Anda di halaman 1dari 18

REFERAT IMPLAN KOKLEA PEMBIMBING: DR. ANNA MARIA . S. SP.THT DISUSUN OLEH: NUR RASHIDAH BT MOHD RASHID 030.04.

260 KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT RS. DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE 7 DESEMBER 2009 9 JANUARI 2010 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

PENDAHULUAN Gangguan fungsi pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan keadaan ketergantungan dari anggota masyarakat yang terkena terhadap kelompok masyarakat yang sehat. Salah satu bentuk gangguan tersebut adalah tuli saraf (sensorineural hearing loss) atau tuna rungu (bisu tuli). Menurut survey Departemen Kesehatan tahun 1994 - 1996 ditemukan 1 orang tuna rungu dalam 1000 orang penduduk. Untuk orang dewasa dan anak-anak yang mengalami tuli saraf dari tingkat ringan sampai tingkat sedang dapat dibantu dengan alat bantu dengar. Sedangkan untuk tuli saraf tingkat berat sampai sangat berat, Implan Koklea lebih direkomendasikan. (9,10) Implan Koklea merupakan terobosan besar di bidang kedokteran. Penelitian tentang Implan Koklea telah dilakukan sejak awal tahun 1950 dan diakui oleh FDA (Foot and Drug Administration) pada pertengahan 1980-an.(11) Implan Koklea merupakan alat prostetik dengan komponen internal yang dipasang lewat pembedahan

dan komponen eksternal yang memerlukan penyesuaian dan pemrograman. Implan Koklea mengantarkan rangsangan secara langsung ke saraf pendengaran, melewati sel indera yang hilang atau rusak dengan mengubah suara akustik menjadi pola elektrik, yang kemudian dikirim ke otak dan diterjemahkan sebagai suara. Untuk menentukan apakah seseorang dapat menjadi kandidat implant koklea, memerlukan pemeriksaan dan berbagai tes oleh dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan-kepala leher. (9) Prosedur pemasangan Implan Koklea diawali dengan melakukan tindakan bedah untuk memasang komponen internal. Dengan hanya memasang komponen internal, maka pasien masih belum bisa mendengar. Setelah luka bekas operasi sembuh dan bengkaknya hilang (sekitar 3-6 minggu) dapat dilanjutkan dengan pemasangan transmitter eksternal dan prossesor suara. Sehingga pasien dapat mulai mendengar suara layaknya normal. Pasien kemudian memerlukan rehabilitasi khusus untuk menyesuaikan dengan pendengaran barunya. Program rehabilitasi terfokus pada belajar mendengarkan dan menyediakan lingkungan auditif, sehingga memaksimalkan potensi kinerja pasien dengan Implan Koklea. (9,11) BAB I ANATOMI DAN FISIOLOGI I. TELINGA LUAR (4) Daun telinga terletak di kedua sisi kepala, merupakan lipatan kulit dengan dasarnya terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian luar. Hanya cuping telinga atau lobulus yang tidak mempunyai tulang rawan, tetapi terdiri dari jaringan lemak dan jaringan fibrosa. Permukaan lateral daun telinga mempunyai tonjolan dan daerah yang datar. Tepi daun telinga yang melengkung disebut heliks. Pada bagian postero-superiornya terdapat tonjolan kecil yang disebut tuberkulum telinga (Darwintubercle). Pada bagian anterior heliks terdapat lengkungan disebut anteheliks. Bagian superior anteheliks membentuk

dua buah krura antiheliks,dan bagian dikedua krura ini disebut fosa triangulari.Di atas kedua krura ini terdapat fosa skafa. Di depan anteheliks terdapat konka ,yang terdiri atas bagian yaitu simba konka, yang merupakan bagian anterosuperior konka yang ditutupi oleh krus heliks dan kavum konka yang terletak dibawahnya berseberangan dengan konka dan terletak dibawah krus heliks terdapat tonjolan kecil berbentuk segi tiga tumpulan yang disebut tragus. Bagian diseberang tragus dan terletak pada batas bawah anteheliks disebut antitragus. Tragus dan antitragus dipisahkan oleh celah intertragus. Lobulus merupakan bagian daun yang terletak dibawah anteheliks yang tidak mempunyai tulang rawan dan terdiri dari jaringan ikat dan jaringan lemak. Di permukaan posterior daun telinga terdapat juga tonjolan dan cekungan yang namanya sesuai dengan anatoni yang membentuknya yaitu sulkus heliks,sulkus krus heliks,fosa antiheliks,eminensia konka dan eminensia skafa . II. TELINGA TENGAH Telinga tengah terdiri dari (5): 1. Membran timpani. 2. Kavum timpani. 3. Prosesus mastoideus. 4. Tuba eustachius

