P. 1
KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) SURVEI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA, KABUPATEN TOLIKARA, PAPUA

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) SURVEI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA, KABUPATEN TOLIKARA, PAPUA

|Views: 838|Likes:
Dipublikasikan oleh Tiar Pandapotan Purba
Kabupaten Tolikara, yang juga merupakan bagian dari papua memiliki potensi pariwisata belum dikembangkan. Berdasarkan kajian dari rencana tata ruang wilayah Tolikara pada tahun 2012, Tolikara memiliki kawasan suakamargasatwa Memberamo-foja di sisi utara yang merupakan potensi utama alam yang dapat dijadikan sebagai kawasan penelitian, belajar dan sekaligus wisata. Selain itu ada wisata alam seperti air terjun dibeberapa distrik. Potensi topografi yang ekstrim di Tolikara pun dapat dijadikan potensi wisata adrenalin bagi pencinta alam (natural adventure tourism). Tidak hanya itu, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah kawasan pertanian pangan yang terdapat di Bokondini, Kanggime dan Kembu sebagai kawasan wisata terpadu agro. Tidak hanya itu Tolikara juga memiliki catatan sejarah panjang dalam membuka ruangnya dari isolasi pembangunan budaya, sosial dan agama sejak tahun 1950 hal ini ditandai dengan banyaknya landmark keagaamaan dan kawasan keagamaan yang dijaga dan dirawat secara kelembagaan gereja.
Permasalahannya adalah Tolikara belum melakukan kajian yang mendalam terhadap objek dan kemampuan daya tarik dari berbagai potensi sehingga tidak ada profil objek wisata yang dapat dijadikan sebagai data untuk dikembangkan dan berimplikasi kepada tidak adanya program-program pemerintah Tolikara untuk mengembangkan objek wisata dan menjadi destinasi wisata terbaik di Wilayah Timur Indonesia. Oleh karena itu pekerjaan Survei Pengembangan Objek Wisata ini dilakukan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah perangkat hukum daerah dalam pengelolaan pembangunan pariwisata di Tolikara.
Menurut Maryani (1991:11) syarat-syarat pengembangan pariwisata suatu objek wisata adalah 1. What to see, 2. What to do, 3 what to buy, 4 what to arrived, 5 what to stay. Dengan berpijak kepada 5 syarat tersebut diharapkan semua potensi objek dan destinasi wisata di Tolikara dapat disurvei dan dijadikan sebagai data/informasi induk pariwisata Tolikara, baik yang memiliki potensi secara alami maupun potensi yang membutuhkan dorongan kebijakan dari pemerintah Tolikara.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan pariwisata) melalui dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah Tolikara.
Kabupaten Tolikara, yang juga merupakan bagian dari papua memiliki potensi pariwisata belum dikembangkan. Berdasarkan kajian dari rencana tata ruang wilayah Tolikara pada tahun 2012, Tolikara memiliki kawasan suakamargasatwa Memberamo-foja di sisi utara yang merupakan potensi utama alam yang dapat dijadikan sebagai kawasan penelitian, belajar dan sekaligus wisata. Selain itu ada wisata alam seperti air terjun dibeberapa distrik. Potensi topografi yang ekstrim di Tolikara pun dapat dijadikan potensi wisata adrenalin bagi pencinta alam (natural adventure tourism). Tidak hanya itu, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah kawasan pertanian pangan yang terdapat di Bokondini, Kanggime dan Kembu sebagai kawasan wisata terpadu agro. Tidak hanya itu Tolikara juga memiliki catatan sejarah panjang dalam membuka ruangnya dari isolasi pembangunan budaya, sosial dan agama sejak tahun 1950 hal ini ditandai dengan banyaknya landmark keagaamaan dan kawasan keagamaan yang dijaga dan dirawat secara kelembagaan gereja.
Permasalahannya adalah Tolikara belum melakukan kajian yang mendalam terhadap objek dan kemampuan daya tarik dari berbagai potensi sehingga tidak ada profil objek wisata yang dapat dijadikan sebagai data untuk dikembangkan dan berimplikasi kepada tidak adanya program-program pemerintah Tolikara untuk mengembangkan objek wisata dan menjadi destinasi wisata terbaik di Wilayah Timur Indonesia. Oleh karena itu pekerjaan Survei Pengembangan Objek Wisata ini dilakukan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah perangkat hukum daerah dalam pengelolaan pembangunan pariwisata di Tolikara.
Menurut Maryani (1991:11) syarat-syarat pengembangan pariwisata suatu objek wisata adalah 1. What to see, 2. What to do, 3 what to buy, 4 what to arrived, 5 what to stay. Dengan berpijak kepada 5 syarat tersebut diharapkan semua potensi objek dan destinasi wisata di Tolikara dapat disurvei dan dijadikan sebagai data/informasi induk pariwisata Tolikara, baik yang memiliki potensi secara alami maupun potensi yang membutuhkan dorongan kebijakan dari pemerintah Tolikara.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan pariwisata) melalui dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah Tolikara.

