Bumi Plc ingin adakan investigasi kepada mereka. Sekarang mestinya ada lembaga terpercaya yang berani menyatakan masalah tersebut begini-begitu, utamanya lembaga otoritas, supaya jangan sampai masalah ini menjadi semakin tidak jelas," tegasnya. Sementara analis Trust Securities Reza Priyambada menegaskan, investor jangan terlalu berharap banyak apa yang disampaikan BUMI. Alasannya, semua disampaikan direksi BUMI hanya pernyataan hal-hal umum saja. "Tudingan atau klarifikasi yang dituduhkan tidak akan terjawab. Kami sudah meyakini bahwa pernyataan mereka bakalan seperti itu, seperti kami tidak bangkrut, kami akan baik-baik saja, mereka akan memberikan jawaban kalau mereka akan survive," cibirnya. Dia menuding, paparan public hanya upaya manajemen BUMI untuk mengatakan kondisi perseroan baik-baik saja. Oleh karena itu, Reza menyakini bahwa tentang hubungan antar manajemen antara BUMI dengan Bumi Plc tidak akan dibeberkan kepada publik, pihak BUMI akan bilang bahwa tidak terjadi apa-apa didalam manajemen. Padahal kasus ini sangat unik, dimana Bapak perusahaanya yaitu Bumi Plc yang mengadukan anak perusahaannya yaitu BUMI. Oleh karena itu, Bapepam sebagai otoritas penagwas pasar modal harus melakukan pemeriksaan ulang dalam isu ini atau melakukan mediator kepada kedua belah pihak yaitu BUMI dengan Bumi Plc,tuturnya. Menurut Reza, terkait nilai saham BUMI yang naik dalam perdagangan saham dikarenakan saham ini merupakan saham spekulasi dimana sahamnya tergantung pihak-pihak dibelakangnya yang menggerakkannya. Biasanya saham yang mempunyai sentimen negatif akan mengalami penurunan tetapi saham BUMI tidak.Saham BUMI merupakan saham yang dibenci sekaligus saham yang dirindu keberadaan dalam pasar modal, katanya. SuspensiBUMI Bagi Dewan pakar Masyarakat Investor Indonesia Johanes Soetikno, sebenarnya pihak BUMI mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mudah, tapi tampaknya sengaja dibuat dikotomi. Apakah itu mungkin untuk mendapatkan dana murah karena belum mendapatkan barang yang cukup, atau maksud lainnya. ujarnya. Suspensi menurut Johannes merupakan pisau bermata dua, sebagai salah satu emiten yang cukup besar. Adanya suspensi lanjut Johannes di satu sisi bisa merugikan investor dan di sisi lain ada kepentingan untuk menjatuhkan harga. Terlepas dari itu semua, menurut dia kemungkinan dalam permasalahan ini bisa muncul dua kepentingan, yaitu kepentingan menurunkan harga dan kepentingan lainnya yaitu melihat ini sebagai peluang. Itulah yang juga menyebabkan saham BUMI bisa mengalami penurunan kemudian naik cukup signifikan. Sebelumnya pihak BEI telah meminta penjelasan akan isu-isu yang berkembang di publik, ada lima isu yang antara lain, pertama, tentang laporan keuangan. Kedua, kewajiban BUMI yang sudah jatuh tempo, ketiga penjualan mitra usaha, keempat, rating yang turun dan terakhir klarifikasi soal Bumi Plc. Otoritas bursa merasa masih ada yang belum jelas, khususnya terkait klarifikasi soal Bumi Plc. Karena masih dipertanyakan ada investasi atau tidak. Dan karena itu, pihak BEI menilai tidak