1. Membran Timpani (5) Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak membrana timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari belakang luar kemuka dalam dan membuat sudut 45 o dari dataran sagital dan horizontal. Dari umbo kemuka bawah tampak refleks cahaya ( cone of light). Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :

1. Stratum kutaneum ( lapisan epitel) berasal dari liang telinga. 2. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani. 3. Stratum fibrosum ( lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum dan mukosum. Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian : 1. Pars tensa 2. Pars flaksida atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa dan pars flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu : a. Plika maleolaris anterior ( lipatan muka). b. Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang). 2. Kavum Timpani (5) Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya bikonkaf. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding lateral, dinding medial, dinding anterior, dinding posterior

Atap kavum timpani. (5) Dibentuk tegmen timpani, memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus temporalis dari otak. bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang temporal dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura petroskuama. Lantai kavum timpani (5) Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari bulbus jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis. Dinding medial.(5) Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga dalam, ini juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam.

Dinding posterior (5) Dinding posterior dekat keatap, mempunyai satu saluran disebut aditus, yang menghubungkan kavum timpani dengan antrum mastoid melalui epitimpanum. Dibelakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii posterior dan sinus sigmoid. Dinding anterior (5) Dinding anterior bawah adalah lebih besar dari bagian atas dan terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri karotis pada saat memasuki tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior. Dinding ini ditembus oleh saraf timpani karotis superior dan inferior yang membawa serabut-serabut saraf simpatis kepleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih cabang timpani dari arteri karotis interna. Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius.

Kavum timpani terdiri dari : 1. Tulang-tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes). 2. Dua otot. 3. Saraf korda timpani. 4. Saraf pleksus timpanikus Tulang-tulang pendengaran terdiri dari : 1. Malleus ( hammer / martil). 2. Inkus ( anvil/landasan) 3. Stapes ( stirrup / pelana) Otot-otot pada kavum timpani. (5) Terdiri dari : otot tensor timpani ( muskulus tensor timpani) dan otot stapedius ( muskulus stapedius). Saraf Korda Timpani (5)

Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum timpani dari analikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan posterior. Korda timpani juga mengandung jaringan sekresi parasimpatetik yang berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui ganglion ubmandibular. Korda timpani memberikan serabut perasa pada 2/3 depan lidah bagian anterior. Pleksus Timpanikus (5) Berasal dari n. timpani cabang dari nervus glosofaringeus dan dengan nervus karotikotimpani yang berasal dari pleksus simpatetik disekitar arteri karotis interna. Saraf Fasial (5) Meninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal melalui meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial terutama terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu: 1. Saraf motorik untuk otot-otot yang berasal dari lengkung brankial kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah, stilohioid, posterior belly m. digastrik dan m. stapedius. 2. Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula wajah kecuali parotis. Tuba Eustachius (5) Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani. Bentuknya seperti huruf S. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm. Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu : 1. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian). 2. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian). Otot yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu : 1. M. tensor veli palatini 2. M. elevator veli palatini 3. M. tensor timpani

4. M. salpingofaringeus Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga Prosesus Mastoideus (5) Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah ini. Pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas : 1. Prosesus Mastoideus Kompakta ( sklerotik), diomana tidak ditemui sel-sel. 2. Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja. 3. Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, dimana sel-sel disini besar.

III. TELINGA DALAM Telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terjdiri dari 2 bagian utama (14):

Koklea (organ pendengaran) Kanalis semisirkuler (organ keseimbangan). Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua

setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sempurna mengisinya, Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi

aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis , yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. (3) Kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan. Setiap gerakan kepala menyebabkan cairan di dalam saluran bergerak. Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya; hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala. Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. Sel rambut ini memperkuat gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan. (3) Jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar). (3)

IV. FISIOLOGI PENDENGARAN (1,5) Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah, perilimf dala m skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (foramen rotundum) terdorong ke arah luar. Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong membran basal, sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok, dan dengan berubahnya

membran basal ujung sel rambut menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang n.VII, yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39-40) melalui saraf pusat yang ada dilobus temporalis.

