Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan oleh Adi Kusmayadi / 121424005 Pada praktikum ini, dilakukan pembuatan atau sintesa kalium alumunium sulfat

(tawas) dari limbah alumunium foil. Langkah awal dalam pembuatan tawas dilakukan dengan melarutkan potongan potongan aluminium foil sebanyak 3 gram yang sudah dipotong kecilkecil dalam larutan KOH sambil dipanaskan. Pemanasan ini bertujuan untuk mempercepat kelarutannya, karena semakin tinggi suhu dan semakin luas permukaan zat maka kelarutannya semakin besar. Penambahan KOH ini membuat reaksi berjalan cepat dan bersifat eksoterm karena menghasilkan kalor. Dalam reaksi ini terbentuk gas H2, hal ini terlihat dengan terbentuknya gelembung-gelembung gas. Setelah aluminium bereaksi gelebung-gelembung ini hilang. Setelah Al larut, dihasilkan larutan berwarna hitam. Reaksi antara Al dan KOH berlangsung melalui persamaan sebagai berikut: 2Al (s) + 2KOH (aq) + 2H2O (l) 2KAlO2 (aq) + 3H2 (g)

Setelah proses pelarutan selesai. Selanjutnya dilakukan proses penyaringan, proses penyaringan yang bertujuan untuk menyaring ion-ion pengganggu sehingga yang tersisa hanya tinggal filtratnya. Kemdian filtrat diambil dan ditetesi dengan asam sulfat 50%. Dalam penambahan asam sulfat ini dilakukan secara perlahan sambil diaduk, hal ini bertujuan agar semua Al yang berada di dalamnya dapat bereaksi sempurna dan pembentukan endapan yang terbentuk sempurna dan secara teratur. Penambahan asam sulfat secara perlahan juga bertujuan agar dapat mengendalikan pH dengan mengecek pH setiap beberapa tetes sekali, agar larutan tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa. Penambahan H2SO4 dihentikan tepat pada pH 1-2. Hal ini dilakukan karena pada pH 1-2 terjadi pengendapan yang sempurna dan dapat mengikat kation K+ dan Al3+ . Larutan asam sulfat 50% ini sebelumnya dibuat dengan cara pengenceran asam sulfat 98%. Pengenceran ini dilakukan dengan mencampurkan H2SO4 dan aquades dengan perbandingan volume 1:1. Reaksi antar zat yang dihasilkan dari reaksi antar Al dan KOH dengan asam sulfat menghasilkan endapan yang berwarna putih. 2KAlO2(aq) +2H2O (l) + H2SO4 (aq) K2SO4(aq) + Al(OH)3(s)

Warna putih yang terbentuk ini berasal dari senyawa Al(OH)3. senyawa Al(OH)3 yang bersifat basa dicampurkan dengan asam sulfat hingga pH nya 1-2. Hal ini bertujuan agar membentuk kation-kation (K+ dan Al3+) yang merupakan elemen elemen yang diperlukan untuk membentuk tawas. H2SO4 (aq) + K2SO4 (aq) + 2Al(OH)3 (s) 2KAl(SO4)2 (aq) + 6H2O

Larutan pH 1-2 tersebut dipanaskan dengan suhu 60-80oC selama 10 menit. Setelah dipanaskan, kemudian didinginkan hingga terbentuklah kristal-kristal tawas. Pada percobaan ini pada saat pemanasan suhunya harus dikendalikan dengan cara mengukur setiap beberapa menit sekali dengan termometer. Jika suhunya terlalu tinggi (>80oC), maka suhu hotplate diturunkan, kemudian sebaliknya bila suhu larutan rendah untuk mempercepatnya maka suhu

hotplate dinaikkan. Kristal-kristal tawas yang telah didinginkan. Pada saat pendinginan, larutan dibiarkan diudara terbuka hingga dingin, pada saat ini endapan yang terbentuk adalah KAl(SO4)2.12H2O. Setelah dingin, dilakukan penyaringan dan dibilas dengan air dan alkohol, hal ini bertujuan untuk mencuci endapan dan membilas sisa tawas yang tersisa di erlenmeyer serta fungsi alkoholnya untuk mempercepat penguapan larutan pencuci. Kristal yang terbentuk kemudian disaring dan dikeringkan. Pada percobaan ini tidak dilakukan analisis titik leleh, sehingga hanya dilakukan pembuatan tawas dari aluminium foil saja. 24H2O + 2KAl(SO4)2(aq) 2KAl(SO4)2.12H2O(s)

Dari hasil percobaan yang dilakukan, yield yang dihasilkan adalah 67,5 %. Faktor yang mempengaruhi hasil dari yield ini diantaranya, pada awal pemanasan (pelarutan Al dengan KOH) terjadi penguapan yang berlebih, karena suhu yang terlalu tinggi, serta pada awal pemanasan dilakukan pengadukan menggunakan batang pengaduk dan menggunakan magnet stirer di tengah proses pemanasan, hal ini menyebabkan larutan meluber ke atas dan ada sisa Al yang menempel pada batang pengaduk dan ada juga Al yang menempel di dinding gelas, sehingga terdapat Al yang tidak ikut larut. Yang kedua pada saat pengeringan, kertas saring dan corong tidak di tutup (hal ini bertujuan untuk mempercepat proses penguapan ) sehingga ada beberapa endapan yang beterbangan dan mengurangi berat tawas, selain itu meskipun telah dilakukan penyaringan ganda masih ada endapan yang tidak tersaring pada kertas saring.