Anda di halaman 1dari 11

EKOSISTEM SUNGAI Asterina Wulan Sari 12/335195/PN/13030 Teknologi Hasil Perikanan INTISARI Praktikum ekosistem sungai dilakukan menggunakan

metode plotl. Tujuannya adalah mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya, cara pengambilan beberapa parameter fisik, kimia, dan biologi, korelasi antara beberapa parameter dengan komunitas biota perairan dan mempelajari kualitas perairan sengai berdasarkan diversitas biota perairan. Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 4 April 2013 di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta. Sungai dibagi menjadi 4 stasiun pengamatan. Untuk setiap pengamatan dilakukan pengambilan parameter fisik (suhu air, suhu udara, kecepatan arus,dan debit air), parameter kimia (pH, DO, CO2 bebas, dan alkalinitas) dan parameter biologi. Dengan mengetahui hasil data dari berbagai parameter tersebut maka dapat dilakukan suatu perbandingan dengan densitas gastropoda. Kualitas sungai terbaik didapat pada stasiun 1 dan 3 karena memiliki diversitas plankton dan makrobentos yang tinggi. Kata kuci : Diversitas, Kualitas Air, Makrobantos, Populasi, Sungai PENDAHULUAN Air adalah kebutuhan yang penting bagi setiap organisme, terutama air tawar bagi manusia. Air tawar dapat terpenuhi dari sumber mata air, sungai, waduk maupun danau. Namun sekarang, banyak sumber air tawar mulai tercemar dari bahan organic maupun non organik. Dengan adanya pencemaran tersebut kualitas air pun mengalami penurunan. Oleh karena itu, perlu adanya peran masyarakat dan pemerintah dalam menjaga sumber air dan ekosistem demi keberlangsungan hidup semua organisme bukan hanya manusia saja. Dilihat secara fisik, ekosistem memiliki banyak macam, seperti ekosistem pantai, ekosistem sungai, ekosistem danau, ekosistem udara, ekosistem lembah dan sebagainya (Siahaan,2004). Sungai adalah perairan umum yang berlokasi di darat dan merupakan suatu ekosistem terbuka yang berhubungan erat dengan sistem-sistem terrestrial dan lentik. Sungai adalah lingkungan alam yang banyak di huni oleh organism (Odum,1966). Perairan umum memiliki bentuk dan ukuran yang tidak sama sehingga bentuk sungai jelas berbeda dengan bentuk danau. Bentuk sungai umumnya memanjang dan berliku dari hulu ke hilir. Sementara itu, bentuk danau atau waduk adalah bulat atau lonjong sesuai dengan kontur lahan (Khairuman,2003). Sungai dapat digolongkan dengan berbagai dasar penggolongan, sebagian para ahli mencoba menggolongkannya berdasarkan sumber airnya. Ada pula yang

menggolongkan berdasarkan kekekalan pengairan airnya (Utoyo,2007). Para ahli ekologi dapat mengetahui apakah bagian sebuah sungai tercemar atau tidak hanya dengan menggunakan jaring untuk mengumpulkan avertebrata pada suatu waktu tertentu, kemudian menghitung jumlah spesies yang tertangkap. Dari sini dapat dihitung sebuah indeks mengenai keanekaragaman hayati, berbagai akibat yang ditimbulkan industry, system pembuangan air (drainase) dan kegiatan manusia lainnya dapat dipantau secara berkala dengan menggunakan indicator hayati yang sederhana ini (Pollock,2000). Tujuan praktikum ekosistem sungai yaitu mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya. Selanjutnya, mepelajari cara-cara pengambilan data tolakukur (parameter) fisik, kimia dan biologi suatu perairan. Juga mempelajari korelasi antara beberapa tolakukur lingkungan dengan komunitas biota perairan (mikrobentos). Terakhir adalah mempelajari kualitas sungai berdasarkan indeks biota perairan. METODOLOGI Praktikum ekosistem sungai ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 4 April 2013 pukul 14.30 WIB. sungai yang dipilih sebagai tempat praktikum adalah adalah Sungan Tambak Bayan yang di bagi menjadi 4 stasiun. Metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah metode polt dengan ukuran 40cm x 40 cm. selain mempelajari makrobentos maupun plankton, juga dipelajari parameter fisik, kimia, dan biologi sebagai tolak ukurkualitas perairan sungai tersebut. Alat yang digunakan pada praktikum ini terdiri dari : pH meter, larutan MnSO4, larutan reagen oksigen, larutan H2SO4 pekat, larutan 1/80N Na2S2O3, larutan KOH.KI, larutan 1/40N Na2S2O3, larutan 1/44 NaOH, larutan 1/50 H2SO4, larutan indicator amilum, larutan indicator PP (phenolphthalein), larutan indikator Methyl Orange (MO), larutan Indikator Bromcresol Green / Methyl Red (BCG/MR), dan larutan 4% formaln. Alat yang digunakametern adalah bola tenis meja, stopwatch, roll-meter, meteran kain atau penggaris, thermometer, botol oksigen, Erlenmeyer, gelas ukur, piepet ukur atau buret, pipet tetes, mikrobiret, ember, plot kayu atau bamboo, sikat halus, kuas halus, saringan (seine), mikrospkop, kertas label, dan pensil. Cara kerja yang pertama adalah membagi perairan sungai menjadi 4 stasiun. Pada masing-masing syasiun dilakukan pengamatan parameter perairan baik fisik, kimia maupun biologi, serta melakukan pengamatan vegetasi dan kegiatan yang ada disekitar

