Anda di halaman 1dari 21

NAMA : MONICA JULIANI NPM : 14211601 KELAS : 2EA27

BAB I

TINJAUAN SEKILAS MENGENAI EKONOMI POLITIK HUBUNGAN PUSAT DAERAH DI INDONESIA


Tugas Pendidikan Kewarganegaraan Bpk. Sri Waluyo
1

Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan Dosen : Bapak Sri Waluyo

Topik Karya Ilmiah TINJAUAN SEKILAS MENGENAI EKONOMI POLITIK HUBUNGAN PUSAT DAERAH DI INDONESIA Kelas : 2EA27

Tanggal Upload Tulisan : 31 Mei 2013

Penyusun
NPM 14211601 Nama Lengkap Monica Juliani Tanda Tangan

Program Sarjana Ekonomi Manajemen UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan kasih dan karuniaNya saya dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul TINJAUAN SEKILAS MENGENAI EKONOMI POLITIK HUBUNGAN PUSAT DAERAH DI INDONESIA dengan tepat waktu Kewarganegaraan, pada semester IV ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sri Waluyo, selaku dosen pengajar mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, yang telah memberikan tugas karya ilmiah ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang juga sudah memberi kontribusi, baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang saya alami dalam proses pengerjaannya, tapi saya berhasil menyelesaikannya dengan baik. Saya menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari kata kesempurnaan, untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya makalah ini. Saya berharap semoga karya ilmiah ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. demi memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan

Jakarta, 23 Mei 2013

Monica Juliani

DAFTAR ISI
PENYUSUN .......................................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................. 2 3 4 5

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ABSTRAKSI .......................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH .............................................. 1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN .............................................. 1.4 METODE PENULISAN .................................................................................. BAB II METODE PENULISAN 2.1 WAKTU dan TEMPAT PENULISAN .......................................................... 2.2 METODE PENULISAN .................................................................................. 2.3 LANGKAH LANGKAH PENULISAN .......................................................... BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Teori dan Konsep Ekonomi Politik .......................................................... 3.2 Pendekatan Ekonomi Politik ...................................................................... BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Otonomi dan Pola Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah ...................... 4.2 Permasalahan Desentralisasi Fiskal dan Ilustrasi Kondisi Politik Anggaran Daerah ...................................................................... BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN .............................................................................................. 5.2 SARAN .......................................................................................................... 5.3 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

6 8 8 8

9 9 9

10 13

14 15

18 19 21

ABSTRAKSI
Ilmu Ekonomi Politik adalah bagian dari ilmu sosial yang berbasis pada dua subdisiplin ilmu, yakni politik dan ekonomi. Fokus dari studi ekonomi politik adalah fenomena-fenomena ekonomi secara umum, yang bergulir serta dikaji menjadi lebih spesifik ; yakni menyoroti interaksi antara faktor-faktor ekonomi dan faktor-faktor politik. Namun, dalam perkembangan yang berikutnya, istilah ekonomi politik selalu mengacu pada adanya interaksi antara aspek ekonomi dan aspek politik. Adanya kelemahan instrumental ini menyebabkan banyak kalangan ilmuwan dari kedua belah pihak berusaha untuk mempertemukan titik temunya, sehingga para ilmuwan ini berusaha untuk mencoba mengkaji hal ini dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam ekonomi politik. Dalam upaya memaksimalkan studi mengenai ekonomi politik, juga tidak boleh terlepas dari sistem ekonomi di negara yang bersangkutan. Terkait dengan hal tersebut, setidaknya dalam berbagai jenis yang ada, terdapat dua sistem ekonomi besar dunia yang dibagi menjadi dua kategori pokok, yakni sistem ekonomi yang berorentasi pasar (ekonomi liberal) dengan sistem ekonomi terencana atau yang lebih dikenal sebagai sistem ekonomi terpusat (sosialis). Sehingga dalam studi ekonomi politik akan ditemui masalah atau pertanyaan yang sama peliknya mengenai bagaimana faktor-faktor politik itu memengaruhi kondisi-kondisi sosial ekonomi suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Banyak orang yang selama ini salah memahami ekonomi politik, seolah-olah ekonomi politik itu sama dengan politik ekonomi. Bahkan cenderung dalam pendefinisian ekonomi politik diartikan secara kata perkata atau digunakan untuk menganalisa dua bidang kajian yaitu ekonomi dan politik. Padahal analisa ekonomi politik bukanlah analisa yang mendikotomikan antara ekonomi dan politik karena keduanya tidak bisa dipertemukan. Wilayah kajian ekonomi dan politik terpisah jauh sehingga sulit untuk menyatukan dua bidang tersebut. Menurut Erani perbedaan terpenting dari pendekatan ekonomi politik dan ekonomi murni adalah dalam pandangannya tentang struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Salah satu ciri utama dari negara kesatuan ialah kekuasaan (power) yang sangat besar atau dominan pada pemerintah pusat. Denyut denyut kehidupan bernegara dipompakan dari pusat dengan kelengkapan aparaturnya yang sangat berpengaruh. Sistem dan mekanisme perencanaannya pun cenderung sangat sentralistis serta di tandai oleh berbagai pengaturan dan kebijakan yang di tetapkan oleh pusat pula. Pemerintahan di tingkat daerah praktis sekedar merupakan perpanjangan tangan dari pusat. Namun intesitas dominasi pusat dari satu negara ke lain negara kesatuan tentu saja berbeda beda. Sekalipun menganut negara sistem negara kesatuan , pengelolaan negara oleh pemerintah pusat bisa saja bersifat dinamis. Jadi, yang terpenting disini bukanlah soal sistem negara kesatuan , melainkan adalah bagaimana penyelenggaraan pemerintahan bisa berlangsung secara efisien dan efektif untuk mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan lebih merata. Bagi Indonesia, bentuk negara kesatuan merupakan amanat konstitusi. Semangat kesatuan dan persatuan sangat kental melekat pada diri bangsa Indonesia. Namun khusus dalam beberapa hal, jargon kesatuan dan persatuan juga cenderung dijadikan tameng bagi sementara pihak ( elit penguasa ) sebagai pembenaran atas berbagai tindakan yang bersifat menekan. Struktur kekuasaan akan mempengaruhi pencapaian ekonomi, sebaliknya ekonomi murni menganggap struktur kekuasaan didalam masyarakat adalah given. Ekonomi politik memiliki