V. GANGGUAN PENDENGARAN ATAU TULI (1,7) Ada dua jenis gangguan pendengaran atau tuli yaitu : 1. Tuli konduktif Biasanya terjadi akibat kelainan telinga luar, seperti infeksi serumen, atau kelainan telinga tengah, seperti otitis media atau otosklerosis. Pada keadaan seperti itu, hantaran suara efisien suara melalui udara ke telinga dalam terputus. 2. Tuli sensorineural atau tuli saraf Melibatkan kerusakan koklea atau saraf vestibulokoklear. Selain kehilangan konduksi dan sensori neural, dapat juga terjadi kehilangan pendengaran campuran begitu juga kehilangan pendengaran fungsional. Pasien dengan kehilangan suara campuran mengalami kehilangan baik konduktif maupun sensori neural akibat disfungsi konduksi udara maupun konduksi tulang. Kehilangan suara fungsional (atau psikogenik) bersifat inorganik dan tidak berhubungan dengan perubahan struktural mekanisme pendengaran yang dapat dideteksi biasanya sebagai manifestasi gangguan emosional. BAB II IMPLAN KOKLEA I. SEJARAH (2,6) Penemuan bahwa stimulasi listrik di sistem pendengaran dapat membuat persepsi suara terjadi sekitar 1790, ketika Alessandro Volta (pengembang listrik baterai) meletakkan batang-batang besi di telinganya sendiri dan dihubungkan ke sebuah tegangan listrik sebesar 50 Volt, beliau lalu mengalami guncangan dan mendengar suara "seperti sup yang mendidih". Eksperimen lainnya terus dijalankan sehingga penemuan alat bantu dengar mulai dikembangkan pada abad ke-20.

Rangsangan langsung pertama dari saraf akustik dengan elektroda dilakukan pada 1950-an oleh dokter bedah Perancis-Aljazair Andr Djourno dan Charles Eyris. Mereka menempatkan kabel pada saraf selama operasi, dan melaporkan bahwa pasien mendengar suara-suara ketika arus diterapkan. Pada tahun 1961 Dr. William House (seorang ahli penyakit telinga), John Doyle (seorang ahli bedah saraf) dan James Doyle (seorang insinyur listrik) mulai melakukan penelitian pada satu perangkat saluran di Los Angeles. Penilitian oleh House dan kawan-kawan unit yang pertama disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration dari Amerika Serikat) untuk implantasi pada orang dewasa pada tahun 1984. Pada tahun 1964, Blair Simmons dari Stanford University memasang implan pada orang percobaannya dengan enam perangkat saluran. Perangkat ini menggunakan plug perkutan untuk mengaktifkan elektroda untuk dirangsang secara individual. Walaubagaimanapun penerima masih tidak mengerti kata-kata yang terdengar melalui perangkat tetapi percobaan tersebut penting karena menunjukkan bahwa dengan merangsang di berbagai area pada koklea, persepsi yang berbeda-beda bisa diproduksi. Pada tahun 1972 DPR 3M oleh House dan kawan-kawan menjadi implan elektroda tunggal yang pertama dipasarkan secara komersial. Pada bulan Desember 1984, implan koklea Australia telah disetujui oleh United States Food and Drug Administration untuk ditanamkan ke orang dewasa di Amerika Serikat. II. KOMPONEN IMPLAN KOKLEA

Komponen Luar : Microphone, Speech Processor, Transmitter

Komponen Dalam : Receiver, elektrode

Komponen dari implan koklea terdiri dari (9) :


sebuah mikrofon yang menangkap suara dari lingkungan sebuah speech processor yang memfilter suara secara selektif untuk memprioritaskan kata-kata dan mengirimkan sinyal suara listrik melalui kabel tipis ke pemancar.

sebuah pemancar atau transmitter, yg dipegang oleh sebuah magnet dan ditempatkan di belakang telinga luar. Transmitter ini akan mengirimkan sinyalsinyal suara yang diproses untuk perangkat internal oleh induksi elektromagnetik.

sebuah receiver (penerima) dan stimulator ditanamkan pada tulang di bawah kulit, yang mengubah sinyal menjadi impuls listrik dan mengirimkannya melalui kabel internal ke elektroda.