More info:

Published by: Tiar Pandapotan Purba on May 27, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2014

pdf

text

original

PEMERINTAH KABUPATEN TOLIKARA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) SURVEI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA, KABUPATEN TOLIKARA, PAPUA

TAHUN ANGGARAN 2013

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

I.

LATAR BELAKANG

Pariwisata memainkan peran kunci dalam pembangunan di Indonesia. Tahun lalu kontribusi pariwisata industry pariwisata terhadap PDB lebih dari 3 % (persen) dan jumlah pengunjung ke negara ini juga terus berkembang, sekitar 7 (tujuh) juta pengunjung asing pada tahun 2010 dan lebih dari 122 juta wisatawan domestic pada tahun 2010. Di Provinsi Papua laju pertumbuhan ekonominya didominasi oleh sector pertambangan dan galian yang mencapai 48.28% (dengan tambang), sedangkan jika tanpa tambang laju pertumbuhan ekonomi di papua mencapai 23.19%. pertumbuhan ekonomi dari sector jasa termasuk didalamnya adalah pariwisata belum memiliki peranan kunci dalam pembangunan Papua. Kabupaten Tolikara, yang juga merupakan bagian dari papua memiliki potensi pariwisata belum dikembangkan. Berdasarkan kajian dari rencana tata ruang wilayah Tolikara pada tahun 2012, Tolikara memiliki kawasan suakamargasatwa Memberamo-foja di sisi utara yang merupakan potensi utama alam yang dapat dijadikan sebagai kawasan penelitian, belajar dan sekaligus wisata. Selain itu ada wisata alam seperti air terjun dibeberapa distrik. Potensi topografi yang ekstrim di Tolikara pun dapat dijadikan potensi wisata adrenalin bagi pencinta alam (natural adventure tourism). Tidak hanya itu, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah kawasan pertanian pangan yang terdapat di Bokondini, Kanggime dan Kembu sebagai kawasan wisata terpadu agro. Tidak hanya itu Tolikara juga memiliki catatan sejarah panjang dalam membuka ruangnya dari isolasi pembangunan budaya, sosial dan agama sejak tahun 1950 hal ini ditandai dengan banyaknya landmark keagaamaan dan kawasan keagamaan yang dijaga dan dirawat secara kelembagaan gereja. Permasalahannya adalah Tolikara belum melakukan kajian yang mendalam terhadap objek dan kemampuan daya tarik dari berbagai potensi sehingga tidak ada profil objek wisata yang dapat dijadikan sebagai data untuk dikembangkan dan berimplikasi kepada tidak adanya program-program pemerintah Tolikara untuk mengembangkan objek wisata dan menjadi destinasi wisata terbaik di Wilayah Timur Indonesia. Oleh karena itu pekerjaan Survei Pengembangan Objek Wisata ini dilakukan dan diharapkan dapat dijadikan sebagai sebuah perangkat hukum daerah dalam pengelolaan pembangunan pariwisata di Tolikara. Menurut Maryani (1991:11) syarat-syarat pengembangan pariwisata suatu objek wisata adalah 1. What to see, 2. What to do, 3 what to buy, 4 what to arrived, 5 what to stay. Dengan berpijak kepada 5 syarat tersebut diharapkan semua potensi objek dan destinasi wisata di Tolikara dapat disurvei dan dijadikan sebagai data/informasi induk pariwisata Tolikara, baik yang memiliki potensi secara alami maupun potensi yang membutuhkan dorongan kebijakan dari pemerintah Tolikara. Kegiatan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan pariwisata) melalui dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah Tolikara.
hal. 2

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

II.

MAKSUD, TUJUAN & SASARAN a) MAKSUD DAN TUJUAN 1) Menyusun data dan informasi potensi-potensi objek dan destinasi wisata didalam wilayah Tolikara yang kemudian dijadikan dokumen induk data potensi objek dan destinasi pariwisata. Memberikan rekomendasi mengenai objek dan destinasi pariwisata yang dapat ditetapkan untuk segera dikembangkan oleh pemerintah dan atau dipasarkan untuk dikelola oleh investor.

2)

b) SASARAN Sasaran dari kegiatan Survei Pengembangan Objek Wisata antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Tersajinya data dan informasi objek dan destinasi wisata yang lengkap. Teridentifikasinya destinasi wisata. potensi dan permasalahan setiap objek dan

Teridentifikasinya kebutuhan pengembangan objek wisata. Terwujudnya keterpaduan program pembangunan antar kawasan dalam wilayah kabupaten. Terciptanya percepatan investasi masyarakat dan swasta di dalam kawasan. Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah dan masyarakat/swasta.

