Anda di halaman 1dari 71

1

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan

nasional

adalah

kegiatan

yang

berlangsung

secara

terus-

menerus

dan

berkesinambungan.

Pembangunan

tersebut

bertujuan

untuk

mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara adil,

makmur dan merata. Agar tujuan tersebut dapat terwujud maka dibutuhkan dana,

yang salah satunya berasal dari penerimaan pajak. Pajak merupakan pendapatan

negara yang cukup potensial, untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.

Penerimaan dari sektor pajak ternyata salah satu sumber penerimaan terbesar

negara. Negara akan maju kalau pajak tetap ada dan negara akan hancur kalau

tidak ada pajak. Buktinya, kontribusi pajak dalam APBN sejak tahun 2006 sampai

tahun 2010 terus meningkat. Pada tahun 2006 saja kontribusi pajak sudah 56,5%,

lalu tahun 2007 naik jadi 61,7%, tahun 2008 menjadi 70,3%, tahun 2009 menjadi

72,5% dan tahun 2010 hampir mencapai 80%, artinya bahwa kelangsungan hidup

bernegara didominasi dan ditentukan dari besarnya penerimaan pajak.

Dari tahun

ke tahun terlihat bahwa penerimaan pajak terus meningkat dan memberi andil

besar dalam penerimaan negara, oleh sebab itu penerimaan dari sektor pajak

selalu dikatakan primadona dalam membiayai pembangunan nasional.

Peran

fiskus

dalam

penerimaan

pajak

mempunyai

andil

besar

sebagai

pengawas

wajib

pajak

dalam

melaporkan

dan

membayar

kewajiban

perpajakannya

guna mengurangi jumlah tunggakan pajak

yang berpengaruh

terhadap penerimaan pajak baik secara langsung maupun tidak langsung.

2

Untuk mengamankan penerimaan negara dan meminimalisir wajib pajak

menunggak

dalam

pembayaran

pajaknya,

pemerintah

khususnya

Direktorat

Jenderal Pajak melakukan tindakan penagihan pajak yang dilindungi oleh payung

hukum berupa Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak

dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19

Tahun 2000. Pelunasan utang pajak merupakan salah satu tujuan penting dari

pemberlakuan undang-undang ini. Penagihan pajak yang efektif merupakan sarana

yang tepat untuk mencapai target penerimaan pajak yang maksimal. Apabila

kekurangan pajak sebagaimana tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak dan Surat

Tagihan Pajak tersebut sampai dengan jatuh tempo, maka penagihan pajak

dianggap

perlu

untuk

dilaksanakan

sebagai

salah

satu

upaya

pencapaian

penerimaan pajak. Adapun dalam pelaksanaan penagihan pajak tersebut turut

melibatkan peran aktif dari aparatur pajak yang biasa disebut fiskus.

Namun

hal

yang paling penting untuk

diperhatikan

oleh

fiskus

dalam

penagihan pajak yaitu suatu kewajiban perpajakan dianggap telah hilang atau

gugur apabila telah melewati jangka waktu tertentu. Dengan mencegah daluwarsa

penagihan pajak, berarti juga menyelamatkan penerimaaan pajak negara. Peran

aktif

fiskus dalam pelaksanaan pencairan tunggakan pajak sebagai upaya untuk

meningkatkan

penerimaan

dari

sektor

pajak

dapat

dilakukan

dengan

cara

menerbitkan Surat Paksa.

Menelaah lebih jauh tentang penagihan pajak khususnya penerbitan Surat

Paksa di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara, Oleh karena itu penulis

mengambil judul Penerbitan Surat Paksa Sebagai Upaya Penagihan Aktif

Dan

Kontribusinya

Terhadap

Pencairan

Pratama Makassar Utara.”

Tunggakan

Pajak

Pada

KPP

3

1.2. Rumusan Masalah

Penulis akan mengangkat dan membatasi lingkup permasalahan sebagai berikut:

1. Seberapa besar efektivitas dan kontribusi penagihan pajak dengan Surat Paksa

terhadap pencairan tunggakan pajak ?

2. Apa sajakah kendala yang timbul dalam pelaksanaan penagihan pajak dengan

Surat Paksa di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara ?

3. Bagaimana cara mengatasi permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Makassar Utara ?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini diantaranya:

1. Memberikan gambaran tindakan penagihan pajak dengan Surat Paksa yang

dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara,

2. Memahami efektivitas dan kontribusi penagihan pajak dengan Surat Paksa

dalam rangka pencairan tunggakan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Makassar Utara,

3. Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Makassar Utara,

4. Untuk

mengetahui

cara

mengatasi

permasalahan-permasalahan

dalam

pelaksanaan Penagihan Pajak dengan Surat Paksa di Kantor Pelayanan Pajak

Makassar Utara.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penulisan skripsi ini diantaranya:

4

1. Bagi Mahasiswa, untuk dapat menambah pengetahuan dan wawasan di bidang

perpajakan

dengan

adanya

penelitian

ini

diharapkan

dapat

menambah

pengetahuan dan wawasan peneliti tentang penagihan pajak dengan surat

paksa, dalam hal ini kontribusi dan efektivitas dari penagihan pajak dengan

surat paksa.

2. Bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara, dapat digunakan

sebagai bahan evaluasi atas hasil kinerja sehingga dapat

menjadi bahan

pertimbangan

untuk

mengambil

keputusan

dalam

sehingga dapat berjalan lebih baik.

memperbaiki

kinerja

3. Bagi masyarakat, diharapkan dapat memberi informasi tentang penagihan

pajak dengan surat paksa yang dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Makassar Utara.

4. Sebagai bahan perbandingan penelitian yang telah ada dan sebagai bahan

masukan dan rujukan bagi peneliti yang akan melaksanakan penelitian yang

sejenis.

1.5 Sistematika Penulisan

Penulis membagi pembahasan skripsi ini dalam lima bab untuk memudahkan

pembahasan, diantaranya:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai latar belakang, perumusan

masalah mengenai topik yang diangkat, tujuan dan manfaat penelitian, serta

sistematika penulisan skripsi yang menguraikan secara ringkas mengenai isi

setiap bab dari skripsi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

5

Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai definisi pajak secara umum,

definisi

utang

pajak

serta

perpajakan yang berlaku.

penagihan

pajak

berdsarkan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

undang-undang

Bab ini menjelaskan tentang objek penelitian, metode pengumpulan data,

jenis dan sumber data, dan metode analisis.

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis menggambarkan secara singkat dari tempat yang

menjadi objek penelitian, dalam hal ini yaitu Kantor Pelayanan Pajak (KPP

Pratama Makassar Utara). Selain itu, penulis juga menjelaskan apa yang

menjadi

visi

dan

misi

KPP

tersebut,

dijalankan di KPP tersebut.

serta

kegiatan

operasional

yang

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Disini penulis mencoba menganalisa data-data, khususnya data Penagihan

Pajak

terutama

yang berkaitan

dengan

Surat

Paksa

terhadap

pencairan

tunggakan pajak serta melakukan pembahasan dari analisa yang telah dibuat.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran-saran

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pajak

2.1.1 Pengertian Pajak

Pada

dasarnya

pajak

merupakan

salah satu

perwujudan

dan

kewajiban

kenegaraan yang merupakan sarana peran serta masyarakat dalam pembiayaan

negara dan pembangunan nasional. Dalam hal ini pajak yang dipunggut oleh

negara

digunakan

untuk

menjalankan

roda

pemerintahan

demi

menjamin

kelangsungan hidup serta meningkatkan mutu kehidupan bangsa Indonesia yang

tercantum

dalam

pembukaan

Undang-Undang

1945

yang

bertujuan

untuk

memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta

dalam melaksanakan ketertiban dunia.

Oleh karena itu sangat penting kita simak beberapa pengertian pajak dibawah

ini yang dikemukakan oleh para ahli dalam bidang perpajakan yang memberikan

pengertian yang berbeda namun pada inti dan tujuannya sama.

1. Menurut undang-undang No. 6 tahun 1983 sebagaimana diubah dengan

undang-undang No. 6 tahun 2007: “Pajak adalah kontribusi wajib kepada

negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa

berdasarkan

undang-undang,

dengan

tidak

langsung

dan

digunakan

kemakmuran rakyat.

untuk

keperluan

mendapatkan

negara

bagi

imbalan

secara

sebesar-besarnya

2. Definisi pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH (mardiasmo,2009:1):

“Pajak adalah iuran kepada kas negara berdasarkan Undang-undang (yang

7

dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal (kontraprestasi),

yang langsung dapat

ditunjukan

pengeluaran umum.

dan yang digunakan

untuk

membayar

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-

unsur:

a. Iuran dari rakyat kepada negara.

Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang

(bukan barang).

b. Berdasarkan undang-undang

Pajak di pungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta

aturan pelaksanaanya.

c. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat

ditunjuk.

Dalam

pembayaran

pajak

tidak

dapat

ditunjukkan

adanya

kontraprestasi individual oleh pemerintah.