cara pandang yang berbeda dengan ekonomi murni. Karena itu menurut Caporaso ketika ilmu politik dan ilmu ekonomi disatukan secara konseptual, maka ekonomi politik tidak dapat lagi dipandang sebagai hubungan antara dua jenis telaah yang berbeda. Karena itu secara umum kajian ekonomi politik adalah mengaitkan seluruh penyelenggaraan politik , baik yang menyangkut aspek, proses maupun kelembagaan dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat maupun yang di introdusir oleh pemerintah. Karena itu harus dipahami bahwa pendekatan ini meletakan bidang politik subordinat terhadap ekonomi, artinya bahwa instrument-instrumen ekonomi seperti mekanisme pasar, harga dan investasi dianalisa dengan mempergunakan setting politik dimana kebijakan atau peristiwa ekonomi tersebut terjadi. Yang dipelajari dalam ilmu ekonomi politik adalah bagaimana sistem kekuasaan dan pemerintahan dipakai sebagai instrument atau alat untuk mengatur kehidupan sosial atau sistem ekonomi. Proses ekonomi dengan pendekatan seting politik ini tidak bisa dilakukan dengan pendekatan politik maupun pendekatan ekonomi. Fokus dari studi ekonomi politik adalah fenomena-fenomena ekonomi secara umum, yang bergulir serta dikaji menjadi lebih spesifik, yakni menyoroti interaksi antara faktor-faktor ekonomi dan faktor-faktor politik. Namun, dalam perkembangan yang berikutnya, istilah ekonomi politik selalu mengacu pada adanya interaksi antara aspek ekonomi dan aspek politik. Pendekatan ekonomi politik yang lebih komprehensif ini justeru menjadi daya tarik tersendiri bagi ilmu ekonomi politik. Bahkan banyak pakar yang menganggap pendekatan ekonomi politik lebih baik, terutama dalam menganalisa peristiwa dan fenomena yang tinggi kadar campuran ekonomi dan politiknya.

1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH


Rumusan masalah: 1. Seperti apakah teori dan konsep ekonomi politik ? 2. Bagaimanakah pendekatan ekonomi politik ? 3. Seperti apakah otonomi dan pola hubungan keuangan pusat dan daerah ? 4. Jelaskan mengenai permasalahan desentralisasi fiskal dan jelaskan mengenai ilustrasi kondisi politik anggaran daerah !