III. DASAR HUKUM Kegiatan Survei Pengembangan Objek Wisata, Kabupaten Tolikara ini

didasarkan pada beberapa peraturan perundangan sebagai berikut:
1. Undang Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup Undang – undang nomor 26 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten
hal. 3

2. 3. 4.

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni, Dan Kabupaten Teluk Wondama Di Provinsi Papua

5.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844); Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pariwisata Daerah; Undang-Undang Nomor 26 ahun 2007 tentang Penataan ruang; Undang-Undang Republik Indonesia No.10 Tahun 2009 tentang

6. 7. 8.
9. 10.

Kepariwisataan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
Undang Undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral & Batubara;

IV. RUANG LINGKUP KEGIATAN Adapun ruang lingkup meliputi : 1. Menentukan dan menetapkan objek dan daya tarik wisata di Tolikara; 2. Pengumpulan dan pengolahan data; a. Persiapan survei lapangan b. Persiapan peralatan dan perlengkapan survei lapangan c. Metode dan program survei lapangan; terdiri atas pengambilan data sekunder, pengambilan data primer, dan identifikasi lapangan. d. Membuat dan merumuskan kritera penilaian ODTW serta melakukan penilaian di lapangan kepada seluruh lokasi/objek yang menjadi destinasi wisata. 3. Melakukan analisa ODTW; Analisa dilakukan berdasarkan prinsip dan azas ODTW serta menggunakan kriteria penilaian yang telah dirumuskan oleh tim. Analisa mencakup dari dukungan sarana dan prasrana yang ada serta tingkat kemudahan pencapaian dari sisi waktu. Selain itu juga dipertimbangkan faktor keunikan masing-masing objek yang mampu menarik dan menjadi destinasi khusus. 4. Perumusan penetapan objek dan destinasi wisata;
hal. 4

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

Dirumuskannya daftar objek dan destinasi wisata yang dapat segera didukung oleh pemerintah Tolikara dan untuk dikembangkan melalui dinas kebudayaan dan pariwisata Tolikara. 5. Penyusunan Buku Induk Data dan Informasi Objek Wisata. Disusunnya Buku Induk dan Informasi Objek Wisata. Keseluruhan profil objek wisata yang akan menjadi destinasi wisata di Tolikara. Minimum profil objek wisata yang ada adalah :

a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k)

Nama objek wisata; Foto objek wisata Lokasi (kampung, dan distrik); Luas objek wisata; Catatan sejarah (historical review) dan perkembangan objek wisata; Klasifikasi/jenis objek wisata; Aksesibilitas darat, udara, sungai dari sisi waktu dan jenis kendaraan; Pengelola dan pembiayaan yang ada; Daya tarik/unique value; Sarana dan prasarana pendukung disekitarnya; Pengembangan yang dibutuhkan.

V.

KELUARAN Keluaran dari pekerjaan Survei Pengembangan Objek Wisata adalah ; 1. Dokumen Laporan Pendahuluan. 2. Dokumen Data Fakta dan Analisa (Antara). 3. Dokumen Laporan Akhir. 4. Dokumen Ringkasan Eksekutif.

VI. METODOLOGI Metode pendekatan yang akan dipakai untuk melaksanakan pekerjaan ini minimal berupa : 1. 2. 3. 4. Menyusun rencana kerja, desk study, termasuk jadwal survei Menyediakan kebutuhan. data spasial, berupa peta tematik sesuai dengan

Melakukan tinjauan terhadap studi yang telah ada sebelumnya. Melakukan survei dalam rangka mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan.
hal. 5

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

5. 6. 7. 8. 9.

Mengadakan studi literatur untuk menambah pemahaman terhadap substansi pekerjaan.

dan

memperkaya

Melakukan tinjauan kebijakan terkait wilayah perencanaan. Melakukan diskusi intensif dengan pemerintah kota dan seluruh pemangku kepentingan terutama masyarakat di sekitar objek wisata. Melakukan pembahasan di daerah sebanyak 3 (tiga). Menyelenggarakan koordinasi dengan semua instansi pemerintah daerah.