 

d. Digunakan

untuk

membiayai

rumah

tangga

negara,

yakni

pengeluaran-

pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

2.1.2 Fungsi pajak

Fungsi pajak menurut Mardiasmo dalam bukunya “Perpajakan” (2009:1)

adanya 2 fungsi pajak, yaitu:

1. Fungsi Penerimaan (Budgeteir)

Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan

pengeluaran-pengeluaran pemerintah.

2. Fungsi Mengatur (Reguler)

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di

bidang sosial dan ekonomi.

8

Contoh:

a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang mewah untuk menekan perilaku

konsumtif masyakat.

b. Dan yang marak dibicarakan belakangan ini tarif pajak yang tinggi dikenakan

terhadap Film impor (Hollywood) agar masyarakat lebih mencintai Seni dan

Budaya Indonesia, khususnya Film dalam negeri.

2.1.3 Jenis-Jenis Pajak

Masalah perpajakan tidaklah sederhana hanya sekedar menyerahkan sebagian

penghasilan atau kekayaan seseorang kepada negara, tetapi coraknya bermacam-

macam tergantung pada pendekatannya. Jenis pajak menurut Wirawan B. Ilyas

(2007:19) dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu menurut sifat, sasarannya

dan lembaga pemungutnya:

1.

Menurut sifat

a.

Pajak langsung, adalah pajak yang pembebanannya harus dipikul sendiri oleh

Wajib Pajak dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain, serta dikenakan

secara berulang-ulang pada waktu tertentu.

Contoh: Pajak Penghasilan (PPh).

b.

Pajak tidak langsung, adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan

kepada orang lain dan hanya dikenakan pada hal-hal tertentu atau peristiwa-

peristiwa tertentu saja.

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

2.

Menurut Sasarannya

a.

Pajak subyektif, adalah jenis pajak yang dikenakan dengan pertama-tama

memerhatikan keadaan pribadi Wajib Pajak (subjeknya). Setelah diketahui

9

keadaan subjeknya barulah diperhatikan keadaan objektifnya sesuai gaya

pikul apakah dapat dikenakan pajak atau tidak.

Contoh: Pajak Penghasilan (PPh).

b.

Pajak

objektif,

adalah

jenis

pajak

yang

dikenakan

pertama-tama

memerhatikan/melihat

objeknya

baik

berupa

keadaan

perbuatan

atau

peristiwa yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar pajak. Setelah

diketahui objeknya barulah dicari subjeknya yang mempunyai hubungan

hukum dengan objek yang telah diketahui.

 

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

3.

Menurut lembaga pemungut

 

a.

Pajak pusat (negara), adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat yang

dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Departemen Keuangan khususnya

Dirjen

Pajak.

Hasil

dari

pemungutan

pajak

pusat

dikumpulkan

dan

dimasukkan

sebagai

bagian

dari

penerimaan

Anggaran

Pendapatan

dan

Belanja Negara (APBN).

 

Contoh: PPh, PPN, PPnBM dan sebagainya.

 

b.

Pajak daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah yang dalam

pelaksanaannya

sehari-hari

dilakukan

oleh

Dinas

Pendapatan

Daerah

(Dispenda).

Hasil

dari

pemungutan

pajak

daerah

dikumpulkan

dan

dimasukkan sebagai bagian dari peerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah (APBD).Sesuai Undang-undang no.18 tahun 1997 sebagaimana

yang telah diubah dengan UU no. 34 tahun 2000.

Contoh: Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak reklame, dll.

2.1.4 Tarif Pajak

Ada 4 macam tarif pajak menurut Mardiasmo (2009:9), yaitu:

10

1. Tarif sebanding/proporsional,

yaitu

tarif

berupa

persentase

yang tetap,

terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang

terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai.

Contoh: Untuk penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean akan

dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10%.

2. Tarif tetap, yaitu tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun

jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.

Contoh: Besarnya tarif Bea Meterai untuk cek dan bilyet giro dengan nilai

nominal berapapun adalah Rp 1.000,00.

3. Tarif progresif, yaitu persentase tarif yang digunakan semakin besar bila

jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

Contoh : Pasal 17 UU Pajak Penghasilan (PPh)

4. Tarif degresif, persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah

yang dikenai pajak semakin besar.

2.1.5 Asas Pemungutan Pajak

Untuk

mencapai

tujuan

pemungut

pajak

perlu

memegang

teguh

asas

pemungutan dalam memilih alternatif pemungutannya. Maka terdapat keserasian

pemungut pajak dengan tujuan dan asas

yang masih diperlukan lagi

yaitu

pemahaman atas perlakuan pajak tertentu. Asas-asas pemungut pajak menurut

Waluyo (2008:13) menyatakan bahwa pemungutan pajak hendaknya didasarkan

pada :

1. Equality Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata yaitu pajak dikenakan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay dan sesuai dengan manfaat yang diterima. Adil dimaksudkan bahwa setiap Wajib Pajak menyumbangkan uang untuk pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingan dan manfaat yang diminta.

11

2. Certainty Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenag-wenang. Oleh karena itu, Wajib Pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti pajak yang terutang, kapan harus dibayar, serta batas waktu pembayaran.

3. Convenience Kapan Wajib Pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat- saat yang tidak menyulitkan Wajib Pajak, sebagai contoh pada saat Wajib Pajak memperoleh penghasilan.

4. Economy Secara ekonomi biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi Wajib Pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul Wajib Pajak.

2.1.6 Syarat Pemungutan Pajak

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka

menurut Waluyo (2008:20)

berikut:

pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai

1. Pemungutan pajak harus adil (syarat keadilan).

Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan. Undang-undang dan

pelaksanaan

pemungutan

harus

adil.

Adil

dalam

perundang-undangan

diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan

dengan

kemampuan

masing-masing.

Sedang adil

dalam

pelaksanaannya

yakni dengan memberikan hak bagi wajib pajak untuk mengajukan keberatan,

penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada pertimbangan

Pajak.

2. Pemungutan pajak harus berdasarkan Undang-undang (syarat yuridis).

Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini

memberikan

jaminan

maupun warganya.

hukum

untuk

menyatakan

keadilan,

baik

Negara

3. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomi).

12

Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun

perdagangan,

sehingga

tidak

menimbulkan

kelesuan

perekonomian

masyarakat.

4. Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansial).

Sesuai

fungsi

budgeteir,

biaya

pemungutan

pajak

harus

dapat

ditekan

sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.

5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana.

Sistem

pemungutan

sederhana

akan

masyarakat

untuk

memenuhi

kewajiban

memudahkan

dalam

mendorong

perpajakannya.

Syarat

ini

telah

dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.

Contoh:

a. Tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi hanya satu tarif, yaitu 10%.

b. Bea meterai disederhanakan dari 167 macam tarif menjadi 2 macam tarif,

yaitu Rp 6000 dan Rp 3000.

2.1.7 Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Mardiasmo (2009:7), Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi:

1. Official Assessment System, Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak

yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan

besarnya pajak yang terutang.

Ciri-ciri Official Assessment System:

a.

Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada fiskus

sehingga Wajib Pajak bersifat pasif.

b.

Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

2.

Self Assessment System, Sistem ini merupakan pemungutan pajak yang

memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk

13

menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya

pajak yang harus dibayar.

3. Withholding System, Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang

memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut

besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Untuk mencapai target penerimaan, Pemerintah telah melakukan berbagai

perubahan diantaranya yaitu reformasi perpajakan (Tax Reform), langkah tersebut

diawali

pada

tahun

1984.

Program

ini

telah

mengubah

sistem

perpajakan

Indonesia, dari official assessment menjadi self assessment yang digunakan saat

ini.

Agar pelaksanaan sistem self assessment dapat berjalan dengan baik, maka

keterbukaan dan penegakan hukum (law enforcement) menjadi hal yang sangat

penting.

Disini

peran

aktif

Wajib

Pajak

dalam

melaksanakan

kewajiban

perpajakannya sangat diperlukan. Dengan kepercayaan dan tanggung jawab yang

diberikan, diharapkan Wajib Pajak dapat

perpajakannya

sesuai

dengan

peraturan

melaksanakan hak dan kewajiban

perundang-undangan

yang

berlaku,

dengan

demikian

peningkatan

pendapatan

negara

dari

sektor

pajak

dapat

meningkat.

 

2.1.8

Hambatan Pemungutan Pajak

 

Menurut

Mardiasmo

(2009:8),

Hambatan

terhadap

pemungutan

pajak

dapat

dikelompokkan menjadi:

1. Perlawanan pasif

Masyarakat tidak bersedia memenuhi kewajiban perpajakannya sebagaimana

mestinya, yang dapat disebabkan antara lain:

a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat

14

b.

Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat

 

c.

Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik.

2.

Perlawanan aktif

Pelawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung

ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak. Bentuknya

antara lain:

a.

Tax avoidance, yaitu usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar

Undang-undang.

b.

Tax evasion, yaitu usaha meringankan pajak dengan cara melanggar Undang-

undang

namun

tidak

dipungkiri

bahwa

sebagian

masyarakat

terdapat

keengganan memenuhi kewajiban perpajakannya. Dalam hal yang demikian

timbul perlawanan terhadap pajak.