III. CARA KERJA IMPLAN KOKLEA (8,20) 1. Suara ditangkap mikrofon, diperkeras, dan dialihkan menjadi signal elektrik. 2. Diterjemahkan melalui gelombang mekanik ke telinga bagian tengah. 3. Sinyal dikirim ke transducer--perangkat elektrik yang bisa mengubah satu bentuk energi menjadi bentuk yang lain. 4. Merangsang telinga bagian dalam. IV. KANDIDAT Ada beberapa faktor yang menentukan tingkat keberhasilan yang diharapkan dari operasi dan perangkat itu sendiri. Pemilihan kandidat yang sesuai untuk pemaangan imlan koklea adalag berdasarkan sejarah kehilangan pendengaran oleh seseorang individu, penyebab kehilangan pendengaran, sisa pendengaran yang masih berfungsi, kemampuan mengenal suara, status kesehatan dan komitmen keluarga kandidat untuk bekerjasama dalam program rehabilitasi. (6,7) Seorang kandidat utama digambarkan sebagai: (6,12)

Mempunyai gangguan pendengaran sensorineural yang berat pada kedua telinga. . Masih memiliki fungsi saraf pendengaran yang bekerja baik. Kehilangan pendengaran masih dalam waktu yang tidak terlalu lama sekurangkurangnya sekitar 70 + dB.

Mempunyai kemampuan dalam berbicara dan berkomunikasi, atau dalam kasus bayi dan anak-anak, memiliki keluarga yang bersedia membimbing dalam berkomunikasi sewaktu rehabilitasi .

Pendengaran tidak membaik dengan alat bantuan poendengaran yang lain Tidak memiliki alasan medis tertentu untuk menghindari operasi. Mempunyai keinginan yang kuat untuk bias mendengar. Mempunyai harapan yang tinggi dalam keberhasilan menggunakan implan koklea nrealistis

Mendapat dukungan dari keluarga dan teman-teman Tersedia layanan yang tepat disiapkan untuk kandidat pasca rehabilitasi (melalui ahli patologi bahasa atau terapis auditori verbal )

V. PROSES PEMASANGAN DAN PASCA OPERASI

Pelayanan Program Implan Koklea melalui beberapa tahap : 1. Proses seleksi dan evaluasi kandidat. Dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran seperti BERA, Otoakustik Emisi, Timpanometri, Audiometri. Dilanjutkan dengan Auditory-Verbal Therapy (AVT) dengan memakai ABD untuk melatih kandidat berbicara dengan fokus pendengaran selama + 2 bulan. Setelah ABD diyakini tidak memberi manfaat, maka direncanakan untuk dilakukan operasi. (6)

2. Tindakan operasi dilakukan setelah pemeriksaan laboratorium, CT Scan dan atau MRI, konsultasi dokter Spesialis Anak, dokter Spesialis Anestesi dan psikologi. Operasi pemasangan Cochlear Implant harus dilaksanakan di rumah sakit. Operasi dilaksanakan dengan pembiusan total dengan tahap-tahap mastoidektomi, timpanostomi posterior, membuat tatakan (pad), kokhleostomi dan memasukkan electrode ke kokhlea. (6) Perangkat pembedahan ditanamkan di bawah anestesi umum, dan operasi biasanya mengambil dari 1 sampai 5 jam. Pertama area kecil dari kulit kepala tepat di belakang telinga adalah dicukur dan dibersihkan. Kemudian insisi kecil dibuat di kulit tepat di belakang telinga dan ahli bedah akan mengebor tulang mastoid dan telinga dalam di mana array elektroda dimasukkan ke koklea. Biasanya pasien pulang hari yang sama atau sehari setelah operasi, meskipun beberapa penerima implan koklea tinggal di rumah sakit selama 1 hingga 2 hari,pasien dianggap rawat jalan.(6) Seperti halnya dengan setiap prosedur medis, operasi melibatkan sejumlah resiko, dalam kasus ini, termasuk resiko infeksi kulit, onset tinnitus, kerusakan pada sistem vestibular, dan kerusakan pada saraf wajah yang dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan sensasi wajah, atau, dalam kasus-kasus terburuk, terjadi kelumpuhan pada otot wajah. (6,12) Ada juga resiko kegagalan komponen implan, biasanya di mana luka sayatan tidak benar-benar sembuh. Hal ini terjadi pada 2% kasus dan komponen harus dikeluarkan. Operasi juga dapat merusak pendengaran residu pasien mungkin telah tertanam di telinga; sebagai akibatnya, beberapa dokter menyarankan implantasi telinga tunggal, menyelamatkan telinga lain dalam kasus perawatan biologis akan tersedia di masa mendatang. (6) 3. Proses rehabilitasi dilakukan dengan menyalakan elektroda / switch on ( pada minggu ke 2 - 3 pasca operasi) dan pemetaan / mapping, selanjutnya diteruskan dengan AVT untuk latihan bicara yang berfokus pada kemampuan mendengar. (18)

