Anda di halaman 1dari 4

1.

Jika tidak diobati penyakit gusi tidak hanya dapat menyebabkan hilangnya gigi, tetapi telah terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker pankreas, kehamilan prematur. Sebagian orang mengira, radang gusi hanya berhubungan dengan sakit gigi. Padahal, radang gusi merupakan infeksi serius. Radang gusi dipicu oleh timbunan plak, zat lengket campuran dari bakteri, ludah dan sisa makanan. Jika tidak segera dibersihkan, timbunan plak akan membentuk karang gigi. Timbunan plak dan karang gigi mendesak gusi, membentuk kantung tempat bakteri berkembang biak. Bakteri mengeluarkan racun yang membuat gusi terinfeksi, bengkak dan lembek. Bakteri dari gusi yang meradang bisa masuk ke aliran darah, membuat sakit atau memperburuk gangguan kesehatan yang sudah ada. Hubungan antara radang gusi dengan penyakit jantung dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) telah terbukti. Bakteri dari gusi yang mengalir mengikuti darah tersangkut di katup jantung. Lama kelamaan jantung terinfeksi. Selain itu, bakteri juga dapat masuk ke paru lewat ludah maupun udara dan menimbulkan infeksi pada paru. Komplikasi: Radang gusi kronis (gingivitis kronik), abses gigi (kumpulan nanah pada gusi) serta gusi yang menipis, gigi menjadi goyah dan mudah lepas. 2. tumors are not necessarily synonymous with cancer. A tumor is a condition where there is abnormal cellular growth thus forming a lesion or in most cases, a lump in some part of your body. Cancer on the other hand is a degenerative condition where there is uncontrollable cellular growth that spreads in your body. It should be noted that not all tumors are cancerous. There are benign tumors where the growth is limited to certain part of the body. When a tumor becomes malignant, then it becomes cancer. It is important to understand that all tumors are not cancerous. There are benign tumors where the growth is limited to certain part of the body. A tumor becomes cancer when it is malignant. This means that the primary growth can generate several secondary growths thus invading vital parts of your body and spreading everywhere. Just as all tumors are not cancerous, all cancer cases are also not characterized by tumor growth. For example, in case of blood cancer, there is no tumor involved. However, on appearance of a tumor, biopsy becomes veryimportant to determine if its growth is malignant or benign. A tumor may or may not develop into cancer. Cancer on the other hand is a malignant condition in which the spread of abnormal cellular growth could become uncontrollabl Pembengkakan karena tumor itu biasanya berisi cairan.. Isinya? Isinya cairan getah bening dan sel darah putih karena tubuh berusaha mengatasi infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Kalau kanker, isinya adalah jaringan baru yang abnormal, tumbuhnya berkelebihan, akan tetap tumbuh meski rangsangan untuk berhenti sudah keluar, dan nggak ada koordinasi. Nah, dengan kata lain, komponen penyusun tumor itu ya komponen-komponen tubuh kita yang mengalami suatu mekanisme, sedangkan komponen-komponen penyusun kanker itu isinya udah sel-sel abnormal. Bengkak adalah pengumpulan cairan yang berlebihan pada sela-sela jaringan atau rongga tubuh. Bengkak timbul oleh karena pecahnya pembuluhdarah arteri yang menyertai pelaksanaan operasi sehingga aliran darah menuju jantung tidak lancar, maka timbul bengkak disekitar luka incisi Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel kita memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker. Kanker sendiri sebenarnya adalah istilah untuk segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel- sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, dan bahkan menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan (diperoleh)