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


Semua yang dilakukan pastilah memiliki suatu tujuan. Sama halnya dengan karya ilmiah yang saya susun ini. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan mengetahui bagaimanakah hubungan pemerintahan di pusat dan di daerah Indonesia mengenai ekonomi politik. Selain itu, karya ilmiah ini saya susun untuk tujuan melengkapi tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Semoga karya ilmiah yang saya susun bisa memberikan hasil yang positif bagi para pembacanya karena di dalam karya ilmiah ini, saya menjelaskan mengenai hubungan-hubungan antara ekonomi politik di pusat dengan daerah, teori dan konsep ekonomi politik, dan masih banyak lagi.

1.4 METODE PENULISAN

Studi Pustaka. Pada metode ini, penulis mencari-cari data dan artikel dari beberapa buku dan dari

internet yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah dan yang berkaitan dengan tinjauan sekilas mengenai ekonomi politik hubungan pusat dan daerah di Indonesia.

BAB II METODE PENULISAN


2.1 WAKTU DAN TEMPAT PENULISAN
JAKARTA, Mei 2013

2.2 METODE PENULISAN

Studi Pustaka. Pada metode ini, penulis mencari-cari data dan artikel dari beberapa buku dan dari

internet yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah dan yang berkaitan dengan tinjauan sekilas mengenai ekonomi politik hubungan pusat dan daerah di Indonesia.

2.3 LANGKAH LANGKAH PENULISAN


Cover, Lembar Penyusun, Kata Pengantar, Daftar Isi, Abstraksi, BAB I Pendahuluan (Latar Belakang, Rumusan dan Batasan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, penulisan) , BAB II Metode Penulisan ( Waktu Langkah Penulisan ) , dan Tempat Penulisan, metode Metode

Penulisan, Langkah

BAB III Landasan

Teori, BAB IV

Pembahasan, BAB V Penutup ( Kesimpulan, Saran, Daftar Pustaka).

BAB III LANDASAN TEORI


3.1 TEORI DAN KONSEP EKONOMI POLITIK
Pada hakekatnya, ekonomi politik berasal dari ilmu filosofi moral diperkenalkan pada abad ke-18 sebagai ilmu ekonomi negara atau entitas politik. Asal dari terminologi ekonomi politik adalah dari kata biasa digunakan dalam mempelajari produksi, pembelian, dan penjualan serta hubungannya dengan hukum, kebiasaan, dan pemerintah. Secara garis besar, ekonomi politik merupakan studi interdisipliner antara ekonomi, hukum, dan politik. Ilmu ini berbicara mulai dari bagaimanan suatu sistem, misalnya kapitasi, sosialis, dan campuran di antara keduanya saling berinteraksi, mempengaruhi kebijakan publik. monopoli, proteksi pasar, kebijakan fiskal pemerintah, merupakan produk dari aplikasi ekonomi politik. Perbedaan pendekatan dalam ekonomi politik menempatkan besarnya peran antara pemerintah pusat di level nasional dengan pemerintah daerah di level lokal. Ekonomi politik dari sudut pandang pemerintahan lokal, menginginkan peran aktor di level perkotaan dan daerah dimana aktivitas ekonomi terdapat di wilayah mereka (Sabel, 1989; Ohmae, 1996; Sassen, 2000). Jefferey Sellers2(2003) mengatakan bahwa, aktifitas ekonomi lokal akan meningkatkan tanggung jawab lebih besar di tangan pemerintah daerah untuk berperan di dalam pasar transnasional.Sellers mengatakan bahwa pemerintah daerah dapat diserahkan tanggung jawab dalam menyediakan barang publik dan memainkan peran penting di dalam mencapai tujuan bersama antar daerah. Ekonomi politik lokal bermaksud mendekatkan rakyat terhadap pemerintahnya sehingga dampak positif seperti meningkatnya pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat yang selama ini terabaikan, karena sentralisasi kekuasaan, dapat dipenuhi. Kesejahteraan masyarakat diharapkan lebih baik seiring dengan suksesnya program desentralisasi. Akan tetapi Sellers juga berargumen bahwa peran tersebut di atas hanyalah merupakan bagian kecil diberikan pemerintah pusat dibandingkan dengan pilihan murni daerah. Walaupun ketersediaan barang publik tersebut sangat spesifik untuk daerah tertentu, suatu sistem terorganisir mengintegrasikan keuntungan dari barang tersebut ke dalam sistem nasional berupa penyusunan kebijakan dan implementasinya. Sistem seperti ini membutuhkan campur tangan Sehingga kebijakan seperti