 

2.2

Penagihan Pajak

 

2.2.1

Pengertian Penagihan Pajak

 

Pelaksanaan

penagihan

pajak

yang

tegas,

konsisten

dan

konsekuen

diharapkan akan dapat membawa pengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib

Pajak dalam membayarkan hutang pajaknya. Hal ini merupakan posisi strategis

dalam meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak sehingga tindakan

penagihan pajak tersebut dapat menyelamatkan penerimaan pajak yang tertunda.

Kegiatan

penagihan

pajak

merupakan

ujung

tombak

dalam

menyelamatkan

penerimaan Negara yang tertunda, oleh sebab itu seksi penagihan merupakan

seksi produksi yang paling dibanggakan oleh Direktorat Jendral Pajak. Dalam

pelaksanaannya penagihan pajak haruslah dilandaskan pada peraturan perundang-

15

undangan yang berlaku, sehingga mempunyai kekuatan hukum baik bagi Wajib

Pajak maupun aparatur pajaknya.

Dasar hukum melakukan tindakan penagihan pajak adalah Undang-undang

No. 19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa. Undang-undang

ini mulai berlaku tanggal 23 Mei 1997. Undang-undang ini kemudian diubah

dengan Undang-undang No. 19 tahun 2000 yang mulai berlaku pada tanggal 1

Januari 2001.

Menurut pendapat para ahli penagihan pajak dapat didefinisikan:

Definisi penagihan pajak menurut Muhammad Rusjdi (2007:17): Penagihan pajak adalah perbuatan yang dilakukan Direktorat Jendral Pajak karena Wajib Pajak tidak mematuhi ketentuan Undang-undang pajak, khususnya mengenai pembayaran pajak yang terutang.

Definisi lain menurut Mardiasmo (2009:13): Penagihan pajak adalah kegiatan yang dilakukan oleh fiskus karena Wajib Pajak tidak mematuhi ketentuan Undang-undang pajak, khususnya mengenai pembayaran pajak yang terutang, penagihan pajak meliputi kegiatan, perbuatan dan pengiriman surat peringatan, surat teguran, surat paksa, penyitaan, lelang, pencegahan dan penyanderan.

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penagihan pajak

adalah perbuatan yang dilakukan Direktorat Jendral Pajak atau fiskus karena

Wajib

Pajak

tidak

mematuhi

ketentuan

Undang-undang

pajak,

khususnya

mengenai pembayaran pajak dengan melaksanakan pengiriman surat peringatan,

surat teguran, surat paksa, penyitaan dan pelelangan.

Dasar penagihan pajak, antara lain:

1. Surat Tagihan Pajak (STP)

STP diterbitkan apabila

dibayar,

Wajib

Pajak

pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang

dikenakan

sanksi

administrasi

berupa

denda

administrasi

dan/atau

bunga.

Dari

hasil

penelitian

Surat

Pemberitahuan

terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan/atau

16

salah hitung. Surat Tagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum yang sama

dengan Surat Ketetapan Pajak.

2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)

SKPKB ditebitkan tehadap wajib pajak yang nyata-nyata atau berdasarkan

hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan kewajiban material

Pepajakan.

3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)

SKPKBT dapat ditebitkan Dirjen Pajak dalam jangka waktu 10 tahun sesudah

saat terutang pajak, apabila ditemukan data baru dan atau data yang semula

belum

terungkap

terutang.

4. Surat

Keputusan

yang

menyebabkan

penambahan

jumlah

Pembetulan,

Surat

Keputusan

Keberatan

pajak

yang

dan

Putusan

Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.

Apabila utang pajak yang tercantum dalam Surat Ketetapan diatas tidak atau

kurang dibayar sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran, maka dapat

segera dilaksanakan tindakan penagihan aktif.

Istilah-istilah yang berhubungan dengan Penagihan Pajak :

a. Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan oleh jurusita agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang yang telah disita. (UU.PPSP ps 1 ayat ( 9) ).

b. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (UU.PPSP ps 1 ayat (3) ).

17

ketetapan pajak atau surat sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (UU.PPSP ps 1 ayat (8) ).

d. Biaya Penagihan Pajak adalah biaya pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pengumuman Lelang, Pembatalan Lelang, Jasa Penilai dan biaya lainnya sehubungan dengan penagihan pajak. (UU.PPSP ps 1 ayat (13) ).

e. Penagihan Seketika dan Sekaligus adalah tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan Tahun Pajak. (UU.PPSP ps 1 ayat (11) ).

f. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. (UU.PPSP ps 1 ayat (12) ).

g. Pencegahan adalah larangan bersifat sementara terhadap Penanggung Pajak tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia berdasar alasan tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. (UU.PPSP ps 1 ayat

(20) ).

h. Penyitaan adalah tindakan Jurusita Pajak untuk menguasai barang Penanggung Pajak, guna dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak menurut peraturan perundang-undangan.(UU.PPSP ps 1 ayat (14) ).

i. Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan Penanggung Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu. (UU.PPSP ps 1 ayat (21) ).

j. Lelang adalah setiap penjualan barang dimuka umum dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau calon pembeli. (UU.PPSP ps 1 ayat (17) ).

2.2.2 Tindakan Penagihan Pajak

Tindakan

penagihan

pajak

dilakukan

apabila

pajak

yang

terutang

sebagaimana tercantum dalam Surat Tagihan Pajak (STP), SKPKB, SKPKBT,

Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding yang

menyebabkan pajak yang harus dibayar bertambah, tidak atau kurang bayar

setelah lewat tanggal jatuh tempo pembayaran pajak yang bersangkutan. Dalam

bidang administrasi perpajakan dikenal beberapa bentuk tindakan penagihan yaitu

penagihan pasif, penagihan aktif dan penagihan dengan surat paksa.

18

Penagihan pasif adalah tindakan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak

dengan cara memberikan himbauan kepada Wajib Pajak agar melakukan

pembayaran pajak sebelum tanggal jatuh tempo. Penagihan pajak dilakukan

dengan menggunakan Surat Tagihan Pajak (STP), SKPKB, SKPKBT, Surat

Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding yang

menyebabkan jumlah pajak terutang menjadi lebih besar. Penagihan pasif

merupakan tugas pengawasan fiskus atau kepatuhan Wajib Pajak dalam

melaksanakan kewajibannya sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

2. Penagihan Aktif

Penagihan aktif adalah penagihan yang didasarkan pada STP,

SKPKB,

SKPKBT yang jatuh temponya telah ditetapkan dalam peraturan perundang-

undangan perpajakan yaitu 1 bulan terhitung mulai dari STP, SKPKB,

SKPKBT

diterbitkan.

Penagihan

aktif

ini

merupakan

kelanjutan

dari

penagihan pasif, oleh sebab itu dalam upaya penagihan ini fiskus berperan

aktif, dalam arti tidak hanya mengirim STP atau SKP tetapi juga akan diikuti

dengan tindakan dan dilanjutkan dengan pelaksanaan lelang.

2.2.3 Dasar Hukum Penagihan Pajak

1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana yang telah berulangkali

diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2007 selanjutnya disebut UU

KUP.

2. Undang-Undang

Nomor 19 Tahun 1997 sebagaimana yang telah

diubah

dengan

Undang-Undang

Nomor

19

Tahun

2000

selanjutnya

disebut

UU.PPSP.

19

3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 23/PMK/.03.2008 sebagaimana yang

telah diubah dengan Nomor 83/PMK.03/2010 Tentang Tata Cara Penerbitan

Surat Ketetapan Pajak.

4. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 561/KMK.04/2000

Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Seketika Dan Sekaligus Dan

Pelaksanaan Surat Paksa.

5. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 562/KMK.04/2000

Tentang Syarat-Syarat, Tata Cara Pengangkatan Dan Pemberhentian Juru Sita

Pajak.

6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 189/PMK.03/2007 sebagaimana yang

telah diubah dengan Nomor 84/PMK.03/2010 Tentang Tata Cara Penerbitan

Surat Tagihan Pajak.

7. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 24/PMK.03/2008

sebagaimana yang telah diubah dengan Nomor 85/PMK.03/2010 Tentang

Perubahan Atas Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Dengan Surat

Paksa Dan Pelaksanaan Penagihan Seketika Dan Sekaligus.

8. Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2010 Tentang Prosedur Penerbitan

Kembali Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang

Bayar Tambahan, Dan Atau Surat Tagihan Pajak.

9. Surat

Edaran

Direktur

Jenderal

Pajak

Nomor

SE-82/PJ/2010

Tentang

Petunjuk

Pelaksanaan

Peraturan

Direktur

Jenderal

Pajak

Nomor

Per-

36/PJ/2010 Tentang Prosedur Penerbitan Kembali Surat Ketetapan Pajak

Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Dan Atau

Surat Tagihan Pajak.

20

2.2.4 Tinjauan Umum Penagihan Pajak

1. Utang Pajak

Berdasarkan UU PPSP pasal 1 ayat (8), Utang Pajak adalah pajak yang masih

harus

dibayar

termasuk

sanksi

administrasi

berupa

bunga,

denda

atau

kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya

berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Penanggung Pajak

Berdasarkan UU PPSP pasal 1 ayat (3), Penanggung Pajak adalah orang

pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk

wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak menurut

peraturan perundang-undangan perpajakan.