ataupun diwariskan (mutasi germline). Hal ini sangat berbeda dengan benign tumor (tumor jinak) yang tidak menyerang jaringan di sekitarnya dan tidak membentuk metastase, tapi secara lokal dapat bertumbuh menjadi besar Karsinogenesis Kanker berkembang melalui serangkaian proses yang disebut karsinogenesis. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa kanker bukanlah penyakit langsung jadi melainkan penyakit yang timbul akibat akumulasi atau penumpukan kerusakan-kerusakan tertentu dalam tubuh kita. Karsinogenesis pada dasarnya dibagi menjadi dua tahap utama yaitu inisiasi dan promosi, namun beberapa literatur menambahkan bahwa tahap promosi kanker diikuti oleh proliferasi, metastasis dan neoangiogenesis. Tahap inisiasi ialah tahap dimana agen karsinogenik (zat yang dapat menimbulkan kanker) mulai bekerja mengubah susunan DNA fungsional atau yang lebih populer dengan nama GEN sehingga gen itu menjadi berbeda dengan semestinya atau terjadi mutasi. Biasanya gen yang berubah susunannya adalah gen yang berfungsi untuk menekan pertumbuhan tumor (tumor suppressor gene), misalnya saja gen p53. Bahan-bahan tersebut merusak susunan DNA normal dan mematikan mekanisme perbaikan DNA. Sebenarnya, DNA kita bukanlah substansi yang lemah. Ia telah dilengkapi dengan mekanisme-mekanisme tertentu yang mampu menetralisasi gangguan-gangguan yang terjadi sehingga tidak membawa efek negatip. Mekanisme yang dimiliki DNA tersebut adalah mekanisme DNA repair (perbaikan DNA) yang terjadi pada fase tertentu dalam siklus sel. Pada fase G1 (Gap 1) terdapat check point yaitu suatu tempat dimana susunan DNA akan dikoreksi dengan seteliti-telitinya. Apabila ada kesalahan, sel mempunyai dua pilihan yang dapat dijalankan. Pertama, kesalahan tersebut diperbaiki dengan cara mengaktifkan DNA repair. Namun, apabila kesalahan yang ada sudah tidak mampu lagi ditanggulangi, sel memutuskan untuk mengambil pilihan kedua yaitu dimatikan daripada hidup membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sekelilingnya. Saat itulah keputusan untuk berapoptosis diambil. Sel dengan DNA normal akan meneruskan perjalanan untuk melengkapi siklus yang tersisa yaitu S (Sintesis), G2 (Gap 2) dan M (Mitosis). Mutasi DNA Satu kali terjadi proses mutasi DNA sebenarnya belumlah cukup untuk menimbulkan kanker. Masih dibutuhkan ribuan mutasi lagi yang letaknya pada gen tak boleh sama. Apabila mutasi DNA yang super banyak itu telah terjadi, mulailah sel berubah sifat perlahan-lahan. Sel yang tadinya bersifat sosial, tahu diri dan terarah, sekarang menjadi ganas, dan asosial. Sel yang mengantongi gen yang termutasi parah tersebut mulai membelah diri (proliferasi) dan membentuk grup tertentu (klonal) di lokasi tertentu dalam tubuh. Dia membangun markas besar di situ dan terus menerus membentuk masyarakat khusus yang membahayakan bagi teritorial jaringan sehat. Tahap dimana sel kanker membentuk klonal inilah yang dinamakan tahap promosi kanker. Promosi ini akan diikuti proliferasi (pembelahan diri sel kanker menjadi banyak) yang kemudian satu atau lebih sel bisa memisahkan diri dari markas utamanya untuk berpindah ke tempat lain (metastasis). Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kanker tersebut, dibentuklah pembuluh darah baru (neoangiogenesis) yang sebenarnya tidak diperlukan oleh jaringan sehat. Dengan demikian, sempurnalah kanker sebagai jaringan baru dalam tubuh. 3. Terapi proton

Terapi proton seperti halnya radioterapi, bekerja dengan cara mengarahkan partikel ion energetik yakni proton menuju tumor sasaran. Partikel proton ini merusak DNA sel sehingga menyebabkan kematian sel tumor. Karena laju pembelahan sel yang tinggi serta kemampuannya menjadi berkurang untuk memperbaiki kerusakan DNA, sel kanker peka terhadap serangan partikel proton ini pada DNA sel kanker.