sungai. Pengukuran parameter fisik pada suhu air dilakukan dengan termometer, kecepatan arus dengan bola tenis yang dihanyutkan. Pengukuran parameter kimia, DO dengan menggunakan metode winkler, CO2 bebas dengan menggunakan metode alkalimetri, begitu pula dengan alkalinitas, sedangkan pH dapat menggunakan pH meter. Terakhir untuk parameter biologi, dilakukan pengambilan cuplikan berupa plot-plot di setiap stasiun. Kemudian substratnya diambil, untuk substrat kasar dimasukkan ke dalam tempat berisi air, kemudian disikat dan makrobentos yang didapat dipindahkan ke dalam larutan fiksatif dengan menggunakan kuas halus. Sedangkan substrat halus diletakkan diatas saringan bertingkat kemudian dicuci dengan air dan makrobentos dimasukkan ke dalam botol yang berisi larutan fiksatif. Lalu dilakukan identifikasi dari perhitungan makrobentos dengan menggunakan mikroskop. Setelah data terkumpul maka dapat ditentukan indeks diversitas makrobentos dengan rumus Shannon-Wienner : H=

2 , H

merupakan indeks keanekaragaman, ni adalah cacah individu suatu genus, dan N adalah cacah individu seluruh genera, dimana H adalah indeks keanekaragaman. HASIL DAN PEMBAHASAN Table 1. Data Hasil Pengamatan Stasiun I 1.1 1.914 6.34 11.2 62 7 377,5

Parameter Fisik Suhu udara (C) Suhu air (C) Kecepatan arus (m/s ) Debit (m3/s) Kimia DO (ppm) CO2 (ppm) Alkalinitas (ppm) pH Biologi Densitas plankton (idv/L)

II 23 25.6 0.69 2.33 6.4 7 33.2 7 132,5 0.3658 256

III 29 28.5 0.58 0.11 6.1 7.4 76 7 245 0.4098 69

IV 26 29 11.28 3.19 4.5 7.6 134 7 1487,5 0.2040 56

Diversitas plankton 0.9142 Densitas Makrobentos (idv/m2) 44

Diversitas Makrobentos Densitas Gastropoda (idv/m ) Cuaca Vegetasi


2

0 0.06 Mendung Semak bambu

0.7 381 Hujan Semak, pohon

0.9 25 Hujan Semak, pohon

0.7 36 Hujan Semak, pohon

Praktikum ekosistem sungai ini dilaksanakan di Sungai Tambak Bayan yang dibagi menjadi 4 stasiun. Pada stasiun 2, cuaca hujan dan vegetasi yang ada berupa semak dan pohon. Ketika praktikum, didapatkan masyarakatyang memancing dan disekitarnya terdapat beberapa kolam ikan. Pada stasiun 1 suhu udara dan air tidak diketahui. Pada stasiun 2, stasiun 3, dan stasiun 4 diketahui suhu udaranya berturut-turut adalah 230C, 290C, dan 260C. Dan suhu air berturut-turut 25.50C, 28.50C, dan 290C. Suhu udara tertinggi dimiliki oleh stasiun 3, hal ini terjadi karena di stasiun 3 vegetasi pohonnya sedikit dan lebih banyak semaknya, sehingga perairan tidak mendapat perindangan. Sedangkan suhu air tertinggi dimiliki oleh stasiun 4 yang tidak berbeda jauh dengan suhu air pada stasiun 3. Penyebab tingginya suhu air adalah suhu udara yang relatif tinggi sehingga berimbas pada suhu air.

Suhu Udara & Suhu Air VS Stasiun


35 30 Suhu ( oC ) 25 20 15 10 5 0 2 3 Stasiun 4 suhu udara suhu air

Gambar 1. Suhu Udara dan Suhu Air vs stasiun Kecepatan arus dan debit air akan sangat mempengaruhi keberadaan plankton merupakan organism akuatik yang mikroskopis yang biasanya berenang atau tersuspensi dalam air, tidak bergerak sedikit untuk melawan atau mengikuti arus (Wibisono,2005).