3. Penagihan Pajak

Dalam melaksanakan Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, perlu diketahui

dan dipahami dalam beberapa pengertian yang telah ditetapkan dan dalam

Undang-Undang atau peraturan pelaksanaan Penagihan Pajak dengan Surat

Paksa.

4. Jurusita Pajak

Pengertian Jurusita berdasarkan UU PPSP pasal 1 ayat (6) adalah pelaksana

tindakan penagihan pajak yang meliputi Penagihan Seketika dan Sekaligus,

pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan penyanderaan.

a. Syarat - syarat

Untuk dapat diangkat menjadi Jurusita Pajak harus memenuhi syarat-syarat yang

diatur dalam Pasal 2 KMK No.562/KMK.04/2000, yaitu:

1)

Berijazah serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau yang

setingkat dengan itu.

21

2)

Berpangkat serendah-rendanya Pengatur Muda/Golongan II/a.

3)

Berbadan sehat.

4)

Lulus pendidikan dan latihan Jurusita Pajak.

5)

Jujur, bertanggung jawab dan penuh pengabdian.

b.

Tugas-tugas

Berdasarkan Pasal 5 UU PPSP, Jurusita bertugas antara lain:

1)

Melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus.

2)

Memberitahukan Surat Paksa.

3)

Melaksanakan penyitaan atas barang Penanggung Pajak berdasarkan Surat

Perintah Melaksanakan penyitaan.

4)

Melaksanakan penyanderaan berdasarkan surat perintah penyanderaan.

c.

Wewenang dan Kewajiban

Wewenang Jurusita berdasar Pasal 5 UU PPSP adalah memasuki dan memeriksa

semua

ruangan

termasuk

membuka

lemari,

laci

dan

tempat

lain

untuk

menemukan obyek sita di tempat usaha dan melaksanakan penyitaan tempat

kedudukan atau tempat tinggal Wajib Pajak/Penanggung Pajak atau tempat lain

yang dapat diduga sebagai tempat penyimpanan obyek sita. Sedangkan kewajiban

Jurusita Pajak adalah:

1)

Memperlihatkan tanda pengenal Jurusita.

2)

Memberitahukan dengan pernyataan dan penyerahan Surat Paksa.

3)

Membuat berita acara pemberitahuan Surat Paksa.

4)

Membuat laporan pelaksanaan Surat Paksa.

5)

Melaksanakan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP).

22

7)

Menempelkan segel sita pada barang-barang yang telah disita, bila dianggap

perlu.

8)

Menempelkan Surat Paksa (salinan) pada papan pengumuman kantor Pejabat.

9)

Meninggalkan Surat Paksa (salinan) dalam hal Penanggung Pajak menolak

menerima salinan Surat Paksa.

d.

Pemberhentian Jurusita

Berdasakan Pasal 4 KMK No.562/KMK.04/2000, Jurusita diberhentikan apabila:

1)

Meninggal dunia.

2)

Pensiun.

3)

Karena alih tugas kepentingan dinas lainnya.

4)

Ternyata lalai atau cakap dalam menjalankan tugas.

5)

Melakukan perbuatan tercela.

6)

Melanggar sumpah atau janji Jurusita Pajak.

7)

Sakit Jasmani atau rohani terus-menerus.

2.3 Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa

2.3.1 Pengertian Surat Paksa

Dalam UU PPSP, dalam pasal 1 ayat (12) disebutkan bahwa: Surat Paksa

adalah

surat

perintah

membayar

utang

pajak

dan

biaya

penagihan

pajak.

Sedangkan menurut Muhammad Rusdji (2007:25), yaitu: surat yang diterbitkan

apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajaknya sampai dengan tanggal jatuh

tempo.

Dari

pengertian

di

atas,

kita

dapat

menyimpulkan

bahwa

Surat

Paksa

merupakan sebuah produk hukum yang bersifat eksekutorial yang diterbitkan atas

23

ayat (1) dijelaskan bahwa Surat Paksa berkepala kata-kata Demi Keadilan

Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, mempunyai kekuatan eksekutorial dan

kedudukan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai

kekuatan hukum tetap.

Agar tercapai efektivitas dan efesiensi penagihan pajak yang didasari Surat

Paksa, maka Ketentuan ini memberikan kekuatan eksekutorial serta memberi

kedudukan hukum yang sama dengan grosse akte yaitu putusan pengadilan

perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dengan demikian, Surat

Paksa langsung dapat dilaksanakan tanpa bantuan putusan pengadilan lagi dan

tidak dapat diajukan banding, (Muhammad Rusjdi, 2007: 21). Surat Paksa bersifat

“Parate Eksekusi” yang berarti dapat dilakukan langsung tanpa melalui proses

Pengadilan Negeri.

2.3.2 Latar Belakang Penerbitan Surat Paksa

Berdasarkan

Pasal

20

ayat

(1)

beserta

penjelasannya

UU

KUP,

diatur

mengenai latar belakang terbitnya Surat Paksa, yaitu jumlah pajak yang terutang

berdasarkan Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar

(SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat

Keputusan Pembetulan (SKP), Surat Keputusan (SK), serta Putusan Banding yang

menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, yang tidak dibayar

oleh Penanggung Pajak sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam

ketetapan tersebut (satu bulan sejak tanggal diterbitkan), ditagih dengan Surat

Paksa.

Menurut Pasal 9 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 561/KMK.04/2000

tentang

Penagihan

Seketika

dan

Sekaligus

dan

dijelaskan Surat Paksa diterbitkan apabila:

Pelaksanaan

Surat

Paksa,

24

1. Penanggung

Pajak

tidak

melunasi

utang

pajak

dan

kepadanya

telah

diterbitkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis;

2. Terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan Penagihan Seketika dan

Sekaligus; atau

3. Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam

keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak.

2.3.3 Isi dan Karakteristik Surat Paksa

Surat Paksa dapat dipandang dari dua segi, yaitu segi isi maupun segi

karakteristiknya.

1.

Dalam UU PPSP Pasal 7 dijelaskan bahwa Surat Paksa berdasarkan segi

isinya sekurang-kurangnya harus memuat:

a.

Nama Wajib Pajak, atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak;

b.

Dasar Penagihan;

c.

Besarnya Utang Pajak;

d.

Dan Perintah untuk membayar dalam waktu 2 x 24 jam.

e.

Tertanda Pejabat yang ditunjuk yaitu Kepala KPP/KP PBB

2.

Surat Paksa berkepala kata-kata “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan

Yang Maha Esa”. Sedangkan dari segi karakteristiknya Surat Paksa memuat:

a.

Mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Grosse Akte dari keputusan

hakim dalam perkara perdata yang tidak dapat dimintakan banding lagi pada

hakim atasan.

b.

Mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

c.

Mempunyai fungsi ganda yaitu menagih pajak dan biaya penagihan pajak.

25

2.3.4 Prosedur Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Ini merupakan cara penagihan yang terakhir dimana fiskus melalui jurusita

pajak

negara

menyampaikan

atau

memberitahukan

surat

paksa,

melakukan

penyitaan dan melakukan pelelangan melalui Kantor Lelang Negara terhadap

barang milik Wajib Pajak. Penagihan dengan surat paksa ini dikenal dengan

penagihan yang “keras” dalam rangka melakukan Law-Enforcement di bidang

perpajakan. Namun langkah ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan oleh

fiskus apabila tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan. Dalam pelaksanaan

penagihan aktif tersebut dapat dilakukan dengan 4 tahap, yaitu:

1. Surat Teguran

Penyampaian surat teguran merupakan awal pelaksanaan tindakan penagihan

oleh fiskus untuk memperingatkan Wajib Pajak yang tidak melunasi utang

pajaknya sesuai dengan keputusan penetapan (STP,

SKPKB, SKPKBT)

sampai dengan saat jatuh tempo. Definisi surat teguran menurut Rusdji

(2007:23): “Surat yang diterbitkan oleh pejabat untuk menegur Wajib Pajak

agar melunasi utang pajaknya.

Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa surat teguran adalah

surat yang diterbitkan oleh pejabat untuk menegur atau memperingatkan Wajib

Pajak untuk melunasi utang pajaknya. Surat teguran dikeluarkan apabila utang

pajak yang tercantum dalam SPT, SKPKB atau SKPKBT tidak dilunasi sampai

melewati waktu 7 hari dari batas waktu jatuh tempo 1 bulan sejak tanggal

diterbitkannya. Menurut keputusan Menteri Keuangan no. 561/KMK.04/2000

Pasal 5 ayat (2) menyatakan bahwa surat teguran tidak diterbitkan terhadap

penanggung pajak yang disetujui untuk mengangsur atau menunda pembayaran

pajaknya.

26

2. Surat Paksa

Penagihan dengan surat paksa dilakukan apabila jumlah tagihan pajak tidak

atau kurang bayar sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran, atau

sampai dengan jatuh tempo penundaan pembayaran atau tidak memenuhi

angsuran

pembayaran

pajak.

Apabila

Wajib

Pajak

lalai

melaksanakan

kewajiban membayar pajak dalam waktu sebagaimana ditentukan dalam surat

teguran maka penagihan selanjutnya dilakukan oleh juru sita pajak.