VII. PELAPORAN Jenis laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa adalah : 1. Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan 1 (satu) bulan setelah dimulainya pekerjaan, dan dibuat rangkap 10 (sepuluh). Laporan Pendahuluan berisi latar belakang kegiatan, maksud, tujuan dan sasaran, ruang lingkup dan metodologi kegiatan serta rencana kerja pelaksanaan kegiatan. 2. Laporan Antara Laporan Antara dibuat 2 (dua) bulan setelah dimulainya pekerjaan dan dibuat rangkap 10 (sepuluh). Laporan Antara Laporan antara berisikan hasil dari pengamatan lapangan, kajian literatur, kebijakan, ketentuan perundangan dan produk-produk tata ruang, serta standar-standar teknis yang berlaku, hasil identifikasi program-program per sektor, serta studi kasus yang terkait dengan ODTW, hasil diskusi. 3. Laporan Akhir Laporan akhir dari seluruh kegiatan Survei Pengembangan Objek Wisata Kabupaten Tolikara, Papua dibuat 4 (empat) bulan setelah dimulainya pekerjaan, dan dibuat rangkap 10 (sepuluh) dibuat di kertas A3 berwarna. 4. Ringkasan Eksekutif Laporan ringkasan eksekutif yang berisi tentang ringkasan dari keseluruhan materi Survei Pengembangan Objek Wisata Kabupaten Tolikara, Papua. Dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar/rangkap diatas kertas A4 dan diserahkan bersamaan dengan Laporan Akhir. 5. Dokumentasi Compact Disc (CD) Berisi data digital laporan pendahuluan, antara, draft akhir, akhir, ringkasan eksekutif, album peta dan data digital lainnya. Dibuat didalam compact disc (CD) sebanyak 10 rangkap, dan diserahkan bersamaan dengan laporan akhir/4 bulan setelah pekerjaan dimulai.

hal. 6

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

VIII.

NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA

Pengguna Jasa untuk pelaksanaan pekerjaan ini adalah Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tolikara. Pekerjaan ini akan dilaksanakan oleh pihak ketiga (konsultan perencana), dengan melibatkan berbagai stakeholders dalam pembahasannya.

IX. SUMBER DAN BESARNYA PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan pekerjaan ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tolikara Tahun Anggaran 2012 yang dituangkan dalam DPA SKPD Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Kabupaten Tolikara. Kegiatan ini dilakukan secara kontraktual, dengan alokasi dana sebesar Rp. 983.300.000,- (Sembilan Ratus Delapan Puluh Tiga Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah)
X. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN Jangka waktu yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan seluruh kegiatan Survei Pengembangan Objek Wisata Kabupaten Tolikara, Papua adalah 4

(empat) bulan atau 120 (seratus dua puluh) hari kalender.
XI. TENAGA AHLI YANG DIBUTUHKAN Kegiatan ini membutuhkan tenaga ahli sebanyak 18 MM dan sebanyak 7 (Tujuh) orang tenaga ahli, 2 (dua) orang asisten tenaga ahli, 2 (dua) orang tenaga pendukung. Berikut daftar tenaga ahli yang dibutuhkan dalam kegiatan ini: Kualifika si Pendidik an Minimal Jumlah TA (orang ) Jumla h Bulan

No .

Spesialisasi/ Pendidikan

Jabatan

Pengalam an

A. Tenaga Ahli Profesional/Inti 1 2 3 Team Leader (Ahli Pariwisata) Co Leader (Ahli Arsitektur/Planologi) Ahli Prasarana Wilayah Ahli Ekonomi Pembangunan Team Leader Asisten Team Leader Tenaga Ahli Prasarana Wilayah Tenaga Ahli Ekonomi Pembangunan S2 S1 S1 10 5 5 1 1 1 4 3 2

4

S1

5

1

2

hal. 7

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

No .

Spesialisasi/ Pendidikan

Jabatan

Kualifika si Pendidik an Minimal S1 S1 S1

Pengalam an

Jumlah TA (orang ) 1 1 1

Jumla h Bulan

5 6 7

Ahli Pemetaan/GIS Ahli Arsitektur Kawasan Ahli Sosial Budaya

Tenaga Ahli Pemetaan/GIS Tenaga Ahli Arsitektur Kawasan Tenaga Ahli Sosial Budaya

5 5 5

2 2 3

B. Asisten Tenaga Ahli/Sub Profesional 1 2 Ass. Ahli Kepariwisataan Ass. Ahli Sosial Budaya Ass. Ahli Kepariwisataan Ass. Ahli Sosial Budaya Operator Komputer (Produksi) Tenaga Administrasi S1 S1 5 5 1 1 2 2

C. Tenaga Penunjang 1 2 Operator Komputer (Produksi) Tenaga Administrasi Diploma III Diploma III 1 1 1 1 3 4

XII. KEPEMILIKAN DATA DAN HASIL KEGIATAN Semua bentuk data, dokumen, peta, peta citra, foto, disket atau peralatan yang dipergunakan selama pekerjaan, dengan terbitnya kontrak tersebut menjadi hak milik pemberi pekerjaan.

Menyetujui, Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan Survei Pengembangan Objek Wisata, Kabupaten Tolikara, Papua

............................................ NIP. ................................

hal. 8

Kerangka Acuan Kerja

Survei Pengembangan Objek Wisata di Tolikara

hal. 9

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->