termasuk praktek rent-seeking

10

institusi pemerintah tingkat nasional mendominasi perwakilan politik, hubungan antara unit administratif, dan hubungan fiskal antara pemerintah daerah. Dengan demikian dari kedua perbedaan perpektif tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekonomi politik lokal tidak hanya melibatkan pemerintah daerah saja, namun lebih jauh peran besar kepentingan pemerintah pusat di dalam menentukan arah kebijakan ekonomi tingkat lokal tidak dapat dikesampingkan. Kebijakan ekonomi lokal pemerintah pusat kepada daerah salah satunya adalah melakukan desentralisasi fiskal sebagai upaya mendesentralisasikan kewenangan daerah untuk meningkatkan kemampuan memungut pajak dan retribusi. Peran pemerintah pusat sangat besar dalam upaya merancang desentralisasi fiskal berimbang pada setiap daerah. Dengan daerah mampu menjalankan fungsi ekstraktif (memungut atau menyerap), regulatif (mengatur), dan distributif (menyalurkan), maka diharapkan daya saing daerah dapat perekonomian turut menguat. Dampak positif lainnya adalah daerah dapat

meminimalisir timbulnya politik anggaran lokal merugikan bagi masyarakat lokal. Teori desentralisasi fiskal menekankan adanya distribusi tanggung jawab finansial atau pembiayaan sebagai komponen utama dari desentralisasi. Pemerintah lokal dan organisasi

swasta dapat menjalankan desentralisasi secara efektif apabila mereka memiliki pendapatan yang cukup baik melalui pungutan daerah maupun transfer dari pemerintah pusat. Dengan demikian, pemerintah lokal dapat memiliki pendapatan baik bila memiliki kewenangan mengambil keputusan tentang pembelanjaan di daerahnya sendiri. Bentuk desentralisasi fiskal antara lain dapat bercirikan: a. b. Pembiayaan sendiri atau pemulihan biaya melalui pungutan kepada pengguna, Pembiayaan bersama atau pengaturan produksi bersama melalui partisipasi pengguna dalam menyediakan layanan dan infrastruktur melalui kontribusi dana ataupun tenaga buruh, c. Ekspansi pendapatan lokal melalui pajak bumi bangunan atau penjualan atau pungutan tidak langsung, d. Transfer antar lembaga pemerintah yang menggeser pendapatan umum dari pengumpulan pajak oleh pemerintah pusat ke pemerintah lokal untuk penggunaan umum ataupun spesifik, e. Pemberian kewenangan daerah setingkat kecamatan untuk meminjam dan memobilisasi sumber daya national ataupun lokal melalui jaminan peminjaman

11

Konsep desentralisasi fiskal tidak melulu selalu dikaitkan dengan federalisme fiskal. Karena di negara-negara tidak menganut federasi, desentralisasi fiskal juga dapat diimplementasikan. Menurut Chancal K. Sharma (2005) desentralisasi fiskal tidak memiliki bangunan kelembagaan formal, karena bangunan yang ada melampaui berbagai level pemerintahan dimana secara de facto memiliki kewenangan pengambilan keputusan . Namun demikian, tidak berarti segala bentuk pemerintahan dapat dikatakan sebagai federal secara fiskal. Federalisme fiskal berarti satu rangkaian prinsip dapat diimplementasikan di semua negara yang menginginkan dilaksanakannya prinsip federalisme fiskal. Oleh karena itu, tidaklah beralasan apabila suatu negara non-federasi menolak prinsip-prinsip ini karena sifatnya sangat tergantung dari fungsi berbagai tingkat pemerintahan dan fungsi melekat pada setiap bentuk pemerintahan. Wallace E. Oates4(1999) mengatakan bahwa federalisme fiskal merupakan kerangka normative umum untuk memberikan penugasan kepada fungsi berbagai level pemerintahan dan instrumen fiskal dalam menjalankan fungsi mereka (fiscal federalism is a general normative framework for assignment of functions to the different levels of government and appropriate fiscal instruments for carrying out these functions). Perbedaan antara federalisme fiskal dan desentralisasi fiskal menurut Sharmaterletak pada bagaimana cara negara-negara federasi dan non-federasi menerapkan prinsip-prinsip dan konsep-konsep menghubungkan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah di dalam federalisme fiskal . Sedangkan desentralisasi fiskal merupakan proses menerapkan prinsipprinsip tersebut. Tentu saja, corak perbedaan akan sangat bergantung dari keputusan politik yang diambil oleh para pengambil keputusan di negara kesatuan ataupun federasi. Kondisi desentralisasi fiskal di negara berkembang, terutama menganut sistem pemerintahan non-federasi menempatkan pemerintah lokal atau unit administratif berwenang secara legal untuk memungut pajak. Akan tetapi, pada kenyataannya dasar pemajakan sangat lemah dan kebergantungan pada subsidi pemerintah pusat betul-betul tidak terpisahkan. Sehingga, pemerintah daerah di negara-negara berkembang tidak memiliki kewenangan seutuhnya dalam desentralisasi fiskal akibat pemerintah pusat kurang sungguh-sungguh menjalankan kebijakan tersebut.