Maka dapat disimpulkan bahwa surat paksa adalah surat perintah membayar

utang pajak dan biaya penagihan pajak yang diterbitkan apabila Wajib Pajak tidak

melunasi

utang pajaknya

sampai

dengan

tanggal

jatuh

tempo.

Surat

paksa

diterbitkan apabila Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak melunasi utang

pajaknya sampai dengan tanggal jatuh tempo dan

Penanggung Pajak tidak

memenuhi ketentuan dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan

pembayarannya. Secara teori surat paksa diterbitkan setelah surat teguran atau

surat peringatan atau surat lain sejenis yang diterbitkan oleh pejabat.

Surat paksa terhadap orang pribadi diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada:

a. Penanggung pajak

b. Orang dewasa

yang

tinggal

bersama

ataupun

bekerja

di

tempat

usaha

penanggung pajak, apabila penanggung pajak yang bersangkutan tidak dapat

dijumpai

c. Salah satu ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus harta

peninggalannya apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan

belum dibagi

d. Para ahli waris, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan

telah dibagi.

27

Surat paksa terhadap badan diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada:

1)

Pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab, pemilik

modal

2)

Pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat usaha badan, apabila Jurusita

Pajak tidak dapat menjumpai salah seorang dari Pengurus, kepala perwakilan,

kepala cabang, penanggung jawab, pemilik modal.

Apabila utang pajak tidak dilunasi oleh Wajib Pajak dalam jangka waktu

2x24 jam setelah surat paksa diberitahukan, maka pejabat menerbitkan surat

perintah melaksanakan penyitaan. Pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak tidak

mengakibatkan penundaan pelaksanaan Surat Paksa dan apabila Wajib Pajak

dinyatakan pailit, Surat Paksa diberitahukan kepada Kurator, Hakim Pengawas

atau Balai Harta Peninggalan. Sedangkan dalam hal Wajib Pajak dinyatakan bubar

atau dalam likuidasi, Surat Paksa diberitahukan kepada orang atau badan yang

dibebani untuk melakukan pemberesan atau likuidator.

2.3.5 Jadwal dan Waktu Pelaksanaan Penagihan Aktif

Proses penagihan pajak dapat dibagi menjadi penagihan aktif dan penagihan

pasif. Dalam hal ini proses penagihan pajak yang melibatkan Jurusita Pajak adalah

penagihan aktif. Peran Jurusita Pajak dimulai dengan memberitahukan Surat

Teguran,

Surat

Paksa, pelaksanaan

Surat

Perintah

Melaksanakan

Penyitaan,

pengumuman lelang sampai pelaksanaan lelang. Berdasarkan Surat Keputusan

Menteri Keuangan Nomor 561/KMK.04/2000 tentang Penagihan Seketika dan

Sekaligus dan Pelaksanaan Surat Paksa telah ditentukan jadwal waktu tindakan

penagihan pajak yaitu:

28

1.

Tindakan pelaksanaan penagihan pajak diawali dengan penerbitan Surat

Teguran oleh pejabat atau kuasa yang ditunjuk oleh pejabat tersebut setelah 7

hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.

 

2.

Surat

Teguran tidak diterbitkan terhadap

penanggung pajak

yang telah

disetujui untuk menunda atau mengangsur pembayaran pajaknya.

 

3.

Apabila jumlah utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh

penanggung pajak

setelah

lewat

waktu 21

hari

sejak diterbitkan

Surat

Teguran, pejabat segera menerbitkan Surat Paksa.

 

4.

Setelah menerima Surat Paksa yang telah diberi tanggal dan nomor Surat

Paksa dan telah ditandatangani oleh pejabat, Jurusita Pajak harus:

 

a.

Memperlihatkan tanda pengenal Jurusita Pajak.

 

b.

Memberitahukan dengan pernyataan dan penyerahan Surat Paksa (salinan)

tersebut kepada Wajib Pajak/penanggung pajak.

 

c.

Membuat Laporan Pelaksanaan Surat Paksa dan membuat Berita Acara

Pemberitahuan Surat Paksa dan lampirannya.

 

d.

Menempelkan Surat Paksa (salinan) pada papan pengumuman kantor pejabat.

5.

Apabila jumlah utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh

penanggung pajak setelah lewat waktu 2 X 24 jam sejak Surat Paksa

diberitahukan

kepadanya,

Melaksanakan Penyitaan.

pejabat

segera

menerbitkan

Surat

Perintah

29

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini,

penulis melakukan penelitian pada Kantor Pelayanan Pajak Makassar Utara yang

berlokasi di jalan Urip Sumoharjo Km. 4 Gedung Keuangan Negara I Makassar.

1.2 Metode Pengumpulan Data

3.2.1 Studi Pustaka

Dalam metode ini penulis mempelajari dan mengumpulkan literatur seperti

Undang-Undang

Perpajakan,

Peraturan

Pemerintah,

Keputusan

Menteri

Keuangan, Keputusan Dirjen Pajak, Surat Edaran Dirjen Pajak, dan peraturan

pelaksanaan lainnya, serta buku-buku literatur lainnya sehingga dapat digunakan

penulis untuk memperoleh pengetahuan dasar, teori dan bahan-bahan yang akan

digunakan sebagai landasan teori penelitian dan acuan analisis permasalahan yang

dibahas.

3.2.2 Studi Lapangan (field research)

Penelitian ini dilakukan terhadap kegiatan dari seluruh objek penelitian yang

meliputi :

1. Metode Observasi atau Pengamatan

a. Yaitu

dengan

mengadakan

pengamatan

dan

pengumpulan

data

secara

langsung

ke

lapangan

untuk

memperoleh

data

yang

berkaitan

dengan

pelaksanaan penagihan pajak oleh Jurusita Pajak di KPP Pratama Makassar

Utara.

b. Membandingkan fakta-fakta dengan di lapangan dengan teori.

30

2.

Metode Interview atau Wawancara

Penulis mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara langsung

dengan Fiskus di KPP Pratama Makassar Utara dan Jurusita serta pihak-pihak

terkait pada seksi penagihan.

3.

Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mengumpulkan bahan-bahan yang tertulis berupa data

yang diperoleh dari perpustakaan maupun dari KPP Pratama Makassar Utara

yaitu data laporan realisasi penerbitan Surat Paksa dan Pencairan Tunggakan.

3.3

Jenis dan Sumber Data

3.3.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Data Kualitatif, data yang berupa data verbal atau keterangan, seperti sejarah

singkat

instansi,

struktur

organisasi

beserta

pembagian

tugas,

Undang-

Undang No.19 tahun 1997 sebagaimana telah dirubah terakhir Undang-

undang No.19 Tahun 2000 tentang penagihan pajak dengan surat paksa,

Keputusan Menteri Keuangan, Peraturan menteri Keuangan, dan data lain

yang relevan dengan objek penulisan.

2. Data Kuantitatif. Data yang berupa angka-angka seperti, jumlah penerbitan

surat paksa dan pencairan tunggakan, serta data lainnya yang dibutuhkan

dalam rangka penulisan skripsi ini.

3.3.2 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Data Primer

31

Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari perusahaan/instansi

melalui

hasil

pengamatan

dan

wawancara

dengan

karyawan

bagian

pengolahan data dan informasi perusahaan/instansi tersebut.

2.

Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dari sumber di luar perusahaan/instansi dalam

bentuk literatur-literatur akuntansi maupun informasi lain yang berhubungan

dengan penulisan skripsi ini.

3.4

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode

deskriptif

komparatif. Dengan metode ini, penulis menggambarkan efektivitas

dan

kontribusi

penerbitan

surat

paksa

terhadap

pencairan

tunggakan

pajak

berdasarkan data yang dikumpulkan, terutama data mengenai Surat Paksa yang

terbit pada tahun 2009 dan 2010. Karena keterbatasan data, penulis hanya

membandingkan data dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2010 karena untuk

data tahun 2011 hanya sampai bulan Juni sehingga tidak dapat digunakan untuk

perbandingan. Data tersebut kemudian diolah untuk menghitung persentase dari

realisasi penerbitan Surat Paksa dan Pencairan tunggakan pajak. Data tersebut

dikumpulkan berdasarkan data penerbitan surat paksa dan pencairan tunggakan

pajak pada KPP Pratama Makassar Utara.

3.5 Analisis Data

3.5.1 Efektivitas

Dalam

hal

efektivitas

penerbitan

surat

paksa,

maka

rumusnya

adalah

perbandingan antara jumlah pencairan tunggakan pajak melalui penagihan dengan

surat paksa dengan potensi pencairan tunggakan pajak dengan surat paksa, dengan

asumsi bahwa potensi pencairan tunggakan pajak dengan surat paksa adalah

32

semua tunggakan pajak yang diterbitkan surat paksa diharapkan dapat ditagih.