VI. KERUGIAN DAN KELEBIHAN

KERUGIAN (6) Beberapa efek implantasi yang ireversibel misalnya komponen dari implan dapat merusak system saraf yang ada di dalam koklea dan akhirnya menyebabkan kehilangan pendengaran secara total pada kandidat. Sementara baru-baru ini diusahakan perbaikan teknologi, dan teknik penanaman untuk meminimalkan kerusakan seperti itu namun resiko dan tingkat kerusakan masih bervariasi. Selain itu, saat perangkat penerima dapat membantu lebih baik mendengar dan mengerti suara di lingkungan mereka, itu tidak sebagus kualitas suara yang diproses oleh koklea alami. Masalah utama adalah dengan usia penerima. Sementara implan koklea mengembalikan kemampuan fisik untuk mendengar, ini tidak berarti otak dapat belajar untuk memproses dan membedakan pidato jika penerima melewati periode kritis remaja. Akibatnya, mereka yang lahir tuli yang menerima implan sebagai orang dewasa hanya dapat membedakan perbedaan antara suara sederhana, seperti telepon, dering bel pintu, sementara yang lain yang menerima implant pada tahap tuli yang awal mengerti dengan jelas dan dapat berbicara. Tingkat keberhasilan tergantung pada berbagai faktor, yang paling penting adalah usia penerima, tetapi juga harus dilakukan dengan teknologi yang digunakan dan kondisi penerima koklea. Nekrosis dapat terjadi pada lipatan kulit sekitar koklea implan. Hyperbaric oksigen telah terbukti menjadi terapi tambahan yang berguna dalam pengelolaan implan koklea flap yang mengalami nekrosis. Pada tahun 2003, CDC dan FDA mengumumkan bahwa anak-anak dengan implan koklea mempunyai resiko meningitis bakteri (Reefhuis 2003). Walaupun risiko ini sangat kecil, masih 30 kali lebih tinggi daripada anak-anak dalam populasi umum. CDC dan organisasi kesehatan nasional lainnya (seperti Inggris) sekarang menjalankan program vaksinasi terhadap meningitis pneumokokus pada anak-anak yang menjadi kandidat implan koklea. Banyak pengguna, audiologists, dan ahli bedah juga melaporkan bahwa bila ada infeksi telinga yang menyebabkan cairan di telinga tengah, hal itu dapat mempengaruhi koklea implan, sehingga untuk sementara berkurang pendengaran.

KELEBIHAN 1. 2. 3.

(6)

Keberadaannya tidak tampak dari luar Membuat kanal telinga terbuka. Mengurangi distorsi pengeras suara.

VII. PERBEDAAN IMPLAN KOKLEA DAN ALAT BANTU DENGAR (6)

IMPLAN KOKLEA

ABD (ALAT BANTU DENGAR) (22)

Semua karakter dapat di mengerti Kode sinyal kemungkinan tidak terbatas Membutuhkan operasi Perlu 3 baterai atau lebih Baterai : 1-3 hari Keberhasilan tergantung individu Bisa di cas berulang kali

Hanya beberapa karakter Kode sinyal terbatas Tidak ada operasi Hanya 1 baterai Baterai : 1-2 minggu Keberhasilan turut tergantung individu Tidak dapat di cas

KESIMPULAN Implan Koklea merupakan terobosan besar di bidang kedokteran. Penelitian tentang Implan Koklea telah dilakukan sejak awal tahun 1950 dan diakui oleh FDA (Food and Drug Administration) pada pertengahan 1980-an. Implan Koklea merupakan

alat prostetik dengan komponen internal yang dipasang lewat pembedahan dan komponen eksternal yang memerlukan penyesuaian dan pemograman. Untuk menentukan apakah seseorang dapat menjadi kandidat Koklea, memerlukan pemeriksaan dan berbagai tes oleh dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan-kepala leher. Prosedur pemasangan Implan Koklea diawali dengan melakukan tindakan bedah untuk memasang komponen internal. Dengan hanya memasang komponen internal, maka pasien masih belum bisa mendengar. Setelah luka bekas operasi sembuh dan bengkaknya hilang (sekitar 3-6 minggu) dapat dilanjutkan dengan pemasangan transmitter eksternal dan prossesor suara. Sehingga pasien dapat mulai mendengar suara layaknya normal. Pasien dengan Implan Koklea memerlukan rehabilitasi khusus untuk

