Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum Ke- 12 2013Biokimia Hewan

Hari/Tanggal : Jumat/ 17 Mei Waktu : 08.00-11.20 WIB PJP : Syaefudin, M.Si Asisten : Yunan Nursyahbani Janu

KALSIUM DARAH
Kelompok 8 I Wayan Widyastawan Alanbia Hermawan Dini Nuraeni J3P212067 J3P212072 J3P112026

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

Pendahuluan Darah merupakan salah satu komponen terpenting dalam tubuh manusia, darah mengambil peran yang sangat vital dalam berjalanya sustu mekanisme kehidupan mahluk hidup kecuali tumbuhan , karena dari darah adalah zat yang terdistribusi ke seluruh tubuh menyebarkan utrisi dan juga antibody ke tempat yang membutuhkan. Darah terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu trombosit, leukosit dan eritrosit. Fungsi utama eritrosit atau sel darah merah yang mengandung hemoglobin merupakan komponen hematologi utama dari transport oksigen. Hemoglobin adalah protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen, di dalam darah terdapat berbagai macam zat seperti, protein, lipid, glukosa, vitamin, oksigen, anon anion, kation, urea asam urat, dan lain lain. Kalsium merupakan unsur terbanyak kelima dan kation terbanyak di dalam tubuh manusia, yaitu sekitar 1.5-3% dari keseluruhan berat tubuh. Sebagian besar kalsium, yaotu sekitar 99% terkonsentrasi dalam tulang rawan dan gigi, sedangkan sisanya 1% terdapat dalam cairan tubuh dan jaringan lunak. Kalsium ini juga ditemukan pada darah. Kadar kalsium dalam sirkulasi darah normalnya pada manusia sekitar 10 mg/100 mL. Adapun kadar kalsium darah dalam serum pada keadaan normal adalah 9-11 mg/dL (Linder 1992). Kalsium tersebut terdapat dalam serum dapat berikatan dengan protein (albumin dan globulin) ataupun sebagai ion Ca2+ dan sejumlah kecil kalsium merupakan kompleks dengan asam organik dan anorganik (Muchtadi 1989). di alam, kalsium terdapat dalam buahbuahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung kalsium dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Kalsium darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah kalsium darah akan kembali pada keadaan semula. Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah kalsium darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi 2006). Fungsi kalsium dalam darah yaitu membentuk serta mempertahankan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis, membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka, menghantarkan signal ke dalam sel-sel saraf, mengatur kontraksi otot, sebagai komponen penting dalam produksi hormon dan enzim yang mengatur proses pencernaan, energi dan metabolisme lemak, juga meminimalkan penyusutan tulang selama hamil dan menyusui. Salah satu alat yang digunakan dalam praktikum adalah sentrifuse, alat yang mengunakan putaran horizontal dengan kecepatan yang dapat di sesuaikan, untuk mendapatkan suatu sedimen atau endapan yang biasa disebut dengan pellet, prinsip kerja sentrifuse menyebabkan zat yang lebih padat akan mengendap didasar tabung. Dengan cara yang sama, benda ringan akan cenderung bergerak ke atas tabung (melayang di dalam tabung). Untuk dapat berputar sentrifuse mengunakan tenaga dari sebuah m,otor elektrik yang kecepatanya dapat kita tentuklan dengan mengaturnmya dengan skala rpm.