12

3.2 PENDEKATAN EKONOMI POLITIK


Pada dasarnya bahwa perbaikan dalam tata kelola perekonomian daerah pada prinsipnya harus meningkatkan kinerja ekonomi. Dengan kata lain, kita telah memikirkan tata kelola pemerintahan sebagai sesuatu yang disetujui sebagai perbaikan untuk meningkatkan aksi kebijakan dan yang kemudian akan membantu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, banyak bukti yang ditunjukkan bahwa banyak variabel struktural yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, juga berdampak pada kualitas tata kelola perekonomian, mengacaukan hubungan antara keduanya. Terdapat banyak literatur pada faktor penentu politik pada tata kelola pemerintahan, khususnya dalam desentralisasi5 (Bardhan dan Mookherjee 2000; Lockwood 2009). Banyak dari hal ini berfokus pada lembaga-lembaga politik dan insentif yang dihadapi oleh para aktor yang relevan dan bagaimana hal ini menentukan hasil yang diamati. Namun, insentif yang dihadapi oleh para aktor politik seringkali dipengaruhi oleh konteks ekonomi struktural di mana mereka beroperasi (misalnya jarak jauh atau dekat dengan kota-kota besar, dengan atau tanpa sumber utama alam). Oleh karena itu sangat penting untuk mengubah pertanyaan kita dan bertanya data apa yang menunjukkan tentang faktor-faktor penentu tata kelola pemerintahan.

13

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 OTONOMI DAN POLA HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH

Tabel 11.3 memuat data perbandingan hubungan keuangan pusat - daerah dengan beberapa negara berkembang, yang menunjukkan secara gamblang hal ini. Sekalipun data data pada tabel tersebut merujuk ke tahun tahun yang berbeda untuk masing-masing negara, namun

14

pola pola yang di gambarkannya cenderung tetap atau konstan untuk jangka waktu yang relatif panjang sehingga dapat mencerminkan pola hubungan keuangan pusat dan daerah yang baku. Dibandingkan dengan yang ada di keenam negara berkembang yang tertera pada tabel 11.3 sistem keuangan negara Indonesia nyata nyata yang paling terpusat. Porsi daerah dalam penerimaan pemerintah pusat hanya 7% sedangkan untuk pengeluarannya Cuma 22%. Betapa bergantungnya anggaran pemerintah daerah kepada pusat terlihat pula dari nsibah penerimaan pemerintah daerah terhadap pengeluarannya yang hanya mencapai 30%. Coba Anda bandingkan hal ini misalnya dengan Cina sebagai kasus ekstrim yang nisbahnya mencapai 100%. Oleh karena itu jelas bahwa perputaran roda-roda pembangunan di daerah sangat begantung pada mood pemerintah pusat dalam mengucurkan dananya ke daerah. Gambaran untuk Daerah Tingkat II bahkan lebih parah lagi. Masih banyak kotamadya, apalagi kabupaten, yang tertatih tatih dalam mengumpulkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk menutup aneka keperluannya (Tabel 11.4).

4.2 PERMASALAHAN DESENTRALISASI FISKAL DAN ILUSTRASI KONDISI POLITIK ANGGARAN DAERAH
Permasalahan desentralisasi fiskal di daerah di Indonesia, terutama berkaitan dengan sulitnya meningkatkan kinerja perekonomian daerah karena pembagian potensi ekonomi tidak merata, sehingga beban penduduk miskin menjadi lebih tinggi. Sementara itu, ketergantungan fiskal daerah kepada pusat akibat daerah pemekaran baru misalnya, semakin besar. Menurut studi dilakukan Bappenas (2007)6 tentang Evaluasi Dampak Pemekaran Daerah, terdapat fakta bahwa daerah pemekaran baru atau disebut sebagai Daerah Otonom Baru (DOB) tidak optimal dalam menjaring pendapatan dan rendah dalam kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mereka. Demikian juga, DOB memiliki porsi alokasi belanja modal pemerintah daerah rendah. Dapat disimpulkan bahwa desentralisasi fiskal membutuhkan masa transisi berupa proses cukup lama menumbuhkan semua potensi ekonomi yang ada. Permasalahan semakin meruncing ketika politik anggaran lokal dimainkan oleh elit-elit di daerah. Pembangunan yang tadinya ditujukan mensejahterakan masyarakat lokal pada akhirnya harus menyerah kepada ambisi memenuhi kebutuhan finasial para kepala daerah dan anggota dewan semata. Kondisi saling terkaitnya peran anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