menyesuaikan dengan pendengaran barunya. Program rehabilitasi terfokus pada belajar mendengarkan dan menyediakan lingkungan auditif, sehingga memaksimalkan potensi kinerja pasien dengan Implan Koklea. Walaubagaimanapun Implan Koklea masih terdapat kerugian dan kelebihannya tersendiri berbanding alat bantu dengar yang biasa. Aspek-aspek seperti individu yang siap dengan konsekuensi dari efek samping pemasangan implan dan keluarga yang cukup mendukung sangat menentukan keberhasilan fungsi dari implan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Greenberg S, Ainsworth WA , Popper AN, Fay RR, eds, Speech Processing in the Auditory System, New York : Springer 2001, hal 422-462. Engineering Design of Cochlear Implants. In Zeng FG, Popper AN, Fay RR, Cochlear Implants: Auditory Prostheses and Electric Hearing. New York : Springer 2001. hal. 1452. 3. Normal Ear Anatomy. Diunduh dari http://www.kaskus.us/showthread Anatomi Telinga Luar. Diunduh dari http://medicastore.com/penyakit/998/Telinga_Hidung_%26_Tenggorokan.htm Anatomi Telinga Tengah. Diunduh dari http://rizsa82.wordpress.com/2008/07/19/laporan-kasus

4. 5.

6.

Implan Koklea. Diunduh dari http://en.wikipedia.org/w/index.php? title=Rectifier&oldid=49796549 .

7. 8.

Speech Processing Strategies, British Cochlear Implant Group . Diunduh dari http://www.bcig.org/professional/allprofs_strat.htm Cochlear Implants: An Overview. Healthy Hearing. Di unduh dari http://www.healthyhearing.com/library/article_content.asp?article_id=43

9.

Hidup Tidak Sunyi Dengan Implan Koklea. Diunduh dari http://www.pikhospital.co.id/hidup-tidak-sunyi-dengan-implan-koklea 10. Implan Koklea. Diunduh dari http://infosehatbugar.blogspot.com/

11.

RSCM Pertama Kali Operasi Alat Bantu Dengar. Diunduh dari http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9266

12.

Musical Interpretation through Cochlear Implants and Audio Processing Techniques. Diunduh dari http://masonbretan.com/Musical-Interpretation-through-CochlearImplants-and-Audio-Processing-Techniques.php

Gambar dari : 13. Normal ear anatomy. Diunduh dari http://images.google.co.id/imgres? imgurl=http://i130.photobucket.com/albums/p268/hunghung80/Normal_ear_anato my.jpg&imgrefurl=http://www.kaskus.us/showthread. 14. Anatomi telinga. Diunduh dari http://nursecerdas.wordpress.com/2009/02/05/217/ 15. Cochlear Crossection. Diunduh dari http://images.google.co.id/imgres? imgurl=http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0c/Cochleacrosssection.png/250px-Cochleacrosssection.png&imgrefurl=http://lionkingnimaz.blogspot.com 16. Anatomi telinga luar. Diunduh dari http://images.google.co.id/imgres? imgurl=http://medicastore.com/images/anatomi_telinga_luar.jpg&imgrefurl=http:// medicastore.com/penyakit/998/Telinga_Hidung_%26_Tenggorokan.htm 17. Cochlear implant. Diunduh dari http://kidshealth.org/parent/general/eyes/images_69950/P_cochlear-noConsole.jpg

18. 19. 20.

Cochlear implant. Diunduh dari www.cicada.org.au/images/cochlear_implant2.jpg Komponen implan koklea. Diunduh dari http://www.pikhospital.co.id/hidup-tidaksunyi-dengan-implan-koklea Components of cochlear implant device. Diunduh dari http://masonbretan.com/Musical-Interpretation-through-Cochlear-Implants-andAudio-Processing-Techniques.php

21.

Understanding the cochlear implants. Diunduh dari http://www.wasashhh.org/cochlear_implants.htm 22. Hearing aid. Diunduh dari http://www.hearingaidseasier.com/