perlu waktu lama menganalisa kasus ini, Kita jangan terlalu terburu-buru, mungkin saat paparan publik ada kata yang terlewat tentang klarifikasi tersebut, kata Direktur Penialai BEI Hoesen. Keraguan investor dan otoritas bursa nampak jelas, disaat Direktur BUMI Ari Saptari Hudaya dalam paparan public insidentil Selasa (2/10), tidak menjelaskan secara jelas terkait munculnya masalah tersebut. Dirinya tidak menjawab secara lugas ketika ditanya soal langkah Bumi Plc yang akan melakukan audit investigasi terhadap BUMI. Apakah audit itu merupakan upaya pengambilalihan saham milik grup Bakrie atau ada upaya dari pemegang saham untuk menghancurkan sahamnya? Justru dalam menghadapi permasalahan ini, Ari meminta kepada semua pihak, khususnya media untuk bersikap dewasa dan menilai sendiri terhadap apa yang terjadi. Bahkan mengenai rumor tersebut pun dirinya menganggap hanya sebatas emosional yang dibuat di ruang pemberitaan. Kalau pemegang saham menghancurkan perusahaannya sendiri apakah itu pemegang saham? Apakah itu pembahasan yang baik? Hei, kita sudah besar, jangan emosional. Silahkan judge. Saya meminta media untuk logic, Whatever you write will affect my stakeholders, tandasnya. Ari menegaskan, jika aksi audit investigasi ini menjadi strategi salah satu pihak untuk mengambil BUMI, dia memastikan dirinya siap untuk melakukan apa pun untuk melindungi BUMI. Hal itu dilakukan karena dia mengaku terlibat secara emosional dalam pembangunan dan pengembangan BUMI, meskipun dirinya bukan sebagai pemegang saham. Kalau ada kepentingan, saya akan cari, saya uber,jelasnya. Dia bahkan bersuara lantang terhadap rencana audit investigasi induk usahanya, Bumi Plc, perusahaan investasi kerja sama Bakrie, Samin Tan dan Nathaniel Rothschild. Surat (itu) dilayangkan tanpa didiskusikan dengan manajemen. Apa ini mendidik atau tidak mendidik? Nilai sendiri! katanya keras.
JAKARTA - Proses pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran transaksi oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berlarut-larut bisa mencoreng pasar modal Indonesia. Proses yang tidak kunjung selesai ini menimbulkan ketidakpastian yang terus menggelayuti pasar, terutama bagi investor yang memiliki saham BUMI. "Ini dapat mencoreng pasar modal. Kita harapkan segera selesai dan ada hasilnya. Bukan yang sesuai dengan keinginan pasar, melainkan sesuai fakta sebenarnya," ujar Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan kepada SI di Jakarta, kemarin. Menurut dia, hasil pemeriksaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BapepamLK) dibutuhkan investor untuk mengambil keputusan memiliki saham BUMI dalam jangka panjang atau tidak. Apa pun hasilnya, publik memerlukan itu untuk mengambil kesimpulan mengenai kinerja dan prilaku manajemen dalam mengelola perusahaan. Sementara itu, analis PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengungkapkan, hasil audit tim dari Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Mappi) akan berdampak kepada kinerja keuangan BUMI.Ini setelah manajemen memilih untuk negoisasi ulang harga pembelian PT Fajar Bumi Sakti (FBS) dengan pemilik lama, Leap Forward Finance Ltd. "Kalau direvisi, keuangan mereka akan terbebani dana selisih kemahalan yang disebutkan Mappi,"paparnya. Selain kemahalan harga akusisi FSB sebesar Rp370 miliar dari harga pembelian Rp2,475 triliun, Mappi menyimpulkan kantor penilai independen Yanuar Bey tidak bersalah dalam kasus ini.