15

(DPRD) dan Kepala Daerah dalam menyuburkan praktek politik anggaran terutama sangat jelas di saat proses penyusunan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). Asumsinya, proses penyusunan APBD sebagai salah mata rantai proses desentralisasi fiskal seharusnya menekankan peran para birokrat mewakili kepentingan umum. Begitu juga, para wakil duduk di DPRD mewakili suara rakyat yang ada di wilayah kerja mereka. Namun demikian, justru kondisi seperti disebutkan tadi telah membuat politik anggara mendominasi proses desentralisasi fiskal seperti tergambar dalam ilustrasi berikut:

Ilustrasi Kondisi Politik Anggaran Daerah


INPUT TINGKAT KELEMBAGAAN WADAH PEMROSESAN OUTPUT

KELURAHAN

MUSRENBANG

USULAN I

KECAMATAN

UNIT KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (UDKP)

PEMILAHAN PROGRAM & PEMBIAYAAN II

BAPPEDA KOTA

RAKORBANG II

PERTEMUAN USULAN BAWAH DGN ATAS (DINAS) BERUPA DOKUMEN RANCANGAN PROYEK (DRP) III

BAPPEDA PROVINSI

RAKORBANG I

DAFTAR USULAN PROGRAM DAERAH (DUPDA)-DAFTAR SKALA PRIORITAS (DSP)

TINGKAT NASIONAL

KONSULTASI PEMBANGUNAN NASIONAL

RAPBD

DSP FINAL

BAPPEDA PROVINSI

DPRD

APBD

Sumber: Diolah dari Shalihah (2007)

16

Usulan datang dari bawah (masyarakat melalui tokoh-tokoh mewakili), ternyata dapat dipastikan hilang di dalam proses penyusunan program pemerintah daerah yang dituangkan dalam penganggaran APBD. Suara yang hilang tersebut akan menentukan arah kebijakan politik anggaran suatu daerah, namun ketika proses musyarawah terjadi dalam mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), terjadi kompromi politik antara elit birokrasi dengan elit masyarakat. Begitu juga di tingkat pusat, berbagai kepentingan pusat antara lain pemerintah pusat melalui Departemeten Dalam Negeri, Departemen Teknis, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bappenas, juga para pemain politik daerah rajin melobi elit pusat, akan memiliki kemampuan menekan usulan dari bawah digantikan dengan agenda-agenda sarat muatan politik dari pusat. Tidaklah aneh bila kita menemukan bahwa program pembiayaan kegiatan pemerintah daerah tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat di daerahnya. Politik anggaran lokal telah Proses

mencederai upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pusat dan daerah.

desentralisasi fiskal pada akhirnya hanya menumbuhkan rasa kebergantungan daerah sangat kuat terhadap pemerintah pusat, karena tetap saja proses politik anggaran mengambil porsi besar dalam menentukan arah kebijakan ekonomi suatu daerah.

17

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Banyak orang yang selama ini salah memahami ekonomi politik, dimana mereka beranggapan bahwa ekonomi politik itu adalah ilmu yang terdiri dari dua bidang studi, seolah ekonomi politik dan politik ekonomi itu sama sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa teman saya. Pada umumnya mereka melihat bahwa ekonomi politik ini adalah ilmu yang melihat dan menganalisa kedua bidang tersebut. Dimana dalam pemahaman ini ekonomi dan politik merupakan instrument untuk membedah ekonomi dan politik. Pada hal sebenarnya ilmu ekonomi politik bukannya digunakan untuk membedah kedua bidang tersebut, walaupun kedua bidang studi ini berangkat dari dua nama bidang pengetahuan tapi bukan berarti dia mengkaji dua bidang yang dimaksud. Menggabungkan kedua pemahaman tersebut, antara ekonomi dan politik adalah sesuatu yang mustahil karena keduanya berangkat dari dua pemahaman yang berbeda. Dimana ekonomi mencoba mengkaji persoalan rumah tangga dan motif mengejar keuntungan sedangkan politik berbicara tentang struktur kekuasaan. Jadi kedua bidang studi ini adalah sesuatu yang mustahil untuk di gabungkan karena masing-masing memiliki telaah yang sangat berbeda. Dalam hal ini ekonomi politik tidak bisa dilihat sebagai satu bidang yang mencoba menelaah dua bidang studi tapi ekonomi politik hanya menelaah satu bidang studi, sebagaimana yang dikatakan oleh yustika bahwa ketika ekonomi sudah disatukan dengan politik maka dia bukan lagi mengkaji dua bidang yang berbeda tetapi sudah mengkaji satu bidang. Karena itu ekonomi politik bukannya mengkaji ekonomi dan politik tapi disini ekonomi politik adalah mencoba mengkaji politik dengan menggunakan perspektif ekonomi. Disini ekonomi hanyalah sebagai tools atau alat untuk membedah tentang hubungan ekonomi dengan kekuasaan. Munculnya pandangan ini dilandasi oleh adanya pemahaman bahwa antara tindakan ekonomi dengan proses politik memiliki keterkaitan yang erat dan sulit untuk dipisahkan. Fenomena ini adalah sesuatu yang bersifat holistic dan tidak bisa dikaji dengan ilmu ekonomi umum ataupun dikaji dalam pemahaman politik yang sempit.