Tujuan Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui kandungan mineral dalam darah secara kuantitatif dengan mengunakan metode Clark and Collips. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah tabung reaksi, gelas piala, bulb, pipet mohr, spektronik, penangas air, corong, tabung erlenmeyer, batang pengaduk, kertas saring dan sentrufius. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum antara lain ammonium oksalat 4%, ammonia 25%, asam sulfat 1N, kalium permanganate 0,01N, Ca 0,2mg, serum darah, akuades, Prosedur kerja Hasil Pengamatan Tabel 1. Jonsentrasi kalsium darah Tabung V. awal V. akhir V. terpakai [kadar kalsium] mg/dl Blangko 17,9 18 0,1 0 Sampel 1 19 19,2 0,2 1 Sampel 2 20 20,3 0,3 2 Sampel 3 17,7 17,85 0,15 0,5 Sampel 4 17,85 18 0,15 0,5 Rumus perhitungan : [Kalsium] = (A-B) x 0,2 x 100/2 mg % = (A-B) x 10 mg% A = volume terpakai sampel B = volume terpakai blanko Contoh perhitungan sampel 1 : [Kalsium] = (0,2 0,1) x 0,2 x 100/2 mg% = (0,2 0,1) x 10 mg% = 1 mg% Pembahasan Dalam menentukan kadar kalsium darah kali ini mengunakan metode Clark dan Collips, dari hasil percobaan di dapatkan hasil yang berbeda dengan literatur yang di dapat, yaitu umumnya berkisar antara 8.10 10.60 mg/100 , perbedaan yang di data dengan literature yang di dapat di akibatkan oleh berbedanya volume darah yang digunakan dalam percobaan dengan literatur, namun setelah kami melakukan perbandingan anatara volume yang dgun akan dalam literature dengan volume yang digunakan dalam praktikum akmi juga mendapatkan hasil yang menunjukan bahawa range dari kandungan kalsium dalam darah sampel masih kurang dari range dalam literatur, sehingga hewan pemilik darah yang digunakan sebagai sampel mengalami hipokalsemia atau kekurangan kadar kalsium darah. (Arifin et al. 1999).

Metode Collin & Clark yang digunakan dalam penentuan kadar kalsium memiliki prinsip pengendapan kalsium menjadi kalsium oksalat. Endapan tersebut terbentuk karena adanya penambahan asam (H2SO4) yang menghasilkan ion oksalat, kemudian dititrasi dengan KMnO4. Titik akhir titrasi ini berwarna merah muda. Pengerjaan metode ini harus memerhatikan beberapa hal, antara lain serum harus sesegera mungkin dipisahkan dari bekuan darah, sehingga konsentrasi dalam serum menurun karenan cenderung untuk berdifusi, amonium oksalat yang digunakan harus tidak terdapat endapan, dan suhu pada waktu titrasi harus di atas 700C. Bila suhunya tidak di atas 700C, reaksi antara oksalat dan permanganat tidak stoikiometri dan hasilnya lebih rendah. Adapaun penambahan amonium oksalat dimaksudkan terbentuknya endapan kalsium oksalat (Hide et al. 1977). Kalsium yang diserap dari makanan jumlahnya tergantung pada proporsi relatif dari zat pengkilasi. Dua hormon yang terlibat dalam metabolisme kalsium adalah hormon paratiroid dan kalsitonin (McDowell 1992). Dalam keadaan akut, konsentrasi kalsium darah secara homeostatik dikontrol oleh gabungan aliran Ca2+ ke dalam atau keluar darah dan resorpsi Ca2+ urin. Kontrol utama aliran Ca2+ keluar kompartemen cairan tulang ekuilibrium dengan kalsium fosfat yang amorf. Hal ini terjadi melalui aktivitas hormon paratiroid (PTH) yang mengontrol pengaktifan vitamin D menjadi bentuk hormonnya dan kedua hormon berinteraksi dengan meningkatkan kalsium darah. Aktifnya vitamin D membuat PTH meningkatkan resorpsi tulang dan retensi kalsium oleh tubuli ginjal, juga merangsang penyerapan kalsium makanan dalam usus halus. Sekresi kalsitonin tiroid cenderung menurunkan konsentrasi kalsium darah dengan jalan kebalikan dari pengaruh aliran kalsium tulang dan menyebabkan peningkatan deposito mineral tulang secara keseluruhan (Linder 1992). Selama pencernaan, kalsium dan fosfor terpisah pada makanan yang dimakan dan terserap melalui dinding usus halus ke dalam aliran darah yang membawa mineral tersebut ke bagian-bagian tubuh yang memerlukan mineral (McDowell 1992). Kalsium dalam tubuh berfungsi untuk mengaktifkan enzim lipase. Selain itu, kalsium diperlukan dalam proses kontraksi otot dan fungsi saraf yang berhubungan dengan proses penghantar rasangan. Peranan kalsium dalam tubuh ini dapat juga dibagi menjadi dua, yaitu membantu membentuk tulang dan gigi juga mengukur proses biologi dalam tubuh. Kebutuhan kalsium terbesar terjadi pada waktu pertumbuhan, tetapi keperluan kalsium masih diteruskan hingga dewasa. Kalsium yang terdapat pada tulang dan gigi memberi struktur tulang dan gigi. Tulang dan gigi tersebut berfungsi sebagai sumber kalsium bagi tubuh (Winarno 1989). Kadar kalsium dalam darah juga memiliki efek dalam tubuh manusia , kekurangan dan kelebihan kalsium dalam darah dapat menyebabakan ganguan dalam tubuh, kelebihan kalsium atau disebut dengan hiperkalsemia yang pada mumumnya disebabkan karena beberapa hal seperti pemecahan tulang yang berlebihan dan metastasis osteolitik di dalam tulang. Hiperkalsemia dapat menyebabkan kelemahan otot gejala-gejala gastrointestinalis, giddiness, haus berat disertai poliuria, hiperkalsiuria, dan kalkulus renalis. Hiperkalsemia yang sudah kronis dapat membawa resiko berhentinya jantung ( cardiac arrest). Adapun kekurangan kalsium atau hipokalsemia disebabkan oleh defisiensi asupan atau absorbsi kalsium. Hal tersebut dapat dikarenakan hipoparatirodisme, kehilangan