Ini lantaran ketika permintaan audit,manajemen BUMI menyatakan kepada Yanuar bahwa audit tidak untuk kepentingan akuisisi tapi untuk tujuan lain. Adapun hasil audit atas harga pembelian PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Pendopo Energi Batubara (PEB) dianggap wajar.Ini atas transaksi masing-masing yang dibeli BUMI seharga Rp2,41 triliun dan Rp1,3 triliun untuk jumlah kepemilikan saham 35 persen dan 95 persen. Kasus Belum Ditutup Sementara itu, Bapepam LK menyatakan pemeriksaan atas kasus ini belum berakhir. Meskipun Mappi telah menyelesaikan audit pembelian tiga transaksi itu dan hanya menemukan ketidakwajaran harga pada FBS. "Masih belum ditutup pemeriksaannya, saya masih memeriksa," kata Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam-LK Sarjito. Senanda dengan Sarjito, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Erry Firmasyah mengatakan, setelah Mappi, pemeriksaan dilakukan sendiri oleh Bapepam-LK. Namun, dengan hasil audit itu sudah tidak banyak lagi yang akan diperiksa. "Tinggal sedikit,tidak banyak lagi,"tandasnya. Erry mengungkapkan, masih ada dugaan afiliasi atau benturan kepentingan yang perlu dibuktikan oleh Bapepam LK. Meskipun satu dugaan, dipastikan gugur karena manajemen BUMI sudah bersedia merevisi harga, dengan syarat pemilik lama menyetujui itu sehingga tidak diperlukan lagi rapat umum pemegang saham (RUPS). Mengenai persoalan material atau tidaknya akuisisi senilai total Rp6,1 triliun oleh BUMI, lanjut Erry, masih dapat diperdebatkan. Sejak awal pihaknya sudah meminta pendapat ahli hukum pasar modal dan yakin transaksi itu adalah material. "Tapi, mereka beragumen itu tidak material kerena itu terpisah-pisah. Bapepam melihatnya bukan satu kesatuan transaksi yang berbeda,"tutur Erry. Seperti diketahui, transakasi pembelian Dharma Henwa dilaksanakan pada 30 Desember 2008. Karena pembelian FBS pada 5 Januari 2009 dan PEB pada 7 Januari 2009,manajemen BUMI berpendapat ketiganya tidak bisa disatukan. (css)

Bakrie vs Rothschild

Bumi Resources (BUMI) terus saja turun akhir-akhir ini, namun itu tidak menjadikannya tidak menarik lagi di mata sebagian para pelaku pasar. Malah, beberapa investor justru mulai melirik lagi saham yang pernah menyandang gelar sebagai saham sejuta umat ini, dengan berbagai alasannya. Disisi lain, para nyangkut-ers masih dilanda kebingungan hebat untuk menentukan pilihan yang sama-sama sulit: Apakah saya harus bertahan, ataukah lebih baik keluar saja, yang itu berarti merealisasikan potensi kerugian yang terjadi? BUMI mencatat pendapatan US$ 1.95 milyar di 1H12, naik 8.6% dari US$ 1.79 milyar di 1H11. Namun seperti juga perusahaan batubara lainnya, BUMI mencatatkan kenaikan beban yang lebih tinggi ketimbang kenaikan pendapatannya, sehingga laba usahanya pun turun dari US$ 461 menjadi 239 juta. Sampai disini, semuanya masih normal. Namun kerugian yang dialami perusahaan akibat transaksi derivatif, selisih kurs, dan pelepasan investasi pada entitas asosiasi, menyebabkan BUMI akhirnya mencatat laba minus alias rugi bersih komprehensif US$ 327 juta. Ini menarik, sebab di catatan cash flow-nya, BUMI mencatat perolehan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$ 144 juta, naik nyaris tiga kali lipat dari US$ 53 juta di periode yang sama tahun sebelumnya. Jadi, apakah dalam hal ini kinerja BUMI sengaja dibuat minus? I dont know, karena pertanyaannya kalaupun kinerja BUMI dibikin tampak jelek, apa tujuannya? Tapi mungkin, yang menarik untuk diperhatikan dari BUMI bukanlah soal kinerjanya yang minus tersebut.