18

Banyak orang yang selama ini salah memahami ekonomi politik, dimana mereka beranggapan bahwa ekonomi politik itu adalah ilmu yang terdiri dari dua bidang studi, seolah ekonomi politik dan politik ekonomi itu sama sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa teman saya. Pada umumnya mereka melihat bahwa ekonomi politik ini adalah ilmu yang melihat dan menganalisa kedua bidang tersebut. Dimana dalam pemahaman ini ekonomi dan politik merupakan instrument untuk membedah ekonomi dan politik. Pada hal sebenarnya ilmu ekonomi politik bukannya digunakan untuk membedah kedua bidang tersebut, walaupun kedua bidang studi ini berangkat dari dua nama bidang pengetahuan tapi bukan berarti dia mengkaji dua bidang yang dimaksud. Menggabungkan kedua pemahaman tersebut, antara ekonomi dan politik adalah sesuatu yang mustahil karena keduanya berangkat dari dua pemahaman yang berbeda. Dimana ekonomi mencoba mengkaji persoalan rumah tangga dan motif mengejar keuntungan sedangkan politik berbicara tentang struktur kekuasaan. Jadi kedua bidang studi ini adalah sesuatu yang mustahil untuk di gabungkan karena masing-masing memiliki telaah yang sangat berbeda. Dalam hal ini ekonomi politik tidak bisa dilihat sebagai satu bidang yang mencoba menelaah dua bidang studi tapi ekonomi politik hanya menelaah satu bidang studi, sebagaimana yang dikatakan oleh yustika bahwa ketika ekonomi sudah disatukan dengan politik maka dia bukan lagi mengkaji dua bidang yang berbeda tetapi sudah mengkaji satu bidang. Karena itu ekonomi politik bukannya mengkaji ekonomi dan politik tapi disini ekonomi politik adalah mencoba mengkaji politik dengan menggunakan perspektif ekonomi. Disini ekonomi hanyalah sebagai tools atau alat untuk membedah tentang hubungan ekonomi dengan kekuasaan. Munculnya pandangan ini dilandasi oleh adanya pemahaman bahwa antara tindakan ekonomi dengan proses politik memiliki keterkaitan yang erat dan sulit untuk dipisahkan. Fenomena ini adalah sesuatu yang bersifat holistic dan tidak bisa dikaji dengan ilmu ekonomi umum ataupun dikaji dalam pemahaman politik yang sempit.

5.2 SARAN
Kalau kita mau maju tentu kita harus dapat menilai kondisi sebelumnya agar dapat mengambil solusi. Orde baru (Orba) itu sebenarnya yang salah adalah pemimpinnya bukan sistem pemerintahannya. Jadi seharusnya yang dilakukan pemerintah orde reformasi adalah