Imunoterapi Terapi kanker dengan meggunakan imun berlandaskan pemeriksaan imun, yakni fungsi fisiologi sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan klonal sel yang telah berubah sifat sebelum sel tersebut tumbuh menjadi tumor serta membunuh sel tumor jika sel tumor tersebut telah terbentuk. Sistem imun tersusun dari berbagai tipe sel, diantaranya, sel dendrit yang disebut sebagai sel penghadir antigen yang bekerja menangkap antigen dan menunjukkan mereka ke sel-sel lain yang disebut sel efektor (misal, limfosit T sitotoksik). Jika molekul yang hadir dilabeli sebagai bahaya, maka sistem imun menyusun respon spesifik untuk menghilangkan bahaya tersebut. Nanomedis Nanomedis adalah aplikasi medis dari teknologi nano. Ini mencangkup bidang semisal transpor obat partikel nano dan aplikasi masa depan yang mungkin dari teknologi nano molekuler dan vaksinologi nano. Masalah saat ini untuk nanomedis, mencangkup pemahaman terkait dengan toksik dan dampak lingkungan material skala nano. Partikel nano cadmium selenide (kuantum dot) memancarkan cahaya ketika terpapar cahaya ultra ungu. Ketika diinjeksikan, partikel nano cadmium selenide tersebut menembus sel kanker. Ahli bedah dapat melihat tumor yang berpendar, dan menggunakannya sebagai pemandu untuk pengambilan sel tumor dengan lebih akurat. Chip uji sensor mengandung ribuan kawat nano (nanowire) mampu mendeteksi protein dan biomarker lain yang ditinggalkan sel kanker, memungkinkan pendeteksian dan diagnosis kanker tahap dini dari beberapa tetes sampel darah. 4. Terapi gen adalah suatu teknik terapi yang digunakan untuk memperbaiki gengen mutan (abnormal/cacat) yang bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu penyakit. Pada awalnya, terapi gen diciptakan untuk mengobati penyakit keturunan (genetik) yang terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti penyakitfibrosis sistik. Penggunaan terapi gen pada penyakit tersebut dilakukan dengan memasukkan gen normal yang spesifik ke dalam sel yang memiliki gen mutan. Terapi gen kemudian berkembang untuk mengobati penyakit yang terjadi karena mutasi di banyak gen, seperti kanker. Selain memasukkan gen normal ke dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat digunakan adalah melakukan rekombinasi homolog untuk melenyapkan gen abnormal dengan gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik peredaman gen, dan melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat berfungsi normal kembali 1. 2. 3. 4. 5. 6. 5. b. Cara Kerja Terapi Gen Menambahkan gen sehat pada sel yang memiliki gen cacat atau tidak lengkap.. Menghentikan aktivitas gen kanker (oncogenes). Gen kanker merupakan hasil mutasi dari sel normal, yang menyebabkan sel tersebut membelah secara liar menjadi kanker. Ada juga gen yang menyebabkan sel kanker bermetastase (menjalar) ke bagian tubuh lain. Menambahkan gen tertentu pada sel kanker sehingga lebih peka terhadap kemoterapi maupun radiasi, atau menghalangi kerja gen yang dapat membuat sel kanker kebal terhadap obat-obat kemoterapi. Menambahkan gen tertentu sehingga sel-sel tumor/kanker lebih mudah dikenali dan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Atau sebaliknya, menambahkan gen pada sel-sel kekebalan tubuh sehingga lebih mudah mendeteksi dan menghancurkan sel-sel kanker. Menghentikan gen yang berperan dalam pembentukan jaringan pembuluh darah baru (angiogenesis) atau menambahkan gen yang bisa mencegah angiogenesis. Jika suplai darah dan makanannya terhenti, kanker akan berhenti tumbuh, atau bahkan mengecil lalu mati. Memberikan gen yang mengaktifkan protein toksik tertentu pada sel kanker, sehingga sel tersebut melakukan aksi bunuh diri (apoptosis). Cell mempertahankan diri dengan adanya sel T T cells consist of three groups: helper T cells, killer T cells, and suppressor T cells. Each T cell has a specific MHC molecule that makes it able to recognize the enemy. helper T cells: This cell can be considered as a system administrator in the defense. In the early stages of the war, it describes the properties of the absorbed foreign cells by macrophages and other cell

antigen catcher. After receiving the signal, they stimulate the killer T cells and B cells to resist. This stimulation causes B cells to produce antibodies killer T cells: Killer T cells to overcome this problem with the help of the MHC molecule system has available to him. When they saw the cell that had been attacked, they secrete a chemical. This secretion perforate the cell membrane by lining up side by side very close together in a circle. Cells begin to leak and subsequent cell death. Killer T cells keep this weapon in the form of granular suppressor T cells: it has a stabilizing effect that the number of killer cells killer cells do not kill healthy cells of the body

6.