Anda mungkin masih ingat dengan aksi korporasi penting yang dilakukan Grup Bakrie sebagai pemilik BUMI dengan mitra baru mereka asal Inggris, Nathaniel Rothschild, dimana perusahaan investasi milik Nathaniel yang terdaftar di Bursa London, Vallar Plc, mengambil alih sejumlah kepemilikan pada BUMI dan Berau Coal Energy (BRAU). Sebagai gantinya, Grup Bakrie kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama Vallar Plc, dengan persentase kepemilikan 47.6%. Vallar Plc sendiri kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Proses dari transaksi barter saham tersebut selesai sepenuhnya pada April 2011, dan Nathaniel kemudian menjadi salah satu pemegang saham BUMI. Beberapa waktu kemudian, sepertinya Nathaniel mulai menemukan hal-hal yang tidak biasa dalam kegiatan finansial yang dilakukan manajemen BUMI. Dan pada tanggal 8 November 2011, Nathaniel akhirnya menulis surat kepada Ari Hudaya (Saptari Hoedaja), Presiden Direktur BUMI. Dalam surat tersebut, Nathaniel secara gamblang meminta penjelasan dari Mr. Ari terkait empat hal berikut: 1. Jadwal yang jelas terkait monetisasi dari aset-aset pengembangan bisnis. 2. Repatriasi (pemulangan/pengembalian) dana yang ditempatkan pada pihak berelasi, yaitu Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean fund I. 3. Penjelasan tertulis terkait progress dari tindakan no. 2 4. Penjelasan lebih detail dan transparan terkait semua transaksi non-batubara yang dilakukan oleh BUMI dan BRAU. Nathaniel menulis surat tersebut setelah mengetahui bahwa BUMI memiliki akun investasi dan aset lain-lain pada neracanya, sebesar US$ 867 juta, dimana akun tersebut tidak berhubungan dengan bisnis batubara dan logam yang dijalani BUMI, melainkan merupakan piutang kepada pihak berelasi, dalam hal ini Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau Asean Fund I, dan aset-aset pengembangan bisnis yang cenderung tidak jelas. Menurut Nathaniel, aset sebesar US$ 867 juta tersebut seharusnya bisa di-monetisasi (dicairkan menjadi uang cash), untuk kemudian digunakan untuk membayar utang kepada China Investment Corporation (CIC). Dengan demikian, BUMI bisa menghemat beban bunga pinjaman sebesar US$ 104 juta per tahun. Sebelumnya pada tahun 2009, BUMI memang memperoleh pinjaman sebesar US$ 1.9 milyar dari CIC, dan utang tersebut mengandung bunga yang sangat tinggi, yakni 19% secara keseluruhan. BUMI sebenarnya sudah membayar sebagian utang tersebut pada tahun 2011, yakni US$ 600 juta. Namun Nathaniel memandang bahwa seharusnya BUMI memiliki cukup aset untuk bisa melunasi pinjaman dari CIC secara penuh. Nathaniel menulis dalam suratnya, I want to see you initiate a radical cleaning up of BUMIs balance sheet. I want an immediate transformation of the way you are choosing to manage BUMI. Tidak ada keterangan soal apakah pihak manajemen BUMI kemudian membalas surat tersebut, namun Nathaniel jelas tampak tidak nyaman dengan kebijakan pengelolaan investasi yang dilakukan BUMI. Mr. Ari sebagai Presiden Direktur BUMI sendiri sepertinya beranggapan bahwa ia tidak perlu terlalu mendengarkan keluhan Nathaniel, mengingat Nathaniel bukanlah pemegang saham mayoritas dari BUMI, melainkan hanya 29.2%. Hanya selang dua bulan kemudian, pada akhir Desember 2011, Grup Bakrie menjual separuh kepemilikannya atas Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), senilai US$ 1 milyar, sehingga kemudian Grup Bakrie dan BORN masing-masing memegang 23.8% saham Bumi Plc. Grup Bakrie sendiri menggunakan sebagian dari uang US$ 1 milyar tersebut untuk membayar utang-utangnya yang akan jatuh tempo di tahun 2012. Karena BORN kemudian menjadi salah satu pemegang saham utama di Bumi Plc, maka pemilik BORN, Samin Tan, diangkat menjadi chairman Bumi Plc, menggantikan Indra Bakrie yang kemudian menjadi co-chairman. Nathaniel sendiri, yang sebelumnya menempati posisi sebagai co-chairman, kemudian turun derajat menjadi direktur non-eksekutif.