Kecepatan arus dan debit ini merupakan parameter fisik yang penting. Kecepatan arus secar aberurutan adalah 1.1 m/s, 0.69 m/s, 0.58 m/s, dan 11.28 m/s. pada stasiun 4 ini memiliki kecepatan arus paling tinggi, hal ini bisa terjadi karena kelandaian pada permukaan dasar sungai, dan juga dikarenkan waktu itu stasiun 4 sedang hujan sehingga aliran air sungai bertambah deras.

Kecepatan Arus VS Stasiun


12 kecepatan arus ( m/s) 10 8 6 4 2 0 1 2 stasiun 3 4

Gambar 2. Grafik Kecepatan arus vs Stasiun Parameter selanjutnya adalah parameter kimia, meliputi DO, CO2 bebas, alkalinitas, dan pH. Kandungan DO tertinggi dimiliki stasuin 2, kemudian stasiun 1, stasiun 3, dan paling rendah pada stasiun 4. Stasiun 2 memiliki kadar DO sebesar 6,4 ppm, hal ini disebabkan suhunya yang rendah atau tidak terlalu panas. Menurut Jeffries et al (1996), semakin besar suhu dan ketinggian serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil. Suhu memiliki hubungan erat dengan kandungan oksigen terlarut. Semakin tinggi suhu perairan maka semakin rendah kadar Donya, begitupun sebaliknya semakin rendah suhu maka kadar DO akan semakin tinggi.

DO VS Stasiun
8 DO (ppm) 6 4 2

0
1 2 Stasiun 3 4

Gambar 3. Grafik DO vs Stasiun Kandungan CO2 bebas, tertinggi dimiliki stasiun 1 sebesar 11.2 ppm dan terendah dimiliki stasiun 2 yaitu sebesar 7 ppm. Penyebab stasiun 1 memiliki kandungan CO2 bebas tinggi karena didalamnya terdapat densitas gastropda yang tinggi, sehingga kebutuhan oksigen banyak dan kandungan akan CO2 bebas hasil respirasi juga tinggi. Selain itu juga disebabkan oleh suhu yang tinggi. Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik sehingga kadar CO2 pun semakin meningkat.

CO2 bebas VS Stasiun


12 10 8 6 4 2 0 1 2 3 4 CO2 bebas (ppm)

stasiun

Gambar 4. Grafik CO2 bebas vs Stasiun Untuk alkalinitas, stasiun 1, 2, 3, dan 4 memiliki kadar 62 ppm, 33.2 ppm, 76 ppm, dan 134 ppm. Alkalinitas merupakan konsentrasi dari unsur basa yang bersifat penyangga. Menurut SITH (2009), nilai alkalinitas berada pada kisaran normal antara 80-120 ppm.

Nilai alkalinitas berbanding lurus dengan nilai pH yang berada pada kisaran 6,8 karena sifat basa pada alkalinitas menyebabkan tingginya nilai pH dan bila niali alkalinitas rendah, rendah pula nilai pH-nya.

Alkalinitas VS Stasiun
160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 Stasiun 3 4 Alkalinitas (ppm)

Gambar 5. Grafik Alkalinitas vs Stasiun

pH pada semua stasiun menunjukka angka 7, dimana itu berarti memeiliki pH yang netral. hidup pada lingkungan tersebut. Ph merupakan suatu ukuran dari konsentrasi ion hydrogen dan menunjukkan susasana air tersebut apakah bereaksi asam atau basa. Secara alamiah pH perairan di pengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida dan senyawa yang bersifat asam. Fitiplankton dan tanaman air lainnya akan mengambil karbondioksida dari air selama proses fostosintesis sehingga ph air meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari. Dalam suatu perairan ph optimum yang dibutuhkan ikan berkisar 6,5-8,5 (6,0-9,0 masih dapat ditolerir) (Robert,1978).

pH VS Stasiun
8 6 pH 4 2 0 1 2 Stasiun 3 4

Gambar 6. Grafik pH vs Stasiun

Parameter biologi yang diukur pada praktikum ini adalah densitas plankton dan densitas makrobentos, setelah data desnsitas didapat maka dapat ditentukan indek diversitasnya. Untuk densitas plankton tertinggi didapat pada stasiun 2 dan terendah didapat pada stasiun 1. Densitas plankton dan makrobentos ini dipengaruhi oleh parameter fisik dan parameter kimia yang memungkinkan plankton dan makrobentos dapat tumbuh. Dari kepadatan yang diperoleh yakni kepadatan plankton dan makrobentos maka dari setiap stasiun indeks diversitas plankton dan makrobentos dapat ditentukan. Diversitas plankton tertinggi terdapat pada stasiun 1 dengan nilai 0.9142 dan terendah terdapat pada stasiun 4 dengan nilai 0.204. Untuk diversitas makrobentos, nilai tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 0.9 dan nilai terendah pada stasiun 1, dimana stasiun 1 tidak ditemukan makrobentos.