19

memperbaiki (koreksi) atas kesalahankesalahan pimpinan orde baru itu tapi bukanlah mengubah sistem pemerintahannya. Kenyataannya bertolak belakang orde reformasi tidak mengkoreksinya tapi malah mengubah-ubah sistem pemerintahan negaranya dan mengulangi kesalahan yang sama seperti KKN. Kondisi yang bertolak belakang inilah menjadikan permasalahan bangsa Indonesia tidak selesai-selesai dan berlarut-larut sampai sekarang ini. Bahkan permasalahan semakin menumpuk dan merembet kemana-mana. Indonesia semakin rentan akan gejolak, terpecah-pecah, merosot serta tak habis-habisnya dirundung permasalahan, baik di bidang ekonomi, hukum, keamanan, social budaya, politik dan moral birokrat. Kita lihatlah sekarang ini tak terasa enam tahun lagi usia reformasi Indonesia menyamai Orde Lama (Orla). Sementara kondisi Indonesia masih tetap begini-begini saja dan belum stabil juga. Pemerintah sepertinya hanya sibuk mengurusi demokrasi dan politik. Sementara kesejahteraan, kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja yang diidam-idamkan rakyat Indonesia masih belum teratasi dengan baik. Jadi untuk itu saya menyarankan pemerintah diera reformasi ini untuk dapat melihat dengan jernih permasalahan Orde Baru (Orba) itu dan dapat mengatasi kesalahan-kesalahan pimpinan Orba. Itu satu satu dulu hingga selesai. Jangan ikut-ikutan dengan sistem asing atau negara maju karena mereka tidak tahu benar atau berbeda kondisi, latar belakang dan kepentingan negaranya dengan kondisi, kepentingan dan latar belakang Negara Indonesia. Sistem pemerintahan Orba sebenarnya masih bagus hanya saja pimpinannya

yang menyelewengkan kekuasaaanya. Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa sebagus apapun aturan, hukum, sistem tidak akan berarti bila tidak diikuti penguasanya/orangnya. Jadi yang penting sekali itu adalah koreksi pelakunya atau orangnya. Terlepas dari kesalahan pimpinan orde baru itu tapi sebenarnya dimasa pemerintah Orba lah Indonesia betul-betul kuat, menyatu dan terorganisir dari Sabang hingga Merauke. Bahkan negara tetangga menyegani Indonesia kala itu. Janganlah Indonesia dijadikan kelinci percobaan (eksperimen) para elite politik, misalnya membuat undang undang asal-asalan atau tidak berkualitas karena yang rugi tetap rakyat dan negara Indonesia juga. Desenteralisasi telah menimbulkan persaingan dan ketegangan politik dan ekonomi antara sesama rakyat Indonesia. Kekuasaan dan kekuatan negara telah melemah dan terbagi-bagi

20

akibat pemilu langsung dan kembali menjadi kedaerahan (sukuisme). Habislah waktu, energi dan dana dengan sia-sia hanya karena tidak bisa menentukan permasalahan mana yang benar atau salah. Sementara kepentingan utama rakyat Indonesia masih banyak yang belum teratasi dan hutang negara semakin menumpuk yang kesemuanya ini menjadikan Indonesia tertinggal di segala bidang. Semoga saran ini dapat menjadikan pemerintah di era reformasi ini menjadi lebih baik dan maju dan dicintai rakyatnya dan di forum internasional lebih bijak lagi dalam menghadapi era globalisasi, penjajahan gaya baru yang digulirkan Negara asing atau maju.

5.3 DAFTAR PUSTAKA


Basri, Faisal (1997). Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI. Jakarta: Erlangga. http://aisyahasmoro.blogspot.com/2011/11/isd-dalam-bidang-ekonomi-dan-politik.html O. Krueger, Anne (June 1974). The Political Economy of the Rent-Seeking Society. American Economic Review, 64(3), pp.291303 Jefferey M. Sellers, National Local Political Economies and Varieties of Capitalism: A Classification and Analysis of Twenty-One OECD Countries, Paper presented at American Political Science Association Meeting, Phiadelphia, PA, (August 28- 30, 2003). http://www.allacademic.com/meta/p62168_index.html Chanchal Kumar Sharma, 'When Does decentralization deliver? The Dilemma of Design', South Asian Journal of Socio-Political Studies6 (2005a). hal. 44 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan UNDP. Studi Evaluasi Dampak Pemekaran Daerah: 2001-2007. Pdf copy(Juli 2008). Lihat di http://www.undp.or.id/pubs/docs/pemekaran_ID.pdf. Wallace Oates, An Essay on Fiscal Federalism. Journal of Economic Literature 37(1999), 1120-1. Bardhan, P. and D. Mookherjee (2000). "Capture and governance at local and national levels." The American Economic Review90(2): 135-139. Ai Maryati Shalihal, Gender Budgeting: Upaya Mewujudkan Demokrasi Anggaran, dalam Membangun Indonesia dari Daerah: Partisipasi Publik dan Politik Anggaran Daerah, editor I Made Leo Wiratma, M. Djadijono, dan TA. Legowo (CSIS: Jakarta, 2007).

21

Anda mungkin juga menyukai