Nah sekarang, jika anda adalah Nathaniel Rothschild, apa perasaan anda setelah dikerjai dua kali berturut-turut seperti itu? Hingga saat ini, belum ada kelanjutan lagi soal kisah persahabatan antara Bakrie dan Nathaniel. Nathaniel sendiri dalam wawancaranya dengan FT.com mengatakan bahwa hubungannya dengan Bakrie masih baik-baik saja. Namun yang menarik adalah, setelah menyelesaikan transaksi tukar guling saham Vallar dengan BUMI dan BRAU, Nathaniel kemudian mendirikan sebuah perusahaan investasi lagi, kali ini dengan nama Vallares Plc, dengan minat di bidang minyak dan gas (migas). Perusahaan ini kemudian listing di Bursa London, dan pada September 2011 berubah nama menjadi Genel Energy Plc. Jika dirunut lagi kebelakang, Nathaniel mendirikan Vallar Plc sebagai kendaraan investasi yang akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan lain, dalam hal ini perusahaan batubara dan bijih logam. Dalam perusahaan barunya ini, Nathaniel merekrut James Campbell, mantan CEO Anglo American Plc, sebuah perusahaan batubara asal Inggris, sebagai partner. Tidak ada keterangan soal kapan Vallar Plc didirikan, namun Vallar listing di Bursa London pada Juli 2010, dengan nilai IPO US$ 1.1 milyar. Itu adalah sebuah nilai IPO yang sangat-sangat besar, mengingat Vallar Plc sebenarnya tidak memiliki aset. Beberapa bulan setelah IPO-nya, tepatnya pada November 2011, Vallar mengumumkan akan mengakuisisi sebagian kepemilikan di dua perusahaan batubara asal Indonesia, yakni BUMI dan BRAU (dan juga Bumi Resources Minerals/BRMS sebagai anak usaha BUMI), dengan nilai akuisisi senilai total US$ 3 milyar. Vallar akan membayar sebagian biaya akuisisi tersebut secara tunai menggunakan dana hasil IPO-nya, dan sebagian lagi dengan cara barter 47.6% sahamnya. Dengan cara ini barulah Vallar kemudian menjadi memiliki aset, yakni 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU. Disisi lain, 47.6% saham Vallar Plc kemudian menjadi milik Grup Bakrie, sehingga Vallar kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Meski demikian, Nathaniel tetap memegang sebagian kepemilikan saham di Bumi Plc. So, jika Mr. Hary Tanoesoedibjo dengan luar biasanya bisa meraup Rp2.1 trilyun dari IPO MNC Sky Vision (MSKY), yang sebenarnya sudah listing di bursa melalui induknya, Global Mediacom (BMTR), sehingga bisa dikatakan bahwa Mr. Hary making Rp2.1 trillion out from nothing , maka Nathaniel Rothschild ini ternyata lebih hebat lagi: Ia bisa mencetak US$ 3 milyar atau sekitar Rp27 trilyun dalam bentuk kepemilikan saham di BUMI dan BRAU, nyaris tanpa mengeluarkan modal sepeserpun! Transaksi tukar guling saham Vallar dengan BUMI dan BRAU, seperti disebut diatas, selesai pada April 2011. Hanya dalam waktu dua bulan kemudian, yaitu pada Juni 2011, Nathaniel meng-IPO-kan sebuah perusahaan lagi ke Bursa London, yakni Vallares Plc, dengan nilai IPO yang lebih gila lagi, yakni US$ 2.2 milyar. Vallares, seperti juga Vallar, awalnya tidak memiliki aset. Bedanya, jika Vallar dipakai untuk masuk ke sektor batubara, maka Vallares digunakan untuk masuk ke sektor migas. Di Vallares, Nathaniel merekrut Tony Hayward, mantan CEO BP Plc, sebuah perusahaan minyak terkemuka asal Inggris, sebagai partner. Pada September 2011, Vallares melakukan tukar guling saham dengan perusahaan migas asal Turki, Genel Energy, dan Vallares seketika berubah nama menjadi Genel Energy Plc, dengan Tony Hayward menjadi CEO-nya. Model transaksi antara Vallares dengan Genel Energy ini bisa dikatakan 99% identik dengan transaksi antara Vallar dengan BUMI dan BRAU. Namun, berbeda dengan Vallares yang berhasil memegang 50% saham Genel, Vallar hanya berhasil memegang 29.2% saham BUMI. Entahlah, tapi penulis kira Grup Bakrie paham betul bahwa Vallar jangan sampai menjadi pemegang saham utama di BUMI (lebih dari 40%), karena jika begitu kejadiannya, maka BUMI bisa saja terlepas seluruhnya ke tangan Nathaniel. Mungkin itu sebabnya Grup Bakrie akhirnya menyertakan BRAU dalam transaksinya dengan Rothschild, dimana Nathaniel kemudian memperoleh 85% saham BRAU. Istilahnya, gak apa-apa kehilangan BRAU, yang penting BUMI tetap di tangan. BRAU sendiri, meski bukan dimiliki oleh Bakrie melainkan oleh Grup Recapital, namun Recapital memperoleh dana untuk mengakuisisi BRAU dari Bakrie, sehingga sebenarnya pemilik BRAU adalah Bakrie melalui Recapital.