densitas planton & makrobentos vs stasiun


1600 1400 Densitas (idv/m2 ) 1200 1000 800 600 400 200 0 1 2 stasiun 3 4 densitas plankton densitas makrobentos

Gambar 7. Grafik Densitas Plankton & makrobentos vs Stasiun

Diversitas plankton pada stasiun 1 merupakan yang tertinggi, hal ini disebabkan kondisi perairan pada stasiun 1 mendapatkan sinar matahari tang yang cukup dan tidak

terlalu panas. Faktor sinar matahari menjadi faktor yang penting karena dengan sinar matahari fitoplankton yang berada pada perairan tersebut dapat melakukan fotosintesis (Prawiro, 1988). Dari proses fotosintesis tersebut maka akan memicu pertumbuhan organisme khususnya mikroorganisme plankton dalam perairan karena tingginya DO, nutrient, dan makanan bagi organisme air.

Diversitas Plankton & Makrobentos VS Stasiun


1 0.8 Diversitas 0.6 0.4 0.2 0 1 2 Stasiun 3 4 plankton makrobentos

Gambar 8. Grafik Diversitas Plankton & Makrobentos vs Stasiun

Untuk diversitas makrobentos, stasiun 3 memiliki keanekaragaman makrobentos yang tertinggi jika dibandingkan dengan stasiun lainnya. Faktor yang menyebabkan tingginya makrobentos adalah kandungan unsur-unsur hara. Unsure hara atau nutrient tersebut dapat berasal dari kikisan tanah dari hulu hingga hilir. Selain itu juga berasal dari limbah buangan kotoran hewan ternak masyarakat sekitar dan limbah rumah tangga yang mengalir ke dalam perairan. Masukan bahan organic dan unsure hara akan mempengaruhi senyawa kimia yang terkandung dalam air sungai. Masukan yang terus-menerus ke dalam air sungai akan akan menentukan jenis biota yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan perairan tersebut (Probosunu,). Hal tersebut menandakan bahwa stasiun 1 dan 3 adalah stasiun yang palik baik kualitas airnya berdasarkan diversitas marobentos dan plankton yang tinggi. Diversitas yang tinggi ini disebakan karena parameter fisik dan kimia yang sesuai dengan habitatnya, seperti arus yang tinggi, suhu yang tidak terlalu tinggi, dan DO minimum 4 ppm , sehingga lingkunagan mendukung pertumbuhannya.

KESIMPULAN Faktor pembatas pada ekosistem sungai ini adalah arus air. Dalam pengambilan data setiap parameter, mempunyai cara kerja tersendiri. Keberagaman parameter pada setiap stasiun menyebabkan perbedaan pula pada populasi plankton dan makrobentos, serta setiap parameter memiliki korelasi dengan parameter lainnya. Kualitas sungai terbaik didapat pada stasiun 1 dan 3 karena memiliki diversitas plankton dan makrobentos yang tinggi. SARAN Dalam praktikum ekosistem sungai ini secara umum dapat dikatakan berjalan baik. Namun dalam pelaksanaannyaterdapat kendala. Kendala tersebut adalah penggunaaan kempot yang menggantikan buret dalam titrasi, masih dirasakan sulit bagi praktikan pemula, sehingga dapat mempengaruhi penentuan titik akhir titrasi. Selain itu, pipet tetes yang digunakan kebanyakan sudah pecah. Untuk itu, saya harapkan ada revitalisasi alatalat dalam praktikum. DAFTAR PUSTAKA Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius, Yogyakarta. Jeffries, D.S, Wales D.L. 1996. Fresh Water Ecology, Principles and Applications. John Wiley and Sons, Chichester, UK. Khairuman, Khairul Amri.2003.Petunjuk Praktis Memancing Ikan Air Tawar.PT Agro Media Pustaka. Tangerang. Odum, Howard. 1996.Ekologi system. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta Pollock, Steeve.2000.Jendela Iptek Ekologi.Balai Pustaka. Jakarta Probosunu,Namastra.2013.Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan.Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Robert, 1978. Fish Pathology. Bailliere Tindall.London. Siahaan, N.H.T.2004.Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan.Erlangga. Jakarta.

SITH. 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air. Institut Teknologi Bandung, Bandung. Utoyo, Bambang.2007.Geografi Membuka Cakrawala Dunia.PT Setia Purna Inves.Bandung. Wibisono.2005.Hikmah Kelimpahan Plankton.Universitas Sumatera Utara.Medan.

Anda mungkin juga menyukai