kalsium berlebih melaui ginjal pada kerusakan tubulus atau asidosis. Hipokalsemia ini merupakan bagian dari kegagalan ginjal kronik, kadang juga pankreatitis. Hipokalsemia dapat juga disebabkan oleh makanan berfosfat tinggi yang mengikat kalsium di dalam usus yang disebut neonetus. Penyakit lainnya dari defisiensi kalsium adalah osteomalasia dan osteoporosis yang menunjukkan kadar mineral dan kepadatan tulang menurun, tanpa atau dengan diikuti oleh penurunan bahan organic tulang. Osteomalasia biasanya terjadi pada usia muada, misalnya defiensi kalsium saat kehamilan. Defisiensi kalsium ini disebabkan susunan zat pada tulang tidak memiliki konsentrasi kalsium dan fosfat yang cukup untuk proses pengerasan tulang, sehingga tulang menjadi lebih lunak. Adapun osteoporosis adalah kegagalan pertumbuhan tulang yang dapat mengakibatkan satu atau lebih patah tulang dengan gejala trauma minimal (Schuette & Linkswiler 1988).

Simpulan Kalsium di dapat dari serapan dari makanan yang dimakan maupun dari aktifitas jaringan dalam tubuh, kalsium sendri paling banyak ditemukan pada tulang, namun juga terdapat kalsium yang terdapat dalam darah meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, kandungan kalsium darah pada darah sampel yaitu darah dari sapi berada di range 8.10 10.60 mg/100, hasil yang di dapat berbeda dikarenakan volume darah yang digunakan sebagai sampel berbeda dengan literatur, dan hewan yang darahnya di gunakan sebagai sampel menderita hipokalsemia atau kekurangan kalsium dalam darah, ini didapat setelah di bandingkan antara volume sampel dengan literatur. Daftar Pustaka Arifin Z et al. 1999. Konsentrasi mineral makro (Ca, Mg dan P) dalam serum sapi selama masa kebuntingan. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner: 315-317. Hide W et al. 1977. Analytica l Toxicology Methods Manual. Iowa State: University Press. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis. Jakarta: UI Press. McDowell LR. 1992. Minerals in Animal and Human Nutrition. San Diego: Academic Press. Schuette SA, Linkswiler HM. 1988. Pengetahuan Gizi Mutakhir: Mineral. Jakarta: Gramedia. Winarno FG. 1995. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Muchtadi D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Bogor: IPB Press.