Tapi, hanya karena sekarang Vallar memegang 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU, bukan berarti Nathaniel memegang BUMI dan BRAU sebanyak itu bukan? Karena Vallar sendiri, yang sekarang bernama Bumi Plc, sebagian sahamnya dipegang oleh Bakrie dan Samin Tan, sehingga Bakrie (dan Mr. Samin) masih menjadi salah satu pemegang dari 29.2% saham BUMI dan 85% saham BRAU tersebut, hanya saja melalui Bumi Plc. Yup, benar, tapi jangan lupa bahwa Bakrie bersama Samin Tan hanya memegang total 47.6% saham Bumi Plc, dan selebihnya tidak diketahui secara jelas dipegang oleh siapa. Nathaniel sendiri tidak memperinci berapa persen kepemilikannya di Bumi Plc, melainkan ada yang bilang 11%, tapi penulis kira bisa saja lebih dari itu. Intinya disini, Nathaniel melalui Bumi Plc berhasil masuk menjadi salah satu pemegang saham yang cukup substansial di BUMI, sesuatu yang belum pernah bisa dilakukan oleh pihak lain sebelumnya (saham BUMI memang pernah dipegang oleh Credit Suisse, kreditornya sendiri, tapi bank gak boleh pegang aset lama-lama, sehingga harus dijual kembali. Ini berbeda dengan Vallar/Bumi Plc yang bukan merupakan bank), dan itu bisa jadi merupakan pintu gerbang bagi Nathaniel untuk bisa masuk lebih dalam lagi. Istilahnya, untuk sekarang yang penting tembus benteng aja dulu. Tapi lalu kenapa Grup Bakrie mau menukar sahamnya di BUMI dengan Vallar, jika itu berisiko membuat BUMI terlepas sepenuhnya ke tangan Nathaniel? I dont know, tapi mungkin Grup Bakrie melihat terdapat keuntungan jika mereka bisa listing di Bursa London melalui Vallar yang kemudian berubah nama menjadi Bumi Plc. Disisi lain, bukan tidak mungkin pula Grup Bakrie menyetujui keinginan Nathaniel untuk masuk ke BUMI karena terpaksa, mengingat bahwa Nathaniel sebagai anggota dari Keluarga Rothschild memiliki cukuppower untuk melakukan itu (menekan Bakrie untuk menyerahkan sebagian saham BUMI). Namun Grup Bakrie tentunya juga bukan kelompok usaha biasa, sehingga mereka tidak segampang itu juga melepas BUMI meski ke tangan Rothschild sekalipun. Bisa jadi pula, dalam hal ini Grup Bakrie akhirnya meminta bantuan kepada Samin Tan. So, dalam hal ini, sepertinya kita sedang menonton seorang pengusaha asing yang luar-biasakaya sedang mencoba mengambil alih salah satu aset paling berharga dari salah satu Grup usaha terkaya di Indonesia. Terkait surat yang ditulis Nathaniel kepada Ari Hudaya, seperti yang sudah kita bahas diatas, sepertinya itu cuma pengalih perhatian, atau untuk menimbulkan kesan bahwa Nathaniel bisa dengan mudah dikerjai oleh Bakrie. Dan terkait kejadian berikutnya, yaitu turunnya jabatan