Efektivitas penyampaian Surat paksa dihitung dengan rumus berikut:

Efektivitas =

x 100%

Untuk mengukur keefektifan menurut Jones dan Pendleburry (dalam Aldina Laila

Rahma, 2010) maka digunakan indikator sebagai berikut:

Tabel 3.1 Indikator Pengukuran Efektivitas

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0% - 40% 40% - 60% 60% - 80% 80% - 100%

Tidak Efektif

Kurang Efektif

Cukup Efektif

Efektif

Sumber: Jones dan Pendleburry (dalam Aldina laila Rahma,2010)

3.5.2 Kontribusi Surat Paksa

Rasio Kontribusi penerbitan Surat Paksa terhadap pencairan tunggakan pajak

untuk mengukur seberapa besar kontribusi pencairan tunggakan pajak yang

berasal

dari

penerbitan

Surat

Paksa

Makassar Utara maka:

yang

dilaksanakan

oleh

KPP

Pratama

Kontribusi penerbitan Surat Paksa terhadap pencairan tunggakan pajak

dihitung dengan menggunakan rumus:

Kontribusi =

ℎ ℎ

x 100%

Dalam penyusunan skripsi ini penulis ingin mengulas lebih jauh tentang

Surat Paksa yang dilihat dari prosedur pelaksanaan, penerbitan Surat Paksa

sebagai upaya penagihan aktif dan manfaat yang ditimbulkan dari adanya Surat

Paksa tersebut.

33

BAB IV

GAMBARAN UMUM INSTANSI

4.1 Gambaran Umum Instansi

4.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya Instansi

Berdirinya kantor pelayanan pajak (KPP) di seluruh Indonesia didirikan atas

dasar hukum. Pada mulanya, KPP di seluruh Indonesia bernama Kantor Inspeksi

Pajak yang bertugas memungut pajak disekitar propinsi yang bersangkutan pada

tahun 1925. Untuk menampung penghasilan negara dalam bidang perpajakan,

maka pemerintah pada tahun 1953 mendirikan sebuah kantor yang bertugas

mengatur kekayaan negara di bidang perpajakan yang nama Inspective Van

Financjen.

Sejak kemerdekaan, nama tersebut masih sipakai beberapa tahun lamanya

tetapi nama tersebut masih dipakai beberapa tahun lamanya tetapi nama tersebut

dipandang tidak sesuai lagi di zaman kemerdekaan, maka pada tahun 1959 diganti

menjadi Kantor Jawatan Pajak dan seteah beberapa tahun lamanya tugas-tugas

yang ada semakin berat fungsinya bukan hanya mengurus satu masalah saja, maka

pada tahun 1963 nama tersebut digantimenjadi Kantor Inspeksi Keuangan dan

secara nasional menjadi Direktorat Jenderal Pajak, sedang untuk daerah Tingkat I

dengan nama Kantor Inspeksi Pajak.

Pada tahun 1958, nama Inspeksi Keuangan diganti menjadi Inspeksi Pajak,

demikian

pula

wilayahnya

yang

semakin

luas

dan

telah

berkembangnya

perekonomian, seperti Sulawesi, maka dirasa perlu untuk dipisahkan menjadi dua

bagian, yaitu:

34

Kantor Inspeksi Pajak Ujung Pandang wilayahnya meliputi propinsi Sulawesi

Selatan dan Sulawesi tenggara (Sulselra).

2. Kantor Inspeksi Manado

Kantor Inspeksi Manado wilayahnya meliputi Propinsi Sulawesi Utara dan

Sulawesi Tengah.

Pada

tahun

1989

nama

Kantor

Inspeksi

Pajak

diganti

menjadi

Kantor

Pelayanan

Pajak

sesuai

dengan

SK

Menteri

Keuangan

RI

No.

KEP/276/KMK.01/1989 tanggal 25 Maret 1989. Untuk mengawasi para Wajib

Pajak yang tersebar di kotakota lain selain Sulawesi Selatan dan Sulawesi

Tenggara, maka dibangunlah Kantor Dinas Luar pada Daerah Tingkat I dan

daerah Tingkat II. Kantor yang ada di Gedung Keuangan Negara Ujung Pandang,

yaitu:

Kantor tersebut beralamatkan di Jl. Urip Sumiharjo Km.4 Makassar dengan

satu gedung dengan nama Gedung Keuangan Negara Ujung Pandang.

4.1.2 Kedudukan Tugas Dan Fungsi

Kantor Pelayanan Pajak adalah unsur pelaksana Direktorat Jenderal Pajak

yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor

Wilayah Kantor Pelayanan Pajak, yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan

operasional pelayanan perpajakan di bidang pajak penghasilan, pajak pertambahan

nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM) serta pajak tidak

langsung lainnya dalam daerah wewenangnya berdasarkan kebijakan teknis yang

diterapkan

oleh

Direktorat

Jenderal

Pajak.

tersebut di atas, KPP mempunyai fungsi:

1. Pengumpulan

dan

pengolahan

data,

Untuk

menyelenggarakan

tugas

penyajian

informasi

perpajakan,

penggalian potensi pajak, serta ekstensifikasi wajib pajak.

35

2. Penatausahaan dan pengecekan Surat Pemberitahuan Masa dan Tahunan serta

berkas Wajib Pajak.

3. Penatausahaan dan pengecekan Surat Pemberitahuan Masa serta pemantauan

penyusunan laporan pembayaran masa PPh, PPN, PPnBM, dan Pajak Tidak

Langsung.

4. Penatausahaan penerimaan, penagihan, penyelesaian keberatan dan restitusi

PPh, PPN, PPnBM, dan Pajak Tidak Langsung.

5. Verifikasi dan penerapan sanksi perpajakan.

6. Mengadministrasikan pengeluaran Surat Ketetapan Pajak (SKP).

7. Mengurus Tata Usaha Rumah Tangga KPP.

a. Struktur Organisasi Instansi dan Pembagian Tugas

1. Jenis Kantor Pelayanan Pajak

Kantor Pelayanan Pajak modern terbagi dalam tiga jenis, yaitu:

a. Kantor Pelayanan Pajak Besar

b. Kantor Pelayanan Pajak Madya

c. Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Dalam proses reorganisasinya,

Kantor Pelayanan Pajak modern baru

dibentuk dan dioperasikan di Pulau Jawa, Pulau Bali, sebagian Pulau Sumatera,

sebagian Pulau Sulawesi dan Batam.

2. Bagian Kantor pelayanan Pajak

Kantor Pelayanan Pajak konvensional terdiri dari delapan seksi, yaitu:

a. Sub Bagian Tata Usaha

b. Seksi Tata Usaha Perpajakan

c. Seksi Pengolahan Data dan Informasi

36

e. Seksi Pajak penghasilan badan

f. Seksi pemotongan dan pemungutan pajak penghasilan

g. Seksi pajak pertambahan nilai

h. Seksi penagihan

i. Seksi penerimaan dan keberatan

Sejak tahun 2002, kantor Pelayanan Pajak dengan modernisasi administrasi

perpajakan, dilakukan pembenahan organisai, tugas, dan fungsi antara Kantor

Wilayah maupun KPP sebagai unit operasional perpakan di lapangan. Yakni,

menyangkut tugas-tugas pelayanan perpajakan kepada masyarakat. Dalam rangka

pelaksanaan good governance, dilakukan pemisahan tugas dan fungsi yang jelas

antarakedua unit vertical DJP tersebut yang menjelas area (domain) kerja dan

tanggung

jawab

masing-masing,

sehingga

selain

menghilangkan

duplikasi

pelayanan, juga sebagai bagian dari sistem pengendalian intern (international

control) perpajakan nasional.

Modernisasi

perpajakan

di

linngkup

Kantor

Wilayah

pertama

kali

diimplementasikan dengan membentuk Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar (

Large Taxpayers Regional Office, LTRO) melalui keputusan Menteri Keuangan

No. 65/KMK.01/2002. Implementasi modernisasi ini sekaligus sebagai

pilot

project,

sehingga

dapat

diantisipasi

kemungkinan

adanya

kekurangan

atau

hambatan. Kemudian, diimplementasikan di Kantor Wilayah DJP Jakarta khusus

(Keputusan Menteri Keuangan No. 254/KMK.01/2004), yang diubah lagi dengan

Keputusan menteri Keuangan No. 132/KMK.01/2006.

Dalam implementasinya ada 3 model atau jenis KPP modern, yaitu:

37

KPP wajib pajak besar mengelola Wajib Pajak skala besar secara nasional

dengan jenis badan dan terbatas jumlahnya. Di KPP ini tidak ada kegiatan

ekstensifikasi, karena jumlah wajib pajaknya sudah tetap sekitar 200-300

yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Jika di tanah air.

Tidak semua jenis pajak dikelola, melainkan hanya PPh, PPN, PPnBM, dan

Bea materai. Kedudukannya hanay berada di Jakarta dan hingga kini 3 (tiga)

kantor saja.

2. KPP Madya (Medium Taxpayers Office, MTO)

KPP Madya mengelola Wajib Pajak besar jenis badan dalam skala regional

(Lingkup Kantor Wilayah) dan juga terbatas jumlahnya. Di KPP Madya juga

tidak ada kegiatan ekstensifikasi, jumlah WajibPajaknya juga sudah tetap

sekitar 200-500 yang ditetapkan Direktur Jenderal Pajak. Jika suatu saat

ditambah

wajib

pajaknya

berasal

dari

seluruh

KPP

di

wilayah

Kantor

Wilayah. Sama seperti KPP Wajib Pajak Besar, jenis pajak yang dikelola juga

hanya PPh, PPN, PPnBM, dan bea materai. Kedudukannya berada dibeberapa

kantor Wilayah DJP di tanah air, yang hingga saat ini di Medan, Pekanbaru,

Batam,

Palembang,

Jakarta,

Tangerang,

Bekasi,

Bandung,

Semarang,

Surabaya, Sidoarjo, Malang, Balikpapan dan Makassar. Di Jakarta, selain di

wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan

Jakarrta Utara, termasuk KPP khusus yang melayani Wajib Pajak penanaman

modal asing, badan dan orang asing, serta perusahaan masuk bursa. Wilayah

kerjanya sama dengan Kantor Wilayah DJP atasannya.