Nathaniel di Bumi Plc dari co-chairman menjadi hanya direktur non-eksekutif, itu semakin mempertegas ketidak berdayaan Nathaniel di hadapan Bakrie. Well, kita tahu bahwa Grup Bakrie bisa dengan mudahnya mengerjai investor publik di market dengan berbagai aksi korporasinya, tapi apakah mereka juga bisa melakukan hal yang sama ke seseorang sekelas Nathaniel Philip Rothschild? I dont think so! Ingat bahwa meski BUMI adalah aset terbesar dari Grup Bakrie, namun bagi Nathaniel, BUMI cuma salah satu dari sekian banyak investasinya di seluruh dunia. Jadi jika kita balik lagi ke pertanyaan diatas, apa perasaan anda setelah dikerjai dua kali berturut-turut oleh Bakrie? Maka Mr. Nathaniel mungkin akan menjawabnya sambil tersenyum, What makes you think that anybody in this world could screw me? Lalu apa kaitan ini semua dengan penurunan saham BUMI belakangan ini? Jika dikatakan bahwa Nathaniel sengaja menyuruh para bandarnya untuk menjatuhkan saham BUMI, agar nanti dia bisa masuk di harga murah dan pada akhirnya meningkatkan kepemilikannya atas BUMI, maka mungkin caranya nggak bisa semudah itu juga, karena meski sebagian besar saham BUMI tercatat sebagai milik publik, namun sebagian dari publik tersebut kemungkinan adalah Bakrie juga, dan mereka gak akan menjual sahamnya. Disisi lain jika tujuan Nathaniel adalah untuk masuk ke BUMI di harga bawah, lalu kenapa saham BRAU juga ikutan turun? Bukannya Vallar sudah memegang 85% sahamnya? Tapi jika dikatakan bahwa saham BUMI terus turun karena utangnya yang sudah kelewat besar hingga berpotensi default, maka itu cuma rumor, sama dengan rumor penjualan Fajar Bumi Sakti yang dikutip Reuters dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya (kirain media

lokal aja yang suka kaya gini, gak taunya Reuters juga sama aja). Sebab meski utang BUMI segunung, namun Grup Bakrie paling jago soal urusan men-treatment kreditor. Dan berbeda dengan perusahaan-perusahaan Grup Bakrie lainnya yang mungkin memang beneran kosong, BUMI sejatinya merupakan perusahaan yang sangat-sangat berisi karena terdapat KPC dan Arutmin didalamnya, sehingga wajar jika para bankir tetap setia berhubungan dengan Bakrie sebagai pemilik BUMI. Yang jelas, kalau bagi penulis sendiri, yang menarik untuk dicermati disini bukan soal saham BUMI akan turun sampai berapa, atau apakah nanti dia akan menguat lagi, karena itu adalah pertanyaan yang sama sekali tidak akan bisa dijawab oleh siapapun. Melainkan, kira-kira akan ada cerita apa lagi terkait hubungan Bakrie dan Rothschild? Dan jika BUMI akhirnya benarbenar lepas dari tangan Bakrie, maka apa yang akan terjadi selanjutnya?