3. KPP Pratama (Small Taxpayers Office, STO)

Sedangkan KPP Pratama mengelola Wajib Pajak menengah ke bawah yakni

jenis badan di luar yang telah dikelola di KPP Wajib Pajak Besar dan KPP

38

madya serta orang pribadi. Di KPP Pratama ada kegiatan ekstensifikasi Wajib

Pajak, sehingga jumlah Wajib Pajaknya dapat selalu bertambah seirama

dengan penambahan orang pribadi yang memperoleh penghasilan di atas

penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) atau melakukan kegiatan usaha d

wilayah kerjanya. Dengan demikian, jenis Wajib Pajak yang dikelola terdiri

atas orang pribadi, badan, maupun pemotong atau pemungut pajak (seperti

bendaharawan instansi pemerintah). Jenis pajak yang dikelola semuanya,

yakni PPh, PPN, PPnBM, bea materai, PBB, dan BPHTB. Kedudukannya

berada di semua Kantor Wilayah di tanah air, kecuali di kantor wilayah Pajak

Besar dan Kator Wilayah Jakarta Khusus.

Pembagian seksi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama adlah sebagai berikut:

a. Sub Bagian Umum

b. Seksi Pelayanan

c. Seksi Pengolahan Data dan Informasi

d. Seksi ekstensifikasi

e. Seksi Pengawasan dan Konsultasi

f. Seksi Penagihan

g. Seksi Pemerikasaan

4.3 Struktur Organisasi KPP Makassar Utara

1. Kepala

Kantor

bertugas

untuk

mengelola

pelaksanaaan

penyuluhan,

pelayanan, dan pengawasan Wajib Pajak di bidang perpajakan dalam wilayah

wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Kepala

Sub

Bagian

Umum

bertugas

untuk

melaksanakan

pelayanan

kesekertariatan dengan cara mengukur kegiatan tata usaha dan kepegawaian,

39

keuangan, rumah tangga, serta perlengkapan untuk menunjang kelancaran

tugas Kantor Pelayanan Pajak.

a.

Penelaah

bahan

telaah

bertugas

untuk

membantu

pelaksanaan

tugas

pelayanan kesekertariatan melalui kegiatan tata usaha dan kepegawaian,

keuangan, rumah tangga, serta perlengkapan untuk menunjang kelancaran

tugas Kantor Pelayanan Pajak.

 

b.

Pemroses Bahan Telaahan bertugas untuk memproses urusan kesekretariatan

melalui kegiatan tata usaha dan kepegawaian, keuangan rumah tangga, serta

perlengkapan untuk menunjang kelancaran tugas Kantor Pelayanan Pajak.

c.

Sekretaris bertugas untuk melaksanakan pengurusan administrasi persuratan

serta mengatur jadwal kegiatan pimpinan sesuai ketentuan yang berlaku.

 

d.

Pembuat

daftar

gaji

bertugas

untuk

menyusun

rencana

anggaran

dan

menyelenggarakan

urusan

keuangan

lainnya

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

e.

Pengelola

arsip

bertugas

untuk

melaksanakan

pengurusan

administrasi

persuratan serta arsip-arsip.

 

f.

Bendahara

Pengeluaran

berutugas

untuk

menerima,

menyimpan,

dan

membayarkan gaji/TKPKN kepada para pegawai dan menyelenggarakan

pengelola

anggaran

di

lingkungan

Kantor

Pelayanan

Pajak

berdasarkan

ketentuan yang berlaku.

 

g.

Penatausahaan bertugas untuk melaksanakan pencatatan dan pengiriman

surat, dokumen, atau barang sesuai ketentuan yang berlaku.

 

3.

Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi bertugas untuk melaksanakan

pengumpulan, pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman

40

dokumen perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan

aplikasi e-SPT dan e-Filling serta laporan kinerja.

a.

Penelaah

bahan

telaahan

bertugas

untuk

membantu

pelaksanaan

pengumpulan, pengolahan data, penyajian informasi perpajakan,perekaman

dokumen perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan

aplikasi e-SPT dan e-Filling serta penyiapan laporan kinerja.

 

b.

Pemroses

bahan

telaahan

bertugas

untuk

memproses

data,

penyajian

informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, pelayanan dukungan

teknis komputer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filling serta penyiapan

laporan kinerja.

c.

Penyaji bahan telaahan menyajikan data, penyajian informasi perpajakan,

perekaman

dokumen

perpajakan,

pelayanan

dukungan

teknis

komputer,

pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filling serta penyiapan laporan kinerja.

 

d.

Operator

Console

bertugas

untuk

melaksanakan

pemeliharaan

dan

monitoring data, progaram administrasi perpajakan, pengecekan,perbaikan

komputer

dan

perangkat

penunjangnya,

serta

mengawasi

pengoperasian

komputer dan back-up data dalam rangka memenuhi pelayanan terhadap

pemakai.

4.

Kepala

seksi

pelayanan

bertugas

untuk

melaksanakan

penetapan

dan

penerbitan

produk

hukum

perpajakan, pengadministrasian

dokumen

dan

penerbitan

produk

hukum

perpajakan, pengadministrasian

dokumen

dan

berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan, serta

penerimaan

surat

lainnya,

penyuluhan

perpajakan,

pelaksanaan

regitrasi

Wajib Pajak, dan kerja sama perpajakan sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

41

a.

Penelaah Bahan telaahan bertugas untuk membantu pelaksanaan penetapan

dan penerbitan produk hukum perpajakan, penerimaan dan pengolahan surat

pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, dan

pelaksanaan registrasi Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

b.

Pemroses

bahan

telahaan

bertugas

untuk

memproses

penetapan

dan

penerbitan produk hukum perpajakan, penerimaan dan penholahan surat

pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, dan

pelaksanaan registrasi Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

c.

Penyaji Bahan Telaahan bertugas untuk menatausahakan

dan mengarsipkan

berkas wajib pajak serta memenuhi permintaan konfirmasi dan klarifikasi

PPh, PPN, dari unit terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

5.

Kepala seksi penagihan bertugas untuk melaksanakan urusan penatausahaan

piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif,

usulan penghaspusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen

penagihan sesuai ketentuan yang berlaku.

 

a.

Penelaah bahan telaahan bertugas untuk menatausahakan piutang pajak,

penundaan dan angsuran tunggakan pajak, usulan penghapusan piutang pajak,

serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

 

b.

Pemroses

bahan

telaahan

bertugas

untuk

memproses

piutang

pajak,

penundaan dan angsuran tunggakan pajak, usulan penghapusan piutang pajak,

serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

 

c.

Penyaji bahan telaahan bertugas untuk menyajikan piutang pajak, penundaan

dan angsuran tunggakan pajak, usulan penghapusan piutang pajak, serta

penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

42

d.

Jurusita

bertugas

untuk

melakukan

urusan

penundaan

dan

angsuran

tunggakan pajak, penagihan aktif, penatausahaan usulan penghapusan piutang

pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

 

6.

Kepala seksi pemeriksaan bertugas untuk melaksanakan penyusunan rencana

pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan

penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan

perpajakan lainnya.

 

a.

Penelaah bahan telaahan bertugas untuk menyiapkan penyusunan rencana

pemeriksaaan, penerbitan dan penyaluran surat perintah pemeriksaan pajak,

serta administrasi pemeriksaan pajak lainnya.

 

b.

Pemroses bahan telaahan bertugas untuk memproses penyusunan rencana

pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran surat perintah pemeriksaan pajak,

serta administrasi pemeriksaan pajak lainnya.

 

c.

Penyaji bahan telaahan bertugas untuk menyajikan bahan penyusun rencana

pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak,

serta administrasi pemeriksaan pajak lainnya.

 

7.

Kepala

seksi

pengawasan

dan

konsultasi

bertugas

untuk

melaksanakan

pengawasan

kepatuhan

kewajiban

perpajakan

Wajib

Pajak,

bimbingan/himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan,

penyusunan Profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsilisasi

data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, dan melakukan

evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku.

 

a.

Account Representative bertugas untuk melaksanakan pengawasan kepatuhan

kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan kepada wajib pajak

dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil wajib pajak, analisis

43

kinerja wajib pajak, rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka melakukan

intensifikasi, dan melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan

yang berlaku.

b.

Penelaah bahan telaahan bertugas untuk membantu pelaksanaan penyusunan

Profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak

dalam rangka melakukan intensifikasi, dan melakukan evaluasi hasil banding

berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk meningkatakan pemahaman dan

kepatuhan Wajib Pajak.

 

c.

Pemroses bahan telaahan bertugas untuk memproses pelaksanaan penyusunan

Profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib

Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, dan melakukan evaluasi hasil

banding

berdasarkan

ketentuan

yang

berlaku

untuk

meningkatakan

pemahaman dan kepatuhan wajib pajak.

 

d.

Penyaji

bahan

telaahan

bertugas

untuk

melaksanakan

pengurusan

surat

keluar, penggandaan dan penyimpanan surat dan dokumen sesuai ketentuan

yang berlaku.

 

8.

Kepala

seksi

ekstensifikasi

perpajakan

bertugas

untuk

melaksanakan

pengamatan potensi perpajakan, pencairan data dari pihak ketiga, pendataan

objek dan subjek pajak, penilaian objek pajak dalam rangka ekstensifikasi

perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

a.

Penelaah bahan telaahan bertugas untuk membantu pelaksanaan pengamatan

potensi perpajakan, pencairan data dari pihak, pendataan subjek dan objek

pajak, penilaian objek pajak dalam rangka ekstensifikasi perpajakan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku serta menyiapkan konsep surat tugas dalam

44

rangka pelaksanaan pengamatan potensi perpajakan, pendataan objek dan

subjek pajak, penilaian objek pajak.

b. Pemroses bahan telaahan bertugas untuk memproses pengamatan potensi

perpajakan, pencairan data dari pihak ketiga, pendataan subjek dan objek

pajak, penilaian objek pajak dalam rangka ekstensifikasi perpajakan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku serta menyiapkan konsep surat tugas dalam

rangka pelaksanaan pengamatan potensi perpajakan, pendataan objek dan

subjek pajak, penilaian objek pajak.

c. Penyaji bahan telaahan bertugas untuk melaksanakan pengurusan surat masuk

dan surat keluar, penggandaan dan penyimpanan surat dan dokumen sesuai

ketentuan yang berlaku.

45

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis data yang digunakan penulis dalam pembahasan penelitian ini adalah

analisis deskriptif komparatif untuk membandingkan penagihan pajak dengan

surat paksa tahun 2009 dengan tahun 2010 serta pencairan tunggakan pajak tahun

2009 dengan tahun 2010, dengan surat paksa terhadap pencairan tunggakan pajak,

dan analisis rasio untuk mengetahui tingkat efektivitas penagihan pajak dengan

surat paksa dan kontribusi penagihan pajak dengan Surat Paksa terhadap seluruh

pencairan tunggakan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Utara.

Dengan

metode

ini,

penulis

menggambarkan

efektivitas

dan

kontribusi

penerbitan surat paksa terhadap pencairan tunggakan pajak berdasarkan data yang

dikumpulkan, terutama data mengenai Surat Paksa, data tersebut kemudian diolah

untuk menghitung persentase dari realisasi penerbitan Surat Paksa dan Pencairan

tunggakan pajak. Data tersebut dikumpulkan berdasarkan data penerbitan Surat

Paksa dan pencairan tunggakan pajak pada KPP Pratama Makassar Utara.

Dalam bab ini, penulis membahas lebih jauh tentang Surat Paksa yang dilihat

dari pelaksanaan penerbitan Surat Paksa serta pencairan tunggakan pajak yang

diakibatkan terbitnya Surat Paksa pada KPP Pratama Makassar Utara tahun 2009

dan 2010. Penagihan Tunggakan Pajak dengan Surat Paksa merupakan tindakan

penagihan yang dilaksanakan langsung oleh Jurusita Pajak dengan meyampaikan

Surat

Paksa

kepada

penagihannya.

wajib

pajak

untuk

melunasi

utang

pajak

dan

biaya

46

5.1 Data Tunggakan Pajak

Berikut ini adalah data mengenai tunggakan pajak tahun 2009 dan Tahun 2010

yang tertuang pada Tabel 5.1 dan Tabel 5.2

Tabel 5.1

Tunggakan Per jenis Pajak Tahun Pajak 2009

KPP Pratama Makassar Utara (dalam ribuan rupiah)

N

 

NILAI

NILAI

SISA

o

JENIS PAJAK

TUNGGAKAN

PEMBAYARAN

TUNGGAKAN

1

2

3

4

5

1

PPh Psl. 25 OP

3,354,165.00

193,285.00

3,160,880.00

2

PPh Psl. 25 Badan

14,079,450.00

580,156.00

13,499,294.00

3

PPh Psl. 21

4,256,060.00

112,978.00

4,143,082.00

4

PPh Psl. 22

13,670.00

400.00

13,270.00

5

PPh Psl. 23

2,120,420.00

228,875.00

1,891,545.00

6

PPh Psl. 26

-

-

-

7

PPh Psl.4 Ayat (2)

103,458.00

65,987.00

37,471.00

8

PPN

24,500,456.00

4,874,854.00

19,625,602.00

9

PPn BM

2,054.00

-

2,054.00

10

Bunga Penagihan

208,765.00

12,396.00

196,369.00

11

PKK

-

-

-

 

TOTAL

48,638,498.00

6,068,931.00

42,569,567.00

Sumber: Seksi Penagihan KPP Pratama Makassar Utara (data diolah 2011)

Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat dijelaskan bahwa nilai tunggakan

akhir tahun 2009 sebesar Rp. 48,638,498,000.00 nilai ini merupakan hasil dari

akumulasi tunggakan awal tahun 2009 yang merupakan tunggakan akhir tahun

2008 dengan tunggakan pajak pada tahun berjalan 2009. Adanya pengurangan

47

tunggakan pajak akibat adanya penagihan maupun dari kesadaran Wajib Pajak itu

sendiri sebesar Rp. 6,068,931,000.00 sehingga sisa nilai tunggakan pajak pada

akhir tahun 2009 sebesar Rp 42,569,567,000.00.

Tabel 5.2

Tunggakan Per jenis Pajak Tahun Pajak 2010

KPP Pratama Makassar Utara (dalam ribuan rupiah)

N

 

NILAI

NILAI

SISA

o

JENIS PAJAK

TUNGGAKAN

PEMBAYARAN

TUNGGAKAN

1

2

3

4

5

1

PPh Psl. 25 OP

3,698,632.00

207,283.00

3,491,349.00

2

PPh Psl. 25 Badan

14,398,627.00

607,202.00

13,791,425.00

3

PPh Psl. 21

4,457,671.00

128,625.00

4,329,046.00

4

PPh Psl. 22

14,830.00

400.00

14,430.00

5

PPh Psl. 23

2,164,726.00

300,806.00

1,863,920.00

6

PPh Psl. 26

-

-

-

7

PPh Psl.4 Ayat (2)

103,543.00

68,505.00

35,038.00

8

PPN

25,114,496.00

5,097,129.00

20,017,367.00

9

PPn BM

2,054.00

-

2,054.00

10

Bunga Penagihan

239,968.00

12,446.00

227,522.00

11

PKK

-

-

-

 

TOTAL

50,194,547.00

6,422,396.00

43,772,151.00

Sumber: Seksi Penagihan KPP Pratama Makassar Utara (data diolah 2011)

Dari tabel 5.2 di atas dapat dijelaskan bahwa nilai tunggakan akhir tahun

2010 sebesar Rp. 50,194,547,000.00 nilai ini merupakan hasil dari akumulasi

tunggakan awal tahun 2010 yang merupakan tunggakan akhir tahun 2009 dengan

tunggakan pajak pada tahun berjalan 2010. Adanya pengurangan tunggakan pajak

akibat adanya penagihan maupun dari kesadaran Wajib Pajak itu sendiri sebesar

Rp. 6,422,396,000.00, sehingga sisa nilai tunggakan pada akhir tahun 2010

48

sebesar Rp 43,772,151,000.00. Dalam tahun 2010 terjadi penambahan tunggakan

pajak sebesar Rp. 1,556,049,000.00 dari tahun 2009 akibat akumulasi tunggakan

Wajib Pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakannya selama tahun 2010.

Tunggakan pajak terjadi karena adanya Wajib Pajak yang tidak memenuhi

kewajiban perpajakannya dalam hal membayar kewajiban perpajakannya atau

belum bisa membayar pajak terutangnya karena jumlahnya yang cukup besar.

5.2 Penatausahaan Penerbitan Surat Paksa

Seksi Penagihan KPP Pratama Makassar Utara mempunyai tugas melakukan

urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak,

penagihan

aktif, usulan penghapusan piutang, serta penyimpanan dokumen-

dokumen penagihan. Saat ini terdapat dua orang Jurusita yang aktif dan dua

pelaksana di Seksi Penagihan.

Seksi Penagihan di KPP Pratama Makassar Utara telah menggunakan SIDJP

yang telah terhubung secara intranet. Seiring dengan modernisasi perpajakan di

Direktorat Jenderal Perpajakan, agar lebih mempermudah dalam administrasi

perpajakannya sarana komputer digunakan. Meskipun telah menggunakan media

elektronik dalam penatausahaan penagihan pajak, pencatatan secara manual masih

tetap dilakukan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,

misalnya pencatatan pemberkasan dan kartu pengawasan tunggakan pajak masih

dicatat secara manual. Dalam hal proses penagihan, terutama tata cara penerbitan

dan pemberitahuan Surat Paksa, seksi penagihan di KPP Pratama Makassar Utara

mengacu

kepada

S