JAKARTA (IFT) Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bisa menjatuhkan sanksi berat kepada manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) jika hasil investigasi Bumi Plc terbukti ada pelanggaran dalam menyajikan laporan keuangan. Bapepam-LK saat ini berkoordinasi dengan PT Bursa Efek Indonesia mengawasi proses penyelesaian kasus ini. Robinson Simbolon, Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK, mengatakan sanksi bisa diberikan kepada manajemen dan setiap pihak yang terlibat berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal. Bapepam-LK saat ini memeriksa laporan keuangan Bumi Resources dan Berau Coal. Kalau memang ada pelanggaran yang sifatnya material bisa ditindaklanjuti sesuai UU Pasar Modal. Sekarang tunggu dari investigasi Bumi Plc dan hasil pemeriksaan pada Pak Anis Baridwan (Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK), kata Robinson, Kamis. Pasal 93 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal menyatakan setiap pihak dilarang, dengan cara apa pun, membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga efek di Bursa. Selanjutnya pasal 104 menyatakan, setiap pihak yang melanggar ketentuan yang dimaksud dalam pasal 93 dapat diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar. Uriep Budhi Prasetyo, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa, mengatakan sudah meminta manajemen Bumi Resources dan Berau Coal untuk melakukan paparan publik paling lambat 2 Oktober 2012. Bursa juga secara resmi sudah menyampaikan surat pemanggilan kepada manajemen Bumi Resources dan Berau Coal, tetapi hingga kini belum direspons. Bumi Plc, perusahaan pemilik 29% saham Bumi Resources yang tercatat di Bursa London, berencana melakukan investigasi laporan keuangan Bumi Resources karena kecurigaan kemungkinan adanya penyimpangan. Nick Von Schirnding, juru bicara Bumi Plc, menyatakan investigasi yang akan dilakukan tim independen ini fokus mengevaluasi dana pengembangan Bumi dan aset pengembangan. Yanuar Rizky, pengamat pasar modal, mengatakan semestinya Bapepam-LK berkoordinasi dengan otoritas Bursa di London untuk memeriksa pernyataan Bumi Plc. Pernyataan Bumi Plc tentang Bumi Resources dinilai merugikan industri pasar modal Indonesia. Dalam industri pasar modal, yang dilakukan Bumi Plc itu merugikan pasar modal Indonesia. Mereka (Bumi Plc) tidak perlu berbicara banyak ke publik untuk mengatasi masalah tersebut. Cukup dengan mekanisme RUPS (rapat umum pemegang saham) yang bisa diminta oleh pemegang saham kalau ada permasalahan, kata Yanuar. Selain itu, menurut Yanuar, pernyataan Bumi Plc terkait laporan keuangan dua anak perusahaannya penuh dengan konflik kepentingan. Bumi Plc dinilai memanfaatkan sentimen negatif emiten Grup Bakrie untuk memperoleh keuntungan, yaitu penguasaan mutlak terhadap semua aset yang ada di anak usaha. John J Ramos, Direktur Keuangan Berau Coal Energy, mengatakan perseroan sedang meminta klarifikasi dari Bumi Plc terkait rencana investigasi laporan keuangan. Apabila terdapat informasi atau fakta material dan dapat mempengaruhi harga saham perseroan serta kelangsungan hidup perseroan, hal tersebut akan dilaporkan sesuai dengan ketentuan mengenai kewajiban penyampaian informasi kepada publik. Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, mengatakan Bumi Resources tidak pernah menerima pemberitahuan resmi dari Bumi Plc terkait rencana investigasi yang akan dilakukan induk usahanya. Bumi

Resources selaku perusahaan publik menurut Dileep senantiasa menaati ketentuan yang berlaku dalam bidang pasar modal, baik yang berkenaan dengan pencatatan laporan keuangan maupun keterbukaan informasi kepada publik. Pangkas Rating Merespons kasus tersebut dua lembaga pemeringkat internasional, yaitu Moodys Investors Service dan Standard & Poor's, memangkas peringkat (rating) surat utang Bumi Resources. S&P menurunkan rating utang Bumi Resources menjadi B+ dari sebelumnya BB-. S&P menilai, investigasi yang dilakukan Bumi Plc dapat mengurangi akses Bumi Resources terhadap pasar modal dan ini menjadi ujian bagi Bumi Resources untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendek. Simon Wong, Vice President Moodys, mengatakan outlook negatif ini menunjukkan kekhawatiran masalah penyelenggaraan usaha yang baik di Bumi Resources yang berdampak pada kemampuan membayar utang US$ 300 juta pada 20